Penjual Kenangan

Thursday, August 30, 2012

seorang laki-laki dan jendela kupu-kupu

gambar dari sini!



ia datang, pada petang yang hampir menghilang. 
kala itu, aku hendak meraih sebelah jendela kayu rumahku, menutupnya sebelum kelam membawa angin dinginnya yang kejam masuk ke ruang-ruang rumah tua ini.

ia berdiri meraih sebelah jendela kayu yang hendak menutup sebelah. "tunggu," ucapnya dengan mata yang tak pernah berani aku tatap. ia bilang, ia bawakan aku kisah, yang diceritakan dengan terburu-buru. ada kapal yang dia bilang menunggunya, segera berangkat sebelum malam.

laki-laki ini, ia pernah bercerita kalau ia telah lama jatuh cinta pada jendela kupu-kupu. jendela itu, kau tahu, katanya, ia bagaikan perempuan paling setia di dunia ini: tak pernah mengeluh, tak pernah merasa lelah—menunggu. telah lama aku merasa iri kepada jendela kupu-kupu itu, yang memiliki tempat yang begitu luas dalam hati laki-laki ini.

apa ceritamu hari ini? tanyaku. 
ada degup dari sudut hatiku yang tak mampu kusembunyikan kala bersamanya. 

hari ini, katanya, aku akan pulang. ada perempuan yang menungguku, katanya. mungkin, masih sangat lama kita akan kembali bertemu. ia berkata, dan aku tak berani menerka isyarat apa yang ada di dalam senyumnya.

aku hanya menjawab dengan senyum separuh, yang separuh lagi berupa sesak di sudut mataku. akhirnya, memang akan sampai pula hari ini. 

apakah yang membuatmu jatuh cinta pada jendela kupu-kupu? telah lama aku menyimpan tanya ini, dan akhirnya aku sampaikan juga. kusembunyikan jauh rasa iri dalam sudut terjauh hati.

kau tahu, katanya, jendela kupu-kupu itu, tak pernah lelah berseteru dengan waktu. tak pernah lelah menungguku meski aku sendiri tak lagi memercayai diriku akan kembali. jendela itu, mengingatkannya pada seorang perempuan dari masa lalu. ia bercerita dengan tatapan yang seolah menembus ruang waktu, begitu jauh.

siapa? tanya itu kukulum kembali. aku terlalu banyak bertanya, sementara kelam semakin cepat menyergap malam. laki-laki ini, ia harus segera pergi, aku tahu.

bukankah kau harus segera pergi? kataku, tak ingin ia terlalu lama di sini, takut ia membaca harap dan—ah—resah di mataku. aku harus segera menutup kedua belah jendela kayu ini, angin malam terlalu dingin.

baiklah, katanya, membantuku meraih jendela yang satu lagi. ia terpaku dengan tangannya masih di kisi jendela.

seorang ibu, katanya pelan. aku berada ribuan jarak darinya.
dan, kau tahu, aku begitu merindunya.
aku takut tak sempat sekadar melihat senyumnya lagi, yang selalu kumungkiri selalu membuatku tenang, pun setelah mimpi terburuk.

dan, kau tahu apa yang membuatku meninggalkannya selama ini? karena aku takut kehilangannya—jadi lebih baik aku tak pernah punya banyak kenangan bersamanya. tak masuk akal, bukan? ah, entahlah, aku hanya belajar dari masa lalu. seorang laki-laki yang aku sayang begitu cepat meninggalkanku, tanpa pamit, tanpa memperingatkanku terlebih dahulu. bahwa tak ada yang abadi.

aku terpaku. bukankah kasih sayang abadi? ingin kuutarakan kepadanya, tetapi ragu menyergapku terlebih dahulu.
laki-laki ini, ia bagai sebatang pohon yang kukuh, tetapi ada kerapuhan dalam di dirinya. aku berharap bisa menggenggam tangannya, memberikan sedikit kekuatan, entah apa—cinta, mungkin.

laki-laki ini, bercerita dengannya seperti duduk di kursi kayu langkan rumah masa kecilmu. kau merasa tak asing, tetapi tahu bahwa masa kecil itu hanyalah memori yang tak dapat lagi kau susuri. kau tahu bahwa hanya memori yang bisa kau miliki.

laki-laki dan jendela kupu-kupu. ia kembali membuatku jatuh cinta, entah kepadanya atau kepada jendela kupu-kupu yang ia kisahkan, di antara petang yang semakin ditelan malam yang—entah bagaimana—tiba-tiba menghangat.

aku menatap punggungnya yang menjauh, menutup kedua belah daun jendela kayu rumahku. 
dan menunggu,
berharap aku mampu menjelma jendela rumahku, sebuah jendela kupu-kupu.

Monday, August 13, 2012

12|08|

i owe the pic!


bersamamu, waktu beterbangan, menghangat,
menjelma bahagia, kau tahu?

entahlah, mungkin ini hanya semacam jeda dalam hidup, agar kita menyadari bahwa hati tak melulu harus berbagi tentang luka. hati harusnya tentang cinta, dan sayang, bukan?

jika ini cinta, mungkin kita perlu menunggu. tapi, apakah waktu akan berpihak?

kau dan aku, kita tak akan pernah tahu. 

Menjelma

i owe the pic!




Ramadhan kali ini, begitu banyak berkah yang Dia jatuhkan ke tangkupan tanganku yang membuka dalam doa.

Ia menjelmakannya. Bahkan, doa terdahulu pun ternyata telah sampai kepada-Nya, mewujud nyata. Ya, Dia memang tak pernah berpura-pura tak mendengar bukan, bahkan sekadar lirih hatimu.

Dan, kau tahu, entah bagaimana aku jadi takut… Aku takut dengan semua yang aku dapatkan, meski terkadang aku tak merasa bersalah untuk terlalu banyak meminta. Dan, bukankah saat mengucapkannya, aku tak sekadar meminta?

Namun, saat sesuatu yang kau harap berada di depan matamu, kau merasakan sebuah rasa takut menyelinap diam-diam. Pernahkah kau merasakan seperti itu?

Aku merasakannya pada Ramadhan kali ini, lalu kubilang kepada sahabatku, “Kau tahu, tiba-tiba, aku merasa tak percaya, yah mungkin juga merasa tak layak, menerima semua berkah ini. Banyak sekali, Tuhan, jika 'doa yang itu' juga mewujud kali ini. Aku merasa malu karena ternyata Dia begitu mencintaiku, sementara aku bersibuk diri dengan waktu, sibuk dengan harap, sibuk dengan hatiku….” 

Kau tahu—ah, sahabatku ini memang selalu menjadi peri dalam hidupku—sahabatku itu bilang, memarahiku, “Ah, kau, seharusnya kau bilang, ‘Ya, Kau, aku siap menerima semua berkah dari-Mu.’ Kalau kau sendiri tidak yakin, bagaimana Dia ‘memercayaimu’? Kau, siapkan hatimu, dan percayalah, kau layak untuk apa pun.”

Ah, benar, mungkin terkadang, bukan Dia tak menjawab harapmu. Mungkin saja, kau mengucapkannya terlalu lirih—entah karena merasa terlalu tinggi harapmu ataupun karena kau merasa tak layak. Atau kau mengucapkannya terlalu terburu-buru.

Ya, mungkin benar seperti itu…

Ramadhan kali ini, ada sebuah harap yang kuucapkan lagi—kepada Dia. Namun, aku hanya ucapkan lirih dalam hati, saat mataku memejam, menjelang lelap.

Bukan merasa tak layak, hanya saja, entahlah….
Aku hanya tak berani mengucapkannya lantang—meski hatiku yakin akan harap ini.

Ya, entah bagaimana, aku ingin ini mewujud. Aku sudah tuliskan dengan jelas, bukan? :)

Monday, August 06, 2012

Persimpangan Hati*

gambar dari sini!



“Hati-hati melangkah, Nak. Ingat. Kalau jatuh, kamu harus segera bangun lagi karena perjalanan masih panjang. Dan, kamu tidak mau melewatkan kejutan yang di depan sana, bukan?” Ibu tersenyum; antara senang dan khawatir melihat anak perempuannya yang tampaknya mulai merasakan cinta kembali setelah cinta masa remaja.

Rubina terpaku sejenak, lalu mengangguk. Ya, Bu, aku akan hati-hati melangkah, ucap hatinya.


*a novellete

Wednesday, July 18, 2012

Dilema Blurb (Novel)

gambar pinjam di sini!



Membuat usulan blurb (beserta judul dan tagline) untuk sebuah novel/buku yang akan diterbitkan itu termasuk ke dalam salah satu job desk editor di tempat saya bekerja. Menyenangkan, tetapi juga, hmm, membuat saya kadang memilih "sign out" dulu dari "peradaban" ruangan Bukune-Gagas--lalu berdiam diri di pojokan kubikel saya untuk memikirkan usulan blurb tersebut (plus judul dan tagline). Yup, butuh waktu seperti itu bagi saya untuk membuat usulan blurb (back cover) novel-novel yang saya tangani.

Blurb yang cuma tiga-empat paragraf yang ada di belakang buku--yang menjadi salah satu faktor penting untuk jadi "iklan" isi sebuah novel--memang terkesan singkat dan bisa dibaca dengan cepat. Namun, entah mengapa, membuatnya butuh waktu yang cukup lama bagi saya (belum lagi kalau usulannya ditolak. Hehe. XD). Oh, ya blurb (beserta judul dan tagline) yang saya usulkan akan dikirim ke redpel, lalu dikirimkan ke pemred untuk dicek. Nantinya, blurb, dkk, itu bisa diterima secara langsung (heaven!), bisa ditolak dan saya diminta membuat usulan yang baru, bisa juga redpel dan pemred merevisi dan memodifikasi blurb yang saya usulkan, dan bisa juga mereka membuatkan usulan yang baru. <--hihi, yang ini kadang bikin saya yang stag--yang kayaknya perlu install tesaurus di benak saya--sangat senang :))

Sebenarnya, saya punya waktu sejak naskah masuk dan dalam proses editing. Namun, saya termasuk orang yang butuh waktu tersendiri untuk membuat "kalimat-kalimat cantik" yang sesuai dengan isi tersebut. Dan, selama mengedit, mencari naskah, dan mengurus dsb, saya belum bisa "bersemedi" untuk memikirkan kalimat-kalimat yang pas.

Kadang, saat sudah menjelang tanggal deadline, saya belum menemukan kalimat-kalimat yang pas untuk dijadikan usulan blurb (beserta judul dan tagline), sementara usulan cover sudah terpilih. Oh, no! Dan, terkadang, "teror" deadline itu sih juga yang kadang bikin saya bisa cepat menuliskannya, kayaknya karena kebiasaan belajar dengan sistem kebut semalam. :p 

Namun, terkadang, kalau lagi blank dan dikejar deadline, saya mengambil beberapa kalimat dari postingan blog saya ini. Jadi, kalau kamu menemukan beberapa kalimat di blurb-blurb novel Bukune yang mirip dan sama dengan kalimat di postingan blog saya, hehe, ya itu memang dari sumber yang sama. :D 

Hal ini sempat terjadi juga pada sahabat saya, Gita Romadhona. Tadi, saat kami sedang "stres" membuat blurb, dia bilang kalau ada pembaca yang comment di blog-nya, bilang ada beberapa kalimat yang sepertinya berasal dari sebuah novel (yang memang blurb-nya dibuat oleh Gita). Namun, mungkin karena pembaca lebih tahu novel yang diterbitkan itu dan tidak tahu Gita bekerja di penerbit yang bersangkutan, mungkin ada pikiran bahwa tulisan di blog Gita "mengambil" kalimat dari blurb sebuah novel. Padahal, itu terjadi karena Gita-lah yang membuat blurb tersebut--dan, kadang kalau lagi stag or blank, atau kadang ceritanya memang pas, pilihan kami jatuh pada "mengambil" kalimat-kalimat yang sudah kami posting. Jadi, demikianlah dilema ini, Saudara-Saudara. :p

Sebelum Gita cerita tadi, saya sempat kepikiran juga kalau suatu ketika ada pembaca menemukan kalimat-kalimat yang sama dengan yang ada di blurb novel Bukune, jangan-jangan jadi mikir saya "mencuri" kalimat orang lain. Jadi, karena hari ini sedang "galau"* dengan blurb dan nunggu usulan blurb yang sudah direvisi di-ACC, sekalian saja posting ini. 

But, honestly, saat novel itu terbit, kami (saya dan Gita) senang ketika kembali mendapati kalimat-kalimat yang kami tulis untuk blurb novel itu. Juga senang ketika mendapatimu ikut merasa jatuh cinta ketika membacanya. :)


*sedang galau karena usulan blurb (juga usulan judul) novel yang terbit bulan ini belum ada yang disetujui, sementara deadline baru sudah di atas meja. Y_Y 
semoga yang barusan dikirim disetujui.... *berdoa di pojokan kubikel*

Monday, July 02, 2012

Rana

Setiap saat bersamamu adalah kebahagiaan. 
Membuatku takut. 
Kesempurnaan sering kali mempunyai kekosongan di dalamnya, bukankah begitu?

Kau, jangan lagi berjalan di sisiku--meski hangatnya rasa bahagia menyusup dengan begitu kentara.
Namun, aku tahu, aku tak bisa menyembunyikan ketakutan ini selamanya, di mataku....

"Bagaimana jika kau hanya bisa jatuh cinta sekali dalam hidupmu?"

Kau telah lama tahu, aku tak akan pernah bisa menjawab tanya yang kau lirihkan pada malam itu.





--Rana, #SebuahNovel

Friday, June 01, 2012

"life has a funny way"


gambar di sini!

| well life has a funny way of sneaking up on you | when you think everything's okay and everything's going right | and life has a funny way of helping you out | when you think everything's gone wrong and everything blows up | in your face |
― Alanis Morissette


separuh tahun telah kita habiskan bersama dalam percakapan-percakapan kosong.
doa-doa selalu lupa kita titipkan pada pagi yang selalu menunggu lama di balik jendela.
memori-memori lama perlu kita pilah-pilah, mana yang akan kita bawa pada langkah berikutnya.

masih ada separuh tahun lagi. dan, kau tahu, entah kenapa, aku selalu menyukai juni. mungkin, ini seperti kau berada di garis perbatasan.
langkahkan satu langkah kaki ke depan, hap!
temukan kejutan-Nya. ^^

Sunday, May 13, 2012

[13/5]

hampir pertengahan tahun. dan, banyak yang bisa terjadi dalam setengah tahun lebih ke depan--bahkan, dalam satu-dua detik pun, banyak hal yang bisa terjadi.

saya sedang belajar banyak.
semoga memang tidak ada yang terlambat.
mari kita jalani hari-hari penuh karunia ini.
dengan semangat, dan tentunya syukur atasnya. ;)

Monday, May 07, 2012

kangen

ani, cipa, ante wied, lebaran 2011


kangen mereka berdua. hari ini, kak ani UN SD. semoga nilai kak ani bagus dan bisa masuk smp impiannya. :) dan, cipa... ah, kangen dia, dan cerita tentang kucing (kampung) peliharaannya. 

waktu seolah beterbangan. dan, tangan-tangan kecil kita tak bisa menangkapnya. pun bisa, tak dapat lama-lama kita tahan dalam tangkup kedua belah tangan kita. ia dengan cepat menyusup keluar melalui celah-celah jari.

waktu beterbangan....

sampai

suatu ketika,  
kita akan tahu bahwa sedikit pengorbanan dalam perjalanan lalu akan membawakan banyak bahagia di depan sana.




____
list-of-the-month
#misi-hari-ini: done! ;)
#misi-bulan-depan: berhenti langganan modem smartfren superslow ini!: ...on process....

apa pun mimpimu, percayalah, tak akan ada lagi yang akan mencurinya.

gambar di sini!


pada sepertiga malam, hujan mengetuk-ngetuk jendela.
melongokkan wajahnya, dia sedikit terkejut mendapatiku masih terjaga.

"ada kabar untukmu," katanya, pelan seakan-akan dia membawa rahasia terbesar dari yang pernah kudengar. "kau mau menebaknya?" dia tak bertanya, tetapi berharap aku melakukannya.

aku mencoba menebak melalui air mukanya, tetapi tak kutemukan apa-apa. ah, mungkin karena pikiranku pun menumpul karena kantuk yang mulai menjelang. aku menggeleng. "semoga saja kabar baik," sahutku mencoba memberinya senyum kaku. apakah aku menjelma mimpi buruk bagi semesta seseorang? mungkin, hujan tahu bahwa aku menyembunyikan pias di wajahku.

"ah, jangan takut begitu. ya, kabar baik, kau sungguh beruntung. kata-Nya, Dia masih dan selalu sungguh mencintaimu. apakah kau tahu?" tanya hujan menatapku kelu. aku tak berani balas menatapnya. aku mengangguk pelan--bukan karena ragu, lebih karena merasa malu. lalu, hujan mengibaskan jubah tipisnya, meninggalkan tempias di pipiku.

"ah, entahlah," katanya, "kalau kau terlihat seperti itu, kau seakan tak pernah tahu." suaranya begitu lirih, tapi jelas aku mendengar itulah yang dia ucapkan.

sepertiga malam. tak terdengar lagi suara hujan. sepertinya, kali ini, dia memang datang untukku.

dan, dengan alasan apa lagi aku mengingkari cinta-Nya? 'berkah mana lagi yang akan aku dustakan?'

kau tahu, aku deja vu. seperti menjajaki langkah-langkah bertahun-tahun silam. dan, mendapati diriku, sosok yang sama dengan yang kala itu. menjadi semacam mimpi buruk bagi malam-malam kelam. membuatku terpaku.
lalu, seperti kala itu, hujan mengetuk-ngetuk jendelaku, lalu ada yang menyusup pelan dari ujung-ujung jariku, meresap hangat ke sudut terjauh hati. nurani? ah, benarkah itu bisiknya? ia ingin aku menjaganya. tak lagi membuatnya luka. inikah semacam kesempatan kedua?

aku deja vu. atau apakah ini mimpi? entahlah. jika aku mendapati tulisan ini tetap ada esok pagi, ya, mungkin ini memang benar-benar terjadi. dan, jika ada sesuatu yang tak boleh kita lewati, kesempatan kedua adalah salah satunya, bukan? dan, inilah kesempatan untuk bukan menjelma menjadi mimpi buruk. aku tak ingin menjelma apa-apa, hanya menjelma diriku sendiri saja. aku pun merindunya. itu saja.

selamat pagi.
oh, hati, jika ada di luka yang tanpa kusadari menyusup dalam dirimu, semoga berkenan kau memaafkannya.

dan Kau, terima kasih atas Cinta. dan Semesta.... :)



[7 Mei 2012]

Sunday, April 29, 2012

4LaY Menjelma Nawang Wulan


Majalah Warta Buku edisi April 2012


Oh, ya, tulisan "4LaY" saya tentang "Premiere Penampakan Asli @Poconggg" dimuat di majalah Warta Buku. Jadi, ceritanya, suatu hari, saya "ditodong" Bos Besar a.k.a Pak HK untuk memasukkan tulisan saya itu di majalah Warta Buku di rubrik "Fenomena". Dan, saya sempet deg-degan loh karena tulisan itu bisa dibilang, hmm, 4LaY, haha, sementara majalah yang akan memuatnya itu majalah sedikit "serius" tentang dunia perbukuan.

Jadilah, suatu sore, saya buru-buru mengedit tulisan ini--mengurangi ke-4LaY-annya. "Udah belum, Wied?" tanya Pak HK yang tiba-tiba udah berada di samping kubikel saya.

"Belum, Pak, lagi diedit dikit," sahut saya dan jadi nggak bisa lanjutin editan saya--saya itu termasuk kategori "Nawang Wulan" dalam cerita rakyat itu, yang nggak bisa diliatin kalau lagi kerja. Kalau diliatin, pasti jadi nggak selesai kerjaannya, bisa-bisa malah kembali terbang ke langit ngumpul bareng bidadari lainnya. :p

"Kira-kira, berapa lama lagi, Wied?" tanya Pak HK, masih di deket kubikel saya.

"Hmm, sepuluh menit lagi ya, Pak," sahut saya, "mau ngurangi becanda-becandaannya." *Nawang Wulan garuk-garuk keyboard, berharap nemu selendang*

"Oh, isinya becanda-becandaan gitu ya?" Pak HK tampak sedikit ragu, yang saya ralat dengan sedikit diplomatis. Lupa ngomong apa, tapi ngeyakinin belio. hehe--dan katanya sih belio sempet baca sekilas tulisan yang ada di blog ini, jadi saya sedikit pede-lah. Untung saya nggak bilang "ngurangin 'ke-4laY-an'nya", bisa-bisa nggak gajian deh saya karena doski mikir salah nerima pegawai yang 4LaY. :)))

Jadilah saya ngedit tulisan itu buru-buru, minta tolong Gita, dia bilang lagi hectic juga nyiapin materi karena mau ketemu penulis. Jadilah saya menyesal bilang sepuluh menit, harusnya lima belas menit aja, pikir saya--beda tipis si ya? :D

Dan, ternyata yaah, saya sampe setengah jam benerinnya dan berhasil maksa-maksa Gita baca sekilas. Untunglah saya gajian bulan ini meski janji sepuluh menit akhirnya jadi setengah jam. Hehe. 

By the way, tulisan tentang @Poconggg ini bisa dibilang memang masuk kategori "Fenomena(l)" sih [fenomenal ala statistik blog penjualkenangan ini yaa :p]. Berdasarkan statistik blog saya ini, tulisan itu paling populer dan paling banyak diakses. Udah di-klik sebanyak 15.200-an kali. Yah, dibandingin sama tulisan populer lain di blog ini, yang judulnya "Anak SMP?", itu cuma 3.500-an klik sejak zaman baheula (2007)--dan itu populer kedua setelah tulisan tentang @Poconggg itu, Cyiin. Dan, herannya ya, tulisan "Anak SMP?" itu di-klik dengan key word yang "aneh-aneh", padahal itu cuma cerita tentang ponakan saya si Ani. Ada-ada aja orang nyari tentang "anak SMP", dan kayaknya mereka kecele deh pas baca postingan saya itu. Biarin. Haha.

Begitulah ceritanya.

*Udah hampir sepertiga malam, dan nggak bisa tidur, jadinya posting nggak jelas, padahal besok berencana ikut berkeliaran dengan Mbak Enno di Inacraft. Semoga bisa bangun dan nggak berasa jadi zombie besok. @_@

Saturday, April 28, 2012

Kau

gambar di sini!



Aku menatap nanar pada meja di sudut tempat makan favorit kau-aku itu. Mataku tiba-tiba terasa panas, dadaku sesak. Dan, kau tahu, aku berusaha keras menahan sesuatu yang hangat di sudut mataku. Kau ingat, hari itu kita bertemu di sini. Aku sibuk dengan makananku, tak menyadari dirimu berada di meja seberang itu.

Kau di sana, diam-diam telah lama memperhatikanku. Lalu, "Oh, kamu, " aku terpaku. Ada yang berbeda dengan dirimu hari itu--sesuatu yang telah lama kuharap kau lakukan. Dan, ada secercah bahagia merekah dalam hatiku kala itu. Kau tahu?

Lalu, hari ini, kau seakan duduk di sana. Diam-diam memperhatikanku. Air mata mendesak di kedua bola mataku. Kau tahu, saat ini, aku berusaha keras agar ia tak jatuh. Karena... kau telah lama menjelma bayang-bayang....


Kau, semoga kau damai bersama-Nya....





#NewNovel. ;)

Monday, April 23, 2012

kita hanyalah dua orang asing

i owe the pic!


hei, kau
jangan mencariku. aku tak tersesat. hanya sedang merangkai puzzle baru.
jangan mencariku, atau bahkan mengingat namaku. dan tak perlu menggali dasar kenanganmu untuk mencari di ceruk manakah janji pernah terucap.

jika suatu hari nanti kita bertemu, kita hanyalah dua orang asing. tak terikat masa lalu. juga tak terikat kenangan--ia telah dilumat habis malam-malam kelam. ah, kita memang tak perlu terikat masa lalu karena itu bukan keharusan. dan lagi pula, yang akan kita jalani adalah hari depan, bukan sebaliknya.

kita hanyalah dua orang asing, yang mungkin berpapasan di tengah jalan, bertemu bersebelah jalan atau mungkin dari arah yang berlawanan, dan tak ada alasan untuk saling menanyakan kabar, apalagi memulai perbincangan.

jangan mencariku. karena aku tak tersesat.
aku hanya perlu waktuku sendiri untuk menyelesaikan puzzle yang ingin dan harus kuselesaikan.
jika masih ada yang terasa janggal di tempat yang jauh dalam ruang hatimu, cukup kirimkan doamu. toh, kita kadang juga mengirimkan doa tulus, bahkan untuk orang asing, bukan?

; terima kasih.

Sunday, March 25, 2012

Menyamar Jadi Alay


Bertemu keponakan-keponakan saya selalu membawakan cerita tersendiri. Bocah-bocah itu selalu menyimpankan cerita-cerita yang tak terduga. 

Kali ini, saya menyamar jadi alay bersama lima orang keponakan saya; Lenny, Puput & Cipa bersaudara, Ita & Pipi bersaudara. Saya sudah berjanji-janji dari jauh-jauh hari untuk pergi bersama mereka—sekadar makan bareng di Pizza. Lalu, jadilah kami beramai-ramai ke CBD—sebuah mal di Ciledug sana; saya sudah dua kali ke sana, tapi masih saja belum tahu apa kepanjangan mal itu.

Setelah makan, kami jadi alay di semacam studio foto. Cipa dan Pipi yang malu-malu untuk foto, malah ketagihan. Bahkan, ternyata Pipi sudah mempersiapkan gaya alay-nya untuk foto. Puput juga diam-diam sudah ngetekin rambut keribo yang disediakan tempat foto. Karena antre, kami juga punya waktu buat ngetawain foto-foto alay yang ditempel di depan studio. Foto-foto yang kocak banget—dengan latar ngejreng. Dan, kami antre untuk ikut foto juga.  *Belakangan, saya jadi tahu, ternyata, anak-anak itu juga berharap foto kami dipajang di dinding itu. Hoho!

Ternyata, ada fotografernya, yang sempat membuat kami urung dan memilih foto box saja. Tapi, karena malas jalan dan juga sudah telanjur antre, akhirnya tetaplah kami menunggu dan mengisi waktu dengan (kembali) ngetawain foto-foto yang ada. Hoho.

Saat tiba sesi foto kami, wow!, langsung dong saya membuka tas dan mengeluarkan—voila—aksesori foto kami. Bilang nggak niat foto, tapi hampir setengah jam ngacak-ngacak bagian Vanquis yang enam ribuan itu mencari topi buat foto. Haha. *ps. Topi-topinya lucu-lucu di sana, murah pula!*

Sebenarnya, ide foto datang dari Ita. Nah, karena kami mampir di Vanqis, jadilah liat-liat topi. Dan, saya sih yang mencetuskan ide, bagaimana kalau nanti kita foto pake topi? *gejala alay mulai muncul*, lalu memaksa Pipi yang sebelumnya nggak mau beli topi untuk memilih satu yang pas untuknya—yang akhirnya “dipaksa” ambil yang sama dengan punya Lenny.

Saat foto, ada si mas fotografer (cowok dengan rambut keribo cepak—apa sih namanya itu?) dan dua mbak-mbak temennya yang lagi ngadem di ruangan, jadilah gaya kami kaku-kaku gimana gitu. Oh, ya, sebelumnya, si mas keribo-cepak nyuruh pilih latar. Dan untungnya, dia asyik gitulah, jadi ngga protes saat saya dan lima ponakan sedikit lama milih latar yang “mendingan” alay-nya. :D 





Lalu, saya dan ponakan langsung beraksi. Pake topi. Berdiri. Duduk. Ganti latar. Berdiri. Ambil boneka. Duduk. #kemudiankaku. Nah, ternyata, yah, 5 ponakan saya itu pengin banget pake rambut keribo yang disediakan, tapi pada malu. Untunglah, tercetus keinginan itu, dan taraa, kami pun beraksi dengan rambut keribo warna-warni. 


 



Setelah selesai, di komputer luar, sudah ada foto kami sebanyak 12 gaya. Dan, kami ambil semua dong, yang ternyata satu gaya harus dicuci tiga kali. Jadilah kami dapat 36 foto jadi. Dan, ternyata, Cipa pengin foto sendiri, tapi malu, tapi mau, tapi para sepupu itu nggak ada yang mau nemenin. Jadilah Cipa (hampir) ngambek. Untunglah Ita yang baik hati bisa membujuk Cipa dengan sigap. Penyamaran jadi alay hari itu berlangsung sukses!


Kisah (Kasih) di Sekolah

Oh, ya, di bagian ini, saya mau cerita ulang kisah dari Pipi. Tersebutlah Pipi (adiknya Ita), salah satu keponakan saya yang seumuran dengan Lenny, yang saat ini duduk di kelas 6. Kalau ketemu sebentar, Pipi yang kurus ini pendiam. Tapiii, kalau sudah dipencet tombolnya, dia akan jadi anak tercerewet di dunia (Cipadu).

Setelah saya ikut mereka nyamar jadi alay di mal (kurang kondang) di bilangan Ciledug itu, di angkot, Pipi udah cuap-cuap mengeluarkan segala kemungkinan kalau kami terkenal dengan foto alay kami. Kami akan ada di teve, akan ada di internet, akan ada di botol kecap, di spanduk pemilihan gubernur, di papan pengumuman sekolah, di seprai, di toko buku, di mug, di kaus—di segala tempatlah pokoknya. Dia akan terkenal di sekolah, dia akan jadi acuan anak alay, dsb, dsb. Jadilah kami ngakak sepanjang perjalanan di angkot dan untungnya cuma ada si abang sopir yang mungkin nahan-nahan nggak ngusir kami yang berisik abis karena dia butuh duit setoran.

Sampai di rumah, Pipi masih bersemangat bercerita. Cerita pertama dimulai dengan kisah dia berantem sama tukang ojek. Heh?

Jadi, sekolah Pipi berada di sebelah rumah Cipa di Petukangan. Pulang sekolah, dia harus selalu naik ojek karena nggak ada yang jemput—kata dia, telepon umum pada rusak, dan kadang telepon rumah nggak diangkat. ß iya,dia masih ada anak SD yang itu, yang nggak wara-wiri dengan ponsel atau smartphone. Naik ojek sekitar 10 menitanlah, dengan tarif yang biasanya adalah enam ribu—tapi, Pipi dapat kortingan, dia bayar lima ribu karena naik ojek tiap hari.

Tukang Ojek 1
Suatu hari, Pipi nggak mau naik ojek karena dia akan diantar Puput sang Sepupu pulang. Nah, ada temennya yang mau naik ojek.  Karena tahu Pipi dapat kortingan, temannya ini minta Pipi anterin dia ke tukang ojek—bawa temen yang berpengaruh, maksudnya. Dapatlah si teman abang ojek dengan tarif lima ribu, lalu berangkat ke rumahnya. Seorang tukang ojek lain nanya ke Pipi.

Tukang Ojek   : Lo nggak naik ojek juga?
Pipi                  : Nggak, Bang. *sambil berlalu ke rumah Puput yang tak jauh dari pangkalan*
Tukang Ojek   : Bego lu!
Pipi                  : Eh? *bete abis sama si tukang ojek karena dikatain begitu, tapi nggak bisa apa-apa*

Lalu, ada juga teman Pipi yang “bete” sama tukang ojek. Ceritanya, dia diturunin sama tukang ojek di tengah jalan karena si abang ojek minta tambahan tarif yang tadinya lima ribu jadi enam ribu. Nah, karena si temen Pipi nggak mau, abangnya marah.

Tukang Ojek   : *marah* Ya udah, kalau nggak mau, lo turun aja!
Teman Pipi     : Ya udah! *ikut marah*
Tukang Ojek   : Ya udah. *matiin motor* Turun lo!
Teman Pipi     : Ya, udah! *langsung turun, ngambek, jalan kaki tengah hari bolong*
Tukang Ojek   : *merasa bersalah, nyamperin si temen Pipi* Ya elah, kasian gue liat lo jalan kaki panas-panas gitu. Ya udah, naek dah.
Temen Pipi     : *ngambek* Ogah!
Tukang Ojek   : Ya elah, naek dah!
Temen Pipi     : OGAH!
Tukang Ojek   : Ya udah! *ngacir dengan motornya*
Temen Pipi     : *mewek*

Tukang Ojek 2

Karena kejadian itu, teman Pipi itu ngajakin Pipi bersekongkol untuk nggak naik ojek lagi besok-besoknya. Karena Pipi mengaku sebagai sahabat yang baik dan dia juga bete sama tukang ojek, akhirnya dia menuruti temannya itu. Berhari-hari, mereka jalan kaki pulang ke rumah, panas-panasan, dan bahkan rela harus ngelewatin tanjakan tajam tiap harinya—demi kebetean kepada tukang ojek.

Suatu hari, Pipi jalan sendiri pulang ke rumah, masih tetap nggak mau naik ojek. Lalu, setelah separuh jalan, ada tukang ojek.

Tukang Ojek   : Neng, udah naik ojek deh. Kasian banget lo panas-panasan tengah hari bolong gini.
Pipi                  : Nggak usah, Bang. Udah tanggung *ngelap keringat, ngos-ngosan*
Tukang Ojek   : Ya elah lo. Cepetan dah naek. Mana cewek. Kasian gue liat lo. Naik deh.
Pipi                  : *tergiur* Ya udah, tapi saya udah jalan separo jalan nih, Bang. Jadinya berapa? Tiga ribu yak?
Tukang Ojek   : Ya udahlah, naek deh, lo. Tiga ribu kek, serebu kek, terserah lo deh. Gratis juga nggak apa-apa deh. Kasian banget liat lo jalan kaki begitu.
Pipi                  :  *naik ojek dan nyiapin duit tiga ribu*
Sampai rumah, Pipi kasian sama si tukang ojek. Akhirnya, dia nambahin ongkosnya.
Pipi                  : Nih, Bang, ongkosnya. Ya udah, saya tambahin, ya, gopek. Jadi tiga ribu lima ratus. Nggak apa-apa deh, Bang, itu saya relain dari duit jajan saya.
Tukang Ojek   : ??? *entah senang atau miris dapat tambahan ongkos gopek dari duit jajan anak SD*


Tukang Ojek 3

Lalu, ada juga kisah Pipi dan tukang ojek yang merupakan saudara seorang teman. Jadi, menurut Pipi, untuk menghemat ongkos, dia dan teman-temannya suka naik ojek patungan. Jadi, satu ojek berdua, kadang bertiga, dan kadang berempat! *wew!* Dan, Pipi selalu kebagian di belakang karena dia kurus. Kadang Pipi duduk di ujung jok, katanya. Bahkan, pernah duduk di lampu motor si abang ojek. Dan, kadang Pipi duduk di depan ala anak si abang ojek. *tepok jidat si abang ojek*

*syumpeh nih anak SD kacau amat irit(pelit)-nya!*

Nah, kalau tukang ojek yang saudara teman ini, kata Pipi, sok-sok-an nggak mau nerima duit si temen Pipi. Si teman duluan sampe, dan si abang ojek menolak ongkos.

Tukang Ojek   : Ya elah, kagak usah. Kayak sama siapa aja lo. *menepis-nepis  tangan si temen Pipi yang sedikit memaksa bayar* Udah, kagak usah.
Pipi                  : Ya udah, deh, sini buat gue aja. *ngambil duit dari tangan si teman*
Lalu, abang ojek segera menuju rumah Pipi buat ngantar Pipi. Di tengah jalan….
Tukang Ojek   : Eh, sini, sini, mana duit tadi? *langsung malak Pipi*
Pipi                  : Ya elah, si Abang, tadi kagak mau….
Jadi, menurut Pipi, tukang ojek itu malu-malu kucing. “Huh!” kata Pipi kesel beneran karena nggak berhasil dapat duit si teman. :p

Bang Dope
Selain cerita tukang ojek, Pipi juga punya pengalaman dengan tukang jajanan. Di sekolahnya, ada yang namanya Bang Dope—tukang jajanan mainan. Dulu, Pipi sering beli di sana, tapi sejak sebuah kejadian, Pipi berhenti jajan di Bang Dope. Ternyata, Bang Dope pernah membuat Pipi marah!

Suatu hari, setelah Ita—kakak Pipi—pake kerudungan, Ita sering titip pin-pin lucu yang dibeli di Bang Dope. Jadi, tiap hari, Pipi beli di sana. Karena sudah beli tiap hari, Pipi selalu minta korting. Besoknya, minta dimurahin lagi. Besoknya lagi. Besoknya lagi. Nah, suatu hari, peristiwa itu terjadi.

Pipi                  : *milih-milih pin* Bang, saya beli lagi nih... Murahin ya, Bang, saya kan udah beli tiap hari. Ya, Bang, ya….
Bang Dope      : Eh, lo, lo tiap hari beli, lo jualan ya? *marah* Iye, nih, lo pasti jualan. Kagak, gue nggak mau ngasih lo murah lagi. Udah sana, lo nggak usah beli lagi aja. *nyerocos tanpa peduli sama perasaan Pipi*
Pipi                  : Ya elah, si Abang, fitnah banget jadi orang. Saya kagak jualan, Bang. Saya beli buat kakak saya. Kalau nggak percaya, besok saya bawa deh kakak saya ke sini! Saya nggak terima difitnah begini. *ngeloyor pergi*
Pipi disambut teman-temannya, yang langsung nanya ada apa. Pipi cerita kalau dia difitnah Bang Dope. Sementara, di belakangnya, Bang Dope teriak manggil-manggil.
Bang Dope      : *merasa bersalah* Eh, Neng, sini, Neng! Neng. Eh—
Pipi                  : Ogah! Saya nggak terima difitnah begitu, Bang. Orang saya kagak salah.
Bang Dope      : …..

Lalu, setelah kejadian itu, Pipi nggak pernah lagi jajan di Bang Dope. Teman-temannya pun ikutan karena membela Pipi.

“Iya,” kata Pipi, “Pipi udah nggak mau lagi tuh beli-beli di situ. Dasar Bang Dope—Dower Pelit!”

*Eh?

PR—Piza Rakyat
Di sekolah Pipi, ada juga yang jualan piza kecil, mereka menyebutnya “Pizza Rakyat”. “Piza-nya sih cuma dari tepung terigu, ditambahin sosis sama daun bawang, tapi uenak banget.” Begitu cerita Pipi tentang kelezatan PR. Nah, si penjual piza adalah seorang kakek-kakek dan dia memanggil Pipi dengan sebutan “Angel” (caelah! Uhuy!). Eh, tapi, ternyata, si Kakek memang menyebut semua pembeli yang cewek dengan sebutan “Angel”. ;p

“Ayo, Angel, beli piza, Angel.”
“Angel, ini piza-nya, Angel.”
“Angel, ini kembaliannya, Angel.”
“Angel, kemaren Bapak baca di Fesbuk, Angel. Ada cerita bagus banget.”
Yup, menurut Pipi, si Kakek punya Facebook. Dan, si Kakek itu bercerita—hmm—agak SARA. Ow, ow.

Jadi, ceritanya, ada cewek pacaran dengan cowok beda agama. Mereka pergi ke luar negeri. Nah, si cewek diajak ke tempat ibadah si cowok. Pas di sana, si cewek nggak boleh masuk sama si penjaga tempat ibadah. Namun, akhirnya, entah bagaimana, si cewek berhasil masuk. Di dalam sana, dia menceritakan perihal agamanya kepada jemaat yang ada di dalam tempat ibadah. Lalu, semua jemaat menangis dan akhirnya memutuskan masuk agama si cewek. The end.

“Bener, Angel, itu kisah nyata. Kakek baca sendiri di Fesbuk.”

Meski agak SARA, si Kakek itu baik. Pipi dan teman-temannya bersahabat dengan si Kakek—yah, mungkin juga seneng dengan iming-iming panggilan “Angel” itu.
**Oh, ya, selain itu, Pipi juga bersahabat dengan abang tukang telur dadar—yang didadar di cetakan kecil-kecil itu. Pipi suka minta tambahin telurnya, dan si Abang mau nambahin. Tapi, Pipi sedikit kesal karena teman-temannya juga pada ikut-ikutan minta tambahin sama si Abang. 

Bu Cecep
Ani                  : Ani, mah, kalau istirahat ke musola.
Pipi                  : Ah, kalau Pipi mah langsung ke tempat Bu Cecep, beli bihun.
Tapi, sejak nemuin semut kecil-kecil gitu di bihunnya, Pipi jadi males beli….
Audiens          : Oh…
Pipi                  : Iya, nama yang jualan Bu Cecep. Suaminya namanya Pak Cecep.
Audiens          : Oh….
Pipi                  : Pak Cecep itu guru olahraga Pipi.
Audiens          : Oh….
Pipi                  : Nah, tempat Bu Cecep ini jadi pangkalan ibu-ibu nunggu anaknya.
Segala macem dagangan digelar tuh di mejanya. Macem-macem deh. Trus, ya, Pipi denger-denger tuh omongan ibu-ibu di sana. Ih, mereka pada naksir sama kepala sekolah Pipi! *menepokkan tangan dengan mantap*
Audiens          : Eh?
Pipi                  : Iya, kepala sekolah Pipi baru. Masih muda, lumayan cakep sih. Dan, lulusan pesantren!
Audiens          : *melongo melihat Pipi yang sangat semangat kayak ibu-ibu gosip*
Pipi                  : Iya, tuh, makanya ibu-ibu itu pada naksir. Orang Bu guru juga, kalau mau ke ruangan Kepala Sekolah, masa pake minyak wangi dulu. Semprot-semprotin banyak-banyak gitu. Ih, centil dah. Itu ibu-ibu juga pada ngomongin. ‘Iya, Kepala Sekolah baik ya. He-eh. Alim. Cakep. He-eh.’
Audiens          : *melogo mikirin ibu-ibu itu*
Intermeso (Ani) : Ih, di sekolah Ani juga pada centil-centil ibu-ibunya. Masa, waktu ke museum, pas ada tangga, si ibunya mau naik, langsung bilang ke Pak guru Ani, ‘Aduh, Pak, tolongin saya, Pak,’ sambil ngulurin tangannya. Gitu….
Saya                : *bengong*
Pipi                  : Iya, tapi kepala sekolah Pipi agak begitu juga sih. Pas deket ibu-ibu rame-rame, dia nasihatin ibu-ibu itu. Gini katanya, *berdeham, siap-siap niru suara bapak-bapak berwibawa * ‘Iya, Bu, kita mesti menjaga anak-anak kita, ya, Bu….,’ sambil tepuk-tepuk pundak ibu-ibu gitu. Megang-megang gitu. Terus, pelan-pelan, ibu-ibunya jadi pada minggir-minggir dah….
Audiens          : *ganti rahang karena kebanyakan ketawa*

Cewek #Aniv
Berdasarkan cerita Pipi juga, ternyata anak SD pun merayakan hari jadian mereka. *yo-oloh!* Lenny pun membenarkan, di sekolahnya pun anak-anak merayakan #Aniv dan Ani pernah dikasih duit dua ribu rupiah saat temennya yang lagi #Aniv.

“Kadang 2 ribu, kadang 5 ribu,” cerita Ani, “tapi cuma beberapa orang sih yang dikasih. Kadang cuma satu orang.”

Audiens: ….

*ya elah, udah cuma dua ribu, cuma ngasih satu orang pula. Kagak usah #Aniv dah, Neng!*

Lalu, Pipi juga menambahkan, waktu temennya lagi #Aniv, temennya itu jajanin dia dan beberapa orang lainnya di sekolah. “Terserah deh, lo mau jajan apa,” tantang temennya itu. Tadinya, Pipi pengin beli yang mahalan, semacam PR—Pizza Rakyat, tapi karena takut kemahalan dan kasihan sama temennya itu, Pipi akhirnya milih… Pop Ice.

Tapi, Pipi juga pernah ditraktir oleh temannya di Pizza Hut untuk merayakan hari jadian si teman itu—Cewek #Aniv.

Pipi: Iya, dia nraktir. Dia pesen kayak orang gede gitu, *mengibaskan rambut, memiringkan kepala ala baca menu, menirukan si teman yang #Aniv, memberatkan suara* ‘Mbak, saya mau ini ya, Mbak, bla bla bla’ Ah, Pipi mah iya-iya aja.
Puput  : Soalnya lo nggak tau, ya, Pi? *meledek*
Pipi      : Iya, Pipi mah taunya PR—Pizza Rakyat! *pede*
Menurut Pipi, temannya yang #Aniv itu playgirl! Semua cowok di kelas udah dia pacarin—dari yang cakep sampe yang jelek. Sampe yang Cahyono yang pendek juga dipacarin, kata Pipi main fisik. Lalu, suatu ketika cewek yang #Aniv berantem dengan pacarnya itu karena ketahuan selingkuh(?).
Cewek #Aniv  : Eh, lo tuh ye, udah pendek, jelek, belagu pula!
Cahyono         : Yee, lagian udah tahu jelek, lo tetep mau juga pacaran sama gue.
Audiens          : *pura-pura nggak nyimak cerita*

Jadi, begitulah cerita Pipi.

Dan, yang bikin terharu, saat selesai cerita, Pipi bilang, “Nah, selesai deh. Cerita itu ucapan makasih Pipi buat Nte Wid yang udah nraktir di Pizza* dan ajak foto-foto hari ini.”
 Dan, cerita Pipi masih sangat banyak, katanya. Sayangnya, saya harus segera pulang ke Slipi dari Cipadu—dan itu sudah pukul setengah sepuluh malam. Jadi, Pipi udah stand up comedy di depan saya, kakak, dan tiga sepupunya dari sejak di angkot. Ada kali tiga jam lebih! Dan, sepanjang itu juga kami—sebagai audiens—nggak berenti ngakak.



We love you, Pipi. You’re rock! :D

*p.s. eh, iya, saya traktir di Pizza bukan karena saya lagi #Aniv loh. :)))




Thursday, March 15, 2012

*terima kasih untuk tetap ada di sana

gambar dari sini!



hei, kau yang selalu menundukkan kepala, menyibukkan diri dengan gurat-gurat luka atau entah apa, tepat di sisimu, ada peri yang begitu dalam menyayangimu. ia selalu di sana, menjaga langkahmu. cobalah angkat wajahmu, tengoklah. bahkan, ia menyimpankan banyak doa untukmu. bahkan, ia sempat katakan rindu ceriamu, dan bahkan hampir lupa bagaimana bunyi tawamu. tahukah kau?

ah, semoga kau belum terlambat, untuk mengangkat wajahmu....





Saturday, February 25, 2012

bittersweet goodbye?

gambar di sini!



"jangan buka kotak itu," pesannya, menitipkan sebuah kotak indah untukku, pada suatu ketika.

lalu, aku merasa menjelma pandora, yang begitu tertarik mengetahui isi sebuah kotak cantik yang ditinggalkan bersamanya, dalam kesendiriannya. hatinya begitu resah, mereka-reka begitu banyak kemungkinan tentang isi kotak itu. dan, begitu pula aku, hatiku begitu ingin membukanya.

jangan buka kotak itu? tak tahukah dia, bukankah pandora telah mendapati harapan keluar, menyelamatkannya. bukankah juga begitu seharusnya dengan kotak ini? segala kemungkinan terburuk pun akan selalu ada celahnya, bukan?--celah untukmu mendapati hal baik di dalamnya.

ah, kisah selalu berulang, bukan? mungkin saja pandora memang menitis dalam darahku.

aku membuka kotak itu. dan, mendapatinya penuh sesuatu yang menyergapku tiba-tiba.... menelanku seketika dalam warna kelamnya....

dia--dia berjalan menjauh. "aku hanya ingin kau menyimpankannya, bukan membukanya," samar terdengar suaranya, ikut menjauh bersama langkahnya.

dan, aku tahu, aku telah kehilangannya.

tak ada harapan dalam kotak itu. 
yang ada hanya masa lalu,
dan tak ada jalan untuk kembali.

[suatu hari, kita hanya perlu tak mengikuti keinginan hati--karena keinginan terkadang menyamarkan nurani--perasaan hati yang murni, yang sedalam-dalamnya; yang perlu tak hanya waktu sekejap-dua kejap dalam mendapatinya. dan, mungkin saja, kita melewati banyak persimpangan, yang seharusnya kita langkahkan kaki ke sana. yang mewarna seperti ingin kita.]

kau, aku mendapati secarik tulisan tanganmu di antara masa silam di dalam kotak itu. lalu, mencoba bertahan hidup di sana. mungkin, inilah hal baik dalam kemungkinan terburuk yang telah kupilih ini--mungkin inilah jelmaan harapan yang didapati pandora itu. ah, kau, selamat tinggal.... aku akan hidup dalam kenangan kita, hingga aku menua, dan mencapai titik terakhir usia. aku memiliki kenanganmu, ah, meski bukan dirimu.

kau, apa kabarmu di depan sana? apakah itu kata maafmu yang samar kudengar dari sini?

maaf, untuk segalanya.

terlalu samar, aku tak mampu mendengar seluruh kata yang kau ucapkan.

aku mencintaimu. tapi, ada yang menungguku di depan sana.

selamat tinggal.

maaf, aku tak mampu mendengarmu dari sini. terlalu samar.
apakah kau mencintaiku? aku hanya ingin tahu, tapi entah bagaimana, kotak ini bagai tak bertepi.

aku mencintaimu, tapi tak ada jalan untuk kembali. aku tahu....

selamat tinggal....


Friday, February 17, 2012

Surat Ketujuh: Aku Masih Mencintaimu, Tentu Saja

gambar di sini!



hei, kemarin hari lahirmu... tujuh tahun berlalu sudah.. tapi, seperti baru kemarin.... terkadang, entah bagaimana, kita kerap mempertukarkan waktu dalam sebuah masa lalu.

apa kabarmu? :)

jika kau bertanya apakah aku masih mencintaimu, tentu saja aku tak perlu berpikir lama untuk menjawabnya. aku masih mencintaimu. ah, bukan, aku tetap mencintaimu, sampai kapan pun. kau adalah sebentuk kenangan yang kusimpan dalam botol kaca yang kulapisi mantra-mantra. dia tak akan pernah bisa pecah berkeping-keping, pun ia terhempas berkali-kali.

hei, kau tak bertanya kabarku? :) hmm, ada banyak hal yang kulewati tahun kemarin. berpindah kota, berpindah pekerjaan, dan sempat berpindah hati pula. haha. begitulah. terkadang, kita ada sesuatu yang tak bisa kita pastikan. yah, karena katanya, tak ada yang pasti di muka bumi ini bukan selain ketidakpastian itu sendiri, kan? :p

tahun lalu, aku bertemu seseorang yang menyenangkan. dia membawakanku tawa setiap waktu. namun, suatu malam, dia membawakanku kesedihan. bukan dalam bentuk luka, kali ini. hanya dalam bentuk sebuah perasaan ganjil, semacam perasaan gamang. dia sempat bilang, mungkin dia bukan orang beruntung yang nanti akan aku ceritakan dalam surat panjang kepadamu--ya, dia membaca surat keenam yang kutuliskan untukmu tahun lalu. 

namun, dia sempat menjelma kenangan manis dalam fragmen langkahku--mengenangnya membuatku tersenyum, mungkin karena dia bawakan bahagia, yang mengaburkan luka hatiku kala itu. tapi, takdir kami tak bersilangan. demikian garis takdir katakan.

apakah aku mencintainya? entah. jika cinta adalah sebentuk perasaan bahagia, mungkin bisa dibilang, aku mencintainya. jika cinta seperti kamera polaroid, yang instan, mungkin bisa dibilang, aku mencintainya. tapi, cinta--yang aku tahu, adalah sebuah perjalanan panjang, "yang selalu menjagamu dari malam-malam kelam, dari kegamangan, pun dari prasangka terburuk sekalipun. karena itulah memperbincangkan cinta akan selalu menarik, tak ada habisnya."* 

kala itu, percakapan panjang kami tak ada habisnya. namun, kegamangan terkadang menelusup dalam malam-malam kelam. jadi, aku pun tak pasti, apakah kisah setahun lalu itu cinta atau bukan. 

tapi, yang pasti, aku mencintaimu. kau tahu, jika kau menyimpannya di sudut terjauh hati, cinta akan tetap di sana. mungkin begitulah cinta yang sebenarnya--cinta yang tak pernah habis dalam hitungan hari. cinta bukanlah sesuatu yang rumit, bukan, hanya sesuatu yang membuatmu tenang--membuatmu nyaman. dan, yang terpenting, membuatmu tak hilang harapan.

ya, aku mencintaimu. mengenangmu membuatku tenang, menyelipkan senyum di bibirku, dan membersitkan doa dalam hatiku. aku menyimpan cinta itu tetap di hati--agar ia tak menguap dan menyusut hanya karena terkena panas-dingin musim yang sedang tidak jelas. 

selamat hari lahir, adikku sayang. semoga cinta bisa menghangatkanmu di sana. karena cinta itu hangat, meski dalam bentuk sederhana; sebuah doa.

semoga Dia pun mencintaimu dan menempatkanmu dalam tempat terbaik-Nya.... 

amiin.


ah, aku terlalu banyak bicara tentang diriku sendiri, rupanya. tapi, entah kenapa, saat keping kenangan tentangmu kurekatkan satu per satu, ada air mata bersirebut jatuh--mungkin bukan karena kesedihan, hanya karena aku merindumu. terkadang, air mata jatuh bukan melulu karena kesedihan bukan, juga karena ada kebahagiaan yang menguar. 

ah, sungguh, aku ingin tahu, apa kabarmu di Sana? semoga, selalu bahagia yang kau rasa. :)





__________________________
*kutipan tentang cinta ini juga saya tuliskan dalam blurb novel Tentang Cinta (Bukune, 2012).

Sunday, January 08, 2012

kehilangan


gambar reblog dari enchit!




ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu bertanya, “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?”
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu, menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab kematianmu –
ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu 
--"Metamorfosis", Sapardi Djoko Damono



hidup, bisa jadi, ia hanyalah sebatas satu-dua hela napas.
semoga, waktu-waktu mendatang, aku tak lagi menyia-nyiakan satu-dua hela napas yang kita tak pernah tahu kapan kita tak lagi berhak atasnya--ah, bukan berhak, melainkan kapan Dia berbaik hati tetap mengaruniakannya kepada kita.

ketika napas itu tak lagi bersamamu, kau tinggallah sebuah jasad kaku. kepergianmu akan diiringi tangisan, atas segala hal. sementara kau, kau tak lagi bisa melakukan apa pun--bahkan untuk menyesal pun kau tak bisa lagi. kau hanyalah jasad kaku, yang akan diusung dalam keranda, kembali, menyatu dengan bumi....

Tuhan, sungguh dahsyat sebuah kehilangan yang disebut kematian. yang tentu saja tak hanya meluruhkan tulang belulang dia yang Kau panggil. juga bahkan mampu membuat tulang-tulang orang yang ditinggalkan luruh. kehilangan yang sesungguhnya, begitu kita menyebutnya. kehilangan akan sesuatu yang kau pikir kau miliki--padahal telah Ia beri tahu sejak jauh-jauh hari: tak ada yang kita miliki di dunia ini. yang juga telah Kau tuliskan agar kami tak melupa.

Tuhan, sungguh, aku belum mampu memahami kematian--yang ternyata memang begitu dekat. aku masih memaknainya dengan sekadar air mata....

Tuhan, ya aku tahu, tak ada yang sia-sia. tunjuki kami jalan-Mu.... agar kami tak melupa akan diri kami ketika kau "mendudukkan kami di depan cermin itu"....





*kau yang pergi pada satu januari, selamat jalan. semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi-Nya. aku mendoakan....



LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin