Penjual Kenangan

Tuesday, October 02, 2012

Di "Persimpangan" [Silang Hati], Aku Menunggumu


COMING SOON!

"jika ini cinta, mungkin kita harus menunggu, tetapi apakah kita masih punya waktu?" 
--Silang Hati (Sanie B. Kuncoro & Widyawati Oktavia, GagasMedia, 2012)



Suatu hari, saya ditawari untuk ikut dalam proyek novel duet di GagasMedia. Kebetulan, novel pertama saya  (Kucing Melulu & Cerita Cinta [Me]Lulu, 2009, so last century, hehe) juga diterbitkan di GagasMedia. Pada saat ini, saya sedang (berusaha keras) menyelesaikan sebuah novel (yang belum juga selesai sejak, hmm, satu-dua tahun lalu. hehe). Novel saya itu tidak selesai-selesai dengan alasan bahwa saya terlalu sibuk dengan pekerjaan mengedit (pembelaan diri banget). Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, saya punya waktu luang buat tidur berlebih (setelah bergadang dengan alasan insomnia). Sebenarnya, saya ingin bilang kalau sebenarnya, alasan saya tidak punya waktu untuk menulis itu hanyalah karena saya tidak menyempatkan diri untuk menulis. *noted!*

Saat ditawari menulis duet, saya langsung bersemangat dan tiba-tiba saja berbagai outline wira-wiri di benak saya. Saya langsung meneror sang editor, menanyakan siapa pasangan duet saya agar saya segera berdiskusi dengannya (semangat ini harus tetap saya pertahankan, tetapi sayangnya sering tenggelam dalam deadline *_*). Lalu, dalam tiga hari, meski belum tahu siapa pasangan duetnya, saya pun sudah membuat sebuah outline yang cukup lengkap untuk sebuah novela dan langsung saya kirimkan ke editor. Sebenarnya, sebuah nama sudah disebutkan sang editor, tetapi itu masih tentatif dan saya juga merasa punya gaya kepenulisan yang sama dengan penulis tersebut. Waktu berlalu, dan karena jadwal penerbitan novel duet saya itu masih lama. Dan, saya pun kembali tenggelam dalam deadline.

Suatu hari, waktu habis makan siang, saya ingat sang editor bilang, "Eh, gue udah tahu siapa pasangan duet lo!" dan hal itu membuat saya penasaran habis dan tiba-tiba semangat menulis novela ini kembali membuncah! *halah* Dan, yang lebih memicu semangat saya lagi adalah penulis yang akan menjadi pasangan duet saya sudah selesai menuliskan naskahnya. Dan, saat di kantor, akhirnya, saya diberi tahu bahwa pasangan duet saya adalah Mbak Sanie B. Kuncoro, dan saya sangat tersanjung dengan hal ini karena Mbak Sanie merupakan orang yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis-menulis, apalagi dalam dunia novel. Sementara, selama ini, saya lebih banyak menulis cerpen daripada novel. Dan, saya juga menyukai gaya penulisan Mbak Sanie yang manis di novel Memilikimu yang diterbitkan GagasMedia. 

Hari itu Jumat, saat akan pulang, saya dikirimi novela Mbak Sanie untuk saya baca agar bisa dapat gambaran untuk "mengaitkan" cerita kami. Saya membuka naskah Mbak Sanie malam itu juga dan menemukan judul "Senandung Hujan" di cerita itu. Dan, dengan membaca sekilas, sesuatu langsung ting! di benak saya. Saya sudah tahu apa yang akan saya tuliskan! Kebetulan, saya pernah menulis sebuah cerita pendek (sekitar lima halaman) dengan tema yang cukup menonjol dalam cerita Mbak Sanie: pendaki

Malam itu juga, saya langsung membuka cerita pendek saya itu dan sebuah ending telah ada di benak saya--meski jalinan ceritanya masih bolong sana-sini. Saya langsung menuliskan poin-poin yang harus ada dalam cerita ini. Dan, ibarat akan membangun rumah, cerita pendek itu bagai bekal batu bata dan pasir untuk "rumah" yang akan saya bangun. Saya tinggal membeli semen, pintu, daun-daun jendela, genting, dan mungkin lampu-lampu untuk mempercantik rumah itu. Yang pasti, saya punya bahan dasar yang sangat membantu saya untuk membuat cerita ini. 

Esoknya, Sabtu, saya berangkat pagi-pagi ke UI, untuk ikut les bahasa Inggris. Di depan halte FIB UI, saya menghentikan motor, dan meragu. *halah* Iya, saya ragu masuk kelas les itu karena... sudah dua pertemuan sebelumnya bolos (karena ada acara kantor, biar terkesan bukan males). Akhirnya, saya memutuskan jalan lurus, menuju Dunkin di Detos, tempat favorit saya mengetik dan menikmati layanan wifi (dengan murah) :p. Dan, hari itu masih pagi, yang berarti masih ada menu breakfast (yang lebih murah). Hehee. 

Di sana, saya melanjutkan menulis novela saya itu. Saya mengetik seharian dan melanjutkannya kembali di kosan. Tanpa terasa, hari menjelang dini hari, dan saya mencoba untuk tidur. Saat mencoba memejamkan mata, fragmen-fragmen cerita novela seakan memanggil-manggil di benak saya. Saya pun memutuskan bangun dan kembali ke meja untuk mengetik. Lalu, menulis cerita itu sampai pagi tanpa henti. Kantuk terasa, tetapi kisah itu masih tanggung karena "sedikit lagi". 

Akhirnya, saya "memutuskan" menyelesaikan cerita ini. Dan, cerita selesai menjelang pukul satu siang pada hari Minggu itu. Saat itu, jari-jari saya terasa begitu pegal dan tak bisa digerakkan. Saat saya meraih bantal untuk segera tidur, saya menyempatkan mengirim SMS kepada seseorang bernama Gita: novela gue selesai. Kata-kata itu menjadi sesuatu hal yang saya ingat sebelum saya jatuh tertidur. Saya melaporkan itu kepada Gita Romadhona, orang yang selama ini selalu saya "paksa" menjadi orang pertama yang  membaca cerita-cerita pendek yang saya tulis. Dan, saat memejamkan mata itu, saya sangat lega karena telah berhasil menyelesaikan tulisan sekitar 60 halaman dalam dua hari dua malam ala Roro Jonggrang. :D

Senin, saya pun langsung memberi tahu sang editor bahwa saya telah menyelesaikan cerita yang saya tulis. Lalu, saya pun dikenalkan kepada Mbak Sanie lewat telepon dan kami janjian untuk mendiskusikan jalinan cerita kami. Ternyata, Mbak Sanie sedang di Jakarta, ada acara di acara cerpen Kompas, dan saya kebetulan sekali saya memang sudah berniat datang ke acara itu. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Akhirnya, saya berkenalan secara resmi dengan Mbak Sanie dan kami pun mendiskusikan keterkaitan cerita kami itu. :)

Dua hari kemudian, saya kembali membaca cerita saya dan membuat catatan yang "bolong" dari cerita tersebut. Beberapa hal masih mentah dan logikanya belum "masuk". Berbekal catatan sendiri itu, saya pun memperbaiki proyek Roro Jonggrang saya, sekaligus memasukkan fragmen baru agar terbentuk kaitan cerita saya dan cerita Mbak Sanie. Saya pun sempat riset ke sebuah tempat yang menjadi salah satu latar novel ini agar lebih dapat "gambaran" tempat yang pas. 

Self-editing dan revisi untuk poles-memoles novela ini (sekaligus diskusi lagi dengan Mbak Sanie dan editor) saya kerjakan sekitar sebulan. Dan, saya pun mengirimkan draf novela ini ke editor tepat waktu! Yeee!
Saya tinggal menunggu catatan dari editor GagasMedia untuk catatan revisi novel ini. *senangnya*
Akhirnya, e-mail yang ditunggu pun tiba. Saya mendapatkan beberapa catatan yang perlu direvisi. Dan, tentu saja, saya kembali memanggil jin-nya Bandung Bondowoso dan mengerjakan revisi itu tanpa mengenal siang dan malam. Haha. 

Setelah melihat cover novel duet ini memuat nama saya, saya kembali berpikir, ke mana aja saya selama tiga tahun ini? Tiga tahun ini, novel saya terbengkalai dan outline bertebaran di laptop saya. Cerpen sastra? Boro-boro. Ada sih satu dan itu bahkan saya nggak berani liatin ke Gita karena, hmm, ngerasa jelek. >.< Yang selesai hanyalah tulisan-tulisan galau di blog :p + sebuah buku rangkuman Bahasa Indonesia yang saya tulis dengan Gita. 

Jadi, dari novela ini, saya belajar kembali bahwa kita hanya perlu motivasi, terutama dari diri sendiri, untuk menyelesaikan-hal-yang-belum-selesai. *bold, italic* *ambigu* :))

Terima kasih, GagasMedia, yang telah mengajak saya dalam proyek duet ini. Kepada Christian Simamora yang selalu berhasil membuat saya "iri sangat" dengan semangat-dini-hari-nya untuk menulis. Buat Mbak Sanie yang "mengobarkan" semangat saya dengan sebuah kisah manisnya yang selesai lebih dahulu. Buat Anissa Anindhika atas cover yang cantik. Juga terima kasih kepada orang-orang yang telah mewujudkan cerita ini dalam bentuk buku dan akan segera hadir di toko buku. Dan, buat Gita, tetap mau ya membaca dengan sabar "kisah-kisah cinta"-ku. Hoho.

Dan, kamu, para pembaca, aku harap kamu mau "Menelusuri Jejak Cinta" di Silang Hati ini. Aku akan menunggu di "Persimpangan", mungkin berteman "Senandung Hujan". :)


With love

Widyawati Oktavia



3 comments:

Enno said...

jadi rupanya jenis yg hrs punya deadline dan ditunggu2 editor dulu ya? hahaha...

itu novel yg tiga taon, pdhl udh kuksh tips caraku pas bln puasa lho. abis sahur lgsg nulis smp subuh.
otak fresh klo nulis pagi2.
setuju sama Bang Christian! ;)

riawani elyta said...

subhanallah, bener2 roro jonggrang deh 2hr tembus 60 hal, i'm looking forward mbak, yg edisi ber-ttd, hehe

penjual kenangan said...

@mbak enno: hehe. kyknya aku tuh "gemar" dikejar deadline. :D
hehe, masih ttp berusaha menyelesaikan novel itu, mbak. doakan. :))

@mbak riawani: sampe jari-jarinya ga bisa digerakin, mbak. haha. tp yg dua hari itu "cuma selesai", masih kasar bgt. :p
thanks, mbak ria. disiapkan. hehe.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin