Penjual Kenangan

Sunday, January 08, 2012

kehilangan


gambar reblog dari enchit!




ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu bertanya, “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?”
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu, menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab kematianmu –
ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu 
--"Metamorfosis", Sapardi Djoko Damono



hidup, bisa jadi, ia hanyalah sebatas satu-dua hela napas.
semoga, waktu-waktu mendatang, aku tak lagi menyia-nyiakan satu-dua hela napas yang kita tak pernah tahu kapan kita tak lagi berhak atasnya--ah, bukan berhak, melainkan kapan Dia berbaik hati tetap mengaruniakannya kepada kita.

ketika napas itu tak lagi bersamamu, kau tinggallah sebuah jasad kaku. kepergianmu akan diiringi tangisan, atas segala hal. sementara kau, kau tak lagi bisa melakukan apa pun--bahkan untuk menyesal pun kau tak bisa lagi. kau hanyalah jasad kaku, yang akan diusung dalam keranda, kembali, menyatu dengan bumi....

Tuhan, sungguh dahsyat sebuah kehilangan yang disebut kematian. yang tentu saja tak hanya meluruhkan tulang belulang dia yang Kau panggil. juga bahkan mampu membuat tulang-tulang orang yang ditinggalkan luruh. kehilangan yang sesungguhnya, begitu kita menyebutnya. kehilangan akan sesuatu yang kau pikir kau miliki--padahal telah Ia beri tahu sejak jauh-jauh hari: tak ada yang kita miliki di dunia ini. yang juga telah Kau tuliskan agar kami tak melupa.

Tuhan, sungguh, aku belum mampu memahami kematian--yang ternyata memang begitu dekat. aku masih memaknainya dengan sekadar air mata....

Tuhan, ya aku tahu, tak ada yang sia-sia. tunjuki kami jalan-Mu.... agar kami tak melupa akan diri kami ketika kau "mendudukkan kami di depan cermin itu"....





*kau yang pergi pada satu januari, selamat jalan. semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi-Nya. aku mendoakan....



3 comments:

Enno said...

ketika org terdekat kita meninggal, barulah kita sadar betapa dekat kematian itu sebenarnya.

seenggaknya itu hikmah yg kudpt dr kepergian alm ibuku :)

ikut berduka cita ya wied, semoga keponakanmu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. amin.

penjual kenangan said...

amiin.

terkadang, kita sibuk "galau" dengan dunia. lalu, semua itu bener-bener nggak ada artinya lagi saat kita nggak lagi bernapas. cuma sesederhana itu--saat menurut Dia, kita sudah "selesai".

makasih ya, mbak enno. means a lot. :)

replika angan - angan said...

Benar banget mbk tulisannya, jadi ke inget temenku yang meninggal pas 1 januari.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin