Penjual Kenangan

Friday, May 26, 2006

KALI INI, KAU TERLALU TERBURU-BURU


Jalan Margonda, pukul setengah sembilan malam. Perempuan itu keluar dari warnet La Tanete yang menjadi tempatnya untuk membunuh waktu. Tempat yang paling mudah untuk menemukan perempuan dengan rambut sebahu yang bergelombang itu, selain di tempat kostnya yang teletak dua ratus langkah dari warnet tersebut. Satu sampai satu setengah jam—hampir tiap hari—ia menghabiskan waktu di tempat itu; mencari data untuk bahan kuliah atau pun sekadar memeriksa e-mail yang masuk, menjelajahi situs-situs berita terkini, sampai membaca ramalan bintang yang terkadang isinya selalu sama setiap minggunya. Hampir semua temannya tahu kebiasaan gadis ini.

Ia bergegas hendak meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba ia berhenti saat mendengar suara, “Rubi!”

Ketika ia menengok ke belakang, sosok yang memanggilnya itu tersenyum dengan senyum yang sangat dihapalnya. “Aria?” Rubi sebenarnya bukan bertanya, tetapi memastikan.

“Apa kabar, Bi?” Laki-laki yang tadi memanggilnya itu menyodorkan tangannya.

“Baik.” Perempuan itu menjabat tangannya dan berusaha untuk tersenyum meskipun ia merasa sedikit kaku dengan situasi saat ini.

“Boleh nemenin balik ke kosan?” tanya laki-laki yang tampak lebih dewasa daripada perempuan itu. Ia mencoba untuk tidak hanyut dalam kekakuan suasana.

Perempuan itu mengangguk, “Ya, bolehlah,” ujarnya dengan sedikit gugup karena dia tidak siap dengan situasi ini.

Kemudian, jalan Margonda itu mereka susuri berdua, seperti dulu, setahun yang lalu.

“Kok, bisa ada di sini?” tanya perempuan yang mencoba tidak mendengarkan debaran yang mulai tidak beraturan di dadanya itu.

“Aku sengaja mau nemuin kamu, Bi. Tadi aku ke kosan dan dibilangin kalau kamu lagi ke luar. Ya udah, aku langsung ke sini. Ternyata kamu nggak berubah ya, Bi. Masih suka aja ama La Tanete,” ujar laki-laki yang masih juga seperti dulu: dengan rambut ikal tidak rapi yang membuatnya kelihatan lebih manis dan jaket hitam yang itu-itu juga.

“Yah, begitulah. Lagian juga baru setahun, belum cukup lama buat ngubah seseorang. Lagian aku juga selalu nyaman di La Tanete.” Perkataan perempuan itu tampaknya menyiratkan hal lain.

Laki-laki itu tersenyum, entah dapat menangkap maksud perempuan itu atau tidak. “Bagiku cukup lama, Bi. Hari-hari setahun ini telah banyak mengubahku.” Laki-laki itu menatap kosong pada cahaya lampu jalan yang tampak remang-remang.

Di sebelah kanan mereka, roda mobil dan motor saling berlomba berputar di jalan aspal yang sangat mereka akrabi namanya. Tiba-tiba saja, perlahan-lahan waktu berjalan mundur di benak perempuan itu.

“Kok tiduran di luar, Bi, nggak dingin?”

“Lagi nungguin bintang jatoh,” jawab perempuan itu tanpa menghiraukan dingin angin gunung di Surya Kencana, Gunung Gede. Api unggun yang dibuat rombongan mereka pun tidak dapat berbuat banyak untuk mengusir angin yang telah lama berkuasa di gunung itu.

“Ikutan ya.”

Sebelum Rubi menjawab, laki-laki itu sudah menggelar matras di sebelahnya. Malam itu, tampaknya satu bintang telah jatuh untuk Rubi dan mengabulkan keinginannya: laki-laki itu menemaninya menatap langit.

Laki-laki itu bernama Aria. Ia dan Rubi hanya teman biasa. Namun, sejak pertama Rubi telah menemukan sisi yang selalu membuatnya seperti orang bodoh di depan Aria. Jika tidak melihat sosok Aria, Rubi selalu mencarinya. Akan tetapi, jika Aria ada di dekatnya, Rubi tampak tidak peduli. Kata orang, hal itu berarti jatuh cinta. Entahlah, Rubi belum mengerti hal—menurutnya, itu merupakan kebodohan—yang sudah berlangsung selama satu tahun itu. Kebodohan itu yang juga membuatnya ikut menjejakkan kaki di gunung ini.

“Emang kalo ada bintang yang jatoh, lo mau apa, Bi?”

“Apa ya? Gue pengen permintaan orang yang gue sayangi terkabul.”

“Kok, buat orang, sih, Bi?”

“Abisnya, gue dah yakin permintaan gue nggak bakal terkabul.” Rubi tersenyum, tapi tampak dipaksakan.

“Kok segitunya, sih, Bi?” Aria tidak percaya Rubi yang dikenalnya ternyata pesimis.

“Pasti lo pikir gue pesimis. Nggak kok, Ya. Gue seneng aja kalo orang yang gue sayang seneng. Gitu, Ya!”

Aria tersenyum, ternyata masih ada orang yang berpikiran seperti itu, pikirnya. Tiba-tiba, di langit sebelah barat meluncur satu bintang. Rubi dan Aria melihatnya dengan jelas dan dalam hati mereka mengucapkan keinginan masing-masing.

“Lo minta apa, Ya?”

“Dia, Bi,” ujar Aria.

Mendengar kata “dia”, angin dingin gunung membekukan hati Rubi. Tiba-tiba, Rubi tidak ingin lagi mendaki sampai puncak karena sebelum sampai ia telah tahu apa yang akan dilihatnya. Usahanya untuk mencapai puncak saat ini menjadi sia-sia. Ternyata, puncak yang akan didakinya tidak seperti yang dibayangkannya. Ia begitu menyesal telah melakukan hal-hal bodoh selama ini. Bahkan, ia menyesali menjejakkan kaki di gunung ini.

Malam itu, Rubi akhirnya tahu bahwa Aria telah mempunyai “dia”. Seorang perempuan yang kata Aria membuatnya tertantang untuk membuktikan bahwa dirinya tidak berpikiran picik seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia berbeda. Banyak hal yang mereka bincangkan malam itu, tetapi tak satu pun mampu mencairkan kebekuan hati Rubi. Saat itu, Rubi berharap satu bintang jatuh lagi untuknya. Tetapi, sampai ia beranjak ke dalam tenda, tak satu pun bintang yang jatuh.

Namun, ternyata apa yang orang bilang ada benarnya juga: di gunung, segala hal dapat terjadi. Hal ini terbukti dengan sikap Aria pada Rubi. Entah kenapa, setelah turun dari gunung, tidak hanya Rubi yang mencari-cari Aria, laki-laki itu juga. Pesan-pesan singkat lewat telepon genggam mereka juga semakin tidak biasa. Sampai akhirnya suatu hari Aria mengakui bahwa ia menyayangi Rubi. Kemudian, hari-hari menjadi indah bagi Rubi. Hari-hari di kampus, malam-malam sepanjang jalan Margonda, perbincangan tentang langit, bintang, bulan, hujan, sampai pada gambar senyum di pesan singkat telepon genggam menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan bagi perempuan itu.

Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung selama dua bulan. Kemudian, Aria menyadari bahwa ia salah. Ia sangat merasa bersalah pada “dia”. Sayangnya, Aria juga tidak dapat memilih salah satunya. Rubi akhirnya menyadari hal itu. Ketika itu, bukan Aria yang memilih, melainkan Rubi. Perempuan itu memilih untuk mencari jalannya sendiri. Ia yakin bisa menemukannya meskipun bukan bersama Aria. Sakit memang. Tapi, ia bukan perempuan lemah dan ia yakin semua yang diberikan-Nya adalah yang terbaik. Lagipula, ia akan lebih mudah melupakan Aria karena beberapa bulan kemudian Aria wisuda. Dan sejak saat itu, tak salah satu dari mereka pun yang mencoba untuk saling menghubungi. Hubungan mereka yang tak didasari komitmen—kata sebagian orang, itulah model hubungan orang dewasa—benar-benar putus.

Lalu, malam ini, Aria muncul lagi dalam kehidupan Rubi. Masih sama seperti dulu. Ternyata, setahun memang tidak banyak mengubah seseorang. Mengubah hati? Entahlah, Rubi tidak bisa menjawabnya.

“Bi, ‘dia’ udah nikah,” tiba-tiba Aria mengatakan itu.

“Trus?” tanya Rubi singkat dan begitu cepat, seperti meloncat dengan tiba-tiba.

“Sebulan yang lalu. Dia tiba-tiba aja bilang kalau aku tidak menyayanginya sepenuhnya. Dia bilang aku berubah. Dia bilang aku sama aja ama laki-laki lain. Semua tiba-tiba aja, Bi, dan aku nggak dikasih kesempatan buat ngomong. Padahal, sebelumnya, aku udah berniat menjelaskan apa yang ada di hatiku. Kamu tahu, Bi kenapa semua itu terjadi? Waktu itu, dia nemuin puisi tentang langit, bintang, bulan, dan hujan darimu, Bi. Kamu tahu kan, lembaran-lembaran itu sangat berarti bagiku,” cerita Aria mengalir.

Rubi sebenarnya tidak ingin mendengar semua itu. Ia benci karena Aria masih saja seperti dulu: tidak berpendirian. Aria masih saja tidak bisa memilih antara Rubi dan “dia”. Ia menjadi sangat benci pada laki-laki yang tampaknya sekarang ingin mengganggu hidupnya lagi.

“Trus, apa yang lo harapin dari gue, Ya? Lo mau gue balik ke lo lagi, gantiin ‘dia’ yang udah ninggalin lo?” Rubi menjadi sangat marah sehingga ia memakai sapaan bukan lagi aku dan kamu, melainkan lo dan gue.

“Bi, bukan itu maksudku. Aku butuh orang yang ngertiin aku. Akhir-akhir ini, aku menjadi orang yang tidak waras, Bi. Aku tidak menjadi aku. Kamu tahu nggak? Sekarang hanya minuman-minuman yang nggak jelas itu yang bikin aku tenang.”

Mendengar itu, Rubi bertambah benci pada Aria. Ia tidak menyangka Aria selemah itu hanya gara-gara perempuan. “Udahlah, Ya! Gue udah nemuin jalan gue sendiri. Udah gue temuin, Ya. Meskipun nggak bersama lo. Gue udah nemuin itu bersama orang lain.”

Rubi ingin Aria tahu bahwa ia bukan orang yang bisa dijadikan tempat untuk berhenti jika hujan dan jika reda ia akan pergi lagi. Ia tidak mau. Rubi memang telah menemukan jalannya, tapi ia temukan sendiri, tidak bersama orang lain. Namun, Rubi ingin Aria tahu bahwa dia tidak berarti apa-apa lagi.

“Bi, bukan itu maksudku. Waktu itu aku tidak memilih, kamu yang pilihin semua buat aku, buat kita. Kamu tahu nggak? Sejak awal aku udah merasa pilihanmu itu salah. Tapi, aku terima karena aku pikir itu balasan karena telah menyakitimu. Saat ini, aku cuma ingin kamu tahu bahwa ternyata selama ini, bukan ‘dia’, tapi kamulah yang aku cari. Tapi, aku butuh waktu untuk semua itu.”

“Maaf, Ya. Aku udah lebih dulu ditemuin orang lain. Kamu selama ini tidak mencari, tapi hanya berpikir sampai waktu yang kau punya pun bosan menemanimu.” Rubi tidak menghiraukan getaran yang tadi mampir kembali di hatinya. Ia benci karena Aria sejak awal tidak berani mengambil risiko.

Aria terdiam. Ia tahu dirinya salah. Namun, ia hanya mencoba. Terkadang, orang baru menyadari bahwa ia mencintai seseorang saat orang itu telah pergi.

“Bi, kamu tahu nggak apa permintaanku waktu kita liat bintang jatoh di Gede dulu?” tanya Aria, saat semua tampak tak mungkin dicoba lagi, saat Rubi—mungkin hanya demi kesopanan—menemaninya menunggu bus di depan kosannya.

“Apa?” Rubi kurang tertarik dengan perbincangan itu karena dia sudah tahu apa jawabannya.

“Aku minta supaya permintaanmu yang waktu itu kamu bilang nggak akan terkabul dapat terkabul,” jawab Aria. Jawaban yang terburu-buru karena bus yang ditunggunya sudah datang. Dia segera naik dan menghilang dalam kaca gelap bus bewarna biru tersebut.

Rubi terpaku. Ia semakin tidak mengerti akan hati dan perasaannya. Aria, mungkin kamu juga ingin mendengar apa permintaanku waktu itu. Waktu itu, aku benar-benar minta agar permintaan orang yang kusayangi dapat terkabul. Dan kamu tahu pasti siapa orang yang kusayang saat itu. Sayang, kali ini kamu terlalu terburu-buru. Bus itu telah membawamu pergi sebelum kau tahu bahwa aku juga perlu waktu, Rubi berkata dalam hatinya.

Malam di Jalan Margonda berjalan perlahan, lampu jalan masih remang-remang, dan roda-roda kendaraan di jalan itu masih berputar. Seperti halnya hidup. Esok, entah apa yang terjadi saat ia berputar. Tak ada yang tahu. Pun, Rubi dan Aria.


Depok, Desember 2004
sumber gambar: www.artofthemix-org

1 comment:

secangkircokelat said...

ternyata, tidak ada yang terburu-buru wied-- langit masih sama biru--dan toh, setelah dua kali 365 hari, tidak sekalipun ia menunjukkan tanda2 untuk berubah warna, bukan? --ternyata tidak ada yang terburu-buru-- tidak ada pula yang meragu--cuma gw yang salah, saat memilih untuk menunggu ^_^

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin