Tuesday, July 22, 2008

Kunang-Kunang

“Kamu tahu kenapa cahaya kunang-kunang dingin?”

Pertanyaan Ibu kembali menyusup di gelap malam ini. Pertanyaan itu kudengar saat aku kecil. Saat aku sibuk menangkap kunang-kunang di halaman rumah kami. Di halaman yang sekarang menghampar di hadapanku. Dahulu, sebelum listrik masuk, kunang-kunang selalu sampai ke halaman ini. Aku selalu merengek-rengek pada Ibu untuk menemaniku ke luar dan menangkap kunang-kunang itu. Kunang-kunang yang bekerlap-kerlip. Indah.

Ibu akan menyerah dan mengizinkanku memasukkan kunang-kunang itu ke dalam rumah dengan plastik kaca. Menjadikannya lentera.

“Kamu tidak boleh menyiksa kunang-kunang itu. Ayo lepaskan lagi.” Itu yang kemudian selalu dikatakan Ibu, mengantarku menghalau kunang-kunang itu.

Aku masih ingat tatapan mata Ibu kala itu. Tatapan yang begitu jauh. Tapi, yang mungkin ditangkap mata itu hanya gelap yang telah menjadi pekat dan cahaya kunang-kunang. Rumah penduduk di kampung ini berjarak cukup jauh. Pohon dan semak mengisi jarak-jarak itu. Pembangunan tak pernah benar-benar sampai di sini. Jalanan masih saja jalan yang berbatu-batu. Bahkan, kantor kepala desa sudah lama tidak dihuni.

Kini, lampu-lampu memang membuat gelap tidak terlalu pekat lagi. Namun, kunang-kunang jadi enggan mampir ke halaman ini. Mereka bersembunyi di balik semak-semak.

Aku ingat betapa aku tak bisa tidur tanpa bermain dahulu dengan mereka. Ibu selalu menurutiku, bahkan, terkadang ikut bermain. Entah bagaimana, kunang-kunang sudah ada di tangkup tangan Ibu. Aku selalu takjub. Bersama Ibu, kunang-kunang itu menjelma gelang kaki, kalung, bahkan sebagai mahkota di rambutnya yang panjang. Bekerlap-kerlip. Indah. Dan, kunang-kunang itu menurut begitu saja.

Ibu selalu mengakhiri permainan kami dengan ajakan masuk. “Bapakmu belum pulang juga,” gumamnya dari balik tirai jendela. Aku menangkap sesuatu dalam tatapan Ibu, entah apa.

Setelah dewasa, aku menyadari bahwa—saat itu—aku menangkap kegelisahan.

Bapak. Sosok itu bagai bayang-bayang bagiku. Tidak pernah nyata. Aku tidak tahu apa kerja Bapak. Yang pasti aku tidak pernah bertemu dengan Bapak. Ia selalu pulang saat aku sudah bertemu mimpi-mimpi, pergi saat aku belum terjaga. Setiap kali aku mencoba tetap terjaga untuk menunggu kehadiran Bapak, Ibu akan bilang, “Bapakmu tidak pulang lagi malam ini.”

Mungkin, aku benar-benar ditakdirkan tidak bisa bertemu Bapak. Setiap hari, yang kudapati hanya Ibu, yang selalu menyimpan kegelisahan di matanya. Namun, kegelisahan itu cepat terlupa oleh mimpi yang sering hadir dalam malam-malamku. Mimpi tentang aku, Ibu, dan kunang-kunang; kami tertawa bahagia.



Sosok Bapak tak lagi kunanti ketika kulihat air mata Ibu membeku saat aku bertanya tentang Bapak. Sejak itu, pertanyaan itu membatu dan melumut dalam diriku. Ibu cukup bagiku.

Malangnya, pertanyaan itu kembali. Mengendap-endap saat aku beranjak remaja; saat usiaku beranjak ke masa—yang kata orang kampung—sudah “patut” menikah.

“Sudah untung ada yang mau padamu,” kata laki-laki yang mengaku sebagai kakak Ibu. Aku baru mengenalnya saat itu. Wajahnya sama angkuh dengan kata-katanya, “Aku ini pamanmu. Aku yang bertanggung jawab padamu. Kalau kau mengharapkan bapakmu, sampai mati kau tidak akan menikah. Cuma ibumu yang tahu tentang bapakmu itu.”

Saat itu, aku menangis. Apa benar ini garis nasib yang dituliskan di tanganku?
“Ibu, Bapak di mana?” Aku mencari harap.

Ibu hanya menatapku. Lagi-lagi, yang ada hanya kegelisahan. Lalu, ia berlalu ke dapur. Tidak mencoba balas menatapku. Tidak mencoba melihat tangisku.

Setelah itu, tak ada lagi percakapan antara aku dan Ibu.

Aku benar-benar menikah. Paman yang menjadi waliku. Bapak tidak pulang.

Timan. Laki-laki itu menjadi suamiku. Umurnya 30 tahun. Pekerjaannya menebang kayu. Begitu kami menikah, ia mengajakku merantau. Ke Jakarta. Temannya yang pedagang kaki lima yang menawari ikut. Saat aku pergi, aku menangkap air mata Ibu yang coba disembunyikannya. Aku mencium tangan Ibu, tidak ingin melepaskannya. Namun, tatapan laki-laki yang kuterima jadi suamiku itu memerintahku melepaskan tangan itu.

Di kota besar itu, kehidupanku begitu sempit. Namun, aku selalu berlaku menjadi istri yang baik; memasakkan nasi untuk suami, mencucikan baju, dan menemaninya tidur. Kehidupan yang datar. Ah, ketidakhadiran anak pun membuatnya semakin datar. Tetangga-tetangga nyinyir tentang itu. Yang semakin membenamkanku dalam ruang sekotak, rumahku.

Terkadang, dalam tidur, aku menangis. Aku rindu kampungku, Ibu, dan kunang-kunang di halaman. Sepi diam-diam menyusup. Suamiku pergi pagi, pulang malam. Saat ia ada, ruang-ruang kosong menyesak. Aku telah melewati masa itu selama lima tahun. Aku telah menyatu dengan kesepian, menyatu dengan ruang-ruang kosong.

Suatu hari, aku menerima kabar dari Ibu. Bapak meninggal. Saat itu, tak ada satu getaran pun hadir di hatiku. Aku bagai kehilangan mainan yang tidak pernah kumiliki.

“Pulanglah,” kata suamiku. Aku tidak mungkin mengatakan, aku tidak perlu pulang. Aku terbentur dalam ruang: kau baru saja kehilangan orang yang—seharusnya—kau cintai. Saat ia pergi, kau harus melepasnya dengan tangis.

Akhirnya, aku pulang dengan bus. Sendirian. Aku sampai pada pagi dua hari kemudian. Ibu menyambut dan menemaniku ke kuburan Bapak. Aku melihat lagi kegelisahan di mata Ibu saat ia menaburkan bunga di atas kuburan itu. Yang ada hanya kegelisahan, bukan air mata. Ibu tidak menangis. Apakah sudah habis air matanya saat tahu Bapak meninggal? Entahlah. Yang pasti, sampai hari ini, Bapak benar-benar tidak pernah nyata bagiku.

Malamnya, tidak ada pengajian tiga hari kematian Bapak. Bahkan, orang-orang kampung seolah-olah tidak tahu bahwa ada kematian tiga hari yang lalu. Ibu pun tidak mau membicarakan Bapak. Juga kematian Bapak.

***

Aku masih duduk di teras. Memandang jauh ke hamparan halaman yang tidak pernah didekati lagi oleh kunang-kunang. Namun, jauh di sana, di kegelapan, aku masih menangkap cahaya kunang-kunang itu. Pertanyaan Ibu masih belum kutemukan jawabannya.

Dalam keremangan lampu teras, Ibu menghampiri, ikut duduk.

“Bagaimana suamimu?” tanyanya.

“Baik, Bu. Sangat baik.” Diam-diam, air mataku jatuh.

“Maafkan Ibu, Ni ….”

Kami saling diam. Aku mencoba tersenyum mengobati hati Ibu. Di kejauhan sana, kunang-kunang menari.

“Kamu tahu kenapa cahaya kunang-kunang dingin?” Pertanyaan yang baru saja menyusup di gelap malam ini diucapkan Ibu lagi.

Aku hanya menggeleng lemah.

“Kau pernah mendengar cerita sedih dari kunang-kunang, Ni? Cerita tentang kunang-kunang yang jatuh cinta pada manusia.”

Ibu seakan-akan bertanya pada dirinya sendiri.

“Kunang-kunang yang jatuh cinta itu diusir dari negeri kunang-kunang. Diusir jauh. Sangat jauh. Ia tidak pernah bisa bertemu dengan anak manusia itu lagi, bahkan untuk mendengar kabarnya sekalipun. Lama-kelamaan, ia tidak mampu lagi bersinar. Cahayanya hilang. Mati. Sementara, anak manusia itu, anak perempuan itu, ia dipasung karena disangka gila. Padahal, dalam rahimnya, ada buah cintanya dengan kunang-kunang itu.”

Aku menyimak cerita Ibu dengan pandangan tidak mengerti. Tapi, itu memang dongeng yang menyedihkan.

“Lalu, kenapa cahaya kunang-kunang dingin, Bu?” Aku tidak menangkap jawabannya di dongeng Ibu.

Ibu menghela napas. Begitu berat.

“Saat kunang-kunang yang jatuh cinta itu mati, semua cahaya kunang-kunang di negeri kunang-kunang menjadi dingin. Kamu tahu kenapa, Ni? Karena cinta mereka tidak pernah bahagia, Ni. Karena cinta mereka tak pernah bisa nyata.” Pandangan Ibu jauh. Kegelisahan itu pun masih di sana.

“Maafkan, Ibu, Ni.” Kali ini, Ibu yang menangis.

***

Aku telah kembali ke rumahku, kota besar Jakarta. Kepulangan kemarin membawa cerita sedih bagiku. Cerita sedih dari kunang-kunang. Dari Ibu.

“Bapakmu ada, Ni. Ia sangat baik. Sangat setia. Tapi, ia memang tak pernah nyata. Ia hanya bisa bertemu dengan Ibu. Tapi, saat kau tidur, ia sering membelaimu. Kau tahu? Kami jatuh cinta. Kau pun lahir. Tapi, yang diketahui orang, Ibu tiba-tiba saja hamil. Tanpa suami. Mereka tidak mau menerima cerita bahwa Ibu telah menikah dengan kunang-kunang. Mereka malah menganggap Ibu gila. Kamu pun dianggap anak haram.” Tangis Ibu begitu pilu.

Kunang-kunang di kejauhan sana semakin bekerlap-kerlip. Tangis Ibu semakin pilu. Aku pun menangis. Diam-diam. Ibu memang tidak mungkin gila. Jadi, aku atau siapa yang gila?

Cerita itu menyesak dalam kotak rumahku ini. Susul-menyusul tanpa henti. Ibuku menikah dengan kunang-kunang. Aku anak kunang-kunang. Aku menangis. Cahaya kunang-kunang dingin karena cinta mereka tak pernah bahagia. Tak pernah nyata. Gila! Aku tidak bisa menerima semua itu.

Namun, kenapa aku sangat menyukai kunang-kunang? Kenapa aku sering memimpikan kunang-kunang? Kenapa kunang-kunang sangat menurut pada Ibu? Kenapa?

Hari beranjak malam. Karena sangat letih, aku terlelap. Tiba-tiba, aku terbangun ketika mendengar ketukan pintu.

“Ni, Ni,” suara itu memanggil-manggilku. Suara suamiku.

Suamiku pulang. Dan, aku menjelma kunang-kunang.


Margonda Raya, 9 Oktober 2005

(gambar minjem dari sini!)

But I'll have my way// In my own time

Hilang di Surya Kencana



Jumat kemarin, saya dan empat orang teman—termasuk Gita—berangkat lagi ke Gunung Gede, Jawa Barat. Dari Depok, kami menuju Terminal Kampung Rambutan. Saat itu, waktu sudah merangkak ke pukul setengah sembilan malam. Calo-calo di terminal itu tentu saja langsung mendekat saat kami turun dari angkot merah itu. Untunglah, ada Ardi—yang-enggak-kalah-serem-sama-calo. Hehe.

Kami naik bus yang masih kosong menuju Gunung Putri. Harga lima belas ribu turun jadi empat belas ribu—berkat Ardi yang baru saja menjelajahi jurang-jurang Gunung Leuser. (Di terminal, tawar-menawar diperlukan dan, tentu saja, didampingi teman yang terlihat sangar juga--jauh lebih--diperlukan.)

Saat menapakkan kaki di tepi jalan masuk ke Gunung Putri itu, angin dingin langsung menyambut. Sudah dini hari. Angkot berwarna biru sudah menanti kami. Setelah tawar harga—lagi-lagi tugas Ardi—kami segera naik. Jalanan berliku itu cukup menanjak tinggi untuk harga empat ribu rupiah. Namun, sepertinya, memang itulah harga standar angkot menuju kaki gunung yang akan kami jajaki itu.

Kaki gunung itu sudah dipenuhi para pendaki—terlalu banyak, malah. Seorang penjual menggelar dagangannya di dekat kami berdiri. Sarung tangan, kupluk, syal, berjajar rapi. Saya dan Gita membeli sarung tangan tipis—cukup penting, biar nanti, mau pegangan di mana saja hayo. Setelah ditawar, dua pasang jadi 20 ribu—beda sepuluh ribuanlah sama yang di emperan.

Dingin mulai menyergap. Perut terasa lapar. Warung yang ada di sini hanya menjual roti-rotian. Padahal, kami ingin makan nasi. Untunglah, di warung atas—searah tempat kami mulai menanjak—ada warung nasi yang buka.

“Cuma tinggal telor, Neng,” ucap si Ibu penjual nasi.

Tidak masalah. Jadilah saya dan teman-teman makan nasi dan telur dadar plus kecap. Rasa keliyeng-keliyeng di kepala segera beranjak. Alhamdulillah.

Kami mulai mendaki pukul dua pagi. Lapor di pos yang penjaganya masih “fresh”. Segala peraturan masih begitu dia hafal dn disampaikan dengan cara yang kurang bersahabat. Tidak boleh bawa sabun dan odol. Tidak boleh bawa MP3 atau iPod. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan pakai pisau dapur—yang saya bawa, yang katanya terlalu besar, tapi tak masalah—buat nulis-nulis di pohon. Bla-bla-bla. Yah, tentu saja hal itu tidak akan kami lakukan. Wong, udah terlalu banyak juga ukiran di pohon-pohon dan batu-batu di atas gunung itu—heran, kenapa, sih, orang-orang itu seenaknya saja merusak!

“Ngejar apa, sunset atau sunrise?” tanya teman saya di kosan—setelah kami pulang.

“Enggak ngejar apa-apa,” sahut saya. Ya, kami cuma numpang tidur dan makan di padang edelweis itu.

Entah kenapa, ada yang hilang di perjalanan kali ini. Mungkin karena saat mendaki terlalu banyak orang berkeliaran. Seperti di pasar, bukan gunung. Bahkan, orang-orang yang berseliweran banyak yang saltum—menurut laporan pandangan mata saya dan Gita. Hehe. Yah, masa ke gunung pake tas slempang dan celana jeans ketat begitu—Haha. Iri ajah, niy, kami!

Porter berkeliaran dengan pikulan yang berisi tas dengan beragam bentuk. Orang-orang melangkah dengan santai, dengan keluhan-keluhan—padahal tanpa beban apa-apa di pundaknya.

Lalu, di tengah jalan, ada percakapan yang tidak sesuai latar. Hehe.

Ibu-ibu yang juga mendaki: “Jualan, ya, Bang?”

Mamang Tukang Nasi Uduk: “Iya, Bu. Nasi uduk. Tapi, udah abis. Saya mau turun dulu.”

Ibu-ibu yang satu lagi: “Oh, ada cincau, nggak, Bang?”

(Kayaknya) Anak si Ibu: “Rujak ada nggak, Bang?”

Saya: Halah! Ada-ada aja siy tu si ibu-ibu dan anak-anaknya. Eh, jangan-jangan ada beneran. Hihi.

Mamang Tukang Nasi Uduk: “Wah, nggak ada, Bu.”

Ibu-ibu yang juga mendaki: “Tapi, kan, si Abang mau turun. Ya, udah, nanti bawa aja ke atas. Kita kemah di Padang Surya Kencana itu, kok.”

Ibu-ibu yang satu lagi: “Iya, ke sana, aja. Pasti kita beli, kok. Cincau, ya, Bang.”
(Kayaknya) Anak si Ibu: “Rujak juga jangan lupa, ya, Bang.”

Saya: Dih!

Mamang Tukang Nasi Uduk: “Ya, kalau ada, ya, Bu.”—(Kelihatan bingung.

Ibu-ibu yang juga mendaki: “Tenang aja. Nanti, pasti kita beli, deh.”

Dih! (lagi). Mesennya enak banget, kayak si Mamang tinggal pergi ke dapur dan bikin pesenan mereka. Pasti mereka bayar, sih. Tapi, bukan itu kale masalahnya. Bayangin aja, tuh si Mamang mesti turun naik gunung setinggi 2.958 meter cuma untuk es cincau dan rujak buat mereka. Halah!

Saya tidak mendengar lagi apa kesepakatan mereka. Tanjakan-tanjakan Jalur Putri masih menanti langkah-langkah kaki.

Saya dan teman-teman hanya sampai Surya Kencana. Tidak berminat ke puncak. Bahkan, untuk foto-foto saja, saya dan Gita kehilangan selera—awalnya. Entah kenapa. Tapi, tentu saja teteup ada foto-foto—akhirnya. Hehe.

Pulangnya, saat lapor di pos, kami malah kena denda. Ternyata, kami telat satu hari dari jadwal—di kertas pendaftaran tertulis, kami turun tanggal 19 (Sabtu). Namun, kami baru sampai pos pada Minggu, pukul satu siang. Padahal, itu kesalahan penjaga pos pendaftaran yang salah menulis tanggal kami turun. Masa, sih, kami cuma daftar buat dua hari? Ogah, deh, naek trus langsung turun lagi!

“Trus, kalau mereka tau kita belum turun dari kemaren, kok, mereka nggak nyariin kita, Piz?” tanya saya dan Gita.

Apiz yang habis diceramahi (tadi, dari luar, sayup-sayup, kami mendengar kalimat-kalimat yang nadanya seperti nasihat) di dalam pos tak menggubris.

“Padahal, itu, kan, kan, dah lewat 1 x 24 jam,” lanjut kami sewot.

Yah, wajar, sih, mereka enggak nyariin. Wong, kami baru mulai naik pukul 02:30 dini hari—udah masuk hari Sabtu. Masa udah turun lagi sorenya atau malamnya.

Kami berjalan dengan hati yang tidak begitu riang.

Kali ini, sepertinya, ada yang hilang di Surya Kencana.


Gunung Gede, 18—20 Juli 2008.
Blog Widget by LinkWithin