Penjual Kenangan

Saturday, July 24, 2010

ketika waktunya sampai, kisahkan kembali kepadanya




hari ini, ingin kuceritakan padamu tentang seorang perempuan yang sedang tak menyukai matahari menyenja. ia menepis senja yang jatuh di bahunya, lalu memilih memalingkan muka.

dan, perempuan itu pun sedang tak menyukai aroma rumah. ia ingin berlama-lama duduk di tempat yang bukan bernama rumah. duduk saja, dengan segala macam pikiran yang terperangkap di benaknya. mungkin bukan segala macam. hanya satu macam. satu macam hal yang membuatnya takut berada sendiri dalam ruangan. takut menemukan tetes-tetes air mata mengalir di pipinya. takut menemukan dirinya berada dalam perjalanan yang tidak seharusnya.

dan, hari ini, di kafe tempatnya duduk berlama-lama, ada seorang gadis muda yang sedang merayakan hari lahirnya, mungkin usia ketujuh belas. gadis berambut panjang itu tampak masih sangat belia, dan begitu resah. teman-temannya sudah datang. tapi, ia tetap resah.

satu pikiran ala novel-novel populer mampir ke benak perempuan yang sedang tak menyukai senja. ah, sepertinya gadis itu menunggu laki-laki yang ia sukai, yang ia undang lewat sahabat si laki-laki. dan, akhirnya si laki-laki datang menjelang akhir acara, mengisyaratkan cinta. kisah sederhana masa remaja.

lalu, si perempuan yang sedang tak menyukai senja kembali resah. ponselnya berkedip-kedip, tiga panggilan tak terjawab. ia tak berniat menjawabnya. ia tak bisa memutuskan apa jawaban yang harus ia berikan. dilema--mungkin, kau menebak itu yang sedang ia alami. entahlah. akhir-akhir ini, ia sedang merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri. tak nyaman dengan langkah-langkah kakinya. dan, ia terlalu takut untuk menentukan arahnya. Tuhan, ia menyebutnya. dan, sepertinya, ia ingin meminta Dia langsung saja memilihkan yang terbaik untuknya.

ah, cerita yang tak beralur jelas, bukan? biarlah. aku cuma ingin kau-dia mengingat hari ini. ada satu waktu ketika kau sedang tak tahu arah. sedang tak menyukai senja. dan, sedang tak nyaman dengan perjalanan yang kau lewati.

tapi, suatu hari nanti, ketika perempuan yang sedang tak menyukai senja itu duduk berlama-lama lagi menunggu senja, kau ceritakanlah apa yang aku ceritakan hari ini.
semoga ia tertawa ketika mendengar kau mengisahkannya kembali. :)

#i owe the pic!#

7 comments:

rizakidiw said...

nice..........

Desfirawita said...

semoga aku bisa kembali mengisahkannya.. :p

really like this :)

Peri Musim said...

tenang, suatu hari kita--sambil tertawa--akan segera mengingat dan menceritakannya. jangan sedih2 ah :) ilove you forever, itu janji seorang muslimah, hahaha

Blogspot Template said...

cerita yang penuh makna..

wow, artikel ny berguna bgt nih sob.. cocok bgt bwt mnmbh wawasan ku seputar tema ini..

sob, mengingt blog ni sngt bermanfaat bgt q.. tukeran link yok!!

link blog kamu sudah terpasang di blogku, link balik yach :) silahkan di liat di blogku!!

ntar pasang link ku dengan anchor text "Blogspot Template" yach,

dan jdi follower q juga y, siapa thu aja dgn kehadiran blogger se-hebat kamu, blog ku bisa
sedikit rame dan berwibawa gtu.he3

ntar secara berkala q bakal sering-2 silaturahmi kesini..

d tunggu kehdirannya yach :D

salam dari blogger indonesia setengah bule.he3

makasih..

Anonymous said...

Siapa nama gadis yg tidak menyukai senja? aku ingin berkenalan dengannya :) dan memperkenalkan suatu negeri dimana senja merupakan hal terindah didunia

Anonymous said...

Siapa nama gadis yg tidak menyukai senja? aku ingin berkenalan dengannya :) dan memperkenalkan suatu negeri dimana senja merupakan hal terindah didunia

dweedy said...

Siapa nama gadis yang tidak menyukai senja :) aku ingin bertemu dengannya dan menceritakan kepadanya tentang suatu negeri dimana senja adalah hal yang trindah didunia

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin