Penjual Kenangan

Tuesday, October 25, 2016

Sebuah Catatan Kecil tentang (Bukan) Salam Perpisahan




GagasMedia. Sahabat saya yang kali pertama berada di balik “kubikel” penerbit itu. Sebuah penerbit bacaaan popluer untuk anak muda. Saat itu, kami baru saja lulus dari fakultas sastra, fresh graduate, dengan bekal ilmu teori-teori sastra berjejalan di kepala. Perusahaan dengan label “penerbit buku populer” itu kemudian menjadi tempat bekerja sahabat saya sebagai editor penuh waktu.

Saat sahabat saya masuk GagasMedia, saya baru saja meninggalkan sebuah penerbit ternama yang fokus ke buku pelajaran dan memutuskan menjadi editor lepas. Tak lama kemudian, sahabat saya pun ikut memilih bekerja “di luar redaksi” karena kami masih jet lag dengan “karya populer”.

Suatu hari, setelah kami menjadi editor lepas selama dua tahun, sahabat saya kembali masuk jadi editor in house di GagasMedia, di rumah besar Montong 57. Lalu, setahun kemudian, saya menyusul ke rumah di bilangan selatan Jakarta itu, tetapi di penerbit dan fokus terbitan yang berbeda. Saat itu, saya juga sudah berkesempatan menulis buku di GagasMedia, sebuah novel remaja.

Editor lepas dan penulis adalah langkah awal saya di GagasMedia. Namun, kau tidak akan pernah menebak ke mana langkahmu, kan? Suatu kali, saya hijrah dari Montong 57, tetapi ternyata tak lama saya kembali ke rumah besar itu lagi. Seakan ada cinta yang memanggil kembali ke sana. Saya masuk ke sister company-nya GagasMedia, memegang lini fiksi yang baru akan dimulai. Lalu, dua tahun lebih kemudian, jalan takdir membawa saya ke balik “kubikel” GagasMedia.

Hingga kini, sudah sepuluh tahun saya “bekerja” di bidang penerbitan. Saya sebut “bekerja” karena sejak sepuluh tahun lalu itulah saya mulai mendapatkan uang di bidang ini, dimulai dari jadi korektor/penyelaras aksara dengan honor 750 rupiah per halaman, yang berperan besar dalam langkah saya dan sahabat saya. Dalam sepuluh tahun itu, sekitar tujuh tahunnya saya habiskan “berkeliaran” di Montong 57, rumah besar dengan halaman hijau luasnya, yang selalu membuat para penulis yang datang berbinar melihat keasriannya.

Pada bulan ini, setelah beberapa lama dipercaya memegang desk fiksi GagasMedia, saya mengirimkan pesan melalui surel kepada para penulis. Berterima kasih untuk tahun-tahun menyenangkan berkerja sama sebagai editor mereka. Rasa haru menyesak ketika mendapati rasa sedih teman-teman penulis atas surel saya. Orang-orang yang saya kenal dengan baik tak hanya dalam hitungan hari. Orang-orang yang memercayakan karya berharganya, yang bahkan ada yang ditulis dalam hitungan tahun.

Mungkin, kepercayaan mereka itulah yang membuat saya ingin menjadi editor terbaik untuk mereka. Untuk karya mereka. Berharap tak mengecewakan ketika karya itu terpampang di toko buku dan sampai ke tangan pembaca. Berharap ketika karya itu keluar dari mesin cetak, itu memang sudah hal terbaik yang bisa saya berikan. Meski terkadang itu tak mudah, yang penting kita telah berusaha, bukan? Bukan ingin segala-galanya sempurna, melainkan hanya mencoba memberikan hal terbaik yang kita bisa.

Rasanya gombalan tentang profesi editor, “Tanda koma aja diperhatiin, apalagi kamu” bisa dipercaya. Selain memperhatikan tanda koma, editor juga sering berdoa. Berdoa agar sebuah buku yang diedit bisa segera cetak ulang hanya karena ada tanda koma yang terlewat. Juga kerap berdoa royalti yang kelak diterima penulis banyak-banget-banget agar penulis bahagia—dan editornya dapat kiriman kue, #hihi. Kalau penulis bahagia, kan, bisa cepat selesai juga naskah selanjutnya, terus dapat royalti lagi. Terus, editornya berdoa lagi. Gitu aja terus.

Rasanya, menjadi editor bukanlah paket hemat. Bukan juga sekadar seseorang (berkacamata) di balik laptop, yang duduk tenang di balik kubikelnya.

Dia adalah seseorang, dengan paket komplet. Dan, itulah yang saya pelajari lama di sebuah rumah dengan pintu bercat putih nomor 57 itu.

Menjadi editor, dia terkadang perlu waktu panjang untuk menulis sebuah surat yang berisi salam perpisahan. Memilah kata-kata sambil hanyut dalam cerita-cerita lama.

Dan, beberapa hari lalu, seorang editor mengucapkan salam perpisahan kepada para penulis tercintanya. Dia tidak lagi berkantor di rumah besar nomor 57. Editor itu, selama sepuluh tahun menjalani profesinya, dia sempat berpikir tak akan pernah mencapai cita-cita masa kecilnya sebagai insinyur, sarjana teknik.

Namun, mungkin dia salah. Jika dipikir-pikir, menjadi editor rasanya juga sudah seperti seorang insinyur; insinyur buku. Dia bisa “membangun” banyak buku. Bahkan, hingga tinggi sampai ke langit, tempat orang-orang menggantungkan mimpi-mimpi.

Semoga.

Lagi pula, salam perpisahan bukan selalu berarti akhir sebuah cerita. Bisa jadi, itu adalah awal mula yang lainnya, bukan? :)



Salam hangat,
Widyawati Oktavia, seorang editor

Friday, November 06, 2015

dialog yang mungkin terhapus dari ingatan


gambar dari sini!


mon·o·chrome
/ˈmänəˌkrōm / 
noun 
1. a photograph or picture developed or executed in black and white or in varying tones of only one color. 
adjective 
1. (of a photograph or picture, or a television screen) consisting of or displaying images in black and white or in varying tones of only one color.




“monokrom, itulah yang selama ini kulihat pada diriku,” ucapmu di antara alunan lagu sendu kedai penuh buku. “begitu jugakah, menurutmu?” kau menyatakan tanya, matamu penuh harap aku menjawab tak sekadar untuk menyenangkan hatimu.
kejadian itu bertahun-tahun lalu. aku lupa tepatnya apa jawab yang kusampaikan. dahulu, aku yakin kau mendengarkan jawabanku dengan ragu-ragu. kau seakan masih memercayai dirimu mungkin hitam atau abu-abu.
bertahun-tahun, banyak kisah dan tawa yang kau bawakan untukku. berpendar dalam hari-hari saat kau isyaratkan rindu. saat aku mendapati punggungmu menjauh, tetapi hanya untuk membuatku tak sabar kembali bertemu.
bertahun-tahun, kau menjelma pendar bahagia.
lalu, apakah menurutmu bahagia hanya satu warna?
mungkin saja kau telah lupa percakapan kita. karena kau telah lama temukan mozaik warna.
monokrom, bagiku, kau tak pernah menjelmanya. jika saja kau tahu.
kemarin ataupun hari ini; ketika aku mendapati kesedihan hampir hilang di matamu. bahkan, aku membayangkan, mungkin saja kau sedang atau kembali jatuh cintaentah kepada siapa.






Friday, May 29, 2015

Menulis Berantai #TimMoveON #LoveCycle: Lifted Up #6 [Bagian Akhir]



c e r i t a   s e b e l u m n y a:

Abduraafi Andrian (@raafi) di blog Raafirmation (LIFTED UP Part 1)
Bimo Rafandha (@bimorafandha) di blog Embertumpah (LIFTED UP Part 2)
Andhika Citra Handayani (@andhkctra) di blog chaznologic (LIFTED UP Part 3)
Mandewi (@mandewi) di blog Mandewi (LIFTED UP Part 4)



sumber gambar



***


ORANG PATAH HATI dilarang keluyuran sendirian. Hatinya bisa komplikasi kena udara malam,” sambut Luna. Ia sudah duduk di teras rumah indekosku.

Telepon darinya mengembalikan langkahku yang tadi hilang arah setelah bertemu Tiffany dan Gilang. Aku duduk di sampingnya, tetapi tidak menyahuti kelakar yang ia lontarkan. Benakku masih dipenuhi suara-suara.


Apakah cinta adalah tentang waktu bersama ataukah tentang kerelaan berkorban untuk hari depan? Mengapa ketika diam-diam aku meninggikan tembok rumah impian Tiffany, pelan-pelan aku juga justru merobohkan cinta kami?

“Fi, kamu nggak cocok dengan muka murung begitu,” ujar Luna. “Yang berlalu, biarkan berlalu. Kesedihan tak akan pernah kedaluwarsa. Kita tertawakan saja.”

Aku tak menemukan kata yang tepat untuk menjawabnya.


Memangnya, kamu mau melewatinya dengan apa? Menangisinya?

“Bagaimana kalau dengan nggak membicarakannya?” sahutku.

Kami terdiam beberapa jeda. “Kalau begitu, sampai bertemu lagi. Titip berkas ini buat di kantor.” Luna menepuk bundelan di sampingnya.

“Eh, kamu mau ke mana?”

“Cuti, liburan ke Dufan. Hehe.” Luna sudah berdiri. “Aku mau ke makam ibuku, di Malang,” ungkapnya. “Aku balik, ya. Nggak enak mencuri panggung kesedihanmu.” Ia masih sempat meledekku.

"Luna," kejarku, meraih tangannya.

“Terima kasih sudah menolakku.” Kata-kata itu terlontar begitu saja. “Saat sudah jatuh cinta kepadaku, kamu mau mengakuinya?” Entah bagaimana, bersama wanita ini, aku jadi mudah berterus terang.

Luna malah tertawa. “Fi, cinta bukan untuk diberitakan. Tapi, bukan juga untuk dirahasiakan,” ucapnya. Ia menatapku dengan tatapan yang kelak baru kumengerti.

“Saat sudah bisa melepasnya, kamu mau mengakuinya kepadaku?”

Pertanyaan itu membuatku kelu.

“Tidur, Fi. Besok pagi kamu kerja. Aku juga harus mengejar kereta pukul 10 pagi,” imbuh Luna. “Tapi, kalau Raafi-si-gila-kerja-ini mau bolos dan ikut aku, kabari saja. Hidup ini singkat, jangan habiskan dengan muka masam begitu. Sudah berapa lama kamu nggak liburan?"

Luna kemudian menjauh. Tak menunggu jawabanku.



***




AKU rebah di tempat tidur, dengan seprai biru pilihan Tiffany. Bayang wanita yang kusayang itu melintas. Ia tadi tampak begitu sedih. Apakah aku telah menyerap kebahagiaannya?

Aku meraih ponsel. Nama Tiffany masih di sana, dengan foto favoritku. Senyum bahagianya abadi dalam foto itu, di bawah cahaya sore saat aku wisuda. Hatiku berdebar. Rasa sayang ini begitu luas untuknya hingga tak menyisakan untuk yang lain. Bahkan, mungkin untuk diriku sendiri.

Fan, aku memikirkanmu. Draf pesan itu tersimpan di ponselku, sejak hari pernikahan Tiffany dan Gilang.

Hidup ini singkat, ucapan Luna mengiang.

Aku menghela napas. Hari ini, lima menit berdiam diri bersama Tiffany dan Gilang terasa begitu panjang. Lalu, saat bersama Luna tadi, waktu tiba-tiba berlalu begitu cepat.

Fan, aku memikirkanmu,

tetapi aku harus melepasmu....

Agar kau bahagia.

Aku pun bahagia.


Aku menghapus pesan itu. Lalu, mengetik pesan baru.

Tidak panjang, tidak pendek.


Sent.

Pesan itu terkirim.

Kepada Luna.

Semoga ia tersenyum ketika membacanya.

Sesekali, aku harus berani keras terhadap diriku sendiri—dan kini adalah saatnya. Kesedihan tak akan pernah kedaluwarsa jika kita tidak menentukan batas waktunya.

Agar hidup singkat ini tak habis sia-sia.

Aku menutup mata. Melapangkan dada; memberi tempat untuk maaf dari Tiffany, juga maaf dari diriku sendiri. Berharap esok terjaga dengan rasa berbeda.

Fan, I think of you. But I have to let you go.
Karena akhir bahagia adalah milik orang-orang yang berani melangkah ke muka dan memperjuangkannya.


—FIN—








_________________________________________________

PS.

Psst, ini adalah bagian terakhir dari menulis berantai “Lifted Up” #TimMoveOn.
Kamu—sebagai pembaca—bisa ikut serta di tulisan ini. Caranya?

1.      Tuliskan isi pesan Raafi kepada Luna. Pesan apa, sih, yang dikirimkan Raafi?
2.      Twitpic pesan Raafi untuk Luna versimu itu, mention @widya_oktavia @GagasMedia
3.      Gunakan tagar #TimMoveOn #LiftedUp #LoveCycle

Jadilah bagian dari kisah Raafi dan Luna. Juga #TimMoveOn, pastinya.

Satu orang beruntung akan mendapatkan sebuah buku Penjual Kenangan bertanda tangan dari saya.

Good luck! ;)

Salam,

@widya_oktavia
#TimMoveOn


 ________________________________________________



Sunday, May 10, 2015

L.O.V.E Cycle Online Festival


Hai, hai,

Lama tak berkabar di sini. Bukan karena tidak rindu. Hanya saja, beberapa waktu lalu, saya lebih banyak menulis di angin utara, terutama untuk kegiatan #RabuMenulis. :)

Nah, saya punya kabar terbaru. ;)

Saya akan menerbitkan novel di GagasMedia. Jika semuanya lancar (amin!), novel ini terbit September mendatang. Novel saya ini akan tergabung dalam seri L.O.V.E Cycle, seri terbaru GagasMedia, yang mengetengahkan tahapan dalam cinta. 

"Karena cinta adalah jalan memutar, 
segala rasa tak akan putus di tengah jalan." 

Ada enam tahapan cinta yang akan disuguhkan, yaitu Cinta Pertama - PDKT - Pacaran - Patah Hati - Move On - Komitmen. Nah, saya ada di tahap kelima, yaitu Move On, dengan judul novel I Think of You: I Have to Let You Go. 

Ini sneek peak seri L.O.V.E Cycle (ini bukan tampilan cover keseluruhan, hanya label judulnya).

Embedded image permalink


Seri ini akan terbit dua bulan sekali, dibuka dengan I Love You: I Just Can't Tell You dari Alvi Syarin dan I Need You: I Just Can't Show You dari Yoana Dianika.

Untuk merayakan segala rasa dalam cinta, GagasMedia menghadirkan L.O.V.E Cycle Online Festival (LCOF). 


Embedded image permalink
Nah, kamu bisa ikut berpartisipasi merayakan segala rasa dalam cinta di LCOF bersama para penulisnya.

Hadiahnya? 
Tim dengan poin terbanyak akan mendapatkan paket berlangganan enam seri L.O.V.E CYCLE dari GagasMedia untuk masing-masing peserta.

Semua peserta terpilih akan mendapatkan hadiah hiburan dari GagasMedia.

Untuk tahu lebih lanjut tentang LCOF, langsung klik di sini!


Ada enam tim yang bisa kamu pilih dan ada enam jenis lomba yang bisa diikuti. Setiap tim terdiri dari 16 orang anggota dan akan dipandu oleh host yang merupakan penulis seri L.O.V.E CYCLE GagasMedia.

Ini dia tim dan penulis yang menjadi host.

1. Tim Cinta Pertama - Host: Alvi Syahrin
2. Tim PDKT - Host:Yoanna Dianika
3. Tim Pacaran - Host: Bernard Batubara
4. Tim Patah Hati - Host: Kireina Enno
5. Tim Move On - Host: Widyawati Oktavia
6. Tim Komitmen - Host: Riawani Elyta

Saya akan jadi host di Tim Move On. Yey! Co-host di tim ini ada @RyAzzura, seorang motivator yang mumpuni masalah (petuah-petuah) move on. :p




Kamu mau join di Tim Move On? Daftar di sini!

So, tunggu apa lagi? 

source: pinterest

Hanya 16 orang yang akan dipilih masuk ke setiap tim. 
Pendaftaran ditutup pada 14 Mei 2015. Diumumkan pada 15 Mei 2015. 

Sampai ketemu di #TimMoveOn! 

source: pinterest

















Bersama kita bisa (move on)! ;)

#TimMoveOn | @widya_oktavia


Friday, December 26, 2014

Sepotong Masa Lalu Dalam Hujan di Afternoon Tea




Hujan sore ini membawa saya ke sebuah kedai kecil bergaya Eropa kuno yang didominasi warna putih dan salem tua. Sebuah kedai kue. Hujan menjebak saya, tetapi kali ini sepertinya di tempat yang tepat. Tak ada salahnya menunggu hujan reda di kedai cantik ini.

Saat membuka pintu, dencing lonceng kecil di toko kue ini menyambut. Ketika hendak beranjak ke meja sudut dekat jendela lebar berbingkai putih, sesuatu menghentikan saya—yang akhirnya membuat saya memilih meja tak jauh dari sana. Seseorang tepatnya. Seorang perempuan dengan kue cokelat di mejanya.

Mungkin mata saya tak lepas dari meja perempuan itu ketika seorang pramusaji datang dan menawarkan pesanan, pesanan yang sama dengan perempuan di meja sudut. "Soufflé cokelat," katanya, "menu istimewa koki kami." Senyum hangat perempuan itu seakan menyihir dan membuat saya mengangguk, mungkin saja hari ini memang hari istimewa, pikir saya.

Kala menatap sudut-sudut kedai yang sepi pengunjung hari ini, kecuali perempuan souffle itu, saya seakan menemukan sudut-sudut itu dipenuhi kenangan. Lalu, saya teringat sebuah pertanyaan yang diajukan kepada saya beberapa waktu lalu oleh sesorang: apa kenangan yang tak pernah kau lupakan? Kala itu, saya berpikir-pikir dan memberikan jawaban tentang goresan nama-nama di dinding tua rumah rumah masa kecil saya. Goresan yang dituliskan Ayah setiap anaknya lahir. Ayah, laki-laki itu, yang telah lama menjelma kenangan—menjelma masa lalu.

Pramusaji itu datang lagi, membawakan saya menu istimewanya. Ia bilang, itu buatan koki andal di toko kue ini. “Tapi, tak seperti soufflé buatannya yang hangat dan manis, ia sedikit dingin,” candanya kepada saya tentang koki pembuatnya, yang saya tebak adalah seorang laki-laki. Anise, ia memperkenalkan namanya. Kala itu, saya merasa kalau ia sedang berusaha menata hatinya, tetapi malah menyempatkan diri menghibur saya yang terjebak hujan.

"Kau sendirian?" tanyanya, kemudian entah bagaimana saya meminta agar ia duduk menemani saya. An tak keberatan melakukannya dan saya mendapati ia melirik penasaran ke perempuan di meja sudut—dan kami seakan mengawasi perempuan di meja sudut itu. Lalu, hari ini, sebuah kisah masa lalu saya hadir di meja kayu ini. Di hadapan Anise, seorang perempuan yang ternyata bukan pramusaji, melainkan juga seorang koki.

***

Ada sebuah kisah yang sejak lama terpatri di benak saya. Lekat. Kenangan tentang seseorang yang saya sayang, ayah saya. Kala itu, saya baru berusia enam tahun. Kami menginap di rumah kakak tertua saya. Ayah bertanya apakah saya sudah minta hadiah kepada Kakak sebelum kami pulang. Lalu, gadis kecil itu menjawab dengan lugas, “Aku tidak suka meminta, Ayah. Mungkin Ayah yang suka.”

Hingga kini, saya masih mengingat dengan jelas adegan di depan pintu itu. Seakan saya masuk ke putaran waktu dan menyaksikan gadis kecil berbaju terusan selutut dan aksen pita di pinggangnya. Gadis itu dengan polos berkata kepada sang Ayah di depan banyak orang.

Hari itu, entah bagaimana saya ingat, air mata jatuh dari mata laki-laki paruh baya itu.  Lalu, kenangan itu mengendap menjadi perasaan bersalah pada diri gadis enam tahun itu, membuatnya luka setiap mengingat air mata yang jatuh itu.

Entah kapan saya mulai mengingat kenangan itu, saya lupa. Mungkin setelah ayah saya meninggal dunia. Yang saya tahu saya telah membuat luka seseorang yang saya sayangi dan rasanya begitu sakit, melebihi luka terkena sembilu di jari manis saya. Ketika dewasa, saya menerka-nerka, mungkinkah saya telah melukai harga diri ayah saya? Pertanyaan itu mengendap bertahun-tahun setelah ayah saya tiada.

Hari ini, kenangan itu hadir kembali, di hadapan An. Kenangan itu hampir membuat saya tenggelam jika saja suara itu tidak begitu jelas di telinga saya, “Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Hujan pasti berhenti. Setelahnya, kau akan melihat pelangi.” Saya pikir kata-kata itu diucapkan kepada saya. Namun, ternyata kepada seseorang di meja sudut.

Perempuan yang bicara itu, dia adalah An. Anise. Perempuan baik hati yang menemani saya di Afternoon Tea. Perempuan yang bisa kau temui dalam novel Walking After You. Seorang perempuan yang juga terjebak di masa lalu. Perempuan yang mencoba mengejar impian yang bukan miliknya agar perasaannya bisa bahagia. Namun, yang ia temukan malah luka.

An, perempuan berbau rempah-rempah itu menyembunyikan luka di balik tawanya. Lalu, hari ini, dia juga seakan bicara kepada saya. Bahwa semua akan baik-baik saja.

Ketika saya menatap ke meja sudut, gadis yang duduk di sana sudah tak ada lagi. Hujan pun sudah berhenti. Lalu, An, saya pun tak menemukannya lagi. Namun, hari ini, dia telah menemani saya bercerita. Menceritakan kisah sedih yang telah lama saya sembunyikan. Dan, ketika ia bicara bahwa semua akan baik-baik saja, saya seakan merasa ia juga sedang bicara kepada dirinya sendiri. An, semoga lukanya pun terhapus dalam hujan, dalam manis soufflé istimewa.

An, bisa saja dia adalah saya. An, mungkin saja dia adalah kau. Bersama An, kita akan mencoba memaknai kehilangan, juga arti memaafkan.

Kau tahu tak ada saat yang tepat untuk melupakan masa lalu. Hanya ada waktu yang tepat untuk memaafkan, menerima sesuatu yang telah menjadi bagian hidupmu.




***

Ketika bercerita kepada An tentang kisah ayah saya itu, saya masih mengingatnya dengan pilu. Namun, kau tahu, ada sesuatu yang terangkat dari diri saya ketika selesai menyampaikannya. Mungkin, memang benar yang orang katakan, rahasia yang paling rahasia adalah rahasia yang kau sembunyikan dari dirimu sendiri. Ketika terjebak dalam masa lalu, tak banyak yang bisa kau lakukan jika kau berdiam diri di sudut rahasiamu. Kau harus bisa menemukan seseorang yang bisa kau percaya untuk kau bagi kisah paling rahasiamu. Agar hatimu pasti bahwa kau tak sendiri.

Saya keluar dari kedai kecil bergaya Eropa kuno itu, dan menatap papan kayu yang tergantung di langit-langit teras bangunan: Afternoon Tea.

Sore yang hujan itu, saya bertemu seorang perempuan yang istimewa di toko kue ini. Belajar banyak darinya. An, nama perempuan itu, tak akan terlupa nama manis itu.

Bersama An, kau akan berbagi rahasia. Kau akan menemukan masa terpuruk gadis periang itu. Namun, kau juga akan menemukan makna mendalam ketika ia mengisahkan “Pelangi Dalam Gelas Kaca”, dan merasa kau tak sendiri yang terjebak dalam masa lalu. Kau akan tahu bahwa kau pun mampu segera keluar dari masa lalu—tempat tanpa arah itu.

Suatu ketika, saat kau menyusuri kisahnya dalam Walking After You, kau akan menemukan An berkata, “Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kita lakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya.” Kau, sudahkah kau mampu melakukannya?

Nah, tuliskan kisahmu di kolom comment postingan ini sebanyak sekitar 200 kata. Seorang yang beruntung dengan kisah “melepaskan masa lalu”-nya akan mendapatkan sebuah buku Walking After You karya Windry Ramadhina.

Saya tunggu kisahmu hingga pukul delapan malam ini. (ralat: karena masih ada waktu, tulisanmu ditunggu hingga pukul 24.00 malam ini).

Good luck! ;)






Salam,

Widyawati Oktavia

______________

PS. Terima kasih, Windry, telah menuliskan kisah yang begitu menyentuh ini. Yang mampu membuatmu berjanji di dalam hati untuk tak lagi melukai dan tak akan melepas seseorang yang kau sayangi. :*


#VirtualBookTour @GagasMedia #TigaCeritaCinta #WalkingAfterYou @windryramadhina

Tuesday, December 16, 2014

selamat jalan

dari media sosial, membaca kabar seorang teman sma berpulang hari ini. saya ingat dia seorang yang baik, penyayang. suka menggambar. ketika itu, saya percaya dia akan menjadi seorang desainer. cita-cita itu tercapai. terakhir berkabar, dia mendesain baju sebuah merek ternama.

masih lekat di ingatan saya dia pernah membuatkan saya dua buah desain kebaya. cantik. belum sempat saya wujudkan menjadi sebuah kebaya. namun, gambar itu masih saya simpan di antara barang-barang kenangan.

hari ini, dia menjadi kenangan.
hari ini, dia telah berpulang.

ah, selamat jalan, sahabat lama. kita pernah jajan di kantin sma, lalu berdiri di lantai dua, melihat ke arah lapangan di bawah kita, dengan jajanan di tangan kita. saat itu, kita bicara banyak tentang berbagai hal. kau selalu memuji gambar acak-kadulku sebagai gambar yang bagus. kau bilang aku bisa menggambar. meski kutahu itu tidak sepenuhnya benar, aku begitu senang. kau tulus mengatakannya karena kau memang orang baik yang ingin orang lain bahagia. kau juga selalu bilang suka tulisanku dengan tawa kecilmu. kadang sambil menggoreskan desain-desain baju di buku tulisku.

saat itu, aku tahu suatu hari kau akan berhasil dengan gambar-gambar cantik yang kau goreskan dengan sekejap. bertahun-tahun kemudian, kau memang mewujudkannya. 
dan, kau tahu, baru saja aku membuka buku tahunan sma kita, mencari namamu di sana. dan, aku menemukan kau memang menuliskan "designer" melekat di namamu. 

selamat jalan, heri gani. semoga kebaikanmu menjadi penerang di Sana. lama kita tak berkabar, kemudian aku dikejutkan kabar dirimu berpulang. leukemia, seperti dalam cerita-cerita novel yang dituliskan orang. tapi kau tahu, katanya, seperti bunga tercantik di taman, ia selalu lebih dulu dipetik pemilik-Nya. selamat jalan, heri. baik-baik di sana, ya.

terima kasih atas sketsa yang pernah kau goreskan. juga semangat yang kau tularkan.

___________

ps. dear heri, aku pinjam juga salah satu desainmu yang kau publikasikan di facebook, ya. desain yang sungguh keren. yang aku pinjam ini salah satu yang menyihirku kala melihatnya.






salah satu desain keren heri, yang diposting di FB pada 2010
(maaf, pinjam gambarnya, ya, iyi)


Tuesday, November 25, 2014

SUATU HARI

suatu hari, kita mungkin akan mengingat hari ini. tentang jemari yang menyembunyikan keluh letih ketika mengejar janji. tentang rencana-rencana yang tidak berjalan. tentang harapan yang tak kesampaian.

juga tentang orang-orang berwajah masam.

tentang seharusnya kita saling tersenyum menguatkan.

toh, bukankah kita ingin mewujudkan hal yang sama?

ah, entahlah. kita ikuti saja langkah kita. lagi pula, suatu ketika, hari akan menjadi senja.

kita pun akan menuju senja-Nya.
tak akan ingat lagi kita tentang orang-orang berwajah masam. mungkin saja, mereka akan lupa lebih dahulu akan kita.

Tuesday, October 07, 2014

untuk gadis yang selalu ceria

kemarin, saat saya sedang bersepeda, seorang karib lama menelepon, membuat perasaan saya tidak enak untuk mengatakan apa yang sedang saya lakukan. ia, karib saya itu, sisa-sisa keceriaan dan semangatnya masih terdengar. membuat saya merasa malu karena sering berkeluh-kesah hanya karena hal-hal remeh.

karib saya itu, dia mengucap alhamdulillah atas kondisinya sekarang. yang merupakan kemajuan besar dalam perjalanan hidupnya beberapa tahun terakhir.

karib saya itu, ia menanyakan kabar saya lewat ponselnya. menanyakan sudah berapa anak sahabat saya dan apakah dia datang ke pernikahan sahabat saya itu. empat tahun lalu. lalu, tertawa dari ujung sana ketika ia menyadari kejadian yang ia alami lebih dulu satu tahun sebelumnya. yang menyebabkan sebagian memorinya samar-samar.

kapan menikah, tanyanya. membuat luka di hati saya. bukan, bukan karena saya tidak suka ditanya demikian. namun, karena berkelebat di benak saya tentang apakah suatu saat ia juga akan bisa menikah.

karib lama saya itu, tumpukan pekerjaan terkadang membuat saya lupa dan baru teringat lagi ketika ia menelepon menanyakan kabar saya.

sedang apa? saya balik bertanya. meneleponmu, candanya. dari kursi rodaku, lanjutnya ceria.

saya bahkan tak berani bertanya di manakah ia berada dengan kursi roda itu. di teras rumahkah, di ruang tamukah, ataukah di kamarnya yang berjendela.

sudah dulu, ya, ucapnya buru-buru. salam untuk teman-teman, siapa pun yang kenal aku, ucapnya tertawa.

aku rindu kalian. sangat. ia ucapkan sesaat menutup panggilan teleponnya.
maaf mengganggumu, ya, ucapnya begitu sopan.

saya teringat lima tahun lalu, saat ia meregang nyawa. melawan koma. dan lebih dari empat tahun tak berdaya di tempat tidur, ia malah seperti lupa caranya resah, malah selalu mendoakan teman-teman yang ia ingat.
lalu, saat menuliskan ini, saya teringat sebuah hal yang belum saya lakukan untuknya. sebuah kisah.

gadis yang selalu ceria, semoga doa-doamu sampai kepada-Nya. semoga keajaiban selalu ada bersamamu. semoga kau segera sehat, sahabat….

http://widyawati-oktavia.tumblr.com/post/99327469033/untuk-gadis-yang-selalu-ceria

Saturday, October 04, 2014

kita



lama aku mencari alasan mengapa aku mencintaimu. mengapa kupu-kupu mengepak begitu riuhnya kala aku bersamamu. kau tahu, aku malah menemukannya dalam salam perpisahan kita.

cinta adalah tentang kepercayaan dan kesetiaan. kau kemudian menjelma sosok itu. laki-laki yang bersetia.

hangat jemarimu menambah riuh kepak kupu-kupu yang lama menghuni sudut hatiku. namun, pada saat bersamaan, ia meluruhkan sayap kupu-kupu itu. mereka tak mampu lagi mengepak. sayapnya mengabu, menyisakan sebentuk luka dari cinta yang kehilangan arah.

cinta adalah tentang kepercayaan dan kesetiaan. tanpa itu, aku akan tersesat.  kau katakan di antara malam yang kian jauh.

pulanglah, kataku. pada rumah yang kau tuju. tahu kau tak akan bisa kembali jika bersamaku.
setidaknya, kini aku tahu alasan mengapa aku bisa jatuh cinta kepadamu.

lalu, aku mendengar sayap-sayap yang mengabu beterbangan.

kini saatnya untuk menumbuhkan sayap-sayap baru, ucap mereka.

aku tahu kau tak mendengarnya. kau sudah jauh dalam perjalananmu.
pulang, kepada cinta yang lebih dulu mengikatmu.


*foto dari sini!

Wednesday, June 18, 2014

untuk perempuan kurus banyak bicara





ini untuk seorang perempuan kurus banyak bicara. aku dan perempuan itu selalu belajar bersama-sama, tentang banyak hal. 

aku masih ingat kali pertama berjalan jauh bersama perempuan kurus yang tak henti membicarakan abangnya yang mengenalkan banyak bacaan, ketika kami menembus jalan setapak penuh ilalang menuju sebuah kampus. tentang papanya yang lebih suka naik kendaraan "loncat-loncat" kala menuju jakarta dari sumatra. juga tentang cinta masa sma-nya yang kala itu masih membara. dia membicarakan mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang, yang membuatku iri karena merasa dia memiliki banyak orang penuh kasih sayang. saat itu, perempuan yang lebih kurus daripada aku itu juga lebih muda setahun. perempuan banyak bicara yang selalu berapi-api dan kerap tak bisa menahan emosinya.  

lalu, bertahun-tahun kemudian, barulah kusadari, perempuan itulah yang memiliki banyak kasih sayang di hatinya; kasih sayang perempuan itu seakan tak pernah habis. dan, bahkan ikut dilebihkan banyak, untukku. perempuan itu, gita romadhona namanya.


hei, git, hari ini sudah masuk 18 juni. 
malam kemarin, aku membaca kembali salah satu serial cantik favorit kita, kisah chizumi dan fujiomi. kau tahu, di sana, ada bagian saat kakak chizumi menikah dan pergi, perempuan itu begitu khawatir meninggalkan chizumi sendiri di rumah mereka. 
dan aku jadi bertanya-tanya, seperti itu pulakah yang kau rasakan saat kau memutuskan pindah dari "rumah" kita di margonda saat kau menikah, ketika meninggalkan gadis peragu di ruang biru? 

dalam kisah chizumi, selama beberapa lama tak lagi hidup dengan kakaknya, gadis ceroboh itu masih dibangunkan kakaknya pada pagi hari lewat telepon; hari sudah pagi, bangunlah, biar tidak terlambat sekolah, ucap si kakak lembut. membuat gadis ceroboh itu diam-diam merasa malu dan bertekad harus bisa mandiri. 

membaca itu, aku merasa menjelma chizumi. 

bahkan, sampai pagi tadi pun, kau masih membangunkanku. bukan lagi untuk kuliah, melainkan untuk sebuah rapat di tempat kerja! dan kau tak marah ketika aku tertidur kembali (meski aku kemudian menjelma chizumi yang payah). kau mungkin juga tahu, tapi jaga-jaga kau lupa, aku sampaikan kembali bahwa aku selalu bertekad yang sama seperti chizumi. hehe.

setelah tiga belas tahun dari jalan setapak menuju kampus itu, kau tahu, perempuan muda yang bersamaku itu tetap banyak bicara. suatu ketika, aku menyadari, dia menjadi lebih dewasa daripada aku. menjadi tak lagi lebih kurus daripada aku. menjadi lebih logis, menjadi lebih tegar dan sabar, dan jadi kerap mengingatkanku agar tidak suka marah-marah. belakangan ini, aku banyak belajar dari perempuan itu. darimu, git.

dulu, aku pikir aku yang akan lebih banyak mengajarkan perihal ketegaran dan ketabahan kepadamu setelah melewati banyak kehilangan. ah, kau tahu, sebenarnya, sejak awal, aku yang selalu belajar kepadamu. hanya saja, mungkin kita terkadang berharap bisa memberikan sesuatu kepada orang yang kita sayangi, tak melulu "mengambil". semoga ada yang bermanfaat dariku. karena aku ingat status facebook seorang petinggi di kantor kita. aku lupa apa tepatnya, sudah agak lama aku membacanya (kau bisa stalking nanti, kau lebih canggih dalam urusan itu). intinya, dalam persahabatan itu, harus saling menguntungkan. semoga persahabatan kita juga.

tapi, jika kau merasa tak beruntung bersahabat denganku, cobalah gali lagi lebih jauh akan hal itu. jangan cepat menyerah, mana tahu memang ada. lagi pula, sayang sekali 13 tahun yang kita lewati jika kau ingin mengakhiri hari ini, pada perayaan hari lahirmu.

ah, aku sebenarnya mencoba melucu di paragraf atas itu. maafkan jika tak lucu, soalnya hampir setahun ini, aku selalu dicekoki lawakan, hmm, kurang lucu seorang editor (komedi) di ruangan kita. sebut saja inisialnya e.l.l.y. :))) ya, setelah pernah satu asrama, satu indekos, kini kita satu ruangan di tempat kerja.

semoga untuk menjadikan hubungan lebih kuat tak melulu seseorang harus jauh terlebih dahulu. tak mengapa bukan, jika kau kuat dengan tetap dekat dan bersama sampai akhir usia.

baiklah. kali ini, aku ingin mengakui postingan ini tentang kisahku sendiri (setelah aku kerap meniru tagline sebuah blog tetangga: it's my blog, it's not about me). jadi, tak perlu kau menerka-nerka ini tentang siapa.

dan, sebenarnya, aku ingin mengucapkan selamat lahir untukmu. jauh sebelum hari ini, kau telah menjelma perempuan dewasa, lalu menjelma seorang ibu yang penuh kasih sayang. semoga kebaikanmu menjadi tabungan bahagia. tidak hanya sampai 15 tahun seperti rentang cicilan kpr. semoga selamanya.

mengutip novel tomodachi yang ditulis winna efendi, semoga kita selalu tetap ada untuk satu sama lain; karena kita adalah teman--tomodachi--dan semoga selamanya.

selamat hari lahir, gita.
terima kasih masih mau mempertahankan persahabatan kita.
suatu hari, aku ingin menghadiahkan sebuah novel untukmu. tentang kita.
suatu hari. anggaplah ini sebuah janji (seperti janji kita juga buat seorang editor di kantor kita. hehe).

aku sayang gita. melebihi siapa pun yang pernah kubuatkan sebuah--ataupun lebih--tulisan di blog ini. :D




with love,
--iwied, yang berusaha tidur pada waktu normal pukul 11, tetapi tetap gagal dan akhirnya sudah pukul dua pagi saja. yang sempat berhenti di beberapa kalimat ketika menuliskan ini, mengusap air matanya. lalu, memaki diri karena menyadari dirinya cengeng. yah, sebelas-dua belas-lah sama chizumi. :p



Thursday, June 12, 2014

sejenak

malam sudah jauh.
aku tahu seharusnya aku sudah beranjak tidur.
pekerjaan esok menunggu, tertumpuk tak selesai di atas meja.

namun, televisi tiba-tiba saja memutarkan lagu kesukaanku, tentang pulang.
tiba-tiba saja, aku ingin pulang. 
entah ke mana; karena sebenarnya aku sudah berada di rumah.

tiba-tiba saja, aku ingin pulang.
berhenti sejenak dari segala pembicaraan yang membuat isi otakmu seolah habis terkuras. hingga hal terlucu pun tak mampu memicu saraf tawa.
aku ingin pulang,
ke tempat hal paling menyedihkan pun terhapus, hanya dengan sapa tulus.
ke tempat alunan lagu-lagu sendu yang kusuka bahkan mampu menguarkan bahagia.

aku ingin pulang.
sejenak.


kepadamu





besok,
tunggu aku di kafe kecil favorit kita.
kita akan merayakan sesuatu, tentu saja. 
baiklah, memang sudah terlalu banyak yang kita rayakan, di sudut kecil kafe yang penuh buku di dindingnya.
tapi, bukankah begitu sebaiknya kita memperlakukan sebuah hari? 
tak ada hari yang tak istimewa. dan, agar pula tidak habis kebersamaan kita.
kebersamaan yang terkadang mungkin membuatmu harus mereka-reka apa lagi kata-kata yang akan lebih bertahan lama hangatnya ketimbang minuman yang kita pesan. 

namun, setelah besok, mungkin tak perlu lagi kau mencari-cari bahan cerita. dan, aku pun akan berhenti mencoba memaki diri karena terlalu banyak bicara. 

besok, tunggu aku di sudut favorit kita.
pukul tujuh malam, agar kita punya waktu sedikit lama. tidak terlalu terburu-buru agar tak mengurangi waktu tidurmu. 

besok, kita merayakan sesuatu. 
kau tahu, kata orang, kita tak tahu kapan kita jatuh cinta.
namun, kita tentu tahu kapan kita harus berhenti jatuh cinta.
aku telah memutuskan besoklah harinya.
dan, kita harus merayakannya.
kau dan aku.
kita berdua. di tempat kali pertama kita bercerita panjang. tentang apa saja, kecuali di mana kita harus berhenti. karena dalam segala mimpimu, mata angin tak pernah mengutara.

besok, 
aku telah memutuskannya. 
tunggu aku pukul tujuh. mungkin, akan lewat sedikit. tapi, aku tak akan membiarkanmu lama menunggu, kali ini.
dan, kita akan merayakan hari ketika aku memutuskan berhenti jatuh cinta.
kepadamu.


Wednesday, June 11, 2014

dalam memori




gambar dari sini




"the waters calm and still
my reflection is there
  i see you holding me
but then you disappear
all that is left of you
is a memory
on that only, exists in my dreams"




ri,

aku tak tahu bagaimana cara menghubungimu. kau telah lama menghilang dalam halaman-halaman kisah kitaya, kita memutuskan kau harus "dihapus".
tapi, seperti dahulu, sesekali, mungkin saja kau akan singgah ke sini. dan, jika kau membaca suratku ini, kau akan tahu bahwa kaulah yang aku tuju.

apa kabarmu? masihkah kau menyeduh kopi pada pagi yang tak pernah kau lewatkan? 

masihkah kau menghabiskan waktu membaca buku dengan "kiss the rain" berulang-ulang dari laptopmu yang kau biarkan menyala?

masihkah kau melewati akhir pekan dengan berlari di jalan setapak yang dinaungi pohon-pohon kapuk?

masihkah kau ingat kata-kata yang membeku di antara kita, ketika waktu tak memberi kita kesempatan lebih dulu? "aku menyayangimu, tetapi seharusnya kita bertemu sejak dulu."

aku masih ingin bersamamu, kita saling mengucapkannya. tetapi, diam-diam, kita pun saling tahu itu hanya untuk membesarkan hati yang pilu. kita tak akan pernah bisa bersama meski berjuta "ingin" kita jadikan mantra.

kata-kata pun tak mampu bersetia pada janjinya sendiri. kita? kita terbiasa menertawakan anak-anak remaja yang jungkir balik karena cinta.
kita tak lagi muda untuk melakukan sesuatu yang disebut demi cinta. dan, akhirnya kita pikir; biar mengalir saja. cinta akan membawamu ke akhir yang tepat. begitulah seharusnya kita berlaku sebagai orang dewasa.

ri,
hidup memang tak pernah seperti dongeng, yang mampu mematahkan sihir duka dengan kecupan atau peluk hangat dari orang yang kau cinta. yang mampu merekatkan repih hati menjadi seperti semula.


nyatanya, hingga kini, hati ini masih saja retak; ah, mengikis, lebih tepatnya.  


ri,
ketika kau membaca surat ini, mungkin di luar, matahari sedang garang-garangnya.
tapi, jika kau di sini malam ini, kau akan tahu.
malam ini, hujan di luar bertalu-talu. begitu pula rindu.

ri,
ketika menuliskan pertanyaan ini, aku tahu diriku akan menjelma sisipus dan tak akan ada mantra yang akan mematahkannya. tetapi, tak apa. kau harus tahu. bahwa tetap ada satu tanya yang masih saja berkeliaran di tempat paling jauh di sudut hatiku
: mengapa cinta bukan milik kau dan aku?




p.s.
ri, 
pernahkah kau dengar bagaimana akhir kisah sisipus? apakah ia akhirnya menyerah dengan apa yang ia lakukan? ataukah ia menemukan bahagia pada satu titik dalam langkahnya? 

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin