Wednesday, September 09, 2009

1

Kita duduk di depan perapian itu. Hangat cokelat dari mug berwarna cokelat tanah itu terasa di sela-sela jemariku.

“Kenapa tak diminum?” tanyamu saat menyadari aku hanya mempereratnya di genggamanku.

Aku mengedikkan bahu, tersenyum.

0 komentar:

Blog Widget by LinkWithin