Penjual Kenangan

Sunday, April 17, 2011

Terlalu Pagi Kala Itu





Kita bertemu di sebuah persimpangan. Masih terlalu pagi kala itu, matahari pun belum menyala. Pertemuan kita di persimpangan itu secara tak sengaja, mungkin—tapi, rasanya, Dia telah menyisipkannya lama di gurat-gurat takdir persimpangan itu.

Lalu, entah bagaimana, kita tiba-tiba saja menyusuri jalan yang terbentang di hadapan. Mencoba menyamakan langkah. Kita berbincang panjang. Rasanya, percakapan tak akan habis-habis sampai perjalanan ini selesai. Tentang harapan. Terselip juga tentang hangatnya rumah dalam selipan-selipan kisah masa lalu. Mimpi-mimpi yang kita kumpulkan seakan tumpuk-menumpuk begitu saja di dalam mangkuk kaca. Menunggu dengan sabar untuk didiangkan di perapian. Satu per satu. Menyenangkan membayangkannya.

Lalu, di sebuah persimpangan—mungkin, persimpangan kedua atau ketiga, tak aku perhatikan—matahari tiba-tiba saja menyala. Kita berada di bawahnya. Dalam gumam, kau bilang, mimpimu ada di sana. Dan, kau seolah menghilang dalam bias nyalanya, kala itu. Aku hampir menggumamkan tawa, tetapi menyimpannya menjadi senyum kecil. Ah, maafkan, aku tak lagi bermimpi tentang matahari. Panasnya masih membekas di lenganku, dan sakitnya sampai terasa ke sudut jauh hatiku. Tapi, itu membuatku tahu bahwa mimpi tak harus sampai ke matahari. Aku tak mampu memadamkan nyalanya, tentu saja—aku sudah lelah merasa terlalu angkuh untuk berkata bahwa aku tak akan menyerah untuknya. (Kau tahu, aku sudah menyerah—tak beberapa lama sebelum pertemuan kita. Tapi, menyerah tidak selalu berarti kalah, bukan?)

Lalu, kita mengambil langkah sendiri-sendiri di persimpangan itu. Kau memilih persimpangan menuju matahari, sementara aku berjalan menuju pagi—aku rindu titik-titik embun yang mampu mengirimi aroma pagi yang menenangkan sampai ke dalam sudut-sudut mimpi para ibu, yang berdoa panjang untuk bahagia anak-anaknya; yang mampu memadamkan resah angin yang sedang menimbang-nimbang arah langkahnya.

Kau tahu, saat kau melangkah, aku sempat ingin menengok ke belakang. Tapi, tak jadi kulakukan. Kata mereka-mereka, ketika kau menengok ke belakang, berarti kau masih menyimpan harapan untuk sesuatu di belakang sana. Dan, bukannya aku tak lagi berminat pada harapan, hanya saja aku pikir, mimpiku tak lagi menuju matahari. Lagi pula, aku tak ingin lagi merasa khawatir dengan masa lalu—aku tak ingin mengecilkan hati masa lalu, seakan-akan tak memercayai mereka; mereka bisa menjaga diri mereka sendiri, aku rasa.

Lalu, selamat tinggal, kalau begitu. Semoga sampai kau pada matahari, :)



p.s. Kau tahu, aku suka caramu tertawa, sudah pernahkah kubilang? Aku suka mencurinya ketika kau lengah dan menyimpannya di dalam botol kaca—hampir sebotol penuh yang sudah kukumpulkan. Kalau mau, kau boleh membawanya untuk bekal dalam perjalanan menuju matahari. 
Dan, aku sempat berpikir suaramu mampu menenangkan badai dalam malam kelam. Sempat. ;)



#i owe the pic!#

4 comments:

Enno said...

oh oh like it! :)

gloriaputri said...

bagus bgt :)

aq suka...aq pasang link mu di blog ku deh :) hehehe

goop said...

bagus, saya suka....
dan bukankah matahari dan pagi akan bertemu lagi dan lagi? :D

penjual kenangan said...

@mbak enno: ^^ selalu "like it" komenmu juga, mbak. hihi.

@gloriaputri: makasii dah di-link yaa. ^o^ aku jg pasang link-mu ya biar kunjung-berkunjung makin yahud. :D

@goop: tengkyuu ya. hehe, iya, matahari dan pagi mungkin memang tetap akan bertemu. tapi, bukan dlm langkah yg selalu sama. pagi tak menjelma matahari, begitu juga sebaliknya. ;p

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin