Penjual Kenangan

Tuesday, December 08, 2009

semoga tawanya sampai padamu




Sudah Desember,
Ya, dan aku terlalu banyak berjanji pada bocah kecil bermata jeli itu.
Maafkan aku, Ni. Hanya sekali-sekali meraih tangannya dan mengajaknya berlari-lari.
Hanya sekali-sekali bercerita panjang padanya.
Selebihnya, hanya janji-janji.

Kau tahu, aku tidak berpikir ini sudah tiga tahun yang lalu.
Yang berarti, tiga tahun juga ia berjalan “sendiri”.
Yang berarti, tiga tahun juga ia mereka-reka mimpinya sendiri.

Ah, maafkan aku.
Aku selalu saja menjadi perempuan dengan berkarung-karung mimpi yang ingin kuceritakan kepadanya. Tapi, hanya satu dua helai cerita yang selesai.
Ah, gadis kecil bermata jeli itu, dia semakin menggembil.
Terbata-bata belajar membaca. Dan mungkin menunggu buku-buku yang—lagi-lagi—kujanjikan.

Kau tahu, dia masih mengenang jalan-jalan minggu sore kalian ke monumen dengan padang luas itu. Andai, ah, kau (pasti) tahu, memori itu terpahat dengan manis di benaknya--begitu membahagiakan pastinya jika ingatan itu tak lekang di ruang kenangannya.

Cerita bersamaku pun, ah, maafkan aku, mungkin hanya satu juga yang ada di benaknya, hanya ke kebun bintang. Hanya itu-itu saja yang ia celotehkan tentang aku. Ah, sebentar lagi. Aku takut ia bisa melangkah sendiri. Aku takut ia sudah bisa menciptakan mimpi sendiri. Dan, aku takut, ia memilih untuk membuat ceritanya sendiri. Sementara aku, aku terlalu riuh dengan langkahku.

Sudah Desember, pekan kedua. Akhir November itu telah berlalu dua pekan lalu. Tiga tahun, ternyata. Ah, ironis jika kukatakan waktu tak terasa. Padahal, mungkin, hari-hari yang sepi begitu terasa oleh bocah kecil itu, yang selalu berusaha gembira.

“Mama Cipa kan di surga, yak.” katanya, tidak bertanya, seakan bercerita. Dan, hatinya riang mengatakan itu. Semoga kau tenang di Sana, Ni—seperti harapan Cipa, harapan kami, di surga.

Ah, aku hanya kadang-kadang ingat celoteh riangnya tentang seekor kucing kecil yang berada di dekat tempat sampah, mengais-ngais sisa-sisa makanan bersama seekor lagi kucing besar.

“Eh, kucingnya kayak Cipa. Cuma ada bapaknya. Yak?” celotehnya tiba-tiba, dan lagi-lagi dengan nada riangnya ketika melihat dua ekor kucing itu. Matanya menatap meminta persetujuan, dan seakan senang hewan kecil itu bernasib sama dengannya. Setidaknya, dia tak sendiri, mungkin itu pikirnya. Entahlah.

Ah, kau pasti tahu, bocah kecil itu selalu membawa tawa di bibir mungilnya. Suaranya selalu riang.

Dan, ah, maafkan aku(lagi). Aku terlalu sering mengiriminya janji.... Aku ingin... ah, aku takut berjanji juga padamu. Tapi, bocah kecilmu, dia musim semi yang membawa cinta, yang mencipta tawa. Semoga sampai padamu di Sana....

3 comments:

Pohonku Sepi Sendiri said...

indah sekali rangkaian cerita ini, kawan.. terlalu indah mungkin untukku dan sendu mulai berkata-kata.. aku terharu..

DESFIRAWITA said...

rasanya tagis ku tercekat ketika membaca cerita ini,
mengharukan sekali.

nydya said...

sendu. pilu. perih.
airmata menderai tanpa permisi saat ku membacanya.
mencetak bayangan lucu seorang Cipa di benakku.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin