Penjual Kenangan

Wednesday, October 03, 2012

Secangkir Doa


I owe the pic!


Perempuan itu tak tahu, apakah kata-kata yang terlalu tajam ataukah hatinya yang terlalu rapuh. Yang ia tahu, tiba-tiba ia terluka begitu saja, begitu dalam.

Dalam hening, ia seakan mendengar bisik lirih, "Berhati-hatilah ketika jatuh cinta. Cinta bagai mata pisau, yang salah satu sisinya bisa saja menjadi begitu tajam jika kau salah menempatkannya."
 
Perempuan itu terdiam, bertanya-tanya, benarkah cinta yang telah melukai hatinya? Cinta yang selama ini selalu menyuguhkan bercangkir-cangkir derai tawa yang manisnya terasa pas (tak kurang-tak lebih) untuknya? Benarkah? Ia masih saja tak percaya.

"Tak ada yang salah dengan kata-kata, dan hatimu dicipta-Nya dengan segala mantra-mantra penjaga. Hanya saja, kali ini, kau tampaknya salah menempatkan cinta, hingga sisi tajamnya menggores tanpa sengaja. Sudahlah, tak usah resah. Hati dicipta dengan mantra-mantra sakral-Nya, ada penawar dalam setiap sudutnya. Apa sebutanmu untuk itu? Sesuatu yang disebut doa? Ya, larutkan dan resapkan ia dalam sebuah cangkir pada malam-malam panjang, dan niscaya akan kau dapati luka tak lagi menyisa. Dan, tentu saja, asal kau percaya."

Perempuan itu termangu, siapakah yang bicara dengannya? Apakah malam yang telah lelap diselimuti sunyi atau hatinya yang baru saja terluka?

Ia tak memikirkannya lagi. Yang ia tahu, saat ini, malam begitu panjang, dan ia hanya inginkan sebuah cangkir, tak perlu cantik, tempat ia akan melarutkan doa-doa, lalu menyesapnya pelantak perlu terburu-buruseperti saat ia menikmati teh sore yang mampu meluruhkan risau kala sebuah hari terasa sedikit membiru warnanya.

"Jadi, kau pikir itu cinta? Sudahlah, otakmu saja yang tampaknya sedang bodoh dan terlalu cepat menyimpulkan itu cinta. Dia hanya berpikir. Sementara aku, aku merasa itu bukan cinta (yang sesungguhnya). Sisi goresannya terasa sedikit kejam, bukan hanya tajam. Kau lebih percaya mana? Otak atau hatimu ini?" 

Perempuan itu terdiam, tak lagi bertanya. 
Ia sudah tahu dengan siapa ia bicara, dan siapa yang harus ia percaya.



Tuesday, October 02, 2012

Di "Persimpangan" [Silang Hati], Aku Menunggumu


COMING SOON!

"jika ini cinta, mungkin kita harus menunggu, tetapi apakah kita masih punya waktu?" 
--Silang Hati (Sanie B. Kuncoro & Widyawati Oktavia, GagasMedia, 2012)



Suatu hari, saya ditawari untuk ikut dalam proyek novel duet di GagasMedia. Kebetulan, novel pertama saya  (Kucing Melulu & Cerita Cinta [Me]Lulu, 2009, so last century, hehe) juga diterbitkan di GagasMedia. Pada saat ini, saya sedang (berusaha keras) menyelesaikan sebuah novel (yang belum juga selesai sejak, hmm, satu-dua tahun lalu. hehe). Novel saya itu tidak selesai-selesai dengan alasan bahwa saya terlalu sibuk dengan pekerjaan mengedit (pembelaan diri banget). Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, saya punya waktu luang buat tidur berlebih (setelah bergadang dengan alasan insomnia). Sebenarnya, saya ingin bilang kalau sebenarnya, alasan saya tidak punya waktu untuk menulis itu hanyalah karena saya tidak menyempatkan diri untuk menulis. *noted!*

Saat ditawari menulis duet, saya langsung bersemangat dan tiba-tiba saja berbagai outline wira-wiri di benak saya. Saya langsung meneror sang editor, menanyakan siapa pasangan duet saya agar saya segera berdiskusi dengannya (semangat ini harus tetap saya pertahankan, tetapi sayangnya sering tenggelam dalam deadline *_*). Lalu, dalam tiga hari, meski belum tahu siapa pasangan duetnya, saya pun sudah membuat sebuah outline yang cukup lengkap untuk sebuah novela dan langsung saya kirimkan ke editor. Sebenarnya, sebuah nama sudah disebutkan sang editor, tetapi itu masih tentatif dan saya juga merasa punya gaya kepenulisan yang sama dengan penulis tersebut. Waktu berlalu, dan karena jadwal penerbitan novel duet saya itu masih lama. Dan, saya pun kembali tenggelam dalam deadline.

Suatu hari, waktu habis makan siang, saya ingat sang editor bilang, "Eh, gue udah tahu siapa pasangan duet lo!" dan hal itu membuat saya penasaran habis dan tiba-tiba semangat menulis novela ini kembali membuncah! *halah* Dan, yang lebih memicu semangat saya lagi adalah penulis yang akan menjadi pasangan duet saya sudah selesai menuliskan naskahnya. Dan, saat di kantor, akhirnya, saya diberi tahu bahwa pasangan duet saya adalah Mbak Sanie B. Kuncoro, dan saya sangat tersanjung dengan hal ini karena Mbak Sanie merupakan orang yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis-menulis, apalagi dalam dunia novel. Sementara, selama ini, saya lebih banyak menulis cerpen daripada novel. Dan, saya juga menyukai gaya penulisan Mbak Sanie yang manis di novel Memilikimu yang diterbitkan GagasMedia. 

Hari itu Jumat, saat akan pulang, saya dikirimi novela Mbak Sanie untuk saya baca agar bisa dapat gambaran untuk "mengaitkan" cerita kami. Saya membuka naskah Mbak Sanie malam itu juga dan menemukan judul "Senandung Hujan" di cerita itu. Dan, dengan membaca sekilas, sesuatu langsung ting! di benak saya. Saya sudah tahu apa yang akan saya tuliskan! Kebetulan, saya pernah menulis sebuah cerita pendek (sekitar lima halaman) dengan tema yang cukup menonjol dalam cerita Mbak Sanie: pendaki

Malam itu juga, saya langsung membuka cerita pendek saya itu dan sebuah ending telah ada di benak saya--meski jalinan ceritanya masih bolong sana-sini. Saya langsung menuliskan poin-poin yang harus ada dalam cerita ini. Dan, ibarat akan membangun rumah, cerita pendek itu bagai bekal batu bata dan pasir untuk "rumah" yang akan saya bangun. Saya tinggal membeli semen, pintu, daun-daun jendela, genting, dan mungkin lampu-lampu untuk mempercantik rumah itu. Yang pasti, saya punya bahan dasar yang sangat membantu saya untuk membuat cerita ini. 

Esoknya, Sabtu, saya berangkat pagi-pagi ke UI, untuk ikut les bahasa Inggris. Di depan halte FIB UI, saya menghentikan motor, dan meragu. *halah* Iya, saya ragu masuk kelas les itu karena... sudah dua pertemuan sebelumnya bolos (karena ada acara kantor, biar terkesan bukan males). Akhirnya, saya memutuskan jalan lurus, menuju Dunkin di Detos, tempat favorit saya mengetik dan menikmati layanan wifi (dengan murah) :p. Dan, hari itu masih pagi, yang berarti masih ada menu breakfast (yang lebih murah). Hehee. 

Di sana, saya melanjutkan menulis novela saya itu. Saya mengetik seharian dan melanjutkannya kembali di kosan. Tanpa terasa, hari menjelang dini hari, dan saya mencoba untuk tidur. Saat mencoba memejamkan mata, fragmen-fragmen cerita novela seakan memanggil-manggil di benak saya. Saya pun memutuskan bangun dan kembali ke meja untuk mengetik. Lalu, menulis cerita itu sampai pagi tanpa henti. Kantuk terasa, tetapi kisah itu masih tanggung karena "sedikit lagi". 

Akhirnya, saya "memutuskan" menyelesaikan cerita ini. Dan, cerita selesai menjelang pukul satu siang pada hari Minggu itu. Saat itu, jari-jari saya terasa begitu pegal dan tak bisa digerakkan. Saat saya meraih bantal untuk segera tidur, saya menyempatkan mengirim SMS kepada seseorang bernama Gita: novela gue selesai. Kata-kata itu menjadi sesuatu hal yang saya ingat sebelum saya jatuh tertidur. Saya melaporkan itu kepada Gita Romadhona, orang yang selama ini selalu saya "paksa" menjadi orang pertama yang  membaca cerita-cerita pendek yang saya tulis. Dan, saat memejamkan mata itu, saya sangat lega karena telah berhasil menyelesaikan tulisan sekitar 60 halaman dalam dua hari dua malam ala Roro Jonggrang. :D

Senin, saya pun langsung memberi tahu sang editor bahwa saya telah menyelesaikan cerita yang saya tulis. Lalu, saya pun dikenalkan kepada Mbak Sanie lewat telepon dan kami janjian untuk mendiskusikan jalinan cerita kami. Ternyata, Mbak Sanie sedang di Jakarta, ada acara di acara cerpen Kompas, dan saya kebetulan sekali saya memang sudah berniat datang ke acara itu. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Akhirnya, saya berkenalan secara resmi dengan Mbak Sanie dan kami pun mendiskusikan keterkaitan cerita kami itu. :)

Dua hari kemudian, saya kembali membaca cerita saya dan membuat catatan yang "bolong" dari cerita tersebut. Beberapa hal masih mentah dan logikanya belum "masuk". Berbekal catatan sendiri itu, saya pun memperbaiki proyek Roro Jonggrang saya, sekaligus memasukkan fragmen baru agar terbentuk kaitan cerita saya dan cerita Mbak Sanie. Saya pun sempat riset ke sebuah tempat yang menjadi salah satu latar novel ini agar lebih dapat "gambaran" tempat yang pas. 

Self-editing dan revisi untuk poles-memoles novela ini (sekaligus diskusi lagi dengan Mbak Sanie dan editor) saya kerjakan sekitar sebulan. Dan, saya pun mengirimkan draf novela ini ke editor tepat waktu! Yeee!
Saya tinggal menunggu catatan dari editor GagasMedia untuk catatan revisi novel ini. *senangnya*
Akhirnya, e-mail yang ditunggu pun tiba. Saya mendapatkan beberapa catatan yang perlu direvisi. Dan, tentu saja, saya kembali memanggil jin-nya Bandung Bondowoso dan mengerjakan revisi itu tanpa mengenal siang dan malam. Haha. 

Setelah melihat cover novel duet ini memuat nama saya, saya kembali berpikir, ke mana aja saya selama tiga tahun ini? Tiga tahun ini, novel saya terbengkalai dan outline bertebaran di laptop saya. Cerpen sastra? Boro-boro. Ada sih satu dan itu bahkan saya nggak berani liatin ke Gita karena, hmm, ngerasa jelek. >.< Yang selesai hanyalah tulisan-tulisan galau di blog :p + sebuah buku rangkuman Bahasa Indonesia yang saya tulis dengan Gita. 

Jadi, dari novela ini, saya belajar kembali bahwa kita hanya perlu motivasi, terutama dari diri sendiri, untuk menyelesaikan-hal-yang-belum-selesai. *bold, italic* *ambigu* :))

Terima kasih, GagasMedia, yang telah mengajak saya dalam proyek duet ini. Kepada Christian Simamora yang selalu berhasil membuat saya "iri sangat" dengan semangat-dini-hari-nya untuk menulis. Buat Mbak Sanie yang "mengobarkan" semangat saya dengan sebuah kisah manisnya yang selesai lebih dahulu. Buat Anissa Anindhika atas cover yang cantik. Juga terima kasih kepada orang-orang yang telah mewujudkan cerita ini dalam bentuk buku dan akan segera hadir di toko buku. Dan, buat Gita, tetap mau ya membaca dengan sabar "kisah-kisah cinta"-ku. Hoho.

Dan, kamu, para pembaca, aku harap kamu mau "Menelusuri Jejak Cinta" di Silang Hati ini. Aku akan menunggu di "Persimpangan", mungkin berteman "Senandung Hujan". :)


With love

Widyawati Oktavia



Wednesday, September 26, 2012

Silang Hati: Menelusuri Jejak Cinta [Coming Soon]




Bagaimana caraku menatapmu, memandangmu lurus-lurus tanpa rasa bersalah? Karena setiap kali aku berhadap-hadapan denganmu, berusaha bereaksi atas senyuman tulusmu, aku seketika menundukkan kepala. Saat melihatmu, aku melihat dirinya.

Cinta memang bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, dan sayangnya, aku baru menyadari ketika benar-benar terperosok ke dalamnya. Seperti pasir isap, sulit bagiku untuk keluar dari segitiga ini.

Ada tiga sisi di cinta ini, ada tiga perasaan yang tengah dipertaruhkan.

Tak seharusnya ini terjadi, aku tahu itu. Tapi, kau dan dia bagaikan air dan udara—bagaimana bisa aku memilih hidup dengan salah satunya saja?


Tuesday, September 25, 2012

Sebuah Tiket

I owe the pic!



Kau bilang, kau masih ingin menikmati suara nyiur dan sepoi angin di kotamu. Juga pagi yang selalu membawakan embun-embun yang terasa manis di lidah pepohonan perdu yang menggeliat menghilangkan kantuk. Kau masih ingin menikmatinya, mencoba menerima dengan sepenuh hati apa yang saat ini telah kau miliki. 

Aku terdiam, bertanya-tanya sendiri. 
Aku punya sebuah tiket untuk kursi kosong di sebelah tempat dudukku, kuselipkan aman di balik saku bajuku. Untuk sebuah perjalanan jauh--mengembara dengan sebuah kapal yang katanya menuju tempat yang membuat kita tak akan pernah lagi mempertanyakan siang ataupun malam. Hari-hari di sana bagai ruang yang selama ini hanya dalam mimpi dan harap terdalam kita, dan waktu melahirkan bahagia dalam setiap detaknya.

Ke sanalah aku akan menuju. Sebuah koper kecil yang memuat segala memori masa lalu telah kusiapkan bersamaku. Sebagai kenang-kenangan ataupun sekadar teman dalam waktu-waktu luang.

Mendengar ucapmu kali ini, bersit tanya meruah dalam hatiku, akankah aku menjadikanmu orang yang tak mensyukuri karunia jikalau kutawarkan tiket ini kepadamu?
Aku terdiam, hanya berani menatapmu diam-diam, kau yang sedang menyesap hangat matahari sore ini, di kotamu. 

Peluit kapal itu telah terdengar sekali lagi, dan sudah saatnya aku beranjak dari kota ini. 
Tiket yang satu itu masih berada di balik saku bajuku, dan hanya untuk satu kali perjalanan. Kau tak akan bisa kembali ke kota ini jika telah kau genggam tiket perjalanan itu.

Aku melangkah, sementara kau berdiri di sana, bagai melebur dengan warna-warna senja, di kotamu ini. Saat aku palingkan wajah sekali lagi ke arahmu, tak ada yang bisa kubaca sebagai isyarat. Lambaikanlah saja tanganmu, itu akan meringankan langkahku. Tapi, kau bergeming dalam sesuatu yang kukenali sebagai harapan--yang kau surukkan serampangan jauh di sudut hati.

Tanya itu seakan hendak meloncat keluar dari bibirku. Akankah aku menjadikanmu orang yang tak mensyukuri karunia jikalau kutawarkan tiket ini kepadamu?

Tapi, ah, ya, Tuhan tahu, aku tak inginkan kau berpaling, dari-Nya.


Thursday, September 20, 2012

kisah pada suatu sore

gambar dari sini!


sore itu, 
kau berjalan di sisiku, 
dan katakan kau menyimpan keping mimpi yang sama.
tapi, di matamu, aku mendapati harapan melarung, jauh.

tak bisakah kita meminta takdir, bukan sekadar mengisyaratkannya,  
untuk menyatukan keping kenangan kita, 
menjadikannya sebentuk cinta?
dan, kita tahu jawabannya—meski tak saling kita ucapkan.

pernahkah kau berpikir, bagaimana jika aku tak datang sore itu?
bagaimana menurutmu?

ya, seharusnya, aku memang tak datang saja sore itu.


Monday, September 10, 2012

resah

gambar dari sini!


aku mendapati wajahmu digelayuti resah,
sementara aku selalu mencari-cari dan selalu berharap menemukan cahaya di matamu.
aku mendapati duka tertera jelas di sana, membuat perih ikut terasa di sudut hati.

kau, jangan hilang harapan,
karena aku takut aku pun akan hilang bersamanya.

kau tahu, aku sering bertanya-tanya, mampukah aku hidup sendiri--tanpamu?
dan, kadang aku merasa, bahwa aku tak mampu....


Tuesday, September 04, 2012

happy pills*

sedang jatuh cinta pada lagu norah jones ini.
oh, ya, pada suatu masa, saya pernah merasa menjelma norah jones loh--meski sampe sekarang nggak bisa nyanyi. hehe. :p






Trying to pick up the pace,
Trying to make it so I never see your face again.
Time to throw this away want to make sure that you never waste my time
Again.

How does it feel?
Oh how does it feel to be you right now dear?
You brought this upon, so pick up your piece and go away from here.

Please just let me go now.
Please just let me go.
Would you please just let me go now?
Please just let me go.

I'm going to get you.
I'm going to get you.
I'm going to get you out of my head.
Get out.

I'm going to get you.
I'm going to get you.
I'm going to get you out of my head.
Get out.

Never said we'd be friends,
Trying to keep myself away from you,
'Cause you're bad, bad news.

With you gone, I'm alive,
Makes me feel like I took happy pills,
And time stand still.

How does it feel?
Oh how does it feel to be the one shut out?
You broke all the rules.
I won't be a fool for you no more my dear.

Please just let me go now.
Please just let me go.
Would you please just let me go now?
Please just let me go.

I'm going to get you.
I'm going to get you.
I'm going to get you out of my head.
Get out.

I'm going to get you.
I'm going to get you.
I'm going to get you out of my head.
Get out.


 ___________________________________
*from Little Broken Hearts

Thursday, August 30, 2012

seorang laki-laki dan jendela kupu-kupu

gambar dari sini!



ia datang, pada petang yang hampir menghilang. 
kala itu, aku hendak meraih sebelah jendela kayu rumahku, menutupnya sebelum kelam membawa angin dinginnya yang kejam masuk ke ruang-ruang rumah tua ini.

ia berdiri meraih sebelah jendela kayu yang hendak menutup sebelah. "tunggu," ucapnya dengan mata yang tak pernah berani aku tatap. ia bilang, ia bawakan aku kisah, yang diceritakan dengan terburu-buru. ada kapal yang dia bilang menunggunya, segera berangkat sebelum malam.

laki-laki ini, ia pernah bercerita kalau ia telah lama jatuh cinta pada jendela kupu-kupu. jendela itu, kau tahu, katanya, ia bagaikan perempuan paling setia di dunia ini: tak pernah mengeluh, tak pernah merasa lelah—menunggu. telah lama aku merasa iri kepada jendela kupu-kupu itu, yang memiliki tempat yang begitu luas dalam hati laki-laki ini.

apa ceritamu hari ini? tanyaku. 
ada degup dari sudut hatiku yang tak mampu kusembunyikan kala bersamanya. 

hari ini, katanya, aku akan pulang. ada perempuan yang menungguku, katanya. mungkin, masih sangat lama kita akan kembali bertemu. ia berkata, dan aku tak berani menerka isyarat apa yang ada di dalam senyumnya.

aku hanya menjawab dengan senyum separuh, yang separuh lagi berupa sesak di sudut mataku. akhirnya, memang akan sampai pula hari ini. 

apakah yang membuatmu jatuh cinta pada jendela kupu-kupu? telah lama aku menyimpan tanya ini, dan akhirnya aku sampaikan juga. kusembunyikan jauh rasa iri dalam sudut terjauh hati.

kau tahu, katanya, jendela kupu-kupu itu, tak pernah lelah berseteru dengan waktu. tak pernah lelah menungguku meski aku sendiri tak lagi memercayai diriku akan kembali. jendela itu, mengingatkannya pada seorang perempuan dari masa lalu. ia bercerita dengan tatapan yang seolah menembus ruang waktu, begitu jauh.

siapa? tanya itu kukulum kembali. aku terlalu banyak bertanya, sementara kelam semakin cepat menyergap malam. laki-laki ini, ia harus segera pergi, aku tahu.

bukankah kau harus segera pergi? kataku, tak ingin ia terlalu lama di sini, takut ia membaca harap dan—ah—resah di mataku. aku harus segera menutup kedua belah jendela kayu ini, angin malam terlalu dingin.

baiklah, katanya, membantuku meraih jendela yang satu lagi. ia terpaku dengan tangannya masih di kisi jendela.

seorang ibu, katanya pelan. aku berada ribuan jarak darinya.
dan, kau tahu, aku begitu merindunya.
aku takut tak sempat sekadar melihat senyumnya lagi, yang selalu kumungkiri selalu membuatku tenang, pun setelah mimpi terburuk.

dan, kau tahu apa yang membuatku meninggalkannya selama ini? karena aku takut kehilangannya—jadi lebih baik aku tak pernah punya banyak kenangan bersamanya. tak masuk akal, bukan? ah, entahlah, aku hanya belajar dari masa lalu. seorang laki-laki yang aku sayang begitu cepat meninggalkanku, tanpa pamit, tanpa memperingatkanku terlebih dahulu. bahwa tak ada yang abadi.

aku terpaku. bukankah kasih sayang abadi? ingin kuutarakan kepadanya, tetapi ragu menyergapku terlebih dahulu.
laki-laki ini, ia bagai sebatang pohon yang kukuh, tetapi ada kerapuhan dalam di dirinya. aku berharap bisa menggenggam tangannya, memberikan sedikit kekuatan, entah apa—cinta, mungkin.

laki-laki ini, bercerita dengannya seperti duduk di kursi kayu langkan rumah masa kecilmu. kau merasa tak asing, tetapi tahu bahwa masa kecil itu hanyalah memori yang tak dapat lagi kau susuri. kau tahu bahwa hanya memori yang bisa kau miliki.

laki-laki dan jendela kupu-kupu. ia kembali membuatku jatuh cinta, entah kepadanya atau kepada jendela kupu-kupu yang ia kisahkan, di antara petang yang semakin ditelan malam yang—entah bagaimana—tiba-tiba menghangat.

aku menatap punggungnya yang menjauh, menutup kedua belah daun jendela kayu rumahku. 
dan menunggu,
berharap aku mampu menjelma jendela rumahku, sebuah jendela kupu-kupu.

Monday, August 13, 2012

12|08|

i owe the pic!


bersamamu, waktu beterbangan, menghangat,
menjelma bahagia, kau tahu?

entahlah, mungkin ini hanya semacam jeda dalam hidup, agar kita menyadari bahwa hati tak melulu harus berbagi tentang luka. hati harusnya tentang cinta, dan sayang, bukan?

jika ini cinta, mungkin kita perlu menunggu. tapi, apakah waktu akan berpihak?

kau dan aku, kita tak akan pernah tahu. 

Menjelma

i owe the pic!




Ramadhan kali ini, begitu banyak berkah yang Dia jatuhkan ke tangkupan tanganku yang membuka dalam doa.

Ia menjelmakannya. Bahkan, doa terdahulu pun ternyata telah sampai kepada-Nya, mewujud nyata. Ya, Dia memang tak pernah berpura-pura tak mendengar bukan, bahkan sekadar lirih hatimu.

Dan, kau tahu, entah bagaimana aku jadi takut… Aku takut dengan semua yang aku dapatkan, meski terkadang aku tak merasa bersalah untuk terlalu banyak meminta. Dan, bukankah saat mengucapkannya, aku tak sekadar meminta?

Namun, saat sesuatu yang kau harap berada di depan matamu, kau merasakan sebuah rasa takut menyelinap diam-diam. Pernahkah kau merasakan seperti itu?

Aku merasakannya pada Ramadhan kali ini, lalu kubilang kepada sahabatku, “Kau tahu, tiba-tiba, aku merasa tak percaya, yah mungkin juga merasa tak layak, menerima semua berkah ini. Banyak sekali, Tuhan, jika 'doa yang itu' juga mewujud kali ini. Aku merasa malu karena ternyata Dia begitu mencintaiku, sementara aku bersibuk diri dengan waktu, sibuk dengan harap, sibuk dengan hatiku….” 

Kau tahu—ah, sahabatku ini memang selalu menjadi peri dalam hidupku—sahabatku itu bilang, memarahiku, “Ah, kau, seharusnya kau bilang, ‘Ya, Kau, aku siap menerima semua berkah dari-Mu.’ Kalau kau sendiri tidak yakin, bagaimana Dia ‘memercayaimu’? Kau, siapkan hatimu, dan percayalah, kau layak untuk apa pun.”

Ah, benar, mungkin terkadang, bukan Dia tak menjawab harapmu. Mungkin saja, kau mengucapkannya terlalu lirih—entah karena merasa terlalu tinggi harapmu ataupun karena kau merasa tak layak. Atau kau mengucapkannya terlalu terburu-buru.

Ya, mungkin benar seperti itu…

Ramadhan kali ini, ada sebuah harap yang kuucapkan lagi—kepada Dia. Namun, aku hanya ucapkan lirih dalam hati, saat mataku memejam, menjelang lelap.

Bukan merasa tak layak, hanya saja, entahlah….
Aku hanya tak berani mengucapkannya lantang—meski hatiku yakin akan harap ini.

Ya, entah bagaimana, aku ingin ini mewujud. Aku sudah tuliskan dengan jelas, bukan? :)

Monday, August 06, 2012

Persimpangan Hati*

gambar dari sini!



“Hati-hati melangkah, Nak. Ingat. Kalau jatuh, kamu harus segera bangun lagi karena perjalanan masih panjang. Dan, kamu tidak mau melewatkan kejutan yang di depan sana, bukan?” Ibu tersenyum; antara senang dan khawatir melihat anak perempuannya yang tampaknya mulai merasakan cinta kembali setelah cinta masa remaja.

Rubina terpaku sejenak, lalu mengangguk. Ya, Bu, aku akan hati-hati melangkah, ucap hatinya.


*a novellete

Wednesday, July 18, 2012

Dilema Blurb (Novel)

gambar pinjam di sini!



Membuat usulan blurb (beserta judul dan tagline) untuk sebuah novel/buku yang akan diterbitkan itu termasuk ke dalam salah satu job desk editor di tempat saya bekerja. Menyenangkan, tetapi juga, hmm, membuat saya kadang memilih "sign out" dulu dari "peradaban" ruangan Bukune-Gagas--lalu berdiam diri di pojokan kubikel saya untuk memikirkan usulan blurb tersebut (plus judul dan tagline). Yup, butuh waktu seperti itu bagi saya untuk membuat usulan blurb (back cover) novel-novel yang saya tangani.

Blurb yang cuma tiga-empat paragraf yang ada di belakang buku--yang menjadi salah satu faktor penting untuk jadi "iklan" isi sebuah novel--memang terkesan singkat dan bisa dibaca dengan cepat. Namun, entah mengapa, membuatnya butuh waktu yang cukup lama bagi saya (belum lagi kalau usulannya ditolak. Hehe. XD). Oh, ya blurb (beserta judul dan tagline) yang saya usulkan akan dikirim ke redpel, lalu dikirimkan ke pemred untuk dicek. Nantinya, blurb, dkk, itu bisa diterima secara langsung (heaven!), bisa ditolak dan saya diminta membuat usulan yang baru, bisa juga redpel dan pemred merevisi dan memodifikasi blurb yang saya usulkan, dan bisa juga mereka membuatkan usulan yang baru. <--hihi, yang ini kadang bikin saya yang stag--yang kayaknya perlu install tesaurus di benak saya--sangat senang :))

Sebenarnya, saya punya waktu sejak naskah masuk dan dalam proses editing. Namun, saya termasuk orang yang butuh waktu tersendiri untuk membuat "kalimat-kalimat cantik" yang sesuai dengan isi tersebut. Dan, selama mengedit, mencari naskah, dan mengurus dsb, saya belum bisa "bersemedi" untuk memikirkan kalimat-kalimat yang pas.

Kadang, saat sudah menjelang tanggal deadline, saya belum menemukan kalimat-kalimat yang pas untuk dijadikan usulan blurb (beserta judul dan tagline), sementara usulan cover sudah terpilih. Oh, no! Dan, terkadang, "teror" deadline itu sih juga yang kadang bikin saya bisa cepat menuliskannya, kayaknya karena kebiasaan belajar dengan sistem kebut semalam. :p 

Namun, terkadang, kalau lagi blank dan dikejar deadline, saya mengambil beberapa kalimat dari postingan blog saya ini. Jadi, kalau kamu menemukan beberapa kalimat di blurb-blurb novel Bukune yang mirip dan sama dengan kalimat di postingan blog saya, hehe, ya itu memang dari sumber yang sama. :D 

Hal ini sempat terjadi juga pada sahabat saya, Gita Romadhona. Tadi, saat kami sedang "stres" membuat blurb, dia bilang kalau ada pembaca yang comment di blog-nya, bilang ada beberapa kalimat yang sepertinya berasal dari sebuah novel (yang memang blurb-nya dibuat oleh Gita). Namun, mungkin karena pembaca lebih tahu novel yang diterbitkan itu dan tidak tahu Gita bekerja di penerbit yang bersangkutan, mungkin ada pikiran bahwa tulisan di blog Gita "mengambil" kalimat dari blurb sebuah novel. Padahal, itu terjadi karena Gita-lah yang membuat blurb tersebut--dan, kadang kalau lagi stag or blank, atau kadang ceritanya memang pas, pilihan kami jatuh pada "mengambil" kalimat-kalimat yang sudah kami posting. Jadi, demikianlah dilema ini, Saudara-Saudara. :p

Sebelum Gita cerita tadi, saya sempat kepikiran juga kalau suatu ketika ada pembaca menemukan kalimat-kalimat yang sama dengan yang ada di blurb novel Bukune, jangan-jangan jadi mikir saya "mencuri" kalimat orang lain. Jadi, karena hari ini sedang "galau"* dengan blurb dan nunggu usulan blurb yang sudah direvisi di-ACC, sekalian saja posting ini. 

But, honestly, saat novel itu terbit, kami (saya dan Gita) senang ketika kembali mendapati kalimat-kalimat yang kami tulis untuk blurb novel itu. Juga senang ketika mendapatimu ikut merasa jatuh cinta ketika membacanya. :)


*sedang galau karena usulan blurb (juga usulan judul) novel yang terbit bulan ini belum ada yang disetujui, sementara deadline baru sudah di atas meja. Y_Y 
semoga yang barusan dikirim disetujui.... *berdoa di pojokan kubikel*

Monday, July 02, 2012

Rana

Setiap saat bersamamu adalah kebahagiaan. 
Membuatku takut. 
Kesempurnaan sering kali mempunyai kekosongan di dalamnya, bukankah begitu?

Kau, jangan lagi berjalan di sisiku--meski hangatnya rasa bahagia menyusup dengan begitu kentara.
Namun, aku tahu, aku tak bisa menyembunyikan ketakutan ini selamanya, di mataku....

"Bagaimana jika kau hanya bisa jatuh cinta sekali dalam hidupmu?"

Kau telah lama tahu, aku tak akan pernah bisa menjawab tanya yang kau lirihkan pada malam itu.





--Rana, #SebuahNovel

Friday, June 01, 2012

"life has a funny way"


gambar di sini!

| well life has a funny way of sneaking up on you | when you think everything's okay and everything's going right | and life has a funny way of helping you out | when you think everything's gone wrong and everything blows up | in your face |
― Alanis Morissette


separuh tahun telah kita habiskan bersama dalam percakapan-percakapan kosong.
doa-doa selalu lupa kita titipkan pada pagi yang selalu menunggu lama di balik jendela.
memori-memori lama perlu kita pilah-pilah, mana yang akan kita bawa pada langkah berikutnya.

masih ada separuh tahun lagi. dan, kau tahu, entah kenapa, aku selalu menyukai juni. mungkin, ini seperti kau berada di garis perbatasan.
langkahkan satu langkah kaki ke depan, hap!
temukan kejutan-Nya. ^^

Sunday, May 13, 2012

[13/5]

hampir pertengahan tahun. dan, banyak yang bisa terjadi dalam setengah tahun lebih ke depan--bahkan, dalam satu-dua detik pun, banyak hal yang bisa terjadi.

saya sedang belajar banyak.
semoga memang tidak ada yang terlambat.
mari kita jalani hari-hari penuh karunia ini.
dengan semangat, dan tentunya syukur atasnya. ;)

Monday, May 07, 2012

kangen

ani, cipa, ante wied, lebaran 2011


kangen mereka berdua. hari ini, kak ani UN SD. semoga nilai kak ani bagus dan bisa masuk smp impiannya. :) dan, cipa... ah, kangen dia, dan cerita tentang kucing (kampung) peliharaannya. 

waktu seolah beterbangan. dan, tangan-tangan kecil kita tak bisa menangkapnya. pun bisa, tak dapat lama-lama kita tahan dalam tangkup kedua belah tangan kita. ia dengan cepat menyusup keluar melalui celah-celah jari.

waktu beterbangan....

sampai

suatu ketika,  
kita akan tahu bahwa sedikit pengorbanan dalam perjalanan lalu akan membawakan banyak bahagia di depan sana.




____
list-of-the-month
#misi-hari-ini: done! ;)
#misi-bulan-depan: berhenti langganan modem smartfren superslow ini!: ...on process....

apa pun mimpimu, percayalah, tak akan ada lagi yang akan mencurinya.

gambar di sini!


pada sepertiga malam, hujan mengetuk-ngetuk jendela.
melongokkan wajahnya, dia sedikit terkejut mendapatiku masih terjaga.

"ada kabar untukmu," katanya, pelan seakan-akan dia membawa rahasia terbesar dari yang pernah kudengar. "kau mau menebaknya?" dia tak bertanya, tetapi berharap aku melakukannya.

aku mencoba menebak melalui air mukanya, tetapi tak kutemukan apa-apa. ah, mungkin karena pikiranku pun menumpul karena kantuk yang mulai menjelang. aku menggeleng. "semoga saja kabar baik," sahutku mencoba memberinya senyum kaku. apakah aku menjelma mimpi buruk bagi semesta seseorang? mungkin, hujan tahu bahwa aku menyembunyikan pias di wajahku.

"ah, jangan takut begitu. ya, kabar baik, kau sungguh beruntung. kata-Nya, Dia masih dan selalu sungguh mencintaimu. apakah kau tahu?" tanya hujan menatapku kelu. aku tak berani balas menatapnya. aku mengangguk pelan--bukan karena ragu, lebih karena merasa malu. lalu, hujan mengibaskan jubah tipisnya, meninggalkan tempias di pipiku.

"ah, entahlah," katanya, "kalau kau terlihat seperti itu, kau seakan tak pernah tahu." suaranya begitu lirih, tapi jelas aku mendengar itulah yang dia ucapkan.

sepertiga malam. tak terdengar lagi suara hujan. sepertinya, kali ini, dia memang datang untukku.

dan, dengan alasan apa lagi aku mengingkari cinta-Nya? 'berkah mana lagi yang akan aku dustakan?'

kau tahu, aku deja vu. seperti menjajaki langkah-langkah bertahun-tahun silam. dan, mendapati diriku, sosok yang sama dengan yang kala itu. menjadi semacam mimpi buruk bagi malam-malam kelam. membuatku terpaku.
lalu, seperti kala itu, hujan mengetuk-ngetuk jendelaku, lalu ada yang menyusup pelan dari ujung-ujung jariku, meresap hangat ke sudut terjauh hati. nurani? ah, benarkah itu bisiknya? ia ingin aku menjaganya. tak lagi membuatnya luka. inikah semacam kesempatan kedua?

aku deja vu. atau apakah ini mimpi? entahlah. jika aku mendapati tulisan ini tetap ada esok pagi, ya, mungkin ini memang benar-benar terjadi. dan, jika ada sesuatu yang tak boleh kita lewati, kesempatan kedua adalah salah satunya, bukan? dan, inilah kesempatan untuk bukan menjelma menjadi mimpi buruk. aku tak ingin menjelma apa-apa, hanya menjelma diriku sendiri saja. aku pun merindunya. itu saja.

selamat pagi.
oh, hati, jika ada di luka yang tanpa kusadari menyusup dalam dirimu, semoga berkenan kau memaafkannya.

dan Kau, terima kasih atas Cinta. dan Semesta.... :)



[7 Mei 2012]

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin