Penjual Kenangan

Tuesday, August 09, 2011

Tahun-Tahun Terasa Cepat Berjalan*


gambar di sini!



Hari ini, aku bertemu dengan Pak Sondang, dosen Perancangan Sistem, Manajemen Informatika di Pendidikan Profesional Satu Tahun di sebuah lembaga pendidikan yang juga punya lembaga bahasa di bilangan Slipi, tempat aku kuliah tahun 2000—2001.
            “Kuliah di mana sekarang?” tanyanya.
            “UI, Pak,” ujarku.
            Senyum bangga yang cukup berlebihan terpancar dari wajahnya. Aku berharap dia tidak melanjutkan pertanyaannya karena aku tidak ingin dia sedikit menyesal dengan senyumnya itu. Namun, kalaupun dia bertanya, aku sudah siap menjawabnya.
            “Oh..., ngambil jurusan apa?” tanyanya lagi. Urutan pertanyaan ini sudah aku hafal.
            “Sastra, Pak.” Aku melihat tarikan senyumnya berkurang sedikit. “Sastra Indonesia, Pak,” lanjutku.
            Aku sudah siap melihat senyumnya itu tiba-tiba benar-benar hilang. Dan benar saja. Wajah tersenyum itu sekarang berubah menjadi wajah yang penuh tidak percaya.
            “Kok, nggak Sastra Inggris atau yang lain?” tanyanya.
            Sekarang gantian aku yang tersenyum. Jawaban ini juga sudah kuhafal untuk menjawab pertanyaan seperti itu. “Saya suka Sastra Indonesia, Pak. Ternyata Sastra Indonesia itu tidak seperti yang awalnya saya bayangkan, Pak.”
            Aku sudah siap mengungkapkan seribu alasan kecintaanku terhadap Sastra Indonesia. Namun, dosenku itu lebih dulu dijemput bus AC yang akan mengantarnya entah ke mana.
            “Sukses, ya!” ujarnya menjabat tanganku sebelum pergi.
            Aku menyambut jabatan tangannya dengan pasti, “Terima kasih, Pak.”
            Bus yang ditumpanginya berlalu meninggalkan aku yang masih juga tersenyum.    
            Ternyata, mantan dosenku itu pun berpikiran seperti orang kebanyakan mengenai Sastra Indonesia. Aku memakluminya. Dulu, aku pun berpikiran yang sama, masuk Sastra Indonesia itu sedikit “memalukan”. Namun, sekarang aku bisa mengatakan orang-orang seperti itu berpikiran dangkal mengenai jurusan—sekarang disebut program studi—yang aku ambil di fakultas yang saat ini sudah berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI) tersebut.
            Aku masih berdiri di halte di bawah jembatan penyebrangan Slipi Jaya. Bus yang mengantarku ke Depok belum juga lewat. Depok, aku tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari daerah itu, apalagi kuliah di kampus UI yang ada di sana. Aku tiba-tiba ingat saat aku masih di SMA, menjelang UMPTN, tahun 2000.
            Aku tertarik pada bidang jurnalistik dan menurut informasi yang aku dengar, Komunikasi, FISIP merupakan jurusan yang harus aku pilih. Saat itu, dengan pasti bulatan lembar formulir UMPTN itu aku hitamkan dengan jurusan Komunikasi, UI dan Undip. Aku ingin jadi penulis, itu cita-citaku. Ujian UMPTN aku lewati dengan lumayan lancar karena soal-soalnya tidak jauh berbeda dengan soal latihan di bimbingan belajar yang aku ikuti di sekolah. UI, mungkin itu angan-angan, tapi aku sedikit punya harapan untuk Undip. Aku juga ikut ujian STAN. Harapanku cukup besar untuk sekolah tinggi yang bebas biaya kuliah itu. Namun, aku tahu, kemungkinan kecil sekali untuk lulus. Namun, aku tetap berusaha dan berdoa.
            Menjelang pengumuman, bahkan sebelum UMPTN, teman-temanku sudah sibuk mendaftarkan diri di universitas swasta. Mereka kaget sekali saat mengetahui aku tidak ikut mendaftar di universitas swasta mana pun. Aku hanya menanggapi dengan jawaban, “Gue mesti kuliah di negeri.” Jawaban yang menurut temanku terlalu memaksa.
            Akan tetapi, aku memang harus kuliah di universitas negeri, tempat kuliah yang kata orang biayanya murah. Universitas swasta, pada saat itu tidak mungkin aku masuki karena biayaku ditanggung oleh kakak-kakakku. Saat itu, salah satu kakakku juga masih kuliah dan keponakanku juga akan masuk kuliah tahun itu. Dua-duanya di universitas swasta. Kalau bukan universitas negeri atau STAN atau tempat kuliah yang menawarkan bebas biaya pendidikan, kuliah cuma jadi impianku.
            Oleh karena itu, aku bahagia sekali saat aku mendapat surat panggilan wawancara Pendidikan Akuntansi gratis dua tahun dengan ikatan dinas dari bank BC*. Aku dengan rela menunggu sampai tiga jam untuk wawancara karena aku membayangkan dapat kuliah tanpa biaya dan kemudian direkrut menjadi karyawan bank BC*. Kakak-kakakku akan sangat senang. Namun, kejujuran ternyata menggagalkanku. Benar, kejujuranlah yang membuatku dicoret sebagai salah seorang calon mahasiswa dan calon karyawan mereka.
            Saat wawancara, mereka melihat perkembangan raporku dari SD—SMA dan mereka menemukan nilai matematika-ku yang rata-rata. Saat ditanya mengapa nilaiku itu tidak menonjol, aku katakan bahwa aku tidak menyukai matematika. Saat ditanya kenapa, aku jawab bahwa aku tidak suka hitung-hitungan.  Jawaban yang jujur dan polos sekali, tanpa mengingat bahwa kuliah yang akan kuikuti adalah Pendidikan Akuntansi. Pewawancara yang akhirnya mengatakan bahwa aku cadangan itu menanyakan apa pelajaran yang aku sukai. Saat itu, tanpa tahu masa depanku yang sekarang, jawabanku adalah bahasa Indonesia. Saat itu, kata “cadangan” tidak kupikir sebagai kata yang halus untuk mengatakan “Anda gagal”. Aku tetap berharap mereka menghubungiku lagi dan ternyata itu hanya harapan belaka.
            Agustus 2000, UMPTN diumumkan dan sebelum membeli koran pengumuman aku dapat telepon dari Novi, sahabatku.
            “Gue lulus, Wid, di Farmasi UGM.” Aku sangat senang mendengar hal itu. Namun, kesedihan menyergapku saat Novi melanjutkan. “Tapi, kayaknya nama lo nggak ada, Wid..., tapi mungkin gue salah, coba lo liat lagi aja, ya.”
            Keraguan Novi itu cuma ingin menghiburku. Aku percaya pada Novi, tidak mungkin orang seteliti dia salah lihat. Namun, hal itu tidak mengurungkan niatku untuk membeli koran pagi yang hari itu memuat pengumuman UMPTN. Aku tidak lagi mencari namaku, tapi mencari nama teman-temanku yang berhasil lulus. Saat itu, aku mencari pembelaan dengan mengatakan pada diriku bahwa beberapa temanku, Maria, Gatot, Agung, Heri juga tidak lulus. Satu harapan untuk STAN juga pupus, aku tidak lulus juga. Tinggal satu tujuan untuk tahun ini, aku akan bekerja dulu, tekadku.
            Namun, ternyata garis takdir berkata lain. Setelah mencoba melamar pekerjaan menjadi SPG toko, aku merasa tak adil pada diriku sendiri. Bukannya aku tak menghargai pekerjaan itu, hanya saja, aku tidak ingin menghabiskan hidupku dengan pekerjaan itu saja dan tidak ingin biaya sekolah yang cukup mahal di SMA terbaik Jakarta Barat itu sia-sia. Aku berpikir, tidak ada salahnya kalau kita menginginkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, aku tahu lulusan SMA tidak berarti apa-apa. Kemudian, aku mencoba membujuk kakakku untuk membiayaiku kuliah satu tahun di lembaga pendidikan yang menjanjikan lulusan yang siap kerja.
            Aku pikir, setelah lulus dari situ, aku bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik dari SPG dan kemudian aku bisa membiayai kuliahku sendiri, jika nanti aku kuliah. Kakakku akhirnya setuju.
            Aku kemudian menjadi mahasiswa Pendidikan Profesional Satu Tahun PPK L*A, Slipi. Meskipun aku termasuk salah satu mahasiswa yang sering menjadi tempat bertanya teman-temanku, aku kecewa karena di sana aku menyadari aku tidak mungkin bisa menjadi profesional dengan instan, dalam satu tahun. Namun, aku sudah telanjur membayar biaya kuliah.
            Bus yang akan membawaku ke Depok belum juga datang. Aku ingat pertama kali aku menuju Depok, kota yang Jalan Margonda-nya selalu kususuri hampir setiap malam. Saat itu, aku dan dua orang temanku berniat untuk membeli formulir UMPTN tahun 2001. Namun, ternyata kami salah informasi, pendaftaran belum dibuka dan tempatnya juga bukan di UI Depok, melainkan UI Salemba. Setelah berjuang naik kereta (saat itu aku belum tahu dari Slipi ada bus yang langsung ke Depok) kami langsung pulang bersama Wika, teman SMA-ku yang kuliah di UI dan secara kebetulan bertemu di wartel. Rumahnya juga di Slipi.
            Aku tidak terlalu kecewa dengan hal sia-sia yang kami lakukan hari ini karena  aku ikut karena desakan teman-temanku itu. Sebenarnya, impian kuliah dan menjadi penulis telah aku kubur selama satu tahun ini dan menggantikannya dengan impian untuk bekerja. Namun, impian itu perlahan-lahan lahir kembali saat aku dalam bus yang membawaku pulang ke Slipi.
            Wika, temanku itu ternyata kuliah di Sastra Indonesia UI. Aku cukup kaget mendengarnya. Selama ini, jurusan itu tidak pernah menjadi perbincangan teman-temanku di sekolahtermasuk aku. Setelah mengobrol mengenai Sastra Indonesia sepanjang jalan dari Depok ke Slipi, aku menyadari bahwa yang selama ini aku cari ada di jurusan itu. Menurut cerita Wika, bagaimana menyunting tulisan, bagaimana mengkaji puisi, drama, dan bagaimana cara menulis juga diajarkan di sana. Impianku memang tumbuh, tetapi aku hanya saat itu saja. Esoknya aku ingat kembali tekadku untuk bekerja.
            Namun, garis takdir kembali berkata lain. Oleh karena dorongan teman-temanku di PPK L*A dan juga teman-teman SMA-ku yang saat itu sudah kuliah, aku mendaftarkan diri untuk ikut UMPTN lagi. Meskipun tidak serius, apa salahnya mencoba, pikirku. “Nothing to lose,” kata salah satu dari temanku.
            Tidak semudah pendaftaran pertama yang diurus sekolah, pendaftaran kedua itu cukup sulit karena tidak teratur sehingga aku berdesak-desakan dengan calon pendaftar lain. Saat mengisi formulir, UI jadi tujuanku. Kuhitamkan pilihan pertama dengan mantap dan pilihan kedua dengan ragu-ragu.
            Aku sedang sibuk mengerjakan tugas akhir di PPK L*A saat pengumuman UMPTN. Aku tidak berusaha mencari koran pengumuman di kios lain saat koran itu terjual habis di kios dekat rumahku. Aku yakin aku tidak lulus dan seandainya pun aku lulus, aku tidak berani meminta kakakku untuk membiayaiku lagi.
            Namun, menjelang kuliah di PPK L*A, secara iseng aku pergi ke perpustakaan dan di sana aku menemukan koran pengumuman UMPTN. Kucoba mencari namaku dan aku tak percaya namaku ada di koran itu. Setelah kulihat kode jurusan yang menerimaku, aku sedikit kecewa. Aku diterima di pilihan kedua yang bulatannya kuhitamkan dengan ragu-ragu: Sastra Indonesia UI. Aku bisa membayangkan kerut kening teman-temanku saat tahu aku diterima di Sastra Indonesia. Yang mereka tahu pilihanku adalah Komunikasi UI. Meskipun aku tahu yang aku cari ada di Sastra Indonesia, aku malu mengakuinya pada teman-temanku.
            Namun, ternyata aku yang terlalu berpikiran buruk. “Ini sebuah kesempatan,” kata mereka mendukungku. Saat kuutarakan bahwa aku tidak mungkin mendaftar ulang karena masalah biaya, teman-temanku memberi informasi mengenai keringanan biaya kuliah. Saat itu, aku tidak punya alasan lagi untuk tidak mendaftar ulang.
            Semester ini aku memasuki tahun keempat di program studi Indonesia, FIB UI. Banyak hal yang telah aku lewati sampai tahun ini. Aku merasa benar-benar menemukan impianku di Sastra Indonesia (aku belum terbiasa dengan sebutan Program Studi Indonesia). Aku menemukan orang-orang yang menyukai hal yang sama: menulis, aku menemukan mata kuliah yang kupikir hanya ada di Komuniksi, dan aku menemukan kampus yang nyaman dengan segala penghuni yang mempunyai segala tingkah unik mereka. Aku menemukan mimpi di Sastra Indonesia, FIB UI. Sekarang, aku tidak lagi memandang sebelah mata Sastra Indonesia dan telah menjadi penentang orang-orang yang berpandangan seperti itu.
            Tidak beberapa lama, salah satu bus menuju Depok (bus berwarna biru tujuan Depok—Kalideres) yang kutunggu datang. Tidak terlalu penuh karena sekarang bukan jam kerja. Segera kulangkahkan kaki naik. Aku duduk di bangku untuk dua orang yang terletak di sebelah kiri paling depan. Bus kembali melaju.
            Aku memperhatikan bangunan di sebelah kiriku di sepanjang Jalan S. Parman tersebut. Tak beberapa lama, gedung tempat kursus bahasa Inggris, komputer, dan pendidikan keterampilan itu kulewati. Gedung berlantai lima itu tampak sedikit suram, sama seperti dulu saat aku kuliah di lantai paling atas selama satu tahun. Meskipun aku lulus dengan tugas akhir bernilai A, aku tidak merasakan kebanggaan. Pendidikan Profesional Manajemen Informatika itu sepertinya belum bisa menjadikanku profesional karena aku hanya mempelajari kulit dari bidang manajemen informatika, tidak sampai menyentuh isinya. Lagi pula, mungkin juga karena aku sebenarnya tidak berminat menjadi programmer junior, sebutan untuk bidang pekerjaan tujuan kuliahku di sana itu.
            Namun, sekarang, dengan bus ini, bus yang juga pernah melahirkan impianku kembali, aku sedang menuju impianku di Sastra Indonesia FIB UI. Ternyata, kejujuran yang tahun 2000 menggagalkanku di BC* merupakan salah satu kunci menuju mimpiku ini. Seandainya saat itu aku lulus, mungkin aku tidak seperti sekarang, mungkin aku akan terikat dengan bank itu dan tidak bisa mewujudkan mimpiku untuk menulis. Tahun 2001, perjalanan sia-siaku dan teman-teman di PPK L*A ke Depok untuk berniat mendaftar UMPTN ternyata tidaklah sia-sia. Seandainya aku tidak ke Depok dan tidak bertemu Wika, mungkin aku tidak akan pernah mengambil jurusan Sastra Indonesia dan tetap memandang sebelah mata jurusan tersebut. Dan, ternyata, kuliah satu tahun di PPK L*A itu pun tidak sia-sia karena aku bertemu dengan orang-orang yang "mengajakku" untuk ikut kembali UMPTN.
            Saat ini, bulan hampir memasuki akhir tahun 2004. Tak terasa sebentar lagi aku akan lulus dan meninggalkan Sastra Indonesia FIB UI. Tahun-tahun yang kulewati terasa begitu cepat berjalan dan kadang kita merindukan agar tahun-tahun itu berjalan pelan-pelan, bahkan berhenti agar kita dapat menikmatinya.
            Namun, ada yang tidak berjalan dengan cepat dan aku sangat ingin dia berjalan dengan cepat tanpa berhenti sebelum sampai, yaitu bus yang kutumpangi ini. Sekarang bus ini sedang berjalan sangat pelan karena terjebak kemacetan. Aku sedikit kesal, tapi setelah kupikir kesal tak ada gunanya. Jadi, kucoba menikmati kemacetan. Toh, aku akan sampai juga di Depok dan aku percaya segala sesuatu tak akan terjadi secara sia-sia.

*Curcol dalam Tugas Mata Kuliah Penulisan Populer yang diajarkan oleh dosen nyentrik Alm. Bpk. Ismail Marahimin, FIB UI, 2004 ^_^

(oh, iya, harap dimaklumi kalau kalimat atau EYD-nya masih ada yang kurang pas karena saat nulis curcol ini, yang bersangkutan masih berstatus mahasiswa :p)

5 comments:

rona-nauli said...

aku malah pengen ke sastra indonesia, malah nyasar ke akuntansi :)

Mentari said...

aku juga paling sebel kalo ada org yang tahu aku anak sastra, lalu pandangannya seperti aneh, meng-underestimate, atau merasa jurusan itu gak ada penting2nya sama sekali. huh! nyebelin deh...

replika angan - angan said...

aku pengen k sastra indonesia tp kayaknya ortu blm ngizinin... bingung cari jurusan kak :D

annyeong grammarian said...

Assala:mu'alaikum...

Wah, kebetulan sekali setting lokasi cerita "Tahun-Tahun Terasa Cepat Berjalan" sedikit mirip dengan cerita "Tanpa Terasa". Sungguh kebetulan, ya. Mungkin karena kita pernah berada di sana. Saya jadi kangen sama FIB, cause we are the yellow jackets.
Ma'assala:mah...

replika angan - angan said...

Ya Allah mb, kerasa banget pas posisiku kayak sekarang. mkasih ya udah share ini.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin