Penjual Kenangan

Tuesday, December 01, 2009

di antara sore




Kapan kau datang?

Seorang (lagi) sahabat telah menjelma cinta. Belum sempat kuceritakan padamu.

Terlalu banyak sore yang kita lewatkan. Warna tembaga matahari lewat begitu saja.

Kau terlalu sibuk dengan langkahmu, begitukah?

Jangan terus menghitung waktu, nanti kau lelah.

Duduk saja di sini, bersamaku.

Kelopak-kelopak bunga yang kau bawakan sudah hampir mengering.


Dan, terlalu banyak kisah yang belum sempat kuceritakan.

Dan, terlebih lagi, aku rindu kisah kita. :)


"semoga kau baik-baik saja."




Suatu hari, saya janji bertemu dengan seorang teman di Desa Pejaten—mengutip sebutan seorang sahabat saya untuk mal yang ada di bilangan Pejaten, dekat “rumah Barbie”-nya. Mal yang terbilang baru ini berada di depan “rumah Barbie” alias kantor sahabat saya itu—sahabat saya ini memang unik, dia punya sebutan khusus buat beberapa tempat. Kantornya disebut demikian karena dia bilang mirip dengan rumah-rumahan boneka Barbie. Setelah diperhatikan, dia benar juga. Hehe, itu intermeso, sedikit cerita tentang sahabat saya itu. ;P
Hari hujan waktu itu. Jadi, saat dan teman saya itu sampai, saya menyempatkan diri dulu ke toilet di dekat pintu masuk, di dekat sebuah gerai yoghurt yang yummy. Saat masuk ke dalam, saya hanya di wastafel, membenahi jilbab saya yang pasti sudah berantakan dan mengelap kaki saya yang kecipratan hujan—yang bercampur pasir—dengan tisu basah. Saat kembali menegakkan badan setelah mengelap kaki, ada perempuan yang menegur saya, sang janitor di toilet itu. “Eh, kenapa?” tanya saya dengan tampang bingung karena tidak mendengar apa yang barusan dia katakan.
“Nggak punya aer ya, Mbak?” tanyanya tanpa melihat pada saya, sibuk mengelap keramik wastafel.
Saya tidak langsung menjawab, tapi malah langsung melirik curiga ke keramik wastafel. Memangnya, saya bikin basah, ya? pikir saya, karena di beberapa mal, terkadang janitor-nya sering sensitif kalau air wastafel kecipratan sana sini. Tapi, kan saya belum cuci tangan dan sebagainya.
“Nggak punya aer ya, Mbak?” tanya perempuan berseragam biru itu lagi. “Eh,” saya tergagap, dan memandang dengan tatapan tak mengerti.
“Saya haus banget,” katanya, “belum istirahat dari tadi,” katanya tidak terlalu keras, tapi jelas tertangkap telinga saya.
Oh. Saya lupa ekspresi saya saat itu. Yang pasti saya syok dengan pernyataan itu. “Eh, yah, waduh, nggak punya….” sahut saya kebingungan. Lalu, refleks sibuk membuka tas saya, teringat akan sesuatu—mungkin sekaligus ingin dia percaya bahwa saya nggak punya air minum. “Tapi, aku punya kue, nih,” kata saya sambil mengeluarkan tupperware biru dari tas. Saya teringat akan beberapa potong kue spon vanilla keju yang saya bawakan untuk teman saya yang sedang menunggu di luar.
Saat saya buka tutup tupperware itu, saya jadi tidak enak sendiri, “Eh, kuenya enak kok, cuma bentuknya aja yang agak berantakan,” kata saya saat melihat beberapa potong kue keju itu sudah tidak pada tempatnya. Ketumplek dalam kotak itu. Duh….
“Enak, kok, beneran,” tegas saya sambil masih senyum-senyum nggak enak. “Ambil semua aja.” Saya sibuk mencari tisu di tas saya, sayangnya udah nggak ada.
Perempuan itu menatap saya, lalu mengambil beberapa lembar tisu di pojokan wastafel. “Tapi, jadi nggak ada buat Mbak,” katanya khawatir.
“Nggak pa-pa,” kata saya. “Saya udah makan. Masih banyak di kosan,” kata saya menjelaskan, teringat masih ada potongan besarnya di kulkas. Ih, kenapa saya menjelaskannya detail sih? Untung nggak sampai cerita saya kos di mana. Hehe.
Perempuan itu mengambil potongan-potongan kue yang ada dalam tupperware saya itu sambil tetap menggumamkan kekhawatirannya saya tidak kebagian.
“Nggak pa-pa,” kata saya berkali-kali, dan merasa malu karena bentuk kuenya udah berantakan. Tapi, beneran enak kok kue spons vanilla itu. :D
Dia membungkus kue itu dengan tisu sambil terus mengucapkan terima kasih. “Iya, dari tadi belum istirahat,” katanya. Dan, saat itu, sudah hampir magrib. Kasihan…. Mungkin, dia kerja dari pagi. Ia meletakkan kue itu di pojokan wastafel, dekat botol minuman dan kembali dengan lap di tangannya.
“Itu udah abis aernya,” katanya menjelaskan, padahal saya nggak ngomong apa-apa. Jangan-jangan, saya terlalu melirik botol itu. “Tempat ngambil airnya mesti ke basement, jauh,” lanjutnya.
Saya cuma senyum-senyum nggak enak lagi. Tidak berharap dia menjelaskan apa-apa. “Hehe, iya, nggak apa-apa. Maaf, ya, saya nggak punya air minum,” kata saya lagi dan ingin segera keluar dari toilet itu, nggak tega saat mendapati dengan jelas sosok si janitor. Gadis dengan rambut kucir kuda. Kurus. Terlalu kurus malah. Dan, wajahnya tampak memelas. Duh. Saya nggak tega ngeliat ekspresinya.
“Eh, aku duluan, ya,” ucap saya buru-buru dan nggak sabar ingin menceritakannya kepada teman saya. Dah, saya juga kepikiran dengan kata-kata “haus banget” yang dia bilang. Saya langsung melesat keluar diiringi ucapan terima kasih atas kue-keju-yang-tumplek-itu. Ah, kenapa kuenya berantakan sih tadi. Duh… Saat keluar, saya deg-degan, entah kenapa. Teman saya yang sepertinya sudah lama menunggu sudah berada dekat pintu keluar.
“Kenapa?” tanyanya, mungkin melihat tampang saya yang bingung.
“Itu,” kata saya tak bisa menjelaskan, dan celingak-celinguk. “Ada tempat orang jualan minum nggak?” tanya saya.
“Ada apa sih?” tanyanya penasaran.
“Itu, Mbak-nya kasian banget. Keausan,” sahut saya sambil berjalan buru-buru ke gerai yoghurt yummy itu. Entah kenapa, saya jadi ingin buru-buru dan jadi deg-degan. Mungkin, takut si Mbak keburu nggak haus kali ya. Hehe.
“Oh, ya udah, cepetan,” timpal teman saya dan jadi ketularan buru-buru juga.
Setelah mendapatkan dua botol minuman, saya bergegas ke dalam toilet itu lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan waslap dan wastafelnya. Saya langsung menyerahkan minuman itu.

“Eh, Mbak, pake dibeliin segala,” komentarnya sambil menerima kedua botol yang saya belikan.
“Makasih, ya, Mbak,” lanjutnya sambil kembali sibuk dengan waslap di tangannya. Tatapannya nggak fokus. Entahlah, saya seperti merasa dia tidak berada dalam ruang toilet itu.
“Iya, sama-sama,” kata saya, lalu keluar dari toilet itu lagi. Dengan buru-buru lagi.
“Udah,” kata teman saya saat kami berjalan menuju eskalator.
Saya mengangguk. “Tampangnya kasian banget,” kata saya. “Kayak orang bingung. Kenapa, ya?”
“Lagi ada masalah kali,” sahut teman saya.
“Iya kali, ya,” timpal saya. Lalu terdiam mendengarkan irama eskalator yang sedang berjalan.
(Gadis) Toilet yang aneh. Kasian.
Ah, tadi kuenya berantakan banget. Pake tisu gitu jadi tambah kasihan. Kenapa tadi nggak kasih sekalian ama tupperware-nya aja ya. Kenapa ya dia? Kasian banget. Yah, kuenya berantakan. Tapi, enak kok…. Tapi, harusnya sekalian ama tupperware-nya aja.
Gerak eskalator terasa melambat. Saya menghela napas. Kasian. Mudah-mudahan, dia baik-baik aja. 


#i owe the pic!

Thursday, November 19, 2009

Mungkin



Perempuan itu telah mendengar banyak kisah segala perjalanan dari laki-laki itu. Tentang rumput-rumput menguning yang kehilangan mimpi, tentang bunga-bunga seruni yang menyimpan cinta di kelopak-kelopaknya, tentang kuburan tua yang menyimpan rahasia seorang gadis yang jatuh cinta, tentang jembatan kayu yang membenci sungai. Tentang segala. Banyak kisah yang dia dengar darinya.

Namun, hati, ah, hatinya selalu berdusta pada waktu. Ia bilang selalu percaya, padahal setiap harinya meragu. Lama-kelamaan, mungkin, waktu juga tak akan percaya lagi padanya. Dan, mereka akan saling berdusta. Ya, mungkin (saja).

episode [kita]



tik tok tik tok …
dengar langkah waktu. dengarlah bersama-Nya. kau akan temukan arah-Nya.

Tuesday, November 17, 2009

(bukan) tentang kita




"seperti menyebarkan serbuk sihir,
menempatkan segala sesuatu ke ruang semula," kau mendefinisikan bahagia.

ya, aku suka. :)
kau?

Friday, November 06, 2009

suatu ketika malam terlalu riuh



kau tahu, aku suka malam yang hujan
yang hening dan hanya menyisakan tempias di kaca jendela keesokan harinya
yang menguarkan bau rumput dan menyisakan jalanan yang basah

dan, kali ini, malam tidak hujan
terlalu riuh, malah, bahkan meredam suara kita
yang memaksa kita diam lebih lama, mencari jeda untuk bicara—atau, kita memang kehilangan kata-kata (?)

tapi, entah kenapa,
aku suka malam kali ini
yang menyisakan—entah—mungkin sesuatu yang disebut bahagia

Wednesday, October 28, 2009

gadis kecil dalam kaca sihir




dan, perempuan itu masih saja "berada" di dalam kaca sihirnya.

"kau bukan gadis kecil itu." hujan membawa suara-suara itu. di luar sana. bukan dalam kaca sihirnya. [hujan yang sebenarnya].

ia tak pernah mendengar suara-suara itu.
ia sibuk menghitung langkah gadis kecil dalam kaca sihir itu.
menikmati jingkat-jingkat kakinya.
seakan merasakan hujan ikut menetesi bahunya. menikmati rinai yang mengajaknya bercerita.

"kau bukan gadis kecil itu." suara itu berbisik jelas di telinganya.

dan, ah, ia tak mendengar suara itu.

Friday, October 23, 2009

Thursday, October 22, 2009

Kita Pun Harus Mengerti



Dahulu, juga seperti ini, bukan?
Langkah kita mengerti arahnya sendiri-sendiri.


#i owe the pic!#

Lalu...



Aku telah tahu ke mana arahmu, di stasiun keberapa kau berhenti. Namun, aku masih mengajakmu bercerita. Masih bertanya, kau akan ke mana, di stasiun keberapa kau berhenti.
Aku telah jelas melihat karcis yang sejak tadi resah di tanganmu.
Jelas arah dan tujuanmu di sana. Namun, aku masih bertanya.

Hanya sampai kereta datang, pikirku.
Lalu, kita akan berpisah di sini. Aku yang akan melangkah.

Hanya sampai kereta datang, pikirku.

Dan, kini, perjalanan semakin jauh.


(Mei, 2007)

Wednesday, September 23, 2009

cinta sedang deadline


: akan aku tuliskan inisialmu di sini pada saatnya itu.


kau tahu,
cinta sedang deadline.
puzzle-puzzle itu harus utuh seperti ini, dalam setahun?
bagaimana menurutmu?
apakah kita bisa menyusunnya dalam hitungan yang tak seberapa itu?
aku tahu kau akan ada karena kau tahu aku tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri.
ah, tidakkah aku bilang agar kau tidak berjalan terlalu jauh sehingga aku akan selalu melihat jejakmu?--jejak yang kutemukan akhir-akhir ini bukanlah milikmu, aku tahu.

kau (harus) tahu?
kini tiba-tiba saja potongan puzzle itu harus utuh, sementara benang merah masih terlalu kusut.
jangan berdiri terlalu jauh lagi, kita diburu waktu.
dengarkan hatimu. bawa langkahmu ke sini.

puzzle kita belum selesai.

TO ME, YOU ARE PERFECT


Apakah aku pernah mengenalmu, dahulu mungkin?
Kau tak asing.
Ya, mungkin, kita pernah dalam satu perjalanan pada kehidupan sebelum ini.
Tapi, kenapa kita baru bertemu hari ini?

Ah, aku teringat sebuah fragmen dalam film favoritku, yang menjadi scene favoritku juga.

“TO ME, YOU ARE PERFECT”. Seorang laki-laki membawakan karton bertuliskan kata-kata itu, hanya menunjukkannya pada seorang gadis, tanpa ucapan apa-apa. Adegan yang membuat hati banyak orang meleleh, mungkin saja ;P--hmm, tapi aku tak yakin kau pernah menontonnya.



Bertemu kau. Aku teringat adegan itu. Ada-ada saja. Hehe.
Mungkin, kita akan bertemu lagi pada suatu hari nanti--di kehidupan yang berbeda (?).
Ah, sudahlah. Selamat jalan. Hati-hati. :)

Friday, September 18, 2009

Sebelum Ramadhan Melepaskan Genggaman


Assalamuaikum,
Hari ini, aku mengetuk pintumu.
Sedang tak di rumah, ya?
Kalau begitu, besok aku datang lagi—jika tak ada halangan.
Semoga kau temukan maaf yang kuselipkan, dibungkus dengan segenap cinta, yang masih hangat.

“Maafkan atas segala khilaf, segala kata yang terucap, segala laku yang menyakitkan.”

Selamat Lebaran. Semoga kita bertemu Ramadhan tahun depan.



Wassalam,
Pada suatu hari ketika genggaman Ramadhan terasa semakin tak erat.

--Iwied--

Tuesday, September 15, 2009

dua cerita

"cipa bisa begini," kata cipa, bersemangat dengan pose barunya.






"ani juga," timpal ani, tak mau kalah.


Friday, September 11, 2009

Suatu Malam [kau tahu, aku orang yang juga takut kehilangan. sangat]



Ramadhan kali ini, aku terlalu sibuk dengan pikiranku saat seorang perempuan mengetuk pintu membawa kabar,

“Seorang gadis telah hilang,” katanya, “hampir setahun lalu.”

Aku mengeryit spontan. “Siapa?” Pertanyaan untuk gadis dalam ceritanya dan untuk dirinya juga—siapa perempuan ini, tiba-tiba saja datang.

“Ia begitu marah pada dirinya sendiri kala itu dan pergi, mencoba menghilang dari siapa saja. Ia marah karena tak menepati janjinya kepada seseorang yang begitu ia sayangi. Ada yang bilang orang itu sahabatnya, ada yang bilang orang itu kerabatnya.”

Aku masih berdiri kaku, bingung.

“Kau tahu, ia berjanji untuk selalu memberi orang itu tawa setiap hari, tapi malah sebaliknya. Tawa semakin mengikis. Dan, hanya ada sekarung tawa yang tersisa kala itu. Ia pun membenci dirinya. Akhirnya, diam-diam, ia pergi, berjalan dengan sekarung tawa di pundaknya, yang ia pikir akan cukup sebagai bekal di perjalanan. Niat hatinya, ia akan menemukan cara untuk membuat berkarung-karung tawa lagi setiap hari. Akan ia bawakan kembali untuk seseorang itu, setiap hari. Sayang, sekarung tawa itu telah tercecer di sepanjang jalan dalam pelariannya. Tak menyisakan satu pun. Ia semakin membenci dirinya. Dan, gadis hilang itu hanya menemukan kesedihan dalam pelariannya selanjutnya. Bahkan, setiap helai daun yang ia raih menjelma tangis. Gadis hilang sempat jatuh cinta, dan seharusnya bahagia. Namun, tetap saja tangis yang menjelma, juga dalam tawa yang ia coba semburkan dari bibirnya.” Perempuan yang berdiri di depan pintu rumahku yang setengah terbuka tiba-tiba saja bercerita panjang.

“Kenapa kau kabarkan padaku?” Aku bertanya dengan kepala penuh tanya, meski mungkin saja terdengar menarik, aku tak berminat pada cerita itu. Aku sedang sibuk dengan pikiranku. Ini dan itu sedang tidak berada tepat di benakku.

“Katanya, ada tumpukan tawa yang kau simpan di kamarmu,” sahut si perempuan. “Mungkin bisa kau bagi dengannya.”

Aku mendengus dalam diam. Perempuan ini menghina? Aku tak menyembunyikan apa-apa di rumahku, di sudut mana pun. Tawa, apalagi.

“Ini Ramadhan,” kata perempuan itu lagi, “berbagi akan semakin membuatmu berbahagia.”

Aku memejamkan mata. Meredakan amarahku sendiri. Aku harus bicara baik-baik pada perempuan ini, mungkin ia salah alamat. Ya, aku tahu ini Ramadhan. Aku tahu…. Sial, sesak itu lagi! Jangan biarkan sesak itu mengaburkan mataku lagi dan membuatnya harus menjatuhkan air yang membuat perih itu. Ya, ini Ramadhan, bulan penuh ampunan, aku tahu. Tapi..., apakah masih ada ampunan buatku?

“A-aku... tidak menyembunyikan apa-apa,” kataku, benar-benar tak mengerti apa yang bisa kubagi untuk si gadis hilang. Aku menggeleng pelan, menyingkirkan amarah yang sering bersarang dalam benakku. “Kalau kau mau, masuklah, cari sendiri apa yang bisa aku bagikan untuk gadis hilang itu.” Aku membuka pintu lebih lebar.

Si perempuan masuk, melonggokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan tidak sungkan.

“Silakan.” Aku mencoba sopan. Entah apa yang bisa ia dapatkan di ruang rumahku ini. Hanya ada tiang kayu penyangga atap, sebuah dipan kayu tua, meja kusam tempatku menulis—ah, entah apa yang kutulis. Dan, di sana, di sudut, hanya ada kotak-kotak yang semakin berdebu. Tak pernah kubuka lagi sejak setahun yang lalu. Sejak.....

“Aku boleh melihat-lihat sekeliling?” tanya si perempuan.

Ah, aku tahu matanya berkata, “Rumahmu kosong sekali.” Terserahlah dia mau bilang apa. “Silakan,” sahutku dan untungnya tidak sempat menambahkan, “Kau tidak akan menemukan apa-apa.”

Aku merasa sungkan dalam rumahku sendiri dan akhirnya, aku duduk di dipan kayu milikku. Duduk di atasnya dengan menggenggam tangan yang rasanya juga sungkan menjadi bagian dari tubuhku.

“Memangnya, gadis hilang itu sudah kau temukan?” Tiba-tiba saja aku bertanya, padahal aku tak ingin ikut campur urusan perempuan ini. Apa peduliku, aku sudah terlalu banyak masalah dengan hidupku.

“Hmm....” Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia malah berdiri kaku di depan tumpukan kotak-kotak berdebu.

“Maaf, aku tidak sempat membersihkannya.” Entah kenapa, aku merasa wajib minta maaf. Ah, apa pedulinya kalau kotak-kotak itu berdebu, toh itu milikku dan aku saja tidak peduli.

“Apa isinya?” tanya si perempuan sambil berjongkok dan meraihnya salah satu tutup dari kotak itu.

Aku mengedikkan bahu. Entahlah. Aku sudah lupa. Aku terlalu banyak masalah, tak sempat memikirkan apa yang ada di sana. Lagi pula, aku tidak peduli.

Perempuan itu terdiam cukup lama di sana. Ia tidak mengajakku bicara lagi. Untunglah. Semoga saja ia bisa cepat pergi. Ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Ada masalah yang harus segera kuatasi. Dan, ah, sial, ada kesedihan yang harus kutangisi lagi malam ini. Aku duduk dan mencoba mengatur napas, mencoba memilah permasalahan hidupku satu per satu. Mendahulukan ini. Melanjutkan dengan itu. Ya, aku pasti bisa.

“Ini siapa?” tanya si perempuan bersuara lagi.

Aku diam saja.

“Dia mirip kau,” lanjutnya sambil mendongakkan kepala ke arahku, tepat ke mataku.

Aku berusaha keras menaikkan ujung bibirku, mencoba bersikap baik. Tapi, aku tidak peduli apa yang ia bicarakan.

“Benarkah ini kau?” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arahku, membawa sesuatu yang yang cukup tebal, berwarna putih, seperti buku. Aku lupa apa benda itu. Buku harianku?

Lalu, ia duduk di sampingku. “Hei, gadis dalam foto ini mirip sekali dengan kau,” ulangnya, mencoba membawa benda putih itu ke depan mataku. Album foto. Aku baru menyadarinya.

“Kau tak mau melihatnya?” kata perempuan itu lagi.

Aku hanya menelan ludah, terasa pahit di tenggorakanku.

“Aku tidak melihat apa-apa dari album yang kau tunjukkan ini,” kataku. Kenapa pula aku jujur pada perempuan yang tiba-tiba saja mengetuk rumahku ini. Ya, aku tidak bisa melihat apa pun dari sana. Kosong.

Ia tersenyum. Sial, dia mengejekku lagi. Aku memejamkan mata, meredakan amarahku kembali.

“Lihatlah, di sini, kau terlihat berbe—“

“Apa pun yang kau lihat, itu bukan aku!” Aku memotong ucapannya seketika.

Perempuan di depanku tidak tampak kaget, hanya menoleh cepat ke arahku.

“Kau terlihat berbeda.” Ia menyelesaikan ucapannya.

Aku menghela napas.

“Ini Ramadhan,” lanjutnya.

Aku memejamkan mata.

“Saat yang tepat berbagi—”

“Aku tak mengenalmu.” Aku memotong lagi ucapannya.

“Saat yang paling tepat juga untuk memaafkan,” ia masih saja berbicara tanpa kuminta, sambil menyerahkan album foto itu ke pangkuanku.

“Kau tahu,” katanya lagi sambil berdiri, “orang yang di dalam foto itu juga mirip dengan si gadis hilang, yang tak menyisakan lagi tawa di pundaknya, juga untuk dirinya sendiri.” Ia beranjak. “Ya, aku sudah menemukannya.” Ia berjalan menjauh, yang telihat hanya punggungnya.

Aku nanar.

“Gadis hilang itu sudah capek menangis, asal kau tahu.” Ia mendekati pintu.

“Tapi—“

“Ia tak perlu menyesali sekarung tawa yang terserak itu, yang ia hilangkan itu. Sudah terjadi.” Suara si perempuan masih bisa kudengar. Mataku mengabur. Sial, aku menangis lagi.

“Ini Ramadhan,” kata si perempuan, yang telah mencapai daun pintu, “saat yang tepat untuk memaafkan, juga memaafkan dirimu sendiri.”

Aku terdiam. Air mataku jatuh. Bergulir pelan di atas album foto yang terbuka. Aku menelan ludah. Menyadari air mata tak membuat penglihatanku kabur. Mendapati foto empat orang perempuan sedang berebut tempat di frame lensa kamera. Ah, benarkah itu aku yang sedang tertawa, merangkul akrab, hangat, lengan seseorang di sebelahku.

Aku membalik album foto itu lagi. Masih ada aku. Teman. Sahabat. Tawa. Aku. Tawa. Sahabat. Tawa. Aku. Sahabat. Tawa. Aku. Keluarga. Tawa. Tawa. Aku. Sahabat. Keluarga. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Sahabat. Cinta.

“Gadis hilang telah kau temukan, bukan?” Suara perempuan itu lagi. “Ia tak pernah hilang.”

Aku kelu. Lidahku seakan-akan bisa patah saking kakunya.

Ya, ia selalu bahagia, tak pernah kehilangan tawa, seharusnya. Ah, ia hanya terjebak dalam pelarian, yang semakin jauh jika ia tak mencoba kembali.

“Kau tahu, tawa tak akan pernah habis meski kau cecerkan berkarung-karung. Pun jika kau buang ke samudra sekalipun,” suara perempuan itu menggema di telingaku, seperti berasal dari tempat yang sangat-sangat jauh. “Tawa tak akan habis,” katanya lagi, “karena kau punya cinta. Di sini, di tempatku. Di hatimu.”

Thursday, September 10, 2009

2




“Masih jadi favoritmu, kan?” tanyamu lagi, sebelah tanganmu menarik turun selimut perca tua hingga menutupi kakimu yang telanjang. Bersandar pada kursi kayu yang warnanya sudah memudar, melapuk—ah, terlalu lamakah aku pergi. Waktu kutinggalkan, warnanya belum sepudar ini, bukan? Kau menyesap minumanmu dengan santai. Kenapa aku tak bisa relaks sepertimu. Atau, kau semakin lihai menyembunyikan emosimu.

“Masih,” sahutku, lagi-lagi tersenyum, mencoba membuat kau tak menyadari perasaan tidak nyaman yang bersarang sejak aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahmu ini, rumah kita—dahulu. Bahkan, aku merasakan jari-jariku kaku, tiba-tiba tak nyaman dalam bentuknya.

Dalam diam, aku ikut menyesap pelan cokelat hangat itu, takut-takut. Dan, aku tahu aku akan merasakan kembali sensasi yang sama—jika tidak, aku tidak akan pernah membuat diriku fobia pada minuman ini. Memaksa diri fobia, tepatnya. Kau tahu, aku suka cokelat hangat seperti ini. Terlalu suka. Cokelat hangat yang kau buatkan dalam mug besar yang selalu kita beli dua, dengan warna yang sama. Untukmu dan untukku. Dan, kau ingat, kita selalu bertengkar, merasa mug kita selalu tertukar. Ya, aku tahu, saat kita telah lama memiliki sesuatu, bahkan, hanya dengan melihat kelebatannya, kita akan menyadari ikatan tak terlihat di antara kita dan sesuatu itu.

Dalam diam, aku menelan pelan manis sempurna yang kau racik. Tetes-tetes cokelat hangat yang membasahi kerongkonganku mengusik tumpukan kenangan yang kupurukkan di sudut hati, semua mendesak begitu saja, mencecerkan kembali percakapan kita sebelum aku memutuskan pergi. Menjauh. Darimu.

“Mau memberiku kesempatan untuk itu?” Kala itu, kau meraih kedua tanganku, menyembunyikannya di genggaman tanganmu yang lebar, yang hampir bisa menghilangkan seluruh jemariku di sana. Aku hanya diam, menghindari tatapanmu yang entah kenapa terlihat begitu jauh, ke masa lalu. Jangan rangkaikan keping-keping kenangan itu di matamu. Kau tahu, aku orang yang terlalu mudah menyerah pada apa saja yang bisa membuatku terharu.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin