Penjual Kenangan

Tuesday, December 01, 2009

"semoga kau baik-baik saja."




Suatu hari, saya janji bertemu dengan seorang teman di Desa Pejaten—mengutip sebutan seorang sahabat saya untuk mal yang ada di bilangan Pejaten, dekat “rumah Barbie”-nya. Mal yang terbilang baru ini berada di depan “rumah Barbie” alias kantor sahabat saya itu—sahabat saya ini memang unik, dia punya sebutan khusus buat beberapa tempat. Kantornya disebut demikian karena dia bilang mirip dengan rumah-rumahan boneka Barbie. Setelah diperhatikan, dia benar juga. Hehe, itu intermeso, sedikit cerita tentang sahabat saya itu. ;P
Hari hujan waktu itu. Jadi, saat dan teman saya itu sampai, saya menyempatkan diri dulu ke toilet di dekat pintu masuk, di dekat sebuah gerai yoghurt yang yummy. Saat masuk ke dalam, saya hanya di wastafel, membenahi jilbab saya yang pasti sudah berantakan dan mengelap kaki saya yang kecipratan hujan—yang bercampur pasir—dengan tisu basah. Saat kembali menegakkan badan setelah mengelap kaki, ada perempuan yang menegur saya, sang janitor di toilet itu. “Eh, kenapa?” tanya saya dengan tampang bingung karena tidak mendengar apa yang barusan dia katakan.
“Nggak punya aer ya, Mbak?” tanyanya tanpa melihat pada saya, sibuk mengelap keramik wastafel.
Saya tidak langsung menjawab, tapi malah langsung melirik curiga ke keramik wastafel. Memangnya, saya bikin basah, ya? pikir saya, karena di beberapa mal, terkadang janitor-nya sering sensitif kalau air wastafel kecipratan sana sini. Tapi, kan saya belum cuci tangan dan sebagainya.
“Nggak punya aer ya, Mbak?” tanya perempuan berseragam biru itu lagi. “Eh,” saya tergagap, dan memandang dengan tatapan tak mengerti.
“Saya haus banget,” katanya, “belum istirahat dari tadi,” katanya tidak terlalu keras, tapi jelas tertangkap telinga saya.
Oh. Saya lupa ekspresi saya saat itu. Yang pasti saya syok dengan pernyataan itu. “Eh, yah, waduh, nggak punya….” sahut saya kebingungan. Lalu, refleks sibuk membuka tas saya, teringat akan sesuatu—mungkin sekaligus ingin dia percaya bahwa saya nggak punya air minum. “Tapi, aku punya kue, nih,” kata saya sambil mengeluarkan tupperware biru dari tas. Saya teringat akan beberapa potong kue spon vanilla keju yang saya bawakan untuk teman saya yang sedang menunggu di luar.
Saat saya buka tutup tupperware itu, saya jadi tidak enak sendiri, “Eh, kuenya enak kok, cuma bentuknya aja yang agak berantakan,” kata saya saat melihat beberapa potong kue keju itu sudah tidak pada tempatnya. Ketumplek dalam kotak itu. Duh….
“Enak, kok, beneran,” tegas saya sambil masih senyum-senyum nggak enak. “Ambil semua aja.” Saya sibuk mencari tisu di tas saya, sayangnya udah nggak ada.
Perempuan itu menatap saya, lalu mengambil beberapa lembar tisu di pojokan wastafel. “Tapi, jadi nggak ada buat Mbak,” katanya khawatir.
“Nggak pa-pa,” kata saya. “Saya udah makan. Masih banyak di kosan,” kata saya menjelaskan, teringat masih ada potongan besarnya di kulkas. Ih, kenapa saya menjelaskannya detail sih? Untung nggak sampai cerita saya kos di mana. Hehe.
Perempuan itu mengambil potongan-potongan kue yang ada dalam tupperware saya itu sambil tetap menggumamkan kekhawatirannya saya tidak kebagian.
“Nggak pa-pa,” kata saya berkali-kali, dan merasa malu karena bentuk kuenya udah berantakan. Tapi, beneran enak kok kue spons vanilla itu. :D
Dia membungkus kue itu dengan tisu sambil terus mengucapkan terima kasih. “Iya, dari tadi belum istirahat,” katanya. Dan, saat itu, sudah hampir magrib. Kasihan…. Mungkin, dia kerja dari pagi. Ia meletakkan kue itu di pojokan wastafel, dekat botol minuman dan kembali dengan lap di tangannya.
“Itu udah abis aernya,” katanya menjelaskan, padahal saya nggak ngomong apa-apa. Jangan-jangan, saya terlalu melirik botol itu. “Tempat ngambil airnya mesti ke basement, jauh,” lanjutnya.
Saya cuma senyum-senyum nggak enak lagi. Tidak berharap dia menjelaskan apa-apa. “Hehe, iya, nggak apa-apa. Maaf, ya, saya nggak punya air minum,” kata saya lagi dan ingin segera keluar dari toilet itu, nggak tega saat mendapati dengan jelas sosok si janitor. Gadis dengan rambut kucir kuda. Kurus. Terlalu kurus malah. Dan, wajahnya tampak memelas. Duh. Saya nggak tega ngeliat ekspresinya.
“Eh, aku duluan, ya,” ucap saya buru-buru dan nggak sabar ingin menceritakannya kepada teman saya. Dah, saya juga kepikiran dengan kata-kata “haus banget” yang dia bilang. Saya langsung melesat keluar diiringi ucapan terima kasih atas kue-keju-yang-tumplek-itu. Ah, kenapa kuenya berantakan sih tadi. Duh… Saat keluar, saya deg-degan, entah kenapa. Teman saya yang sepertinya sudah lama menunggu sudah berada dekat pintu keluar.
“Kenapa?” tanyanya, mungkin melihat tampang saya yang bingung.
“Itu,” kata saya tak bisa menjelaskan, dan celingak-celinguk. “Ada tempat orang jualan minum nggak?” tanya saya.
“Ada apa sih?” tanyanya penasaran.
“Itu, Mbak-nya kasian banget. Keausan,” sahut saya sambil berjalan buru-buru ke gerai yoghurt yummy itu. Entah kenapa, saya jadi ingin buru-buru dan jadi deg-degan. Mungkin, takut si Mbak keburu nggak haus kali ya. Hehe.
“Oh, ya udah, cepetan,” timpal teman saya dan jadi ketularan buru-buru juga.
Setelah mendapatkan dua botol minuman, saya bergegas ke dalam toilet itu lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan waslap dan wastafelnya. Saya langsung menyerahkan minuman itu.

“Eh, Mbak, pake dibeliin segala,” komentarnya sambil menerima kedua botol yang saya belikan.
“Makasih, ya, Mbak,” lanjutnya sambil kembali sibuk dengan waslap di tangannya. Tatapannya nggak fokus. Entahlah, saya seperti merasa dia tidak berada dalam ruang toilet itu.
“Iya, sama-sama,” kata saya, lalu keluar dari toilet itu lagi. Dengan buru-buru lagi.
“Udah,” kata teman saya saat kami berjalan menuju eskalator.
Saya mengangguk. “Tampangnya kasian banget,” kata saya. “Kayak orang bingung. Kenapa, ya?”
“Lagi ada masalah kali,” sahut teman saya.
“Iya kali, ya,” timpal saya. Lalu terdiam mendengarkan irama eskalator yang sedang berjalan.
(Gadis) Toilet yang aneh. Kasian.
Ah, tadi kuenya berantakan banget. Pake tisu gitu jadi tambah kasihan. Kenapa tadi nggak kasih sekalian ama tupperware-nya aja ya. Kenapa ya dia? Kasian banget. Yah, kuenya berantakan. Tapi, enak kok…. Tapi, harusnya sekalian ama tupperware-nya aja.
Gerak eskalator terasa melambat. Saya menghela napas. Kasian. Mudah-mudahan, dia baik-baik aja. 


#i owe the pic!

3 comments:

pencakar langit said...

Boo...lo kapan ke desa pejaten? Belanja yaa? Hahahahahaha

Peri Musim said...

bukan belanja, dia pac**an di desa itu :P

diansenyum said...

what a lovely picture!
love it :)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin