Penjual Kenangan

Thursday, December 30, 2010

cipa belajar berenang :)



 



di detak ini, mimpi telah lama menikam diri mereka sendiri, diam-diam

kau lihat,
orang-orang dalam gambar itu.
mereka semua tertawa, dan begitu bahagia.
jadi, tak perlu ada yang dirisaukan.
cukup pejamkan matamu,
dan esok, kau akan mendapati dirimu berada dalam tawa yang sama dengan orang-orang di dalam gambar itu. menggapai mimpi-mimpi, dan menjelma dalam doa-doa.

kau tahu, mereka juga pernah dalam cerita-cerita tak beralur, tak bertokoh, tak mengenal tanda-tanda
orang-orang dalam gambar itu, yang saku, ransel, dan tas-tas tangan mereka penuh dengan tawa, pernah berada berdiri dalam malam yang gelap dan sunyinya saling mengutuk.

gambar-gambar itu akan menjelma juga,
asal, kau tak berhenti
asal, kau tak menanti
asal kau tak selalu memaki,

mimpi-mimpi begitu banyak yang menunggu,
di ujung sana,
telah dituliskan dalam garis tangan mereka,
suatu hari, kau akan berdiri di sampingnya, mengulurkan tanganmu,
dan, tiba-tiba saja, langkah telah sama, tanpa perlu kau samakan,

asal, kau tak berhenti.
di sini. di detak ini--di tempat mimpi telah lama menikam diri mereka sendiri, diam-diam.

Tuesday, December 28, 2010

aku dan ketergesaan


pagi tadi, saat aku terbangun, hujan sedang duduk manis di luar kamar.
tidak mengetuk pintu, hanya duduk saja, 
dan, tak membawa kabar. juga darimu. 
lalu, kau tahu, apa yang kulakukan? (pasti kau tahu)
aku tidur kembali :p, dan memaki saat terbangun mendapati pagi telah mengkhianatiku.
meninggalkanku, bersama ketergesaan

hei, ini sudah hampir januari,
masihkah aku harus akrab dengan ketergesaan?
dalam kebersamaan kami, kedekatan kami itu, diam-diam aku membencinya.
dan, berencana meninggalkannya. diam-diam pula, tentunya.
aku tahu, aku sudah menuliskannya dalam agendaku--yang lebih banyak kosongnya. aku sudah menuliskan waktunya.
dan, saat itu, aku akan meninggalkannya.
semoga aku tak menemukan ada genangan air mata di pelupuk matanya--yah, mungkin saja ia akan merindukan berlari bersamaku, bersama-sama mengejar waktu yang juga berlari dengan cepatnya.

dan, menurutmu, apakah aku harus meninggalkan selembar Post-it di mejanya? 
mungkin, bertuliskan, "selamat tinggal," sebuah kata yang tak memperlihatkan emosi apa-apa. hanya sebuah ucapan perpisahan. 
atau, aku menuliskan hal yang mungkin membuatnya tak merasa ditinggalkan (begitu saja), "jaga dirimu. aku menyukai kebersamaan kita,"  tapi tanpa kata "semoga kita bertemu lagi", tentunya--aku tak berharap kami bertemu lagi.

atau yang agak sedikit sengit, "hei, ketergesaan, jangan genggam erat tanganku lagi. aku sering kehilangan pagi karena menunggumu."
atau, hanya satu kata itu saja, "bye," atau yang sedikit sopan, "farewell, my-lovely-friend"? 

yang manakah yang harus aku tuliskan? aku tahu, aku pasti menghabiskan berlembar-lembar Post-it untuk menuliskan itu, entah mencari kata-kata yang tepat ataupun mengulang-ulang kalimat yang sama agar tulisanku bisa ia baca dengan jelas (uh, aku sebal kemampuan menulis dengan tanganku menurun drastis sejak jemariku lebih memilih mengakrabkan diri dengan keyboard QWERTY itu).

atau, aku tak perlu menuliskan apa-apa? cukup menghilang pada suatu pagi. 
meninggalkannya, tercenung. 
dan semoga ia tak menungguku di depan pintu kamarku itu, duduk manis di sana, seperti hujan yang jatuh pagi ini.

psst, jangan ceritakan padanya kalau aku berniat meninggalkannya, pada suatu pagi.
sebenarnya, aku tak pandai menyembunyikan keinginan--yang sering menguar dengan tiba-tiba ketika aku duduk diam. tapi, kalaupun kau kelepasan bicara, dan dia tahu, katakan, aku selalu mengenangnya. dan mengirimkan doa lewat sujud-sujud yang panjang.
berdoa, semoga kami baik-baik saja. 
berdoa, agar aku dan ketergesaan bisa saling meninggalkan. dan mengenang yang baik-baik saja, tentunya. 
tahun sudah akan berganti. matahari memang masih yang itu-itu saja. tapi, kau tahu, aku bosan berlari mengejar pagi, bosan digamit ketergesaan. 

aku ingin memulai pagi dan tak melihat ketergesaan lebih dulu merebut ranselku, ataupun lebih dulu meletakkan sepatuku di depan pintu. ataupun, lebih dulu mengunci pintu kamarku, sementara helm-ku masih di dalam--tergeletak di bawah jendela kaca, di atas tumpukan buku.

:) kau tahu, ini semacam harapan untuk bersiap-siap membentangkan spanduk ucapan selamat datang kepada tahun yang baru. 
kalau sang ketergesaan tahu, ia pasti akan mengerti. tapi, semoga ia tak bilang, "dulu, kau juga bilang seperti itu, tapi kita tetap berada dalam langkah keterburu-buruan yang sama."
haha, biarlah ia berpikir seperti itu--agar semua (seakan-akan) baik-baik saja.

hanya Dia yang tahu, yang sebenarnya. kita tahu, bukan? :)




#@montong57, tiga hari sebelum sebuah tahun menghilang. gambarnya di sini!#







Monday, December 27, 2010

sebelum desember silam



desember masih menengok ke belakang, masih memastikan jejaknya tertinggal di sana. kita bilang, "ya, kami masih melihat jejakmu. jangan risau, kami akan mengingatmu. setahun lagi kita bertemu, semoga."
ia tersenyum, kau lihat juga kan, ia tak lagi meragu.

"desember, beruntung dia menutup sebuah perjalanan. ia akan dikenang," kataku, tiba-tiba merasa dikepung sendu.
"aku mengenang setiap waktu," sahutmu. tak hanya desember, sepertinya. dan, kau tersenyum.

mungkin, aku pun begitu. tapi bukankah desember beruntung berada di penghujung hitungan tahun?  ya, kan? masih saja hal itu berkelebat di benakku. menyenangkan. tiba-tiba ingin jadi desember. yang pastinya penuh kenangan. menjadi januari? ia pun ditunggu-tunggu. tapi, aku lebih ingin jadi desember, yang pastinya  mempunyai tumpukan-tumpakan kenangan di sudut kamarnya, berkarung-karung, mungkin. tapi, saat januari, kau bisa memulai cerita baru, kisah baru. sebuah novel baru. roman tak-picisan yang baru. menyenangkan juga sepertinya. *haha. pikiranku meloncat-loncat, seperti biasanya--ada yang pernah bilang seperti itu. aku tak percaya. benarkah? :( *

oh, ya, aku ingat kau pernah bilang. suatu hari, dulu.
kau sedang memulai bab pertama dalam novelmu.
dan, kita tahu, cerita itu berlanjut,
dan ternyata waktu merampungkannya, 

sebentar lagi. ;)




Thursday, December 23, 2010

:)



jalan-jalan di kota itu, gedung-gedung tuanya, ataupun lautnya yang seakan menelan cakrawala,
suatu hari, kita akan membingkainya,
setelah lelah kita menyusurinya.,

dan,
suatu hari, aku akan mengomentari, "kenapa sih posemu selalu sama dalam setiap gambar? senyumnya juga seadanya, seperti terpaksa. huh."
aku akan menggumam kesal karena merasa posemu yang begitu-begitu saja jadi merusak sebuah gambar yang harusnya sempurna, dalam sebuah bingkai yang--katamu--seakan-akan abadi.
gerutuanku akan terdengar sepanjang waktu setiap kali melihat gambar-gambar yang kita bingkai itu, ketika mendapati kau tampak tidak bersemangat menatap lensa, malah memberikannya senyum yang terpaksa.

tapi, kau tahu, diam-diam, aku akan tersenyum,
menyadari, ternyata, aku begitu jatuh cinta,
padamu.


[i owe the pic]

Wednesday, December 22, 2010

sedikit (rahasia) tentang perempuan



hei, mau tahu sedikit (rahasia) tentang (seorang) perempuan?
kalau kau mendapati seorang perempuan menangis, jangan selalu berpikir bahwa dia sedang sedih.. kau tahu, barangkali, dia sedang marah. 

kebanyakan perempuan itu sering kali begitu. saking marahnya, dia malah menangis. haha, lucu. bahkan, seorang teman (perempuan) yang saya tahu selalu tertawa, tiba-tiba saja jadi menangis. dan, saat mendengar isaknya itu, saya tahu dia bukan sedih, dia sedang sangat-sangat marah. dan, saya tahu dia sangat benci ketika dia harus menangis karena amarahnya itu. 

pernah juga, ada seorang perempuan yang menangis karena ia kesal argumentasinya tidak diterima, selalu dipatahkan, atau dianggap tak beralasan. dan, karena kesal dan tak punya kata-kata lagi, air matanya malah rontok--mungkin, para perempuan memang mempunyai persediaan air mata yang cukup banyak di mata-mata mereka yang kadang juga menyimpan banyak rahasia. 

atau, bisa saja perempuan langsung menangis ketika ada yang mencaci-makinya. saat itu, ia lebih ke arah marah, bukan sedih. tapi, mungkin juga, sesuatu yang disebut perasaan perempuan itu terlalu bewarna-warni, dan kadang campurannya begitu cepat diramu hingga akhirnya malah menguarkan aroma air mata itu. unik. :)

kau tahu, air mata itu sungguh ajaib. bisa meluruhkan banyak hal. kemarahan. kekesalan. kebencian. kehampaan. kesedihan (pastinya). dan lain-lainnya. dan lain-lainnya. dan, bisa juga meluruhkan kenangan.

itu sedikit tentang air mata.

lalu, ada yang lebih unik lagi daripada itu: tidur. 
 kau tahu, tidur lebih bisa meluruhkan banyak hal lagi. dan, kemarahan jadi yang paling sering bisa diluruhkan. 

entah kenapa bisa begitu. mungkin, kemarahan itu dibawa peri-peri ke alam mimpi sana, diendapkan di sana, atau mungkin dibuang ke sungai ajaib yang ada di sana. tapi, mungkin juga, tangan-tangan peri itu terlalu kecil, jadi tidak bisa membawa terlalu banyak kemarahan yang akan dihanyutkan ke alam mimpi--jadi masih bersisa ketika bangun tidur, tapi tak banyak. atau, mungkin juga, mereka tak punya waktu terlalu banyak. takut jam tiba-tiba berdentang, lalu menutup pintu ke dunia mimpi sehingga bisa-bisa, mereka terjebak sendiri. entah. :)

tapi, sering kali, tidur memang meluruhkan kemarahan (kau cobalah sekali-sekali) , bahkan juga kebencian.
tapi, entah kalau kenangan. sepertinya, memang benar peri-peri dunia mimpi itu memiliki tangan-tangan yang terlalu mungil sehingga tidak bisa membawa terlalu banyak sesuatu di sana. jadi, mungkin saja, karena itu mereka tak sempat membawa kenangan. 

atau, memang benar waktu di dunia mimpi itu terlalu cepat, jadi mereka tak punya banyak waktu untuk melakukan ini itu? 

entah. :)


# gambarnya minjem #

Friday, December 17, 2010

Saya Suka Hari Minggu :)

Hari Minggu lalu, saya, Nulur, dan Chizumi berpetualang ke Kreo, Cileduk, Jak-Sel (eh, apa udah masuk ke Tangsel yak?) untuk menemui seorang teman lama--sebenarnya, ada keperluan nitip-nitip sih sama teman lama itu. Makasih, Anto. :D 


Malamnya, saya ke rumah Nulur untuk mengambil transkrip nilai saya *waktu itu nitip legalisasi sama Nulur yangbaikhati itu. ;)* Sudah lama saya tidak ke rumah Nulur. Tapi, ternyata, suasananya masih sama. Saat sampai, pas banget magrib, jadilah saya ikutan salat magrib berjamaah dengan keluarga Nulur. :)


Lalu, saya masuk ke kamar Nulur buat ngobrol ngarol ngidul. Dan, mendapati sebuah lukisan. Cakeepp. (Hiks, pengen bikin kayak gitu juga). Ternyata, ada yang berubah di kamar Nulur. Dia punya banyak kuas dan kanvas. *saya iriiii. kan, dulu saya juga punya cita-cita jadi pelukiiiis. ^^* Tapi, Nulur berjanji mau nemenin beli kuas, cat, dan kanvas di warung perempatan apalah gitu. Katanya, di sana murah. 


Ini gambar Nulur yang bikin saya iri. ;( *Kata Nulur, dia nyontoh, dan dia malu-malu bilang itu masih jelek. Haha. Cakep, kok, Lur... :)




Kata Nulur, di toko perempatan itu, harga kanvasnya murah. Tapi, hiks, kapan ke sananya? Nulur mau dikarantina pula :( Tapi, suatu hari, pasti ke sana dan mewujudkan cita-cita lama saya, yang terpendam--painter wannabe. ;)


Esoknya, saya dan Nulur berkendara dengan cukup santai (saya suka hari Minggu). Ke Kreo lewat Blok M. "Kalo gue, taunya lewat Slipi, Lur," kata saya, menjadikan daerah jajahan saya itu sebagai patokan ke mana-mana. 

Nulur ngakak. "Jadi, muter-muter, Wied," katanya. Saya sempet mikir, emang iya? Kayaknya lumayan deket juga. Hehehe. Untunglah Nulur jago menavigasi.

"Lur, belok mana?" tanya saya setiap ada belokan. 


"Wied, ini kan jalan waktu kita mau ke Senayan," kata Nulur (sebal, mungkin).

Hehehe, saya tidak inget, bow! ;p


Setelah ke Kreo, kami ke Blok M Square. Lumayan juga itu tempat, banyak barang-barang lucu. Produk Yogya kayak dipindahin ke sana. :) Setelah muter-muter sampe capek nyari kemeja putih buat Nulur, kami makan di So**ria.


Saya memesan mi ayam, Nulur memesan nasi bistik ayam. Setelah lama nunggu, datanglah si Mbak-nya membawakan pesanan kami. Tapi, saya dan Nulur bengong saat dia naro pesanan saya di meja. Sendok dan tisunya kenapa mpe begitu yak? Hahaa.



Pesanan Nulur datang. Lalu, kami iseng ngedeketin kedua tisu itu. Yang satu lepek ajah. :p




Kasian juga Mbak-nya jadi grogi gara-gara saya dan Nulur bengong sambil liatin. Untunglah, tak beberapa lama, dia membawakan lagi tisu (pesanan saya)--dibawain cukup banyak. :D

Jadi ngerasa bersalah tadi saya dan Nulur bikin si Mbak-nya sempat grogi. :p

"i'm a dead man walking i meet my destiny"*

pagi-pagi, dengerin lagu ini** (suka semua lagu mereka). :)


[[ btw, sudah beberapa hari belakangan ini, saya datang (terlalu) pagi ke kantor (alhamdulillah :p), sampai-sampai ditanyain sama resepsionis kantor kenapa saya tumben saya datang pagi. hehehe.

kenapa? hmm, karena mau memanfaatkan waktu pagi biar nggak keduluan dipatok ayam. (hehe, setahun lebih belakangan ini, ke mana aja, bu, baru nyadar sekarang?) :D

hmmm, sebenarnya, karena keseringan pulang malem (pernah mencetak rekor pada pukul 12 malam [hiks]), siklus berangkat kerja jadi (agak) berantakan. tapi, sekarang, siklus mulai stabil nih kayaknya.. dan, semoga bisa bertahan biar ayam sebel karena yang mau dia patok udah saya patok duluan. ;) ]]





 

** I don't know where  i live
don't know what i'm doing over here
I can't remember all this street
Just Walking my way and
i'm asking to the people all arround
they pay no heed to me at all

Suddenly after view minutes
i hear a whisper in my ears
it says : "find me and you know what you've been through,
I'm a white black beagle with a brown pelt on my left eye"..

I just can say i don't remember
oh i lost my mind and i just can say i don't remember

i've finally found you dog but you're running down to the road
i'm stealing a bike i'm chasing you up
cause you are the answers of my questions
oh i'm really tired, i can't move anymore
but the dog stops.. in the end of the street

The dog is right i've got my memories back
cause i see my bode lays over there
i'm a dead man walking i meet my destiny
i saved the dog and let my soul free

the truck came when the dog was on the street
i was trying to get him and it's not too late.. but yeaah
i know i was there.. and then i'm here... 



* "I Don't Remember", Endah-Resha





[i owe the lyric and the pic]

Wednesday, December 15, 2010

(nightmare)





mengingatkan diri sendiri, 

"jangan tidur malam dengan lampu menyala terang, bantal dan kepala tidak dalam posisi yang tepat, tanpa direncanakan, dan dengan baju yang sama yang dipakai kerja sedari pagi."


dua malam terlelap dengan tidak mengikuti peringatan itu, pagi jadi terlalu cepat datang dan jadinya "nightmare  before christmas". hehe. ;)

besok-besok, jangan lagi! jika kau tak ingin berada dalam labirin-labirin, dunia abu-abu dan kadang tak jelas apa warnanya--bahkan, seakan-akan tidak pernah mengenal warna--dalam cerita tak beralur, dengan penokohan yang absurd dan tidak jelas siapa tokoh utamanya. ;((


(semoga). 


[i owe the pic]


Tuesday, December 14, 2010

(not) suddenly?




kau tahu, aku orang yang (agak) peragu. ;) sejak dahulu.
dan, kau tahu, seringnya, aku juga selalu dihadapkan pada keputusan-keputusan yang harus dan wajib kupilih. ujian, mungkin, untuk sifat peraguku itu. dan, entah kenapa, aku sering terjebak di antara keduanya.

dan, sering kali, keputusan yang kuambil itu begitu ekstrem, bagai makan buah simalakama, kata pepatah. kau tentu tak ingin bapak atau ibumu mati karena makan atau tidak makan buah itu, kan? dan, kalau harus makan buah simalakama itu, aku sih akan heran kenapa harus makan buah itu, bentuknya saja aku tak tahu. hehe. tapi, begitulah buah simalakama. harus kau makan atau tak kau makan. dan seringnya, orang akan memilih kata "atau". dan itu ternyata tak masuk pilihan. :( ya, kadang aku dihadapkan dalam zona harus memilih ke kutub utara atau ke kutub selatan dalam sebuah medan magnet. dan, tak bisa kau berdiri di tengah-tengahnya.

dan, kau tahu, hasil dari pilihan-pilihan itu selalu memberi kejutan, memberi warna pada perjalanan. kadang, warnanya memang tak selalu aku suka. tapi, kadang, warna yang tidak kita suka disukai orang lain, bukan? :)

setiap pilihan, ada risikonya. tentu saja. dan, kali ini, menjelang akhir tahun ini, sifat peraguku diuji lagi. dan, sudah ada pilihan yang kuambil. sudah diputuskan, tapi belum aku jalani. beberapa bulan lagi. mungkin sebulan, dua atau tiga bulan lagi.  wow. menurutku, ini pilihan yang cukup besar dalam perjalanan hidupku. kau tahu, sebuah pilihan yang tampaknya "ringan" karena merupakan sebuah kesempatan. tapi, sebenarnya, hmm, banyak hal yang bersahut-sahutan di benakku. aku belum tahu warna apa yang ada di sana. dan, apa cerita yang ada di sana. (semoga menyenangkan :), tentu saja, itu harapan dalam setiap langkah kita, bukan?)

tapi, kadang tentu kita penasaran, apa kejutan di depan sana?
entahlah, ya aku tahu, semua yang terjadi tak pernah sia-sia.
begitulah yang aku percaya. :)



p.s:
Tuhan, ternyata, ada yang bersembunyi di sudut hatiku itu. duduk diam di sana. apakah itu sebuah ketakutan? ah, aku tidak begitu jelas mengenalinya. tapi, kau tahu, dia ada di sana.

dear my Lord, aku tak sendiri, bukan?
"kita begitu dekat," bukan? seperti yang dikatakan penyair Abdul Hadi WM itu, "sebagai api dengan panas/aku panas dalam apimu".


Tuhan, aku tak (pernah) ingin jauh. dari-Mu. :)


-- 15 desember 2010, suatu sore yang sudah kemalaman. ^^


[i owe the pic]

Tuesday, December 07, 2010

TUHFAT AL-NAFIS SEBAGAI SASTRA SEJARAH


Ngulik-ngulik file di komputer (yang isinya, uh, berantakan), saya menemukan tugas kuliah Sastra Sejarah. Wah, ternyata saya pernah membaca Tuhfat Al-Nafis. Dan, ternyata waktu itu, kami masih belum "gape" EYD. Hehe. Tugas ini dibikin bareng sahabat saya, Andriw. :)


TUHFAT AL-NAFIS SEBAGAI SASTRA SEJARAH [1]


Pendahuluan
            Salah satu jenis Kesusastraan Melayu Klasik adalah karya-karya yang bercorak sejarah. Sastra Sejarah ditulis dalam bentuk sastra dan diperkaya dengan fakta-fakta sejarah, misalnya nama-nama pelaku, latar tempat, dan latar masa suatu peristiwa. Hasil-hasil karya yang bersifat demikian itulah yang disebut dengan Sastra Sejarah.           
Hasil penulisan Sastra Sejarah terdiri dari dua bentuk, yaitu puisi dan prosa. Puisi digunakan untuk menceritakan peristiwa yang sifatnya sesaat, tidak berhubungan dengan urusan istana atau negara. Prosa digunakan oleh pengarang untuk menceritakan keadaan negara. Contoh Sastra Sejarah dalam bentuk puisi di antaranya adalah Syair Raja Haji, Syair Singapura Terbakar, dan Syair Perang Siak. Lima teks sastra sejarah berbentuk prosa yang banyak mendapat perhatian para peneliti, yaitu Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, Hikayat Merong Mahawangsa, Misa Melayu, dan Tuhfat Al-Nafis. Selanjutnya, kami akan menjelaskan lebih lanjut mengenai Sastra Sejarah dan Tuhfat Al-Nafis dalam makalah ini.





Sastra Sejarah
Ciri-ciri Sastra Sejarah
1.      Biasanya menceritakan peristiwa yang benar-benar terjadi di istana.
2.      Menceritakan riwayat kerajaan selama beberapa keturunan.
3.      Gagasan penulisannya muncul dari kalangan istana.
4.      Peminatnya hanya dari kalangan istana saja.
5.      Terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang bersifat mitos atau dongeng dan bagian yang bersifat historis.

Tujuan dan Fungsi Penulisan Sastra Sejarah
1.      Berusaha meninggikan kedudukan raja-raja dengan menghiasi watak-watak mereka   dengan kegaiban.
2.      Menyampaikan hal-hal mengenai moral dan tata susila.
3.      Menerangkan sifat ketuhanan dari raja dan fungsinya. Selain itu, sastra sejarah juga menjelaskan silsilah keturunan nenek moyang raja yang memerintah.


Friday, December 03, 2010

rintik pada pagi pertama, desember



hari ini, perasaan lagi nggak enak banget. serasa tidak bisa bersahabat dengan gravitasi bumi. nggak tau kenapa... :((

mungkin karena kemarin bolak-balik lintas provinsi. malamnya masuk angin dan ketiduran nggak pake selimut plus lampu menyala sampai pagi. saat terbangun, di luar kamar, suara hujan terdengar jatuh bersirebut, tidak satu-satu. bagai kotak musik yang hendak meninabobokan. sejenak lagi, mata meminta waktunya untuk memejam. lalu, saat membuka pelan, aku mendapati hari sudah masuk tiga desember. wow. 

*ah, ya, seorang sahabat sedang merayakan hari lahir pada hari ini dan, menjelang petang, sebuah berita gembira juga disampaikan seorang sahabat melalui pesan singkat*

tapi, entah kenapa, perasaan nggak enak itu tetap ada di sana. seakan-akan meringkuk di sudut, enggan menyampaikan apa maksudnya. tak bisa silam dengan sepotong brownies kukus ataupun sepotong cokelat almond. ia tetap ada di sana. ikut berdetak seiring detak usia.


fiuh! 


# i owe the pic #

Thursday, November 25, 2010

jutaan tahun cahaya



kau tahu, 
ternyata, tak butuh jutaan tahun cahaya untuk membacamu. 
hanya seperti menunggu ujung rel kereta, dalam sebuah perjalanan panjang.
seperti menjejakkan kaki di landasannya yang terlihat tanpa akhir. 
(mereka bilang, di suatu tempat, landasan itu ada akhirnya. dan, aku percaya.)

membacamu, 
hanya seperti itu saja. tak sampai jutaan tahun cahaya.

 

** sstt, lagi pula, aku tak pernah bisa mengalkulasikan jutaan waktu cahaya itu. kau tahu, kan? ;)


# i owe the lovely pic #

Wednesday, November 24, 2010

tertib lalu lintas, mari :)

suatu hari, saya menemukan rambu ini di depan pintu masuk tol. oke, saya akan mematuhinya, dan nggak akan berlaku bodoh lagi. :) *waktu itu, nggak tahu kalau ada bacaan kayak gini. haha* :p


b.e.r.d.o.a.

mungkin, berdoa itu seperti memasak air di dalam ketel. masukkan air ke dalam ketel, nyalakan api, lalu tinggal menunggu sampai ketel itu berbunyi. ;)

 

 

* namun, seperti yang ditanyakan sahabat saya, bagaimana dengan kebiasaan saya yang tidak pernah memasak air dengan ketel, tetapi menggunakan dispenser?--mungkin, kebiasaan kebanyakan orang pada zaman sekarang. :) 

 

ah, saya tahu, itulah yang membuat kita berpikir "air" bisa langsung matang seketika. instan. tapi, kali ini, saya menyadari bahwa saya sedang memasak air di dalam ketel. dan, perlu menunggu ketel berbunyi. dan, kata seorang teman, jangan lupa untuk mengecek karena mana tahu, ketel rusak sehingga tak berbunyi. jadi, perlu alarm diri, kata teman saya itu. *soalnya, kalau masak airnya di dapur, terus nunggu bunyinya di kafe sebelah, bisa-bisa airnya gosong. hehe*

 

oke, mari memasak air di dalam ketel. lalu, tunggulah ia berbunyi. siap-siap. jangan lupa kalau kita sedang masak air. dan jangan jauh-jauh menunggunya. ^^

 

p.s. saat ini, saya sedang memasak air di dalam ketel. nanti, saya kasih tahu deh kalau ketelnya sudah berbunyi. ;)



>> pinjem gambarnya.

Friday, November 12, 2010

Hari Ketiga (Heh?)

alhamdulillah. :)








p.s.
dear God...
maaf kalau aku ngeyel kemarin. :p
terima kasih Kau tetap sayang kepadaku. *_^
besok, aku boleh kirim doa lagi ya? hehe.

Wednesday, November 10, 2010

menjelma rahasia





aku bertemu seekor kupu-kupu.

ah, betapa cantik ia. tak habis-habis aku memujinya.

dan, entah bagaimana, kami jadi bicara panjang.

"kau tahu tentang sebuah fase?" tanya kupu-kupu itu, lalu terbang memutar-mutar di atas kelopak bunga.

ah, bahagia sekali hidupnya, pikirku. mataku tak lepas dari kepak sayapnya yang mencampurkan berbagai warna yang disebut indah.

aku baru menyadari bahwa aku tak menjawab pertanyaannya itu ketika ia bersuara lagi, "fase seperti sebuah undakan batu menuju puncak gunung. yang perlu kau pijak hati-hati. dan harus kau jajaki--jika ingin kau sampai di puncak gunung itu."

ah, benarkah ada senyum tipis di bibirku, senyum tak percaya. "bagaimana kau tahu rasanya memijak sebuah batu, sementara kau punya sayap indah itu." aku bergunjing dengan hatiku sendiri.

"langkahmu pun harus pasti di sana. jika tidak, kau akan tergelincir, sayang," ucapnya lagi. masih melayang-layang di udara hangat itu--yang seakan-akan telah lama menyerap kenangan-kenangan.

"atau kau mau berdiri saja di salah satu undakan itu?" ia bertanya.

ah, kenapa pula ia bertanya kepadaku, bukankah ia yang membuka wacana?

"jika kau berdiri saja di sana. itu namanya kau hilang dalam fase, bukan kehilangan fase. ingat, kau hilang dalam fase." ia seakan-akan mendelik kepadaku. sial, matanya sangat indah.

"undakan batu itu akan tetap ada di sana. seperti halnya fase. ia akan selalu ada di tempatnya. ia tak pernah hilang. jadi, jika kau berdiri saja di sana. kau akan hilang di sana. melebur menjadi fase itu sendiri."

"uh, aku sedang tak ingin membicarakan apa-apa," ucapku. ah, maaf, terdengar kesal, mungkin.
aku tak lagi memperhatikan ia terbang. aku juga tak memikirkan undakan batu yang, tentu saja, tak perlu ia pijak dengan hati-hati.

"hup!" kau cuma butuh itu. sebuah lompatan--yang tentu saja, bukan asal-asalan, ya."

duh, kau terlalu banyak persyaratan, kupu-kupu.

"kau mudah saja bicara tentang semua ini. tak pernah kau tahu bagaimana seseorang begitu berat menjejakkan, hanya, satu langkah ke pijakan batu selanjutnya. kau tahu kenapa, karena jika menengok ke belakang, fase-fase juga yang ada di sana." aku melemparkan sebuah kerikil ke udara hangat itu. ia seperti melayang pelan. ah, sepertinya, udara ini memang terlalu banyak mengedapkan kenangan, hingga ia tidak membiarkan semua lewat dengan cepat.

"jangan anggap semua hal itu fase. berat sendiri nanti hidupmu," katanya. "lain-lainnya itu, hmm, kita sebut saja benang-benang fase. yang menjalin hingga akhirnya kita sampai pada sebuah fase." ia hinggap di lenganku.
benar-benar seekor kupu-kupu yang cantik.

"ah, pembicaraan kita semakin tidak jelas," sahutku. "matahari sudah terlalu tinggi. aku harus pulang. dia menungguku." aku tersenyum. "kau terlalu cantik, kupu-kupu," aku menatapnya. "kau membiarkan aku membencimu karena kesempurnaanmu. kau selalu bahagia, terbang ke sana kemari sesukamu.

kebahagiaanmu yang kau kumpulkan dalam sayapmu itu. ah. dan, kau tak tahu fase apa yang dihadapi manusia itu." aku menatapnya, ah, maaf, menghakiminya.

"aku berkawan dengan fase yang ada. aku tak melewatinya. aku dan fase itu melewatinya. kami bersama. mungkin, bahagia juga tak ingin ketinggalan dan ingin bersama. ah, mungkin, ia iri melihat aku dan fase begitu riangnya," katanya, tersenyum lagi.

"kau?" lanjutnya, "sudah sampai undakan batu keberapa? sudah lelah?" ia benar-benar bertanya, bukan mengejekku, aku tahu.

"ah, entahlah," kataku. "aku belum mengenali fase. aku masih asing dengannya, dan kadang, aku terkilir, entah di fase keberapa." aku kembali memperhatikan udara. mulai mendingin. benarkah? apa ia melepaskan ikatan-ikatan kenangan jika matahari sudah tak lagi tepat di atas kepala?

"kalau begitu, pulanglah dulu," kata si kupu-kupu. "jangan berburuk sangka pada fase. mungkin, bukan dia yang menyebabkanmu terkilir,"  katanya pelan, seakan-akan merahasia pada udara.

kupu-kupu itu mengepak, lalu menguap bersama udara.
menjelma hangat.
menjelma rahasia.


* i owe the pic!

Tuesday, November 09, 2010

[Minggu Kedua November]



hari ini, saya jalan ke kantor bukan lewat jalan biasa. lewat jalan yang lebih jauh karena ada perlu di suatu tempat. bapak-bapak di pom bensin sudah memberi tahu saya arahnya. "abis jembatan layang, belok kiri. terus lampu merah kedua belok kiri, ke arah ragunan. nanti belok kanan aja. ada putaran balik. pasti nggak nyasar deh," kata dia. hmm, oke, kayaknya saya pernah lewat sana. :D

sampailah saya di jembatan layang tb simatupang (jembatan layang yang dimaksud). sebenarnya, saya sudah sering lewat tempat ini, tapi dari arah yang berlawanan. jadi, seperti biasa, saya tidak bisa membaca peta dengan baik--secara terbalik pula.

setelah belok kiri di jembatan itu, saya terus jalan saja dengan chizumi. agak-agak merasa terlalu jauh. tapi, saya yakin di ujung jalan sana. lalu, saat yakin sampai di lampu merah yang dimaksud, belok kirilah saya. teruuuus. lalu, sampailah saya di ragunan. udah di pintu masuk ragunan. :( saya berhenti di dekat kios rokok. duh, tadi maksudnya putaran balik itu gimana. uh. :(

saya menelepon teman kantor saya, tapi ternyata sinyal hape lagi nggak baik. dan, langsung saja saya ingat fasilitas gps yang ada di hape saya. baru-baru ini, saya pernah coba-coba di kosan (selama ini dianggurin aja karena ngerasa nggak berdaya fungsi bagi saya). lumayan juga, jadi tahu jarak ke suatu tempat, dan bisa ditelusuri jalannya. (tapi, saya masih gaptek, euy :p)

lalu, di dekat kios rokok itu, saya menuliskan jalan kantor saya. dan setelah di-searching sama tuh gps, lokasinya sekitar 3,8 km. hmm, cukup deket. tapi arahnya ke mana.... saya bingung baca peta di gps itu. mana belokan yang menuju ke kantor saya yang cuma tinggal 3,8 km itu lagi? sambil bingung dan liat waktu yang sudah semakin cepat berlalu, saya masih mencoba mereka-reka--bukan membaca. :p duh, saya masih belum melihat arah yang harus saya tempuh itu. :(

dan, akhirnya, saya putus asa dan nutup aplikasi yang menurut saya keren itu--hehe, norak. :D
lalu, saya mendekat ke kios rokok, mendorong chizumi yang mesinny sudah saya matikan itu. 
"pak, maaf nanya, kalau ke arah ciganjur, lewat mana, ya?" tanya saya dengan tampang, yang pastinya, bingung. ( :'_': )

"oh, itu mbak, jalan depan ini belok aja," katanya. 
saya refleks nengok kanan, ke seberang jalan. ada sebuah jalan yang tidak terlalu besar. "oh, itu, pak," tunjuk saya, meyakinkan diri sendiri.

"iya, terus aja abis itu, ikutin m20 aja," katanya, menyebut angkot warna biru telor asin yang lewat depan gang kantor saya.

"oh..... makasih, ya, pak," ucap saya sambil menyalakan chizumi dan bersiap belok kanan, menyeberang. 

saya mengikuti jalan itu, dan taaraaa, nggak lama, ada m20 yang sudah saya akrabi itu. dan, akhirnya, saya bisa sampai kantor dengan selamat. 

hmmm, maaf ya gps, ternyata, saya lebih memahami bapak-bapak penjaga kios rokok itu. lebih gampang memahaminya. :p

*eh, maksudnya, maap saya belum ahli membaca-Mu. tapi, saya akan belajar, kok. lagi dan lagi. ;)* 


Ngetik sambil ditemenin Noel, dkk., di Winamp. I love them. ^_^
>>> Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, God only knows the way it's gonna be <<<


pinjam gambarnya, ya ^^


Monday, November 08, 2010

Anak Tudung Warna-warni







Tetangga kubikel saya menunjukkan sebuah toko online yang menjual anak tudung dengan corak dan motif. Wow, ternyata bagus-bagus. Tapi, sayangnya model-model yang lucu-lucu itu udah pada abis. :((

Namun, si pemilik toko online bilang akan ada produk baru segera. Tapi, harganya memang cukup mahal dibandingkan dengan anak tudung polos yang selama ini saya pakai. Yah, mungkin sebanding dengan bahan yang mereka bilang "impor, lycra korea, high quality pula". Hehe. Mereka menyebut anak tudung jenis ini dengan "inner multi".

Saat ada foto baru yang di-upload, saya langsung "booked", dua nggak nanggung-nanggung. Padahal, harga satu buah anak tudung itu udah seharga tiga setengah kerudung paris. :p "blum ongkir ya, sist." ^^ Huhu. Tapi, cakep-cakep.... :D

Lalu, saat saya iseng mampir ke toko pernak-pernik, saya kepikiran buat liat-liat bandana aja. Fungsinya mirip-miriplah. Dan, ternyata, ada produk yang mirip dengan anak tudung ini. Kalau di gambarnya plastiknya, si, kayaknya buat dipake anak-anak skater gitulah. Buat nutupin kepala saat lagi kongkow-kongkow. Wah... saya jadi ga bisa lepasin itu tutupan kepala.



Si Mbak yang jaga deketin saya. Mungkin, dia bingung saya mau pake di mana itu "tutupan kepala". Mana saya pakai acara coba-cobain di kepala (di luar kerudung) pula. Mungkin, si Mbak-nya makin bingung. :p Setelah pilah-pilih warna, akhirnya saya (kalap) beli tiga--tadinya cuma mau beli satu. ;( Soalnya, harganya 1/3 harga anak tudung multi yang udah saya komenin dengan "booked". :D

Akhirnya, saya batalin aja satu inner multi yang udah saya take-in  itu. "Sist, maaf, aku batalin satu ya. Jadi, aku pesan satu yg cokelat aja. Maaf bgt." Untungnya si penjual dengan santai menjawab, "Okey, sist, gpp. ;)" *haha, kadang, saya dan teman-teman becanda ala toko online dengan menggunakan kata "sist". Lucu juga istilah yang berkembang di bisnis toko online itu. :)*

*** Oh, ya, waktu kali pertama transaksi di toko online, saya "ogah" pake kata "sist" karena merasa, hmmm, aneh. Hihi. :p Jadilah saya nanya dengan,
Saya: "Yang ini ada ga, Mbak?"
Toko online X: "Kosong, sist."
Saya: "Yang ini berapa, Mbak?"--masih bertahan dengan kata, "Mbak".
Toko online X: "PM ya, sist".
Saya: "Oke, Mbak."
Toko Online X: "Oke, sist, totalnya bla bla. Transfer via bla bla ya, sist."
Saya: "Oke, nanti aku kbari klo udah transfer ya, Mbak."
Toko online: "Oke, sist. Barangny segera dikirim klo udah transfer sist."
Saya: "Oke, thx. Ditunggu ya, SIST." (akhirnya, saya menyerah, dan menggunakan kata "SIST" itu. :( Apalagi, di antara komen-komen foto, yang pake mbak saya doang. Haha. Ternyata, arus di toko online terlalu kuat untuk saya lawan, Sist. ;) ****





So, saya jadi mulai berpikir buat mengkreasikan anak tudung. Nggak cuma berpatokan pada anak tudung yang dijual di pasaran saja. Anak tudung bisa menggunakan kain-kain lain yang "semacam itu". Yang penting, nyaman di kepala. :)

Friday, October 29, 2010

Dia mengabulkan (lagi) doaku :)




hari itu, aku lupa kapan tepatnya. belum lama. mungkin, dua minggu saat puasa berjalan atau dua minggu sebelum lebaran. yang pasti, pada kisaran waktu itu. aku menelepon ibu. membawakan kabar gembira tentang pernikahan sahabat baikku--yang juga sudah dianggap anak sendiri oleh ibu. :)

saat akan mengakhiri percakapan, ibu mengingatkan aku tentang sesuatu. "hati-hati, nak. jaga dirimu. ibu bermimpi tidak baik tentangmu," pesannya. "hanya mimpi, nak. tapi, ibu khawatir kau kenapa-kenapa," lanjut perempuan yang semakin tua itu.

"tidak perlu khawatir, ibu, semua akan baik-baik saja," sahutku ringan, sambil berpikir ibu hanya terlalu mengkhawatirkan aku yang terlalu sibuk menjadi penjelajah deadline.

dan, tadi pagi, saat dalam perjalanan, aku teringat pesan ibu itu. ah, aku benar-benar lupa.
dan, aku tidak hati-hati. maaf, ibu. aku akan berusaha tak mengabaikan ucapanmu.
namun, aku tahu, Dia menyayangku, hingga memberi sedikit goresan ini. hanya sedikit luka, yang aku tahu akan silam segera. dan, sebagai pengingat bagiku, agar aku tidak alpa. dan bahwa Dia menyayangku dan selalu memberikan jalan terbaik-Nya

dan, sebagai pengingat bahwa Dia tak pernah lupa dengan doa yang pernah kuucap--yang bahkan, ternyata aku yang lupa.
ya, inilah yang kuucapkan diam-diam dalam sujud-sujudku.
dan, kini, dikabulkan-Nya, bu.
ah, betapa Maha Penyayang Dia.
dan, betapa maha pelupa aku.

ibu, terima kasih juga atas doa-doamu. :)


i owe the pic

Thursday, October 28, 2010

Rain Dryer di Karnaval Hujan





Di kota itu, aku tak bisa membaca arah.

Tapi, kau tahu, di sana, mereka seperti punya hair dryer untuk hujan—hmm, kalau begitu, seharusnya, disebut rain dryer ya? ;)

Baru saja hujan seperti sedang berkarnaval ke bumi. Dan, kau berdiri di persimpangan dengan sebuah payung yang tak sempurna melindungimu. Hujan dengan lincah mengajakmu berpartisipasi dalam karnavalnya meski kau sedang terburu-buru—ataupun sedang menggenggam resah, misalnya.

Belum sadar bahwa langkahmu sudah menjejak dengan pasti atau belum, tiba-tiba saja, ziiiing, langit cerah seketika. Rain dryer bekerja dengan sangat baiknya. Dan, kau tiba-tiba kau merasa ganjil dengan payung di tanganmu, dan percikan lumpur di kaki dan ujung celanamu.

Hei, matahari sudah kembali! Membubarkan karnaval hujan, tanpa sisa. Kau pun akan sedikit lupa dengan resah yang tadinya begitu erat di tanganmu.

Ah, kota itu, cukup menarik, bukan?

Tapi, di kota itu, aku tak bisa membaca arah. Atau, belum? Perlukah kembali?

Tuesday, October 26, 2010

n.b.




Pas liat foto ini di HP, saya jadi inget, hari minggu kemarin itu, saya dan Nulur juga ke tempat pernak-pernik, nyari bangle unik kayak punya gita--bangle-nya cakep dan harganya cuma 20 ribu. Tapi, sayangnya, udah nggak ada. :(

Kami keasyikan liat-liat. Pas sampe di tempat topi, wah, saya jadi pengen (nyobain), apalagi cukup matching ama kerudung sayah. :D Terus, nyobain deh. Pas (iseng) minta Nulur motoin, hihi, mbak-mbaknya bilang, "Maaf, Mbak, nggak boleh foto."

"Oh, iya," gumam kami, pura-pura bego. Terus, sambil pura-pura ngobrol *biar keliatan cool* melipir-lipir deh, langsung keluar. *Hahaha, tengsin euy.* ;))

Sunday, October 24, 2010

Buat Naik Haji :D



Hari ini, setelah pulang dari nikahan Rahmi--teman satu angkatan kami--di TMII, saya dan Nulur jalan-jalan. Tapi, karena hujan dan juga males kejebak macet, jadilah kami jalan-jalan ke Margo City--hehe, selemparan batu dari kosan saya. :)

Pas masuk, kami melihat deretan stand peserta bazar baju-baju lucu. "Eh, Lur, liat gelang dulu, ya," ucap saya sambil menarik tangan Nulur ke stand kalung dan gelang-gelang cakep. ^^ Gelang-gelangnya lucu banget. Dan, jadi kepikiran beli banyak di Yogya. Soalnya, kata Gita yang abis honey moon (uhuy ;p) di Yogya, gelang kayak gitu cuma delapan ribu.

Sementara itu, di sini dijual 25-an yang polos dan 35-an yang ada ukirannya. :( Akhirnya, saya beli gelang kecil-kecil dua biji--sambil mikir bahwa di kosan, masih banyak gelang dan kalung saya yang belum sempat dipakai (stop beli gelang dan kalung, dan cincin, dan tas) ;((.

Harga dua gelang kayu kecil itu cukup murah, 15 ribu dua. :D Nulur tadinya mau ikutan beli, tapi nggak jadi karena, ngg, tadi kenapa yang Nulur ga jadi? Lupaaa. Sebenernya, saya beli juga karena udah kelamaan diri di situ dan pake nanya semua harga yang ada di sana pula. Hehe. Tapi, harga-harganya cukup murah di stand itu. Dan, desain kalung dan gelangnya unik-unik.


kau percaya intuisi?



kau percaya intuisi?
kita, para perempuan memilikinya. dan, terkadang, para laki-laki bilang itu rasa curiga. bahkan, kadang mereka sebut sebagai rasa cemburu.
padahal, intuisi bukan itu. mereka salah. kamus besar bahasa indonesia pun sudah dengan jelas membedakan intuisi dengan perasaan curiga dan rasa cemburu.

intuisi

n daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati;

curiga
n (kl) 1 keris; 2 berhati-hati atau berwaswas (karena khawatir, menaruh syak, dsb); 3 (merasa) kurang percaya atau sangsi terhadap kebenaran atau kejujuran seseorang (takut dikhianati dsb);

cemburu
adj 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik; 2 kurang percaya; curiga (karena iri hati);

mungkin, jika mereka-mereka itu menukarkan intuisi dan curiga, itu masih bisa dimaklumi. namun, tampaknya para laki-laki itu perlu mempelajari perbedaannya dengan lebih saksama. kalau mereka tidak telalu memahaminya, mungkin bisa dicarikan kata padanannya yang lebih umum. firasat, insting, kata hati, naluri bisa mewakili kata “intuisi” itu—meski tetap ada bedanya.

karena itu, jangan berkecil hati, dan marah sajalah meski mereka akan balas lebih marah lagi untuk menutupi kekeliruan mereka.

yang kita miliki itu adalah intuisi. yang kadang muncul dalam perasaan-perasaan tak enak akan sesuatu. “deg!” kata intuisi dalam hati kita. lalu, dengan refleks, otak menalikan suatu hal dengan hal lain. yang kadang membuatmu seperti seekor kucing yang begitu ingin tahu, yang akhirnya akan membawamu pada sebuah jurang.

hati-hatilah, ia akan bisa menjatuhkanmu ke dalam jurang itu. dan, sebelum memercayai intuisi yang kau miliki, pahami benar hal ini. curiosity killed the cat.
dan, bagi kita—para perempuan—intuisilah yang akan “membunuh” kita. jadi, persiapkan diri dengan sungguh-sungguh sebelum mempekerjakan intuisi itu di dalam dirimu.

intuisi itu sering kali bertalian dengan perasaan yang dalam. perasaan sayang atau cinta. intuisi bekerja dengan sangat baik di dalamnya. hanya dengan membaca satu dua kata, intuisi bisa langsung bekerja. dan, percayalah, itu adalah sesuatu yang berasal dari sudut terjauh di dalam sana. gerakan hati, atau bisikan hati, yang ah, entah bagaimana bisa dengan sangat menakjubkan diciptakan-Nya. namun, ingatlah selalu, intuisi bisa membunuhmu, jangan terlalu kerap atau terlalu blak-blakan menggunakannya. gunakan dengan cantik—-sulit, memang. tapi, di situlah seninya intuisi ini.

pada suatu cerita, intuisi telah mempersiapkan seseorang untuk menghadapi sebuah kejadian dalam kisah panjang (cinta)nya. tapi, intuisi itu bekerja terlalu cepat hingga orang itu belum siap, bahkan baru mulai mereka-reka. dan, voila! ia sampai pada akhir cerita.

oh, ya, aku jadi ingin bertanya, menurutmu, kalau kita merasa lelah dengan perasaan cinta yang kita miliki terhadap seseorang, apakah kita benar-benar mencintai orang itu?

menurutku, cinta seharusnya tak pernah merasa lelah. perlu jeda ataupun sesuatu yang disebut sebagai waktu, mungkin iya. namun, kau tahu, jika kau merasa lelah dengan perasaanmu, pertanyakan lagi rasa itu. apalagi, jika dengan "sekedipan mata" kau bisa, taraaa, menumpuk sebuah perasaan baru di atasnya. hmm, entahlah, intuisiku bilang, dalam kasus ini, ada hal-hal yang tak kau ungkapkan *p.s. jangan padankan ini dengan curiga--kalaupun tampaknya berbeda sekulit ari dengan kata itu ;)*.

aku suka memperhatikan cekungan sebuah batu yang kutemui. dan, tanpa intuisi pun, kau pasti tahu batu itu pastilah ditetesi air hujan terus-menerus. cekungan di batu itu indah. kadang, tak habis-habisnya aku mengangguminya. aku tahu, hujan yang menetesinya pasti lelah. namun, jika saja sang hujan itu tahu tentang cekungan indah itu, tentu ia tak akan pernah menyesal untuk "sedikit" merasa lelah.

ah, kadang, tentu kita tak bisa selalu berharap pada hujan, bukan? dan, kadang, kita juga tak bisa selalu percaya pada intuisi. namun, kita—-para perempuan—-tak perlu heran jika intuisi itu sering kali bekerja diam-diam di alam bawah sadar--subconscious mind--kita. meskipun kadang, dalam pikiran sadar--conscious mind--kita ingin menyangkalnya.

i owe the pic!

Saturday, October 23, 2010

"Close your eyes and make a wish"




Close your eyes and roll a dice
Under the board there's a compromise
If after all we only lived twice
Which lies the run road to paradise

Don't say a word, here comes the break of the day
And wide clouds of sand raised by the wind of the end of May

Close your eyes and make a bet
Face to the glare of the sunset
This is about as far as we get
You haven't seen me disguised yet

Don't say a word, here comes the break of the day
And wide clouds of sand raised by the wind of the end of May

Close your eyes and make a wish
Under the stone there's a stonefish
Hold your breath then roll the dice
It might lead the run road to paradise

Don't say a word, here comes the break of the day
And wide clouds of sand raised by the wind of the end...

Don't say a word, here comes the break of the day
And wide clouds of sand raised by the wind of the end of May

--keren ann, "end of may"


(dan, mungkin, Dia telah menjelmakan keinginanmu. yang engkau ucapkan entah pada doa keberapa. dan, kau-aku akan tahu, langkah akan baik-baik saja. bukan tiba-tiba. setiap cerita telah dituliskan akhirnya. sudah sejak lama. dan, setiap bintang telah ditentukan langitnya. mari berjalan saja. nikmati pendarnya.)


I owe the pic!

"Jangan lupa bawakan buah tangan," pesan kami. :)

Dulu, saya dan gita penggila buah tangan alias oleh-oleh.
Setiap ada teman yang pamitan, pasti kami teror agar membawa oleh-oleh. Haha. *Nyesel pastinya mereka ngasih tahu :D* Dan, senangnya sih para teman itu tidak keberatan untuk membawakan kami oleh-oleh. Bahkan, kadang, dengan berbaik hati datang ke kosan untuk membawakan kami oleh-oleh tanpa diminta. Hehe. *kayaknya sih karena pada males ditagihin* ;p

Saat melihat file-file foto lama dari komputer, saya menemukan beberapa benda yang sempat dioleh-olehkan teman kepada kami. ^_^



(Oleh-oleh dari Apiz yang tega-teganya menyiksa hewan-hewan laut di Pantai Anyer)




(Kendi, oleh-oleh Ucup dari Magetan. Oleh-oleh ini "terpaksa" dibawakan Ucup karena kami memuji-muji air dingin alami yang disungguhkan di rumahnya, waktu kami "maksa" nginep di rumahnya setelah turun dari salah satu gunung dekat sana)




(Oleh-oleh dari Liya, teman kerja waktu di Erlangga. "Gw pikir ini cocok banget buat lo, Wied," kata Liya waktu bagi oleh-oleh yang dia sesuaiin sama kesukaan masing-masing orang. Dan, benar saja, saya begitu antusias dan seneng banget dapat tas itu. :D)




(Oleh-oleh dari seorang teman. Buah delima, yang ternyata enak karena saya pencinta makanan atau minuman yang "asem-asem dikit". Gita nggak terlalu suka, seperti halnya dia nggak terlalu suka buah naga yang menurut saya enak banget.)




(Dan, dari "merah" inilah warna "merah delima" itu berasal ^_^)



(Tapi, kayaknya lebih enak dijus biar makannya nggak bingung. ^_^)




(Lilin gede dari si AAk Garda. Konon, di kampung halamannya di Pandeglang ada banyak kelenteng, jadi dia punya banyak lilin yang (awalnya) segede gaban ini).




(Bisa buat gaya-gayaan klo lagi mati lampu. ;D)




(Stiker yang didapat dari beberapa acara--ini belum semuanya ditempel, soalnya kadang-kadang sayang. Jadi, disimpen, disimpen, sampe lupa naronya di mana. Haha. Kalau boneka jepang dari washi itu buatan Diana, teman kami lulusan Sastra Jepang ^^)


Masih banyak lagi buah tangan yang kami punya, tapi sayang tidak sempat didokumentasikan. Terima kasih, teman-teman tersayang. Jangan kapok buat berpamitan kalau kalian bepergian. ;)

Apa Golongan Darahmu?



Jarum suntik merupakan salah satu benda yang saya takuti. Dari dulu, saya sangat anti-disuntik. Bahkan, waktu SD, saat lagi marak imunisasi Hepatitis B, saya tidak melengkapi proses suntik-menyuntiknya. Saya hanya ikut satu kali, padahal harusnya dua kali. Sesi kedua yang diadakan minggu depannya tidak saya ikuti karena suntikan itu membuat lengan saya sakit sampai berhari-hari. Dan, sejak itu, saya tidak pernah lagi mau disuntik....


Lalu, karena itu pulalah saya tidak pernah tahu jenis golongan darah saya. Dan, dulu, saya pernah dengar, kalau mengetes golongan darah, alat yang digunakan adalah stapler. Jadi, ujung jari kita distaples... wow, gambaran yang sangat mengerikan dan tentu saja bikin saya takut buat tes golongan darah.

Sampai empat tahun setelah lulus kuliah pun saya tidak pernah tahu golongan darah saya. Dan, terkadang, terpikir hal-hal yang mengerikan. Duh, kalau saya kenapa-kenapa, bakal susah nyari donor darah karena golongan darah saya belum diketahui. Dan, mesti tes dulu.... Hal itu kadang mengganggu saya. Namun, tentu saja jadi cepat dilupakan dengan kesibukan sehari-hari.

Saya hanya bisa mereka-reka golongan darah saya. Golongan darah ibu saya B. Golongan darah (almarhum) ayah saya O. Jadi, kemungkinan saya B atau O, kan? Jadi, sebenarnya, saya merasa sudah tahu golongan darah yang saya miliki. Tapi, kadang, tetap iri dengan orang-orang yang sudah tahu pasti apa golongan darah yang mereka miliki. Hehe.

Dan, beberapa hari lalu, saya perlu tes darah--wow, saya cuma bisa merem waktu darah saya itu diambil dua tabung kecil. sambil berdoa-doa biar nggak kepikiran. :(
Setelah mbak petugasnya selesai, timbul di pikiran saya. "Mbak, bisa sekalian tes golongan darahnya nggak?" tanya saya sambil masih merasakan tangan kanan saya kaku.
"Oh, bisa," kata si Mbak.
"Bisa pake darah yang itu aja, kan, Mbak?" tanya saya nggak mau rugi. ;D
"Iya, bisa," sahutnya, tapi ada tambahan biaya lagi.
"Oh, iya, nggak apa-apa," sahut saya senang--daripada rugi darah, mendingan rugi duit, kan? ;p

Besoknya, tes darah itu sudah diambil. Dan, akhirnya, setelah bertahun-tahun, saya mengetahui jenis golongan darah saya--tanpa harus menstaples ujung jari tersayang. Horee. ^^

gambar di sini!

Wednesday, October 20, 2010

[gadis kecil di atas bukit]




Kau tahu fragmen yang paling kusuka dari serial Candy-Candy--salah satu buku cerita favoritku itu?
Ketika Candy kecil bertemu sang Pangeran di atas bukit.
"Jangan menangis, gadis kecil. Kau tampak manis kalau tersenyum," ucap sang Pangeran yang membawakan senyum itu, sambil meraih tangan gadis kecil yang sedang tersedu.


Dan, aku tak pernah menyalahkan jika gadis kecil itu jatuh cinta kepada sang Pangeran.
Kau tahu, kenapa?
Ah, tak perlu kujelaskan, bukan?
Seharusnya, kau pun tahu.


[di antara rinai hujan sore]

Semoga, Bu


"Bagaimana?" tanya Ibu.
"Doakan saja, Bu," sahutku, dari jarak yang dilintasi selat itu.
"Ibu selalu doakan, Nak. Selalu," sahutnya, dan tentu saja tak terdengar ada dusta di dalam kata-kata itu.
"Iya, Bu, terima kasih....," ucapku, dan air mata menggantung sangat berat di kedua belah mataku yang memejam itu.

Ah, aku tahu, dan seharusnya tak memintanya lagi mendoakanku. Aku tahu ia akan selalu mendoakanku, setiap waktu. Bukankah aku juga menjelma dari doa-doanya?

Ibu, terima kasih. Dan, aku pun mendoakanmu dalam setiap sujud-sujudku. Semoga itu juga selalu. Semoga doa-doaku sampai, menjaga agar air matamu tak jatuh dan tak membeku dalam tidurmu, mengkhawatirkanku.
Semoga, Bu.




gambar dari sini!

Perasaan...

Pagi tadi, gita SMS. "Jalanan rusak dkt perumahan yang baru dibangun itu ditutup, wid."
Lalu, otak saya mencari alternatif jalan. Kalau saya pergi lewat UI (jalan saya biasa pulang kantor), saya khawatir tersasar. Kalau berbalik arah, entah kenapa jalanan itu terasa asing lagi. Waktu lewat sana sama Gita (pergi ke kantor, bukan pulang dari kantor), kami pun nyasar. Tapi, kalau lewat jalan lain yang belum pernah saya lewati, saya khawatir lebih nyasar lagi.


Hari masih hujan. Tapi, saya harus pergi karena hari semakin siang--meski matahari tak tampak semakin meninggi. Lalu, setelah mengenakan jas ujan lengkap, dan dengan mereka-reka jalanan lewat UI itu, saya yakin tidak akan tersasar.
Setengah perjalanan masih aman. Dengan mengandalkan perasaan, saya belok sana belok sini. Dan, masih jalan yang benar.

Zeeet, saya lurus setelah jalanan tanjakan. Perasaan saya bilang jalanan itu asing. Lalu, menengoklah saya ke belakang. Duh, salah. Harusnya, di jalanan "rumah tusuk sate" yang sudah lama ada tulisannya "dijual" itu, saya belok kanan karena kalau pulang kantor, saya belok kiri. Oke, cuma nyasar dikit. Hujan makin menderas.

Lurus, lurus, lurus. Jalanan asing lagi. Duh, tadi harusnya belok kiri saat motor yang barengan saya itu belok kiri. Muter arah lagi. Dan, alhamdulillah, saya keluar ke jalan raya.
Sip, saya tahu jalanan ini dan saya tak akan nyasar lagi di sini--dulu, waktu sama gita, kami nyasar di sini (harusnya belok kiri, tetapi kami lurus).

Lalu, jalanan masjid yang polisi tidurnya "nyebelin", saya sudah tahu belok ke mana. Aman.
Namun, malangnya, di jalanan kecil yang berliku-liku itulah saya nyasar ke mana-mana. Uh, ujan pun nggak mengizinkan saya buat ngambil HP dan menelepon Resita yang jago baca petanya. Saya terhipnosis oleh mobil pick up dan mengikutinya sampai jauh... dan, saya benar-benar asing dengan jalanan itu. Ujan juga bikin orang-orang nggak ada di jalanan.

Saya memutuskan berbalik arah, menuju titik pertama saya nyasar. Zeeng. Ada perasaan saya kenal gang sebelah kiri saya dan refleks saya berbelok di sana. Lalu, ada perasaan ragu-ragu lagi. Saya berhenti. Terdiam, hendak merogoh hape di kantong jaket di balik jas ujan. Ah, ribet...
Saat menengok, saya melihat gerombolan ibu-ibu lagi duduk di semacam posko gitu. *kok tadi saya nggak lihat mereka ya?*

Berbalik arahlah saya. "Bu, Jalan Haji Montong mana ya?" tanya saya dari balik helm fullface yang saya tarik sedikit bagian mulutnya.
"Oh, itu neng, lurus aja. Mentok, itu udah jalan Haji Montong."
Oh... Saya lega.
"Kalau ke kanan kan ke kompleks, nah Haji Montong ke kiri," jelas mereka lagi.
"Makasih, ya, Bu." Lalu, saya melajukan Shizumi, berputar, lalu lurus.

Dan, tak lama, sampailah pertigaan itu. Ada tukang ojek mangkal. Saat menengok ke kiri, saya sudah merasa akrab dengan jalan itu. Ada jembatannya. Lewat tanjakan dikit, saya sudah sampai di depan gerbang kantor.

Alhamdulillah. Nyampe juga--dan kuyup meski sudah pakai jas ujan. Saya khawatir bakal sampai nggak masuk kantor gara-gara nyasar. Saat melihat jam, ya ampun..., ternyata, saya menghabiskan waktu pergi ke kantor hampir satu jam (lewat jalan pulang yang biasanya hanya memakan waktu dua puluh menit). :(

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin