Monday, September 16, 2013

Cinta. (baca: cinta dengan titik): Sebuah Kisah dari Balik Kubikel





Saya kali pertama jatuh cinta dengan tulisan Bernard Batubara a.k.a @benzbara_ saat blogwalking ke bisikanbusuk.blogspot.com. Mungkin karena saya juga pencinta cerpen, ada sebuah “tring!” di benak saya ketika menelusuri beberapa tulisan di blog Bara tersebut. Oleh karena itulah, saya berpikir bahwa Bara harus menulis novel. (Oh ya, kali pertama berkenalan dengan Bara, kami berkomunikasi lewat e-mail Bara dengan format display name-nya masih, hmm, sedikit toGGLE caSE :p --> beRnaRd batubaRa).

Setelah perkenalan itu, lahirlah Kata Hati: Sebutlah Itu Cinta. Lewat buku pertama Bara itu, saya mulai memahami gaya penulisan Bara. Sebagai orang yang terbiasa menulis cerpen yang hanya perlu napas pendek untuk menyelesaikan “sebuah kisah” , saya sedikit paham kendala-kendala dalam menuliskan novel yang perlu napas panjang. Namun, kelebihan seorang penulis cerpen bisa jadi adalah mampu menulis dengan cepat karena biasanya ide satu “kisah utuh” sudah ada di benak mereka dan terkadang bisa menuliskannya dalam satu malam sampai “selesai”.

Nah, kemampuan menulis cepat itulah yang dimiliki Bara yang terkadang jauh beberapa langkah di depan jadwal deadline saya. Dalam menulis novel, ia seakan menjelma Bandung Bondowoso yang mampu menyelesaikan seribu candi untuk Roro Jonggrang. Diam-diam, saya berpikir bahwa dalam kehidupan sebelumnya, Bara adalah Bandung Bondowoso yang bisa menyewa jin untuk menyelesaikan naskah novel secepatnya.

Suatu hari yang ceria pada September, Bara mengirimkan sinopsis dengan outline lengkap untuk judul “Love is Right”. Bara sudah sedikit bercerita tentang tema yang akan dia angkat dalam novel terbaru ini, yaitu perselingkuhan. Menjadi orang ketiga dengan tokoh utama seorang perempuan.

Menuliskan tokoh dengan sudut pandang yang berkebalikan dengan gender kita pasti memiliki kendala tersendiri, misalnya perempuan menulis tokoh laki-laki dan sebaliknya. Jika tidak hati-hati, sering kali, “suara” tokoh laki-laki itu akan terasa terlalu perempuan. Begitu juga sebaliknya, seorang laki-laki terkadang akan menemukan kesulitan untuk memasukkan “suara” perempuan ke diri tokohnya. Ketika Bara menyodorkan Nessa sebagai tokoh utama dalam draf “Love is Right” ini, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Gaya bahasa dan gaya penceritaan Bara yang bisa dibilang sendu dan penuh perasaan tentu tidak terlalu sulit untuk masuk ke dalam “suara” perempuan.

Setelah membaca sinopsis dan outline tersebut, saya mengajukannya ke rapat redaksi untuk penentuan status terbit. Selang beberapa waktu dari pengiriman outline tersebut, pada sebuah hari pada Desember 2012, dengan kemampuan menulis cepatnya, Bara sudah mengirimkan naskah yang sudah selesai ditulis. Hadirlah kisah cinta Nessa yang berada pada posisi orang ketiga dalam kisah yang masih bertajuk “Love is Right” ini. Ada Demas yang membuat Nessa jatuh cinta, dan ada Endru yang dihadirkan oleh ayah Nessa agar putrinya tak lagi sepi.

Dalam naskah tersebut, ada hal-hal mendasar yang perlu direvisi. Pada akhir Desember itu, saya pun mengirimkan sekitar 15 catatan besar untuk hal-hal mendasar tersebut agar naskah lebih utuh.  Lalu, hanya dalam hitungan hari, pada Januari 2013, Bara sudah mengirimkan kembali hasil revisi naskah yang ia tulis. Tentu saja saya gundah gulana; senang, takjub, bingung, iri, semua bercampur aduk. Dalam hati, saya tak lagi meragukan bahwa Bara memang Bandung Bondowoso yang menyewa jin dan berpikir mungkin saya juga perlu menyewa jin untuk menyelesaikan semua editan secepatnya. :p

Naskah yang sudah saya terima itu telah menghadirkan Nessa sebagai seorang perempuan penyuka puisi, yang kehilangan cinta dan merasakan gurat luka yang dalam di hati karena ditinggalkan sang Ibu yang memilih cinta-yang-lain. Ia membenci “cinta-yang-lain” itu karena gores kesedihan masih jelas di gurat wajah sang Ayah, dan seakan masih menggores di dinding-dinding rumah mereka. Namun, bagaimana jika tanpa ia minta dan ia sadari dirinya malah menjelma cinta yang lain itu, dan tentu saja akan mengguratkan luka di hati seseorang yang lain. Nessa dilema, apakah harus memilih cinta ataukah mematahkan hatinya sendiri. Demikianlah kisah yang dituturkan Bara.

 Namun, sebelum lebih lanjut hanyut dalam kisah Nessa, saya tentu harus mengecek hal-hal yang perlu diedit dan direvisi dalam naskah tersebut. Dengan berat hati karena jumlahnya memang “sedikit” banyak, pada April 2013, saya mengirimkan catatan untuk cinta Nessa kepada Bara. Memang ada sekitar 200-an catatan agar kisah Nessa-Demas-Ivon-Endru itu lebih maksimal lagi. Dan, karena saya sudah yakin Bara adalah Bandung Bondowoso, saya tidak terlalu khawatir. Jin yang Bara sewa pasti bisa menyelesaikannya! Hehe.

Lalu, setelah revisi, proses editing berlanjut, kemudian naskah masuk setting. Agar tempat-tempat yang diceritakan lebih terasa, saya juga mencari beberapa referensi gambar untuk ilustrasi dan meminta bantuan Gita—desainer Bukune—untuk memesankannya kepada ilustrator. Saat proses proofreading atau koreksi, setelah dicek oleh proofreader—Elly, editor Bukune juga—saya mengecek kembali naskah ini. Saya tipe orang yang  merasa bahwa membaca naskah di layar komputer dan di kertas itu punya sesuatu yang berbeda. Ketika membaca di kertas, saya akan menemukan kembali hal-hal yang mungkin terlewat saat membacanya di layar komputer. Saya merasa lebih maksimal membaca naskah di kertas, seperti membaca buku. Mata jadi lebih awas. Oleh karena itu, saya kerap membaca kembali editan yang telah di-setting dan dikoreksi tersebut dan menemukan hal-hal yang masih terasa janggal. Saya pun mengirimkan catatan ke Bara. Saya yakin Bara masih mampu menyewa jin untuk menyelesaikan beberapa catatan itu agar hal yang masih terasa “bolong” bisa ditutupi.
 
Oh ya, selama proses naskah ini, saat ada acara di Yogyakarta, saya sempat bertemu Bara di kedai donat yang sepertinya jadi tempat favorit Bara menulis. Di sana, kami membahas beberapa hal yang masih janggal. Saat itu, Bara langsung merevisi hal tersebut-saya cek-Bara koreksi lagi-saya cek lagi sampai yakin itu sudah oke. Saat itu, saya melihat Bara mengerjakannya sendiri, tanpa ada jin di sana. Saya sempat merasa ragu kala itu apakah Bara adalah Bandung Bondowoso atau bukan. Tapi, kemudian berpikir, bisa saja, saat itu, jinnya lagi libur kali ya atau tidak suka donat.

Setelah naskah selesai dikoreksi, revisi minor, memasukkan koreksian lagi ke naskah yang telah di-setting, memasukkan ilustrasi di tempat yang pas, akhirnya saya mengirimkan naskah yang sudah fix kepada Bara. Untuk setiap buku yang akan terbit, tentu saja selalu ada usaha maksimal yang dilakukan agar pembaca merasa puas dengan buku yang mereka beli. Segala usaha revisi dan sebagainya itu merupakan sebuah langkah menuju hal itu. Berpikir bahwa penulismu adalah jelmaan Bandung Bondowoso dan punya jin juga semacam penyemangat untuk mengirimkan “banyak” catatan revisi- tanpa-merasa-bersalah. :D

Sementara proses naskah dan settingan berlangsung, proses pembuatan cover juga sudah berlangsung. Kami—saya, Gita, dan Bara—sempat berdiskusi sebelum disebar ke pooling redaksi untuk cover yang sudah dibuat beberapa alternatifnya oleh Gita. Dengan beberapa alternatif baru dan beberapa yang alternatif lama, ternyata yang terpilih adalah cover yang sudah masuk alternatif sebelumnya, dengan beberapa catatan.

Sementara itu juga, blurb, judul, dan tagline juga sedang digodok. Saya sempat meminta Bara untuk mengirimkan alternatif blurb agar dapat gambaran novel ini dari sudut pandang Bara. Saya memodifikasi beberapa blurb yang telah saya buat dengan memasukkan beberapa unsur usulan Bara. Lalu, terpilihlah judul Cinta. (yang diusulkan Mbak Windy Ariestanty, koordinator Bukune) dari beberapa usulan. Nah, saya modifikasilah blurb yang sudah ada agar “masuk” ke judul ini dan mampu merangkum isi buku. 


Pemilihan tagline juga cukup alot karena perlu ada sesuatu penghubung antara judul dan isi. Tagline sekarang ini, yaitu (baca: cinta dengan titik) merupakan sebuah cara sederhana menerjemahkan judul buku ini. Tercetuskan oleh Mbak Windy ketika kami rapat bersama di sebuah kedai kopi, sebuah penerjemahan dari judul yang ia usulkan. Dengan judul dan tagline tersebut, pembaca diharapkan mendapatkan mampu memberi kesan atau tafsiran terhadap buku ini dengan pandangan #cintadengantitik yang mereka bayangkan.   

Setelah judul, tagline, dan blurb fix, finishing cover pun dapat dilakukan. Bara pun sudah oke dengan segala hal menyangkut buku ini. Materi pun masuk percetakan. Penghitungan harga dilakukan, lalu jadwal masuk gudang pun dilakukan. Preorder dan sebagainya pun segera dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.

Sebagai editor, hal paling menyenangkan dari sebuah buku terbit adalah ketika bukti terbitnya sudah sampai di redaksi. “Eh, udah jadi, ya?” Itu pertanyaan retoris yang kerap terucap, dengan hati riang. Bau buku baru akan menggiringmu untuk merecoki pekerjaan bagian sekretaris redaksi yang sedang membuka kertas cokelat pembungkus bukti terbit buku itu. Tanganmu akan menelurusi sampulnya, memastikan finishing cover-nya sesuai, membaca kembali judul, tagline, blurb yang diperdebatkan cukup panjang ada di sana. Juga membolak-balik isinya dan menghirup bau kertas yang khas.

Dan, hal paling menyenangkan lagi dalam melihat buku baru adalah ketika membayangkan penulis sumringah melihat hasil karyanya itu. Juga tentu saja, seorang editor akan ikut berdebar membayangkan respons pembaca terhadap buku itu. Kritik dan saran pembaca tentu saja akan menjadi catatan tidak hanya bagi penulis, tetapi juga bagi editor. Respons apa pun, semua itu sangat berarti, apalagi ketika mendengar pembaca berharap menunggu buku selanjutnya dari penulis yang bukunya kau edit. Itu akan semakin membuatmu bersemangat mengedit dan mengusahakan yang lebih baik lagi.

Selamat atas terbitnya novel Cinta., Bara. Semoga semakin berkarya dan menginspirasi dalam cinta (#eh). Untuk kamu, para pembaca, selamat menikmati Cinta. dan semoga menemukan titik dalam perjalanan cinta.


P.S.
Saya sudah tidak bertanya-tanya lagi apakah Bara itu Bandung Bondowoso atau bukan. Tapi, sekarang, saya malah jadi bertanya-tanya, siapa Roro Jonggrang yang akan Bara buatkan seribu novel? ;)


With love,
Widyawati Oktavia

 ______________

#VirtualBookTour



3 comments:

riawani elyta said...

waa, mau dunk proses novel sy diceritain juga, qiqiqi....btw, belum pernah baca tulisan Bara, kemarin pesen Milana eeh lagi kosong, semoga ntar jodoh ama 'Cinta' :)

penjual kenangan said...

@mbak riawani elyta: hehe, siap, mbak. jika "tugas kenegaraan" dititahkan kembali, pasti akan dituliskan. :))

Kubikel said...

Sebuah kisah cinta dari balik kubikel memiliki cerita yang bagus dan menarik. Pembahasan mengenai proses novelnya juga dapat lebih memahami kepada para pembaca.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin