Penjual Kenangan

Tuesday, September 25, 2007

Belajar Membaca Arah

Kita akhiri di sini saja. Apa lagi yang dipertaruhkan? Semua sudah selesai. Matahari telah diselamatkan. Jadi, apa lagi yang kau-aku tunggu? Di malam yang tak hujan, kau bilang ceritamu tak akan habis sampai jutaan tahun. Tapi, "kita tak punya waktu hingga sejuta tahun"*, bukan?
Persimpangan juga tak menarik lagi untuk diperdebatkan. Dan, ceritamu selalu kutahu akhirnya--meski dahulu selalu kudengar. Sudahlah. Mungkin, ini akhir dari pertaruhan yang selama ini kau-aku pertanyakan.
Selamat tinggal, aku yang mengucapkannya kali ini. Tidak dengan lambaian. Tidak dengan tolehan--pun sejenak. Agar tidak ada harapan yang tertinggal, kata mereka-mereka.
Peta menuju rumah masih tersimpan di selipan buku-buku di rak kamarku. Belum begitu buram kurasa. Aku akan belajar membacanya. Belajar membaca arahku sendiri. Bukan arah kau-aku.


*dari Paris Je t'aime--fragmen-fragmen cinta yang memesona--

1 comment:

si eneng said...

Gimana ya caranya membaca arah hidup saya? Saya sendiri nggak tahu, mas... gak heran hidupnya jadi gak terarah :)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin