Penjual Kenangan

Monday, October 22, 2007

Lebaran Kemarin


Setiap saya pulang ke rumah, selalu ada kejutan dari keponakan saya, terutama dari Ani. Sekarang, Ani sudah kelas dua SD. Masih suka membaca, dan menjadi semakin terlalu (cepat) dewasa.

Saat pulang menjelang dua hari Lebaran kemarin, saya disibukkan berberes di rumah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hari sebelumnya, Ani sempat menelepon. “Ante Wied, kapan pulang? Ani sekarang sudah bisa nyuci piring. Ani juga bisa nyapu.” Ani melaporkan dari Slipi.

Sebenarnya, kalimat itu untuk mempercepat saya pulang, berhubung, Mbak Was yang biasanya membantu berberes sudah pulang kampung dan tidak akan kembali lagi—belakangan, anaknya usia 10 tahun, yang ikut bersamanya, menyalami saya di tempat salat Ied. Entah kenapa harus pakai acara bohong segala itu si Mbak—kalau dibuat dugaannya, cerita jadi terlalu panjang, perlu ada postingan sendiri. Jadi, lewat aja, deh, ya.

Balik lagi kepada si Ani yang pamer sudah bisa ini dan itu. Saya cuma bisa komentar, “Wah, Ani hebat! Ante Wied pulang besok, ya.” Nyatanya, besok saya itu tertunda beberapa hari. Editan saya mengejar deadline—saya telah menjadi Penjelajah Deadline hampir setahun belakangan ini. Dan, tentu saja, saya menikmati setiap petualangannya.

Akhirnya, saya pulang juga. Saya pulang bersama Gita dan Ice. Pekerjaan berberes menunggu. Saat berberes, HP saya tergeletak begitu saja. Dan, jadilah si Ani menggantikan kebiasaan saya dan juga Gita—dan juga mungkin banyak perempuan di dunia ini—menjadi Penjelajah Inbox. Parah. Bahkan “hobi” ini sudah merambah anak usia si Ani.

Sibuklah dia bertanya ini siapa dan itu siapa. Saat membacakan isi inbox saya itu, dia belibet dengan segala singkatan yang dibuat oleh pengirim SMS dengan aturan “sama rasa”. Ani semakin sibuk dengan pertanyaan. “Apaan sih bacaaannya, Kak Gita?” Siapa sih ini?” tanyanya penasaran. Gita, kotak rahasia saya, usil pada Ani. “Itu tuh, Dek. Yang empat huruf,” pancing Gita. Tanya Ante Wid, deh,” Gita semakin usil.

Deg! Jantung saya sempat berdegup—ya iyalah, ya, masa enggak? Hehe. Saya sempat sedikit kaget, gitu. Aduh, jangan tanya. Jangan tanya, kata saya dalam hati. Sempat-sempatnya berdoa untuk hal yang tidak begitu penting, sebenarnya.


Nte Wied, siapa sih __ ___ __ __?”

Haha, saya tergelak. Doa saya yang serabutan sampai. Tuhan memang selalu mendengar setiap doa. Bukan orang yang saya maksud, ternyata. Ani menyebutkan nama-orang-yang-jauh-dari-saya-duga. Ani sibuk lagi menjelajahi inbox saya, bahkan sampai ke pesan yang tersimpan. Parah.

Kemudian, saya berjalan dengan Ani menjemput Cipa—keponakan saya satu lagi—di rumah kakak saya yang tidak begitu jauh. Saat itu, si Ani bergumam plus dengan deheman atau sejenis itulah.


Heh! Aak Garda,” ujarnya sambil lalu. Saya mendengar sekilas. Dan, langsung menangkap nada gumaman dan dehemannya.

Oh, itu temen Ante Wied. Namanya Aak. Dia anak Garda,” saya menjelaskan cepat—entah karena apa. Saya mengidentifikasi nama si Aak dengan nama belakang Garda—Garda Hijau, sebuah organisasi pecinta lingkungan di FIB UI.


Bukan! Namanya Garda,” ujar Ani cepat.

Heh? Bukan, namanya Aak,” saya menjelaskan lagi. Sambil tertawa, tentu saja. Jelas-jelas namanya Aak, bukan Garda. Ani sotoy, dey!

Bukan!” Ani melakukan pengingkaran lagi. Alah-alah, ngotot amat, yak.

Namanya Aak, Ani! Dia anak Garda. Garda Hijau,” seakan-akan, saya takut Ani menduga ada apa-apa. Saya ingat, ada beberapa SMS si-Aak dalam HP saya, berhubung dia mau nitip sesuatu di kosan.


Heh!” sahut Ani. Ada nada keyakinan bahwa “Gue gak bisa dibohongin!” dalam sahutan Ani itu.

Jadi, Garda itu … bla bla bla ….” Saya menjelaskan secara akedemis. Dan, tentu saja tidak dimengerti oleh Ani yang masih “belekan” itu. Dia sudah punya keyakinan, nama orang itu adalah Garda, dan tentu nama Aak di depannya itu dikira panggilan “sayang” dari saya. Duh!

Pulang-pulang, Ani langsung bisik-bisik sama Gita. Saya memergokinya. Gita langsung tertawa ngakak.

Kenapa, Git?” tanya saya.

Masa Ani nanya ….”

Aak Garda, ya?” potong saya yakin. Dan, ikut tertawa. Mendengar intermeso di jalan dengan Ani tadi, Gita semakin ngakak.


Parah, lo, Wied! Masa ponakan lo yang umur segitu menginterogasi lo. Waktu dia masih bayi, lo udah kuliah, kan,” sahut Gita di sela tawanya.

Eh, gue enggak setua itu kali, Git!” Masa waktu bayi saya sudah kuliah? Ya enggaklah!—terkadang, masalah usia, orang sering cepat sewot. Terkadang, banyak hal konyol lain yang bikin kita buru-buru emosi. Kalau begitu, yuk, berhitung dari satu sampai sepuluh. Katanya, itu dapat mengendalikan emosi, loh ^_^

Saya dan Gita masih tertawa. Saat Ice, adik Gita, datang dan mendengar siaran langsung ulangan, dia ikut tertawa. Tawa yang enak sekali—salah satu jenis tawa untuk menertawakan anak kecil.

Sementara itu, si Ani tersipu-sipu. Malu. “Tuh, kan …. Tuh, kan … dibeber-beberin …,” ujarnya semakin dekat ke pojokan.

1 comment:

gerimis pagi said...

ante dan ponakan soundtracknya sama...
"Tuhan kirimkanlah aku..." buaHAhahahaha ;D

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin