kenangan itu telah terlalu lama berputar-putar, tak beranjak ke mana-mana. adakah yang ingin menukarnya dengan harapan?
Sunday, May 11, 2008
MATA AIR HARAPAN DARI CIBEDUG
Friday, April 11, 2008
A Little Girl
Kutipan itu menjadi salah satu bagian lirik favorit saya dalam lagu "Seven Years"-nya Norah Jones. Membawa suasana. Entah dari sudut kenangan yang mana.

Seven Years
Spinning, laughing, dancing to
her favorite song
A little girl with nothing wrong
Is all alone
Eyes wide open
Always hoping for the sun
And she'll sing her song to anyone
that comes along
Fragile as a leaf in autumn
Just fallin' to the ground
Without a sound
Crooked little smile on her face
Tells a tale of grace
That's all her own
Fragile as a leaf in autumn
Just fallin' to the ground
Without a sound
Spinning, laughing, dancing to her favorite song
She’s a little girl with nothing wrong
And she's all alone
A little girl with nothing wrong
And she's all alone
Laki-Laki Tua di Sore Hari
"Beli, Pak," ujar saya.
Pak tua yang memikul dagangannya itu berhenti.
"Saya memang mulai jualan sore, Neng," ujarnya.
Mungkin biar tidak menimbulkan "pikiran negatif" di benak saya dan Gita, sahabat saya, yang melihat dagangannya masih banyak.
"Berapa, Pak?" tanya kami, menunjuk pada ketan yang dibungkus rapi dengan daun kelapa itu, lepet.
"Seribu, Neng," jawab laki-laki tua itu. "Saya sudah sejak muda jualan, sejak taun 75," lanjutnya sambil membungkus lepet yang kami beli.
Saya dan Gita hanya bisa bilang, "Wah, udah lama banget, Pak. Kita aja belum lahir taun segitu."
"Iya. Sekarang, mantu saya aja udah empat," jawabnya.
"Ini bumbunya, Neng," tambah si Bapak memperlihatkan bungkusan kecil dengan kertas--yang setelah dibuka nantinya, ternyata, isinya serundeng (kelapa yang diongseng dan dicampur dengan gula pasir).
"Itu apa, Pak?" Gita menunjuk ke keranjang satu lagi.
"Kelepon. Sama, seribu juga," jawab Pak tua itu dengan senyum ramahnya.
Kami beli kelepon itu juga, yang dibungkus daun pisang.
"Bapak emang keliling, ya, Pak?" saya ingin tahu karena saya suka sekali dengan jajanan ini, tetapi jarang bisa menemukannya.
"Iya. Itu, rumah saya di belakang bidan," si Bapak tua menunjuk arah belakang kami. "Kemarin, ada acara di pameran gitu. Saya diundang tiga hari. Dapet lumayan, tapi, ya, ada potongan dari RT juga," si Bapak bercerita, masih dengan senyumnya yang ramah.
"Oh ...," gumam saya dan Gita. Potong-memotong, masalah lama yang selalu terjadi, kapan saja dan di mana saja. Ah ....
Kemudian, transaksi selesai dengan ucapan terima kasih dari kami.
"Udah tua gitu, masih jualan, ya, Wied. Kenapa gak anak atau mantunya aja, sih?" Gita membuka percakapan saat kami melanjutkan langkah.
"Iya, tau. Mungkin, dia orang yang gak bisa diem kali, Git.
"Mungkin juga, sih. Tapi, kasihan juga dah tua begitu."
"Iya ...."
Bapak tua itu entah sudah sampai mana. Yang pasti, dia terlihat menikmati langkahnya dan pikulannya itu, berisi lepet yang dibungkus rapi dengan daun kelapa, serundeng yang garing, dan "kelepon asli daun suji"--kata si Bapak saat membungkus kelepon itu.
Masa sekarang, mungkin kesulitan ekonomi yang membuat orang harus terus membanting tulang hingga tulang-belulangnya semakin rapuh dan meluruh.
Saya dan Gita melanjutkan langkah, cukup jauh.
Bapak tua yang memikul dagangannya itu juga melanjutkan langkah. Langkah-langkah yang sama sejak 1975. Langkah di antara jalan-jalan yang selalu berubah setiap jengkalnya.
Namun, tampaknya, bagi laki-laki tua itu, waktu seakan-akan berhenti dalam langkahnya. Langkahnya itu masih langkah yang sama sejak 33 tahun lalu.
Margonda, 10 April 2008
Tuesday, March 25, 2008
Mari!
Monday, March 10, 2008
kegiatan yang tidak menarik

nggak melangkah?
melangkah?
nggak melangkah?
Friday, February 29, 2008
Kenangan Selalu Dilarikan Masa Lalu

Februari.
Masih penghujan. Ya, memang masih.
Marilah kita bercakap. Kau mau, kan? Ah, kau selalu terlalu banyak diam. Atau, aku yang selalu tidak punyak banyak waktu. Terbenam dalam langkah-langkahku sendiri, dalam arahku sendiri. Maaf.
Marilah duduk bersamaku. Kita bercerita. Bukankah kita pernah bercerita panjang, dahulu? Ah, aku lupa mengapa kita begitu sedih saat bercakap kali itu. Cerita yang diakhiri dengan tangisku. Juga tangismu. Ah, kau, seharusnya kau tidak menangis.
Kita juga pernah bercakap lama setelah jauh dari percakapan kita sebelumnya. Kita akhiri dengan air mata juga, benarkah? Ah, mungkin, karena itu kau, ah, bukan kau, aku, kita, tidak pernah bercerita lama lagi. Kita tidak ingin menangis lagi. Benarkah?
Tapi, marilah bercakap malam ini. Aku tidak akan membawakan cerita sedih. Aku juga tidak akan memarahimu. Memintamu melakukan ini itu. tidak akan menyuruhmu mengubah arah langkahmu. Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan membuatmu menangis.
Jadi, marilah duduk bersamaku, kita bercakap.
Kita akan bicara tentang tawa.
Atau, kita bicarakan tentang hujan saja. Tahukah kau, dalam Februari, dalam butir-butir hujannya yang jatuh, dia selalu menyelipkan cerita buatmu. Ah, sebenarnya, tidak hanya Februari. Selalu ada cerita untukmu yang terselip dalam setiap detak.
Namun, dalam Februari, hujan membawakan kembali kenangan-kenangan yang dilarikan masa lalu. Tentangmu, tentu saja. Maafkan aku lagi. Kenangan ini mungkin tidak sebanyak yang kita pikir. Dan, banyak yang memburam begitu saja. Tidak dapat diterka ada dalam cerita yang mana. Maaf, aku tidak merekatkannya erat. Mungkin, tangan-tanganku terlalu kecil saat itu, apalagi tanganmu. Masa kanak-kanak kita tidak dalam langkah yang sama. Aku menjauh, dipilihkan takdir. Dan, ketika aku tahu, waktu telah memilihmu untuk berjalan bersama.
Kenangan itu akan kembali dilarikan masa lalu. Akan selalu terjadi pada kenangan, bukan?
Tapi, kau. Kau bukan kenangan.
Kita akan selalu bercerita. Bersama. Tentang apa saja—dan tidak akan kita akhiri dengan tangis, tentu saja. Kita akan selalu bersama bahagia.
Subuh datang tidak terlalu terburu-buru kali ini. Ia masih di sini. Saat ia Kembali, aku ingin titipkan satu cerita kepada-Nya, untukmu—semoga sampai juga pesan singkat itu, “Aku rindu kepadamu, adikku”. Tahun selalu terburu-buru, terlalu mencintai masa lalu.
Ah, maaf, lagi-lagi, aku tidak bisa tidak menangis saat membicarakanmu.
Saturday, February 16, 2008
Biar Enggak Bosen di Kereta
Mungkin, terkadang, perjalanan menjadi begitu membosankan.

Tapi, ada berbagai cara buat mengatasinya.
Baca koran adalah salah satu cara yang cukup bermanfaat.

Saat baca koran, kita harus hati-hati. Mungkin, ada orang yang mencuri baca.
Gak pa-pa, sih, sebenernya. Tapi, risih gak, sih, diliatin? Padahal, orang itu gak peduli ama kita, sih. Dia cuma refleks aja pengen ikut baca. Tapi, tetep aja bikin gak konsen.

Trus, kalo bosen kembali menyerang, jangan kalut. Cari kegiatan lainnya, misalnya ngisi TTS. Biasanya, di kereta ekonomi ada yang jual, kok--lengkap dengan pulpennya. Trus, sibukkan diri kita dengan pertanyaan-pertanyaannya. Kalo ada jawaban yang kita udah tahu, nih, tapi kotaknya gak cukup, jangan panik. Yah, pindah aja ke lembar berikutnya. Kalo jawabannya gak tau, tapi malu nanya ma temen seperjalanan kita--kayak ada seorang temen saya--yah, gak usah malu. Nanya aja ama temen kita itu--biar dia gak bosen juga.

Setelah itu, kalo udah bosen ama TTS juga? Isi buku harian ajah. Tulisin aja segala perasaan bosen kita itu. Lama-lama, kita tambah bosen, sih, jadinya. Eh, jadi ngantuk, sih. Trus?

Kalo dah ngantuk, cari aja posisi tidur yang enak. Kalo keretanya lega--gak mungkin ada di akhir pekan--banyak gaya yang bisa dicoba.

Itu gaya yang beruntung duduk di pojokan deket jendela. Kalo gak?

Catatan: ruang kosong di sebelahnya merupakan pengecualian di kereta ekonomi. Kalo lagi rame-ramenya, hmm, jangan pernah meninggalkan tempat Anda! Kalo gak, ya, wassalam.

Gaya tidur orang di atas, ekstrem banget. Padahal, dia itu "perebut" kursi orang lain. Huh!
Kalo yang di bawah ini, .... kayak mau dieksekusi gak, sih? Karena itu, jangan lupa bawa handuk or kaen-kaenan gitu buat nutupin muka kalo gak biasa tidur di tempat terang--kayaknya, kita gak bisa, deh, minta tolong pak masinis buat matiin tuh lampu dengan alasan kita gak bisa tidur kalau tidak di tempat gelap, kecuali kalo kita emang lagi beruntung/sial duduk di gerbong yang lampunya rusak.

Kalo terbangun tengah malem dan semua temen seperjalanan kita tertidur-berusaha-pulas. Kita pasti merasa bosen lagi. Trus, laper pula. Jangan khawatir, kereta ekonomi tidak pernah tertidur. Para penjaja selalu ada di sana.

Perjalanan selalu panjang di kereta.
Percakapan terasa sudah begitu banyak.
Namun, terkadang, cerita tidak selesai.
Terkadang, alurnya tidak dapat ditebak, padahal kita sudah berkali-kali dalam perjalanan yang sama.
Jadi, nikmati saja.
Toh, stasiun yang kita tuju sudah jelas tertera dalam tiket, tersimpan aman dalam saku.
potongan puzzle yang tidak sama
Beberapa malam lalu, saya memutuskan kembali ke masa lalu. Lorong waktu itu ada di sana sejak lama, dibawakan seorang teman. Ada hal yang harus membuat saya memutuskan kembali ke masa lalu. Ada yang mengancam masa sekarang saya —dan mungkin juga masa mendatang saya—karena hal kecil yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu.
Saya hampir menyelesaikan susunan puzzle kekinian—meminjam istilah Mas Ia—saya. Namun, tiba-tiba, ada goresan kecil pada pinggiran sketsa yang saya susun. Padahal, potongan puzzle yang saya susun telah ada di tempatnya masing-masing. Bahkan, saya sedang bersiap dengan potongan untuk bagian yang lain.
Sebuah goresan. Itu membuat sketsa kekinian saya tidak seperti yang seharusnya. Bahkan, saya takut, di masa mendatang saya, goresan itu akan melebar dan akhirnya merusak tampilan sketsa saya.
Karena itu, saya putuskan untuk masuk ke lorong waktu itu. Saya pikir, ada kesempatan untuk memperbaiki itu semua. Ada peluang untuk mengembalikan semua seperti semula. Kembali pada titik saat sesuatu itu belum menjejak di masa sekarang saya. Lalu, saya putuskanlah untuk menggunakan lorong waktu itu—ia ada memang untuk menyelesaikan apa yang tidak kau inginkan, itulah anggapan saya.
Kembali ke masa lalu. Tentu saja hal yang ada masa kini tidak akan sama lagi, saya tahu tentang itu. Tapi, ada cara untuk mengecoh masa. Simpanlah baik-baik apa yang ingin kau pertahankan di tempat lain, di luar bagian semesta yang akan dikembalikan ke waktu sebelum sesuatu—goresan—menjejak dan menjadi mimpi buruk. Itulah yang saya ketahui sebagai cara untuk mempertahankan apa yang tidak ingin kita usik. Yang bisa kita masukkan kembali nanti, saat kita telah mencapai titik—yang kita pikir—aman.
Saya telah tahu itu. Karena itu, saya dengan cepat memutuskan untuk kembali ke masa lalu ketika ada goresan kecil yang saya rasa mengusik kekinian saya itu. Jika dibiarkan, goresan kecil itu akan menjadi besar dan mungkin akan membahayakan masa mendatang saya—yang belum dapat saya intip sedikit pun. Namun, ada bahaya yang mengancamnya dan tentu saja hal itu membuat saya waswas. Kekinian dan masa mendatang saya harus diselamatkan, bukan.
Lalu, mulailah saya masuk lorong waktu—kembali ke titik sebelum sesuatu yang membahayakan kekinian dan masa mendatang saya. Sebelumnya, tentu saja hal yang ingin saya pertahankan telah saya simpan di luar semesta saya yang akan kembali ke masa lalu. Nanti, saat atmosfer saya aman, akan saya pasangkan kembali hal yang saya pertahankan itu—potongan puzzle yang telah saya ketahui di mana letaknya. Potongan puzzle itu telah saya tandai dan dengan mudah semua akan terpasang—tidak perlu lagi membuang waktu. Tentu saja, sketsanya sudah saya hafal dan saya akrabi.
Mulailah perjalanan waktu ke masa lalu itu. Tidak ada yang akan berubah pada sketsa saya, tidak ada yang akan bergeser. Potongan-potongan puzzle telah saya rekatkan erat-erat dalam kotak rahasia, sisi teraman benak saya. Lalu, sampailah saya di masa belum ada goresan pada sketsa. Di sana, potongan puzzle memang belum terpasang. Tidak apa-apa, toh, saya sudah merekamnya lekat-lekat dan hanya tinggal menaruhnya kembali.
Namun, saat kotak rahasia itu terbuka, saya mendapatkan kejutan, yang tidak saya harapkan. Dan, saya memang terkejut. Potongan-potongan puzzle dalam kotak rahasia itu belum ditandai. Masih seperti semua saat pertama kali saya menerimanya di titik awal. Dari-Nya.
Dan, saya sudah kembali ke masa lalu. Di masa lalu itu, ingin kembali lagi ke saat saya belum kembali ke masa lalu. Ke tempat hampir semua potongan puzzle telah terpasang di sketsa. Di tempatnya masing-masing.
Sekarang, saya sudah berada di masa lalu. Kemudian, saya ingin kembali ke masa saat saat saya belum kembali ke masa lalu. Jadi, bukankah itu masa depan?
Ah, adakah lorong untuk ke masa depan? Saya begitu memikirkannya. Namun, bukankah saya telah tahu dan telah begitu menyadari bahwa semua akan berubah saat kembali ke masa lalu. Harus ada yang hilang jika saya tidak menyimpannya baik-baik, merekamnya lekat-lekat, menutupnya erat-erat dalam kotak rahasia.
Jadi, sekarang, kekinian saya adalah masa lalu yang saya datangi dari masa depan. Saat ini, masa lalu ini bukanlah masa lalu. Ia kekinian saya. Dan, ada lagi masa lalu dari masa lalu—kekinian—saya ini.
Lalu, apakah saya masih ingin sibuk mencari jalan ke masa depan agar saya tidak berusah-susah lagi memilah-milah potongan puzzle yang pas untuk sketsa masa lalu—kekinian—saya ini? Berapa lama waktu yang saya perlukan? Berapa banyak goresan lagi yang akan saya buat dalam sketsa ini?
Lalu, mengapa tidak saya terima saja masa lalu—kekinian—saya ini sebagai kekinian saya—tanpa tambahan kata “masa lalu”. Hanya kekinian. Inilah kekinian saya. Yang harus saya jejaki agar saya sampai ke masa mendatang saya—yang sempat saya jejak.
Bukankah saya memang telah memutuskan untuk kembali ke masa lalu?
Segala sesuatu memang mempunyai ceritanya sendiri. Sekarang, saya harus menjalani cerita masa lalu ini. Sekarang, ia bukanlah masa lalu itu. Inilah kekinian saya.
Friday, February 08, 2008
SORE
Wednesday, January 30, 2008
Stasiun Karawang
pada seorang perempuan tua yang menyusun duka dalam bakulnya
juga pada laki-laki yang duduk di sudut peron
yang bernyanyi dalam diam
dalam mata yang tak lagi menemukan di mana warna cahaya
hanya kelabu, lirihnya
kisah-kisah yang dinyanyikannya juga masih sama
tentang masa lalu yang tak pernah kembali
juga tentang rindu yang selalu terjatuh
genggaman selalu merasa asing dalam jemarinya
lagu laki-laki itu ikut mendesak
di antara derak rel
di antara reriungan penjaja
lara
Kereta Brantas, Manggarai--Kediri, 14/01/08
pagi yang kita kejar kita tinggalkan
Friday, January 04, 2008
tangga langit

saat merinai hujan
kau jejaki langkahmu di sana
dan, kau tak pernah kembali
--Margonda, foto warnahujan--
Monday, December 17, 2007
fragmen yang tertinggal
***
‘Aku sedang mencari mimpi, Rayina. Di sini, tak kutemukan. Jadi, aku harus segera melangkah. Kau, apa mimpimu, Rayina?’
‘Aku ingin punya sayap dan bisa terbang. Aku ingin pergi dari balik pelangi ini. Aku ingin melihat apa yang ada di balik pelangi ini. Aku ingin melihat apa yang kau ceritakan.’
‘Ternyata kau sama seperti aku, Rayina. Kita menyimpan mimpi. Dan aku, esok aku harus segera melangkah, Rayina. Aku terlalu lama di sini. Jika semakin lama lagi, aku takut aku lupa akan mimpi yang kucari. Mimpiku harus segera kutemukan. Dan kita mungkin tak akan bertemu lagi.’
Rayina tak bicara lagi. Hanya diam.
‘Rayina, kenapa? Tiba-tiba, kau menjadi begitu pendiam.’ Laki-laki itu berkata seakan-akan tidak pernah bisa membaca jejak harap di setiap hela napas Rayina. ‘Ah, Rayina, adakah yang membuatmu gusar? Ceritakan padaku, Rayina.’
Jika kuceritakan, akankah dapat membuatmu menghentikan jejakmu di tanah ini, di tempat hatiku tumbuh? Rayina menyimpan tanya untuk diamnya.
‘Oh, aku hanya selalu tak menyukai kepergian,’ jawab Rayina, ‘selalu ada kehilangan bersamanya.’
‘Bagiku, kepergian tak pernah menyimpan kehilangan, Rayina. Tak pernah ada. Kepergian hanya menyimpan langkah bersamanya. Dan memang selalu begitu. Aku bukan peminat kehilangan.’
Rayina mencari sudut-sudut dusta di mata petualang itu. Tak ia temukan. Apakah harus kukumpulkan setiap kepingan kehilangan untukmu? Agar kau tahu. Kepergianmu menyimpan kepingan-kepingan kehilangan untukku, Petualang.
‘Pernahkah burung pipit menitipkan hatinya saat pergi?’ tanya Rayina.
‘Pipit tak pernah pergi jauh, Rayina. Dan ia selalu kembali ke sarangnya. Ada yang menantinya di sana.’
‘Kau?’
***
Friday, December 07, 2007
Terlalu Lama Kau Pergi
ia terjatuh di atap
ia hanya merinai, tak membawa kisah apa-apa
pun tentang lukanya
selembar daun jatuh
mengering tiba-tiba
lalu terbang bersama angin
tak juga bawa kabar berita
pun tentang kesedihannya
matahari menyenja
aku tak melihat warna apa-apa
jangankan warna-tembaga-yang-kemarin-kau-bawa
ah, inspirasi
ayo kembali
terlalu lama kau pergi
Saturday, October 27, 2007
26/10/07
silakan. lanjutkan ke arahmu.
aku berbelok di sini.
"kau tak mengerti arah juga ternyata. hanya pandai menerka."
--Margonda, saat purnama telah habis separuh--
Anak SMP?

Monday, October 22, 2007
Kapan Kau Jatuh Cinta Lagi?

: nlr
Kau masih saja berlari bersama si kelinci yang selalu berkata, “Aku terlambat! Aku terlambat!”
Kau ikut berlari, tapi tak tahu terlambat untuk apa.
Kau masih berlari-lari bersama kelinci yang selalu akan merasa terlambat itu.
“Masihkah kau di sana?” tanyaku suatu hari, saat usia mampir sekali lagi ke dalam catatan pengingat.
Tidakkah kau ingin pulang, ke tempat kisah cinta selalu kubacakan—roman-roman picisan. Jangan terus berlari bersama kelinci yang selalu merasa terlambat itu. Kau tak tahu dia terlambat untuk apa, bukan? Lagi pula, tidakkah negeri itu terlalu ajaib? Atau tidakkah negeri itu terlalu menyeramkan. Di sana, jejak, jalan, dan persimpangan bukanlah milikmu. “Milikku,” kata sang Ratu.
Duduklah bersamaku di sini. Menikmati teh sore. Aku memang belum menyelesaikan satu kisah cinta lagi—cinta tak terlalu picisan, sekarang. Terlalu sulit untuk diselesaikan. Namun, di sore ini, aku tidak ingin berbincang tentang itu.
“Kapan kau jatuh cinta lagi?”, akan kubuka percakapan sore dengannya.
Teh sore tampak tak menguap lagi. “Kapan kau akan datang?”
Lebaran Kemarin

Setiap saya pulang ke rumah, selalu ada kejutan dari keponakan saya, terutama dari Ani. Sekarang, Ani sudah kelas dua SD. Masih suka membaca, dan menjadi semakin terlalu (cepat) dewasa.
Saat pulang menjelang dua hari Lebaran kemarin, saya disibukkan berberes di rumah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hari sebelumnya, Ani sempat menelepon. “Ante Wied, kapan pulang? Ani sekarang sudah bisa nyuci piring. Ani juga bisa nyapu.” Ani melaporkan dari Slipi.
Sebenarnya, kalimat itu untuk mempercepat saya pulang, berhubung, Mbak Was yang biasanya membantu berberes sudah pulang kampung dan tidak akan kembali lagi—belakangan, anaknya usia 10 tahun, yang ikut bersamanya, menyalami saya di tempat salat Ied. Entah kenapa harus pakai acara bohong segala itu si Mbak—kalau dibuat dugaannya, cerita jadi terlalu panjang, perlu ada postingan sendiri. Jadi, lewat aja, deh, ya.
Balik lagi kepada si Ani yang pamer sudah bisa ini dan itu. Saya cuma bisa komentar, “Wah, Ani hebat! Ante Wied pulang besok, ya.” Nyatanya, besok saya itu tertunda beberapa hari. Editan saya mengejar deadline—saya telah menjadi Penjelajah Deadline hampir setahun belakangan ini. Dan, tentu saja, saya menikmati setiap petualangannya.
Akhirnya, saya pulang juga. Saya pulang bersama Gita dan Ice. Pekerjaan berberes menunggu. Saat berberes, HP saya tergeletak begitu saja. Dan, jadilah si Ani menggantikan kebiasaan saya dan juga Gita—dan juga mungkin banyak perempuan di dunia ini—menjadi Penjelajah Inbox. Parah. Bahkan “hobi” ini sudah merambah anak usia si Ani.
Sibuklah dia bertanya ini siapa dan itu siapa. Saat membacakan isi inbox saya itu, dia belibet dengan segala singkatan yang dibuat oleh pengirim SMS dengan aturan “sama rasa”. Ani semakin sibuk dengan pertanyaan. “Apaan sih bacaaannya, Kak Gita?” Siapa sih ini?” tanyanya penasaran. Gita, kotak rahasia saya, usil pada Ani. “Itu tuh, Dek. Yang empat huruf,” pancing Gita. Tanya Ante Wid, deh,” Gita semakin usil.
Deg! Jantung saya sempat berdegup—ya iyalah, ya, masa enggak? Hehe. Saya sempat sedikit kaget, gitu. Aduh, jangan tanya. Jangan tanya, kata saya dalam hati. Sempat-sempatnya berdoa untuk hal yang tidak begitu penting, sebenarnya.
“Nte Wied, siapa sih __ ___ __ __?”
Haha, saya tergelak. Doa saya yang serabutan sampai. Tuhan memang selalu mendengar setiap doa. Bukan orang yang saya maksud, ternyata. Ani menyebutkan nama-orang-yang-jauh-dari-saya-duga. Ani sibuk lagi menjelajahi inbox saya, bahkan sampai ke pesan yang tersimpan. Parah.
Kemudian, saya berjalan dengan Ani menjemput Cipa—keponakan saya satu lagi—di rumah kakak saya yang tidak begitu jauh. Saat itu, si Ani bergumam plus dengan deheman atau sejenis itulah.
“Heh! Aak Garda,” ujarnya sambil lalu. Saya mendengar sekilas. Dan, langsung menangkap nada gumaman dan dehemannya.
“Oh, itu temen Ante Wied. Namanya Aak. Dia anak Garda,” saya menjelaskan cepat—entah karena apa. Saya mengidentifikasi nama si Aak dengan nama belakang Garda—Garda Hijau, sebuah organisasi pecinta lingkungan di FIB UI.
“Bukan! Namanya Garda,” ujar Ani cepat.
“Heh? Bukan, namanya Aak,” saya menjelaskan lagi. Sambil tertawa, tentu saja. Jelas-jelas namanya Aak, bukan Garda. Ani sotoy, dey!
“Bukan!” Ani melakukan pengingkaran lagi. Alah-alah, ngotot amat, yak.
“Namanya Aak, Ani! Dia anak Garda. Garda Hijau,” seakan-akan, saya takut Ani menduga ada apa-apa. Saya ingat, ada beberapa SMS si-Aak dalam HP saya, berhubung dia mau nitip sesuatu di kosan.
“Heh!” sahut Ani. Ada nada keyakinan bahwa “Gue gak bisa dibohongin!” dalam sahutan Ani itu.
“Jadi, Garda itu … bla bla bla ….” Saya menjelaskan secara akedemis. Dan, tentu saja tidak dimengerti oleh Ani yang masih “belekan” itu. Dia sudah punya keyakinan, nama orang itu adalah Garda, dan tentu nama Aak di depannya itu dikira panggilan “sayang” dari saya. Duh!
Pulang-pulang, Ani langsung bisik-bisik sama Gita. Saya memergokinya. Gita langsung tertawa ngakak.
“Kenapa, Git?” tanya saya.
“Masa Ani nanya ….”
“Aak Garda, ya?” potong saya yakin. Dan, ikut tertawa. Mendengar intermeso di jalan dengan Ani tadi, Gita semakin ngakak.
“Parah, lo, Wied! Masa ponakan lo yang umur segitu menginterogasi lo. Waktu dia masih bayi, lo udah kuliah, kan,” sahut Gita di sela tawanya.
“Eh, gue enggak setua itu kali, Git!” Masa waktu bayi saya sudah kuliah? Ya enggaklah!—terkadang, masalah usia, orang sering cepat sewot. Terkadang, banyak hal konyol lain yang bikin kita buru-buru emosi. Kalau begitu, yuk, berhitung dari satu sampai sepuluh. Katanya, itu dapat mengendalikan emosi, loh ^_^
Saya dan Gita masih tertawa. Saat Ice, adik Gita, datang dan mendengar siaran langsung ulangan, dia ikut tertawa. Tawa yang enak sekali—salah satu jenis tawa untuk menertawakan anak kecil.
Sementara itu, si Ani tersipu-sipu. Malu. “Tuh, kan …. Tuh, kan … dibeber-beberin …,” ujarnya semakin dekat ke pojokan.
Tuesday, October 09, 2007
PEJALAN
"aku akan ke negeri seruni pada musim ini. kau, apa yang kau lakukan pada musim ini?" tanya pejalan kepada perempuan itu.
perempuan itu menakar segelas kopi lagi. mencoba mencari kesibukan.
"aku sedang mengumpulkan kebencian, untukmu. dan nyatanya, belum juga cukup. pun hingga musim berganti."
haruskah itu yang kukatakan kepadanya? perempuan itu terlalu lama menakar hati.
Margonda, 09/10/2007
03/10
Suaranya masih terdengar.
Masih adakah jendela yang tersingkap?
Hujan. Hujan. Hujan.
Suaranya samar.
Masih inginkah kau dengar?
Tuesday, September 25, 2007
Belajar Membaca Arah
Persimpangan juga tak menarik lagi untuk diperdebatkan. Dan, ceritamu selalu kutahu akhirnya--meski dahulu selalu kudengar. Sudahlah. Mungkin, ini akhir dari pertaruhan yang selama ini kau-aku pertanyakan.
Selamat tinggal, aku yang mengucapkannya kali ini. Tidak dengan lambaian. Tidak dengan tolehan--pun sejenak. Agar tidak ada harapan yang tertinggal, kata mereka-mereka.
Peta menuju rumah masih tersimpan di selipan buku-buku di rak kamarku. Belum begitu buram kurasa. Aku akan belajar membacanya. Belajar membaca arahku sendiri. Bukan arah kau-aku.
*dari Paris Je t'aime--fragmen-fragmen cinta yang memesona--
Sunday, September 02, 2007
MENINGGALKANNYA

dalam perjalanan
Tuesday, August 28, 2007
Di Argopuro
dan matahari ikut bercerita,
ada yang sempat takut kehilangan jejak, katanya
Argopuro, 22--26 Agustus 2007



















