Penjual Kenangan

Thursday, August 22, 2013

22| Tentang Cincin





Aha. Itu gambar beberapa cincin yang saya punya. Ada beberapa yang tidak masuk foto karena ditaruh (agak) sembarangan. Kalau yang ini saya letakkan di dalam kaleng yang sama. Sebenarnya, yang sering saya pakai setiap hari hanyalah yang bulat kecil (yang posisi tengah di bagian kanan). Yang lainnya jarang dipakai karena agak longgar di jemari saya. Cincin yang sering saya pakai pun saya kenakan di ibu jari kiri. Kalau cuci tangan dan sebagainya, pasti dilepas dulu karena khawatir lepas dan hilang tanpa diketahui. 

Sejak dahulu, saya senang pakai cincin, terutama cincin perak bakar. Saya masih ingat cincin perak yang pertama saya beli dan harganya cukup mahal untuk ukuran saya yang masih SMA. Cincin itu tak pernah lepas di jemari saya, sampai suatu hari raib entah ke mana. Lalu, silih berganti cincin saya kenakan dan banyak yang hilang dengan alasan lepas entah di mana, ketinggalan saat nyuci piring, dan sebagainya.

Pernah juga sebuah cincin saya hilang di kampus dan seorang laki-laki yang baik hati ikut menyusuri mencari cincin itu. Hehe. Lalu, ada juga cincin seorang teman yang ia janjikan akan diberikan kepada saya jika ia sudah kembali dari jalan-jalannya, tetapi kemudian cincin itu hilang. Ya, jika ada orang yang pakai cincin unik, pasti saya tak lepas melihat jemarinya dan tentu saja ingin mencobanya di jemari saya. :D

Oh ya, cincin bulat yang sering saya pakai sekarang itu dibeli waktu saya ke Yogya bareng Gita dan Wira, tahun 2008. Cukup lama juga usia cincin itu dan untungnya menjadi milik saya meski beberapa kali terselip. Gita dan Wira dengan bersemangat menemani saya menyusuri Kotagede di Yogya untuk menemukan cincin yang pas. Senang menemukannya satu karena kebanyakan lingkar cincin model seperti ini terlalu besar. Kebanyakan yang kecil itu semacam cincin yang "manis" yang biasanya lingkarnya kecil dan diakhiri dengan permata di atasnya. Saya kurang suka cincin seperti itu karena terasa seperti cincin yang terlalu serius. Hehe. 

Lalu, cincin yang ada batunya itu sebenarnya cincin ibu saya, yang diberikan untuk saya pada suatu waktu. Cincin itu terlalu besar di lingkar jari mana pun di tangan saya. Jadinya saya simpan selalu dan biar tidak hilang juga. :)

Yang lainnya sebenarnya punya cerita sendiri, tapi waktunya sudah terlalu malam untuk menceritakannya. Cincin-cincin ini saya sayangi dan semoga ia juga menyayangi saya. Kau tahu, setelah terbiasa dengan sesuatu, seperti halnya sebuah cincin di jemarimu, ketika ia tiada, kau akan merasa kehilangan. 

Dan, saya telah beberapa kali merasakan kehilangan. Kali ini, saya tak ingin lagi. Saya akan berusaha untuk menjaganya. Tapi, kau pun paham bukan, manusia hanya merencanakan, Dia yang menentukan. 

Kau pasti sudah sangat paham. Saya tak ragu.


______
[#22| Proyek #CeritaDariKamar]  

Wednesday, August 21, 2013

21| Dari Kelas Menulis








Indonesia Tebar Pesona (ITP) merupakan salah satu acara tahunan yang diadakan oleh almamater saya di Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (oh ya, setahun setelah kuliah, jurusan saya itu disebut Program Studi Indonesia). Acara ITP ini diadakan dalam rangka bulan bahasa pada Oktober. Sebuah acara yang ternyata sampai sekarang masih digalakkan oleh adik-adik kelas dan tentu saja sekarang acaranya semakin variatif. 

Dulu, acara ITP ini masih berupa diskusi buku, pementasan teater, lalu ada juga lomba dongeng, lalu berkembang lagi dengan berbagai acara dan lomba-lomba lainnya. Dulu, saat kuliah, saya kerap ikut jadi panitia di ITP ini. 

Pada ITP 2013 tempo lalu, merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk ikut menjadi salah satu pengisi acara di kelas menulis yang diadakan. Bersama dua orang adik kelas yang juga merupakan penulis, saya berbagi tip menulis dan proses kreatif menulis. Sebuah acara yang menyenangkan, bahkan ada peserta yang datang dari luar kota. Dan, saya hadir di sana bukan lagi sebagai panitia. 

Waktu benar-benar beterbangan. Memang sudah begitu lama setelah saya kali pertama masuk ke kampus dengan dinding-dinding bata tanpa plesternya begitu khas. Kampus yang selalu membawa banyak kenangan bagi saya. Hari-hari saya semasa kuliah habis di setiap sudut kampus itu. Bahkan, ketika kembali ke kampus itu, keakraban itu masih begitu nyata. 

Di antara tahun-tahun yang telah terlewat, banyak yang juga tidak berubah. Para penjaga kantin masih banyak yang saya hafal dan beberapa hafal muka dengan saya. Dan, setiap datang ke gedung kegiatan mahasiswa, gedung itu terasa tidak banyak berubah, terutama koperasi mahasiswa, tempat banyak waktu saya habiskan pula di sana. Para penjaganya masih sangat akrab dengan saya karena saya pernah jadi pengurus. Beberapa jajanan masih ada yang sama. 

Waktu berlalu. Sudah dua belas tahun sejak saya menjadi mahasiswa baru alias maba di kampus itu. Namun, kembali ke kampus itu, perasaan sebagai mahasiswa itu ternyata masih menyisa.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Ruang-ruang kelas dengan dinding bata itu, mereka tentu penuh dengan cerita, juga rahasia-rahasia yang didengarnya. Dan, tak terbayangkan betapa kaya ia akan ilmu yang setiap hari ia serap dari guru-guru yang membagi ilmu.


Dan, mungkin karena itu pula, semangat belajar selalu terasa menggelegak kala menyentuh dinding-dinding itu. Kau tahu, dari kelas menulis itu, ada sebuah harap yang terucap semakin nyata: semoga suatu hari, saya bisa belajar lagi di kampus itu. Di kampus itu, yang ruang-ruang kelas, selasar-selasarnya, kantin, pusat kegiatan mahasiswa, dan perpustakaannya ikut mendewasakan saya.

Amin.

 _____
[#21| Proyek #CeritaDariKamar]   

Tuesday, August 20, 2013

20| Mencari Televisi









Saya lupa kapan kali pertama punya televisi di kosan, apakah saat lulus kuliah dan menempati indekos baru di dekat gerbang "Selamat Datang Kota Depok" ataukah sebelumnya. Televisi yang saya punya kali pertama itu merupakan televisi tidak terpakai di rumah kakak saya di daerah Jakarta Barat sana. Waktu itu, saya lupa bawanya naiknya apa, sepertinya naik taksi bareng dengan kompor dan tabung gas. Waktu bawa tabung gas itu, saya ditakut-takuti sama tukang taksi yang bercerita tentang tetangganya yang kena ledakan gas tiga kilogram itu. Saya sempat waswas juga saat itu dan akhirnya berusaha mencari selang yang paling bagus agar merasa lebih aman. Kompor gas itu kemudian menjadi "milik bersama" di tempat indekos saya itu. 

Lalu, televisi yang saya punya itu, 15 inci, kalau tidak salah, rusak dan biarpun sudah diketok-ketok atasnya, tetap tidak menyala. Televisi itu akhirnya berakhir di tukang loak yang kerap masuk ke halaman tempat indekos saya.

Hidup tanpa televisi sebenarnya tidak masalah. Bahkan, terkadang, kalaupun ada, kerap tidak dinyalakan. Kalaupun dinyalakan, terkadang tidak ditonton. Yah, ragam acara yang kurang menarik dan lebih banyak kurangnya membuat saya bukan tv-junki ala Oppie Andaresta. Eh, masih ada yang ingat nggak liriknya? Ini saya kutipkan biar kita saling nostalgia. :)


TV Junki 
(Oppie Andarsta)
Banyak pekerjaan menumpukTapi aku parkir dulu di depan TVSeharusnya kusarapan pagiTapi tanggung ada Madonna di MTV
Kutahu kamu punya janjiTapi kamu nonton Smack Down dulu di TVKini setelah hari berlaluKamu masih nonton Luis Vigo di TV
Semua planning jadi berantakanMalas bergerakMalas berpikir, malas membacaTerhipnotis oleh TVKita kan jadi, TV Junkie
Aku nggak ingin tergantung pada TVHe.. He.. Aku nggak ingin terjebak oleh TVHe.. He.. Kita berdua kadang bertengkar cuma karna TVHe.. He.. TV Junkie
Banyak pekerjaan menumpukTapi sayang ada Srimulat main di TVSeharusnya aku pergi mandiTapi tanggung ada Limp Bizkit di channel TV



Nah, mungkin beberapa acara yang Oppie sebutkan sudah tidak ada lagi atau kurang asyik lagi, ataupun hanya beberapa yang terkadang layak tonton. Kalaupun ada, awalnya bagus, lama-lama mungkin sudah ada kepentingan rating sehingga jadi terasa banyak "bolongnya". Meski jarang nonton teve, rasanya tetap ada yang kurang kalau ia tidak ada di kamar. Terkadang, televisi memang bisa jadi teman, yang kau abaikan tetap ia berceloteh riang. :D

Setelah sekian lama nggak punya teve, akhirnya, saya mencari teve lagi. Awalnya, mau beli yang bekas aja karena hanya biar sekadar ada. Namun, harganya tidak terlalu jauh juga dan saya termasuk yang sering bermasalah kalau beli barang second. Suka ada-ada saja yang malah bikin ia jadi "lebih mahal" dari harga yang baru. 

Televisi yang ada di gambar ini saya beli setelah Gita menikah. Saya ingat karena setelah menikah, Gita beli teve di salah satu pasar swalayan. Lagi diskon, katanya. Jadilah saya berniat mencarinya juga. Lalu, suatu malam, tanpa direncanakan, saya dan Ice--panggilan Ceria, adiknya Gita yang lagi jadi roommate saya setelah Gita--siap-siap ke Margo City. Kami berniat melihat-lihat televisi yang kata Gita diskon itu. Dengan Chizumi (motor matic merah saya itu), kami berangkat ke mal yang tak beberapa jauh dari tempat indekos saya itu.

Akhirnya, kami menemukan televisi yang diskon itu, tetapi tidak ada stok. Lalu, kami melihat televisi yang warnanya unik ini, warna tembaga dan tampak klasik. Setelah tanya ini-itu kepada petugasnya, televisi ini saya beli. Harganya tidak terlalu jauh dengan yang diskon itu. Stoknya pun ada dan petugasnya bertanya apakah televisinya akan saya bawa malam ini (karena mikir saya bawa mobil) ataukah diantar lusa (karena besoknya saya tidak ada di tempat). 

Saat bilang saya naik motor, si Mas bilang kotak televisi itu tidak terlalu besar kalaupun dibawa dengan motor. Akhirnya saya memutuskan membawa televisi itu malam itu juga. Dengan motor. Televisi itu akan dipegangi oleh Ice di boncengan. Dan, saat mendapati televisi dengan kotaknya itu, ternyata... ia cukup besar. Namun, karena sudah telanjur dan saya pikir cukuplah dan dekat pula, akhirnya televisi itu tetap kami bawa. Televisi itu diantar si Mas ke parkiran motor. Saya dan Ice mengambil motor, si Mas nunggu di pintu keluar parkiran. Sampai di pintu, si Mas menaikkan televisi itu di ruang antara saya di setir dan Ice di boncengan. Sebenarnya, televisinya lebih ke arah dipangku Ice karena space-nya sedikit. 

Saat saya mulai menjalankan motor dan sampai di pinggir jalan raya, saya ingat sesuatu. Ya ampun, antena yang tadi sekalian dibeli tertinggal di troli. Saat menengok ke belakang, tampaklah si Mas yang berlari-lari mendekati kami. Haha. Dramalah pokoknya. 

Untunglah saya dan Ice sampai di indekos kami dengan selamat. Televisinya ternyata cukup berat dan membuat saya sempat tidak seimbang. Jarak yang tadi saya bilang dekat terasa sangat-sangat jauh. Kalau lebih jauh sekitar sepuluh menit lagi, saya nggak tahu nasib saya, Ice, dan televisi itu. :))) 

Oh ya, saya terkadang tidak kapok untuk mikir "ah, bisa kok," saat akan membawa barang dengan Chizumi dan saya hanya sendirian. Selain televisi itu, saya pernah membawa kasur lantai yang digulung cukup besar, juga membawa meja dan kursi dengan motor matic saya itu. Sendirian pula. :p



______


[#20| Proyek #CeritaDariKamar]  







Monday, August 19, 2013

19| Lewat Radio







Syahdan, salah satu impian anak yang indekos seperti saya adalah punya sebuah radio kaset dan bahagialah hidupnya. Bisa mendengar lagu dari kaset, bisa mendengar siaran radio, dan bisa membuat sendiri kompilasi lagu-lagu kesayangan lewat fungsi perekam yang disertakan.

Radio kaset stereo--Polytron Mini Compo--ini saya beli sekitar tahun 2002, sekitar setahun setelah saya kuliah. Waktu itu, saya sempat tinggal di asrama mahasiswa, tentu saja karena ikut-ikutan dengan Gita. Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, bukan? Kau ingat dengan sajak Toto Sudarto Bachtiar? Biar saya kutipkan kembali agar kita ingat dengan jelas salah satu sajak yang, hatta, jadi favorit dibacakan pada Hari Pahlawan.


Pahlawan Tak Dikenal
(Toto Sudarto Bachtiar)
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda

Sebenarnya, sajak ini tidak berhubungan dengan radio kaset saya, tetapi setiap menyebut "sepuluh tahun yang lalu", saya selalu ingat dengan sajak ini. Jadi, sekalian saja kita simak kembali. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, ternyata. Dan, membaca sajak ini kembali, saya pun ingin berkata: aku sangat muda (sepuluh tahun yang lalu).

Sepuluh tahun yang lalu, saya dan Gita masih gemar merekam lagu-lagu kesayangan dari radio di sebuah kaset kosong. Terkadang, karena sang penyiar terlalu cepat kembali sebelum lagu usai dengan sempurna, suara sang penyiar masuk sebagian ke kaset. Namun, karena kami merasa sulit untuk mendapatkan lagu kesayangan itu kembali, akhirnya, suara sang penyiar tetap kami simpan karena tidak berhasil juga ditiban dengan lagu di track selanjutnya.

Sepuluh tahun yang lalu, radio kaset ini menjadi idola dan hiburan utama bagi saya (dan Gita).

Radio kaset ini saya beli di pasar swalayan kenamaan yang bertajuk Goro di Depok. Dulu, supermarket itu yang terbesar di Kota Belimbing ini. Tentu saja, untuk membeli barang kategori tersier macam ini harus dibeli di sana karena banyak pilihan. Saya masih ingat, langit-langit gedung Goro itu begitu tinggi dan banyak tangga besi ditaruh di dekat rak-rak raksasa.

Membeli radio kaset ini sudah saya canangkan sekitar setahun sebelumnya. Jadi, dulu itu, saya akan punya duit banyak kalau lagi Lebaran. Hehe. Itulah untungnya punya banyak kakak yang usianya jauh daripada dirimu. Saat Lebaran, kau akan jadi anak kecil yang tentu saja akan diberi uang Lebaran oleh "banyak orang". Nah, momen Lebaran itu akan selalu saya tunggu karena berarti saya akan punya benda "tersier" impian setelahnya. Radio kaset ini adalah salah satunya.

Dengan radio kaset ini, saya juga pernah merekam isi diary saya yang berupa sajak untuk seseorang. Lalu, ada juga rekaman-rekaman tidak jelas lainnya pengisi kaset itu. Kasetnya merupakan kaset pelajaran bahasa Inggris waktu saya les pada masa SMA dulu [jadi mikir, kenapa saya malah pakai kaset itu ya? bukannya belajar dari situ. entahlah pikiran saya-yang-sangat-muda-itu]. Kaset itu tentu saja saya sembunyikan begitu sempurna, sampai-sampai saya benar-benar lupa di mana menaruhnya. Mungkin di antara koleksi kaset yang tidak pernah disentuh lagi sejak bertahun-tahun lalu. Atau juga mungkin saya buang karena malu mendengarkan suara saya sendiri. :))

Kalau sekarang, tentu saja media SoundCloud bisa melakukan hal itu dengan canggih, merekam suaramu untuk apa pun. Oh ya, saya juga sebenarnya punya beberapa file di SoundCloud, membacakan blurb Penjual Kenangan. Namun, karena tidak pede dengan suara saya yang, hmm, kurang stabil itu, akhirnya tampilannya saya bikin private. Mungkin nanti, kalau suara saya sudah stabil, saya baru berani publish buat umum. Entah kapan. Mungkin sepuluh tahun yang akan datang? :p

Dulu, waktu di asrama, kalau teman saya dan Gita (sebut saja namanya Cai) menginap, dia tidak bisa lepas dari radio kaset ini. Mulai dari mendengarkan lagu dari kaset secara berulang-ulang, sampai mendengarkan siaran radio di depan radio kaset ini sambil menyelami isapan rokoknya. Cai begitu menghayati mendengarkan lagu-lagu dan ikut bernyanyi dengan khidmat. Dan, sejak dahulu, kami selalu yakin bahwa Cai akan menjadi seorang penyiar radio karena dia nggak kalah dari para penyiar itu. Lucu, suaranya bagus, hafal banyak lagu, dan cinta banget sama radio kaset (dari pagi sampai sore, perhatian Cai begitu intens dan tak lepas radio kaset itu). Kerenlah pokoknya. Nah, sekarang, teman saya itu sudah jadi vokalis band yang namanya Bungabel. Ikut senang untuk teman satu angkatan saya di kampus itu.

Kalau saya, saya dulu suka mendengarkan kisah-kisah "curhat" orang-orang lewat radio. Malah, pada masa SMA, sempat juga pernah ngirim surat yang bentuk tampilannya dikreasikan ke radio dan dibacakan (seneng banget rasanya). Karena itu, punya radio kaset sendiri di tempat indekos merupakan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.

Dengan radio kaset ini, saya dan Gita juga berbagi lagu favorit dan sering saweran beli kaset yang kami suka. (Oh ya, kaset juga merupakan salah satu alternatif hadiah untuk teman yang ulang tahun dan lalu kamu akan pinjam dulu hadiah itu karena kamu juga suka lagu-lagu di dalamnya. Juga salah satu alternatif hadiah buat gebetan :p).

Salah satu kaset yang sempat dihadiahkan Gita saat saya ulang tahun adalah kaset Tere dan akhirnya kaset itu jadi milik kami berdua, tentunya. Ini lagu "Sendiri" yang sering saya dan Gita nyanyikan bareng dulu.

Sendiri
(Tere)

Kusangka tak pernah terjadi
Perihnya hati yang tertusuk
Pada diriku yang
Mencintai dirimu selalu
Menyayangimu sepenuh hati
Dan kini kau pergi

Reff#
Sendiri menatap bintang di langit
Tak ada teman yang menemani
Dan kau pun tak pernah peduli
Sendiri dalam gerimis dan hujan
Telanjang menggigil menantimu
Berharap kau pun menemani
Seperti dulu lagi

Meskipun kini kau tlah pergi
Meninggalkan kusendiri
Tapi masih kuharap
Masih ada yang sudi menemani
Diriku yang tak terkendali
Menanti dirimu
(http://www.youtube.com/watch?v=onnZBwnIZcY)

Radio kaset ini begitu berjasa bagi saya. Dan, sampai saat ini, radionya masih berfungsi meskipun pemutar kasetnya sudah rusak. Bagian tombolnya pun beberapa sudah rusak. Radio ini pun sempat hijrah ke Bandung, ke tempat indekos Ceria, adiknya Gita. Sekarang, Ceria sudah lulus dan sudah kerja di Jakarta juga. Radio ini pun kembali ke saya. Pada awal-awal dia balik lagi, saya sempat kangen dan mendengarkan siaran radio darinya sambil tidur-tiduran. Dan, terkadang, hanya suara desiran siaran yang sudah habis yang saya temukan kala terbangun pada tengah malam.

Sekarang, ia sudah mengisi bagian sudut kamar dan belum pernah saya nyalakan lagi. Namun, setiap melihatnya, tentu saja banyak kenangan yang ia kembali "perdengarkan".

Malam ini, saya menyalakan radionya kembali, mencari-cari siaran yang pas. Dan, lewat sebuah radio, memori lama menguar di ruang kamar ini, membisikkan rindu, tentang waktu yang berlalu, juga ingatan tentang usia; bahwa saya sudah tidak lagi sangat muda.



______

[#19| Proyek #CeritaDariKamar]  

 

Sunday, August 18, 2013

18| Sebuah Penanda Kenangan




Sebuah piala. Saat ini, dengan maraknya berbagi lomba dalam berbagai bidang, piala tampaknya cenderung jarang disertakan dalam hadiah. Tidak sepopuler masa-masa sebelumnya. Tapi, sepertinya di taman kanak-kanak atau sekolah dasar, piala masih banyak digunakan di lomba-lomba, ya? Bahkan, terkadang, sebagai peserta pun, semua siswa TK atau SD diberi piala tanda sebagai peserta. :)

Dengan berpikir secara sangkil dan mangkus dalam era digital saat ini, mungkin opsi piala untuk orang dewasa kerap dikesampingkan sehingga dananya bisa dialokasikan untuk bidang lain. Kalau jadi panitia lomba saat ini, secara praktisnya, saya ikut berpikir bahwa piala mungkin tidak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu pemenang. Lebih jauhnya lagi, pikiran itu disusupi bahwa terkadang piala hanya akan jadi pajangan yang akhirnya berdebu dan dilupakan. Piala tidak lagi menjadi simbol bagi sesuatu yang diraih. Ia hanya menjadi sebuah benda yang nantinya akan memenuhi dus atau gudang. Simbol dari piala sudah banyak penggantinya. Uang, misalnya?

Namun, apakah benar demikian ataukah itu hanyalah pikiran praktis saya (dan ikut menuduhkannya kepada orang-orang zaman digital saat ini)?

Benda dalam gambar ini merupakan sebuah piala yang saya dapat dalam lomba cerpen yang diadakan oleh sebuah badan penerbitan pers mahasiswa, di Yogyakarta. 
Di piala ini, tertulis: 

Cerpenis Terpilih BALAIRUNG 2004 
WIDYAWATI OKTAVIA
Badan Penerbitan Pers Mahasiswa BALAIRUNG, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Saya ingat kala ikut lomba ini. Saya masih kuliah kala itu dan sedang rajin-rajinnya ikut berbagai lomba cerpen. Sebelumnya, saya sempat ikut beberapa lomba cerpen dan alhamdulillah ada dua buku antologi yang memuat cerpen saya. Hal itu semakin memberi saya semangat untuk terus berkarya dan ikut berbagai lomba.

Untuk lomba yang diadakan di Yogya tersebut, saya menyelesaikan cerpen yang saya kirim itu menjelang lomba. Pemenangnya akan diundang ke Yogyakarta. Saya lupa hadiah apa lainnya. Sepertinya, saya sangat berharap bisa datang ke Yogyakarta kala itu sehingga lupa apa hadiah lain yang dijanjikan. Saya mengirimkan satu cerpen saya, berjudul “Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela” dan menunggu pengumumannya dengan dag-dig-dug. Saya lupa apakah waktu itu ada pengumuman resmi atau tidak. Tapi, lama setelah itu, saya sudah melupakan lomba itu. Yah, mungkin belum beruntung. 

Lalu, suatu hari yang hujan, entah bagaimana saya masih ingat, saya mendapat SMS dari panitia lomba bahwa cerpen saya merupakan salah satu naskah terpilih dan ikut dibukukan. Saya sangat senang kala itu meski tidak diundang ke Yogyakarta. Panitia itu bilang dia kebetulan akan ke Jakarta dan membawakan saya berupa cendera mata lomba itu. Saat itu, saya lupa kenapa kami tidak bisa bertemu secara langsung. Yang saya ingat, saya meminta panitia yang baik hati itu menitipkan cendera mata itu di koperasi mahasiswa kampus saya—kebetulan, saya menjadi pengurus kala itu. 
`
Lalu, ketika saya ke kampus, saya mendapati hadiah itu: sebuah buku kumpulan cerita para pemenang (termasuk cerpen saya—meski judulnya salah cetak jadi “Perempuan Tua di Balik Kaca Cendela” :D), sebuah piala, sebuah kaus, dan sebuah buku Plato yang cukup tebal. 

Saya sungguh senang mendapati hadiah itu, apalagi mendapati cerita saya dicetak lagi dalam sebuah buku antologi dan nama saya tertera di piala. Kaus lomba itu diminta seorang teman, buku berjudul Plato itu sempat saya baca dan sempat pula beredar ke temannya-teman dari jurusan filsafat yang pastinya cocok sekali dengan buku itu. Meski bukan my cup of tea (seperti istilah orang-orang), buku itu menjadi salah satu buku kesayangan saya. Ada kenangan bersamanya. 

Nah, piala ini pun meski terkadang saya abaikan, ia menjadi sesuatu yang melihatnya mengembalikan banyak ingatan di benak saya. Ia sudah ikut berkali-kali pindah bersama saya. Pada saat pindah ke indekos saya di dekat gerbang Selamat Datang Kota Depok, bagian atasnya yang berbentuk bulat lepas dan belum sempat saya lem kembali. Dan, saya menyimpannya entah di mana. Berkali-kali pindah dengan barang yang cukup banyak terkadang membuatmu menyimpan barang-barang terlalu tersembunyi sehingga terkadang malah jadi terlupakan. 

Piala ini, ia saya letakkan di atas kotak warna-warni di kamar saya. Sebenarnya, tempatnya kurang pas. Harusnya, ia berada di bufet atau di meja khusus pajangan. Tapi, karena tidak ada tempat khusus, dari atas lemari kayu di kamar indekos saya yang lama, ia berpindah ke atas kulkas, lalu ke lemari plastik warna-warni di kamar yang sekarang.

Saya terkadang melupakannya, tetapi sebagai penanda, ia berfungsi begitu baik. Piala ini, meski saya tidak tertulis sebagai juara 1, 2, atau 3, melihat nama saya tertera saja membuat saya tersenyum. Selain karena saya begitu menggemari hal yang berbau kenangan, di balik tera di piala itu, ada hal yang lebih besar. Ada kegembiraan yang ia simpan dalam warna biru dan plakat emasnya. Ada semangat juga yang tersimpan di sana. Juga sebuah kebanggaan yang melahirkan semangat itu, yang semakin memacumu untuk menjadi lebih baik lagi. 

Kala kau sedang lelah dan mungkin saja sempat hilang harapan untuk berkarya, misalnya, ia bisa menjadi sebuah mesin waktu bagimu, mengingatkan dirimu bagaimana kau dulu meraihnya, bagaimana dulu kau kerahkan waktu untuk “bersaing” menjadi “yang terpilih”. 

No pain, no gain. Begitu bukan yang disebut orang-orang? Ya, tentu saja, kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha meraihnya. Akan selalu ada harga untuk setiap yang kita lakukan.

Ah, tampaknya, sebuah penanda yang berbentuk fisik masih belum tergantikan oleh hal-hal yang berbau digital itu, yang terkadang bisa hilang karena kesalahan teknis dan sebagainya. Piala ini seakan mengingatkan saya. Bagi saya, sebuah momen membutuhkan penanda, yang juga bisa mewujud menjadi kenangan, agar benak kita yang pelupa memiliki mesin waktunya dan mampu menelusuri kembali masa lalu. Tulisan ini pun lahir karena melihat wujud sebuah piala yang saya simpan, sebuah penanda kenangan bagi saya. Lalu, bagaimana dengan uang yang saya sebut di awal? Uang, mungkin ia bisa membeli banyak hal, tetapi tentu ia tak bisa membeli kenangan.

Nah, bagaimana denganmu? Apakah kamu yang termasuk menyimpan sebuah penanda bagi momen-momen dalam hidupmu?
 
___

[#18| Proyek #CeritaDariKamar]  
 

Saturday, August 17, 2013

17| Menulislah dengan Merdeka





Berhubung sedang merayakan hari kemerdekaan kita, sebenarnya saya ingin menulis cerita tentang bagaimana dulu pada masa SMA saya menjadi pasukan "pemuja" tiang bendera [baca: bergabung dengan pasukan pengibar bendera (paskribra)]. Namun, benda berupa emblem dan "bintang" penghargaan pada masa jadi anggota itu terlalu jauh saya simpan sehingga sulit menemukannya.

Nah, kalau tumpukan kertas yang ada di gambar ini, ini merupakan sebagian naskah yang pernah saya tulis pada masa SMA. Naskah ini berumur sekitar lima atau tiga belas tahun. Cukup lama. Kalau dia anak manusia, berarti dia sudah masuk usia SMP, ya? Biasanya, panjang cerpen saya di kertas folio itu sekitar 8-10 halaman. Saya akan menggabungkan lembaran kertas itu dengan staples. Benar-benar manual. Tip-Ex juga sangat berguna untuk merevisi bagian yang salah.

Kesukaan saya menulis dimulai dari menulis diary kala SD. Isinya berupa puisi-puisi ataupun kata-kata mutiara. Saat SMP, diari itu mulai menjadi sebuah catatan keseharian, terutama ketika sedang mengalami kejadian yang mengesankan, kejadian menyedihkan. Yang biasa-biasa saja jarang dituliskan. Diari itu bertahan sampai saat saya kuliah. Sejak punya blog, saya jarang menulis diari. Tapi, saya dan Gita (sahabat saya) pernah punya catatan harian di satu file di komputer saya. 

Bicara tentang menulis, tumpukan kertas itu adalah cerita-cerita pendek yang saya tulis. Kisahnya cenderung tentang cinta dan kehidupan sehari-hari remaja. Perkenalan saya dengan cerita pendek (cerpen) dimulai dari majalah remaja semacam Aneka, Anita, Gadis, dan Kawanku. Oleh karena itu, saya cenderung menulis cerita semacam itu. Cerpen pertama yang saya tulis pernah saya edarkan di kelas. Waktu itu, saya kelas satu SMA. Sambutan yang antusias dari teman membuat saya semakin bersemangat menulis. Kala SMA itu, saya kerap menulis cerpen di kertas folio, dengan tulisan tangan. Komputer belum secanggih sekarang dan yang waktu itu punya komputer hanya kakak saya yang kuliah di Binus dan itu pun masih pakai DOS. :))

Suatu kali, saya pernah ingin ikut lomba di sebuah majalah. Ada dua cerpen yang sudah jadi ditulis tangan. Saat itu, saya menceritakan kepada sahabat saya kala SMA kalau saya berniat ikut lomba, tetapi sebenarnya tidak yakin, tambahan pula cerita saya ditulis tangan. Ami dan Maria, dua orang sahabat saya di paskibra yang punya komputer di rumah dengan berbaik hati bersedia mengetikkan naskah yang akan dikirimkan untuk lomba itu. Saya begitu terharu. Mereka memberi semangat dan ikut senang membaca cerita yang saya tulis. 

Masa-masa awal memberanikan diri menulis dan mengirimkan ke lomba itu merupakan sebuah fase yang begitu saya ingat. Meski tulisan saya tidak menang, saya mendapatkan tambahan keyakinan bahwa saya suka dan bisa menulis. Lalu, berbagai cerita (remaja) hadir di benak saya dan saya sempat menyediakan buku tulis khusus untuk cerita pendek ini. Sampai sekarang, buku itu masih saya simpan. Dari buku itu, saya pun bisa melihat perkembangan tulisan saya. Dan, bahan bacaan tentu sangat berpengaruh pada perkembangan tulisan seseorang. 

Kala kuliah dan mulai "bergaul" dengan buku-buku sastra, saya pun mulai menulis cerita pendek yang lebih cenderung berupa kritik sosial, juga belajar bagaimana menggunakan metafora dalam sebuah tulisan. Selama kuliah, saya pun meninggalkan kisah-kisah remaja dan lebih cenderung ke cerita-cerita ala cerpen koran Minggu. Dan, pada masa kuliah itu, tulisan-tulisan saya seringnya diketik di komputer. 

Namun, tetap ada juga cerita yang "draf"-nya saya tulisan tangan. Sebuah cerita pendek di dalam Penjual Kenangan merupakan sebuah hasil tulisan di angkot menuju rumah kakak saya, coret-coretan dengan tulisan kurang jelas. Saat di angkot Lebak Bulus--Ciledug itu, sebuah ide terlintas di benak saya, seakan buru-memburu dan "menuntut" untuk dimerdekakan. Karena tidak bawa notes, saya pun segera mencari kertas dan menemukan kertas promo sebuah produk. Di bagian kosongnyalah saya menulis cerita itu. Karena perjalanan cukup panjang, cerita itu "selesai" dalam angkot tersebut. Kemudian, saat di kosan seorang teman, tulisan itu saya ketik di komputer. Draf yang sudah selesai itu akhirnya jadi sebuah cerita yang berjudul "Nelangsa".

Menulis dengan tangan terkadang membuat benak saya terkadang lebih bebas untuk meminta tangan ini dan itu dan cerita saya terasa lebih cepat mengait ke sana-sini. Secara ilmiah, katanya, menulis di atas kertas dengan tangan lebih memicu otak sehingga lebih cepat menangkap informasi, juga sebagai olahraga otak. Bagi saya, coretan-coretan yang digerakkan tangan membuat mereka saling membagi peran. 

Karena itulah, sampai sekarang pun, saya lebih senang menulis outline sebuah cerita di sebuah buku. Baru kemudian diketik di komputer. Jika ceritanya sudah selesai, saya juga akan mencetak cerita yang saya ketik itu. Print out itu akan saya baca ulang dan saya coret sana-sini jika ada yang janggal atau ada yang kurang. Saya berlaku menjadi editor ketika mencetak tulisan saya itu dan membacanya kembali. Memberi komentar-komentar untuk "sang penulis" yang terkadang mungkin terlalu asyik dengan pikirannya. Membaca draf cerita yang sudah dicetak juga lebih gampang menelusurinya kembali hal-hal yang terlewat atau yang sebelumnya tak tertangkap jelas oleh mata.

Oh ya, kertas-kertas dalam gambar ini masih tersimpan dalam kamar saya. Dalam dus dengan label: barang-barang-penting-yang-tak-akan-dibuang-meski-bertahun-tahun-tak-pernah-dibuka. :))

Ini saya foto saat beres-beres pada awal pindahan. Senang menemukan kembali tulisan tangan saya itu. Mengingatnya sekarang, saya sepertinya sudah menyerah duluan kalau menantang diri saya sekarang untuk berlembar-lembar seperti itu lagi. Tulisan saya sekarang, pada baris ketiga sudah refleks jadi tulisan sambung. Hehe. Tulisan saya sekitar tiga atau lima belas tahun lalu itu masih konsisten dan masih layak dibaca. Setiap hari dengan laptop memang telah mengurangi kemampuan saya menulis tangan. Meski saya masih suka menulis atau merencanakan sesuatu dengan tulisan tangan, tulisan saya cenderung tidak bisa terbaca. Terkadang, saya sendiri harus berusaha menerka-nerka apa yang saya tulis tersebut. 

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tentu saja banyak mengubah sesuatu, termasuk mengubah bentuk tulisan saya. Baiklah, memang tidak etis menjadikan perkembangan zaman dan teknologi sebagai kambing hitam atas kemalasan diri untuk tetap berlatih. Maafkan. :)))

Bagaimana denganmu, kamu masih suka menulis sesuatu dengan tulisan tangan? 

Kalau tidak pun, tentu saja tidak masalah. Semua orang punya kebiasaan tersendiri yang menurutnya nyaman. Karena kita pun sudah merdeka, tentu saja tidak ada pemaksaan harus menulis outline dan sebagainya dengan tangan. Yang pasti, menulislah dengan merdeka, menulislah dengan hati yang lapang, dan kau akan temukan betapa bebas dan luas makna tulisanmu itu.


P.S.
Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia! Semoga kita bisa mendongengi negeri ini dengan kisah-kisah pengantar tidur yang bermakna. Dan, semoga ia pun berkenan mendengarkannya dan memberi mimpi indah dalam tidurnya. Merdeka! :D


Love, 

Iwied



___

[#17| Proyek #CeritaDariKamar]  










Friday, August 16, 2013

16| Sebuah Diskusi Panjang





Dua tahun lalu, saya pindah dari sebuah tempat indekos yang hanya berupa sebuah kamar ke sebuah rumah kontrakan di bilangan Jagakarsa. Menempati rumah kontrakan tentu berbeda dengan sebuah tempat indekos. Di sebuah rumah kontrakan, tentu saya tidak hanya punya satu ruangan saja seperti di tempat indekos saya sebelumnya, yang saya tempati hampir lima tahun. Di sebuah kontrakan, kamu bisa punya beberapa ruangan lain yang bisa kau tempati jika kau bosan dengan ruangan yang lain--ruangan tidur, misalnya.

Rumah kontrakan saya ini cukup besar, tetapi bangun ruangnya aneh karena ini merupakan tiga tempat indekos yang digabung menjadi satu, seperti tiga ruang berbaris ke samping. Jadilah rumah ini terbagi menjadi tiga ruang sama besar, yang alhasil, ruang dapur pun sepanjang ruang tengah dan ruang tidur. Dapurnya pun jadi terasa terpencil.

Harapan saya, di kontrakan baru ini, saya akan punya "ruang kerja" yang tentu saja terpisah dari ruang tidur. Saya ingin saat menulis pada malam hari, tidak akan ada godaan untuk kemudian tiduran sejenak, istirahat sebentar (baca: bangun-bangun ternyata sudah pagi). Dulu, di tempat indekos saya, saya selalu mengetik di tempat tidur yang seringnya membuat saya lebih banyak istirahatnya (ceritanya, sebentar).

Bicara tentang kasur yang ada di foto, ini merupakan sebuah konsekuensi rumah kontrakan juga. Kalau indekos, tentu kita tinggal bawa diri. Kasur, lemari, meja belajar umumnya sudah disediakan. Nah, saat pindah ke kontrakan ini, saya hanya punya lemari plastik warna-warni yang biasanya digunakan untuk tempat menaruh kerudung dan sebuah kasur lipat yang tidak terlalu tebal.

Saat pindah, kasur memang sudah menjadi barang wajib yang akan saya beli. Namun, tertunda karena saya sempat jatuh sakit karena kecapaian pindahan dan akhirnya tidur di kasur lipat yang ada. Setelah baikan, Gita memaksa saya untuk segera membeli kasur yang lebih tebal. Pencarian pembelian kasur ini memakan diskusi panjang di ruang kantor saya yang terdiri dari dua penerbit. Dulu, komposisi orang di ruangan itu masih mudah dipetakan hobinya karena masih sedikit. Saya dan Re masuk kelompok "suka beli" (tapi, tidak suka "jual" seperti Re). Lalu, yang paling menonjol, obrolan popok, ASI, dan makanan sehat untuk bayi didominasi oleh Gita, Alit, dan Tata. Hampir setiap pagi. Tiga ibu-ibu itu sangat kompak dalam obrolan tersebut, belum lagi berbagi laman toko online baju bayi. Saya dan Re--juga Abang--masih senang-senang saja dengan topik itu. Hanya Fial yang sepertinya sangat tersiksa setiap harinya mendengarkan obrolan ibu-ibu itu tak jauh dari seputar "wanita" itu. :))

Hari itu, saya ingat saya seharian mengecek toko online yang menjual kasur, ngecek harga, googling merek kasur apa yang nyaman, dan nyari tempat yang bagus untuk jualan. Gita menyarankan Informa dan saya sudah sempat ke sana, tapi tidak menemukan yang cocok. Gita yang cenderung akan mengeluarkan "meterai" legitimasi untuk usulannya tentang pilihan saya (biar saya yakin 100%) sepertinya sudah menyerah dengan urusan kasur ini. Lalu, diskusi panjang tentang kasur berlangsung antara saya dan Alit--seorang perempuan yang kesabarannya seperti seorang ibu (karena doi emang sudah jadi seorang ibu juga), juga mempertimbangkan ini-itu untuk sesuatu, seperti halnya saya. Ketika berdiskusi dengan Alit, ia akan mulai dengan pertanyaan apa yang saya perlukan, budget, dan sebagainya. Hal-hal detail akan kamu dapatkan saat berdiskusi dengannya.

Saya ingin beli kasur yang 2 in 1 karena rencananya saya mau mencari roommate untuk kontrakan yang cukup besar ini. Jadi, layaknya "ibu kosan", saya juga ingin menyediakan fasilitas biar yang mau tinggal bareng saya tidak susah. Lagi pula, saya cukup tidur di kasur yang ukuran single saja, tidak usah yang ukuran queen atau king. Alit kemudian bertanya, nanti kalau nggak jadi punya roommate, kasur yang satu lagi buat apa? Saya bilang buat kalau ada tamu. Menurut Alit, sebaiknya saya berpikir untuk membeli kasur yang besar sekalian. Tidur saya jadi enak karena tempatnya luas dan saya juga bisa beli yang "lateks" yang bagus untuk tulang punggung. Lalu, saya pun mencari info tentang lateks-something itu dan menemukan bahwa harganya kurang masuk budget. Haha.

Setelah diskusi panjang seharian itu--melibatkan setiap orang yang masuk ruangan tentang pilihan kasur yang nyaman--esoknya orang-orang sudah berpikir saya membeli kasur. Namun, ternyata, saya belum memutuskan beli kasur apa. Akhirnya, saya googling lagi. Lalu, datanglah Koko Jeffri yang baik hati. Ia bilang kalau di Mal Depok sana banyak yang jualan furnitur dan kasurnya bagus-bagus. Ia sempat membeli di sana. Kalau Koko sudah ngomong, saya tak lama berpikir untuk percaya. Koko orang yang detail dan tentunya punya pertimbangan buat sesuatu. Jadilah saya berencana ke mal tersebut. Ternyata, benar. Di sana, banyak pilihan berbagai merek. Oh ya, hari itu, saya ditemani Zulfa. Lalu, bertemulah dengan kasur yang ini. Harganya sesuai dan bagian luar kasur ini bisa dicuci juga.

Hari ini, kasur ini sudah hampir dua tahun bersama saya. Dan, karena kasur ini cukup luas untuk saya, akhirnya ia menjadi pusat kegiatan, terutama untuk mengetik. Saat ini pun, saya mengetik dari tempat tidur. Gagallah rencana untuk punya "ruang kerja" terpisah dari ruang tidur. Meja tulis saya ada di sebelah kasur ini. Teve yang tadinya saya taruh di ruang sebelah, akhirnya dipindah ke ruang tidur ini juga, ditonton dari kasur ini pula. Kasur ini benar-benar jadi pusat semesta rumah kontrakan ini. Bahkan, Wira, suami Gita, berkomentar bahwa ruang tidur ini tak ubahnya seperti kamar indekos saya (dan Gita) dulu. Segala hal dimasukkan ke ruang kamar ini. Di kasur ini kadang penuh dengan barang yang saya anggap perlu diletakkan "dekat" dengan saya, terutama laptop.

Oh ya, foto kasur ini saya ambil saat beres-beres beberapa hari lalu, saat atap kamar ini bocor dan membasahi kasur ini sebagian. Bagian atasnya ternyata sampai sudah hampir kering saat saya mendapatinya saat pulang kantor, meresap ke bawah. Karena hari sudah malam dan tidak mungkin menjemur kasur ini di luar, saya menyalakan kipas di nomor yang putarannya paling kencang, mengganjal bagian kasur ini agar ada ruang di bawahnya, dan mengipasinya sampai pagi. Saya tidur meringkuk di pojokan dengan terpaan kipas angin yang begitu kencang. Hasilnya, besoknya kasurnya kering dan saya sedikit masuk angin.

Begitulah. Kasur ini penuh kenangan, terutama dengan Alit yang selalu mengeluarkan petuah-petuahnya yang bijak. Yang dulu membuka tangan lebar-lebar mengusulkan dirinya sebagai "konsultan" keuangan saya dan menggalakkan "harus menabung" kepada saya. Lalu, tak beberapa lama, sama halnya seperti Gita, Alit yang sabar itu akhirnya menyerah ketika tahu setelah saya janji-janji (palsu) untuk tidak beli hal yang tidak perlu, tiba-tiba saya sudah memesan kerudung di toko online dengan berbagai alasan, plus kaleng-kaleng tidak jelas dari toko tujuh ribuan. :)))

Ah, jadi kangen Alit ada di ruangan kerja lagi. Kangen ocehan tidak jelasnya di balik kubikel pojok karena kerap tidak dapat sinyal wi-fi.

 _____

[#16 Proyek #CeritaDariKamar]  





Thursday, August 15, 2013

#15| Kunci Hari Depan






Benda ini belum lama ada di kamar saya. Diberikan sang pemilik sebelumnya pada 6 Agustus lalu kepada saya. Benda yang saya usahakan dengan cukup "keras" mendapatkannya dalam beberapa bulan belakangan ini. Sedikit kelimpungan karena mengurusnya hampir sendirian (tapi, bantuan Gita dan Wira--kedua sahabat yang begitu baik--pastinya selalu ada, membuatnya terasa tidak terlalu berat). Bolak-balik ke bank, berurusan dengan yang namanya pihak appraisal yang menyurvei harga, berurusan dengan notaris, juga berurusan dengan yang disebut makelar. Juga merepotkan beberapa orang terdekat.

Sempat hampir berpikir, mungkin ini terlalu terburu-buru, terlalu memaksa. Namun, di sisi lain, ada juga kekuatan yang bilang, kalau tidak sekarang, kapan lagi. Lalu, dengan bismillah, saya nekat "memulai" sebuah langkah yang cukup besar ini.

Kunci ini, sebuah doa yang mewujud, doa untuk memiliki sebuah hunian--meski dengan dicicil. Alhamdulillah.

Benda ini menjadi salah satu yang paling berharga di dalam kamar saya sekarang. Kunci sebuah rumah yang menunggu dicat kembali dan dihuni. Selain buku Penjual Kenangan, kunci ini merupakan sebuah anugerah yang melihatnya selalu membuat hati saya membuncah pada 2013 ini. Puji syukur kepada Allah yang selalu melimpahi karunia-Nya.

Dan, aku menunggumu untuk bersama mencicil, eh, menempati rumah ini.
Ya, kamu, yang akan berbagi segala kisah dalam perjalanan dalam sisa usia nanti. ;)


p.s. doakan urusannya lancar untuk beberapa belas tahun ke depan, yaaa. amiin. :))

___

[#15 Proyek #CeritaDariKamar] 

Wednesday, August 14, 2013

#14| Dari Sebuah Rak Buku




Dari Jendela SMP. Judul buku ini begitu lekat di benak saya. Kisahnya cukup dewasa untuk ukuran usia saya kala membacanya saat itu. Mungkin hal itu juga yang membuat buku ini begitu terasa berkesan. Saya seakan-akan membaca sesuatu yang "terlarang", padahal bukunya saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Saya menemukan buku ini lagi di sebuah rak toko buku murah. Tanpa menawar (karena harganya sudah cukup murah juga), buku ini langsung masuk ke tumpukan buku pilihan saya. Saya memang tidak akan melewatkan buku-buku lama penulis yang saya kenal (kalau kebetulan menemukannya). Saya punya novel lama Gali Lobang Gila Lobang Remy Sylado. Ada juga Ben, novel remaja Gus Tf Sakai. Fisiknya yang bahkan terkadang sudah kumal malah membuatnya semakin terasa berarti bagi saya. Jadi, menemukan novel Mira W. ini, yang masih cukup bagus kondisinya, membuat saya euforia. 

Ada kisah cinta Joko--pemuda miskin--dan Wulan--gadis kaya--yang tidak direstui orangtua di sini. Sekarang pun masih banyak orang yang menulis dengan formula itu. Cinta memang tak lekang oleh masa, ya?

Buku ini ada di kamar saya, di tumpukan buku yang akan dibaca kembali. Saya ingin tahu apa yang membuat buku ini lekat di benak saya. Bagaimana saya memahami kembali buku ini sekarang dan melihat "skandal" yang terjadi di dalamnya, yang dulu direspons sebagai fragmen "terlarang" oleh benak saya. Pastinya, dengan kacamata berbeda, kita akan menemukan "kisah" berbeda juga di dalamnya. 

Apakah saya lebih menyukai buku ini sekarang atau tidak? Karena, kata Georg Christoph Lichtenberg, "A sure sign of a good book is that you like it more the older you get."


____
[#14 Proyek #CeritaDariKamar] 

#13| Nyalakan Harapanmu



Saya cenderung perlu lampu belajar. Sejak SD dulu, kalau belajar, saya merasa lebih fokus kalau buku yang saya baca lebih terang dari cahaya ruang (ala suhu ruang). Membuat segala hal menjadi lebih terang, seakan memberimu kekuatan cahaya. Lampu belajar yang ini saya beli dengan semangat '45. Belinya di salah satu pasar swalayan. Tiang lampu belajar ini bisa dilipat, jadi akan lebih mudah kalau dibawa-bawa. Ia pernah saya bawa juga ke provinsi sebelah, waktu saya sempat jadi abdi negara itu. 

Malam ini, lampu ini lagi jadi cahaya utama di kamar saya, soalnya lampu kamar ini putus gara-gara atap bocor. Belum dibenerin karena sepertinya dudukan atau sarang (apa sih istilahnya itu?) lampunya kayaknya korsleting. Nggak berani juga nyalainnya karena takut hujan lagi dan atapnya bocor lagi. Bapak kontrakannya belum saya kasih tahu, sih, soalnya saya sering banget komplain tentang bocor ini. Tapi, memang di mana-mana bocor. >.<

Degresi, deh, ceritanya. Maafkan. Lampu ini dibeli dengan berbagai pertimbangan karena harganya lumayan mahal (menurut saya). Setelah dibanding-bandingkan dengan merek ecek-ecek yang sepertinya gampang rusak (juga dengan merek lain yang malah lebih mahal lagi), akhirnya saya beli juga. Terus, ya, setelah beli lampu ini, selang beberapa lama kemudian, masa dia diskon 50%. Ih, nyebelin banget!

Terus, belum lama ini, di pasar swalayan yang sama, ada bentuk baru juga dari lampu ini (merek yang sama). Saya jadi pengin beli lagi. Rencananya, buat Gita--sebagai hadiah karena belum lama ketika itu, dia baru saja merayakan hari lahirnya--karena saya sudah punya. 

Tapi, saat saya sampaikan ide cemerlang itu, sayangnya Gita nggak mau dikasih hadiah lampu untuk ulang tahunnya. Dia malah mikir saya pengin aja beli lagi, padahal kan saya cuma nggak mau melewatkan bentuk dan warna baru lampu belajar ini. Dikasih diskon dan dikasih lampu gratis pula! Hanya dalam masa promo, begitu kata mbak penjaganya. Tapi, sayangnya, Gita tetap tidak mau dan tetap mikir saya yang gila-belanja. Huh. Padahal, siapa yang bisa melewatkan promo semacam itu, kan? Kapan lagi coba?

Makna lampu belajar bukan hanya sekadar lampu. Ia adalah penerang, yang mampu menyalakan banyak hal dalam diri kita, termasuk harapan. Yang pastinya akan mewujudkan impian. 

Ah, sayangnya, Gita sudah menolak rencana hadiah ulang tahun ini. Jadilah saya tidak memberikan hadiah apa-apa untuknya tahun ini. 

Oh ya, lampu belajar ini lumayan awet. Bohlamnya juga belum pernah diganti sejak saya beli. Nah, harusnya Gita berpikir lagi, ya, sebelum menolak usulan saya untuk memberinya hadiah ulang tahun berupa lampu belajar penyala harapan. Oalah! 



____

[#13 Proyek #CeritaDariKamar]


 

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin