Penjual Kenangan

Tuesday, October 07, 2014

untuk gadis yang selalu ceria

kemarin, saat saya sedang bersepeda, seorang karib lama menelepon, membuat perasaan saya tidak enak untuk mengatakan apa yang sedang saya lakukan. ia, karib saya itu, sisa-sisa keceriaan dan semangatnya masih terdengar. membuat saya merasa malu karena sering berkeluh-kesah hanya karena hal-hal remeh.

karib saya itu, dia mengucap alhamdulillah atas kondisinya sekarang. yang merupakan kemajuan besar dalam perjalanan hidupnya beberapa tahun terakhir.

karib saya itu, ia menanyakan kabar saya lewat ponselnya. menanyakan sudah berapa anak sahabat saya dan apakah dia datang ke pernikahan sahabat saya itu. empat tahun lalu. lalu, tertawa dari ujung sana ketika ia menyadari kejadian yang ia alami lebih dulu satu tahun sebelumnya. yang menyebabkan sebagian memorinya samar-samar.

kapan menikah, tanyanya. membuat luka di hati saya. bukan, bukan karena saya tidak suka ditanya demikian. namun, karena berkelebat di benak saya tentang apakah suatu saat ia juga akan bisa menikah.

karib lama saya itu, tumpukan pekerjaan terkadang membuat saya lupa dan baru teringat lagi ketika ia menelepon menanyakan kabar saya.

sedang apa? saya balik bertanya. meneleponmu, candanya. dari kursi rodaku, lanjutnya ceria.

saya bahkan tak berani bertanya di manakah ia berada dengan kursi roda itu. di teras rumahkah, di ruang tamukah, ataukah di kamarnya yang berjendela.

sudah dulu, ya, ucapnya buru-buru. salam untuk teman-teman, siapa pun yang kenal aku, ucapnya tertawa.

aku rindu kalian. sangat. ia ucapkan sesaat menutup panggilan teleponnya.
maaf mengganggumu, ya, ucapnya begitu sopan.

saya teringat lima tahun lalu, saat ia meregang nyawa. melawan koma. dan lebih dari empat tahun tak berdaya di tempat tidur, ia malah seperti lupa caranya resah, malah selalu mendoakan teman-teman yang ia ingat.
lalu, saat menuliskan ini, saya teringat sebuah hal yang belum saya lakukan untuknya. sebuah kisah.

gadis yang selalu ceria, semoga doa-doamu sampai kepada-Nya. semoga keajaiban selalu ada bersamamu. semoga kau segera sehat, sahabat….

http://widyawati-oktavia.tumblr.com/post/99327469033/untuk-gadis-yang-selalu-ceria

Saturday, October 04, 2014

kita



lama aku mencari alasan mengapa aku mencintaimu. mengapa kupu-kupu mengepak begitu riuhnya kala aku bersamamu. kau tahu, aku malah menemukannya dalam salam perpisahan kita.

cinta adalah tentang kepercayaan dan kesetiaan. kau kemudian menjelma sosok itu. laki-laki yang bersetia.

hangat jemarimu menambah riuh kepak kupu-kupu yang lama menghuni sudut hatiku. namun, pada saat bersamaan, ia meluruhkan sayap kupu-kupu itu. mereka tak mampu lagi mengepak. sayapnya mengabu, menyisakan sebentuk luka dari cinta yang kehilangan arah.

cinta adalah tentang kepercayaan dan kesetiaan. tanpa itu, aku akan tersesat.  kau katakan di antara malam yang kian jauh.

pulanglah, kataku. pada rumah yang kau tuju. tahu kau tak akan bisa kembali jika bersamaku.
setidaknya, kini aku tahu alasan mengapa aku bisa jatuh cinta kepadamu.

lalu, aku mendengar sayap-sayap yang mengabu beterbangan.

kini saatnya untuk menumbuhkan sayap-sayap baru, ucap mereka.

aku tahu kau tak mendengarnya. kau sudah jauh dalam perjalananmu.
pulang, kepada cinta yang lebih dulu mengikatmu.


*foto dari sini!

Wednesday, June 18, 2014

untuk perempuan kurus banyak bicara





ini untuk seorang perempuan kurus banyak bicara. aku dan perempuan itu selalu belajar bersama-sama, tentang banyak hal. 

aku masih ingat kali pertama berjalan jauh bersama perempuan kurus yang tak henti membicarakan abangnya yang mengenalkan banyak bacaan, ketika kami menembus jalan setapak penuh ilalang menuju sebuah kampus. tentang papanya yang lebih suka naik kendaraan "loncat-loncat" kala menuju jakarta dari sumatra. juga tentang cinta masa sma-nya yang kala itu masih membara. dia membicarakan mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang, yang membuatku iri karena merasa dia memiliki banyak orang penuh kasih sayang. saat itu, perempuan yang lebih kurus daripada aku itu juga lebih muda setahun. perempuan banyak bicara yang selalu berapi-api dan kerap tak bisa menahan emosinya.  

lalu, bertahun-tahun kemudian, barulah kusadari, perempuan itulah yang memiliki banyak kasih sayang di hatinya; kasih sayang perempuan itu seakan tak pernah habis. dan, bahkan ikut dilebihkan banyak, untukku. perempuan itu, gita romadhona namanya.


hei, git, hari ini sudah masuk 18 juni. 
malam kemarin, aku membaca kembali salah satu serial cantik favorit kita, kisah chizumi dan fujiomi. kau tahu, di sana, ada bagian saat kakak chizumi menikah dan pergi, perempuan itu begitu khawatir meninggalkan chizumi sendiri di rumah mereka. 
dan aku jadi bertanya-tanya, seperti itu pulakah yang kau rasakan saat kau memutuskan pindah dari "rumah" kita di margonda saat kau menikah, ketika meninggalkan gadis peragu di ruang biru? 

dalam kisah chizumi, selama beberapa lama tak lagi hidup dengan kakaknya, gadis ceroboh itu masih dibangunkan kakaknya pada pagi hari lewat telepon; hari sudah pagi, bangunlah, biar tidak terlambat sekolah, ucap si kakak lembut. membuat gadis ceroboh itu diam-diam merasa malu dan bertekad harus bisa mandiri. 

membaca itu, aku merasa menjelma chizumi. 

bahkan, sampai pagi tadi pun, kau masih membangunkanku. bukan lagi untuk kuliah, melainkan untuk sebuah rapat di tempat kerja! dan kau tak marah ketika aku tertidur kembali (meski aku kemudian menjelma chizumi yang payah). kau mungkin juga tahu, tapi jaga-jaga kau lupa, aku sampaikan kembali bahwa aku selalu bertekad yang sama seperti chizumi. hehe.

setelah tiga belas tahun dari jalan setapak menuju kampus itu, kau tahu, perempuan muda yang bersamaku itu tetap banyak bicara. suatu ketika, aku menyadari, dia menjadi lebih dewasa daripada aku. menjadi tak lagi lebih kurus daripada aku. menjadi lebih logis, menjadi lebih tegar dan sabar, dan jadi kerap mengingatkanku agar tidak suka marah-marah. belakangan ini, aku banyak belajar dari perempuan itu. darimu, git.

dulu, aku pikir aku yang akan lebih banyak mengajarkan perihal ketegaran dan ketabahan kepadamu setelah melewati banyak kehilangan. ah, kau tahu, sebenarnya, sejak awal, aku yang selalu belajar kepadamu. hanya saja, mungkin kita terkadang berharap bisa memberikan sesuatu kepada orang yang kita sayangi, tak melulu "mengambil". semoga ada yang bermanfaat dariku. karena aku ingat status facebook seorang petinggi di kantor kita. aku lupa apa tepatnya, sudah agak lama aku membacanya (kau bisa stalking nanti, kau lebih canggih dalam urusan itu). intinya, dalam persahabatan itu, harus saling menguntungkan. semoga persahabatan kita juga.

tapi, jika kau merasa tak beruntung bersahabat denganku, cobalah gali lagi lebih jauh akan hal itu. jangan cepat menyerah, mana tahu memang ada. lagi pula, sayang sekali 13 tahun yang kita lewati jika kau ingin mengakhiri hari ini, pada perayaan hari lahirmu.

ah, aku sebenarnya mencoba melucu di paragraf atas itu. maafkan jika tak lucu, soalnya hampir setahun ini, aku selalu dicekoki lawakan, hmm, kurang lucu seorang editor (komedi) di ruangan kita. sebut saja inisialnya e.l.l.y. :))) ya, setelah pernah satu asrama, satu indekos, kini kita satu ruangan di tempat kerja.

semoga untuk menjadikan hubungan lebih kuat tak melulu seseorang harus jauh terlebih dahulu. tak mengapa bukan, jika kau kuat dengan tetap dekat dan bersama sampai akhir usia.

baiklah. kali ini, aku ingin mengakui postingan ini tentang kisahku sendiri (setelah aku kerap meniru tagline sebuah blog tetangga: it's my blog, it's not about me). jadi, tak perlu kau menerka-nerka ini tentang siapa.

dan, sebenarnya, aku ingin mengucapkan selamat lahir untukmu. jauh sebelum hari ini, kau telah menjelma perempuan dewasa, lalu menjelma seorang ibu yang penuh kasih sayang. semoga kebaikanmu menjadi tabungan bahagia. tidak hanya sampai 15 tahun seperti rentang cicilan kpr. semoga selamanya.

mengutip novel tomodachi yang ditulis winna efendi, semoga kita selalu tetap ada untuk satu sama lain; karena kita adalah teman--tomodachi--dan semoga selamanya.

selamat hari lahir, gita.
terima kasih masih mau mempertahankan persahabatan kita.
suatu hari, aku ingin menghadiahkan sebuah novel untukmu. tentang kita.
suatu hari. anggaplah ini sebuah janji (seperti janji kita juga buat seorang editor di kantor kita. hehe).

aku sayang gita. melebihi siapa pun yang pernah kubuatkan sebuah--ataupun lebih--tulisan di blog ini. :D




with love,
--iwied, yang berusaha tidur pada waktu normal pukul 11, tetapi tetap gagal dan akhirnya sudah pukul dua pagi saja. yang sempat berhenti di beberapa kalimat ketika menuliskan ini, mengusap air matanya. lalu, memaki diri karena menyadari dirinya cengeng. yah, sebelas-dua belas-lah sama chizumi. :p



Thursday, June 12, 2014

sejenak

malam sudah jauh.
aku tahu seharusnya aku sudah beranjak tidur.
pekerjaan esok menunggu, tertumpuk tak selesai di atas meja.

namun, televisi tiba-tiba saja memutarkan lagu kesukaanku, tentang pulang.
tiba-tiba saja, aku ingin pulang. 
entah ke mana; karena sebenarnya aku sudah berada di rumah.

tiba-tiba saja, aku ingin pulang.
berhenti sejenak dari segala pembicaraan yang membuat isi otakmu seolah habis terkuras. hingga hal terlucu pun tak mampu memicu saraf tawa.
aku ingin pulang,
ke tempat hal paling menyedihkan pun terhapus, hanya dengan sapa tulus.
ke tempat alunan lagu-lagu sendu yang kusuka bahkan mampu menguarkan bahagia.

aku ingin pulang.
sejenak.


kepadamu





besok,
tunggu aku di kafe kecil favorit kita.
kita akan merayakan sesuatu, tentu saja. 
baiklah, memang sudah terlalu banyak yang kita rayakan, di sudut kecil kafe yang penuh buku di dindingnya.
tapi, bukankah begitu sebaiknya kita memperlakukan sebuah hari? 
tak ada hari yang tak istimewa. dan, agar pula tidak habis kebersamaan kita.
kebersamaan yang terkadang mungkin membuatmu harus mereka-reka apa lagi kata-kata yang akan lebih bertahan lama hangatnya ketimbang minuman yang kita pesan. 

namun, setelah besok, mungkin tak perlu lagi kau mencari-cari bahan cerita. dan, aku pun akan berhenti mencoba memaki diri karena terlalu banyak bicara. 

besok, tunggu aku di sudut favorit kita.
pukul tujuh malam, agar kita punya waktu sedikit lama. tidak terlalu terburu-buru agar tak mengurangi waktu tidurmu. 

besok, kita merayakan sesuatu. 
kau tahu, kata orang, kita tak tahu kapan kita jatuh cinta.
namun, kita tentu tahu kapan kita harus berhenti jatuh cinta.
aku telah memutuskan besoklah harinya.
dan, kita harus merayakannya.
kau dan aku.
kita berdua. di tempat kali pertama kita bercerita panjang. tentang apa saja, kecuali di mana kita harus berhenti. karena dalam segala mimpimu, mata angin tak pernah mengutara.

besok, 
aku telah memutuskannya. 
tunggu aku pukul tujuh. mungkin, akan lewat sedikit. tapi, aku tak akan membiarkanmu lama menunggu, kali ini.
dan, kita akan merayakan hari ketika aku memutuskan berhenti jatuh cinta.
kepadamu.


Wednesday, June 11, 2014

dalam memori




gambar dari sini




"the waters calm and still
my reflection is there
  i see you holding me
but then you disappear
all that is left of you
is a memory
on that only, exists in my dreams"




ri,

aku tak tahu bagaimana cara menghubungimu. kau telah lama menghilang dalam halaman-halaman kisah kitaya, kita memutuskan kau harus "dihapus".
tapi, seperti dahulu, sesekali, mungkin saja kau akan singgah ke sini. dan, jika kau membaca suratku ini, kau akan tahu bahwa kaulah yang aku tuju.

apa kabarmu? masihkah kau menyeduh kopi pada pagi yang tak pernah kau lewatkan? 

masihkah kau menghabiskan waktu membaca buku dengan "kiss the rain" berulang-ulang dari laptopmu yang kau biarkan menyala?

masihkah kau melewati akhir pekan dengan berlari di jalan setapak yang dinaungi pohon-pohon kapuk?

masihkah kau ingat kata-kata yang membeku di antara kita, ketika waktu tak memberi kita kesempatan lebih dulu? "aku menyayangimu, tetapi seharusnya kita bertemu sejak dulu."

aku masih ingin bersamamu, kita saling mengucapkannya. tetapi, diam-diam, kita pun saling tahu itu hanya untuk membesarkan hati yang pilu. kita tak akan pernah bisa bersama meski berjuta "ingin" kita jadikan mantra.

kata-kata pun tak mampu bersetia pada janjinya sendiri. kita? kita terbiasa menertawakan anak-anak remaja yang jungkir balik karena cinta.
kita tak lagi muda untuk melakukan sesuatu yang disebut demi cinta. dan, akhirnya kita pikir; biar mengalir saja. cinta akan membawamu ke akhir yang tepat. begitulah seharusnya kita berlaku sebagai orang dewasa.

ri,
hidup memang tak pernah seperti dongeng, yang mampu mematahkan sihir duka dengan kecupan atau peluk hangat dari orang yang kau cinta. yang mampu merekatkan repih hati menjadi seperti semula.


nyatanya, hingga kini, hati ini masih saja retak; ah, mengikis, lebih tepatnya.  


ri,
ketika kau membaca surat ini, mungkin di luar, matahari sedang garang-garangnya.
tapi, jika kau di sini malam ini, kau akan tahu.
malam ini, hujan di luar bertalu-talu. begitu pula rindu.

ri,
ketika menuliskan pertanyaan ini, aku tahu diriku akan menjelma sisipus dan tak akan ada mantra yang akan mematahkannya. tetapi, tak apa. kau harus tahu. bahwa tetap ada satu tanya yang masih saja berkeliaran di tempat paling jauh di sudut hatiku
: mengapa cinta bukan milik kau dan aku?




p.s.
ri, 
pernahkah kau dengar bagaimana akhir kisah sisipus? apakah ia akhirnya menyerah dengan apa yang ia lakukan? ataukah ia menemukan bahagia pada satu titik dalam langkahnya? 

Wednesday, May 07, 2014

dia

jika kau bertanya, ya, masih ada cinta untuk laki-laki yang dulu kerap membawakan aroma pagi untukku. dan, kau pasti akan bertanya mengapa, padahal waktu telah lama berlalu.

entah. padahal, bersamanya, tidak semua kisah adalah bahagia. dan, untuk rencana hari depan, tidak terlalu banyak pula bahagia yang disisihkannya dalam helai-helai buku yang ia baca.

mengapa masih ada cinta untuk dia? 
entah. mungkin hidup memang tak perlu melulu tentang bahagia.
hanya saja, bersamanya, kau percaya semua akan baik-baik saja. 
mungkin itulah mantra yang mengekalkan dia dalam waktu. 

dan, kurasa, itu cukup untuk bekal dalam sisa usiaku.




Friday, March 21, 2014

Perkawinan



gambar pinjam di sini!



Aku menatap bingkai foto yang akan kuturunkan. 

Foto saat kami di sebuah pantai saat masih berkencan. Bisa dibilang, di sinilah aku menyadari bahwa aku mencintai laki-laki yang ada di sampingku itu dengan sangat. Cinta yang yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun. Saat kami menikah, aku pulalah yang akhirnya mencetak dan membingkai foto ini. Bagus. Hanya itulah yang kusampaikan kepada laki-laki yang telah menjadi suamiku. Tanpa pernah menyampaikan alasan sebenarnya. 

Dan, hari ini, menatap foto dua orang berjalan bergandengan tangan di tepi pantai dengan bayangan memantul di bawah mereka, mataku memanas. Tuhan, jangan sampai aku menangis. Tidak. Aku tidak boleh lemah. Aku buru-buru meraih bingkai itu, tetapi ternyata tanganku tidak sampai. Aku perlu kursi, sementara kursi-kursi sudah berada di mobil boks sewaan yang ada di halaman rumah. Siap membawa semua barang yang ada di rumah ini.

Saat aku memaksa untuk berjinjit meraih bingkai itu, sebuah suara menghentikanku.

“Hei, kenapa tidak minta bantuanku?” tanyanya. Ia sudah berada di sampingku, bersiap menjangkau bingkai itu.

“Aku bisa sendiri, kok. Cuma mengambil bingkai itu saja,” sahutku, berharap tak ada air mata yang membias.

Bingkai foto itu sudah berada di tangannya. Laki-laki itu menatapnya lama, hal yang tak aku duga.
Dia menoleh kepadaku, bertanya, “Kau mau menyimpannya?”

Aku menjawab cepat. “Tentu saja, ini foto bagus. Aku suka, entah denganmu.”

“Oh, iya, maksudku….” Ia tampak menahan kata-katanya, dan aku pun mencoba tak tertarik mendengar lanjutannya. Memang dia yang membelikan bingkai itu, tetapi bukan berarti bingkai dan foto ini menjadi miliknya, kan?

“Maksudku, kalau kau tidak keberatan, sebenarnya, aku ingin menyimpannya. Aku tidak punya foto kita yang tercetak.” Ia melanjutkan, seakan ada nada takut-takut dalam suaranya.

Aku tercekat. Tak pernah berpikir ia berniat menyimpan foto kami ini.

“Kau tahu,” lanjutnya, “ada sesuatu yang berarti dalam foto itu. Tapi, mungkin memang sudah tidak ada artinya lagi saat ini.” Ia menatap kami yang berjalan di tepi pantai kala petang menjelang.

“Iya, efek senja di foto ini memang cukup dramatis,” selaku, tak ingin membicarakan apa-apa lagi saat ini—apalagi, yang terkait dengan perasaan.

“Bukan itu,” balasnya. Dalam beberapa jeda, ia melanjutkan, “Kau tahu, jika aku harus memilih, itulah hari yang ingin terus kuulang selama hidupku. Hari saat aku paham arti bahagia.”

Ada hening yang panjang di ruang keluarga yang dulu pernah kami sesaki dengan cinta. Hening yang dengan ganjilnya kemudian menjelma angin dingin yang bagai angin berembus ke hatiku yang porak-poranda. Membekukannya segala hal yang ada di sana.

“Amy,” ucapnya, meraih tanganku untuk ia genggam. “Kalau suatu hari nanti kau mau memaafkanku—“
Ucapannya terputus. Suara klakson mobil boks yang kami sewa sudah menunggu.

Aku melarikan tanganku yang ia genggam longgar ke bingkai foto yang masih ia pegang dengan tangan yang sebelah lagi.

Klakson mobil boks yang sudah lama menunggu itu memanggil sekali lagi. 

Tak ada waktu panjang untuk membicarakan sebuah bingkai foto tua. Sudah sepuluh tahun berlalu. Banyak yang berubah.

Juga perasaan.

Dan, memang sudah saatnya kami berpisah. Pindah ke tempat hati masing-masing merasa nyaman.
Ke mana pun. Yang pasti, bukan lagi di dalam sesuatu yang sebelumnya kami sebut sebagai perkawinan.

***



*504 kata, praktik menulis tentang "pindah" dalam waktu 15 menit (pukul 1.10—1.25 WIB),
1 Februari 2014

Friday, January 31, 2014

mungkin ini tentang rindu


pinjam gambar dari sini!


sudah akhir januari. 2014. sudah satu bulan berlalu sejak kembang api tahun baru habis terbakar di langit. dan, banyak harapan dan impian yang terucap. yang kata orang mampu membuatmu tetap hidup. harapan dan impian saya tahun ini? cukup banyak, salah satunya ingin punya sepeda. hehe. terdengar seperti anak sekolah dasar, ya? tak apalah, namanya juga impian. targetkan dari yang kecil-kecil dulu.

bicara tentang target, teringat sebuah tip menyelesaikan tulisan dengan deadline yang pernah saya baca. dalam membuat target deadline menulis sebuah novel, biar lebih terjangkau dan kamu pun bisa mencapai target itu tanpa stres, buatlah target deadline yang lebih kecil; jangan dalam hitungan "besar". misalnya, kamu ingin menyelesaikan sebuah novel setebal 200 halaman dalam dua bulan. uraikan targetmu dalam target-target kecil agar terasa lebih ringan dan tidak membebani. namun, tentu saja, kamu tahu ke mana muara target-target kecil itu. jadikan deadline-mu sebagai rutinitas harian.

bikin target harian. misalnya, dalam satu hari, target tulisanmu adalah empat halaman  yang mungkin saja bisa kamu selesaikan hanya dalam beberapa jam (kalau bisa menyelesaikan lebih dari target halaman harian, ya, itu bonus untuk dirimu, tetapi tentu bukan alasan untuk mengurangi jatah target hari berikutnya alias rapel). jika target harianya empat halaman, untuk 200 halaman itu, berarti bisa kamu selesaikan dalam waktu 50 hari.

dari hasil itu, kamu punya "bonus" hari 10 hari dari target awal dua bulan (60 hari). bonusnya bisa kamu gunakan sesuka hatimu. apakah dengan merayakannya dengan pergi piknik atau duduk ngobrol di kedai kopi bareng sahabat, monggo. saat masih ada sisa hari lagi, mungkin bisa kamu gunakan untuk memeram tulisannya dan siap dibuka kembali untuk kamu baca kembali dan, ya, tentu perlu ada self-editing. untuk self-editing, bisa kamu lakukan di tempat yang berbeda agar dapat suasana yang berbeda juga.

*mungkin, di antara kita, ada yang merasa lebih baik tetap langsung menargetkan: dalam dua bulan, saya akan menyelesaikan sebuah novel tanpa memerincinya dalam satuan yang lebih kecil lagi. bisa jadi, kamu tipe penulis cepat atau tipe penulis penunggu suasana hati. tapi, percayalah, terkadang, satu-dua bulan akan dengan cepat melambaikan tangan. dan, sayonara-lah buat novel yang ingin diselesaikan dalam dua bulan itu :)). yang terakhir ini, peringatan buat diri saya juga, lho. hehe. 

demikianlah tentang "target menulis dalam dua bulan". haha. sebenarnya, saya bukan ingin menulis tentang semacam tip menulis itu. sebenarnya, saya ingin menulis tentang kenapa sudah lama saya tidak menulis di sini. entah kenapa. ada saja alasannya. salah satunya, mungkin akhir-akhir ini, saya seolah tak sempat "berbicara" kepada diri saya sendiri. padahal, ketika menuliskan sesuatu di sini, ada kenyamanan ganjil yang saya rasakan. seolah menjadi terapi, yang mungkin memang menjadi salah satu cara saya untuk berbicara kepada diri sendiri. juga kepadamu.  

belakangan ini, baru satu bulan dalam 2014 ini (ya, saya memang sengaja menuliskannya "baru satu bulan", sementara di awal tulisan, saya bilang "sudah satu bulan"), sudah banyak hal terjadi di sekitar saya. seakan-akan, awal tahun merupakan langkah yang tepat untuk memulai sesuatu bagi orang-orang di sekitar saya. ya, mungkin, awal tahun memang waktu yang tepat untuk memulai impian baru, melanjutkan impian lama, ataupun mewujudkan impian yang sudah lama tersimpan rapat. mungkin tahun baru menjadi semacam titik nol dalam sebuah langkah. sekarang atau tidak akan pernah terjadi lagi. mungkin, memang demikian. 

ah, sebenarnya, saya ingin menulis malam ini karena saya tidak ingin melewatkan label "januari" pada lini masa blog ini. awalnya begitu. namun, saya baru sadari bahwa saya rindu menulis di sini. saya rindu bercerita kepada diri saya sendiri. dan, saya rindu bercerita kepadamu. 

ya, kepadamu. kau yang kembali ditelan tahun yang telah berganti.



Thursday, December 19, 2013

khianat

pagi ini, aku menemukan matahari berkhianat kepadaku.
kemarin ia katakan rindu, tetapi hari ini malah membakarku.

kau tahu rasanya dikhianati?
seperti menemukan hatimu mengabu
lalu, angin mengempaskannya ke segala penjuru.
dan, seketika, jiwamu kosong.

akankah matahari tahu?
mungkin tidak.
tapi, kau--kau sudah bisa membayangkannya, kan?
ya, begitulah rasanya.

Tuesday, November 19, 2013

[3] Quote #PenjualKenangan


part 3. 

terima kasih telah berkenan menjadi kenangan. :')


love, 

widyawati oktavia



saya juga suka gambar dari 
tapi, tidak bisa disimpan. silakan klik sendiri ya. :)



Embedded image permalink




Embedded image permalink
"

Embedded image permalink

@widya_oktavia

Embedded image permalink


Image preview
Embedded image permalink
Embedded image permalink
Image preview
Embedded image permalink
Embedded image permalink

Embedded image permalink
Embedded image permalink



LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin