Penjual Kenangan

Tuesday, August 05, 2008

saya takut

tiba-tiba saya ingat lagi.

"lo denger suara tadi juga, ya? lo takut? wah, wied, di mana akidah lo?" tanya seorang teman. saya terpojok--ya, benar-benar terpojok di tenda yang sempit itu.
itu. ah, saya tidak bisa menjelaskan entah kenapa napas saya menjadi sesak saat mendengar suara dari sisi tenda saya dan gita huni. yah, habisnya, suara itu ber-hihihi. nah, lho?



jadilah saya dan gita mengungsi ke tenda sebelah--dengan alasan napas yang sesak itu. setelah minum teh hangat--di antara dingin angin gunung--yang dibuatkan seorang teman dan melihat banyak orang yang terbangun, napas saya mulai normal.

dan, menjadi sesak kembali saat seseorang mempertanyakan akidah saya di mana? wah, iya, ya. di mana akidah saya berada ketika saya berada di antara gelap malam dan angin yang berkuasa di gunung itu?

lalu, saya kembali mempertanyakan akidah saya ketika saya sedikit ragu-ragu--alias deg-degan--masuk ke sebuah tempat makan di margonda. masalahnya, beberapa hari sebelumnya, si gita bawa-bawa cerita "aneh".

salah seorang karyawan restoran itu bercerita kalau di sana mereka menemukan sesuatu yang berdarah-darah. di kamar mandi. di tangga. setiap malam--eh, jangan-jangan korban si ryan, hehe. yah, semacam film-film horor norak itulah. wajah karyawan itu pucat pasi saat bercerita. yah, masa niat banget gosip pake ekspresi. dan, muncullah suatu konsep tentang tempat makan itu di benak saya. konsep negatif pula. duh.

lalu, malam kemarin, saya dan gita terpaksa menemui seseorang di tempat itu. jadilah kami ke sana.

malamnya, sebelum tidur, saya jadi inget-inget cerita-tak-penting-tapi-bikin-merinding--termasuk suara hihihi di gunung itu, padahal udah berdoa, lho. hehe. lalu, saya mikir, kenapa saya jadi penakut gini, sih? di mana akidah saya?

setelah mencoba mengamati gorden yang tersingkap karena kipas angin, bayangan di dinding kamar, dan seorang sahabat yang sudah terlelap di kasur seberang, ada rasa sedikit lega di hati saya. untunglah saya masih punya rasa takut. ternyata, saya manusia, rupanya. belum berubah wujud. hehe.

tak lama, saya terlelap.

gambar dari sini!

7 comments:

zee said...

SEREM ih.... masa di gunung ada hihihi.... apa itu suara penunggu gunung?

Soal takut kayaknya g bs dihubungkan dgn akidah. Lha wong manusia wajarlah klo ada rasa takut. Boong tu temen nya. Dia jg klo papasan pasti takutt.... hiiiihh....

pencakar langit said...

Waah...ada cerita aneh apaan? Itu di rumah makan sebelah mana yang ada tangganya? Waah...serem banget.

Lena said...

Untung nggak dikau sebutin nama Rumah Makannya... ;p
Btw, Takut adalah sebagian dari iman(itu kalau takut sama Tuhan ya?). Tapi kalau takut sama setan...??? Hii...serem...

gadisbintang said...

iyaaa, wied.

rumah makan mana?

di gedung kampus kita juga ada kan 'gituan'? bener gak sih? hihihihi.. kok malah mancing2 kismis gini gue!? hehehe.. XD

tatah said...

bagiku, akidah itu yang justru menakutkan, akidah sejenis laskar jahad dan FPI, hehehe...

penjual kenangan said...

to zee:
jangan-jangan itu suara aku sendiri waktu itu, zee. abisnya pagi-pagi buta gitu. hehe.

to nulur:
dua kali tebakan, ya, lur. clue: dulu, gue ma gita suka makan sop iga di sana--tau, deh, iga siapa? hiii.

to mbak lena:
yup, setuju ma mbak lena ;p

to peba-yang-lagi-jatuh-cinta-jatuh-cintanya:
rumah makan yang blum ada sebelum lo berangkat ke belanda. kayaknya, bener, peb. waktu itu, ada yang pernah cerita juga. jadi...
(halah! gue gosip gurl banget, de. dipancing dikit. tapi, emang, sih, di gedung VI.... duh, stop, mau ramadhan, nih. ^_^)

to tatah?:
hehe, mas ia apa kabar? wah, kalau aku, mah, kayakya, mas ia lebih menyeramkan. iya, nggak, si? hehe.

to nulur n peba:
jangan tebak, deh--jadi serem sendiri. ntar gue ditangkep ma yang punya. kasian, dia udah beli tuh tempat. hehe.

brainwashed said...

gw masih bisa ngerasain gimana mencekamnya suasana tengah malem yang dingin, ketika telinga ini menangkap suara2 aneh.. :D suara seorang nenek menawarkan sesuatu di atas ketinggian 3000mdpl.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin