Penjual Kenangan

Monday, June 15, 2009

November Itu--Hujan Turun Menderas





Membaca surat Ibu Prita Mulyasari—dan juga melihat berita yang wara-wiri, saya jadi ingat kejadian yang menimpa kakak saya, sekitar dua tahun yang lalu. Kakak saya masuk rumah sakit dalam keadaan tidak sadar, tetapi pihak rumah sakit menyatakan bahwa tidak ada ruang ICU yang kosong. Akhirnya, kakak saya ditempatkan di Ruang HiCare. Di ruangan ini, tidak ada alat bantu pernapasan otomatis. Bantuan pernapasan dibantu dengan alat pompa manual.

Saya begitu ingat kejadian saat kondisi kakak saya masuk fase kritis. Mungkin, saat itu belum terlalu malam, saya dan sahabat saya baru saja makan malam. Saat baru mulai makan, ponsel saya berdering, mengabarkan kakak saya kritis. Saya dan sahabat saya segera berlari-lari menyeberang jalan ke arah rumah sakit itu.
Sesampai di ruangan, semua wajah tegang. Seorang dokter muda—yang ternyata masih dokter koas—tampak berkeringat memfungsikan alat pompa. Bingung mencari detak jantung di dada kakak saya, detak yang harus dipancing dengan tangan.

Setelah masa kritis itu lewat, alat bantu pernapasan tersebut (yang dipompa) tidak boleh dilepas, harus terus dipompa. Kalau tidak, detak jantungnya berhenti. Malangnya, yang diminta memompa adalah keluarga pasien, termasuk saya, yang tergagap-gagap dengan alat itu—takut salah pegang, takut salah pompa.

Malangnya lagi, alasan suster jaganya adalah dia capek. Jadilah saya beradik kakak yang gantian. Bukannya kami tidak mau—kami mau melakukan apa saja asalkan saudara perempuan kami yang punya tiga anak itu (saat itu, anak-anak itu berusia 16 tahun, 10 tahun, dan 3 tahun) sehat kembali. Tapi, kami awam dengan alat itu dan takut memfungsikannya. Selain itu, kalau bisa sendiri, kenapa juga kami harus ke rumah sakit yang cukup besar di kawasan Jalan Raya Fatmawati itu? Kami butuh pertolongan.

Mengingat kejadian itu, begitu memilukan hati. Saat itu, saya ingin mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang sepertinya tidak “menganggap” hanya satu nyawa—tetapi, kami hanya berserah pada takdir. Mungkin, “hanya” satu nyawa bagi mereka, tetapi bagi kami, dia bukan “hanya”. Dia seorang ibu, seorang istri, seorang kakak, seorang adik, seorang anak, dan ... ah, terlalu banyak jika disebutkan satu per satu.
Dan, saat membuka-buka file lama di komputer, saya menemukan catatan panjang saya tentang kisah itu, catatan yang saya buat pada November 2007, setahun setelah kejadian itu.

November Lagi

November. Rinai-rinai hujan di bulan ini membawa kembali berbagai cerita. Juga cerita tentangmu, Ni.

Rasanya, semua masih begitu jelas terjalin di sudut teraman benakku. Semua masih ada di sana.

Malam itu, aku mendapat SMS kabarkan kau dirawat di rumah sakit di bilangan jalan raya Kebayoran Lama. Tiba-tiba saja, pikirku. Selama ini, kau hanya mengeluh sakit pinggang. Kami katakan, kau terlalu bekerja keras. Itu hanya sakit karena kecapaian. Ternyata, sakit yang tak berkesudahan. Datang. Pergi. Datang. Dan, pergi lagi. Kau sudah sempat ke dokter. Berobat jalan. Tapi, sakit itu tak hilang-hilang juga. Dan, pikiran macam-macam muncul di pikiranmu. Tapi, kau, ingat, kami semua membantah. Kita tahu itu hanya akibat terlalu banyak kerja. Kau memang pekerja keras. Tidur malam tidak pernah kau tebus dengan mengambil waktu pagi—tidak sepertiku. Aku ingat, saat menginap di rumahmu, kau tidak pernah mengusik tidurku yang terlalu berlebihan kadang. Bahkan, saat bangun, aku telah menemukan segelas teh hangat dan juga nasi uduk di meja.

Sakit pinggangmu pindah-pindah, ceritamu. Tapi, kami semua merasa, itu karena kau terlalu memikirkan rasa sakit itu. Bahkan, karena aku sibuk dengan kerjaku, aku lupa tentang sakit pinggangmu itu. SMS itu mengagetkanku. Kau dirawat di rumah sakit. Kebetulan, hari itu, aku libur kerja—izin sakit selama tiga hari. Esok paginya, aku langsung menuju rumah sakit itu. Bahkan, di depan rumah sakit, aku sempat menelepon ke ponselmu. Mengonfirmasi nomor kamar. Aku melihatmu duduk di tempat tidur. Pucat. Tapi, aku merasa lega, wajah sakit biasa. Di sana, sudah ada kakak perempuanku yang lain. Malam itu, aku disuruh jaga. Untunglah, izin sakitku masih dua hari.

Malam itu, kau tidak bisa tidur. Tengah malam kau terbangun. Batuk-batuk. Dan, bahkan, semua makan malam—yang serbasedikit kau makan—keluar lagi. Kau muntah-muntah. Suster yang aku panggil datang setelah semua makanan di perutmu habis. Kau juga mengeluhkan sakit kepala. Kau sampai memegangi kepalamu. “Sakit, sakit,” katamu. Sakit kepala hebat menyerangmu. Aku kebingungan. Hanya bisa memintamu menyebut-Nya; dan aku segera minta obat pada suster. Lalu, suster itu memberiku sebutir Panadol—Entah karena tengah malam atau mereka tidak tahu seberapa hebat sakitmu itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Yang kutahu, kau sangat butuh obat.

Badanmu juga panas. Suster menyarankan aku untuk mengompresmu. “Bisa ngompres?” tanyanya padaku. Aku seperti orang bodoh di sana. Kelimpungan dan segera mengangguk. Tengah malam itu, para suster itu memberiku sebuah wadah dan handuk kompres. Lalu, mereka berlalu. Aku kebingungan. Lho, bukankah mereka susternya? Ah, sudahlah, aku cuma ingin panasmu turun dan sakit kepalamu hilang.

Malam itu, kita hampir tidak tidur. Aku segera terjaga saat suster-suster itu mengantarkan makan pagimu. Saat diberi obat, aku ulangi kembali tentang sakit kepalamu. Aku minta tambahan obatnya. Lagi-lagi, Panadol yang diberikannya—obat itu juga ada di warung-warung rokok pinggir jalan.

Malam itu, aku masih berjaga. Gita, sahabatku, datang dan menemaniku. Batuk-batuk dan sakit kepala hebatmu datang lagi malam-malam.

Esoknya, Ni Nur—saudara perempuan kita yang nomor 10 dari 12 orang saudara kandung—dan Ibu datang dari Padang. Kami menjagamu bersama. Malam itu, kau terlalu mengkhawatirkan anak-anakmu.

“Ah, Riyan, masih aja bandel,” katamu. “Puput susah banget nangkap pelajaran.” “Untunglah, Shiva dikirim untuk pengobat hati,” lanjutmu. Ya, Shiva—Cipa—itu begitu mencuri hati semua orang, seperti berkah dari arti namanya, pengobat hati.
“Anak segede Riyan emang lagi masa-masanya ngebantah, Ni,” kataku. “Puput juga, asal rajin les, pasti juga bisa. Waktu SD, Iwied juga gak pernah belajar, Ni.” Aku hanya bisa menghibur. Ketakutan Uni akan anak-anaknya terlalu berlebihan, menurutku. Namun, begitulah ibu, selalu punya ketakutan yang berlebih untuk anaknya, seperti rasa sayang yang juga pasti selalu tak pernah kurang.

“Put, Put, bawa kue kaleng ini pulang. Bang Iyan suka,” panggilmu pada Puput, putrimu yang masih duduk di kelas lima SD itu, saat anak itu hampir mencapai pintu keluar. Ah, begitulah kasihmu, sang ibu.

Aku hanya bisa menemanimu hingga hari ke-3. Selanjutnya, aku hanya menelepon. Pekerjaan menunggu di kantorku. Seminggu kemudian, yang aku tahu, kau sudah pulang. Kau masih pucat, tapi suasana rumah sakit juga tidak akan membuatmu ceria. Hanya perlu sentuhan rumah. Uni Nur, yang kebetulan juga seorang dokter, pun mengiyakan saat kau ingin pulang ke rumah. Tiga hari berikutnya, Ni Nur kembali ke Padang. Pekerjaan menunggunya. Ibu tinggal untuk menjagamu.

Seminggu kemudian, aku—bersama Gita—baru bisa menjengukmu lagi. Aku membawa sekotak donat dan foto wisudaku. Ada juga foto kau dan Cipa, bocah tiga tahunmu itu. Senyummu dan senyum Cipa dalam foto itu seakan abadi—begitu indah sehingga aku merasa perlu untuk memperbesar dan membingkainya.

Kondisimu masih lemah dan banyak diam. Kau tidak mau makan donat yang kubawa. Tapi, saat aku membolak-balik foto wisudaku, kau bilang, “Coba Uni liat,” ucapmu pelan. Apakah yang kau lihat saat itu? Mungkin, tak percaya bahwa adik yang dulu selalu kau cucikan bajunya dan kau bilang, “Mandi sana, badanmu bau,” sudah beranjak melangkah. Ah, Uni, kau selalu ada untukku sejak dulu. Semoga kau cepat sembuh, aku hanya bisa ucapkan itu untukmu saat itu.
***

Malam itu, aku diberi kabar, kau masuk rumah sakit lagi. Saat itu, aku akan bersiap-siap naik gunung bersama teman-teman, melantik anggota baru organisasi pencinta lingkungan kampusku dulu. Aku sempat ragu. Namun, aku pikir—dengan egoku sendiri. ah, bodohnya aku!—kondisimu pastilah sama dengan waktu dulu. Wajah orang sakit biasa. Lalu, aku memutuskan untuk tetap ikut. Tiga hari ponselku tidak aktif. Dan, ternyata itu membuat panik semua orang rumah. Saat sudah turun dan dapat sinyal, aku langsung menelepon Elok—saudara perempuan kita yang ke-8. Dari suaranya, aku tidak terlalu merasa bersalah ikut naik gunung. Sudah ada ibuku dan Ni Nur di sana. Aku merasa lega.

Saat naik mobil omprengan untuk pulang, aku mendapat telepon dari Ni Nur.

“Wid, di mana? Kok HP-nya nggak bisa dihubungin? Kirain ada apa-apa sama Iwied.”

“Kemaren lagi keluar kota, ni. Gimana Ni Ros ni?” tanyaku.

“Iwied cepetan pulang. Uni Ros udah nggak sadar …. Iwied juga bikin khawatir aja,” nada suara Ni Nur marah.

Aku tersentak kaget. Belum lama, suara Elok baru saja membuatku lega. Namun, kabar yang ini.... Oh, Tuhan, sekarang, rasa bersalah itu menyergapku. Sangat. Aku segera minta maaf pada Ni Nur, sambil menyembunyikan tangisku di depan anggota baru organisasi.

Aku sudah sampai di rumah sakit besar di bilangan Jalan Raya Fatmawati itu. Aku menunggu di luar. Di dalam ruangan itu sedang ada tiga orang keluarga kita. Kami harus bergantian. Aku resah melihat orang harus memakai pakaian khusus untuk masuk. Begitu khususkah ruangan ini?

Saat memasuki ruangan itu, di sebelah kiriku, seorang pasien tampak sangat parah. Laki-laki tua dengan selang di mana-mana setiap bagian tubuhnya. Lalu, dibatasi dengan tirai kain, di sebelahnya, kau tampak terbaring. Dan, aku menangis. Benarkah itu kau, Ni? Tak kukenali lagi wajahmu. Selang-selang pun telah meraja di setiap tubuh dan wajahmu. Ibu sedang mengelus-elus kakimu. Aku? Aku hanya terpaku. Bagaimana mungkin kau bisa seperti ini? Diam disakiti selang-selang itu.

Ruang HiCare—kata mereka menyebut tempat kau dirawat. Seharusnya, kau dirawat di ruang ICU. Tapi, ruang itu penuh hingga kau tidak bisa mendapatkan perawatan yang sewajarnya. Aku tidak tahu. Kata seorang temanku, saat saudaranya dirawat, mereka juga bilang ruang ICU penuh. Entah siapa yang telah mem-booking tempat itu. Atau, entah siapa yang berani membayar tinggi untuk berada di tempat itu. Kami—yang hanya orang biasa—tidak bisa ke sana.

Aku masih percaya kau akan sembuh. Dan, aku jadi benci pada Ni Nur yang selalu menangis. Seharusnya, dia jadi pegangan keluarga kami. Jadi dokter yang selalu memberikan senyum dan meyakinkan kami akan selalu ada harapan. Tapi, Ni Nur malah selalu menyeka ujung matanya.

Namun, semua jadi berubah. Di ujung lorong rumah sakit itu, Ni Nur menceritakan segalanya. Aku hanya bisa menangis. Tapi, aku masih percaya kekuatan doa. Kau akan sembuh. Belum saatnya kau pergi, Ni. Namun, entah kenapa, kanker yang telah mengerogoti otakmu itu menggangguku dan tidak membiarkan aku dapat berdoa dengan khusyuk.

Kanker otak. Katanya, dokter baru menemukan virus itu menjalari otakmu. Begitu cepatnya. Begitu cerobohnya. Sebelumnya, hasil CT-scan dari rumah sakit internasional yang ada dekat stasiun teve swasta di Kebon Jeruk itu dinyatakan normal. Tidak ada apa-apa.

Namun, nyatanya, hasil itu dapat berubah dengan cepat—dengan waktu singkat, hasil diganosis yang—katanya—normal itu menyatakan informasi lain, dan para dokter itu baru menemukannya. Ada sesuatu yang telah menggerogoti otakmu. Menjalar dari pinggang, lalu ke otakmu. Ah, pantas saja kau katakan kepalamu begitu sakit. Dan, dengan baik hatinya, suster di rumah sakit yang sebelumnya memberikanmu Panadol, obat berlogo biru itu. Namun, aku tetap percaya kau akan sembuh. Toh, baru saja semua diagnosis itu dapat berubah-ubah, bukan? Bahkan, dalam waktu singkat pula.

Saat itu, aku dan Gita sedang makan malam di seberang rumah sakit. Nasi goreng itu masih tinggal setengah saat ponselku dihubungi. “Wid, cepetan ke sini. Ni Ros gawat.” Dan, seperti dalam film-film, aku dan sahabatku itu berlari. Meninggalkan sendok nasi goreng yang hampir masuk ke mulut.

Di ruangan itu, seluruh anggota keluarga diminta berkumpul. Segala alat kejut telah mampir ke dadamu. Bahkan, denyut jantungmu nol. Saat itu, tidak ada dokter yang muncul. Dari curi dengar telepon sang Suster, sang Dokter bilang, bukan dia yang sedang jaga, jadi dia menolak untuk datang. Dan, saat itu, Ni, napasmu sedang berkejaran dengan nyawamu. Dan, dokter itu bilang, dia tak bisa datang karena bukan giliran jaganya—ah, tidak adakah dalam “kode etik” mereka untuk hanya “sekadar” menolong sesama yang sedang membutuhkan?

Hanya seorang dokter koas yang ada. Kak Koas—begitu panggilan suster di sana kepadanya—yang bahkan tidak begitu mengerti letak alat pompa pernapasan dengan benar. Ni Nur sempat membetulkan cara dia memegang alat itu. Masa kritis—yang telah diwarnai doa dan tangis—itu memang lewat. Namun, kau terpaksa memakai alat pompa pernapasan manual. Aku dan dokter koas itu memfungsikan alat itu sampai pagi—butuh satu orang untuk meletakkan corongnya di mulutmu dan satu lagi untuk memompa pompa—napas buatan itu—untukmu. Suster yang sebelumnya memegangi alat itu merasa tangannya pegal. Tentu saja, ia meminta keluarga pasien yang menggantikan. Memang sangat manual untuk mempertahankan detak jantung dan tekanan darahmu. Ah, semua ini gara-gara ruang ICU tidak pernah kosong!

Aku dan dokter koas itu sempat bercakap—mengisi jeda yang kosong di antara malam itu—ternyata, dia baru masuk kuliah di universitas swasta pada tahun 2000—hanya beda setahun saat aku, yang masih fresh graduate ini—masuk kuliah di Fakultas Sastra. Dan, katanya, dia baru saja koas di bagian penyakit dalam. Kepadanya nyawamu dipertaruhkan dalam masa kritis tadi—anak angkatan 2000 yang baru saja koas itu. Baru saja.

Malam itu, sang dokter sempat mampir—dengan lenggang yang begitu biasa. Dia tak tahu bahwa kita baru saja melewati saat-saat yang kupikir hanya ada dalam adegan di film-film. Dia melihat-lihat sejenak, lalu malah menanyakan riwayat penyakitmu. Bukankah itu ada dalam catatan yang selalu diperbaharui setiap pagi-sore oleh dokter dan suster yang bertugas. Lalu, kenapa dia malah bertanya kepada keluarga pasien yang bahkan sulit mengingat apa yang barusan terjadi?

Esoknya, ruang ICU dinyatakan ada yang kosong. Kau dipindahkan ke ruang ICU. Sore hari. Lagi-lagi, adegan dalam film kami lakukan. Kau dibawa dengan dengan brankar yang didorong gerakan cepat—berlari, tepatnya. Alat pompa pernapasan tetap harus dipompa dalam keadaan berlari itu. Betapa sulitnya adegan ini karena kita tidak tahu kapan “Sutradara” mengatakan “Cut!” dan aku berdoa jangan sampai “Dia” mengucapkan itu. Dan, berapa berisikonya alat itu terlepas karena arah yang berbelok-belok.

Sampai juga kita ke ruang ICU. Alat bantu pernapasan otomatis ada di situ—tidak perlu empat tangan untuk memeganginya (untunglah). Tak lama, alat itu telah terpasang dengan baik. Namun, hal itu memperburuk penampilanmu. Mulutmu seperti tercabik karena alat itu. Bahkan, saat melihatmu, Puput, putri kecilmu yang rambut panjangnya selalu kau sisiri itu, langsung menangis di ruang tunggu. Pelukan ayahnya tak dapat meredakan tangis itu. Malah, hal itu ikut melarutkan tangis sang Ayah.

Wajahmu tampak begitu kesakitan dengan alat-alat itu. Namun, keajaiban itu datang. Esoknya, kondisimu pulih. Wajahmu tampak segar. Darah mengalir di pipimu. “Uni sudah baikan,” aku mengabarkan pada kakak pertama kita, yang sedang berada di rumahnya, lewat ponsel. “Alhamdulillah,” jawabnya—kemarin, kakak laki-laki kita itu baru saja datang dan sangat jelas, air mata itu menggantung di matanya. Aku pun ikut mengucap syukur. Namun, tak beberapa lama kemudian, ternyata, aku terpaksa memberi kabar lagi.

Kejadian itu begitu cepat. Aku baru saja selesai membacakan Surah Yasin saat saudara laki-laki kita yang nomor 9 menyuruh aku dan Gita menebus obat ke apotek di seberang. Lalu, seorang kakak laki-laki kita datang dan menyuruhku segera kembali. Kami berlari. Obat telah berhasil kudapat.

Aku masuk ruangan dan segera menyerahkan obat yang barusan kutebus. “Pasien gawat,” bisik-bisik para dokter yang telah berkumpul di dekatmu, Ni. Tekanan darah turun. Detak jantung melemah. Padahal, alat otomatis membantumu. Tidak ada tangan-tangan yang pegal memegangi pompa napas buatan. Dan, mereka—para dokter itu—telah berdiskusi sejak tadi. Aku tidak tahu, ternyata, mereka telah memperkirakan kepergianmu, Ni. Obat yang kubawa masih ada dalam plastiknya. Dan, jantungmu telah berhenti berdetak…. Alat-alat itu tak lagi menangkap kehadiran segala detak. Waktu pun berhenti untukmu. Benar-benar berhenti.

“Uni sudah pergi,” ucapku lewat telepon genggam pada kakak tertua kita itu. Padahal, baru saja aku kabarkan ia tentang wajah Uni yang dialiri darah. “Sabar, sabarlah ...,” kata kakak kita itu dari jauh.

Aku mencari bahu untuk dipeluk. Dan, aku menemukan Ibu.

“Sudahlah, Nak…,” kata Ibu. “Lihatlah, Amak. Amak sudah sering dilamun ombak. Tapi, Amak tetap bertahan. Sudahlah….”

Hanya itu kata-kata Ibu. Tangisnya juga pecah. Namun, dia mencoba tetap membuatku kuat. Amak memang kuat. Tiga buah hatinya telah pergi dengan cara yang meminta air mata untuk tumpah.

Belum lagi, kepergian Bapak… dan banyak lagi kepergian yang telah disaksikan Amak. Dan, sekarang, Amak tetap berdiri dengan tangan yang mendingin. Dinding menyangga tubuhnya yang merapuh. Air matanya tak tampak. Entah pada kepergian yang mana air matanya itu habis.

Di luar, tangis Puput seakan-akan menembus sampai ke ruang tempat kau tutup matamu, Ni. Dan, aku tak bisa membayangkan wajah bingung Cipa—yang saat itu sedang senang-senangnya bernyanyi “Citak-Citak Dindinding” sesuai lafal lidahnya—saat tak menemukanmu lagi di pagi hari saat dia terjaga. Dan, aku tak bisa membayangkan reaksi Riyan yang saat ini masih berada di sekolahnya.

“Pukul 14.05,” kata dokter, “saya nyatakan pasien meninggal dunia,” lanjutnya.

Ah, seadainya dapat memilih, aku tidak mau jadi tokoh dalam cerita ini.

Ini terlalu sedih untuk menjadi akhir cerita.

Dan, lanjutan cerita masih juga cerita sedih….

Tuhan, maaf jika aku juga ceritakan kisah ini dalam cerita sedih. Maafkan aku saat ini. Aku tidak bisa berdiri dari sudut yang berbeda dan melihat kisah ini dalam warna yang berbeda. Bukan hanya hitam dan abu-abu. Maafkan aku saat ini.

—tapi, aku tahu ada yang Kau sembunyikan dari kisah ini—


gambar di sini!

Thursday, May 28, 2009

mewarna



"aku kehilangan warna," katanya.

sementara, gegas orang-orang semakin jauh. dan mereka mewarna. dalam gegas sendiri.

Monday, May 04, 2009

Di Stasiun

"Temui aku di stasiun kereta pagi ini," katanya.

Pagi masih jauh. Perempuan itu telah bergegas. Dalam perjalanan itu, ia sibuk merangkai mimpinya. Mimpi yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Seseorang memintanya datang ke stasiun kereta. Seorang laki-laki. Entah siapa. Wajah dalam mimpi itu buram. Seperti halnya mimpi-mimpi lain yang pernah ia alami dalam tidur-tidurnya–sepanjang malam sebelum mimpi kali ini. Buram. Tak berwarna. Tak berujung. Bahkan, kadang tanpa awal. Dan, entah terjadi di kota mana.

Hanya mimpi, pikir perempuan itu. Awalnya. Namun, malam-malam selanjutnya ia bermimpi hal yang sama. Persis. Mimpi yang ada akhirnya. Berakhir pada saaat yang sama. Pada ucapan laki-laki itu, "Temui aku di stasiun kereta pagi ini". Ucapan yang sama. Ucapan yang begitu jelas hanya untuk sekadar mimpi.

Perempuan itu bergegas ke stasiun kereta. Pagi masih jauh. Namun, perempuan itu tidak ingin pagi mendahuluinya. Ia yang akan menunggu.

Kereta pertama pagi itu datang. Perempuan itu telah di sana. Ada yang memintanya menunggu di stasiun kereta.

Kereta menghentikan deritnya.

Perempuan itu menunggu. Wajah laki-laki dalam mimpinya itu tak jelas. Buram. Tetapi, perempuan itu akan mengenali laki-laki itu. Ia tahu. Entah karena apa. Perasaan perempuan itu begitu yakin. Ia akan tahu begitu melihat laki-laki itu. Mungkin mereka telah bersama saat kehidupan belum tercipta. Ia akan mengenali laki-laki itu. Ia tahu.

Orang-orang dari dalam kereta bersirebut turun.

Napas perempuan itu memburu.

Thursday, April 30, 2009

ketika jarak menjadi samar, tak lagi terbaca



ya,
aku masih ingin berjalan bersama-Mu
jangan lepaskan genggaman tangan-Mu, kumohon

jangan biarkan aku mengabutkan waktu, mengaburkan arah-Mu
aku masih ingin menuju-Mu. selalu.


the picture!

Wednesday, April 22, 2009

Nasib Mereka di Ragunan





orang-orang datang ke kebun binatang itu, termasuk saya, gita, dan dua orang keponakan saya.

mencari kandang beruang pun penuh perjuangan. petunjuk arah di tempat itu benar-benar menyesatkan--apalagi, bagi saya yang buta arah.

setelah putar sana sini di tempat wisata yang cukup luas itu, beruang itu pun kami temukan, menyambut kami. jauh dari kesan "lucu" yang harusnya menjadi konsep umum untuk beruang--apalagi buat beruang madu.

"kasian banget beruangnya," celetuk lirih ponakan saya yang berumur lima tahun. saya menghela napas panjang.

yah, mungkin memang itulah risiko wisata murah.
tapi.... ah, memang kasian sekali nasib mereka.

Tuesday, April 14, 2009

Suatu Malam di Margonda

Sudah lama saya tidak mencuri dengar percakapan orang. Beberapa hari sebelum ini, di kios kebab di pinggir Jalan Margonda, saya—saat itu lagi nunggu sendirian—menangkap percakapan yang menurut saya menarik. Percakapan antara mas-mas penjual kebab dan seorang pengamen (tampaknya, kedua orang itu sudah saling kenal).

Awalnya, saya pikir, dia mau ngamen di depan saya dan dua orang pembeli lainnya. Namun, dia malah menaruh gitarnya dan mengambil kursi plastik. Nggak lama, si mas-mas tukang kebab mau menukar uang ribuan pada si pengamen.

“Tuker duit, dong,” kata si tukang kebab ke si pengamen.

Si pengamen berdiri dan mengeluarkan uang ribuannya. "Tau dah, cukup apa kagak," katanya dengan logat yang terdengar pas banget dengan lidahnya.

Dia mulai menghitung uang ribuannya di samping gerobak kebab itu, yang menghadap melintang dengan jalan. "Satu, dua, tiga ...." Dia menghitung uang itu dengan tangan kanannya, dengan mulut berkomat-kamit.

Saya melirik ke tangan si pengamen yang ada di depan saya itu, penasaran berapa uang yang dia dapat dan ikut menghitung juga dalam hati.

"Genepin aja," kata si mas-mas kebab sambil memasukkan sebungkus kebab ke dalam plastik—pesanan dua orang yang di sebelah saya.

Dia berhenti menghitung, saya juga. "Yah, cuma lima belas rebu," katanya sambil menyisakan beberapa lembar di tangan kiri. Mungkin, dua atau tiga ribu.

Setelah acara tukar-menukar, dia duduk di bangku plastik di sebelah kiri saya. Dua orang yang tadinya duduk di sebelah kanan saya sudah beranjak pergi. Pesanan kebab mereka sudah selesai.

Pesanan saya, tiga buah, baru mulai dibuat. Bakal makan waktu cukup lama nih, pikir saya dan mulai gelisah karena jalanan mulai sepi.

"Iya, sih, ngamen emang lebih gede dapetnya daripada kerja di pabrik," kata si tukang kebab. "Tapi, apa lo mau kayak gitu terus?"

“Iye, sih.” Si pengamen hanya senyum-senyum sambil mengambil minuman gelas dalam boks biru minuman dekat gerobak kebab.

“Kerja jadi SPG di Detos aja sebulan cuma dapet 800 rebu. Mending kalo rumahnya deket. Nah, kalo jauh, abis diongkos doang mah,” kata si pengamen lagi.

“Lo di mana tinggalnya?” tanya si tukang kebab.

“Noh, di Kober,” sahut si pengemen yang pake anting-anting di telinga sebelah kanannya itu, menyebutkan jalan yang tidak jauh dari kosan saya. “Selama ngamen, baru motor atu hasilnya,” lanjut si pengamen itu lagi.

“Motor apaan?” tanya tukang kebab. Saya semakin memasang kuping.

“RX King, taun 2004. Berapa, yak, lima belas juta,” sahut si pengamen.

Saya melongo. Hah? Lima belas juta? Itu hasil ngamen? Saya bertanya-tanya sendiri dalam hati.

“Berapa taun, eh berapa lama, tuh bisa dapet segitu?” Meskipun dia berusaha menyembunyikannya, jelas dalam suara si tukang kebab itu juga tersirat nada takjub atau lebih tepatnya, tak percaya.

“Berapa, yak? Ada kali dua taun,” jawab si pengamen. “Lebih kayaknya.”

“Tunai?” tanya si tukang kebab. Dia seakan-akan bisa membaca pikiran saya. Saya juga masih bertanya-tanya tentang uang lima belas juta itu.

“Iyak, kagak sanggup kalo kredit,” katanya.

Saya langsung membayangkan uang lima belas juta milik pengamen itu—dengan rasa iri. Hehe. Wow! Saya, bekerja hampir tiga tahun, bisa nabung berapa, ya? Wuahh…, nabung baju-baju doang di lemari. ;p Bisa beli apa, ya? Duh, nggak ada yang nilainya sampe lima belas jutaan tuh. Hebat juga dia bisa nabung segitu. Tapi, itu hasil ngamen semua? Pikiran-pikiran curiga mulai memenuhi benak saya.

“Oh…,” gumam si tukang kebab. “Iya, sih, gue juga mikir kayak lo dulu. Tapi, setelah gue kerja di sini, gue bisa nabung,” katanya sambil sibuk mengambil sayuran di ember di belakangnya, lalu memotong-motongnya cepat. Tampaknya, dia juga tak percaya akan hasil yang didapat si pengamen, tapi dia tidak mau berpikir bahwa pekerjaan jadi pengamen mengalahkan usaha yang dibangunnya. “Gue udah bisa buka usaha juga di daerah gue, Surabaya. Usaha kayak gini juga,” jelasnya sambil memotong daging untuk kebab pesanan saya dari pemanas daging.

Si pengamen cuma mengagguk-angguk. Entahlah, menurut saya, dia tidak berminat beralih profesi.

“Percaya nggak lo kalo dua tahun usaha ini bisa bikin rumah?” tanya si tukang kebab.

“Percaya,” sahut si pengamen cepat.

Saya pun langsung mengiyakan dalam hati.

Tampaknya, ketika mengajukan pertanyaan itu, si tukang kebab ingin mematrikan dalam dirinya dan juga dalam diri si pengamen bahwa bagaimanapun, usaha lebih baik daripada ngamen.

“Iye, di Margonda, apa aja mah laku.” Si pengamen memberi alasan.

“Nggak juga,” sanggah si tukang kebab. “Tuh, ayam bakar di sebelah mau tutup, bangkrut,” lanjutnya sambil menunjuk sekilas ke kios di belakangnya. Lalu, sibuk lagi membakar pesanan saya.

Saya ikut melihat ke arah tunjuk si tukang kebab sambil berguman, “Ooh….” dalam hati.

“Eh, ajarin main gitar, dong,” kata tukang kebab, mengalihkan obrolan. “Lo jago, kan, maennya.”

Si pengamen hanya tergelak, tampak tak percaya diri. “Yah, begitu aja, mah. Yang suaranya bagus mah cuman si Aris”—kayaknya dia nyebutin Aris yang menang Indonesian Idol itu.

“Kalo gue mah sukanya cuma ama grup Netral,” kata si mas-mas kebab, tidak melanjutkan obrolan tentang si Aris. Yah, padahal, saya pengen tahu gosip tentang Aris yang meninggalkan istrinya setelah dia jadi terkenal.

“Pasha juga,” kata si pengamen. “Dia mah bagusnya waktu ada Enda doang.”
Saya kurang menyimak. Dia ngomongin grup Ungu, ya?

“Dua tahun lalu, Pasha masih di Blok M tuh dia,” sambung si pengamen. Saya kurang menyimak obrolannya. Maksudnya, Pasha Ungu dulu ngamen juga, ya? Masa, sih?

Obrolan semakin hangat, nih. Tapi, kayaknya, kebab pesanan saya juga udah hampir siap.
“Yang deket sini lagi tuh gitarisnya Bunga,” kata si pengamen.

Si tukang kebab tidak merespons, tampaknya dia kurang familier dengan nama band yang dulu—kalo nggak salah—populer dengan lagu, /Kaasih, jangan kau pergi…/ na na na na na na…/

“Itu, yang dulu, yang sebelum anaknya Iwan Fals meninggal,” lanjut si pengamen. “Galang Rambu Anarki.”

“Oh, itu, yang anak Iwan Fals,” ulang si tukang kebab menyebutkan nama salah satu penyanyi favorit saya itu. “Siapa namanya?” tanyanya. Kayaknya, dia nggak denger kalo tadi si pengamen udah nyebutin nama anak Bang Iwan itu.

“Galang Rambu Anarki,” ulang si pengamen.

“Iye, si Galang itu.” Si pengamen menegaskan. “Dah meninggal, kan, ya?” Tukang kebab itu sudah membungkus kebab pesanan saya dengan kertas roti—bungkusan pertama.

“Iya, OD,” sahut si pengamen, merasa bangga dia tahu informasi itu.
“Eh, dia meninggalnya di daerah gue tuh, di Surabaya,” kata si tukang kebab. “Beneran deket rumah gue.” Tiba-tiba saja, si tukang kebab tahu sekali tentang peristiwa itu. Saya kurang tahu juga, Galang meninggal di mana, ya?

“Noh, Iwan Fals mau nyalonin diri jadi presiden,” celetuk si pengamen. Dia tertawa tertahan. “Gimana mau ngejaga negara, ngejaga anak aja kagak bisa,” lanjutnya.
Eh, dia ngomongin penyanyi favorit saya itu, ya? Ah, itu kan, masa lalu, Mas… hehe. 

Si tukang kebab juga tidak menanggapi. Dia sibuk memasukkan kebab saya ke dalam bungkus khas-nya, kertas keras berbentuk persegi panjang agak mengerucut, berwarna kuning dengan tutup flip lipat yang ujungnya bisa diselipkan—hehe, deskripsi saya nggak bisa dibayangkan, ya? ;p

Saya berdiri, memberikan uang lima puluh ribuan pada si tukang kebab.
Si penjual kebab memberikan kantung plastik berisi tiga bungkus kebab, kemudian mengembalikan uang saya tujuh belas ribu rupiah.

Saya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan kedua orang itu. Entah apa lagi yang mereka percakapan. Mungkin tentang Pasha Ungu tadi. Hehehe. Beneran dulu dia ngamen di Blok M?

Wednesday, April 08, 2009

Carano

sumber foto: koleksi pribadi


Carano adalah syarat meminang, kata Amak sambil mengalati isi carano itu. Sirih lengkap dengan kapur, gambir, pinang, dan juga tembakau. Kata Amak, dalam rasa sirih yang pahit dan manis, ada simbol harapan dan kearifan manusia menyikapi kekurangannya. Arai pinang berwarna kuning jernih pagi melingkari sekeliling bagian dalam carano yang terbuat dari kuningan itu. Menjaga harapan dan kearifan. Dalamak, kain dengan motif warna merah, kuning, hitam, serta kilapan benang emas dan cermin-cermin kecil—yang membawa warna kebahagiaan yang sakral—menutupi carano yang telah lengkap.

Sunday, March 08, 2009

SAYEMBARA KUCING MELULU & CERITA CINTA (ME)LULU: Antara Kamu, Gebetan, dan Peliharaan



Punya cerita menarik tentang kamu, gebetan, dan hewan peliharaan?
Segera tuliskan cerita menarik yang pernah kamu alami itu!
Rebut hadiah untuk 15 cerita paling menarik dan terfavorit.

>> Lima (5) cerita paling menarik akan mendapatkan @Paket Buku Senilai RP150.000 + satu buah kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

>> Sepuluh (10) cerita favorit akan mendapatkan @kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu + tas keren GagasMedia.




Syarat Lomba:
* Cerita orisinal (asli), bukan jiplakan.
* Boleh ditik/ditulis tangan (dengan huruf yang dapat dibaca dengan jelas).
* Jumlah halaman tidak dibatasi.
* Menyertakan struk pembelian (asli dari toko buku/tidak boleh fotokopi) novel Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, karya Widya Octavia (GagasMedia, 2009).
* Naskah ditunggu selambat-lambatnya pada 30 Mei 2009 (cap pos).
* Tuliskan biodatamu plus alamat lengkap (+ nomor telepon yang dapat dihubungi) dan masukkan ke dalam amplop tertutup, beserta CD-nya, ya.
* Tuliskan “Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu” di pojok kiri amplop.

Kirimkan ke:
Redaksi GagasMedia
Jalan H. Montong No. 57, Ciganjur, Jagakarsa
Jakarta Selatan, 12630

Pemenang akan diumumkan pada 15 Juni 2009
di http://www.gagasmedia.net/


So, ayo rebut hadiahnya!
Sstt! Mana tau, ceritamu juga bisa jadi calon novelmu sendiri. (^_^)
Tunggu apa lagi? Segera tuliskan ceritamu itu!

hari tidak lagi menyenja



hati-hati dengan keinginanmu,” kata seorang teman. jamuan perkenalan sore itu penuh gelak tawa, seakan-akan kami sahabat lama. 
 
tapi, mungkin juga karena dia telah menjelma keinginan, mewujud cinta. ah, terbaca jelas bahagia di matanya.
“hati-hati dengan keinginanmu karena suatu saat keinginan itu akan terwujud.”
percakapan pada pertemuan pertama itu berisi lembaran-lembaran cerita lama. menyenangkan memang jika kita membuka lembaran pada kisah yang sama.
aku teringat kau,
teringat pada percakapan di bawah hujan, di antara langit yang menyenja. percakapan yang kehilangan tawa.
kata-kata seorang teman itu terus saja menggema.
dan, percakapan kita itu pun seakan-akan menguar di udara. 
 
ya, aku akan belajar hati-hati dengan keinginanku.”

margonda raya, 7 maret 2009


Friday, February 27, 2009

Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

mungkin, kisah kita dan LULU sama,

mungkin, harapan kita dan LULU sama

mungkin, peliharaan kita dan LULU sama

mungkin, yang PERLU kita baca sama

hehe, ini novel remaja yang saya tulis ^_^

beli, ya. hehe.





sekilas yang LULU rasa ;)

Bodoh! Kenapa aku ngaku-ngaku miara kucing persia di depan Gilang yang cute itu, sih? Tapi, mana aku nyangka kalau dia beneran mau liat “kucing persia imajiner”-ku itu. Arrrhgh… aku bingung. Seumur hidup, aku belum pernah miara kucing, apalagi kucing persia!

Trus, aku harus gimana? Aku enggak mau Gilang ilfil gara-gara tau aku boong. Tapi, aku harus beli kucing persia di mana? Mana mahal lagi, belum lagi ngerawatnya. Di kosan pula. Gimana cara mandiinnya? Bersihin eeknya? Arggghhh! Tapi, aku HARUS miara kucing persia!

Reya dan Nino nganggap aku berlebihan. Nino malah bilang aku terobesi sama Gilang. Dih, cowok tau apa tentang cewek yang lagi jatuh cinta? Tapi, aku juga enggak tau apa-apa tentang kucing persia!


(penerbit: GagasMedia)

lalu

lalu, samar
sebelum gelap

aku tak ingin di sini terlalu lama

Februari Lagi (Surat Keempat)


Maaf, surat kali ini terlambat. Semoga tetap sampai, menggenapi tiga suratku sebelumnya. Ya, tahun keempat. Tanpa terasa.

Kali ini, musim masih tidak jelas. Hujan datang tiba-tiba, setelah panas yang begitu menyengat—hingga kepala seolah-olah menyimpan panas yang melama. Ah, maaf, aku bercerita tentang cuaca, bukan karena tidak ada percakapan, hanya ingin menceritakan seperti apa bulan kelahiranmu—kelahiranku?

Oh, ya, aku belum sempat ceritakan yang ini. Sebuah foto kecilku yang kutemukan setahun lalu—ya, setahun lalu aku mengunjungi rumah masa kecil kita, yang semakin tua. Tapi, baunya masih sama. Bau masa lalu, masa kecil kita yang tak terlalu banyak, mungkin hanya ada di salah satu sudutnya. Andai kau ada di sana, aku pasti betah berlama-lama, minta kau antar sana sini, minta (menyuruh) kau belikan ini itu.

Ah, aku melantur. Aku ingin bercerita tentang foto itu. Dalam foto itu, aku mungkin berusia dua tahun, dengan rambut keriwil yang dipotong pendek, dan pipi yang—uh!—tentu saja tembam. Kau pasti belum pernah melihat foto kecilku, ya?

Foto itu kutemukan saat aku sedang menyelamatkan foto keluarga kita yang melama. Kau ingat, kan, lemari kayu yang ada di ruang tengah itu. Foto keluarga kita ada di laci kaca, di sebelah kiri. Semakin tidak terawat—seperti rumah masa kecil kita juga, yang ditinggal semua (13) tangisan yang dulu diredam tembok-temboknya. Ah, rumah itu semakin sepi—kau pasti tahu bagaimana rasanya (semoga tidak kau rasakan di sana).

Tapi, kau jangan marah, ya, kalau aku ceritakan apa yang ada di foto itu. Aku juga tidak tau yang mana yang benar. Jadi…, di belakang foto itu, dituliskan namaku dan tanggal lahirnya. Setelah bulan ini, pada angka ke-11. Masih angka kembar juga, meski bukan 22. Yup! Bukan yang selama ini selalu kutuliskan dalam formulir-formulir buat masuk sekolah itu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa salah. Kalau hari lahirmu pasti benar—hari lahirmu tercatat di tembok rumah kita, aku juga ingat itu.

Jadi, kita tidak lahir di musim yang sama ternyata. Seperti itu yang tertulis. Dan, itu baru kuketahui setelah hampir 26 tahun kemudian. Selama ini, aku mengingat kelahiranku sebulan lebih awal. Jadi, ya, begitu. Aku menabung 26 bulan, ya berarti. Hehe.

Hei, tenang saja. Aku masih percaya, kok, kita dilahirkan pada musim yang sama. Aku juga suka musim penghujan ini—yang kata orang musim cinta.

Bicara tentang cinta, mungkin sebenarnya ada yang mau kuceritakan. Tapi, ah, entahlah, terlalu rumit. Tidak apa-apa, kan, kalau tidak kuceritakan?

Apa kabarmu?—belum sempat kutanyakan. Kabarku, semakin payah. Semakin perlu lama berpikir ketika masuk pintu dorong/tarik yang tidak ada tulisan “dorong” atau “tarik”-nya. Semakin perlu diam dalam beberapa jeda untuk menentukan pintu itu didorong atau ditarik. Padahal, kalau saja aku memilih salah satu dengan cepat, toh, kalau salah, aku tidak akan dipenjara ataupun mati saat itu juga.

Itu juga terjadi di tempat kerjaku dulu—dua tahun yang lalu. Saat makan siang, aku tidak mau berjalan di depan. Aku takut harus jadi orang yang membuka pintu ruang makan itu—pintu dorong/tarik—yang tidak ada tulisan dorong/tarik-nya.

Sampai hari terakhir aku di sana, itu pun masih terjadi—yang berarti, hampir satu tahun aku melihat orang membuka pintu itu—entahlah, aku lupa, didorong atau ditarik. Entah kenapa, hal ini sering kualami.

Dan, sekarang, semakin parah. Aku butuh waktu lama untuk berdiri di depan pintu semacam itu. Dorong atau tarik. Hanya dua pilihan. Hanya dua kata yang sederhana. Dan, aku terjebak sangat lama di sana. Ah, kakakmu ini semakin payah, bukan?
Haa, harusnya ini tidak kuceritakan padamu. Sudahlah, lupakan saja.

Ah, ya, kau tahu, dalam empat tahun ini, kita sudah punya (wow!) lima orang keponakan lagi. Semakin banyak. Mereka lucu-lucu, kau pasti senang menggendong mereka. Tangis dan tawa mereka semakin memenuhi ruang-ruang. Membawa bahagia. Sayangnya, mereka tidak sempat mengenalmu....

Apa kabarmu di sana?
Malam selalu dingin di sini. Di sana? Semoga doa-doa yang membubung menjelma menjadi selimutmu, semoga dapat menghangatkanmu. Maaf jika doa terkadang diucapkan terlalu cepat. Apa mungkin karena waktu terlalu cepat berdetak juga—entahlah.

Apa kabarmu di sana?

Kami di sini rindu.


p.s.

oh, ya, novelku sudah terbit, cerita cinta remaja. ada namamu kusebut di sana. aku bisa membayangkan tawamu saat membacanya. dan pasti kau tidak akan sampai habis membacanya. minat bacamu memang payah. Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, itu judulnya.

Saturday, January 17, 2009

yogyakarta, suatu hari





@23--27 desember 2008

"dan, doa-doa menjelma, bukan?
semoga tahun-tahun tidak lagi seperti hujan
jatuh, lalu menghilang ke muara."

di parangtritis

laut masih seperti biasa, kata mereka
bersiteru dengan tepiannya
entah siapa yang akan kalah

di parangtritis
seorang perempuan menjajakan masa lalu
bersiteru dengan hatinya
entah siapa yang akan menyerah















@parangtritis, yogyakarta, 27 desember 2008

Sunday, January 04, 2009

hujan kali ini




hujan mengaburkan langkah-langkah
mengaburkan suara-suara
membunuh bayang-bayang
tapi, mungkin tidak menghayutkan doa-doa


jika suaramu tak kudengar,
maukah kau meraih lenganku?
atau bahkan, menghadang langkahku?
mungkin, langkahku terlalu riuh menikmati hujan, menghitung rimisnya
mungkin, aku akan terlalu lama berada dalam langkah ini
bersama rintik ini
hingga tiba-tiba saja mungkin akan sudah terlalu jauh. sangat

jika suaramu tak kudengar,
maukah kau meraih lenganku?
atau bahkan, menghadang langkahku?
kau tahu, aku akan sangat menyesal tidak mendengar suaramu
aku ingin tahu apa yang kau akan katakan. aku selalu ingin tahu
kau-aku tahu, bukan hujan ini yang aku tunggu


jika suaramu tak kudengar,
maukah kau meraih lenganku?
atau bahkan, menghadang langkahku?

hujan mengaburkan langkah-langkah
mengaburkan suara-suara
membunuh bayang-bayang
tapi, tidak menghayutkan doa-doa, bukan?

curiosity killed the cat?





entahlah.

Monday, December 22, 2008

Maafkan Saya. Lagi.




akhir-akhir ini--ah, bukan, sudah jauh sejak sebelumnya--saya mengizinkan diri saya menyakitinya. bahkan, mungkin, sehelai demi sehelai, kebencian--bukan lagi kekesalan--itu telah menumpuk. buat saya. memang sewajarnya saya dapatkan. lalu, saya bersiteru dengan ketakutan itu--ya, saya memang selalu takut untuk dibenci. naif.

lalu, saya mendapati diri saya yang telah menjelma wujud kebencian itu. saya semakin ketakutan. dan, saya bilang saya tidak menyadari. padahal, kali ini, jelas-jelas saya yang "mengizinkan" diri saya menyakitinya, membuatnya terluka. sampai pada ceruk yang tak saya ketahui lagi.

ah, saya benar-benar telah mengizinkan diri saya untuk membuatnya berkaca-kaca--bukan, bukan, saya membuatnya tak mampu lagi mengeluarkan air mata. malam-malam lalu sudah sejak lama diam-diam menghapus air matanya. hingga kering, tak bersisa lagi. betapa berdosanya saya.
saya memang benar-benar telah menjelma kebencian itu.

lalu, tiba-tiba saja, saya ingat seorang junior di tempat kami dahulu tinggal, sekitar empat atau lima tahun silam. entah kenapa, kami begitu kesal (mungkin juga sangat-sangat tidak suka, membenci) dirinya, seorang laki-laki kurus tinggi. saya masih ingat wajahnya yang lonjong. kulitnya yang kuning pagi.

awalnya, mungkin kami tidak membenci dia. hanya semacam tidak suka. entah karena apa. mungkin sikapnya, tingkahnya. lalu, bertambah lagi ketidaksukaan kami. logatnya, suaranya, bahkan derap langkahnya. kami tidak suka. lama-kelamaan, kami semakin tidak suka. dan, seiring waktu, semua itu berubah jadi rasa benci. kebencian. sebenarnya, semua itu memang tidak tiba-tiba, seiring waktu.

namun, itu tanpa kami--bahkan, laki-laki kurus itu--sadari.
yang kami tau, setiap bayang dia mengintip, hati kami panas, kebencian kami terbit. dia menjadi sungguh-sungguh mengancam mata. menjadi orang yang (selalu) tidak tepat dalam ruang. di sudut mana pun.

saya ingat laki-laki itu beberapa hari ini, saat saya berdiri di tepi jalan, saat saya menyeberang, bahkan saat saya akan menutup mata untuk tidur.
lalu, saya merasa ganjil ketika saya menjadi sering ingat untuk menelepon ibu saya, menanyakan kabarnya. ah, apakah saya takut? entahlah.

ah, saya sering kali terjebak pertanda. ingin selalu membacanya--sekadar iseng, pada mulanya.

dan, saya menjadi ketakutan untuk tiba-tiba ingat laki-laki dengan garis wajah melayu itu. ingat ketika kabar itu datang tiba-tiba saat kami makan malam--saya ingat kami meninggalkan makanan kami yang masih separuh. mengejar berita ke teras kantin dengan meja-meja kayu cantik itu. menyerbu. bahkan, ikut menitikkan air mata.
malam itu, magrib baru saja lewat, laki-laki itu--yang menjelma kebencian bagi kami--dijemput-Nya. dengan kereta yang melaju dengan begitu kencangnya. membelah malam yang belum begitu kelam. kabarnya, ia Pergi sehabis menanyakan kabar orangtuanya.

ah, dia meninggalkan ulah, kata orang-orang. biar dikenang.
dan ia berhasil. dia masih bersemayam di salah satu sudut--mungkin di ceruk yang tak akan pernah jauh--kepala saya, kepala kami.

dan, saya, tiba-tiba saja, akhir-akhir ini, saya ingat dia. di jalan raya. ketika memejamkan mata.

ya, saya takut.
saya telah mengizinkan diri saya membuat seseorang terluka. dengan ceruk yang begitu dalam.

saya takut menjelma kebencian. saya takut menjelma laki-laki itu. sementara, seseorang itu masih berdiri di sana, tak mampu lagi mengeluarkan air mata, tak mampu lagi menjahit hatinya seperti semula--bahkan mungkin memang tidak akan bisa lagi. mungkin tambalan bongkar pasang telah di sana sini, saya juga yang membuatnya. dan hanya maaf yang saya mampu kirim padanya. yang sebelumnya, telah dia terima, lalu saya ambil lagi, dengan paksa (itulah yang menyebabkan tambalan sana sini itu, semakin tidak berbentuk). maaf dan maaf hanya saya tebarkan. ke udara kosong.

kali ini, saya kirimkan lagi. maaf. untuk semua. untuk semua.

ah, saya takut. saya takut dia tidak memaafkan saya--lagi. padahal, saya begitu menyayangnya--juga telah begitu melukanya. ah, saya, saya begitu naif, tidak pernah ingin dibenci, ingin selalu dia ada. sementara saya melangkah dengan langkah saya. betapa egoisnya saya, manusia.

saya takut. saya takut menjelma laki-laki yang Pulang bersama kereta senja kemalaman itu. saya takut menjelma laki-laki itu saat seseorang inginkan hatinya membeku biar tidak terasa lagi luka itu.

dia meninggalkan ulah, kata orang-orang selama beberapa hari waktu itu.
ah, saya tidak ingin percaya pada pertanda.

dan, jika perjalanan ini masih jauh, temani saya lagi. agar semua tidak tanpa arti. saya mohon.
terlalu tinggikah harap saya?


--maafkan saya. lagi. untuk semua. kemarin, hari ini, dan esok. maafkan saya. lagi.

Tuesday, October 28, 2008

Kau Tahu




sayap ini semakin rapuh
tak mampu bawa harapan dan doa itu meninggi lagi
sudah sejak lama, aku tahu
ia membenci angin,
tapi selalu ingin terbang
ia membenci arah,
tapi selalu ingin kembali ke pondok di tepi sungai itu

kali ini,
kau tahu siapa yang akan menyerah
bukan kalah, hanya terlalu lelah

Patah



ada dahan yang patah pagi tadi
di jalan yang kulewati dengan gegas yang terburu-buru
mungkin hujan semalam begitu deras
entahlah--aku begitu lelap
merekatkan keping-keping mimpi--yang tak akan kuselesaikan, sungguh

dahan itu patah pagi tadi atau sudah sejak malamnya?
dihempaskan angin? berderakkah suaranya?
entahlah
yang kutahu, ia patah

padahal, kemarin, di sana, bau rumput yang dipotong disesap pagi
tak sempat kumasukkan tabung kaca, seperti aroma senja yang lalu itu
--aku juga terlalu terburu-buru kali itu

ah, sudahlah,
sepertinya, aku hanya perlu tidak terlalu terburu-buru


Teluk Mandar, 28/10/08

Monday, October 27, 2008

Perompak




Dia pikir, kematian suaminya dapat membuatnya tenang. Bahkan, bisa dibilang, dia mengharapkan kematian suaminya itu. Mungkin, telah bertumpuk-tumpuk doa agar kematian itu segera tiba.

Ah, mengingat saat suaminya pulang, ia selalu seperti melihat seorang perompak pulang, dengan sekeranjang luka, buatnya.

Dan, sekarang, kematian itu menjelma. Namun, entah kenapa, rindu pun ikut menjelma.
Usianya semakin akrab dengan senja, saling menyapa dan menitip salam. Dan, tiba-tiba saja, dia rindu pada wajah perompak itu, pada dekapnya yang mengguratkan banyak luka di setiap sudut tubuhnya.

Dia tidak hanya sekadar rindu. Dia ingin perompak itu ada di sini. Dia dalam ketakutan sekarang. Di antara deru hujan yang terdengar lebih menakutkan daripada gemuruh suara perompak itu, suaminya yang telah menjelma kematian.

Benarkah, ia kehilangan? Kehilangan sekeranjang luka itu? Entahlah.
Dia tidak dapat jernih berpikir. Di sudut kamarnya, onggokan batu hitam meninggi. Tembok batu hitam yang dibangunnya--antara dirinya dan diri perompak itu--luluh lantak. Membuka ruang yang ada di balik tembok itu.

Kemarin, baru saja kemarin, semua onggokan batu itu berjatuhan--entah siapa yang menjatuhkannya. Ia begitu ketakutan. Akan sesuatu yang ada di balik tembok itu. Yang selama ini ia takuti. Tapi, nyatanya, tidak ada apa-apa di balik tembok batu itu.

Tidak ada apa-apa di sana. Jadi, apa yang ia takuti selama ini?
Ia hanya menemukan dirinya. Sendirian.
Perompak itu sudah menjelma kematian.
Sekeranjang luka pun tak pernah ia bawakan lagi. Atau, memang tidak pernah ia bawakan?

Saturday, August 16, 2008

Jodoh?




Beberapa hari lalu, Andri, si littlegurl, datang ke kosan—-sahabat saya ini emang ngerti banget sama kedua sahabatnya, saya dan Gita. Karena itu, setiap datang, tak luput dia membawakan kue buatan sang Ibu. Enak banget, lho, kue buatan ibunya Andri. Ada sosis solo, apple pie—-you must try!, dadar gulung, chiken pie—-eh, apa, sih, Ndri, nama kue yang isinya ayam itu? Yang mirip sama apple pie itu, lho?—sampai dodol (eh, yang ini, mah, oleh-oleh dari Jawa).

Nggak cuma kue, Andri juga suka membawakan lauk-pauk, mulai dari kering tempe, kikil, sampai ayam goreng. Sedap! Pokoknya, makanan apa pun buatan ibunya Andri—katanya, Andri juga suka bantuin makanya nggak mau lama-lama mampir di kosan ;p—enak banget. Katanya lagi, Ibu Andri juga bikin ayam bumbu rujak—-wah, yang ini saya belum nyobain, soalnya belum pernah dibawain. Hehe. Kalau mau tahu lebih lanjut, bisa hubungi Andri langsung aja. Menerima pesanan, kan, ya, Ndri? ^_^

Oh, ya, sebenernya, saya sedang teringat percakapan tempo hari dengan Andri. Jadi, pas lagi ngobrol-ngobrol—-lupa ngobrol apa—-tiba-tiba aja, kita ngomongin reality show gitu, deh. Oh, iya, jadi, saya dan gita lagi cerita reality show tentang seorang cewek yang backstreet dari abangnya.

Terus, pas mau ngasih tahu abangnya, ternyata, si abang tahu “sesuatu” tentang si cowok itu. Sempet hampir tonjok-tonjokan gitulah dan, tentunya, tangis-tangisan si cewek (pasti nggak terlewatkan, deh, dalam acara macam gitu. Mas Ia yang gape banget soal pertelevisian negeri tercinta kita ini pasti lebih tahulah. Ya, nggak, Mas Ia? Kayaknya, Mas Ia nonton juga, nih, acara).

Terus, setelah reda acara berantem dan tangis-tangisan, si abang ngajak si adik dan cowoknya itu ke suatu tempat—-rumah seorang cewek. Begitu sampai, si cowok kabur, euy. Penasaran, dong?—-saya, sih, enggak, habisnya drama banget. Tapi, entah kenapa, sampai habis juga nontonnya. Halah! Usut punya usut, ternyata, jreng-jreng, si cewek yang didatengin itu—-yang ternyata sahabat si abang—-pernah pacaran sama si cowok yang kabur itu.

Oh, gitu. Eit, tunggu dulu. Ternyata lagi, itu cewek barusan keluar dari tempat rehabilitasi narkoba. Dan…, si cowok kabur itulah yang memengaruhinya. Dialah penyebab si cewek jadi ketergantungan narkotik. Oh, gitu, toh. Ternyata, selama ini, si abang nggak mau adiknya pacaran sama si cowok gara-gara itu.

Menangislah si adik menghadapi kenyataan. Meraung-raung tepatnya—-padahal, baru pacaran tiga bulanan gitu. Tapi, yah, bisa diterimalah itu cerita. Dan, ekspresi tokoh-tokohnya juga lumayan. Nggak melotot-melotot nggak jelas kayak yang di sinetronlah. Jadi, yang jadi penonton masih bisa bilang, “Beneran nggak, sih? Apa settingan?” Yah, masih di area abu-abulah.

Nah, berceritalah si Andri. “Eh, lo nggak tau?” mulainya. Terusik, dong, jiwa gosip manusia saya dan gita. Hehe.

“Ada yang lebih norak lagi,” kata si Andri. “Enggak banget!” tambahnya.

“Eh, apaan?” saya dan Gita jadi semangat—-yah, sore-sore nggak ada kerjaan gitulah.

Jadi, kata Andri, dia nonton salah satu reality show juga. Ceritanya, ada cewek gitu mau dijodohin sama orangtuanya. Nah, si cewek nggak mau, dong. Dia cari cara buat cari cowok biar orangtuanya tahu kalau dia punya pilihan sendiri. Jadilah dia ikutan, tuh, reality show yang bisa nyomblangin orang itu. Terus, ada dua cowok pilihan, nih—-mereka sempat berantem, tentunya. Mas Ia nonton juga, kan?--Hehe, nuduh.

Pas akhir acara, pas salah satu udah dipilih sama itu cewek—-biasanya, karena mereka merasa klop dan semacamnya gitu, deh—terjadilah huru-hara. Bokap si cewek datang. Jreng-jreng! Marah-marah, bow! Pakai acara nampar si host-nya pula. Katanya, dia dateng mau nyari anaknya—-jadi, ceritanya, dia nggak tahu, tuh, kalau itu acara TV.

Tapi, masa, dia nggak tahu, toh? Kalau gitu, gimana dia bisa ke tempat itu. Pas datang, pastinya dia juga ngeliat, dong, tuh kamera dan kru-kru tuh acara di mana-mana.

Secara garis besar, percakapannya begini. (Saya merangkum cerita Andri, jadi maaf kalau beda omongannya. ;p )

Si Bapak: "Ngapain kamu di sini? (dengan wajah geram dan mata melotot menghadap ke anak gadisnya). Anak saya ini sudah dijodohin! (menghadap host-nya)."

Si Anak: (intinya, dia minta bokapnya dengerin dia dulu bahwa, sekarang, dia udah punya pilihan. Dia nggak mau dijodohin!)

Si Bapak tetap nggak mau terima dan masih marah-marah. Nih, bapak masih belum nyadar acara itu—ceritanya….

(Eh, Ndri, si cewek itu nangis nggak, sih? Apa host-nya yang ditampar itu yang nangis? Hihi).

Lalu, jreng-jreng (lagi!) si bapak melihat cowok pasangan anak gadisnya (yang udah jadi pilihan hati si anak itu).

“Lho, kamu ngapain di sini?” tanya si Bapak bingung pada si cowok pasangan si anak.
Ternyata, si Bapak kenal sama si cowok yang jadi pasangan anaknya itu.

(Tebak, dong, kelanjutannya apa? Saat itu, saya dan Gita udah nggak mau dengerin cerita si Andri.)

“STOP, NDRI!” teriak saya sambil nutup kuping—-reaksinya jadi ikutan berlebihan, nih. Hehe.

“Iya,” kata Andri, “gue juga mohon-mohon ama adek gue buat ganti itu saluran TV.”

Yup! Si cowok yang dipilih cewek itu jadi pasangannya itu adalah … calon yang mau dijodohkan dengan dia.

Wow! Sungguh kebetulan sekali! Ceritanya, mau bilang kalau kedua orang itu jodoh, gitu. Wuek!

Tuh acara TV mau ngebodohin siapa, sih?

“Dia pikir, semua orang Indonesia bego kali,” celetuk Gita.

Ya, ampun! Dunia tuh emang sempit banget, ya? Nggak segitunya kalee!

Yang lebih dramatisasi lagi, si cowok pake acara ngejelasin sama si bokap cewek.

Intinya, dia ngomong gini, “Iya, Om, maaf, saya tahu. Tapi, saya harus menyelesaikan ini dulu. Saya tidak bisa meninggalkan acara ini begitu saja.” Pokoknya, gitu, deh, sok gentleman gitulah.

Huahahaha. Mereka pikir, penonton percaya gitu kalau itu reality show? Mbok, ya, kalau mau bikin skenario kayak gitu sekalian buat skenario sinetron aja. Yah, kalau sinetron, kan, udah jelas visi dan misinya. Nggak ada logika juga udah jadi nama belakangnya. Realitas, mah, udah jelas entah di mana kalau di sana.

Ya, ampun! Kenapa juga Andri nonton acara itu sampai habis? Kenapa juga saya dan Gita semangat banget dengerin ceritanya? Kenapa juga saya malah nulis ini pukul 3:08 pagi—bukannya bikin kerjaan yang deadline! Halah!

p.s.
Pas makan malam tadi, saya, Gita, dan Azizah, lagi cerita-cerita masa lalu gitu, deh. Saya cerita kalau waktu kelas 1 SMA dulu saya pernah telat waktu mau ngambil nilai lari di Senayan. Udah telat, nyasar pula. Kebetulan saya ketemu sama seorang cowok—saya nggak kenal, tapi yang jelas dia pake baju olahraga SMA saya. Kami sama-sama nyasar dan telat.

Kemudian, ketemulah itu lapangan tempat ngambil nilai. Sialnya, saya dan cowok itu salah pintu. Kami berdiri di pintu belakang yang digembok. Kalau mau ke depan, mesti muter dan pasti tambah telat lagi.

Dari jaring-jaring pagar besi, guru olahraga melihat kami dan marah-marah. Acara pengambilan nilai hampir selesai dan dia nggak mau nunggu lagi, apalagi nungguin kami muter dulu. Jadi, terpaksalah saya dan cowok itu manjat pagar. Tinggi, euy. Kalau diingat-ingat, pasti saya—sebagai perempuan—nggak ada anggun-anggunnya waktu manjat itu. Duh!

“Wah, kalau di sinetron,” komentar Gita, “cowok itu pasti jadi jodoh lo, Wied.”

Pastinya. Saya dan Azizah tidak menyangkal.

Hehehe. Untungnya, saya masih di dunia nyata, soalnya, seingat saya, tuh cowok agak-agak aneh, deh. Hehe.

Eh, kalau saya di sinetron, nih, awalnya, saya tahunya tuh cowok emang aneh. Tapi, di akhir cerita, ternyata, cowok itu keren abis dan tajir abis. Abis, dah!

gambar: di sini!

Tuesday, August 05, 2008

saya takut

tiba-tiba saya ingat lagi.

"lo denger suara tadi juga, ya? lo takut? wah, wied, di mana akidah lo?" tanya seorang teman. saya terpojok--ya, benar-benar terpojok di tenda yang sempit itu.
itu. ah, saya tidak bisa menjelaskan entah kenapa napas saya menjadi sesak saat mendengar suara dari sisi tenda saya dan gita huni. yah, habisnya, suara itu ber-hihihi. nah, lho?



jadilah saya dan gita mengungsi ke tenda sebelah--dengan alasan napas yang sesak itu. setelah minum teh hangat--di antara dingin angin gunung--yang dibuatkan seorang teman dan melihat banyak orang yang terbangun, napas saya mulai normal.

dan, menjadi sesak kembali saat seseorang mempertanyakan akidah saya di mana? wah, iya, ya. di mana akidah saya berada ketika saya berada di antara gelap malam dan angin yang berkuasa di gunung itu?

lalu, saya kembali mempertanyakan akidah saya ketika saya sedikit ragu-ragu--alias deg-degan--masuk ke sebuah tempat makan di margonda. masalahnya, beberapa hari sebelumnya, si gita bawa-bawa cerita "aneh".

salah seorang karyawan restoran itu bercerita kalau di sana mereka menemukan sesuatu yang berdarah-darah. di kamar mandi. di tangga. setiap malam--eh, jangan-jangan korban si ryan, hehe. yah, semacam film-film horor norak itulah. wajah karyawan itu pucat pasi saat bercerita. yah, masa niat banget gosip pake ekspresi. dan, muncullah suatu konsep tentang tempat makan itu di benak saya. konsep negatif pula. duh.

lalu, malam kemarin, saya dan gita terpaksa menemui seseorang di tempat itu. jadilah kami ke sana.

malamnya, sebelum tidur, saya jadi inget-inget cerita-tak-penting-tapi-bikin-merinding--termasuk suara hihihi di gunung itu, padahal udah berdoa, lho. hehe. lalu, saya mikir, kenapa saya jadi penakut gini, sih? di mana akidah saya?

setelah mencoba mengamati gorden yang tersingkap karena kipas angin, bayangan di dinding kamar, dan seorang sahabat yang sudah terlelap di kasur seberang, ada rasa sedikit lega di hati saya. untunglah saya masih punya rasa takut. ternyata, saya manusia, rupanya. belum berubah wujud. hehe.

tak lama, saya terlelap.

gambar dari sini!

Tuesday, July 22, 2008

Hilang di Surya Kencana



Jumat kemarin, saya dan empat orang teman—termasuk Gita—berangkat lagi ke Gunung Gede, Jawa Barat. Dari Depok, kami menuju Terminal Kampung Rambutan. Saat itu, waktu sudah merangkak ke pukul setengah sembilan malam. Calo-calo di terminal itu tentu saja langsung mendekat saat kami turun dari angkot merah itu. Untunglah, ada Ardi—yang-enggak-kalah-serem-sama-calo. Hehe.

Kami naik bus yang masih kosong menuju Gunung Putri. Harga lima belas ribu turun jadi empat belas ribu—berkat Ardi yang baru saja menjelajahi jurang-jurang Gunung Leuser. (Di terminal, tawar-menawar diperlukan dan, tentu saja, didampingi teman yang terlihat sangar juga--jauh lebih--diperlukan.)

Saat menapakkan kaki di tepi jalan masuk ke Gunung Putri itu, angin dingin langsung menyambut. Sudah dini hari. Angkot berwarna biru sudah menanti kami. Setelah tawar harga—lagi-lagi tugas Ardi—kami segera naik. Jalanan berliku itu cukup menanjak tinggi untuk harga empat ribu rupiah. Namun, sepertinya, memang itulah harga standar angkot menuju kaki gunung yang akan kami jajaki itu.

Kaki gunung itu sudah dipenuhi para pendaki—terlalu banyak, malah. Seorang penjual menggelar dagangannya di dekat kami berdiri. Sarung tangan, kupluk, syal, berjajar rapi. Saya dan Gita membeli sarung tangan tipis—cukup penting, biar nanti, mau pegangan di mana saja hayo. Setelah ditawar, dua pasang jadi 20 ribu—beda sepuluh ribuanlah sama yang di emperan.

Dingin mulai menyergap. Perut terasa lapar. Warung yang ada di sini hanya menjual roti-rotian. Padahal, kami ingin makan nasi. Untunglah, di warung atas—searah tempat kami mulai menanjak—ada warung nasi yang buka.

“Cuma tinggal telor, Neng,” ucap si Ibu penjual nasi.

Tidak masalah. Jadilah saya dan teman-teman makan nasi dan telur dadar plus kecap. Rasa keliyeng-keliyeng di kepala segera beranjak. Alhamdulillah.

Kami mulai mendaki pukul dua pagi. Lapor di pos yang penjaganya masih “fresh”. Segala peraturan masih begitu dia hafal dn disampaikan dengan cara yang kurang bersahabat. Tidak boleh bawa sabun dan odol. Tidak boleh bawa MP3 atau iPod. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan pakai pisau dapur—yang saya bawa, yang katanya terlalu besar, tapi tak masalah—buat nulis-nulis di pohon. Bla-bla-bla. Yah, tentu saja hal itu tidak akan kami lakukan. Wong, udah terlalu banyak juga ukiran di pohon-pohon dan batu-batu di atas gunung itu—heran, kenapa, sih, orang-orang itu seenaknya saja merusak!

“Ngejar apa, sunset atau sunrise?” tanya teman saya di kosan—setelah kami pulang.

“Enggak ngejar apa-apa,” sahut saya. Ya, kami cuma numpang tidur dan makan di padang edelweis itu.

Entah kenapa, ada yang hilang di perjalanan kali ini. Mungkin karena saat mendaki terlalu banyak orang berkeliaran. Seperti di pasar, bukan gunung. Bahkan, orang-orang yang berseliweran banyak yang saltum—menurut laporan pandangan mata saya dan Gita. Hehe. Yah, masa ke gunung pake tas slempang dan celana jeans ketat begitu—Haha. Iri ajah, niy, kami!

Porter berkeliaran dengan pikulan yang berisi tas dengan beragam bentuk. Orang-orang melangkah dengan santai, dengan keluhan-keluhan—padahal tanpa beban apa-apa di pundaknya.

Lalu, di tengah jalan, ada percakapan yang tidak sesuai latar. Hehe.

Ibu-ibu yang juga mendaki: “Jualan, ya, Bang?”

Mamang Tukang Nasi Uduk: “Iya, Bu. Nasi uduk. Tapi, udah abis. Saya mau turun dulu.”

Ibu-ibu yang satu lagi: “Oh, ada cincau, nggak, Bang?”

(Kayaknya) Anak si Ibu: “Rujak ada nggak, Bang?”

Saya: Halah! Ada-ada aja siy tu si ibu-ibu dan anak-anaknya. Eh, jangan-jangan ada beneran. Hihi.

Mamang Tukang Nasi Uduk: “Wah, nggak ada, Bu.”

Ibu-ibu yang juga mendaki: “Tapi, kan, si Abang mau turun. Ya, udah, nanti bawa aja ke atas. Kita kemah di Padang Surya Kencana itu, kok.”

Ibu-ibu yang satu lagi: “Iya, ke sana, aja. Pasti kita beli, kok. Cincau, ya, Bang.”
(Kayaknya) Anak si Ibu: “Rujak juga jangan lupa, ya, Bang.”

Saya: Dih!

Mamang Tukang Nasi Uduk: “Ya, kalau ada, ya, Bu.”—(Kelihatan bingung.

Ibu-ibu yang juga mendaki: “Tenang aja. Nanti, pasti kita beli, deh.”

Dih! (lagi). Mesennya enak banget, kayak si Mamang tinggal pergi ke dapur dan bikin pesenan mereka. Pasti mereka bayar, sih. Tapi, bukan itu kale masalahnya. Bayangin aja, tuh si Mamang mesti turun naik gunung setinggi 2.958 meter cuma untuk es cincau dan rujak buat mereka. Halah!

Saya tidak mendengar lagi apa kesepakatan mereka. Tanjakan-tanjakan Jalur Putri masih menanti langkah-langkah kaki.

Saya dan teman-teman hanya sampai Surya Kencana. Tidak berminat ke puncak. Bahkan, untuk foto-foto saja, saya dan Gita kehilangan selera—awalnya. Entah kenapa. Tapi, tentu saja teteup ada foto-foto—akhirnya. Hehe.

Pulangnya, saat lapor di pos, kami malah kena denda. Ternyata, kami telat satu hari dari jadwal—di kertas pendaftaran tertulis, kami turun tanggal 19 (Sabtu). Namun, kami baru sampai pos pada Minggu, pukul satu siang. Padahal, itu kesalahan penjaga pos pendaftaran yang salah menulis tanggal kami turun. Masa, sih, kami cuma daftar buat dua hari? Ogah, deh, naek trus langsung turun lagi!

“Trus, kalau mereka tau kita belum turun dari kemaren, kok, mereka nggak nyariin kita, Piz?” tanya saya dan Gita.

Apiz yang habis diceramahi (tadi, dari luar, sayup-sayup, kami mendengar kalimat-kalimat yang nadanya seperti nasihat) di dalam pos tak menggubris.

“Padahal, itu, kan, kan, dah lewat 1 x 24 jam,” lanjut kami sewot.

Yah, wajar, sih, mereka enggak nyariin. Wong, kami baru mulai naik pukul 02:30 dini hari—udah masuk hari Sabtu. Masa udah turun lagi sorenya atau malamnya.

Kami berjalan dengan hati yang tidak begitu riang.

Kali ini, sepertinya, ada yang hilang di Surya Kencana.


Gunung Gede, 18—20 Juli 2008.

Sunday, May 11, 2008

KITA BERLAGU

Wajah-wajah yang lucu.
Aku teringat kupu-kupu yang lucu,
yang mengayun-ayun di ranting yang rapuh.




"Jablai gopek," terdengar teriakan suara kalian.
Hah? Benarkah itu kalian yang bersuara?

Ah, wajah-wajah yang lucu.
Mari sini,
kita berlagu saja, tentang kupu-kupu yang lucu.
Kupu-kupu yang mengayun-ayun tanpa lelah
di ranting-ranting itu.

Mari kita berlagu saja,
/kupu-kupu yang lucu/
/ke mana engkau terbang/
/hilir mudik mencari/
/bunga-bunga yang kembang/

Mudah, bukan?
Mari, wajah-wajah yang lucu.
Kita berlagu saja.

MATA AIR HARAPAN DARI CIBEDUG

Anak-Anak Harapan dari Ulu Cai
Anak-anak yang ada di dalam foto di bawah ini adalah siswa SMP Sekolah Mandiri, Cibedug, Bogor. Mereka sedang mengikuti acara pengenalan pentingnya air pada 25—26 April 2008, lalu, di Camp Ulu Cai—ulu cai: ‘mata air’.

Mereka anak yang bersemangat, ceria, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Semangat kebersamaan mereka pun terasa erat. Anak-anak yang “benar-benar” anak-anak. Begitu mudah tertawa, mengalir bagai mata air yang jernih dan segar dari desa itu. Namun, masihkah mata air itu membawa harapan?—saat air-air dari desa itu semakin banyak dikemas.
Anak-anak SMP ini sekolah pada siang hari, mulai pukul satu hingga pukul empat. Bukan mereka memilih masuk siang, tetapi karena pagi hari “ruang kelas” digunakan oleh adik-adik mereka yang masih duduk di SD.
Kebanyakan jarak rumah para siswa ini ke sekolah cukup cukup jauh, di “bawah” sebut mereka menyebut daerah tempat tinggal mereka. Biasanya, mereka jalan kaki. Ada juga yang naik ojek, tetapi jarang karena ongkosnya mahal.
“Sekitar setengah jam, Kak,” jawab mereka ketika saya tanya berapa lama waktu yang diperlukan untuk jalan kaki ke sekolah.
Buat mereka yang tinggal di “bawah”, tanjakan tajam—mungkin mirip “tanjakan setan” di salah satu gunung—menuju sekolah ini mungkin sudah bukan masalah lagi. Mereka adalah anak-anak yang bersemangat.
Hari Senin ini, 5 Mei 2008, siswa SMP yang kelas 3 (Kelas VIII) akan mengikuti UAN. Mereka ikut ujian di “induk”, sebutan sekolah negeri tempat mereka “numpang” ujian. Namun, saat marak diberitakan bahwa banyak siswa yang berdebar-debar takut tidak lulus karena nilai kelulusan yang tinggi, debar itu mungkin juga begitu kuat di antara siswa-siswa kelas 3 sekolah ini—apalagi, mereka belajar dengan guru dan fasilitas yang ada saja.

“Lulus SMP”, mungkin, adalah cita-cita yang akan mereka tulis jika ada orang yang memaksa mereka menuliskan apa cita-cita mereka.
“Doain saya lulus, ya, Kak,” ujar salah satu siswa perempuan, sebut saja Ida.
Ia sangat berharap lulus agar tidak membebani orangtuanya. Namun, ia tidak akan melanjutkan ke mana-mana. “Lulus SMP saja sudah untung, Kak,” ujarnya, “kakak saya saja cuma sampai SD, itu juga tidak lulus.”

Kalau melanjutkan ke SMA, orang tua Ida tidak punya biaya—apalagi, ada empat orang anak lagi di bawah Ida. Dan, sayangnya, saat ini, belum ada SMA Terbuka—konon, hal itu karena negara kita hanya mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun.
Dan, Ida tidak sendiri. Ada banyak teman sekelasnya yang seperti itu. Mungkin, saat nanti mereka lulus—semoga, ya, Allah—mereka tidak akan bingung-bingung untuk membuat pilihan. Pilihan mereka hanya satu—ironis kalau ini disebut pilihan, maaf—tidak ke mana-mana. Kembali ke rumah. Ke sawah membantu orang tua—yang bukan milik orangtuanya. Atau, jika rumah dan orangtua tidak dapat “mengikat” mereka, mereka akan ke pinggir-pinggir jalan, bergerombol dengan anak-anak yang sudah duluan di sana: memainkan gitar dengan lagu-lagu “populer”.
Mungkin, tak lama berselang, anak perempuan “menganggur” pun segera dinikahkan. Berkeluarga. Beranak-pinak. Dan, mengirim anak-anak mereka ke “lingkaran-tanpa-pilihan” itu lagi.
Ah, tampaknya, bukan nilai keluluasan yang tinggi itu yang membuat jantung mereka berdebar-debar kencang. Toh, jika mereka pun mengulang di kelas 3 SMP, biaya untuk sekolah di Sekolah Mandiri itu tidak perlu dikhawatirkan—mereka tidak perlu membayar “uang-sumbangan-sekolah”. Mungkin—ini hanya pikiran yang konyol saya—mereka akan senang jika tidak lulus karena berarti masih bisa sekolah, berstatus pelajar. Mereka jadi tetap punya tempat untuk belajar, membaca buku-buku di rak buku sekolah itu—yang baru sedikit dan senang hati menerima sumbangan buku jenis apa saja, yang penting menambah pengetahuan anak-anak.
Bayangan akan lulus dan tidak melanjutkan ke mana-mana mungkin lebih menghantui mereka. “Ya, pengennya ngelanjutin, Kak ….. Tapi, gak ada uangnya. SMA kan mahal, ya, Kak ….” Wajah yang menunduk itu, sepertinya, tak akan bisa menuliskan cita-citanya pada selembar kertas. Mimpi-mimpinya tidak pernah sampai ke mana-mana, terhenti di “jalan menanjak” desa itu.
“Tapi, saya bersyukur bisa sekolah di Sekolah Mandiri ini, Kak,” wajahnya mencoba sumringah.

Sekolah Mandiri: Kesahajaan Pak Ali dan Bu Tini
Sekolah Mandiri. Sekolah yang berlokasi di Jalan Pesantren, Kampung Cibedug, RT 01/04, No. 7, Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang didirikan oleh Pak Ali dan Bu Tini ini mengalirkan harapan bagi anak-anak usia sekolah di Desa Cibedug itu. Ada sekolah gratis untuk mereka. Tempat menapak dan mengawali langkah menuju masa depan, meraih cita-cita.
“Kita gak pernah bayar apa-apa, Kak, di sekolah. Kadang, buku juga dikasih,” cerita salah satu siswa Sekolah Mandiri ini.
Ya, sekolah ini memungut biaya apa pun kepada siswanya. Gratis. Sekolah ini terdiri atas TK, SD, dan SMP.

Namun, jangan bayangkan sekolah ini terdiri atas tiga bangunan, apalagi bertingkat, dan punya ruang-ruang kelas. Sekolah ini hanya sebuah rumah—tempat tinggal Pak Ali dan Bu Ali—yang disulap jadi sekolah pada pukul 07.00—16.00 WIB. Ruang kelas mereka adalah gabungan ruang tamu, garasi, dan teras. Meja rendah. Tanpa kursi. Hanya menggunakan karpet sebagai alas duduk—tapi, mungkin masih lebih nyaman dibandingkan dengan sekolah-sekolah roboh di daerah Indonesia. Di sana, anak-anak belajar dengan antusias—meski awalnya masih malu-malu.

“Waktu itu, waktu Ibu lagi jalan nyari udara segar, Ibu heran melihat banyak anak-anak usia sekolah yang berkeliaran pagi hari. Itu gak cuma sekali, tapi hampir tiap hari. Ibu nanya mereka dan mereka bilang gak sekolah. Trus, Ibu nanya-nanya sama ibu-ibu dekat sini. Ternyata, anak-anak daerah sini jarang yang sekolah,” Bu Tini membuka cerita tentang sekolah ini.
Ia dan suaminya, Pak Ali, sorang pensiunan sebuah bank swasta, pindah ke Desa Cibedug sekitar dua tahun lalu. Mereka ingin melewatkan masa pensiun mereka di daerah itu.

Daerah Cibedug yang cukup padat itu cuma 75 km dari Monas. Jadi, bukan daerah terpencil atau sebagainya.

“Mereka bilang karena gak ada biaya. Di sini, kan rata-rata kan petani. Jadi, ya, mereka cuma cukup buat makan hari ini—itu juga syukur. Trus, faktor lainnya, juga karena pikiran para orangtuanya juga. Mereka pikir sekolah atau gak sekolah sama saja, toh, nanti juga jadi seperti mereka,” lanjut Ibu Tini, pensiunan dari perusahaan asuransi.

Penduduk Cibedug rata-rata memang petani—tapi lahan-lahan sawah itu kebanyakan bukan milik mereka lagi. Pengaruh modernisasi—atau kredit motor murah?—membuat mereka memutuskan menjual tanah-tanah mereka dan menjadi tukang ojek. Namun, ternyata, penghasilan sebagai tukang ojek tidak lebih menguntungkan—malah mungkin merugikan. Tarikan sepi—ya, tentunya, penduduk sana mikir dua kali buat naik ojek, lagi-lagi karena masalah uang.

“Ibu sedih dengar kayak gitu. Anak-anak di sini banyak. Ibu pikir, hidup mereka bakal kayak gini-gini aja kalau mereka gak sekolah. Trus, Ibu bujuk Bapak buat bikin TK. Kan, Ibu juga tidak punya kerjaan. Alhamdulillah, Bapak setuju. Trus, Bapak ama Ibu nyari-nyari informasi tentang sekolah mandiri. Akhirnya, setelah ke sana-sini, alhamdulillah, kita bisa bikin TK.

Awalnya, muridnya cuma sedikit. Maklum, penduduk sini masih mikir ini dan itu. Yah, banyak juga tantangan dari lingkungan sini. Tapi, Alhamdulillah, lama-lama, banyak juga yang ngebolehin anaknya sekolah di sini.

Dari 100 orang anak, yang wisuda TK ada 50 orang. Dua kali seminggu, Ibu ngadain pengajian ibu-ibu yang nungguin anaknya TK. Biar ibu-ibu sini juga punya kegiatan.

Trus, Ibu mikir, ke mana mereka setelah TK. Akhirnya, Bapak dan Ibu bikin SD. Ya, kelasnya di ruang tamu ini. Mereka duduk seadanya saja. Oh, ya, Ibu kaget juga, ternyata sekolah mandiri kayak gini ada sekitar 17. Alhamdulillah, Ibu dan Bapak gak sendiri.

Setelah itu, Ibu mikir lagi, kasihan anak-anak kalau cuma sampe SD. Ibu dan Bapak pengen buka SMP. Alhamdulillah, ada rezeki dari anak Ibu, akhirnya, jadilah teras di luar itu. Jadi lebih lega dan bisa buat kelas SMP. Karena keterbatasan guru, anak SMP masuk siang. Awalnya, cuma Ibu ama Bapak yang ngajar. Kalau sekarang, Alhamdulillah, kita sudah ada guru lain. Semuanya sukarelawan. Bahkan, ada yang dari Jakarta. Tapi, dia ngajar dua kali seminggu, ngajar matematika. Trus, ada juga lulusan Gontor yang kebetulan dapat suami orang sini. Dia ngajar bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Ya, meski sukarelawan, Bapak ama Ibu gak enak kalau gak ngasi mereka apa-apa. Yah, kita usahin buat sekadar ongkos meskipun mereka bilang mereka ikhlas ngajar. Katanya, sih, dari Induk ada bantuan buat guru. Tapi, yang ditunggu-tunggu itu gak pernah ada. Setelah ditanya-tanya, baru turun 100 ribu. Akhirnya, itu dibagi-bagi barang sedikit buat guru-guru.”

Menurut cerita Pak Ali dan Ibu Tini yang tampak selalu tersenyum bahagia, dana rutin mereka berasal dari dua orang anaknya dan juga adik-adik Bu Tini dan Pak Ali. Dari sukarelawan, belum ada yang rutin. Mereka juga sudah memasukkan proposal-proposal, tetapi tidak pernah (belum) ada yang tembus. Pak Ali dan Ibu Tini itu begitu bersahaja—asal lahirnya Sekolah Mandiri—dan mereka sangat terbuka dengan orang-orang baru. Mereka akan dengan senang hati membagi “jalan kebahagiaan” dengan siapa saja.

“Kalau ada yang mau jadi guru di sini, Ibu dan Bapak sangat senang. Tapi, kami tidak mau kalian repot juga karena jarak yang jauh. Ya, bantuan itu kan gak cuma uang. Ibu ama Bapak juga mengharapkan ide-ide untuk sekolah ini. Kalaupun tidak ada ide, Ibu dan Bapak mengharapkan doa biar Ibu dan Bapak selalu sehat dan bisa mengurus sekolah ini,” Bu Tini berkata dengan senyum cerianya kepada kami.

“Wah, kalau cuma doa, berarti itu sudah sampai tahap selemah-lemahnya iman, tuh,” celetuk salah seorang teman saya. Kami tergelak, tersentil.

Menurut cerita Bu Tini dan Pak Ali, yang sungguh bijaksana itu, mereka juga resah memikirkan nasib anak-anak yang akan lulus SMP. Namun, apa daya, mereka baru bisa membuka sekolah sampai SMP—masalah ruang, biaya, guru, dan lain sebagainya.

“Sekarang, yang SD ada 35 orang. Harapan Ibu sekarang ini anak-anak SD ini pakai seragam. Ibu pengen liat mereka pakai seragam soalnya selama ini mereka belum punya. Pasti mereka senang sekali,” tambah Ibu Tini tentang harapannya.

Saya dan teman-teman ikut membayangkan anak-anak SD itu pakai seragam Sekolah Mandiri. Ah, betapa akan senangnya mereka mempersiapkan baju baru itu untuk esok pagi. Melenggang ke sekolah dengan seragam baru mereka itu. Mencium baru khas baju baru. Dan, menukar baju sehari-hari yang mereka kenakan—yang terkadang mungkin belum kering atau sudah “bau matahari”—dengan seragam itu. Betapa akan senangnya anak-anak SD itu.

Cerita Ibu Tini dan Pak Ali “merebut hati” kami yang mendengarnya. Betapa tulusnya niat mereka. Betapa mulianya. Betapa ikhlasnya. Betapa sabarnya. Betapa sangat berguna. Betapa bahagianya jika dapat membantu mereka, membantu anak-anak itu ….
Menurut teman saya, mendengar cerita Bu Tini dan Pak Ali seakan-akan melihat dan mendengar cerita di acara “K!ck Andi”.
“Namun, yang ini, begitu nyata tanpa halangan kaca. Keharuannya lebih saya rasakan,” katanya.
Ya, cerita Ibu Tini dan Pak Ali memang bukan cerita yang, hendaknya, “mampir” di hati kita, dan tidak hanya meresap dan hilang begitu saja. Itu adalah cerita tentang anak-anak yang bersemangat. Anak-anak masa depan. Anak-anak yang ingin tumbuh dengan cita-cita—dan berani menuliskannya di kertas atau mengucapkannya dengan lantang. Itu adalah cerita mata air harapan, yang akan kering jika “hujan” tak pernah lagi jatuh. Itu adalah cerita yang ingin berakhir bahagia. Semoga ….
***
P.S
Saat ini, saya dan teman-teman sedang mengumpulkan dana untuk mewujudkan harapan Ibu Tini—Ibu yang selalu tersenyum bahagia itu—dan, tentunya, harapan terpendam anak-anak SD Mandiri itu. Kami sedang mengumpulkan dana untuk baju seragam SD—bukan seragam merah-putih, tetapi seragam Sekolah Mandiri—kaus kaki, sepatu (jika memungkinkan), dan untuk ATK (jika dana untuk seragam berlebih). Namun, yang terpenting adalah pengumpulan dana untuk seragam.
Mungkin, cerita Ibu Tini dan Pak Ali ini juga “merebut hati” teman-teman. Dengan senang hati, kami menerima sumbangan untuk anak-anak Sekolah Mandiri, Desa Cibedug.
Untuk informasi lebih lanjut, teman-teman dapat menghubungi kami.
Iwied/Gita (iwied_bae@yahoo.com)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin