Penjual Kenangan

Friday, November 06, 2009

suatu ketika malam terlalu riuh



kau tahu, aku suka malam yang hujan
yang hening dan hanya menyisakan tempias di kaca jendela keesokan harinya
yang menguarkan bau rumput dan menyisakan jalanan yang basah

dan, kali ini, malam tidak hujan
terlalu riuh, malah, bahkan meredam suara kita
yang memaksa kita diam lebih lama, mencari jeda untuk bicara—atau, kita memang kehilangan kata-kata (?)

tapi, entah kenapa,
aku suka malam kali ini
yang menyisakan—entah—mungkin sesuatu yang disebut bahagia

Wednesday, October 28, 2009

gadis kecil dalam kaca sihir




dan, perempuan itu masih saja "berada" di dalam kaca sihirnya.

"kau bukan gadis kecil itu." hujan membawa suara-suara itu. di luar sana. bukan dalam kaca sihirnya. [hujan yang sebenarnya].

ia tak pernah mendengar suara-suara itu.
ia sibuk menghitung langkah gadis kecil dalam kaca sihir itu.
menikmati jingkat-jingkat kakinya.
seakan merasakan hujan ikut menetesi bahunya. menikmati rinai yang mengajaknya bercerita.

"kau bukan gadis kecil itu." suara itu berbisik jelas di telinganya.

dan, ah, ia tak mendengar suara itu.

Friday, October 23, 2009

Thursday, October 22, 2009

Kita Pun Harus Mengerti



Dahulu, juga seperti ini, bukan?
Langkah kita mengerti arahnya sendiri-sendiri.


#i owe the pic!#

Lalu...



Aku telah tahu ke mana arahmu, di stasiun keberapa kau berhenti. Namun, aku masih mengajakmu bercerita. Masih bertanya, kau akan ke mana, di stasiun keberapa kau berhenti.
Aku telah jelas melihat karcis yang sejak tadi resah di tanganmu.
Jelas arah dan tujuanmu di sana. Namun, aku masih bertanya.

Hanya sampai kereta datang, pikirku.
Lalu, kita akan berpisah di sini. Aku yang akan melangkah.

Hanya sampai kereta datang, pikirku.

Dan, kini, perjalanan semakin jauh.


(Mei, 2007)

Wednesday, September 23, 2009

cinta sedang deadline


: akan aku tuliskan inisialmu di sini pada saatnya itu.


kau tahu,
cinta sedang deadline.
puzzle-puzzle itu harus utuh seperti ini, dalam setahun?
bagaimana menurutmu?
apakah kita bisa menyusunnya dalam hitungan yang tak seberapa itu?
aku tahu kau akan ada karena kau tahu aku tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri.
ah, tidakkah aku bilang agar kau tidak berjalan terlalu jauh sehingga aku akan selalu melihat jejakmu?--jejak yang kutemukan akhir-akhir ini bukanlah milikmu, aku tahu.

kau (harus) tahu?
kini tiba-tiba saja potongan puzzle itu harus utuh, sementara benang merah masih terlalu kusut.
jangan berdiri terlalu jauh lagi, kita diburu waktu.
dengarkan hatimu. bawa langkahmu ke sini.

puzzle kita belum selesai.

TO ME, YOU ARE PERFECT


Apakah aku pernah mengenalmu, dahulu mungkin?
Kau tak asing.
Ya, mungkin, kita pernah dalam satu perjalanan pada kehidupan sebelum ini.
Tapi, kenapa kita baru bertemu hari ini?

Ah, aku teringat sebuah fragmen dalam film favoritku, yang menjadi scene favoritku juga.

“TO ME, YOU ARE PERFECT”. Seorang laki-laki membawakan karton bertuliskan kata-kata itu, hanya menunjukkannya pada seorang gadis, tanpa ucapan apa-apa. Adegan yang membuat hati banyak orang meleleh, mungkin saja ;P--hmm, tapi aku tak yakin kau pernah menontonnya.



Bertemu kau. Aku teringat adegan itu. Ada-ada saja. Hehe.
Mungkin, kita akan bertemu lagi pada suatu hari nanti--di kehidupan yang berbeda (?).
Ah, sudahlah. Selamat jalan. Hati-hati. :)

Friday, September 18, 2009

Sebelum Ramadhan Melepaskan Genggaman


Assalamuaikum,
Hari ini, aku mengetuk pintumu.
Sedang tak di rumah, ya?
Kalau begitu, besok aku datang lagi—jika tak ada halangan.
Semoga kau temukan maaf yang kuselipkan, dibungkus dengan segenap cinta, yang masih hangat.

“Maafkan atas segala khilaf, segala kata yang terucap, segala laku yang menyakitkan.”

Selamat Lebaran. Semoga kita bertemu Ramadhan tahun depan.



Wassalam,
Pada suatu hari ketika genggaman Ramadhan terasa semakin tak erat.

--Iwied--

Tuesday, September 15, 2009

dua cerita

"cipa bisa begini," kata cipa, bersemangat dengan pose barunya.






"ani juga," timpal ani, tak mau kalah.


Friday, September 11, 2009

Suatu Malam [kau tahu, aku orang yang juga takut kehilangan. sangat]



Ramadhan kali ini, aku terlalu sibuk dengan pikiranku saat seorang perempuan mengetuk pintu membawa kabar,

“Seorang gadis telah hilang,” katanya, “hampir setahun lalu.”

Aku mengeryit spontan. “Siapa?” Pertanyaan untuk gadis dalam ceritanya dan untuk dirinya juga—siapa perempuan ini, tiba-tiba saja datang.

“Ia begitu marah pada dirinya sendiri kala itu dan pergi, mencoba menghilang dari siapa saja. Ia marah karena tak menepati janjinya kepada seseorang yang begitu ia sayangi. Ada yang bilang orang itu sahabatnya, ada yang bilang orang itu kerabatnya.”

Aku masih berdiri kaku, bingung.

“Kau tahu, ia berjanji untuk selalu memberi orang itu tawa setiap hari, tapi malah sebaliknya. Tawa semakin mengikis. Dan, hanya ada sekarung tawa yang tersisa kala itu. Ia pun membenci dirinya. Akhirnya, diam-diam, ia pergi, berjalan dengan sekarung tawa di pundaknya, yang ia pikir akan cukup sebagai bekal di perjalanan. Niat hatinya, ia akan menemukan cara untuk membuat berkarung-karung tawa lagi setiap hari. Akan ia bawakan kembali untuk seseorang itu, setiap hari. Sayang, sekarung tawa itu telah tercecer di sepanjang jalan dalam pelariannya. Tak menyisakan satu pun. Ia semakin membenci dirinya. Dan, gadis hilang itu hanya menemukan kesedihan dalam pelariannya selanjutnya. Bahkan, setiap helai daun yang ia raih menjelma tangis. Gadis hilang sempat jatuh cinta, dan seharusnya bahagia. Namun, tetap saja tangis yang menjelma, juga dalam tawa yang ia coba semburkan dari bibirnya.” Perempuan yang berdiri di depan pintu rumahku yang setengah terbuka tiba-tiba saja bercerita panjang.

“Kenapa kau kabarkan padaku?” Aku bertanya dengan kepala penuh tanya, meski mungkin saja terdengar menarik, aku tak berminat pada cerita itu. Aku sedang sibuk dengan pikiranku. Ini dan itu sedang tidak berada tepat di benakku.

“Katanya, ada tumpukan tawa yang kau simpan di kamarmu,” sahut si perempuan. “Mungkin bisa kau bagi dengannya.”

Aku mendengus dalam diam. Perempuan ini menghina? Aku tak menyembunyikan apa-apa di rumahku, di sudut mana pun. Tawa, apalagi.

“Ini Ramadhan,” kata perempuan itu lagi, “berbagi akan semakin membuatmu berbahagia.”

Aku memejamkan mata. Meredakan amarahku sendiri. Aku harus bicara baik-baik pada perempuan ini, mungkin ia salah alamat. Ya, aku tahu ini Ramadhan. Aku tahu…. Sial, sesak itu lagi! Jangan biarkan sesak itu mengaburkan mataku lagi dan membuatnya harus menjatuhkan air yang membuat perih itu. Ya, ini Ramadhan, bulan penuh ampunan, aku tahu. Tapi..., apakah masih ada ampunan buatku?

“A-aku... tidak menyembunyikan apa-apa,” kataku, benar-benar tak mengerti apa yang bisa kubagi untuk si gadis hilang. Aku menggeleng pelan, menyingkirkan amarah yang sering bersarang dalam benakku. “Kalau kau mau, masuklah, cari sendiri apa yang bisa aku bagikan untuk gadis hilang itu.” Aku membuka pintu lebih lebar.

Si perempuan masuk, melonggokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan tidak sungkan.

“Silakan.” Aku mencoba sopan. Entah apa yang bisa ia dapatkan di ruang rumahku ini. Hanya ada tiang kayu penyangga atap, sebuah dipan kayu tua, meja kusam tempatku menulis—ah, entah apa yang kutulis. Dan, di sana, di sudut, hanya ada kotak-kotak yang semakin berdebu. Tak pernah kubuka lagi sejak setahun yang lalu. Sejak.....

“Aku boleh melihat-lihat sekeliling?” tanya si perempuan.

Ah, aku tahu matanya berkata, “Rumahmu kosong sekali.” Terserahlah dia mau bilang apa. “Silakan,” sahutku dan untungnya tidak sempat menambahkan, “Kau tidak akan menemukan apa-apa.”

Aku merasa sungkan dalam rumahku sendiri dan akhirnya, aku duduk di dipan kayu milikku. Duduk di atasnya dengan menggenggam tangan yang rasanya juga sungkan menjadi bagian dari tubuhku.

“Memangnya, gadis hilang itu sudah kau temukan?” Tiba-tiba saja aku bertanya, padahal aku tak ingin ikut campur urusan perempuan ini. Apa peduliku, aku sudah terlalu banyak masalah dengan hidupku.

“Hmm....” Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia malah berdiri kaku di depan tumpukan kotak-kotak berdebu.

“Maaf, aku tidak sempat membersihkannya.” Entah kenapa, aku merasa wajib minta maaf. Ah, apa pedulinya kalau kotak-kotak itu berdebu, toh itu milikku dan aku saja tidak peduli.

“Apa isinya?” tanya si perempuan sambil berjongkok dan meraihnya salah satu tutup dari kotak itu.

Aku mengedikkan bahu. Entahlah. Aku sudah lupa. Aku terlalu banyak masalah, tak sempat memikirkan apa yang ada di sana. Lagi pula, aku tidak peduli.

Perempuan itu terdiam cukup lama di sana. Ia tidak mengajakku bicara lagi. Untunglah. Semoga saja ia bisa cepat pergi. Ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Ada masalah yang harus segera kuatasi. Dan, ah, sial, ada kesedihan yang harus kutangisi lagi malam ini. Aku duduk dan mencoba mengatur napas, mencoba memilah permasalahan hidupku satu per satu. Mendahulukan ini. Melanjutkan dengan itu. Ya, aku pasti bisa.

“Ini siapa?” tanya si perempuan bersuara lagi.

Aku diam saja.

“Dia mirip kau,” lanjutnya sambil mendongakkan kepala ke arahku, tepat ke mataku.

Aku berusaha keras menaikkan ujung bibirku, mencoba bersikap baik. Tapi, aku tidak peduli apa yang ia bicarakan.

“Benarkah ini kau?” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arahku, membawa sesuatu yang yang cukup tebal, berwarna putih, seperti buku. Aku lupa apa benda itu. Buku harianku?

Lalu, ia duduk di sampingku. “Hei, gadis dalam foto ini mirip sekali dengan kau,” ulangnya, mencoba membawa benda putih itu ke depan mataku. Album foto. Aku baru menyadarinya.

“Kau tak mau melihatnya?” kata perempuan itu lagi.

Aku hanya menelan ludah, terasa pahit di tenggorakanku.

“Aku tidak melihat apa-apa dari album yang kau tunjukkan ini,” kataku. Kenapa pula aku jujur pada perempuan yang tiba-tiba saja mengetuk rumahku ini. Ya, aku tidak bisa melihat apa pun dari sana. Kosong.

Ia tersenyum. Sial, dia mengejekku lagi. Aku memejamkan mata, meredakan amarahku kembali.

“Lihatlah, di sini, kau terlihat berbe—“

“Apa pun yang kau lihat, itu bukan aku!” Aku memotong ucapannya seketika.

Perempuan di depanku tidak tampak kaget, hanya menoleh cepat ke arahku.

“Kau terlihat berbeda.” Ia menyelesaikan ucapannya.

Aku menghela napas.

“Ini Ramadhan,” lanjutnya.

Aku memejamkan mata.

“Saat yang tepat berbagi—”

“Aku tak mengenalmu.” Aku memotong lagi ucapannya.

“Saat yang paling tepat juga untuk memaafkan,” ia masih saja berbicara tanpa kuminta, sambil menyerahkan album foto itu ke pangkuanku.

“Kau tahu,” katanya lagi sambil berdiri, “orang yang di dalam foto itu juga mirip dengan si gadis hilang, yang tak menyisakan lagi tawa di pundaknya, juga untuk dirinya sendiri.” Ia beranjak. “Ya, aku sudah menemukannya.” Ia berjalan menjauh, yang telihat hanya punggungnya.

Aku nanar.

“Gadis hilang itu sudah capek menangis, asal kau tahu.” Ia mendekati pintu.

“Tapi—“

“Ia tak perlu menyesali sekarung tawa yang terserak itu, yang ia hilangkan itu. Sudah terjadi.” Suara si perempuan masih bisa kudengar. Mataku mengabur. Sial, aku menangis lagi.

“Ini Ramadhan,” kata si perempuan, yang telah mencapai daun pintu, “saat yang tepat untuk memaafkan, juga memaafkan dirimu sendiri.”

Aku terdiam. Air mataku jatuh. Bergulir pelan di atas album foto yang terbuka. Aku menelan ludah. Menyadari air mata tak membuat penglihatanku kabur. Mendapati foto empat orang perempuan sedang berebut tempat di frame lensa kamera. Ah, benarkah itu aku yang sedang tertawa, merangkul akrab, hangat, lengan seseorang di sebelahku.

Aku membalik album foto itu lagi. Masih ada aku. Teman. Sahabat. Tawa. Aku. Tawa. Sahabat. Tawa. Aku. Sahabat. Tawa. Aku. Keluarga. Tawa. Tawa. Aku. Sahabat. Keluarga. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Sahabat. Cinta.

“Gadis hilang telah kau temukan, bukan?” Suara perempuan itu lagi. “Ia tak pernah hilang.”

Aku kelu. Lidahku seakan-akan bisa patah saking kakunya.

Ya, ia selalu bahagia, tak pernah kehilangan tawa, seharusnya. Ah, ia hanya terjebak dalam pelarian, yang semakin jauh jika ia tak mencoba kembali.

“Kau tahu, tawa tak akan pernah habis meski kau cecerkan berkarung-karung. Pun jika kau buang ke samudra sekalipun,” suara perempuan itu menggema di telingaku, seperti berasal dari tempat yang sangat-sangat jauh. “Tawa tak akan habis,” katanya lagi, “karena kau punya cinta. Di sini, di tempatku. Di hatimu.”

Thursday, September 10, 2009

2




“Masih jadi favoritmu, kan?” tanyamu lagi, sebelah tanganmu menarik turun selimut perca tua hingga menutupi kakimu yang telanjang. Bersandar pada kursi kayu yang warnanya sudah memudar, melapuk—ah, terlalu lamakah aku pergi. Waktu kutinggalkan, warnanya belum sepudar ini, bukan? Kau menyesap minumanmu dengan santai. Kenapa aku tak bisa relaks sepertimu. Atau, kau semakin lihai menyembunyikan emosimu.

“Masih,” sahutku, lagi-lagi tersenyum, mencoba membuat kau tak menyadari perasaan tidak nyaman yang bersarang sejak aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahmu ini, rumah kita—dahulu. Bahkan, aku merasakan jari-jariku kaku, tiba-tiba tak nyaman dalam bentuknya.

Dalam diam, aku ikut menyesap pelan cokelat hangat itu, takut-takut. Dan, aku tahu aku akan merasakan kembali sensasi yang sama—jika tidak, aku tidak akan pernah membuat diriku fobia pada minuman ini. Memaksa diri fobia, tepatnya. Kau tahu, aku suka cokelat hangat seperti ini. Terlalu suka. Cokelat hangat yang kau buatkan dalam mug besar yang selalu kita beli dua, dengan warna yang sama. Untukmu dan untukku. Dan, kau ingat, kita selalu bertengkar, merasa mug kita selalu tertukar. Ya, aku tahu, saat kita telah lama memiliki sesuatu, bahkan, hanya dengan melihat kelebatannya, kita akan menyadari ikatan tak terlihat di antara kita dan sesuatu itu.

Dalam diam, aku menelan pelan manis sempurna yang kau racik. Tetes-tetes cokelat hangat yang membasahi kerongkonganku mengusik tumpukan kenangan yang kupurukkan di sudut hati, semua mendesak begitu saja, mencecerkan kembali percakapan kita sebelum aku memutuskan pergi. Menjauh. Darimu.

“Mau memberiku kesempatan untuk itu?” Kala itu, kau meraih kedua tanganku, menyembunyikannya di genggaman tanganmu yang lebar, yang hampir bisa menghilangkan seluruh jemariku di sana. Aku hanya diam, menghindari tatapanmu yang entah kenapa terlihat begitu jauh, ke masa lalu. Jangan rangkaikan keping-keping kenangan itu di matamu. Kau tahu, aku orang yang terlalu mudah menyerah pada apa saja yang bisa membuatku terharu.

1

Kita duduk di depan perapian itu. Hangat cokelat dari mug berwarna cokelat tanah itu terasa di sela-sela jemariku.

“Kenapa tak diminum?” tanyamu saat menyadari aku hanya mempereratnya di genggamanku.

Aku mengedikkan bahu, tersenyum.

Wednesday, September 02, 2009

"hari masih hujan," katamu




"siapa kau?" tanyamu.

aku terdiam. jangan bertanya lagi, tak bisakah kau cukup mempersilakanku duduk di teras rumahmu ini, hanya sekadar berteduh.

"siapa kau?" tanyamu lagi, mengulang dengan diksi yang sama.

aku menggigit bibirku, menahan cairan hangat yang menggantung begitu saja--sial!
dan, tiba-tiba, pikiran itu datang begitu saja. aku berbalik badan, berjalan.

"hei, hari masih hujan," katamu.

aku tetap melangkah. mempercepat langkah, bergegas meninggalkan kau dan teras rumahmu yang hangat--yang aromanya begitu kukenal. entah karena apa. mungkin, aroma itu yang kita pilin jadi tali ikat di kelingking kita. yang akan mengembalikan langkah pada mula. mungkin saja.

"hei, kau, kau...." suaramu hilang di antara hujan. "siapa kau?" samar masih kudengar.

ah, cairan hangat itu jatuh, berbaur di antara hujan. untunglah. jadi, kau tak tahu siapa aku dan tak akan menjulukiku lelaki yang menangis dalam hujan.

"hei, siapa kau?" suaramu dibawakan hujan ke telingaku. ah, itu lagi yang kau tanya.

jangan tanyakan lagi. aku pun tak mengenali siapa yang menjelma diriku kali ini. yang kutahu, dia selalu tak bisa menahan air matanya. dan memilih bergegas jauh, menghilang, berharap air matanya juga menjelma hujan--yang hanya turun, tanpa jutaan sesak yang memburu dalam helaan napas. ia berharap air matanya seperti hujan.

dan sekarang, tiba-tiba saja aku berharap menjelma hujan. dan menghilang.

Wednesday, July 29, 2009

Wednesday, July 22, 2009

(yang seharusnya)



percakapan-percakapan panjang tersimpan di sepanjang jalan di kota itu.
terselip di setiap aspal yang menghitam, di antara malam.
yang selalu kita buka. lagi. dan lagi.
dan seperti hansel dan gretel, kita juga mencecerkannya, percakapan-percakapan itu berserakan--berharap kita tak tersesat ketika perjalanan terlalu jauh.

kini,
perjalanan semakin jauh. dan berhenti pada arah yang kosong.
kita berdiam, tak menemukan akhir.
untuk kembali, tak kita temukan juga satu pun ceceran percakapan kita--pun hanya satu hurufnya.
mungkin telah habis dimakan deru yang semakin mengganas di jalanan kota itu.

kata-kata memilih tak memihak kita, bosan untuk saling berlari menuju satu warna makna.
seperti inikah akhirnya?
(entahlah--kataku, sahutmu)
ya, memang seperti inilah akhir, (yang seharusnya).



22/09

i owe the picture!

Tuesday, July 21, 2009

selamat pagi

pagi cukup bersahabat. saya dan gita tak terlalu terburu-buru berangkat kerja. namun, sayangnya, angkot yang kami naiki dihuni penumpang yang parfumnya sangat-sangat tidak bersahabat. menyengat, bahkan membuat kepala saya--dan gita--pusing. saya jadi salah tingkah, hadap sana, tengok sini. jendela angkot sudah saya buka lebar-lebar. tetap saja, aroma parfum yang sangat-sangat menyengat itu seakan-akan menyergap saya. tampaknya, bau itu berasal dari cowok di sebelah saya, yang berpakaian cukup necis.

"parah lo, wied," komentar gita yang melihat saya sampai-sampai menutup hidung-- diam-diam--menghadap ke luar jendela.

sebenarnya, gita juga merasakan hal yang sama, tapi untungnya dia duduk di pojokan. saya persis di sebelah sumber bau bikin enek itu. hiks. =(

saat melihat penumpang lain. kok tampaknya mereka tenang-tenang saja, ya? tapi, sumpah, baunya menyengat banget!--tanya aja gita, kalau nggak percaya.

saya berharap orang itu segera turun biar udara pagi yang cukup bersahabat ini bisa saya hirup dengan bebas. sayangnya, dia nggak turun-turun, malah kami yang turun lebih dahulu.

"haaah!" saya menghela napas dalam-dalam, setelah tadi cukup lama menahan napas berkali-kali.

heran, cowok itu juga kayaknya nggak merasa bersalah sama sekali karena telah merusak atmosfer angkot. bahkan, baunya seakan-akan masih menempel di baju saya. saat menghirup napas, bau itu juga seakan-akan masuk ke dalam paru-paru saya. huuh!

harusnya, tadi saya bilang ya, "ketumpahan minyak wangi, mas?"
hehe, sayangnya saya nggak berani. ;P

angkot kedua penuh. ada bau yang cukup menyengat juga, tapi nggak terlalu.
lalu, angkot ketiga yang saya dan gita naiki juga tidak bersahabat. penumpangnya cuma satu, dan sedang asyik merokok. dan, ah, bau parfum mas-mas yang tadi bercampur dengan asap rokok saat saya menghirup napas. hhfff!

hehe, sudahlah. selamat pagi. ^_^

Thursday, July 16, 2009

menjauhi senja



perempuan itu tersenyum, menatap ke sekeliling tempat ia berdiri. mendapati sekitarnya bukan mewarna pelangi, seperti yang selama ini ia pinta. pastel--ah, aroma warna itulah yang telah lama menyatu di dirinya. dia (tak) tahu.

"ah, betapa Kau perahasia. tak terselip dalam satu mimpi pun," bisiknya menatap kanvas langit yang diperciki senja.

"apa lagi rahasia-Mu? aku akan menunggu." hatinya melagu, bahagia memerciki pipinya perlahan-lahan.

perempuan itu beranjak, menggamit aroma pastel.

"aku menunggu," katanya, lalu berlari menjauhi senja.

ia menunggu. tak terpaku.


gambar di sini!

Monday, July 13, 2009

Sinetron?



Terkadang, saat didera masalah, kita merasa yang paling susah, yang paling menderita. Mungkin, itu pun yang saya rasakan. Bahkan, terkadang, hal itu membuat kita kehilangan akal sehat, ingin bersiteru dengan dunia yang seakan-akan tidak adil dalam membagi kasih sayangnya.

Saat seperti itu, kita pun merasa (wajib) didengarkan. Namun, ternyata saat seperti itu, kita pun harus “mendengarkan”.

Saya sudah lama tidak bercakap dengan perempuan ini karena kami jarang bertemu.

Lalu, beberapa waktu lalu, percakapan kami mengalir. Perempuan kurus ini seusia saya, sudah menikah dan punya dua anak. Anak perempuan dan laki-laki. Mereka tinggal dekat sebuah kampus yang cukup terkenal di wilayah Jakarta Barat.
Percakapan itu berawal dengan bertanya kabar, pekerjaan, berlanjut dengan kapan saya akan menikah, lalu tentang “hidup”.

“Ya, keluarga kami tampaknya harus pindah dari rumah ini,” kata anak perempuan dari empat bersaudara ini. Saya menyayangkan, bukankah sayang jika menjual rumah yang berada di lokasi yang cukup strategis itu.

“Rumah Pak Aji yang di sebelah mau dijual, jadi nanti kami bingung mau lewat mana keluar,” jelasnya. Ya, rumah perempuan ini berada di pojok, jalan keluarnya lewat teras rumah Pak Haji yang meninggal belum lama ini, menyusul istriya yang telah meninggal terlebih dahulu. Anak-anak Pak Haji sudah tidak tahan untuk segera membagi warisan mereka. Cara paling mudah adalah menjual rumah itu, kemudian membagi-bagi uangnya.

“Kalau rumah itu dijual, rumah kami ini tidak punya jalan keluar lagi,” lanjut perempuan itu dengan mata menerawang.

“Lho, bukannya bisa menjebol tembok teras depan?” tanya saya, berpikir cepat mencari solusi—yang tidak mungkin tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Tembok yang tidak terlalu tinggi itu memisahkan rumah perempuan ini dengan deretan rumah kontrakan yang ada persis di depan rumah ini, dipisahkan dengan jalan kecil kira-kira sepanjang 10 meter. Jalan itu lebih praktis untuk dijadikan jalan keluar juga untuk rumah ini. Tinggal belok kanan dan jalan sekitar tujuh langkah, jalan itu sudah bertemu dengan jalan yang agak besar, tapi masih berupa gang juga.

Perempuan itu tertawa. Miris. “Kalau bisa begitu, kami tidak perlu bingung dan tidak perlu juga Pak Aji dulu berbaik hati ‘merelakan’ teras rumahnya kami lewati setiap hari.”

Saya mengeryit tak mengerti.

“Iya, dulu, kenapa jalan keluar rumah ini lewat teras Pak Aji, itu karena yang punya kontrakan di depan nggak memperbolehkan kami menginjak ‘jalan’-nya,” kata si perempuan.

Saya ternganga, tak percaya. Lho, yang punya rumah itu kan nggak rugi apa-apa. Toh, jalan itu sudah dia buat juga buat jalan bagi penghuni kontrakannya. Dan, kalau menyusut pun, palingan hanya berupa jejak-jejak kaki di jalan bersemen itu. Itu juga baru beberapa (ratus) tahun kemudian, kali! Ah, saya emosi mendengarnya. Pelit sekali, sih! Saya nggak habis pikir. Jadi, itulah alasannya kenapa tembok yang dijejeri beberapa pot tanaman ittu dibangun di teras kecil rumah perempuan ini.
“Yah, Papa juga bilang lebih baik kami pindah saja,” lanjut perempuan itu, “sekalian cari tempat usaha baru.”

“Memangnya, kontrakan warung yang dekat kampus itu udah mau habis, ya?” tanya saya.
“Tiga tahun lagi. Sekarang, baru jalan tahun pertama,” jawabnya. “Tapi, kalau nyambung lagi nanti, kami sudah tidak sanggup. Tiga puluh juta setahun dan harus dibayar langsung tiga tahun.” Ia terdengar kehilangan harapan. “Harusnya, lima puluh juta. Tapi, karena kami minta kurang, yang punya minta supaya warung itu dibagi tiga. Jadinya, yang kami dapat sangat kecil.”

Saya terdiam. Dulu, sebelum daerah kampus itu belum terlalu ramai—sebelum internet berkembang pesat--kontrakan warung itu baru lima juta rupiah.
“Ah, itu juga kami mencoba bertahan karena belum dapat tempat usaha yang baru,” katanya.

“Kenapa?” tanya saya.

“Sekarang, sikap yang punya udah lain. Nggak kayak dulu.”

Ya, dulu, saya ingat, mereka sudah seperti saudara. Antar-antaran makanan. Ibu perempuan ini sangat kompak dengan ibu yang punya rumah. Mengobrol sepanjang hari, belanja bareng, dan segala hal tampak harmonis.

“Mungkin, karena sekarang, mereka sudah punya banyak uang,” ucap si perempuan, bukan bernada iri. “Dulu, ibu yang punya rumah betah ngobrol lama-lama dengan Mama di dapur,” katanya, “tapi, dulu, ujung-ujungnya, ibu itu minjam uang. Sekarang, mereka nggak perlu pinjem uang lagi.” Perempuan itu semakin miris.

Berdirinya sebuah kampus bonafit di daerah ini, dan juga melebarkan sayapnya di tempat yang tak jauh dari daerah ini memang membawa rezeki besar buat yang punya tanah dan kontrakan, biasanya orang asli yang punya. (Meski mahasiswa kampus ini juga kerap dipalak oleh orang-orang asli sekitar situ). Harga kontrakan jadi puluhan juta per tahun. Kosan juga jutaan sebulan. Dan, ibu yang punya kontrakan tempat usaha keluarga perempuan ini punya sekitar 10 tempat usaha dan punya kosan sekitar 50 kamar. Sebuah keluaga yang terdiri atas seorang ibu dan empat orang anak yang sudah berkeluarga itulah pemiliknya.

“Kami harus segera pindah,” sambung perempuan ini. Saya mengangguk-angguk. “Sedih banget waktu ngeliat orang toko yang di paling ujung pindah. Mereka diusir,” kata si perempuan. “Yah, mereka tidak sanggup bayar lima puluh juta dan mesti langsung tiga tahun, jadi mesti pindah. Mereka minta setahun dulu, tapi nggak boleh.”
“Emangnya gak bisa kompromi dulu?”

“Yang punya rumah cuma bilang, ‘Kalo nggak sanggup bayar, ya pindah aja.’ Cuma itu kata-kata mereka.” Si perempuan menarik napas. “Nggak tau buat apa, uang puluhan juta cepet banget abisnya ama mereka. Kayaknya nggak cukup-cukup.”

Ya, bukankah uang, harta, hanya cukup bagi mereka yang mencukupkan diri? Saya sedih mengingat jalinan hubungan para pemilik usaha—termasuk keluarga perempuan ini--dengan pemilik kontrakan itu, sudah puluhan tahun. Sejak daerah itu masih sepi dan kampus itu belum begitu terkenal. Ah, uang.

“Bahkan, anak si pemilik kontrakan ngeliatin setiap hari waktu yang paling ujung itu pindah. Plus ocehan, ‘Lama amat, sih, pindahnya?! Lagian, pake motor mindahin barang-barangnya. Gimana nggak lama. Barang banyak begitu!’ Kan, emang barangnya banyak, ya. Namanya juga udah bertahun-tahun tinggal di sana. Tapi, klo malem, mereka pindahin pake mobil. Kalo siang kan macet, jadi pake motor.” Perempuan itu menjelaskan. Tapi, ternyata, yang punya kontrakan itu tidak peduli. Mereka tidak tahan untuk menawarkan pada pengontrak baru, dan tentu saja tidak sabar menerima uang kontrakan. U.A.N.G.

Ah, kenapa saya seperti sedang mendengar cerita sinetron? Ternyata, sinetron nggak bohong-bohong amat, ya? Ataukah, penontonnya yang terlalu menghayati ceritanya sehingga tidak bisa membedakan lagi di dunia mana mereka berada?
“Yang ujung itu bilang, ‘Anak almarhum Pak A*** sudah pintar-pintar ya sekarang,’ dengan maksud menyindir. ‘Iyahlah, kan disekolahin, ya, pinter,’ jawab mereka.” Perempuan ini tertawa kaku.

Saya tersenyum miris.

“Harusnya, orang itu bilang, ‘Iya, dulu, waktu disekolahin, minjem duitnya sama saya. Lupa ya?’” kata si perempuan dengan emosi. “Sayangnya, mereka nggak bilang.”
Ya, dahulu, waktu keluarga kaya itu baru ada tiga kontrakan kios, mereka sering kas bon. Setelah penyewa membayar kontrakan selama beberapa tahun, mereka juga akan meminjam uang lagi. Untuk keperluan ini dan itu. Para penyewa itu pasrah dan meminjamkan uang—bahkan, terkadang saat sebenarnya mereka pun sedang tidak punya uang. Tapi, Yang Berkuasa meminta, jadi apa daya.

Lalu, sekarang, mereka diusir oleh Yang Berkuasa dan kembali lagi mereka pada kondisi “apa daya”. Tak boleh ada kenangan masa lalu. Tak boleh ada ikatan “bertetangga” bertahun-tahun.

“Kalau yang sebelah warung saya, dia lebih beruntung. Utang ibu itu sudah sangat banyak dari dulu. Jadi, kontrakan mereka sudah dibayar sampai 2013 dengan hitungan uang kontrak waktu masih lima juta per tahun. Tapi, kalau sudah habis, nanti mereka juga mesti bayar lima puluh juta per tahun,” jelas perempuan itu tentang warung di sebelah tempat usahanya.

Hati saya mencelos. Pendapatan warung-warung itu tidak akan bisa menutupi biaya kontraknya. Begitu banyak pesaing dan begitu banyak yang lebih modern.
“Makanya, kami pelan-pelan mau cari tempat usaha lain. Yang di sini juga cuma lepas makan sekarang. Nggak tahu nanti.” Perempuan itu mengelus kepala anak laki-lakinya yang baru berusia tiga bulan. “Keadaannya udah nggak enak. Ibu itu aja udah nggak mau negor Mama. Kalau lagi bareng di tukang sayur, juga diam-diaman. Kalau disapa, buang muka.” Dia tertunduk.

Saya terbayang hubungan harmonis mereka dahulu. Miris.

“Entahlah. Sama saudara-saudaranya juga begitu. Nggak tau kenapa, dia makin sombong sejak naik haji.”

Saya kaget. Apa saya salah dengar. Ah… dunia. Mau jadi apa kita?

“Mudah-mudahan, bisa dapet tempat yang lebih bagus,” kata saya, “Allah nggak akan menutup rezeki umat-Nya yang mau berusaha.” Saya menghiburnya--cuma hal itu yang bisa saya lakukan, sayangnya.

Dan, selesaikan percakapan itu. Membicarakan orang. Membicarakan diri sendiri. Membicarakan hidup.

Ah, permasalahan saya, dilema saya belum seberapa dibandingkan mereka. Masihkah saya mengeluh?

kau pernah bilang




bukankah kau pernah bilang cerita kita hanya sampai hujan berhenti
sampai rintik menyerah pada matahari yang merona bertemu senja
dan, saat itulah cerita kita sudahi
saat anak-anak hujan melambaikan jari-jari mungil mereka pada dedaunan hijau
beriang-riang berlari ke ibu mereka yang bercengkerama dengan angin pantai

dan, kini, hujan telah berhenti
anak-anak hujan telah kembali ke rahim ibunya, yang membiru dicumbui langit
namun, mengapa kita masih harus duduk di sini?
masih saja bercerita?

aku pulang saja. ya?
kau diam--ingkar pada kata-kata

--ah, jika saja bukan aku yang kau jadikan tokoh cerita itu, aku sudah pulang sejak tadi, saat hujan telah berhenti


gambar di sini!

Wednesday, July 01, 2009

Penasaran?




Ssst... buat kamu yang mengikuti Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)Lulu, pasti menunggu pengumuman pemenang dengan penasaran, kan? hehehe...

Supaya rasa penasarannya hilang, yuk kita lihat nama-nama pemenang di bawah ini.

1. Nia Nurdiansyah (Semarang): “Me, My Midas, &Our Little Zoo”
2. Ryu Tri (Bekasi): “Saingan Sama Ayam”
3. Nia Chintiya R: (Kalimantan Timur) Proyek Kakaktua Memikat Kavi
4. Aditya Renaldi: (Bandung) “From Playboy to Girlfriend”
5. Sutrisnawati (Jakarta Utara): “Antara Aku, Udin Kura, dan Gebetan Rahasia”

10 Pemenang Favorit
1. Andhika Wandana (Bandung): “KucingCang”
2. Agustina Wulandari (Jakarta Selatan): “Ketika Kucing Sakit Hati”
3. Desfirawita (Pariaman, Sumbar): “Love’s Cat”
4. Juwita Purnama sari (Bekasi): “Nuriku, Diaryku”
5. Anis Arviani (Magelang): “Suka Manis”
6. Ningrum Setya (Jakarta Selatan): “Buffey—Hamster Pembawa Cinta”
7. Rahmat Nugroho (Depok): “Kamu Semanis Ikan Mas Kokiku”
8. Graysia W. (Riau): “Cinta Bersemi di Ruang Tunggu Dokter Hewan”
9. Riana Setyawati: “Si Cokelat, Hamster Pintar”
10. Devalina R.: “Me, Luffy, and The Love”


>> Lima (5) cerita paling menarik akan mendapatkan @Paket Buku Senilai RP150.000 + satu buah kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

>> Sepuluh (10) cerita favorit akan mendapatkan @kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu + tas keren GagasMedia.

Selamat ya dan terus berkarya!

* Urutan tidak menunjukkan peringkat
** Hadiah akan dikirim ke alamat pemenang paling lambat dua minggu dari pengumuman

gambar di sini!

Wednesday, June 17, 2009

aku dan matahari bertengkar





waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

("Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari"--Sapardi Djoko Damono)



namun, kali itu, aku dan matahari bertengkar; tak percaya ia yang ciptakan bayang-bayang.

Gunung Ciremai, 2007

Tuesday, June 16, 2009

Dear....




Dear all,
Buat para pembaca Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, makasih, ya udah beli dan baca--dan suka "ceritanya" Lulu. hehe.

Terima kasih juga buat peserta yang udah berpartisipasi dalam “SAYEMBARA KUCING MELULU & CERITA CINTA (ME)LULU; Antara Kamu, Gebetan, dan Peliharaan.” Ada banyak naskah yang masuk ke meja redaksi GagasMedia, dan mohon maaf kami terpaksa mengundurkan pengumuman pemenang.

Tapi, pemenang lomba tersebut pasti akan diumumkan, yaitu pada 29 Juni 2009. Pengumuman resminya dapat dilihat di kandang gagas.

So, Check it back, ya!

Sekali lagi, makasih, ya, buat partisipasinya. (^_^)


Buat yang merasa nggak suka kucing, jangan khawatir. Deborah A. Edwards, D.V.M., bilang, "People that don't like cats haven't met the right one yet."

So, mungkin, langkah pertamanya adalah pergi ke toko buku, beli, lalu baca Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu--promosi melulu :P. Jangan takut kalau kamu-kamu merasa "mulai" mencintai makhluk lucu ini. Then, temukan "the-right-one"! ^_^

Heart you all.

--Iwied--



gambar di sini!

Monday, June 15, 2009

November Itu--Hujan Turun Menderas





Membaca surat Ibu Prita Mulyasari—dan juga melihat berita yang wara-wiri, saya jadi ingat kejadian yang menimpa kakak saya, sekitar dua tahun yang lalu. Kakak saya masuk rumah sakit dalam keadaan tidak sadar, tetapi pihak rumah sakit menyatakan bahwa tidak ada ruang ICU yang kosong. Akhirnya, kakak saya ditempatkan di Ruang HiCare. Di ruangan ini, tidak ada alat bantu pernapasan otomatis. Bantuan pernapasan dibantu dengan alat pompa manual.

Saya begitu ingat kejadian saat kondisi kakak saya masuk fase kritis. Mungkin, saat itu belum terlalu malam, saya dan sahabat saya baru saja makan malam. Saat baru mulai makan, ponsel saya berdering, mengabarkan kakak saya kritis. Saya dan sahabat saya segera berlari-lari menyeberang jalan ke arah rumah sakit itu.
Sesampai di ruangan, semua wajah tegang. Seorang dokter muda—yang ternyata masih dokter koas—tampak berkeringat memfungsikan alat pompa. Bingung mencari detak jantung di dada kakak saya, detak yang harus dipancing dengan tangan.

Setelah masa kritis itu lewat, alat bantu pernapasan tersebut (yang dipompa) tidak boleh dilepas, harus terus dipompa. Kalau tidak, detak jantungnya berhenti. Malangnya, yang diminta memompa adalah keluarga pasien, termasuk saya, yang tergagap-gagap dengan alat itu—takut salah pegang, takut salah pompa.

Malangnya lagi, alasan suster jaganya adalah dia capek. Jadilah saya beradik kakak yang gantian. Bukannya kami tidak mau—kami mau melakukan apa saja asalkan saudara perempuan kami yang punya tiga anak itu (saat itu, anak-anak itu berusia 16 tahun, 10 tahun, dan 3 tahun) sehat kembali. Tapi, kami awam dengan alat itu dan takut memfungsikannya. Selain itu, kalau bisa sendiri, kenapa juga kami harus ke rumah sakit yang cukup besar di kawasan Jalan Raya Fatmawati itu? Kami butuh pertolongan.

Mengingat kejadian itu, begitu memilukan hati. Saat itu, saya ingin mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang sepertinya tidak “menganggap” hanya satu nyawa—tetapi, kami hanya berserah pada takdir. Mungkin, “hanya” satu nyawa bagi mereka, tetapi bagi kami, dia bukan “hanya”. Dia seorang ibu, seorang istri, seorang kakak, seorang adik, seorang anak, dan ... ah, terlalu banyak jika disebutkan satu per satu.
Dan, saat membuka-buka file lama di komputer, saya menemukan catatan panjang saya tentang kisah itu, catatan yang saya buat pada November 2007, setahun setelah kejadian itu.

November Lagi

November. Rinai-rinai hujan di bulan ini membawa kembali berbagai cerita. Juga cerita tentangmu, Ni.

Rasanya, semua masih begitu jelas terjalin di sudut teraman benakku. Semua masih ada di sana.

Malam itu, aku mendapat SMS kabarkan kau dirawat di rumah sakit di bilangan jalan raya Kebayoran Lama. Tiba-tiba saja, pikirku. Selama ini, kau hanya mengeluh sakit pinggang. Kami katakan, kau terlalu bekerja keras. Itu hanya sakit karena kecapaian. Ternyata, sakit yang tak berkesudahan. Datang. Pergi. Datang. Dan, pergi lagi. Kau sudah sempat ke dokter. Berobat jalan. Tapi, sakit itu tak hilang-hilang juga. Dan, pikiran macam-macam muncul di pikiranmu. Tapi, kau, ingat, kami semua membantah. Kita tahu itu hanya akibat terlalu banyak kerja. Kau memang pekerja keras. Tidur malam tidak pernah kau tebus dengan mengambil waktu pagi—tidak sepertiku. Aku ingat, saat menginap di rumahmu, kau tidak pernah mengusik tidurku yang terlalu berlebihan kadang. Bahkan, saat bangun, aku telah menemukan segelas teh hangat dan juga nasi uduk di meja.

Sakit pinggangmu pindah-pindah, ceritamu. Tapi, kami semua merasa, itu karena kau terlalu memikirkan rasa sakit itu. Bahkan, karena aku sibuk dengan kerjaku, aku lupa tentang sakit pinggangmu itu. SMS itu mengagetkanku. Kau dirawat di rumah sakit. Kebetulan, hari itu, aku libur kerja—izin sakit selama tiga hari. Esok paginya, aku langsung menuju rumah sakit itu. Bahkan, di depan rumah sakit, aku sempat menelepon ke ponselmu. Mengonfirmasi nomor kamar. Aku melihatmu duduk di tempat tidur. Pucat. Tapi, aku merasa lega, wajah sakit biasa. Di sana, sudah ada kakak perempuanku yang lain. Malam itu, aku disuruh jaga. Untunglah, izin sakitku masih dua hari.

Malam itu, kau tidak bisa tidur. Tengah malam kau terbangun. Batuk-batuk. Dan, bahkan, semua makan malam—yang serbasedikit kau makan—keluar lagi. Kau muntah-muntah. Suster yang aku panggil datang setelah semua makanan di perutmu habis. Kau juga mengeluhkan sakit kepala. Kau sampai memegangi kepalamu. “Sakit, sakit,” katamu. Sakit kepala hebat menyerangmu. Aku kebingungan. Hanya bisa memintamu menyebut-Nya; dan aku segera minta obat pada suster. Lalu, suster itu memberiku sebutir Panadol—Entah karena tengah malam atau mereka tidak tahu seberapa hebat sakitmu itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Yang kutahu, kau sangat butuh obat.

Badanmu juga panas. Suster menyarankan aku untuk mengompresmu. “Bisa ngompres?” tanyanya padaku. Aku seperti orang bodoh di sana. Kelimpungan dan segera mengangguk. Tengah malam itu, para suster itu memberiku sebuah wadah dan handuk kompres. Lalu, mereka berlalu. Aku kebingungan. Lho, bukankah mereka susternya? Ah, sudahlah, aku cuma ingin panasmu turun dan sakit kepalamu hilang.

Malam itu, kita hampir tidak tidur. Aku segera terjaga saat suster-suster itu mengantarkan makan pagimu. Saat diberi obat, aku ulangi kembali tentang sakit kepalamu. Aku minta tambahan obatnya. Lagi-lagi, Panadol yang diberikannya—obat itu juga ada di warung-warung rokok pinggir jalan.

Malam itu, aku masih berjaga. Gita, sahabatku, datang dan menemaniku. Batuk-batuk dan sakit kepala hebatmu datang lagi malam-malam.

Esoknya, Ni Nur—saudara perempuan kita yang nomor 10 dari 12 orang saudara kandung—dan Ibu datang dari Padang. Kami menjagamu bersama. Malam itu, kau terlalu mengkhawatirkan anak-anakmu.

“Ah, Riyan, masih aja bandel,” katamu. “Puput susah banget nangkap pelajaran.” “Untunglah, Shiva dikirim untuk pengobat hati,” lanjutmu. Ya, Shiva—Cipa—itu begitu mencuri hati semua orang, seperti berkah dari arti namanya, pengobat hati.
“Anak segede Riyan emang lagi masa-masanya ngebantah, Ni,” kataku. “Puput juga, asal rajin les, pasti juga bisa. Waktu SD, Iwied juga gak pernah belajar, Ni.” Aku hanya bisa menghibur. Ketakutan Uni akan anak-anaknya terlalu berlebihan, menurutku. Namun, begitulah ibu, selalu punya ketakutan yang berlebih untuk anaknya, seperti rasa sayang yang juga pasti selalu tak pernah kurang.

“Put, Put, bawa kue kaleng ini pulang. Bang Iyan suka,” panggilmu pada Puput, putrimu yang masih duduk di kelas lima SD itu, saat anak itu hampir mencapai pintu keluar. Ah, begitulah kasihmu, sang ibu.

Aku hanya bisa menemanimu hingga hari ke-3. Selanjutnya, aku hanya menelepon. Pekerjaan menunggu di kantorku. Seminggu kemudian, yang aku tahu, kau sudah pulang. Kau masih pucat, tapi suasana rumah sakit juga tidak akan membuatmu ceria. Hanya perlu sentuhan rumah. Uni Nur, yang kebetulan juga seorang dokter, pun mengiyakan saat kau ingin pulang ke rumah. Tiga hari berikutnya, Ni Nur kembali ke Padang. Pekerjaan menunggunya. Ibu tinggal untuk menjagamu.

Seminggu kemudian, aku—bersama Gita—baru bisa menjengukmu lagi. Aku membawa sekotak donat dan foto wisudaku. Ada juga foto kau dan Cipa, bocah tiga tahunmu itu. Senyummu dan senyum Cipa dalam foto itu seakan abadi—begitu indah sehingga aku merasa perlu untuk memperbesar dan membingkainya.

Kondisimu masih lemah dan banyak diam. Kau tidak mau makan donat yang kubawa. Tapi, saat aku membolak-balik foto wisudaku, kau bilang, “Coba Uni liat,” ucapmu pelan. Apakah yang kau lihat saat itu? Mungkin, tak percaya bahwa adik yang dulu selalu kau cucikan bajunya dan kau bilang, “Mandi sana, badanmu bau,” sudah beranjak melangkah. Ah, Uni, kau selalu ada untukku sejak dulu. Semoga kau cepat sembuh, aku hanya bisa ucapkan itu untukmu saat itu.
***

Malam itu, aku diberi kabar, kau masuk rumah sakit lagi. Saat itu, aku akan bersiap-siap naik gunung bersama teman-teman, melantik anggota baru organisasi pencinta lingkungan kampusku dulu. Aku sempat ragu. Namun, aku pikir—dengan egoku sendiri. ah, bodohnya aku!—kondisimu pastilah sama dengan waktu dulu. Wajah orang sakit biasa. Lalu, aku memutuskan untuk tetap ikut. Tiga hari ponselku tidak aktif. Dan, ternyata itu membuat panik semua orang rumah. Saat sudah turun dan dapat sinyal, aku langsung menelepon Elok—saudara perempuan kita yang ke-8. Dari suaranya, aku tidak terlalu merasa bersalah ikut naik gunung. Sudah ada ibuku dan Ni Nur di sana. Aku merasa lega.

Saat naik mobil omprengan untuk pulang, aku mendapat telepon dari Ni Nur.

“Wid, di mana? Kok HP-nya nggak bisa dihubungin? Kirain ada apa-apa sama Iwied.”

“Kemaren lagi keluar kota, ni. Gimana Ni Ros ni?” tanyaku.

“Iwied cepetan pulang. Uni Ros udah nggak sadar …. Iwied juga bikin khawatir aja,” nada suara Ni Nur marah.

Aku tersentak kaget. Belum lama, suara Elok baru saja membuatku lega. Namun, kabar yang ini.... Oh, Tuhan, sekarang, rasa bersalah itu menyergapku. Sangat. Aku segera minta maaf pada Ni Nur, sambil menyembunyikan tangisku di depan anggota baru organisasi.

Aku sudah sampai di rumah sakit besar di bilangan Jalan Raya Fatmawati itu. Aku menunggu di luar. Di dalam ruangan itu sedang ada tiga orang keluarga kita. Kami harus bergantian. Aku resah melihat orang harus memakai pakaian khusus untuk masuk. Begitu khususkah ruangan ini?

Saat memasuki ruangan itu, di sebelah kiriku, seorang pasien tampak sangat parah. Laki-laki tua dengan selang di mana-mana setiap bagian tubuhnya. Lalu, dibatasi dengan tirai kain, di sebelahnya, kau tampak terbaring. Dan, aku menangis. Benarkah itu kau, Ni? Tak kukenali lagi wajahmu. Selang-selang pun telah meraja di setiap tubuh dan wajahmu. Ibu sedang mengelus-elus kakimu. Aku? Aku hanya terpaku. Bagaimana mungkin kau bisa seperti ini? Diam disakiti selang-selang itu.

Ruang HiCare—kata mereka menyebut tempat kau dirawat. Seharusnya, kau dirawat di ruang ICU. Tapi, ruang itu penuh hingga kau tidak bisa mendapatkan perawatan yang sewajarnya. Aku tidak tahu. Kata seorang temanku, saat saudaranya dirawat, mereka juga bilang ruang ICU penuh. Entah siapa yang telah mem-booking tempat itu. Atau, entah siapa yang berani membayar tinggi untuk berada di tempat itu. Kami—yang hanya orang biasa—tidak bisa ke sana.

Aku masih percaya kau akan sembuh. Dan, aku jadi benci pada Ni Nur yang selalu menangis. Seharusnya, dia jadi pegangan keluarga kami. Jadi dokter yang selalu memberikan senyum dan meyakinkan kami akan selalu ada harapan. Tapi, Ni Nur malah selalu menyeka ujung matanya.

Namun, semua jadi berubah. Di ujung lorong rumah sakit itu, Ni Nur menceritakan segalanya. Aku hanya bisa menangis. Tapi, aku masih percaya kekuatan doa. Kau akan sembuh. Belum saatnya kau pergi, Ni. Namun, entah kenapa, kanker yang telah mengerogoti otakmu itu menggangguku dan tidak membiarkan aku dapat berdoa dengan khusyuk.

Kanker otak. Katanya, dokter baru menemukan virus itu menjalari otakmu. Begitu cepatnya. Begitu cerobohnya. Sebelumnya, hasil CT-scan dari rumah sakit internasional yang ada dekat stasiun teve swasta di Kebon Jeruk itu dinyatakan normal. Tidak ada apa-apa.

Namun, nyatanya, hasil itu dapat berubah dengan cepat—dengan waktu singkat, hasil diganosis yang—katanya—normal itu menyatakan informasi lain, dan para dokter itu baru menemukannya. Ada sesuatu yang telah menggerogoti otakmu. Menjalar dari pinggang, lalu ke otakmu. Ah, pantas saja kau katakan kepalamu begitu sakit. Dan, dengan baik hatinya, suster di rumah sakit yang sebelumnya memberikanmu Panadol, obat berlogo biru itu. Namun, aku tetap percaya kau akan sembuh. Toh, baru saja semua diagnosis itu dapat berubah-ubah, bukan? Bahkan, dalam waktu singkat pula.

Saat itu, aku dan Gita sedang makan malam di seberang rumah sakit. Nasi goreng itu masih tinggal setengah saat ponselku dihubungi. “Wid, cepetan ke sini. Ni Ros gawat.” Dan, seperti dalam film-film, aku dan sahabatku itu berlari. Meninggalkan sendok nasi goreng yang hampir masuk ke mulut.

Di ruangan itu, seluruh anggota keluarga diminta berkumpul. Segala alat kejut telah mampir ke dadamu. Bahkan, denyut jantungmu nol. Saat itu, tidak ada dokter yang muncul. Dari curi dengar telepon sang Suster, sang Dokter bilang, bukan dia yang sedang jaga, jadi dia menolak untuk datang. Dan, saat itu, Ni, napasmu sedang berkejaran dengan nyawamu. Dan, dokter itu bilang, dia tak bisa datang karena bukan giliran jaganya—ah, tidak adakah dalam “kode etik” mereka untuk hanya “sekadar” menolong sesama yang sedang membutuhkan?

Hanya seorang dokter koas yang ada. Kak Koas—begitu panggilan suster di sana kepadanya—yang bahkan tidak begitu mengerti letak alat pompa pernapasan dengan benar. Ni Nur sempat membetulkan cara dia memegang alat itu. Masa kritis—yang telah diwarnai doa dan tangis—itu memang lewat. Namun, kau terpaksa memakai alat pompa pernapasan manual. Aku dan dokter koas itu memfungsikan alat itu sampai pagi—butuh satu orang untuk meletakkan corongnya di mulutmu dan satu lagi untuk memompa pompa—napas buatan itu—untukmu. Suster yang sebelumnya memegangi alat itu merasa tangannya pegal. Tentu saja, ia meminta keluarga pasien yang menggantikan. Memang sangat manual untuk mempertahankan detak jantung dan tekanan darahmu. Ah, semua ini gara-gara ruang ICU tidak pernah kosong!

Aku dan dokter koas itu sempat bercakap—mengisi jeda yang kosong di antara malam itu—ternyata, dia baru masuk kuliah di universitas swasta pada tahun 2000—hanya beda setahun saat aku, yang masih fresh graduate ini—masuk kuliah di Fakultas Sastra. Dan, katanya, dia baru saja koas di bagian penyakit dalam. Kepadanya nyawamu dipertaruhkan dalam masa kritis tadi—anak angkatan 2000 yang baru saja koas itu. Baru saja.

Malam itu, sang dokter sempat mampir—dengan lenggang yang begitu biasa. Dia tak tahu bahwa kita baru saja melewati saat-saat yang kupikir hanya ada dalam adegan di film-film. Dia melihat-lihat sejenak, lalu malah menanyakan riwayat penyakitmu. Bukankah itu ada dalam catatan yang selalu diperbaharui setiap pagi-sore oleh dokter dan suster yang bertugas. Lalu, kenapa dia malah bertanya kepada keluarga pasien yang bahkan sulit mengingat apa yang barusan terjadi?

Esoknya, ruang ICU dinyatakan ada yang kosong. Kau dipindahkan ke ruang ICU. Sore hari. Lagi-lagi, adegan dalam film kami lakukan. Kau dibawa dengan dengan brankar yang didorong gerakan cepat—berlari, tepatnya. Alat pompa pernapasan tetap harus dipompa dalam keadaan berlari itu. Betapa sulitnya adegan ini karena kita tidak tahu kapan “Sutradara” mengatakan “Cut!” dan aku berdoa jangan sampai “Dia” mengucapkan itu. Dan, berapa berisikonya alat itu terlepas karena arah yang berbelok-belok.

Sampai juga kita ke ruang ICU. Alat bantu pernapasan otomatis ada di situ—tidak perlu empat tangan untuk memeganginya (untunglah). Tak lama, alat itu telah terpasang dengan baik. Namun, hal itu memperburuk penampilanmu. Mulutmu seperti tercabik karena alat itu. Bahkan, saat melihatmu, Puput, putri kecilmu yang rambut panjangnya selalu kau sisiri itu, langsung menangis di ruang tunggu. Pelukan ayahnya tak dapat meredakan tangis itu. Malah, hal itu ikut melarutkan tangis sang Ayah.

Wajahmu tampak begitu kesakitan dengan alat-alat itu. Namun, keajaiban itu datang. Esoknya, kondisimu pulih. Wajahmu tampak segar. Darah mengalir di pipimu. “Uni sudah baikan,” aku mengabarkan pada kakak pertama kita, yang sedang berada di rumahnya, lewat ponsel. “Alhamdulillah,” jawabnya—kemarin, kakak laki-laki kita itu baru saja datang dan sangat jelas, air mata itu menggantung di matanya. Aku pun ikut mengucap syukur. Namun, tak beberapa lama kemudian, ternyata, aku terpaksa memberi kabar lagi.

Kejadian itu begitu cepat. Aku baru saja selesai membacakan Surah Yasin saat saudara laki-laki kita yang nomor 9 menyuruh aku dan Gita menebus obat ke apotek di seberang. Lalu, seorang kakak laki-laki kita datang dan menyuruhku segera kembali. Kami berlari. Obat telah berhasil kudapat.

Aku masuk ruangan dan segera menyerahkan obat yang barusan kutebus. “Pasien gawat,” bisik-bisik para dokter yang telah berkumpul di dekatmu, Ni. Tekanan darah turun. Detak jantung melemah. Padahal, alat otomatis membantumu. Tidak ada tangan-tangan yang pegal memegangi pompa napas buatan. Dan, mereka—para dokter itu—telah berdiskusi sejak tadi. Aku tidak tahu, ternyata, mereka telah memperkirakan kepergianmu, Ni. Obat yang kubawa masih ada dalam plastiknya. Dan, jantungmu telah berhenti berdetak…. Alat-alat itu tak lagi menangkap kehadiran segala detak. Waktu pun berhenti untukmu. Benar-benar berhenti.

“Uni sudah pergi,” ucapku lewat telepon genggam pada kakak tertua kita itu. Padahal, baru saja aku kabarkan ia tentang wajah Uni yang dialiri darah. “Sabar, sabarlah ...,” kata kakak kita itu dari jauh.

Aku mencari bahu untuk dipeluk. Dan, aku menemukan Ibu.

“Sudahlah, Nak…,” kata Ibu. “Lihatlah, Amak. Amak sudah sering dilamun ombak. Tapi, Amak tetap bertahan. Sudahlah….”

Hanya itu kata-kata Ibu. Tangisnya juga pecah. Namun, dia mencoba tetap membuatku kuat. Amak memang kuat. Tiga buah hatinya telah pergi dengan cara yang meminta air mata untuk tumpah.

Belum lagi, kepergian Bapak… dan banyak lagi kepergian yang telah disaksikan Amak. Dan, sekarang, Amak tetap berdiri dengan tangan yang mendingin. Dinding menyangga tubuhnya yang merapuh. Air matanya tak tampak. Entah pada kepergian yang mana air matanya itu habis.

Di luar, tangis Puput seakan-akan menembus sampai ke ruang tempat kau tutup matamu, Ni. Dan, aku tak bisa membayangkan wajah bingung Cipa—yang saat itu sedang senang-senangnya bernyanyi “Citak-Citak Dindinding” sesuai lafal lidahnya—saat tak menemukanmu lagi di pagi hari saat dia terjaga. Dan, aku tak bisa membayangkan reaksi Riyan yang saat ini masih berada di sekolahnya.

“Pukul 14.05,” kata dokter, “saya nyatakan pasien meninggal dunia,” lanjutnya.

Ah, seadainya dapat memilih, aku tidak mau jadi tokoh dalam cerita ini.

Ini terlalu sedih untuk menjadi akhir cerita.

Dan, lanjutan cerita masih juga cerita sedih….

Tuhan, maaf jika aku juga ceritakan kisah ini dalam cerita sedih. Maafkan aku saat ini. Aku tidak bisa berdiri dari sudut yang berbeda dan melihat kisah ini dalam warna yang berbeda. Bukan hanya hitam dan abu-abu. Maafkan aku saat ini.

—tapi, aku tahu ada yang Kau sembunyikan dari kisah ini—


gambar di sini!

Thursday, May 28, 2009

mewarna



"aku kehilangan warna," katanya.

sementara, gegas orang-orang semakin jauh. dan mereka mewarna. dalam gegas sendiri.

Monday, May 04, 2009

Di Stasiun

"Temui aku di stasiun kereta pagi ini," katanya.

Pagi masih jauh. Perempuan itu telah bergegas. Dalam perjalanan itu, ia sibuk merangkai mimpinya. Mimpi yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Seseorang memintanya datang ke stasiun kereta. Seorang laki-laki. Entah siapa. Wajah dalam mimpi itu buram. Seperti halnya mimpi-mimpi lain yang pernah ia alami dalam tidur-tidurnya–sepanjang malam sebelum mimpi kali ini. Buram. Tak berwarna. Tak berujung. Bahkan, kadang tanpa awal. Dan, entah terjadi di kota mana.

Hanya mimpi, pikir perempuan itu. Awalnya. Namun, malam-malam selanjutnya ia bermimpi hal yang sama. Persis. Mimpi yang ada akhirnya. Berakhir pada saaat yang sama. Pada ucapan laki-laki itu, "Temui aku di stasiun kereta pagi ini". Ucapan yang sama. Ucapan yang begitu jelas hanya untuk sekadar mimpi.

Perempuan itu bergegas ke stasiun kereta. Pagi masih jauh. Namun, perempuan itu tidak ingin pagi mendahuluinya. Ia yang akan menunggu.

Kereta pertama pagi itu datang. Perempuan itu telah di sana. Ada yang memintanya menunggu di stasiun kereta.

Kereta menghentikan deritnya.

Perempuan itu menunggu. Wajah laki-laki dalam mimpinya itu tak jelas. Buram. Tetapi, perempuan itu akan mengenali laki-laki itu. Ia tahu. Entah karena apa. Perasaan perempuan itu begitu yakin. Ia akan tahu begitu melihat laki-laki itu. Mungkin mereka telah bersama saat kehidupan belum tercipta. Ia akan mengenali laki-laki itu. Ia tahu.

Orang-orang dari dalam kereta bersirebut turun.

Napas perempuan itu memburu.

Thursday, April 30, 2009

ketika jarak menjadi samar, tak lagi terbaca



ya,
aku masih ingin berjalan bersama-Mu
jangan lepaskan genggaman tangan-Mu, kumohon

jangan biarkan aku mengabutkan waktu, mengaburkan arah-Mu
aku masih ingin menuju-Mu. selalu.


the picture!

Wednesday, April 22, 2009

Nasib Mereka di Ragunan





orang-orang datang ke kebun binatang itu, termasuk saya, gita, dan dua orang keponakan saya.

mencari kandang beruang pun penuh perjuangan. petunjuk arah di tempat itu benar-benar menyesatkan--apalagi, bagi saya yang buta arah.

setelah putar sana sini di tempat wisata yang cukup luas itu, beruang itu pun kami temukan, menyambut kami. jauh dari kesan "lucu" yang harusnya menjadi konsep umum untuk beruang--apalagi buat beruang madu.

"kasian banget beruangnya," celetuk lirih ponakan saya yang berumur lima tahun. saya menghela napas panjang.

yah, mungkin memang itulah risiko wisata murah.
tapi.... ah, memang kasian sekali nasib mereka.

Tuesday, April 14, 2009

Suatu Malam di Margonda

Sudah lama saya tidak mencuri dengar percakapan orang. Beberapa hari sebelum ini, di kios kebab di pinggir Jalan Margonda, saya—saat itu lagi nunggu sendirian—menangkap percakapan yang menurut saya menarik. Percakapan antara mas-mas penjual kebab dan seorang pengamen (tampaknya, kedua orang itu sudah saling kenal).

Awalnya, saya pikir, dia mau ngamen di depan saya dan dua orang pembeli lainnya. Namun, dia malah menaruh gitarnya dan mengambil kursi plastik. Nggak lama, si mas-mas tukang kebab mau menukar uang ribuan pada si pengamen.

“Tuker duit, dong,” kata si tukang kebab ke si pengamen.

Si pengamen berdiri dan mengeluarkan uang ribuannya. "Tau dah, cukup apa kagak," katanya dengan logat yang terdengar pas banget dengan lidahnya.

Dia mulai menghitung uang ribuannya di samping gerobak kebab itu, yang menghadap melintang dengan jalan. "Satu, dua, tiga ...." Dia menghitung uang itu dengan tangan kanannya, dengan mulut berkomat-kamit.

Saya melirik ke tangan si pengamen yang ada di depan saya itu, penasaran berapa uang yang dia dapat dan ikut menghitung juga dalam hati.

"Genepin aja," kata si mas-mas kebab sambil memasukkan sebungkus kebab ke dalam plastik—pesanan dua orang yang di sebelah saya.

Dia berhenti menghitung, saya juga. "Yah, cuma lima belas rebu," katanya sambil menyisakan beberapa lembar di tangan kiri. Mungkin, dua atau tiga ribu.

Setelah acara tukar-menukar, dia duduk di bangku plastik di sebelah kiri saya. Dua orang yang tadinya duduk di sebelah kanan saya sudah beranjak pergi. Pesanan kebab mereka sudah selesai.

Pesanan saya, tiga buah, baru mulai dibuat. Bakal makan waktu cukup lama nih, pikir saya dan mulai gelisah karena jalanan mulai sepi.

"Iya, sih, ngamen emang lebih gede dapetnya daripada kerja di pabrik," kata si tukang kebab. "Tapi, apa lo mau kayak gitu terus?"

“Iye, sih.” Si pengamen hanya senyum-senyum sambil mengambil minuman gelas dalam boks biru minuman dekat gerobak kebab.

“Kerja jadi SPG di Detos aja sebulan cuma dapet 800 rebu. Mending kalo rumahnya deket. Nah, kalo jauh, abis diongkos doang mah,” kata si pengamen lagi.

“Lo di mana tinggalnya?” tanya si tukang kebab.

“Noh, di Kober,” sahut si pengemen yang pake anting-anting di telinga sebelah kanannya itu, menyebutkan jalan yang tidak jauh dari kosan saya. “Selama ngamen, baru motor atu hasilnya,” lanjut si pengamen itu lagi.

“Motor apaan?” tanya tukang kebab. Saya semakin memasang kuping.

“RX King, taun 2004. Berapa, yak, lima belas juta,” sahut si pengamen.

Saya melongo. Hah? Lima belas juta? Itu hasil ngamen? Saya bertanya-tanya sendiri dalam hati.

“Berapa taun, eh berapa lama, tuh bisa dapet segitu?” Meskipun dia berusaha menyembunyikannya, jelas dalam suara si tukang kebab itu juga tersirat nada takjub atau lebih tepatnya, tak percaya.

“Berapa, yak? Ada kali dua taun,” jawab si pengamen. “Lebih kayaknya.”

“Tunai?” tanya si tukang kebab. Dia seakan-akan bisa membaca pikiran saya. Saya juga masih bertanya-tanya tentang uang lima belas juta itu.

“Iyak, kagak sanggup kalo kredit,” katanya.

Saya langsung membayangkan uang lima belas juta milik pengamen itu—dengan rasa iri. Hehe. Wow! Saya, bekerja hampir tiga tahun, bisa nabung berapa, ya? Wuahh…, nabung baju-baju doang di lemari. ;p Bisa beli apa, ya? Duh, nggak ada yang nilainya sampe lima belas jutaan tuh. Hebat juga dia bisa nabung segitu. Tapi, itu hasil ngamen semua? Pikiran-pikiran curiga mulai memenuhi benak saya.

“Oh…,” gumam si tukang kebab. “Iya, sih, gue juga mikir kayak lo dulu. Tapi, setelah gue kerja di sini, gue bisa nabung,” katanya sambil sibuk mengambil sayuran di ember di belakangnya, lalu memotong-motongnya cepat. Tampaknya, dia juga tak percaya akan hasil yang didapat si pengamen, tapi dia tidak mau berpikir bahwa pekerjaan jadi pengamen mengalahkan usaha yang dibangunnya. “Gue udah bisa buka usaha juga di daerah gue, Surabaya. Usaha kayak gini juga,” jelasnya sambil memotong daging untuk kebab pesanan saya dari pemanas daging.

Si pengamen cuma mengagguk-angguk. Entahlah, menurut saya, dia tidak berminat beralih profesi.

“Percaya nggak lo kalo dua tahun usaha ini bisa bikin rumah?” tanya si tukang kebab.

“Percaya,” sahut si pengamen cepat.

Saya pun langsung mengiyakan dalam hati.

Tampaknya, ketika mengajukan pertanyaan itu, si tukang kebab ingin mematrikan dalam dirinya dan juga dalam diri si pengamen bahwa bagaimanapun, usaha lebih baik daripada ngamen.

“Iye, di Margonda, apa aja mah laku.” Si pengamen memberi alasan.

“Nggak juga,” sanggah si tukang kebab. “Tuh, ayam bakar di sebelah mau tutup, bangkrut,” lanjutnya sambil menunjuk sekilas ke kios di belakangnya. Lalu, sibuk lagi membakar pesanan saya.

Saya ikut melihat ke arah tunjuk si tukang kebab sambil berguman, “Ooh….” dalam hati.

“Eh, ajarin main gitar, dong,” kata tukang kebab, mengalihkan obrolan. “Lo jago, kan, maennya.”

Si pengamen hanya tergelak, tampak tak percaya diri. “Yah, begitu aja, mah. Yang suaranya bagus mah cuman si Aris”—kayaknya dia nyebutin Aris yang menang Indonesian Idol itu.

“Kalo gue mah sukanya cuma ama grup Netral,” kata si mas-mas kebab, tidak melanjutkan obrolan tentang si Aris. Yah, padahal, saya pengen tahu gosip tentang Aris yang meninggalkan istrinya setelah dia jadi terkenal.

“Pasha juga,” kata si pengamen. “Dia mah bagusnya waktu ada Enda doang.”
Saya kurang menyimak. Dia ngomongin grup Ungu, ya?

“Dua tahun lalu, Pasha masih di Blok M tuh dia,” sambung si pengamen. Saya kurang menyimak obrolannya. Maksudnya, Pasha Ungu dulu ngamen juga, ya? Masa, sih?

Obrolan semakin hangat, nih. Tapi, kayaknya, kebab pesanan saya juga udah hampir siap.
“Yang deket sini lagi tuh gitarisnya Bunga,” kata si pengamen.

Si tukang kebab tidak merespons, tampaknya dia kurang familier dengan nama band yang dulu—kalo nggak salah—populer dengan lagu, /Kaasih, jangan kau pergi…/ na na na na na na…/

“Itu, yang dulu, yang sebelum anaknya Iwan Fals meninggal,” lanjut si pengamen. “Galang Rambu Anarki.”

“Oh, itu, yang anak Iwan Fals,” ulang si tukang kebab menyebutkan nama salah satu penyanyi favorit saya itu. “Siapa namanya?” tanyanya. Kayaknya, dia nggak denger kalo tadi si pengamen udah nyebutin nama anak Bang Iwan itu.

“Galang Rambu Anarki,” ulang si pengamen.

“Iye, si Galang itu.” Si pengamen menegaskan. “Dah meninggal, kan, ya?” Tukang kebab itu sudah membungkus kebab pesanan saya dengan kertas roti—bungkusan pertama.

“Iya, OD,” sahut si pengamen, merasa bangga dia tahu informasi itu.
“Eh, dia meninggalnya di daerah gue tuh, di Surabaya,” kata si tukang kebab. “Beneran deket rumah gue.” Tiba-tiba saja, si tukang kebab tahu sekali tentang peristiwa itu. Saya kurang tahu juga, Galang meninggal di mana, ya?

“Noh, Iwan Fals mau nyalonin diri jadi presiden,” celetuk si pengamen. Dia tertawa tertahan. “Gimana mau ngejaga negara, ngejaga anak aja kagak bisa,” lanjutnya.
Eh, dia ngomongin penyanyi favorit saya itu, ya? Ah, itu kan, masa lalu, Mas… hehe. 

Si tukang kebab juga tidak menanggapi. Dia sibuk memasukkan kebab saya ke dalam bungkus khas-nya, kertas keras berbentuk persegi panjang agak mengerucut, berwarna kuning dengan tutup flip lipat yang ujungnya bisa diselipkan—hehe, deskripsi saya nggak bisa dibayangkan, ya? ;p

Saya berdiri, memberikan uang lima puluh ribuan pada si tukang kebab.
Si penjual kebab memberikan kantung plastik berisi tiga bungkus kebab, kemudian mengembalikan uang saya tujuh belas ribu rupiah.

Saya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan kedua orang itu. Entah apa lagi yang mereka percakapan. Mungkin tentang Pasha Ungu tadi. Hehehe. Beneran dulu dia ngamen di Blok M?

Wednesday, April 08, 2009

Carano

sumber foto: koleksi pribadi


Carano adalah syarat meminang, kata Amak sambil mengalati isi carano itu. Sirih lengkap dengan kapur, gambir, pinang, dan juga tembakau. Kata Amak, dalam rasa sirih yang pahit dan manis, ada simbol harapan dan kearifan manusia menyikapi kekurangannya. Arai pinang berwarna kuning jernih pagi melingkari sekeliling bagian dalam carano yang terbuat dari kuningan itu. Menjaga harapan dan kearifan. Dalamak, kain dengan motif warna merah, kuning, hitam, serta kilapan benang emas dan cermin-cermin kecil—yang membawa warna kebahagiaan yang sakral—menutupi carano yang telah lengkap.

Sunday, March 08, 2009

SAYEMBARA KUCING MELULU & CERITA CINTA (ME)LULU: Antara Kamu, Gebetan, dan Peliharaan



Punya cerita menarik tentang kamu, gebetan, dan hewan peliharaan?
Segera tuliskan cerita menarik yang pernah kamu alami itu!
Rebut hadiah untuk 15 cerita paling menarik dan terfavorit.

>> Lima (5) cerita paling menarik akan mendapatkan @Paket Buku Senilai RP150.000 + satu buah kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

>> Sepuluh (10) cerita favorit akan mendapatkan @kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu + tas keren GagasMedia.




Syarat Lomba:
* Cerita orisinal (asli), bukan jiplakan.
* Boleh ditik/ditulis tangan (dengan huruf yang dapat dibaca dengan jelas).
* Jumlah halaman tidak dibatasi.
* Menyertakan struk pembelian (asli dari toko buku/tidak boleh fotokopi) novel Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, karya Widya Octavia (GagasMedia, 2009).
* Naskah ditunggu selambat-lambatnya pada 30 Mei 2009 (cap pos).
* Tuliskan biodatamu plus alamat lengkap (+ nomor telepon yang dapat dihubungi) dan masukkan ke dalam amplop tertutup, beserta CD-nya, ya.
* Tuliskan “Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu” di pojok kiri amplop.

Kirimkan ke:
Redaksi GagasMedia
Jalan H. Montong No. 57, Ciganjur, Jagakarsa
Jakarta Selatan, 12630

Pemenang akan diumumkan pada 15 Juni 2009
di http://www.gagasmedia.net/


So, ayo rebut hadiahnya!
Sstt! Mana tau, ceritamu juga bisa jadi calon novelmu sendiri. (^_^)
Tunggu apa lagi? Segera tuliskan ceritamu itu!

hari tidak lagi menyenja



hati-hati dengan keinginanmu,” kata seorang teman. jamuan perkenalan sore itu penuh gelak tawa, seakan-akan kami sahabat lama. 
 
tapi, mungkin juga karena dia telah menjelma keinginan, mewujud cinta. ah, terbaca jelas bahagia di matanya.
“hati-hati dengan keinginanmu karena suatu saat keinginan itu akan terwujud.”
percakapan pada pertemuan pertama itu berisi lembaran-lembaran cerita lama. menyenangkan memang jika kita membuka lembaran pada kisah yang sama.
aku teringat kau,
teringat pada percakapan di bawah hujan, di antara langit yang menyenja. percakapan yang kehilangan tawa.
kata-kata seorang teman itu terus saja menggema.
dan, percakapan kita itu pun seakan-akan menguar di udara. 
 
ya, aku akan belajar hati-hati dengan keinginanku.”

margonda raya, 7 maret 2009


Friday, February 27, 2009

Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

mungkin, kisah kita dan LULU sama,

mungkin, harapan kita dan LULU sama

mungkin, peliharaan kita dan LULU sama

mungkin, yang PERLU kita baca sama

hehe, ini novel remaja yang saya tulis ^_^

beli, ya. hehe.





sekilas yang LULU rasa ;)

Bodoh! Kenapa aku ngaku-ngaku miara kucing persia di depan Gilang yang cute itu, sih? Tapi, mana aku nyangka kalau dia beneran mau liat “kucing persia imajiner”-ku itu. Arrrhgh… aku bingung. Seumur hidup, aku belum pernah miara kucing, apalagi kucing persia!

Trus, aku harus gimana? Aku enggak mau Gilang ilfil gara-gara tau aku boong. Tapi, aku harus beli kucing persia di mana? Mana mahal lagi, belum lagi ngerawatnya. Di kosan pula. Gimana cara mandiinnya? Bersihin eeknya? Arggghhh! Tapi, aku HARUS miara kucing persia!

Reya dan Nino nganggap aku berlebihan. Nino malah bilang aku terobesi sama Gilang. Dih, cowok tau apa tentang cewek yang lagi jatuh cinta? Tapi, aku juga enggak tau apa-apa tentang kucing persia!


(penerbit: GagasMedia)

lalu

lalu, samar
sebelum gelap

aku tak ingin di sini terlalu lama

Februari Lagi (Surat Keempat)


Maaf, surat kali ini terlambat. Semoga tetap sampai, menggenapi tiga suratku sebelumnya. Ya, tahun keempat. Tanpa terasa.

Kali ini, musim masih tidak jelas. Hujan datang tiba-tiba, setelah panas yang begitu menyengat—hingga kepala seolah-olah menyimpan panas yang melama. Ah, maaf, aku bercerita tentang cuaca, bukan karena tidak ada percakapan, hanya ingin menceritakan seperti apa bulan kelahiranmu—kelahiranku?

Oh, ya, aku belum sempat ceritakan yang ini. Sebuah foto kecilku yang kutemukan setahun lalu—ya, setahun lalu aku mengunjungi rumah masa kecil kita, yang semakin tua. Tapi, baunya masih sama. Bau masa lalu, masa kecil kita yang tak terlalu banyak, mungkin hanya ada di salah satu sudutnya. Andai kau ada di sana, aku pasti betah berlama-lama, minta kau antar sana sini, minta (menyuruh) kau belikan ini itu.

Ah, aku melantur. Aku ingin bercerita tentang foto itu. Dalam foto itu, aku mungkin berusia dua tahun, dengan rambut keriwil yang dipotong pendek, dan pipi yang—uh!—tentu saja tembam. Kau pasti belum pernah melihat foto kecilku, ya?

Foto itu kutemukan saat aku sedang menyelamatkan foto keluarga kita yang melama. Kau ingat, kan, lemari kayu yang ada di ruang tengah itu. Foto keluarga kita ada di laci kaca, di sebelah kiri. Semakin tidak terawat—seperti rumah masa kecil kita juga, yang ditinggal semua (13) tangisan yang dulu diredam tembok-temboknya. Ah, rumah itu semakin sepi—kau pasti tahu bagaimana rasanya (semoga tidak kau rasakan di sana).

Tapi, kau jangan marah, ya, kalau aku ceritakan apa yang ada di foto itu. Aku juga tidak tau yang mana yang benar. Jadi…, di belakang foto itu, dituliskan namaku dan tanggal lahirnya. Setelah bulan ini, pada angka ke-11. Masih angka kembar juga, meski bukan 22. Yup! Bukan yang selama ini selalu kutuliskan dalam formulir-formulir buat masuk sekolah itu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa salah. Kalau hari lahirmu pasti benar—hari lahirmu tercatat di tembok rumah kita, aku juga ingat itu.

Jadi, kita tidak lahir di musim yang sama ternyata. Seperti itu yang tertulis. Dan, itu baru kuketahui setelah hampir 26 tahun kemudian. Selama ini, aku mengingat kelahiranku sebulan lebih awal. Jadi, ya, begitu. Aku menabung 26 bulan, ya berarti. Hehe.

Hei, tenang saja. Aku masih percaya, kok, kita dilahirkan pada musim yang sama. Aku juga suka musim penghujan ini—yang kata orang musim cinta.

Bicara tentang cinta, mungkin sebenarnya ada yang mau kuceritakan. Tapi, ah, entahlah, terlalu rumit. Tidak apa-apa, kan, kalau tidak kuceritakan?

Apa kabarmu?—belum sempat kutanyakan. Kabarku, semakin payah. Semakin perlu lama berpikir ketika masuk pintu dorong/tarik yang tidak ada tulisan “dorong” atau “tarik”-nya. Semakin perlu diam dalam beberapa jeda untuk menentukan pintu itu didorong atau ditarik. Padahal, kalau saja aku memilih salah satu dengan cepat, toh, kalau salah, aku tidak akan dipenjara ataupun mati saat itu juga.

Itu juga terjadi di tempat kerjaku dulu—dua tahun yang lalu. Saat makan siang, aku tidak mau berjalan di depan. Aku takut harus jadi orang yang membuka pintu ruang makan itu—pintu dorong/tarik—yang tidak ada tulisan dorong/tarik-nya.

Sampai hari terakhir aku di sana, itu pun masih terjadi—yang berarti, hampir satu tahun aku melihat orang membuka pintu itu—entahlah, aku lupa, didorong atau ditarik. Entah kenapa, hal ini sering kualami.

Dan, sekarang, semakin parah. Aku butuh waktu lama untuk berdiri di depan pintu semacam itu. Dorong atau tarik. Hanya dua pilihan. Hanya dua kata yang sederhana. Dan, aku terjebak sangat lama di sana. Ah, kakakmu ini semakin payah, bukan?
Haa, harusnya ini tidak kuceritakan padamu. Sudahlah, lupakan saja.

Ah, ya, kau tahu, dalam empat tahun ini, kita sudah punya (wow!) lima orang keponakan lagi. Semakin banyak. Mereka lucu-lucu, kau pasti senang menggendong mereka. Tangis dan tawa mereka semakin memenuhi ruang-ruang. Membawa bahagia. Sayangnya, mereka tidak sempat mengenalmu....

Apa kabarmu di sana?
Malam selalu dingin di sini. Di sana? Semoga doa-doa yang membubung menjelma menjadi selimutmu, semoga dapat menghangatkanmu. Maaf jika doa terkadang diucapkan terlalu cepat. Apa mungkin karena waktu terlalu cepat berdetak juga—entahlah.

Apa kabarmu di sana?

Kami di sini rindu.


p.s.

oh, ya, novelku sudah terbit, cerita cinta remaja. ada namamu kusebut di sana. aku bisa membayangkan tawamu saat membacanya. dan pasti kau tidak akan sampai habis membacanya. minat bacamu memang payah. Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, itu judulnya.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin