kenangan itu telah terlalu lama berputar-putar, tak beranjak ke mana-mana. adakah yang ingin menukarnya dengan harapan?
Friday, February 23, 2007
sore
kita tak sempat lagi menghitung langkah
seperti jatuh cinta
kita tak sempat lagi menentukan arah
Virus
Huh, virus, jangan dekati aku lagi, dunk!
Peri
usia semakin jauh
masih aku juga yang ditemani
selalu memintamu menjadi peri, maaf
Sunday, February 18, 2007
Minggu yang Hujan
Saya menyimpan beberapa data dalam flash disk itu. Setelah di-scan, antivirus di warnet itu tidak bilang apa-apa. Malah, dia bilang tak ada virus yang ketemu. Jadinya, saya percaya saja. Saya pikir, antivirus di warnet pastilah yang terbaru--mereka toh terhubung ke jaringan internet. Tak terlalu susah kan untuk meng-update-nya?
Cukup lama saya di warnet. Hujan begitu ganas akhir-akhir ini. Juga hari itu. Saya tidak berani pulang ke kosan--yang hanya berjarak sejauh langkah yang dapat dihitung. Jadilah saya terjebak di warnet itu. Hujan reda juga. Saya melangkah pulang.
Sampai di kosan, saya langsung memasukkan data yang saya simpan ke komputer saya. Tanpa pikir panjang. Dan, tiba-tiba saja, terjadi hal yang paling tidak saya suka itu. Salah satu hal yang saya takuti, mungkin. Ada virus di komputer saya. Ternyata, antivirus saya tidak bisa ngapa-ngapain. Sial!
Padahal, ada pekerjaan yang menunggu di dalam komputer itu. Saya nekat mengerjakannya. Namun, ternyata sedikit fatal. Setelah disimpan, file itu tidak bisa dibuka. T_T
"Wied, kalo bisa, jangan buka apa-apa dulu. Cari antivirusnya dulu," saran seorang teman.
Yah, jadinya, saya tidak bisa mengerjakan editan yang harus diserahkan hari Senin--mengejar tanggal yang akhir-akhir ini begitu cepat melangkah.
Duh, kenapa sih orang bikin virus?
Dan, sekarang, saya masih di warnet. Mencari antivirus yang bisa menolong saya. Semoga kita bertemu.
** Seharusnya, kemarin itu, langkah saya berbelok, ya. Sayangnya, takdir tak bilang begitu.
Thursday, February 15, 2007
Februari Lagi
sedang apa dia di Sana?
jika ada butiran jatuh dari matanya,
tolong sekakan dan sampaikan padanya, "senyumnyalah yang dulu menghapus jejak kesedihan pada hati kami".
Tuhan, sampaikan padanya, "selamat hari lahir!"
tak pernah dirayakan memang.
tapi, di dinding kamar ibu masih ada sisa-sisa kapur tulis, yang mengeja nama dan waktu kelahirannya.
masih tertera di sana: harinya esok, bulan ini. (dan pada saat yang sama, telah Kau tetapkan pula bahwa 19 tahun nantinya, hari yang sama, ia dan Kau akan berjalan bersama. pulang).
"bulan lahir kita sama," katanya. ia selalu bilang, setiap tahunnya. dan selalu dengan tawa. ya, kita memang diciptakan pada musim yang sama nyamannya. musim cinta, kata mereka-mereka.
Tuhan,
esok, usia akan semakin jauh meninggalkannya. akan semakin jauh.
ah, tapi, tak lagi. usia tak lagi mampu meninggalkannya ataupun mengejarnya.
"selamat hari lahir"--memang yang tak akan pernah bisa kita rayakan lagi.
tapi, akan kukirimkan bingkisan doa.
selalu.
tenanglah bersama-Nya di Sana ...
--dua tahun sudah, Dik. kau akan selalu ada, dalam setiap doa--
Tuesday, February 13, 2007
Cerita dari Wira
Selamatan itu untuk merayakan nasib mujur sang tetangga. Laki-laki lulusan SMA itu bekerja di kantor kelurahan, sebagai tenaga honorer. Masa kerjanya terhitung belum lama, baru satu setengah tahun. Pada hari yang cerah, laki-laki itu mendapat kabar, ia diangkat menjadi PNS—status yang dikejar-kejar banyak orang untuk menyandarkan hari tua mereka. Wajar saja si tetangga begitu bahagia. Ia—yang baru bekerja seumur jagung (untuk ukuran waktu bagian pegawai honorer)—diangkat menjadi pegawai.
Ah, mujur benar ia jika dibandingkan dengan pegawai-pegawai honorer yang sudah bekerja puluhan tahun, bahkan ada yang tetap berstatus sama. Mereka terkatung-katung. Entah faktor apa yang dijadikan pertimbangan pengangkatan sang tetangga—Wira tidak tahu juga, “Mungkin karena dia rajin atau apalah,” kata Wira.
Alhasil, sang tetangga merasa kebahagiaan itu perlu dirayakan. Jadilah acara “motong kambing” dan acara undang-undang tetangga untuk makan bersama. Hari tua sang tetangga akan terjamin. Begitu pula anak dan istrinya (jika ia menikah dan punya anak kelak). Tak terbayang sumringah wajah sang tetangga dan keluarganya itu. Seperti mendapat durian runtuh. Tak apalah habis-habisan untuk selamatan, toh mereka sudah ketemu pohon durian itu, pikir mereka (barangkali).
Saya dan teman-teman yang mendengar setuju juga jika si tetangga dimasukkan pada kategori orang yang beruntung (ya, kita bandingkan saja dengan peserta CPNS dan juga pegawai honorer, terutama guru, yang terus berharap tiap tahun. Tapi, tak kunjung jua diperhatikan). Yah, nasib orang siapa yang tahu.
“Ya, pastilah dia dan keluarganya senang banget,” kata Wira. Ya, saya bisa membayangkannya. Namun, saya sempat merasa wow! Sampai motong kambing? Yah, bolehlah, toh mereka yang punya acara.
(Menurut tuturan Wira, si tetangga cukup banyak mengundang orang. Semua tetangga diundang. Dan semua orang itu tahu bahwa ia diangkat menjadi PNS).
“Nah, setelah itu ...,” lanjut Wira.
Oh, cerita belum selesai ternyata.
Selang beberapa lama setelah acara selamatan, Pak Lurah dan bedinde-bedinde-nya datang ke rumah si tetangganya Wira. Membawa banyak sekali makanan dan juga buah-buahan. Bukan datang ke acara selamatan.
Masih menurut Wira, Pak Lurah dan rekan-rekan sudah sempat juga mencicipi gule kambing selamatan. Wong, itu keluarga seneng banget. Pastilah orang kantor juga kebagian rantangan.
Jadi, jelas mereka bukan datang ke acara selamatan. Acara selamatannya sudah lewat beberapa waktu lalu.
Kali itu, mereka datang untuk memberi kabar. Mereka juga membawa cukup banyak sesuguhan buat si tetangga.
“Jangan bilang, ya, Wir,” kata saya. Ada pikiran buruk di benak saya. Dan saya ingin cerita tidak dilanjutkan. Cukup sampai di situ.
Namun, Wira masih melanjutkan ceritanya, “Iya, jadi, Pak Lurah tuh dateng buat ngasih kabar ....”
Pak Lurah dan para bedinde datang (lengkap dengan sesuguhan). Minta maaf.
Katanya, ada kesalahan. Pengangkatan status PNS sang tetangga dibatalkan. Pak Lurah bilang, tahun ini, pengangkatan difokuskan pada yang sudah tua-tua dulu. Yang sudah bertahun-tahun berstatus honorer. Jadi, ya, si tetangga tidak jadi jadi PNS. Tetap jadi honorer.
Lha, semua orang juga sudah tahu bukan kalau banyak tenaga honorer yang terkatung-katung selama bertahun-tahun cahaya? Lalu, kenapa Pak Lurah itu ujug-ujug bilang kalau si tetangga diangkat jadi PNS?
“Ada kesalahan,” kata Pak Lurah. Mudah sekali.
Saya tidak dapat membayangkan wajah si tetangga dan keluarganya. Terbayang juga wajah kambing yang sudah dipotong. Wajah tetangga yang telah diundang.
Durian runtuh terlalu cepat. Jadilah mereka ketiban durian.
“Untungnya, mereka orang baik,” kata Wira. “Jadi, tetangga-tetangga tidak mencela. Malah ikut simpati.”
Ya, saya juga ikut bersimpati buat sang tetangga dan keluarganya. Pasti ada rencana yang lebih baik buat mereka.
Friday, February 09, 2007
AMBUN SURI
Aku takut ia mengenalmu. Aku takut darahmu yang mengalir dalam tubuhnya mewarisi apa yang ada padamu. Aku takut. Namun, ia selalu bertanya tentangmu. Abak mana, Mak? Abak mana? Tak mampu kusampaikan padanya. Ia semakin besar sekarang. Dan, aku, aku semakin tua.
Ingin kukatakan kau berada di tempat yang jauh, tapi jiko ado, baa kaba baritonyo? Ingin kukatakan kau telah tiada, tapi jiko mati, di ma pusaronyo? Aku tak akan pernah bisa menjawabnya.
Haruskah aku menceritakan kisah itu pada anak kita? Telah bertahun-tahun setelah hari itu. Namun, semua masih begitu jelas bagiku.
Akhirnya, hari ini, kuberanikan mengajaknya ke tepi pantai ini. Aku pun memberanikan diri lagi mengenal laut. Biarlah ia tahu dari mana ia berasal. Ah, kau lihat betapa riangnya ia berlari-lari di pantai ini. Aku turut bahagia dengannya. Tersunggingkah senyumku? Entah. Di dalam, hati ini begitu takut. Takut ia mewarisi segala yang ada padamu. Karena itulah, aku takut mengenalkannya padamu.
“Mak, besar sekali kapal laut itu. Kenapa tidak tenggelam, Mak?” Bocah itu terkagum-kagum melihat kapal yang baru saja berlabuh, membawa barang-barang dagang--juga membawa masa lalu.
“Mak, banyak sekali orang di atas kapal itu, Mak? Dari mana mereka, Mak? Bisa kita ikut naik, Mak?”
Aku hanya diam. Itu jugakah yang kau katakan pada ibumu saat kau ingin berlayar, merantau ke negeri seberang?
“Mak, Mak, lihatlah kemari!” terdengar lantang suara bocah kita.
Anak itu, dia telah menyambung nyawaku. Aku telah lama menyadari bukan aku yang ingin diselamatkan dari laut. Harusnya, aku pun ikut bersamamu. Menemanimu di sana.
“Cepatlah, Mak. Kemarilah!” Ia menjadi tak begitu sabar.
Aku berjalan menyeret kakiku. Sepanjang jejakku, yang ada hanyalah ketakutan. Namun, tak ada penyesalan. Aku tak pernah menyesal bersamamu. Entah kenapa. Bahkan, setelah hari itu, aku berusaha mati-matian untuk membencimu. Membenci segala yang ada padamu. Tak jua berwujud. Saat itu, aku begitu takut telah kehilanganmu. Nyatanya, ketakutan itu semakin besar saat bocah—yang saat ini tak sabar menungguku sampai ke sisinya—itu ada.
Aku takut ia mengenalmu. Aku takut ia mewarisi apa yang ada di dirimu. Dulu, saat ayah meminta mamak-ku untuk menerimamu, aku begitu bahagia. Aku selalu ingin orang mendendangkan, “Sasuai bana jo si Ambun. Ambun Suri, bini yang talah disuntiangnyo ....” Kata mereka, kau sesuai sekali denganku. Aku, istri yang telah kau sunting. Aku bahagia.
Tetapi, semua itu telah berubah rasa. Bersama malam-malam yang begitu panjang. Bersama tahun-tahun yang menganak-pinakkan ketakutan. Rasa inikah yang dirasakan perempuan tua itu. Beginikah rasanya hingga ia menjadi begitu terluka? Hingga air matanya kering?
“Mak, cepatlah, Mak. Antarkan aku ke balik karang itu, Mak. Aku lihat ada batu serupa orang di sebaliknya. Aku hendak lihat dari dekat, Mak.”
Itu yang dikatakan buah hati kita. Apakah kau mendengarnya? Ah, aku semakin takut. Bahkan, melihat binar mata anak kita, ketakutan semakin menjeratku. Aku tak ingin ia mewarisi apa yang ada di dirimu—yang (awalnya) hanya ada di dalam hatimu.
Aku takut. Aku memang mencintaimu. Namun, anak kita semakin besar. Aku semakin tua.
Di pantai itu, hari semakin kelam, angin semakin dingin. Hati semakin beku.
Dan, Malin Kundang telah lama menjadi batu.
“Pagi-pagi, Malin-lah bangun. Sasuai bana jo si Ambun. Ambun Suri, bini yang talah disuntiangnyo ....”
Depok, 20 Maret 2006, 04.27 wib
Sunday, February 04, 2007
4/2
Ia teringat laki-laki itu. Seorang petualang yang tak pernah lama menjejakkan kakinya di hangatnya rumah. Yang tak pernah menitipkan hatinya di mana pun. Atau pernah? Ya, laki-laki itu pernah. Namun, ia tak pernah menceritakan kisahnya itu. Perempuan itu hanya mendengarnya dari kata orang. Suatu hari, jika laki-laki itu berkenan, perempuan itu mau mendengar kisah laki-laki itu. Jikapun itu kisah sedih.
Laki-laki begitu banyak menyimpan cerita--tentang perjalanan yang telah dan akan dilaluinya--di matanya. Hanya di matanya. Jika tak berlebihan, laki-laki itu pasti akan berkata bahwa ia mampu menaklukkan dunia. Ia terlalu sederhana. Kadang ia memilih diam dan hanya mendengarkan.
Ia teringat laki-laki itu. Seorang petualang. Dan sampai hari ini, belum temukan juga arah kembali.
Monday, January 15, 2007
Friday, January 12, 2007
IA TAK MAMPU MEMBACA WARNA DI KOTA INI
tak mampu membaca warna
di dinding-dinding beton kota ini
ia tak mampu temukan warna yang sama
yang pernah dikenalnya
tak ada warna kuning pucat memudar kemejanya,
tak ada warna tiang-tiang kayu pondok tuanya,
tak ada warna terik matahari kulitnya
tak ada, entah mengapa
wajah yang menekur itu
kemarin pagi pamit pada matahari di langitnya
antar langkah riang anaknya
hendak mencari mimpi
dan memintal benang harapan di kota ini
“semoga anakku tak melihat jejak yang terlalu dalam pada langkahku,”
diam-diam, laki-laki tua itu berdoa
begitu berat langkahnya
wajah tua yang menekur itu
begitu asing di rindang pohon-pohon kota ini, di hijau rumput-rumputnya
padahal, telah beratus-ratus malam,
bercangkir-cangkir kopi ia habiskan
sambil duduk bercerita dengan pohon-pohon di tanahnya
bercerita tentang mimpi-mimpi yang sangat sederhana
wajah tua itu menekur
angannya jauh, pulang ke sana, ke tanahnya
ke putik-putik jagung yang habis dimakan ulat
dan, ia masih saja merasa sangat asing
dengan rindang pohon-pohon dan hijau rumput-rumput
jejak langkah masih saja dalam
membawa kesedihan
tentang ladang jagung yang masih saja gersang
di kota ini, ia begitu asing
tak mampu membaca warna-warna, entah kenapa
mungkin, karena mimpinya tak pernah sampai di kota ini
mimpinya hanyalah tentang ladang jagung yang masih saja gersang
ah, mengapa tak pernah sampai mimpinya?
tapi, ia tahu, anak perempuannya itu sering bermimpi tentang kota ini
kota yang—katanya—di setiap sudutnya menjajakan cita-cita
anak perempuannya itu sudah terlalu sering bermimpi tentang kota ini
anak itu ingin memintal benang harapan di kota ini
di kota ini, anaknya itu akan berjalan dengan saku baju yang penuh dengan harapan
dan, suatu hari, ingin ditukarkannya dengan satu cita-cita yang dijajakan di sudut-sudut kota ini
wajah tua yang menekur itu tak mengerti
yang ia tahu hanyalah anaknya ingin ditemani ke kota ini
laki-laki tua itu, tetap tak mampu membaca warna di kota ini
mungkin, karena mimpinya yang tak pernah sampai
adakah yang menjual mimpi di sudut kota ini?
jika ada pun, ia tak akan sanggup membelinya
bahkan, saat ia berjalan menemani langkah anak perempuannya,
ia tak berhenti berdoa,
“semoga anakku tidak akan kecewa, aku tak mampu membelikannya cita-cita. semoga anakku tidak akan kecewa, bahkan sekarung penuh harapan pun tak akan bisa ditukarkan dengan cita-cita yang dijual di sudut-sudut kota ini”.
wajah tua yang menekur itu semakin tak mampu membaca warna di kota ini.
Depok, 20 Agustus 2005
Tuesday, January 09, 2007
kali ini
Tuesday, December 26, 2006
Saat Pergi, di Mana Kau Titipkan Hati?
atau kita bicarakan tentang tahun cahaya
yang tak pernah sampai lagi di sini;
ia tak akan pernah bisa membawa masa lalu, katamu
tahun cahaya telah larut dalam perjalanan teori
padahal, di sana ada lorong waktu: ke masa lalu
MENCARI ARAH UTARA
"aku tak akan tersesat," katanya, "jika kutemukan utara"
sungai-sungai, yang telah bersahabat lama dengan hujan, akan membawamu sampai. ke muara
seorang laki-laki, muda, tak pernah lagi mencari arah
"aku kehilangan kompas. aku takut tersesat," katanya
Thursday, December 21, 2006
SIAPA DIA?

Saat arah sudah melewati terowongan, setelah kampus BSI—yang tampak selalu ramai—setelah tugu yang menandakan batas kota Jakarta dan kota Depok, jangan lupa untuk mendongakkan wajah ke arah kiri. Di sana, di antara spanduk-spanduk dan baliho-baliho iklan yang selalu berganti, ada satu baliho yang tak pernah berganti—entah sejak kapan, saya lupa. Rasanya sudah sangat, sangat, sangat lama. Di situ, seorang laki-laki berpose dengan gaya yang aduhai, jadulnya.
Lihatlah baju lengan panjang (atau itu bisa disebut blus?) dengan warna ungu mengilat yang dikenakannya. Tampak bukan untuk ukuran tubuhnya yang masuk kategori orang bayaran (preman, maksudnya). Entah apa pula maksudnya membuka separuh dari kancing-kancing bajunya itu. Menyimpan harapan akan tampak dadanya, yang entah dia pikir sebidang apa. Mungkin. Belum lagi potongan rambut ala Deddy Dhukun—yang entah masih dipakai atau tidak oleh si Deddy sekarang ini. Tengok pula senyum yang mungkin dia pikir memesona semua wanita. Bagaimana dengan kumis dan jenggotnya yang ala mafia? Mungkin ia ingin tampak sangar, menutupi kilatan warna ungu yang tak akan terlupakan itu. Terpesonakah Anda? Ah, mungkin yang tak bisa dilupakan dari wajahnya adalah lirikan matanya—berharap setajam mata elang, tampaknya. Tidakkah ia terlalu berharap?
“Siapa sih orang ini? ada yang tau ga? serius nih!!!” Itu yang tertulis di primary foto di friendster salah seorang teman saya, Truly. Saya tahu dia serius mengomentari foto itu. Dan, foto itu pulalah yang menarik hati saya untuk segera membuka profil teman saya itu--kami menyimpan keresahan yang sama. (Truly, terima kasih buat fotonya, ya)
Ah, pertanyaan itu juga sudah lama ada di benak saya, dan juga mungkin Anda—orang-orang yang keluar-masuk kota Depok tercinta setiap harinya. Apakah WR. EQ. SWARA itu namanya? Entah. Saat lewat di sana, saya dan teman-teman selalu memperbincangkan hal itu. SIAPAKAH DIA? Apakah dia seorang warga yang terpilih jadi wajib pajak teladan? Mengingat di baliho itu ada tulisan:
PEMBANGUNAN KOTA DEPOK
TERLAKSANA ATAS KELANCARAN
ANDA MEMBAYAR PAJAK
BAYARLAH PAJAK ANDA TEPAT WAKTU
Entah. Atau juga dia sponsor utama, mungkin dari salah satu salon di kota Depok.
Atau juga dia adalah salah satu calon yang akan menjadi penguasa Depok? (Soalnya, saya juga sering melihat foto seseorang—di mana-mana—dengan slogan “antinarkoba” hingga saya pikir dia dari Partai Antinarkoba. Tetapi, kalau beliau itu sudah jelas salah seorang pejabat.) Kalau yang ada di foto ini?
“Berapa ya dia bayar buat bisa nampang di situ? Udah lama banget,” itu percakapan saya dan teman-teman jika teringat pada lirikan-tak-terlupakan sang-pria-misterius itu. Bertahun-tahun pula (jujur, sebenarnya, saya tidak tahu pasti sudah berapa lama dia di sana). Sudah-sangat-lama.
Ah, siapakah dia? Tidakkah dia kesepian duduk sendirian di sana? Mungkin, dia seorang anak hilang yang ingin menemukan siapakah orangtuanya. Berharap ayah atau ibunya melihat foto itu, kemudian mencarinya. Kalau benar begitu, kasihan juga dia, sudah lama tak ada orangtua yang merasa kehilangan anak seperti dia—terlalu menyilaukan.
Mungkin juga dia seorang pria—mungkin duda—yang ingin mencari soulmate-nya.
Mungkin dia reinkarnasi Narsisus, yang telah menolak cinta Echo--yang terus-terusan mengulang kata yang terakhir didengarnya, membayar cinta yang diungkapkannya? (sepertinya bukan, bukankah Narsisus belum mengenal Deddy Dhukun?)
Na, na, na, na, na, na, na, na, na, na, … Ow, ow, siapa dia? Mungkin Om Kris tahu.
Sudahlah. Tak peduli siapa dia. Mungkin hanya seseorang yang butuh eksistensi diri. Butuh pengakuan akan keberadaannya.
Sudahlah, buat apa juga dipikirkan.
Namun, dia mengganggu tidur-tidur saya …. Bagaimana tidak, setiap hari, setiap memasuki kota Depok tercinta, saya selalu merasa ditatapnya—dengan mata yang dia curi dari seekor elang malang.
Jika Anda pernah melihatnya, mungkin dia juga telah mengganggu tidur-tidur Anda. Jika belum melihatnya, jangan merasa kecewa. Anda masih bisa—dan akan selalu bisa—melihatnya. Datang saja ke kota Depok tercinta. Setelah melewati terowongan “Selamat Datang Kota Depok”, jangan alihkan mata Anda ke arah mana pun. Tenggoklah ke arah kiri, sedikit tenggadah. Dan Anda akan bertemu dengannya dan mungkin akan bertanya pula, SIAPA DIA?
Wednesday, December 20, 2006
Bukan Tak Mungkin
katakan kau akan ingat
akulah yang mampu memuarakan
napas-napasmu
walau tak setiap tetes sampai
jika laut meminangmu
ingatlah setiap jengkal lekuk menuju hilir
kau dan aku pernah ukir
jika laut meminangmu
aku akan tetap iringi ratapan riakmu
maka dengarlah harapku
lewat doa-doa hujan pagi
pula kutitipkan dalam sujud-sujud angin pantai
jika laut meminangmu
dengarkan hatimu
dan kenanglah aku.
Depok, 02 Juli 2002
Terima Kasih, Ni

"Ni, bangunlah .... Lihatlah Cipa yang selalu bernyanyi dengan lucu. Ia ingin mamanya melihat kerlingan manja matanya. Ni, bangunlah ..... Kalau tidak, siapa yang akan memasak ketupat paling enak saat Lebaran .... Ni, bangunlah .... Sekarang, Puput juga sudah pintar, sudah bisa mengangkat jemuran ...."
Dan, tiba-tiba, aku berhenti berbisik di telingamu. Ah, entah kenapa, bocah kecil dengan rambut kepang itu mulai belajar untuk melangkah sendiri.
"Tidak, Ni .... Belum .... Puput belum bisa mengangkat jemuran sendiri. Rambutnya saja masih perlu disisiri. Dan, ia masih ingin seragam merah putih itu sudah terletak rapi begitu ia selesai mandi. Ni, bangunlah .... kami menunggumu."
Saat itu, kau hanya diam ..., tapi aku tahu kau mendengar bisikku. Di sudut matamu, ada air mata yang tak jatuh. Membeku di sana. Saat itu, aku percaya kau akan membuka matamu. Kau tangguh. Yang telah mampu menaklukkan lelah di sepanjang perjalanan panjang yang telah kau lalui. Kau tangguh. Dan aku percaya penyakit itu tak akan jauh membawamu. Itu yang kau tunjukkan padaku. Pada kami.
Ni, kau selalu mengkhawatirkan perjalananku, perjalanan kami. Ada saja yang kau titipi agar jalan tak terasa terlalu jauh, agar jalan terasa tak terlalu berat. Dan agar sedih tak ikut di sepanjangnya. Namun, tak pernah kau biarkan kami mengkhawatirkanmu. Bahkan, sampai saat waktu berhenti berdetak untukmu. Tak kau biarkan kami untuk khawatir. Malah masih sempat kau titipkan harapan lewat senyummu. Seakan-akan kau tahu kami masih perlu bekal untuk melewati perjalananan--yang entah berapa jauh lagi.
Suatu ketika aku mengenangmu, kau masih tak biarkan aku bersedih. Kau tetap tak biarkan aku mencari di mana kau sembunyikan lelahmu. Kau selalu dan selalu titipkan harapan. Di sana, terbingkai rapi dalam tawamu.
Terima kasih, Ni ....
Terima kasih untuk ada.
Selalu.
1.jpg)