Penjual Kenangan

Saturday, August 17, 2013

17| Menulislah dengan Merdeka





Berhubung sedang merayakan hari kemerdekaan kita, sebenarnya saya ingin menulis cerita tentang bagaimana dulu pada masa SMA saya menjadi pasukan "pemuja" tiang bendera [baca: bergabung dengan pasukan pengibar bendera (paskribra)]. Namun, benda berupa emblem dan "bintang" penghargaan pada masa jadi anggota itu terlalu jauh saya simpan sehingga sulit menemukannya.

Nah, kalau tumpukan kertas yang ada di gambar ini, ini merupakan sebagian naskah yang pernah saya tulis pada masa SMA. Naskah ini berumur sekitar lima atau tiga belas tahun. Cukup lama. Kalau dia anak manusia, berarti dia sudah masuk usia SMP, ya? Biasanya, panjang cerpen saya di kertas folio itu sekitar 8-10 halaman. Saya akan menggabungkan lembaran kertas itu dengan staples. Benar-benar manual. Tip-Ex juga sangat berguna untuk merevisi bagian yang salah.

Kesukaan saya menulis dimulai dari menulis diary kala SD. Isinya berupa puisi-puisi ataupun kata-kata mutiara. Saat SMP, diari itu mulai menjadi sebuah catatan keseharian, terutama ketika sedang mengalami kejadian yang mengesankan, kejadian menyedihkan. Yang biasa-biasa saja jarang dituliskan. Diari itu bertahan sampai saat saya kuliah. Sejak punya blog, saya jarang menulis diari. Tapi, saya dan Gita (sahabat saya) pernah punya catatan harian di satu file di komputer saya. 

Bicara tentang menulis, tumpukan kertas itu adalah cerita-cerita pendek yang saya tulis. Kisahnya cenderung tentang cinta dan kehidupan sehari-hari remaja. Perkenalan saya dengan cerita pendek (cerpen) dimulai dari majalah remaja semacam Aneka, Anita, Gadis, dan Kawanku. Oleh karena itu, saya cenderung menulis cerita semacam itu. Cerpen pertama yang saya tulis pernah saya edarkan di kelas. Waktu itu, saya kelas satu SMA. Sambutan yang antusias dari teman membuat saya semakin bersemangat menulis. Kala SMA itu, saya kerap menulis cerpen di kertas folio, dengan tulisan tangan. Komputer belum secanggih sekarang dan yang waktu itu punya komputer hanya kakak saya yang kuliah di Binus dan itu pun masih pakai DOS. :))

Suatu kali, saya pernah ingin ikut lomba di sebuah majalah. Ada dua cerpen yang sudah jadi ditulis tangan. Saat itu, saya menceritakan kepada sahabat saya kala SMA kalau saya berniat ikut lomba, tetapi sebenarnya tidak yakin, tambahan pula cerita saya ditulis tangan. Ami dan Maria, dua orang sahabat saya di paskibra yang punya komputer di rumah dengan berbaik hati bersedia mengetikkan naskah yang akan dikirimkan untuk lomba itu. Saya begitu terharu. Mereka memberi semangat dan ikut senang membaca cerita yang saya tulis. 

Masa-masa awal memberanikan diri menulis dan mengirimkan ke lomba itu merupakan sebuah fase yang begitu saya ingat. Meski tulisan saya tidak menang, saya mendapatkan tambahan keyakinan bahwa saya suka dan bisa menulis. Lalu, berbagai cerita (remaja) hadir di benak saya dan saya sempat menyediakan buku tulis khusus untuk cerita pendek ini. Sampai sekarang, buku itu masih saya simpan. Dari buku itu, saya pun bisa melihat perkembangan tulisan saya. Dan, bahan bacaan tentu sangat berpengaruh pada perkembangan tulisan seseorang. 

Kala kuliah dan mulai "bergaul" dengan buku-buku sastra, saya pun mulai menulis cerita pendek yang lebih cenderung berupa kritik sosial, juga belajar bagaimana menggunakan metafora dalam sebuah tulisan. Selama kuliah, saya pun meninggalkan kisah-kisah remaja dan lebih cenderung ke cerita-cerita ala cerpen koran Minggu. Dan, pada masa kuliah itu, tulisan-tulisan saya seringnya diketik di komputer. 

Namun, tetap ada juga cerita yang "draf"-nya saya tulisan tangan. Sebuah cerita pendek di dalam Penjual Kenangan merupakan sebuah hasil tulisan di angkot menuju rumah kakak saya, coret-coretan dengan tulisan kurang jelas. Saat di angkot Lebak Bulus--Ciledug itu, sebuah ide terlintas di benak saya, seakan buru-memburu dan "menuntut" untuk dimerdekakan. Karena tidak bawa notes, saya pun segera mencari kertas dan menemukan kertas promo sebuah produk. Di bagian kosongnyalah saya menulis cerita itu. Karena perjalanan cukup panjang, cerita itu "selesai" dalam angkot tersebut. Kemudian, saat di kosan seorang teman, tulisan itu saya ketik di komputer. Draf yang sudah selesai itu akhirnya jadi sebuah cerita yang berjudul "Nelangsa".

Menulis dengan tangan terkadang membuat benak saya terkadang lebih bebas untuk meminta tangan ini dan itu dan cerita saya terasa lebih cepat mengait ke sana-sini. Secara ilmiah, katanya, menulis di atas kertas dengan tangan lebih memicu otak sehingga lebih cepat menangkap informasi, juga sebagai olahraga otak. Bagi saya, coretan-coretan yang digerakkan tangan membuat mereka saling membagi peran. 

Karena itulah, sampai sekarang pun, saya lebih senang menulis outline sebuah cerita di sebuah buku. Baru kemudian diketik di komputer. Jika ceritanya sudah selesai, saya juga akan mencetak cerita yang saya ketik itu. Print out itu akan saya baca ulang dan saya coret sana-sini jika ada yang janggal atau ada yang kurang. Saya berlaku menjadi editor ketika mencetak tulisan saya itu dan membacanya kembali. Memberi komentar-komentar untuk "sang penulis" yang terkadang mungkin terlalu asyik dengan pikirannya. Membaca draf cerita yang sudah dicetak juga lebih gampang menelusurinya kembali hal-hal yang terlewat atau yang sebelumnya tak tertangkap jelas oleh mata.

Oh ya, kertas-kertas dalam gambar ini masih tersimpan dalam kamar saya. Dalam dus dengan label: barang-barang-penting-yang-tak-akan-dibuang-meski-bertahun-tahun-tak-pernah-dibuka. :))

Ini saya foto saat beres-beres pada awal pindahan. Senang menemukan kembali tulisan tangan saya itu. Mengingatnya sekarang, saya sepertinya sudah menyerah duluan kalau menantang diri saya sekarang untuk berlembar-lembar seperti itu lagi. Tulisan saya sekarang, pada baris ketiga sudah refleks jadi tulisan sambung. Hehe. Tulisan saya sekitar tiga atau lima belas tahun lalu itu masih konsisten dan masih layak dibaca. Setiap hari dengan laptop memang telah mengurangi kemampuan saya menulis tangan. Meski saya masih suka menulis atau merencanakan sesuatu dengan tulisan tangan, tulisan saya cenderung tidak bisa terbaca. Terkadang, saya sendiri harus berusaha menerka-nerka apa yang saya tulis tersebut. 

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tentu saja banyak mengubah sesuatu, termasuk mengubah bentuk tulisan saya. Baiklah, memang tidak etis menjadikan perkembangan zaman dan teknologi sebagai kambing hitam atas kemalasan diri untuk tetap berlatih. Maafkan. :)))

Bagaimana denganmu, kamu masih suka menulis sesuatu dengan tulisan tangan? 

Kalau tidak pun, tentu saja tidak masalah. Semua orang punya kebiasaan tersendiri yang menurutnya nyaman. Karena kita pun sudah merdeka, tentu saja tidak ada pemaksaan harus menulis outline dan sebagainya dengan tangan. Yang pasti, menulislah dengan merdeka, menulislah dengan hati yang lapang, dan kau akan temukan betapa bebas dan luas makna tulisanmu itu.


P.S.
Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia! Semoga kita bisa mendongengi negeri ini dengan kisah-kisah pengantar tidur yang bermakna. Dan, semoga ia pun berkenan mendengarkannya dan memberi mimpi indah dalam tidurnya. Merdeka! :D


Love, 

Iwied



___

[#17| Proyek #CeritaDariKamar]  










2 comments:

Aisy Laztatie said...

Kalau saya sih biasanya semua outline di otak, sambil kerja sambil mikir jalan ceritanya gimana. Menulis menggunakan laptop jauh lebih cepat dan ide lebih mengalir berbanding nulis guna tangan..

Aisy Laztatie said...

Kalau saya sih biasanya semua outline di otak, sambil kerja sambil mikir jalan ceritanya gimana. Menulis menggunakan laptop jauh lebih cepat dan ide lebih mengalir berbanding nulis guna tangan..

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin