Penjual Kenangan

Sunday, April 29, 2012

4LaY Menjelma Nawang Wulan


Majalah Warta Buku edisi April 2012


Oh, ya, tulisan "4LaY" saya tentang "Premiere Penampakan Asli @Poconggg" dimuat di majalah Warta Buku. Jadi, ceritanya, suatu hari, saya "ditodong" Bos Besar a.k.a Pak HK untuk memasukkan tulisan saya itu di majalah Warta Buku di rubrik "Fenomena". Dan, saya sempet deg-degan loh karena tulisan itu bisa dibilang, hmm, 4LaY, haha, sementara majalah yang akan memuatnya itu majalah sedikit "serius" tentang dunia perbukuan.

Jadilah, suatu sore, saya buru-buru mengedit tulisan ini--mengurangi ke-4LaY-annya. "Udah belum, Wied?" tanya Pak HK yang tiba-tiba udah berada di samping kubikel saya.

"Belum, Pak, lagi diedit dikit," sahut saya dan jadi nggak bisa lanjutin editan saya--saya itu termasuk kategori "Nawang Wulan" dalam cerita rakyat itu, yang nggak bisa diliatin kalau lagi kerja. Kalau diliatin, pasti jadi nggak selesai kerjaannya, bisa-bisa malah kembali terbang ke langit ngumpul bareng bidadari lainnya. :p

"Kira-kira, berapa lama lagi, Wied?" tanya Pak HK, masih di deket kubikel saya.

"Hmm, sepuluh menit lagi ya, Pak," sahut saya, "mau ngurangi becanda-becandaannya." *Nawang Wulan garuk-garuk keyboard, berharap nemu selendang*

"Oh, isinya becanda-becandaan gitu ya?" Pak HK tampak sedikit ragu, yang saya ralat dengan sedikit diplomatis. Lupa ngomong apa, tapi ngeyakinin belio. hehe--dan katanya sih belio sempet baca sekilas tulisan yang ada di blog ini, jadi saya sedikit pede-lah. Untung saya nggak bilang "ngurangin 'ke-4laY-an'nya", bisa-bisa nggak gajian deh saya karena doski mikir salah nerima pegawai yang 4LaY. :)))

Jadilah saya ngedit tulisan itu buru-buru, minta tolong Gita, dia bilang lagi hectic juga nyiapin materi karena mau ketemu penulis. Jadilah saya menyesal bilang sepuluh menit, harusnya lima belas menit aja, pikir saya--beda tipis si ya? :D

Dan, ternyata yaah, saya sampe setengah jam benerinnya dan berhasil maksa-maksa Gita baca sekilas. Untunglah saya gajian bulan ini meski janji sepuluh menit akhirnya jadi setengah jam. Hehe. 

By the way, tulisan tentang @Poconggg ini bisa dibilang memang masuk kategori "Fenomena(l)" sih [fenomenal ala statistik blog penjualkenangan ini yaa :p]. Berdasarkan statistik blog saya ini, tulisan itu paling populer dan paling banyak diakses. Udah di-klik sebanyak 15.200-an kali. Yah, dibandingin sama tulisan populer lain di blog ini, yang judulnya "Anak SMP?", itu cuma 3.500-an klik sejak zaman baheula (2007)--dan itu populer kedua setelah tulisan tentang @Poconggg itu, Cyiin. Dan, herannya ya, tulisan "Anak SMP?" itu di-klik dengan key word yang "aneh-aneh", padahal itu cuma cerita tentang ponakan saya si Ani. Ada-ada aja orang nyari tentang "anak SMP", dan kayaknya mereka kecele deh pas baca postingan saya itu. Biarin. Haha.

Begitulah ceritanya.

*Udah hampir sepertiga malam, dan nggak bisa tidur, jadinya posting nggak jelas, padahal besok berencana ikut berkeliaran dengan Mbak Enno di Inacraft. Semoga bisa bangun dan nggak berasa jadi zombie besok. @_@

Saturday, April 28, 2012

Kau

gambar di sini!



Aku menatap nanar pada meja di sudut tempat makan favorit kau-aku itu. Mataku tiba-tiba terasa panas, dadaku sesak. Dan, kau tahu, aku berusaha keras menahan sesuatu yang hangat di sudut mataku. Kau ingat, hari itu kita bertemu di sini. Aku sibuk dengan makananku, tak menyadari dirimu berada di meja seberang itu.

Kau di sana, diam-diam telah lama memperhatikanku. Lalu, "Oh, kamu, " aku terpaku. Ada yang berbeda dengan dirimu hari itu--sesuatu yang telah lama kuharap kau lakukan. Dan, ada secercah bahagia merekah dalam hatiku kala itu. Kau tahu?

Lalu, hari ini, kau seakan duduk di sana. Diam-diam memperhatikanku. Air mata mendesak di kedua bola mataku. Kau tahu, saat ini, aku berusaha keras agar ia tak jatuh. Karena... kau telah lama menjelma bayang-bayang....


Kau, semoga kau damai bersama-Nya....





#NewNovel. ;)

Monday, April 23, 2012

kita hanyalah dua orang asing

i owe the pic!


hei, kau
jangan mencariku. aku tak tersesat. hanya sedang merangkai puzzle baru.
jangan mencariku, atau bahkan mengingat namaku. dan tak perlu menggali dasar kenanganmu untuk mencari di ceruk manakah janji pernah terucap.

jika suatu hari nanti kita bertemu, kita hanyalah dua orang asing. tak terikat masa lalu. juga tak terikat kenangan--ia telah dilumat habis malam-malam kelam. ah, kita memang tak perlu terikat masa lalu karena itu bukan keharusan. dan lagi pula, yang akan kita jalani adalah hari depan, bukan sebaliknya.

kita hanyalah dua orang asing, yang mungkin berpapasan di tengah jalan, bertemu bersebelah jalan atau mungkin dari arah yang berlawanan, dan tak ada alasan untuk saling menanyakan kabar, apalagi memulai perbincangan.

jangan mencariku. karena aku tak tersesat.
aku hanya perlu waktuku sendiri untuk menyelesaikan puzzle yang ingin dan harus kuselesaikan.
jika masih ada yang terasa janggal di tempat yang jauh dalam ruang hatimu, cukup kirimkan doamu. toh, kita kadang juga mengirimkan doa tulus, bahkan untuk orang asing, bukan?

; terima kasih.

Sunday, March 25, 2012

Menyamar Jadi Alay


Bertemu keponakan-keponakan saya selalu membawakan cerita tersendiri. Bocah-bocah itu selalu menyimpankan cerita-cerita yang tak terduga. 

Kali ini, saya menyamar jadi alay bersama lima orang keponakan saya; Lenny, Puput & Cipa bersaudara, Ita & Pipi bersaudara. Saya sudah berjanji-janji dari jauh-jauh hari untuk pergi bersama mereka—sekadar makan bareng di Pizza. Lalu, jadilah kami beramai-ramai ke CBD—sebuah mal di Ciledug sana; saya sudah dua kali ke sana, tapi masih saja belum tahu apa kepanjangan mal itu.

Setelah makan, kami jadi alay di semacam studio foto. Cipa dan Pipi yang malu-malu untuk foto, malah ketagihan. Bahkan, ternyata Pipi sudah mempersiapkan gaya alay-nya untuk foto. Puput juga diam-diam sudah ngetekin rambut keribo yang disediakan tempat foto. Karena antre, kami juga punya waktu buat ngetawain foto-foto alay yang ditempel di depan studio. Foto-foto yang kocak banget—dengan latar ngejreng. Dan, kami antre untuk ikut foto juga.  *Belakangan, saya jadi tahu, ternyata, anak-anak itu juga berharap foto kami dipajang di dinding itu. Hoho!

Ternyata, ada fotografernya, yang sempat membuat kami urung dan memilih foto box saja. Tapi, karena malas jalan dan juga sudah telanjur antre, akhirnya tetaplah kami menunggu dan mengisi waktu dengan (kembali) ngetawain foto-foto yang ada. Hoho.

Saat tiba sesi foto kami, wow!, langsung dong saya membuka tas dan mengeluarkan—voila—aksesori foto kami. Bilang nggak niat foto, tapi hampir setengah jam ngacak-ngacak bagian Vanquis yang enam ribuan itu mencari topi buat foto. Haha. *ps. Topi-topinya lucu-lucu di sana, murah pula!*

Sebenarnya, ide foto datang dari Ita. Nah, karena kami mampir di Vanqis, jadilah liat-liat topi. Dan, saya sih yang mencetuskan ide, bagaimana kalau nanti kita foto pake topi? *gejala alay mulai muncul*, lalu memaksa Pipi yang sebelumnya nggak mau beli topi untuk memilih satu yang pas untuknya—yang akhirnya “dipaksa” ambil yang sama dengan punya Lenny.

Saat foto, ada si mas fotografer (cowok dengan rambut keribo cepak—apa sih namanya itu?) dan dua mbak-mbak temennya yang lagi ngadem di ruangan, jadilah gaya kami kaku-kaku gimana gitu. Oh, ya, sebelumnya, si mas keribo-cepak nyuruh pilih latar. Dan untungnya, dia asyik gitulah, jadi ngga protes saat saya dan lima ponakan sedikit lama milih latar yang “mendingan” alay-nya. :D 





Lalu, saya dan ponakan langsung beraksi. Pake topi. Berdiri. Duduk. Ganti latar. Berdiri. Ambil boneka. Duduk. #kemudiankaku. Nah, ternyata, yah, 5 ponakan saya itu pengin banget pake rambut keribo yang disediakan, tapi pada malu. Untunglah, tercetus keinginan itu, dan taraa, kami pun beraksi dengan rambut keribo warna-warni. 


 



Setelah selesai, di komputer luar, sudah ada foto kami sebanyak 12 gaya. Dan, kami ambil semua dong, yang ternyata satu gaya harus dicuci tiga kali. Jadilah kami dapat 36 foto jadi. Dan, ternyata, Cipa pengin foto sendiri, tapi malu, tapi mau, tapi para sepupu itu nggak ada yang mau nemenin. Jadilah Cipa (hampir) ngambek. Untunglah Ita yang baik hati bisa membujuk Cipa dengan sigap. Penyamaran jadi alay hari itu berlangsung sukses!


Kisah (Kasih) di Sekolah

Oh, ya, di bagian ini, saya mau cerita ulang kisah dari Pipi. Tersebutlah Pipi (adiknya Ita), salah satu keponakan saya yang seumuran dengan Lenny, yang saat ini duduk di kelas 6. Kalau ketemu sebentar, Pipi yang kurus ini pendiam. Tapiii, kalau sudah dipencet tombolnya, dia akan jadi anak tercerewet di dunia (Cipadu).

Setelah saya ikut mereka nyamar jadi alay di mal (kurang kondang) di bilangan Ciledug itu, di angkot, Pipi udah cuap-cuap mengeluarkan segala kemungkinan kalau kami terkenal dengan foto alay kami. Kami akan ada di teve, akan ada di internet, akan ada di botol kecap, di spanduk pemilihan gubernur, di papan pengumuman sekolah, di seprai, di toko buku, di mug, di kaus—di segala tempatlah pokoknya. Dia akan terkenal di sekolah, dia akan jadi acuan anak alay, dsb, dsb. Jadilah kami ngakak sepanjang perjalanan di angkot dan untungnya cuma ada si abang sopir yang mungkin nahan-nahan nggak ngusir kami yang berisik abis karena dia butuh duit setoran.

Sampai di rumah, Pipi masih bersemangat bercerita. Cerita pertama dimulai dengan kisah dia berantem sama tukang ojek. Heh?

Jadi, sekolah Pipi berada di sebelah rumah Cipa di Petukangan. Pulang sekolah, dia harus selalu naik ojek karena nggak ada yang jemput—kata dia, telepon umum pada rusak, dan kadang telepon rumah nggak diangkat. ß iya,dia masih ada anak SD yang itu, yang nggak wara-wiri dengan ponsel atau smartphone. Naik ojek sekitar 10 menitanlah, dengan tarif yang biasanya adalah enam ribu—tapi, Pipi dapat kortingan, dia bayar lima ribu karena naik ojek tiap hari.

Tukang Ojek 1
Suatu hari, Pipi nggak mau naik ojek karena dia akan diantar Puput sang Sepupu pulang. Nah, ada temennya yang mau naik ojek.  Karena tahu Pipi dapat kortingan, temannya ini minta Pipi anterin dia ke tukang ojek—bawa temen yang berpengaruh, maksudnya. Dapatlah si teman abang ojek dengan tarif lima ribu, lalu berangkat ke rumahnya. Seorang tukang ojek lain nanya ke Pipi.

Tukang Ojek   : Lo nggak naik ojek juga?
Pipi                  : Nggak, Bang. *sambil berlalu ke rumah Puput yang tak jauh dari pangkalan*
Tukang Ojek   : Bego lu!
Pipi                  : Eh? *bete abis sama si tukang ojek karena dikatain begitu, tapi nggak bisa apa-apa*

Lalu, ada juga teman Pipi yang “bete” sama tukang ojek. Ceritanya, dia diturunin sama tukang ojek di tengah jalan karena si abang ojek minta tambahan tarif yang tadinya lima ribu jadi enam ribu. Nah, karena si temen Pipi nggak mau, abangnya marah.

Tukang Ojek   : *marah* Ya udah, kalau nggak mau, lo turun aja!
Teman Pipi     : Ya udah! *ikut marah*
Tukang Ojek   : Ya udah. *matiin motor* Turun lo!
Teman Pipi     : Ya, udah! *langsung turun, ngambek, jalan kaki tengah hari bolong*
Tukang Ojek   : *merasa bersalah, nyamperin si temen Pipi* Ya elah, kasian gue liat lo jalan kaki panas-panas gitu. Ya udah, naek dah.
Temen Pipi     : *ngambek* Ogah!
Tukang Ojek   : Ya elah, naek dah!
Temen Pipi     : OGAH!
Tukang Ojek   : Ya udah! *ngacir dengan motornya*
Temen Pipi     : *mewek*

Tukang Ojek 2

Karena kejadian itu, teman Pipi itu ngajakin Pipi bersekongkol untuk nggak naik ojek lagi besok-besoknya. Karena Pipi mengaku sebagai sahabat yang baik dan dia juga bete sama tukang ojek, akhirnya dia menuruti temannya itu. Berhari-hari, mereka jalan kaki pulang ke rumah, panas-panasan, dan bahkan rela harus ngelewatin tanjakan tajam tiap harinya—demi kebetean kepada tukang ojek.

Suatu hari, Pipi jalan sendiri pulang ke rumah, masih tetap nggak mau naik ojek. Lalu, setelah separuh jalan, ada tukang ojek.

Tukang Ojek   : Neng, udah naik ojek deh. Kasian banget lo panas-panasan tengah hari bolong gini.
Pipi                  : Nggak usah, Bang. Udah tanggung *ngelap keringat, ngos-ngosan*
Tukang Ojek   : Ya elah lo. Cepetan dah naek. Mana cewek. Kasian gue liat lo. Naik deh.
Pipi                  : *tergiur* Ya udah, tapi saya udah jalan separo jalan nih, Bang. Jadinya berapa? Tiga ribu yak?
Tukang Ojek   : Ya udahlah, naek deh, lo. Tiga ribu kek, serebu kek, terserah lo deh. Gratis juga nggak apa-apa deh. Kasian banget liat lo jalan kaki begitu.
Pipi                  :  *naik ojek dan nyiapin duit tiga ribu*
Sampai rumah, Pipi kasian sama si tukang ojek. Akhirnya, dia nambahin ongkosnya.
Pipi                  : Nih, Bang, ongkosnya. Ya udah, saya tambahin, ya, gopek. Jadi tiga ribu lima ratus. Nggak apa-apa deh, Bang, itu saya relain dari duit jajan saya.
Tukang Ojek   : ??? *entah senang atau miris dapat tambahan ongkos gopek dari duit jajan anak SD*


Tukang Ojek 3

Lalu, ada juga kisah Pipi dan tukang ojek yang merupakan saudara seorang teman. Jadi, menurut Pipi, untuk menghemat ongkos, dia dan teman-temannya suka naik ojek patungan. Jadi, satu ojek berdua, kadang bertiga, dan kadang berempat! *wew!* Dan, Pipi selalu kebagian di belakang karena dia kurus. Kadang Pipi duduk di ujung jok, katanya. Bahkan, pernah duduk di lampu motor si abang ojek. Dan, kadang Pipi duduk di depan ala anak si abang ojek. *tepok jidat si abang ojek*

*syumpeh nih anak SD kacau amat irit(pelit)-nya!*

Nah, kalau tukang ojek yang saudara teman ini, kata Pipi, sok-sok-an nggak mau nerima duit si temen Pipi. Si teman duluan sampe, dan si abang ojek menolak ongkos.

Tukang Ojek   : Ya elah, kagak usah. Kayak sama siapa aja lo. *menepis-nepis  tangan si temen Pipi yang sedikit memaksa bayar* Udah, kagak usah.
Pipi                  : Ya udah, deh, sini buat gue aja. *ngambil duit dari tangan si teman*
Lalu, abang ojek segera menuju rumah Pipi buat ngantar Pipi. Di tengah jalan….
Tukang Ojek   : Eh, sini, sini, mana duit tadi? *langsung malak Pipi*
Pipi                  : Ya elah, si Abang, tadi kagak mau….
Jadi, menurut Pipi, tukang ojek itu malu-malu kucing. “Huh!” kata Pipi kesel beneran karena nggak berhasil dapat duit si teman. :p

Bang Dope
Selain cerita tukang ojek, Pipi juga punya pengalaman dengan tukang jajanan. Di sekolahnya, ada yang namanya Bang Dope—tukang jajanan mainan. Dulu, Pipi sering beli di sana, tapi sejak sebuah kejadian, Pipi berhenti jajan di Bang Dope. Ternyata, Bang Dope pernah membuat Pipi marah!

Suatu hari, setelah Ita—kakak Pipi—pake kerudungan, Ita sering titip pin-pin lucu yang dibeli di Bang Dope. Jadi, tiap hari, Pipi beli di sana. Karena sudah beli tiap hari, Pipi selalu minta korting. Besoknya, minta dimurahin lagi. Besoknya lagi. Besoknya lagi. Nah, suatu hari, peristiwa itu terjadi.

Pipi                  : *milih-milih pin* Bang, saya beli lagi nih... Murahin ya, Bang, saya kan udah beli tiap hari. Ya, Bang, ya….
Bang Dope      : Eh, lo, lo tiap hari beli, lo jualan ya? *marah* Iye, nih, lo pasti jualan. Kagak, gue nggak mau ngasih lo murah lagi. Udah sana, lo nggak usah beli lagi aja. *nyerocos tanpa peduli sama perasaan Pipi*
Pipi                  : Ya elah, si Abang, fitnah banget jadi orang. Saya kagak jualan, Bang. Saya beli buat kakak saya. Kalau nggak percaya, besok saya bawa deh kakak saya ke sini! Saya nggak terima difitnah begini. *ngeloyor pergi*
Pipi disambut teman-temannya, yang langsung nanya ada apa. Pipi cerita kalau dia difitnah Bang Dope. Sementara, di belakangnya, Bang Dope teriak manggil-manggil.
Bang Dope      : *merasa bersalah* Eh, Neng, sini, Neng! Neng. Eh—
Pipi                  : Ogah! Saya nggak terima difitnah begitu, Bang. Orang saya kagak salah.
Bang Dope      : …..

Lalu, setelah kejadian itu, Pipi nggak pernah lagi jajan di Bang Dope. Teman-temannya pun ikutan karena membela Pipi.

“Iya,” kata Pipi, “Pipi udah nggak mau lagi tuh beli-beli di situ. Dasar Bang Dope—Dower Pelit!”

*Eh?

PR—Piza Rakyat
Di sekolah Pipi, ada juga yang jualan piza kecil, mereka menyebutnya “Pizza Rakyat”. “Piza-nya sih cuma dari tepung terigu, ditambahin sosis sama daun bawang, tapi uenak banget.” Begitu cerita Pipi tentang kelezatan PR. Nah, si penjual piza adalah seorang kakek-kakek dan dia memanggil Pipi dengan sebutan “Angel” (caelah! Uhuy!). Eh, tapi, ternyata, si Kakek memang menyebut semua pembeli yang cewek dengan sebutan “Angel”. ;p

“Ayo, Angel, beli piza, Angel.”
“Angel, ini piza-nya, Angel.”
“Angel, ini kembaliannya, Angel.”
“Angel, kemaren Bapak baca di Fesbuk, Angel. Ada cerita bagus banget.”
Yup, menurut Pipi, si Kakek punya Facebook. Dan, si Kakek itu bercerita—hmm—agak SARA. Ow, ow.

Jadi, ceritanya, ada cewek pacaran dengan cowok beda agama. Mereka pergi ke luar negeri. Nah, si cewek diajak ke tempat ibadah si cowok. Pas di sana, si cewek nggak boleh masuk sama si penjaga tempat ibadah. Namun, akhirnya, entah bagaimana, si cewek berhasil masuk. Di dalam sana, dia menceritakan perihal agamanya kepada jemaat yang ada di dalam tempat ibadah. Lalu, semua jemaat menangis dan akhirnya memutuskan masuk agama si cewek. The end.

“Bener, Angel, itu kisah nyata. Kakek baca sendiri di Fesbuk.”

Meski agak SARA, si Kakek itu baik. Pipi dan teman-temannya bersahabat dengan si Kakek—yah, mungkin juga seneng dengan iming-iming panggilan “Angel” itu.
**Oh, ya, selain itu, Pipi juga bersahabat dengan abang tukang telur dadar—yang didadar di cetakan kecil-kecil itu. Pipi suka minta tambahin telurnya, dan si Abang mau nambahin. Tapi, Pipi sedikit kesal karena teman-temannya juga pada ikut-ikutan minta tambahin sama si Abang. 

Bu Cecep
Ani                  : Ani, mah, kalau istirahat ke musola.
Pipi                  : Ah, kalau Pipi mah langsung ke tempat Bu Cecep, beli bihun.
Tapi, sejak nemuin semut kecil-kecil gitu di bihunnya, Pipi jadi males beli….
Audiens          : Oh…
Pipi                  : Iya, nama yang jualan Bu Cecep. Suaminya namanya Pak Cecep.
Audiens          : Oh….
Pipi                  : Pak Cecep itu guru olahraga Pipi.
Audiens          : Oh….
Pipi                  : Nah, tempat Bu Cecep ini jadi pangkalan ibu-ibu nunggu anaknya.
Segala macem dagangan digelar tuh di mejanya. Macem-macem deh. Trus, ya, Pipi denger-denger tuh omongan ibu-ibu di sana. Ih, mereka pada naksir sama kepala sekolah Pipi! *menepokkan tangan dengan mantap*
Audiens          : Eh?
Pipi                  : Iya, kepala sekolah Pipi baru. Masih muda, lumayan cakep sih. Dan, lulusan pesantren!
Audiens          : *melongo melihat Pipi yang sangat semangat kayak ibu-ibu gosip*
Pipi                  : Iya, tuh, makanya ibu-ibu itu pada naksir. Orang Bu guru juga, kalau mau ke ruangan Kepala Sekolah, masa pake minyak wangi dulu. Semprot-semprotin banyak-banyak gitu. Ih, centil dah. Itu ibu-ibu juga pada ngomongin. ‘Iya, Kepala Sekolah baik ya. He-eh. Alim. Cakep. He-eh.’
Audiens          : *melogo mikirin ibu-ibu itu*
Intermeso (Ani) : Ih, di sekolah Ani juga pada centil-centil ibu-ibunya. Masa, waktu ke museum, pas ada tangga, si ibunya mau naik, langsung bilang ke Pak guru Ani, ‘Aduh, Pak, tolongin saya, Pak,’ sambil ngulurin tangannya. Gitu….
Saya                : *bengong*
Pipi                  : Iya, tapi kepala sekolah Pipi agak begitu juga sih. Pas deket ibu-ibu rame-rame, dia nasihatin ibu-ibu itu. Gini katanya, *berdeham, siap-siap niru suara bapak-bapak berwibawa * ‘Iya, Bu, kita mesti menjaga anak-anak kita, ya, Bu….,’ sambil tepuk-tepuk pundak ibu-ibu gitu. Megang-megang gitu. Terus, pelan-pelan, ibu-ibunya jadi pada minggir-minggir dah….
Audiens          : *ganti rahang karena kebanyakan ketawa*

Cewek #Aniv
Berdasarkan cerita Pipi juga, ternyata anak SD pun merayakan hari jadian mereka. *yo-oloh!* Lenny pun membenarkan, di sekolahnya pun anak-anak merayakan #Aniv dan Ani pernah dikasih duit dua ribu rupiah saat temennya yang lagi #Aniv.

“Kadang 2 ribu, kadang 5 ribu,” cerita Ani, “tapi cuma beberapa orang sih yang dikasih. Kadang cuma satu orang.”

Audiens: ….

*ya elah, udah cuma dua ribu, cuma ngasih satu orang pula. Kagak usah #Aniv dah, Neng!*

Lalu, Pipi juga menambahkan, waktu temennya lagi #Aniv, temennya itu jajanin dia dan beberapa orang lainnya di sekolah. “Terserah deh, lo mau jajan apa,” tantang temennya itu. Tadinya, Pipi pengin beli yang mahalan, semacam PR—Pizza Rakyat, tapi karena takut kemahalan dan kasihan sama temennya itu, Pipi akhirnya milih… Pop Ice.

Tapi, Pipi juga pernah ditraktir oleh temannya di Pizza Hut untuk merayakan hari jadian si teman itu—Cewek #Aniv.

Pipi: Iya, dia nraktir. Dia pesen kayak orang gede gitu, *mengibaskan rambut, memiringkan kepala ala baca menu, menirukan si teman yang #Aniv, memberatkan suara* ‘Mbak, saya mau ini ya, Mbak, bla bla bla’ Ah, Pipi mah iya-iya aja.
Puput  : Soalnya lo nggak tau, ya, Pi? *meledek*
Pipi      : Iya, Pipi mah taunya PR—Pizza Rakyat! *pede*
Menurut Pipi, temannya yang #Aniv itu playgirl! Semua cowok di kelas udah dia pacarin—dari yang cakep sampe yang jelek. Sampe yang Cahyono yang pendek juga dipacarin, kata Pipi main fisik. Lalu, suatu ketika cewek yang #Aniv berantem dengan pacarnya itu karena ketahuan selingkuh(?).
Cewek #Aniv  : Eh, lo tuh ye, udah pendek, jelek, belagu pula!
Cahyono         : Yee, lagian udah tahu jelek, lo tetep mau juga pacaran sama gue.
Audiens          : *pura-pura nggak nyimak cerita*

Jadi, begitulah cerita Pipi.

Dan, yang bikin terharu, saat selesai cerita, Pipi bilang, “Nah, selesai deh. Cerita itu ucapan makasih Pipi buat Nte Wid yang udah nraktir di Pizza* dan ajak foto-foto hari ini.”
 Dan, cerita Pipi masih sangat banyak, katanya. Sayangnya, saya harus segera pulang ke Slipi dari Cipadu—dan itu sudah pukul setengah sepuluh malam. Jadi, Pipi udah stand up comedy di depan saya, kakak, dan tiga sepupunya dari sejak di angkot. Ada kali tiga jam lebih! Dan, sepanjang itu juga kami—sebagai audiens—nggak berenti ngakak.



We love you, Pipi. You’re rock! :D

*p.s. eh, iya, saya traktir di Pizza bukan karena saya lagi #Aniv loh. :)))




Thursday, March 15, 2012

*terima kasih untuk tetap ada di sana

gambar dari sini!



hei, kau yang selalu menundukkan kepala, menyibukkan diri dengan gurat-gurat luka atau entah apa, tepat di sisimu, ada peri yang begitu dalam menyayangimu. ia selalu di sana, menjaga langkahmu. cobalah angkat wajahmu, tengoklah. bahkan, ia menyimpankan banyak doa untukmu. bahkan, ia sempat katakan rindu ceriamu, dan bahkan hampir lupa bagaimana bunyi tawamu. tahukah kau?

ah, semoga kau belum terlambat, untuk mengangkat wajahmu....





Saturday, February 25, 2012

bittersweet goodbye?

gambar di sini!



"jangan buka kotak itu," pesannya, menitipkan sebuah kotak indah untukku, pada suatu ketika.

lalu, aku merasa menjelma pandora, yang begitu tertarik mengetahui isi sebuah kotak cantik yang ditinggalkan bersamanya, dalam kesendiriannya. hatinya begitu resah, mereka-reka begitu banyak kemungkinan tentang isi kotak itu. dan, begitu pula aku, hatiku begitu ingin membukanya.

jangan buka kotak itu? tak tahukah dia, bukankah pandora telah mendapati harapan keluar, menyelamatkannya. bukankah juga begitu seharusnya dengan kotak ini? segala kemungkinan terburuk pun akan selalu ada celahnya, bukan?--celah untukmu mendapati hal baik di dalamnya.

ah, kisah selalu berulang, bukan? mungkin saja pandora memang menitis dalam darahku.

aku membuka kotak itu. dan, mendapatinya penuh sesuatu yang menyergapku tiba-tiba.... menelanku seketika dalam warna kelamnya....

dia--dia berjalan menjauh. "aku hanya ingin kau menyimpankannya, bukan membukanya," samar terdengar suaranya, ikut menjauh bersama langkahnya.

dan, aku tahu, aku telah kehilangannya.

tak ada harapan dalam kotak itu. 
yang ada hanya masa lalu,
dan tak ada jalan untuk kembali.

[suatu hari, kita hanya perlu tak mengikuti keinginan hati--karena keinginan terkadang menyamarkan nurani--perasaan hati yang murni, yang sedalam-dalamnya; yang perlu tak hanya waktu sekejap-dua kejap dalam mendapatinya. dan, mungkin saja, kita melewati banyak persimpangan, yang seharusnya kita langkahkan kaki ke sana. yang mewarna seperti ingin kita.]

kau, aku mendapati secarik tulisan tanganmu di antara masa silam di dalam kotak itu. lalu, mencoba bertahan hidup di sana. mungkin, inilah hal baik dalam kemungkinan terburuk yang telah kupilih ini--mungkin inilah jelmaan harapan yang didapati pandora itu. ah, kau, selamat tinggal.... aku akan hidup dalam kenangan kita, hingga aku menua, dan mencapai titik terakhir usia. aku memiliki kenanganmu, ah, meski bukan dirimu.

kau, apa kabarmu di depan sana? apakah itu kata maafmu yang samar kudengar dari sini?

maaf, untuk segalanya.

terlalu samar, aku tak mampu mendengar seluruh kata yang kau ucapkan.

aku mencintaimu. tapi, ada yang menungguku di depan sana.

selamat tinggal.

maaf, aku tak mampu mendengarmu dari sini. terlalu samar.
apakah kau mencintaiku? aku hanya ingin tahu, tapi entah bagaimana, kotak ini bagai tak bertepi.

aku mencintaimu, tapi tak ada jalan untuk kembali. aku tahu....

selamat tinggal....


Friday, February 17, 2012

Surat Ketujuh: Aku Masih Mencintaimu, Tentu Saja

gambar di sini!



hei, kemarin hari lahirmu... tujuh tahun berlalu sudah.. tapi, seperti baru kemarin.... terkadang, entah bagaimana, kita kerap mempertukarkan waktu dalam sebuah masa lalu.

apa kabarmu? :)

jika kau bertanya apakah aku masih mencintaimu, tentu saja aku tak perlu berpikir lama untuk menjawabnya. aku masih mencintaimu. ah, bukan, aku tetap mencintaimu, sampai kapan pun. kau adalah sebentuk kenangan yang kusimpan dalam botol kaca yang kulapisi mantra-mantra. dia tak akan pernah bisa pecah berkeping-keping, pun ia terhempas berkali-kali.

hei, kau tak bertanya kabarku? :) hmm, ada banyak hal yang kulewati tahun kemarin. berpindah kota, berpindah pekerjaan, dan sempat berpindah hati pula. haha. begitulah. terkadang, kita ada sesuatu yang tak bisa kita pastikan. yah, karena katanya, tak ada yang pasti di muka bumi ini bukan selain ketidakpastian itu sendiri, kan? :p

tahun lalu, aku bertemu seseorang yang menyenangkan. dia membawakanku tawa setiap waktu. namun, suatu malam, dia membawakanku kesedihan. bukan dalam bentuk luka, kali ini. hanya dalam bentuk sebuah perasaan ganjil, semacam perasaan gamang. dia sempat bilang, mungkin dia bukan orang beruntung yang nanti akan aku ceritakan dalam surat panjang kepadamu--ya, dia membaca surat keenam yang kutuliskan untukmu tahun lalu. 

namun, dia sempat menjelma kenangan manis dalam fragmen langkahku--mengenangnya membuatku tersenyum, mungkin karena dia bawakan bahagia, yang mengaburkan luka hatiku kala itu. tapi, takdir kami tak bersilangan. demikian garis takdir katakan.

apakah aku mencintainya? entah. jika cinta adalah sebentuk perasaan bahagia, mungkin bisa dibilang, aku mencintainya. jika cinta seperti kamera polaroid, yang instan, mungkin bisa dibilang, aku mencintainya. tapi, cinta--yang aku tahu, adalah sebuah perjalanan panjang, "yang selalu menjagamu dari malam-malam kelam, dari kegamangan, pun dari prasangka terburuk sekalipun. karena itulah memperbincangkan cinta akan selalu menarik, tak ada habisnya."* 

kala itu, percakapan panjang kami tak ada habisnya. namun, kegamangan terkadang menelusup dalam malam-malam kelam. jadi, aku pun tak pasti, apakah kisah setahun lalu itu cinta atau bukan. 

tapi, yang pasti, aku mencintaimu. kau tahu, jika kau menyimpannya di sudut terjauh hati, cinta akan tetap di sana. mungkin begitulah cinta yang sebenarnya--cinta yang tak pernah habis dalam hitungan hari. cinta bukanlah sesuatu yang rumit, bukan, hanya sesuatu yang membuatmu tenang--membuatmu nyaman. dan, yang terpenting, membuatmu tak hilang harapan.

ya, aku mencintaimu. mengenangmu membuatku tenang, menyelipkan senyum di bibirku, dan membersitkan doa dalam hatiku. aku menyimpan cinta itu tetap di hati--agar ia tak menguap dan menyusut hanya karena terkena panas-dingin musim yang sedang tidak jelas. 

selamat hari lahir, adikku sayang. semoga cinta bisa menghangatkanmu di sana. karena cinta itu hangat, meski dalam bentuk sederhana; sebuah doa.

semoga Dia pun mencintaimu dan menempatkanmu dalam tempat terbaik-Nya.... 

amiin.


ah, aku terlalu banyak bicara tentang diriku sendiri, rupanya. tapi, entah kenapa, saat keping kenangan tentangmu kurekatkan satu per satu, ada air mata bersirebut jatuh--mungkin bukan karena kesedihan, hanya karena aku merindumu. terkadang, air mata jatuh bukan melulu karena kesedihan bukan, juga karena ada kebahagiaan yang menguar. 

ah, sungguh, aku ingin tahu, apa kabarmu di Sana? semoga, selalu bahagia yang kau rasa. :)





__________________________
*kutipan tentang cinta ini juga saya tuliskan dalam blurb novel Tentang Cinta (Bukune, 2012).

Sunday, January 08, 2012

kehilangan


gambar reblog dari enchit!




ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu bertanya, “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?”
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu, menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab kematianmu –
ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu 
--"Metamorfosis", Sapardi Djoko Damono



hidup, bisa jadi, ia hanyalah sebatas satu-dua hela napas.
semoga, waktu-waktu mendatang, aku tak lagi menyia-nyiakan satu-dua hela napas yang kita tak pernah tahu kapan kita tak lagi berhak atasnya--ah, bukan berhak, melainkan kapan Dia berbaik hati tetap mengaruniakannya kepada kita.

ketika napas itu tak lagi bersamamu, kau tinggallah sebuah jasad kaku. kepergianmu akan diiringi tangisan, atas segala hal. sementara kau, kau tak lagi bisa melakukan apa pun--bahkan untuk menyesal pun kau tak bisa lagi. kau hanyalah jasad kaku, yang akan diusung dalam keranda, kembali, menyatu dengan bumi....

Tuhan, sungguh dahsyat sebuah kehilangan yang disebut kematian. yang tentu saja tak hanya meluruhkan tulang belulang dia yang Kau panggil. juga bahkan mampu membuat tulang-tulang orang yang ditinggalkan luruh. kehilangan yang sesungguhnya, begitu kita menyebutnya. kehilangan akan sesuatu yang kau pikir kau miliki--padahal telah Ia beri tahu sejak jauh-jauh hari: tak ada yang kita miliki di dunia ini. yang juga telah Kau tuliskan agar kami tak melupa.

Tuhan, sungguh, aku belum mampu memahami kematian--yang ternyata memang begitu dekat. aku masih memaknainya dengan sekadar air mata....

Tuhan, ya aku tahu, tak ada yang sia-sia. tunjuki kami jalan-Mu.... agar kami tak melupa akan diri kami ketika kau "mendudukkan kami di depan cermin itu"....





*kau yang pergi pada satu januari, selamat jalan. semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi-Nya. aku mendoakan....



Monday, November 28, 2011

merindu

foto di sini!



kau tahu, mungkin saja esok matahari tak kembali lagi dan kita cuma punya waktu hari ini. 
mungkin, itu juga alasan kenapa banyak orang merindu. 
mereka merasa takut ditinggalkan waktu.

seperti yang aku rasakan, kala ini.
hanya hal sederhana, tetapi entah kenapa tak habis-habisnya ia menyesaki sudut-sudut hatiku,
--bahkan, terkadang, sampai-sampai tak ada lagi ruang kosong di sana.

terkadang, memang selalu ada saat seperti itu--takut tak beralasan,
merindu tak beralasan. ;)

Sunday, November 13, 2011

seorang guru


gambar di sini!



kata seorang teman, lepaskanlah sesuatu--semacam masa lalu--bagai seorang guru melepaskan muridnya. dengan senyum cerah, juga segenggam doa, menaburi perjalanannya. agar ia bahagia, dan sang guru pun bahagia.

sedang mencoba mencontoh seorang guru, yang melepas muridnya, yang menyimpan air mata (hanya) untuk mendengar bahwa sang murid bahagia dalam jalan yang dia pilih. dan diam-diam ikut memercikkan doa-doa, sepanjang perjalanan usia--bukan menaburkan dendam atau semacamnya. :)



#one of triple magic in 29 gift, sometimes, somewhere.




Monday, October 31, 2011

Saya Menang :)


@salihara



Tampil di depan umum? Jujur, itu adalah salah satu ketakutan saya. Saya semacam punya trauma tampil di depan umum. Mungkin, hal ini dimulai sejak saya masih SD, mungkin kelas empat atau lima. Saya ingat sekali, waktu itu, saya jadi perwakilan SD saya untuk ikut semacam pelatihan di sekolah lain, dengan peserta dari sekolah lain--saya lupa kami belajar apa waktu itu. Namun, yang pasti, hari terakhir, setiap peserta diwajibkan membawakan sebuah lagu di depan kelas.

Saat itu, saya masih gadis kecil yang polos dan tidak bisa bernyanyi--bahkan sampai sampai saat ini pun saya benar-benar tidak bisa menempatkan not lagu dengan benar. Ditambah pula, saya "penyanyi spesial reff" (cuma hafal reff lagu), dan parahnya suka mengganti lirik sekenanya tanpa sengaja.

Lalu, tentang menyanyi di depan kelas itu, saya entah kenapa (entah karena kreatif atau entah dirasuki musisi mana), saya membuat lagu sendiri. Oh, tidak! Ya, saya menjadikan sebuah puisi menjadi lagu dengan membuat nadanya sendiri. Dan, dengan pedenya, saya menyanyikan "puisi" itu di depan kelas pelatihan itu. Dan, sesuatu terjadi. Di pertengahan, saya lupa liriknya. Dan, peserta hening. Lalu, seorang bapak tua, saya bahkan seperti masih ingat wajahnya, menghampiri saya. "Nyanyikan lagu yang hafal saja," ujarnya. Saya terpaku. Saya tidak hafal lagu apa-apa.... (Untunglah saya tidak menangis saat itu. Yang pasti, saya pulang pelatihan dengan menyimpan sesuatu semacam trauma tampil di depan umum). T_T

Lalu, saya sempat juga ikut lomba baca puisi waktu SMP, dipaksa guru. Dan, saat itu, malunya lain lagi. Waktu itu, ada gebetan saya yang nonton di depan musala. Tetapi, rasanya, kali itu tidak terlalu trauma karena saya lumayan dicap jago bahasa Indonesia. Hihi.

Waktu kuliah, presentasi saya selalu bisa dibilang "hancur". Selain karena telat, saya suka ketawa dengan jawaban yang saya berikan. Dan, berpikir orang sedang menertawakan saya juga, padahal mereka menunggu saya melanjutkan presentasi. Haha. Yang paling parah terjadi ketika kuliah umum Agama Islam. Teman kelompok saya, si Pencakar Langit, pun sama nggak jelasnya--kala itu. Jadilah kami dagelan berdua di depan anak-anak jurusan lain di kampus FIB UI itu. Fiuf.

Lalu, meskipun saya mendapatkan nilai A di ujian skipsi saya, kabar yang saya dapat beberapa bulan kemudian, begitu mengejutkan. Dosen penguji sempat bilang ke teman saya bahwa saya sangat gugup. Haha. Padahal, saat ujian skripsi itu saya merasa pede loh dengan materi dan jawaban yang saya sampaikan. :))

Trauma itu diperdalam waktu saya baca cerpen di acara Temu Sastra Jakarta yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta pada 2003. Acara yang diadakan di Dewan Kesenian Jakarta, Kompleks TIM itu berlangsung meriah. Saya dan Gita Romadhona yang saat itu masih mahasiswa tingkat dua diundang ke acara itu karena karya kami masuk ke dalam buku kumpulan yang diluncurkan: kumpulan puisi Bisikan Kata, Teriakan Kota dan kumpulan cerpen Kota yang Bernama dan Tak Bernama. Saya termasuk peserta yang disuruh baca cerpen saat itu. Cerpen saya yang masuk ke dalam buku itu berjudul "Percakapan Nomor-Nomor" dan cukup panjang. Jadi, saya cukup lama tampil di depan.

Saya dan Gita hanya berdua ke sana, naik kereta. Kala itu, hape kami belum ada kameranya dan nggak berniat juga sekadar pinjam kamera teman, jadi tidak ada dokumentasinya. Sayang sekali. :( Mungkin, karena kami berdua terlalu senang karena namanya dibukukan dengan sastrawan-sastrawan yang cukup ternama, jadi lupa segalanya. Hehe. Namun, sebenarnya, saat itu, Gita sudah punya buku antologi puisi dan menyandang gelar "sastrawan Jambi" dari kotanya itu. Kala itu, saya sungguh senang bertemu dengan seorang teman yang karyanya dimuat di Horison, dan terkagum-kagum--saat ketemu Gita, karya saya belum pernah dimuat. Jadi, bisa dibilang, Gita yang cocok jadi kritikus itu sangat berpengaruh dalam riwayat kepenulisan saya. :)

Eh, balik lagi ke saya disuruh baca cerpen di acara itu. Kala itu, yang saya ingat, saya baca cerpen sambil duduk, dengan kertas menutupi muka, dan dengan cara baca yang seperti biasa saja. Lalu, saat selesai, (kayaknya banyak sih yang tepok tangan, atau mungkin cuma Gita ya. Haha), ada seorang cowok yang menghampiri saya (ehem-ehem).

"Mbak," sapanya. Saya yang masih jetleg panggung menatapnya, "Ya, ada apa?" tanya saya *lempar poni*.

"Mbak, tadi baca cerpen atau koran ya?" ujarnya santai.

Sial! Haha. Saya langsung terpaku dan ngeloyor. Hancur sudah percaya diri saya untuk tampil di depan umum gara-gara tuh cowok. Tapi, kayaknya itu cowok minta nomor telepon saya deh setelah itu atau itu mimpi ya? Hoho.

Namun, malam itu, saya dan Gita pulang dengan sumringah. Kami dapat uang honor yang bisa dibilang cukup banyak, soalnya dihitung dari jumlah puisi dan cerpen yang dimuat. :D Gedelah pokoknya untuk ukuran mahasiswa, wong pulangnya aja saya dan Gita bisa naik taksi bow (dulu, waktu kuliah, taksi rasanya kendaraan para dewa banget dah. Maklum, mahasiswa). :p

Kejadian itu terekam di benak saya dan membuat saya semakin berpikir, saya tidak bisa tampil di depan umum.

Kejadian semacam itu berulang lagi. Saya "dipaksa" dosen, Pak Maman Mahayana membacakan cerpen pada acara ..., lupa nama acaranya. Waktu itu, kayaknya ada orang Malaysia-nyalah. Saya tidak bisa menghindar karena Pak Dosen orangnya sangat selaw, nggak percaya kalau ada orang yang grogian. Lalu, karena saya mencari teman biar nggak grogi, saya seretlah teman angkatan saya yang bernama Fadly--orangnya pede-lah pokoknya. Lalu, tampillah kami membacakan cerpen di acara itu berdua, dengan ganti-gantian membacanya.

Lalu, kami turun dengan perasaan ingin bunuh diri. :)) Saya tidak bisa menahan tawa setelah acara itu. Kami berdua sama-sama grogi dan tidak jelas membaca apa. Udah kayak dagelan abis dah--minus tawa penonton. :))) *maafkan akuh, Fadly, yang nggak mau diingatkan dengan acara itu. :p

Sampai sekarang, gaya tampil di depan umum saya masih seperti itu. Ngomong belibet dan ngomongnya nggak jelas. Padahal, di benak saya, banyak hal yang ingin saya sampaikan dan rasanya pemikiran itu cukup keren juga kok. Tapi, apa daya, yang keluar selalu hal-hal tidak jelas. Dan, bodohnya, saya selalu merasa percaya diri saat-saat terakhir, dan turun dari panggung. Bahkan, saya sering bilang ke teman saya, "Eh, tadi pas terakhir, gue udah nggak grogi loh." Lah? Pegimana yak? Acara udah berakhir masa baru mulai nggak grogi. Percaya Diri yang Datang Terlambat.

Waktu talk show di radio promo novel, saya pun ngomongnya belibet abis. Oh, tidaak. Rasanya pengen bilang, "Bolehkah saya menuliskannya saja, saya lebih pede kalau nulis." Hihi. Bahkan, ya, saking saya suka disorientasinya di depan "umum", saya malah jadi grogi di depan gebetan teman saya, waktu di kampus, dan saya jadi tertuduh menggebet doi juga. *kisah nyata dialami penulis* :D

Tapi, alhamdulillah, waktu wawancara kerja yang cukup sering, saya ngerasa lancar dan nggak terlalu gugup--oh, mungkin itu bukan kategori "tampil" di depan umum dan jadi bahan sorotan.

Akhir-akhir ini, saya berencana ikut kelas public speaking, di sekolah milik seorang artis terkenal. Tapi, hmm, mahal sekaliii dan kelasnya juga adanya malam, dan cukup jauh dari tempat kerja saya. Tapi, sepertinya kelas itu menarik dan suatu saat saya akan mengikutinya. Nabung dulu ah. :)

Lalu, datanglah malam #adupuisi di Salihara. Saya dan Gita yang sudah jarang ikutan acara sastra kangen dengan acara-acara semacam itu. Kali terakhir kami ikut acara sastra bareng itu saat di Pekanbaru, Riau, acara Kongres Cerpen Indonesia. Itu tahun 2007--so last century. Jadi, isenglah kami ngirim puisi ke acara penutupan Bienal Sastra di Salihara itu. Esoknya, saya dan Gita ditelepon untuk hadir membacakan puisi kami yang dipilih di acara itu, ceritanya puisinya diadu di acara #adupuisi itu. Gita, yang ngakunya juga nggak bisa baca puisi, memang sudah berniat tidak hadir karena dia menyusui. Haha. Ya, di rumah, ada Nyala Matahari yang merindukan waktu libur ibunya tercinta itu. :) 

Lalu, saya juga berniat tidak ikut-ikutan hadir, dengan alasan: saya tidak bisa tampil di depan umum, plus saya juga tidak bisa baca puisi. Hiks. Sejujurnya, saya benar-benar takut tampil di depan umum--mana belum jadi ikut kelas public speaking. Tapi, saya ingin menaklukkan rasa takut itu, tapi saya takut. Halah, remponglah saya. :p

Kata Jeffri Fernando, desainer piawai Gagas, "Emang hal buruk apa yang bakal terjadi, Wied?"

"Hmm, gue gugup, trus orang-orang ketawa," sahut saya tidak yakin.

"Terus?" tanyanya lagi.

"Terus....," saya berpikir, "terus, udah."

"Ya, udah, cuma gitu doang kan?" sahutnya mengedikkan bahu.

Saya mengangguk.

"Ketakutan itu jangan dimusuhi, Wied, tapi dijadikan kawan, puk-puk pundaknya." Si Kokoh kedip-kedip mengeluarkan kebijakan ala leluhur Tionghoa-nya.

Akhirnya, saya membalas e-mail orang Salihara, bilang saya hadir. Kemudian, curhat ke mantan ruang kantor saya di Visimedia. Di sana, ada Zulfa dan Muti. Muti yang cukup sering tampil di depan umum nyuruh saya baca, dan saya cuma ketawa-ketawa nggak jelas. Zulfa yang baik hati bilang akan menemani saya besok. Saya semangat. Saya juga "memaksa" Andri, sohib saya, untuk mendukung saya--setidaknya, untuk memberikan tepuk tangan kalau-kalau nanti nggak ada yang tepok tangan. :p Arne, junior saya di Sastra Indonesia, juga datang ke sana dan menyemangati saya di twit-nya. Oke, saya merasa yakin untuk datang.

Menjelang sore, saya mengirim SMS ke Gita, bilang saya tidak semangat datang (sebenernya, lebih ke arah takut). Hehe. Namun, Gita menyemangati saya dari jauh (terima kasih, Gita, you're the best, always). :D Saya yang telanjur bilang batal ke Andri, meralatnya, bilang jadi datang dan berharap Andri dan Atmo--suaminya--jadi datang juga untuk jadi pasukan cheers saya. Begitu juga dengan Zulfa dan Arne. :)

Lalu, setelah kursus singkat dengan Arne, saya coba baca puisi. Awalnya, saya akan baca sajak yang judulnya "Bukan Tak Mungkin", yang sudah saya latih sambil ngaca di kosan. Arne yang sering main teater bilang, sajak itu perlu tambahan-tambahan, misalnya nyanyian, katanya. Haha, saya langsung menidakkan tanpa mengingat kejadian SD itu. Saya memang tidak ditakdirkan untuk bisa bernyanyi. Tanya aja Gita. :(
Setelah diskusi kecil dengan Arne, puisi dengan judul "(Yang Seharusnya)"-nya lebih aman, lebih bercerita dan bisa dibacakan tanpa tambahan-tambahan. Zulfa dan dua teman Arne juga setuju.

Lalu, sampailah pada giliran saya--setelah tampilan beberapa orang yang gaya membacakan puisinya bermacam-macam. Di atap terbuka gedung Salihara itu, penonton penuh--sebenarnya, mereka bejibun karena acara itu digabung dengan tampilan Gugun Blues Shelter yang sengaja diundang untuk meramaikan acara penutupan Bienal Sastra itu.

Sebenarnya, saya bersyukur tampil terakhir karena jadi lebih santai setelah melihat tampilan yang lain--ada yang cukup gugup juga, dan tampaknya lebih parah daripada saya. Hehe. Setidaknya, saya jadi belajar, oke, nanti di depan nggak boleh begini, nggak boleh begitu. Namun, que sera sera.

Setelah melihat tampilan video yang sempat direkamkan oleh Zulfa di hape saya, saya menilai, yah, saya lumayan tidak terlalu gugup, cuma terlalu sering negok ke bawah buat baca kertas contekan--karena saya memang tidak hafal sajak saya itu. Hehe. Suara saya, untungnya, tidak bergetar karena dibantu oleh sound system yang disediakan untuk panggung grup musik sekelas Gugun Blues Shelter. :)

Dan, saya juga merasa diselamatkan oleh... malam dan lampu sorot. Senang sekali saat menatap ke penonton, semuanya tampak blur. Terima kasih, gelap dan lampu sorot! :)

Jadi, malam kemarin di #adupuisi itu, saya merasa sedikit berkawan dengan rasa takut saya, dan mulai berpikir: tidak seburuk itu kok. Terima kasih buat sahabat-sahabat yang sudah mendukung saya dengan begitu semangat. Luv you, all. :)

Tapi, saya masih berniat ikut kelas public speaking. Semoga segera terwujud dan semoga bisa ikut kelasnya dengan gratis atau separo harga, atau diskonlah (hehe). Ngarep. Tapi, katanya, kan yang penting kita punya mimpi dan berdoa dulu untuk itu, dan pastinya berusaha (berusaha agar gratis atau diskon. hehe).

Selanjutnya, que sera sera, kita serahkan kepada Dia pemilik segala jalan. :)

Senang sekali, malam kemarin itu, meski tidak menang, saya merasa sangat menang--dalam "menaklukkan" ketakutan menjadi kawan saya, bukan lagi musuh. Semoga ke depannya juga selalu demikian--harapan sederhana, kan, Tuhan, kabulkan ya. ;)






--penghujung Oktober 2011 





p.s. Last but not least, makasih juga buat dukungan di Twitter dari teman-teman gagas-bukune, iksi 2011, mbak enno, mbak nia, feba, bebonk, azizah. Udah kayak mau konser buat acara apaan gitu ya gw. Haha. Tapi, dukungan itu sangat berarti, teman-teman yang baik dan keren. Senang mengenal kalian semua. ;)

Tuesday, October 04, 2011

[4/10]

terkadang, kau hanya perlu berbincang panjang dengan seseorang yang kau sebut sahabat lalu, kau akan kembali ingat bahwa semesta baik-baik saja. :)




LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin