Friday, November 06, 2009

suatu ketika malam terlalu riuh



kau tahu, aku suka malam yang hujan
yang hening dan hanya menyisakan tempias di kaca jendela keesokan harinya
yang menguarkan bau rumput dan menyisakan jalanan yang basah

dan, kali ini, malam tidak hujan
terlalu riuh, malah, bahkan meredam suara kita
yang memaksa kita diam lebih lama, mencari jeda untuk bicara—atau, kita memang kehilangan kata-kata (?)

tapi, entah kenapa,
aku suka malam kali ini
yang menyisakan—entah—mungkin sesuatu yang disebut bahagia

Wednesday, October 28, 2009

gadis kecil dalam kaca sihir




dan, perempuan itu masih saja "berada" di dalam kaca sihirnya.

"kau bukan gadis kecil itu." hujan membawa suara-suara itu. di luar sana. bukan dalam kaca sihirnya. [hujan yang sebenarnya].

ia tak pernah mendengar suara-suara itu.
ia sibuk menghitung langkah gadis kecil dalam kaca sihir itu.
menikmati jingkat-jingkat kakinya.
seakan merasakan hujan ikut menetesi bahunya. menikmati rinai yang mengajaknya bercerita.

"kau bukan gadis kecil itu." suara itu berbisik jelas di telinganya.

dan, ah, ia tak mendengar suara itu.

Friday, October 23, 2009

sketsa kemarin





peri di ujung pelangi terluka. dia tak memerlukan sayap.

Thursday, October 22, 2009

Kita Pun Harus Mengerti


Dahulu, juga seperti ini, bukan?
Langkah kita mengerti arahnya sendiri-sendiri

Lalu...



Aku telah tahu ke mana arahmu, di stasiun keberapa kau berhenti. Namun, aku masih mengajakmu bercerita. Masih bertanya, kau akan ke mana, di stasiun keberapa kau berhenti.
Aku telah jelas melihat karcis yang sejak tadi resah di tanganmu.
Jelas arah dan tujuanmu di sana. Namun, aku masih bertanya.

Hanya sampai kereta datang, pikirku.
Lalu, kita akan berpisah di sini. Aku yang akan melangkah.

Hanya sampai kereta datang, pikirku.

Dan, kini, perjalanan semakin jauh.


(Mei, 2007)

Wednesday, September 23, 2009

cinta sedang deadline


: akan aku tuliskan inisialmu di sini pada saatnya itu.


kau tahu,
cinta sedang deadline.
puzzle-puzzle itu harus utuh seperti ini, dalam setahun?
bagaimana menurutmu?
apakah kita bisa menyusunnya dalam hitungan yang tak seberapa itu?
aku tahu kau akan ada karena kau tahu aku tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri.
ah, tidakkah aku bilang agar kau tidak berjalan terlalu jauh sehingga aku akan selalu melihat jejakmu?--jejak yang kutemukan akhir-akhir ini bukanlah milikmu, aku tahu.

kau (harus) tahu?
kini tiba-tiba saja potongan puzzle itu harus utuh, sementara benang merah masih terlalu kusut.
jangan berdiri terlalu jauh lagi, kita diburu waktu.
dengarkan hatimu. bawa langkahmu ke sini.

puzzle kita belum selesai.

TO ME, YOU ARE PERFECT


Apakah aku pernah mengenalmu, dahulu mungkin?
Kau tak asing.
Ya, mungkin, kita pernah dalam satu perjalanan pada kehidupan sebelum ini.
Tapi, kenapa kita baru bertemu hari ini?

Ah, aku teringat sebuah fragmen dalam film favoritku, yang menjadi scene favoritku juga.

“TO ME, YOU ARE PERFECT”. Seorang laki-laki membawakan karton bertuliskan kata-kata itu, hanya menunjukkannya pada seorang gadis, tanpa ucapan apa-apa. Adegan yang membuat hati banyak orang meleleh, mungkin saja ;P--hmm, tapi aku tak yakin kau pernah menontonnya.



Bertemu kau. Aku teringat adegan itu. Ada-ada saja. Hehe.
Mungkin, kita akan bertemu lagi pada suatu hari nanti--di kehidupan yang berbeda (?).
Ah, sudahlah. Selamat jalan. Hati-hati. :)

Friday, September 18, 2009

Sebelum Ramadhan Melepaskan Genggaman


Assalamuaikum,
Hari ini, aku mengetuk pintumu.
Sedang tak di rumah, ya?
Kalau begitu, besok aku datang lagi—jika tak ada halangan.
Semoga kau temukan maaf yang kuselipkan, dibungkus dengan segenap cinta, yang masih hangat.

“Maafkan atas segala khilaf, segala kata yang terucap, segala laku yang menyakitkan.”

Selamat Lebaran. Semoga kita bertemu Ramadhan tahun depan.



Wassalam,
Pada suatu hari ketika genggaman Ramadhan terasa semakin tak erat.

--Iwied--

Tuesday, September 15, 2009

dua cerita

"cipa bisa begini," kata cipa, bersemangat dengan pose barunya.






"ani juga," timpal ani, tak mau kalah.


Blog Widget by LinkWithin