Penjual Kenangan

Tuesday, February 13, 2007

Cerita dari Wira

Beberapa malam lalu, seorang teman, sebut saja namanya Wira, bercerita. Katanya, belum lama ini, tetangganya mengadakan selamatan. Besar-besaran, sampai-sampai ada acara “motong kambing”.

Selamatan itu untuk merayakan nasib mujur sang tetangga. Laki-laki lulusan SMA itu bekerja di kantor kelurahan, sebagai tenaga honorer. Masa kerjanya terhitung belum lama, baru satu setengah tahun. Pada hari yang cerah, laki-laki itu mendapat kabar, ia diangkat menjadi PNS—status yang dikejar-kejar banyak orang untuk menyandarkan hari tua mereka. Wajar saja si tetangga begitu bahagia. Ia—yang baru bekerja seumur jagung (untuk ukuran waktu bagian pegawai honorer)—diangkat menjadi pegawai.

Ah, mujur benar ia jika dibandingkan dengan pegawai-pegawai honorer yang sudah bekerja puluhan tahun, bahkan ada yang tetap berstatus sama. Mereka terkatung-katung. Entah faktor apa yang dijadikan pertimbangan pengangkatan sang tetangga—Wira tidak tahu juga, “Mungkin karena dia rajin atau apalah,” kata Wira.

Alhasil, sang tetangga merasa kebahagiaan itu perlu dirayakan. Jadilah acara “motong kambing” dan acara undang-undang tetangga untuk makan bersama. Hari tua sang tetangga akan terjamin. Begitu pula anak dan istrinya (jika ia menikah dan punya anak kelak). Tak terbayang sumringah wajah sang tetangga dan keluarganya itu. Seperti mendapat durian runtuh. Tak apalah habis-habisan untuk selamatan, toh mereka sudah ketemu pohon durian itu, pikir mereka (barangkali).

Saya dan teman-teman yang mendengar setuju juga jika si tetangga dimasukkan pada kategori orang yang beruntung (ya, kita bandingkan saja dengan peserta CPNS dan juga pegawai honorer, terutama guru, yang terus berharap tiap tahun. Tapi, tak kunjung jua diperhatikan). Yah, nasib orang siapa yang tahu.

“Ya, pastilah dia dan keluarganya senang banget,” kata Wira. Ya, saya bisa membayangkannya. Namun, saya sempat merasa wow! Sampai motong kambing? Yah, bolehlah, toh mereka yang punya acara.

(Menurut tuturan Wira, si tetangga cukup banyak mengundang orang. Semua tetangga diundang. Dan semua orang itu tahu bahwa ia diangkat menjadi PNS).

“Nah, setelah itu ...,” lanjut Wira.

Oh, cerita belum selesai ternyata.

Selang beberapa lama setelah acara selamatan, Pak Lurah dan bedinde-bedinde-nya datang ke rumah si tetangganya Wira. Membawa banyak sekali makanan dan juga buah-buahan. Bukan datang ke acara selamatan.


Masih menurut Wira, Pak Lurah dan rekan-rekan sudah sempat juga mencicipi gule kambing selamatan. Wong, itu keluarga seneng banget. Pastilah orang kantor juga kebagian rantangan.

Jadi, jelas mereka bukan datang ke acara selamatan. Acara selamatannya sudah lewat beberapa waktu lalu.


Kali itu, mereka datang untuk memberi kabar. Mereka juga membawa cukup banyak sesuguhan buat si tetangga.

“Jangan bilang, ya, Wir,” kata saya. Ada pikiran buruk di benak saya. Dan saya ingin cerita tidak dilanjutkan. Cukup sampai di situ.

Namun, Wira masih melanjutkan ceritanya, “Iya, jadi, Pak Lurah tuh dateng buat ngasih kabar ....”

Pak Lurah dan para bedinde datang (lengkap dengan sesuguhan). Minta maaf.

Katanya, ada kesalahan. Pengangkatan status PNS sang tetangga dibatalkan. Pak Lurah bilang, tahun ini, pengangkatan difokuskan pada yang sudah tua-tua dulu. Yang sudah bertahun-tahun berstatus honorer. Jadi, ya, si tetangga tidak jadi jadi PNS. Tetap jadi honorer.

Lha, semua orang juga sudah tahu bukan kalau banyak tenaga honorer yang terkatung-katung selama bertahun-tahun cahaya? Lalu, kenapa Pak Lurah itu ujug-ujug bilang kalau si tetangga diangkat jadi PNS?

“Ada kesalahan,” kata Pak Lurah. Mudah sekali.

Saya tidak dapat membayangkan wajah si tetangga dan keluarganya. Terbayang juga wajah kambing yang sudah dipotong. Wajah tetangga yang telah diundang.

Durian runtuh terlalu cepat. Jadilah mereka ketiban durian.

“Untungnya, mereka orang baik,” kata Wira. “Jadi, tetangga-tetangga tidak mencela. Malah ikut simpati.”

Ya, saya juga ikut bersimpati buat sang tetangga dan keluarganya. Pasti ada rencana yang lebih baik buat mereka.

2 comments:

santhy Yuniarto said...

Mestinya duriannya runtuh dan menimpa kepala pak lurah yang geblek itu hehehe...

Anonymous said...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin