Penjual Kenangan

Monday, September 16, 2013

Cinta. (baca: cinta dengan titik): Sebuah Kisah dari Balik Kubikel





Saya kali pertama jatuh cinta dengan tulisan Bernard Batubara a.k.a @benzbara_ saat blogwalking ke bisikanbusuk.blogspot.com. Mungkin karena saya juga pencinta cerpen, ada sebuah “tring!” di benak saya ketika menelusuri beberapa tulisan di blog Bara tersebut. Oleh karena itulah, saya berpikir bahwa Bara harus menulis novel. (Oh ya, kali pertama berkenalan dengan Bara, kami berkomunikasi lewat e-mail Bara dengan format display name-nya masih, hmm, sedikit toGGLE caSE :p --> beRnaRd batubaRa).

Setelah perkenalan itu, lahirlah Kata Hati: Sebutlah Itu Cinta. Lewat buku pertama Bara itu, saya mulai memahami gaya penulisan Bara. Sebagai orang yang terbiasa menulis cerpen yang hanya perlu napas pendek untuk menyelesaikan “sebuah kisah” , saya sedikit paham kendala-kendala dalam menuliskan novel yang perlu napas panjang. Namun, kelebihan seorang penulis cerpen bisa jadi adalah mampu menulis dengan cepat karena biasanya ide satu “kisah utuh” sudah ada di benak mereka dan terkadang bisa menuliskannya dalam satu malam sampai “selesai”.

Nah, kemampuan menulis cepat itulah yang dimiliki Bara yang terkadang jauh beberapa langkah di depan jadwal deadline saya. Dalam menulis novel, ia seakan menjelma Bandung Bondowoso yang mampu menyelesaikan seribu candi untuk Roro Jonggrang. Diam-diam, saya berpikir bahwa dalam kehidupan sebelumnya, Bara adalah Bandung Bondowoso yang bisa menyewa jin untuk menyelesaikan naskah novel secepatnya.

Suatu hari yang ceria pada September, Bara mengirimkan sinopsis dengan outline lengkap untuk judul “Love is Right”. Bara sudah sedikit bercerita tentang tema yang akan dia angkat dalam novel terbaru ini, yaitu perselingkuhan. Menjadi orang ketiga dengan tokoh utama seorang perempuan.

Menuliskan tokoh dengan sudut pandang yang berkebalikan dengan gender kita pasti memiliki kendala tersendiri, misalnya perempuan menulis tokoh laki-laki dan sebaliknya. Jika tidak hati-hati, sering kali, “suara” tokoh laki-laki itu akan terasa terlalu perempuan. Begitu juga sebaliknya, seorang laki-laki terkadang akan menemukan kesulitan untuk memasukkan “suara” perempuan ke diri tokohnya. Ketika Bara menyodorkan Nessa sebagai tokoh utama dalam draf “Love is Right” ini, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Gaya bahasa dan gaya penceritaan Bara yang bisa dibilang sendu dan penuh perasaan tentu tidak terlalu sulit untuk masuk ke dalam “suara” perempuan.

Setelah membaca sinopsis dan outline tersebut, saya mengajukannya ke rapat redaksi untuk penentuan status terbit. Selang beberapa waktu dari pengiriman outline tersebut, pada sebuah hari pada Desember 2012, dengan kemampuan menulis cepatnya, Bara sudah mengirimkan naskah yang sudah selesai ditulis. Hadirlah kisah cinta Nessa yang berada pada posisi orang ketiga dalam kisah yang masih bertajuk “Love is Right” ini. Ada Demas yang membuat Nessa jatuh cinta, dan ada Endru yang dihadirkan oleh ayah Nessa agar putrinya tak lagi sepi.

Dalam naskah tersebut, ada hal-hal mendasar yang perlu direvisi. Pada akhir Desember itu, saya pun mengirimkan sekitar 15 catatan besar untuk hal-hal mendasar tersebut agar naskah lebih utuh.  Lalu, hanya dalam hitungan hari, pada Januari 2013, Bara sudah mengirimkan kembali hasil revisi naskah yang ia tulis. Tentu saja saya gundah gulana; senang, takjub, bingung, iri, semua bercampur aduk. Dalam hati, saya tak lagi meragukan bahwa Bara memang Bandung Bondowoso yang menyewa jin dan berpikir mungkin saya juga perlu menyewa jin untuk menyelesaikan semua editan secepatnya. :p

Naskah yang sudah saya terima itu telah menghadirkan Nessa sebagai seorang perempuan penyuka puisi, yang kehilangan cinta dan merasakan gurat luka yang dalam di hati karena ditinggalkan sang Ibu yang memilih cinta-yang-lain. Ia membenci “cinta-yang-lain” itu karena gores kesedihan masih jelas di gurat wajah sang Ayah, dan seakan masih menggores di dinding-dinding rumah mereka. Namun, bagaimana jika tanpa ia minta dan ia sadari dirinya malah menjelma cinta yang lain itu, dan tentu saja akan mengguratkan luka di hati seseorang yang lain. Nessa dilema, apakah harus memilih cinta ataukah mematahkan hatinya sendiri. Demikianlah kisah yang dituturkan Bara.

 Namun, sebelum lebih lanjut hanyut dalam kisah Nessa, saya tentu harus mengecek hal-hal yang perlu diedit dan direvisi dalam naskah tersebut. Dengan berat hati karena jumlahnya memang “sedikit” banyak, pada April 2013, saya mengirimkan catatan untuk cinta Nessa kepada Bara. Memang ada sekitar 200-an catatan agar kisah Nessa-Demas-Ivon-Endru itu lebih maksimal lagi. Dan, karena saya sudah yakin Bara adalah Bandung Bondowoso, saya tidak terlalu khawatir. Jin yang Bara sewa pasti bisa menyelesaikannya! Hehe.

Lalu, setelah revisi, proses editing berlanjut, kemudian naskah masuk setting. Agar tempat-tempat yang diceritakan lebih terasa, saya juga mencari beberapa referensi gambar untuk ilustrasi dan meminta bantuan Gita—desainer Bukune—untuk memesankannya kepada ilustrator. Saat proses proofreading atau koreksi, setelah dicek oleh proofreader—Elly, editor Bukune juga—saya mengecek kembali naskah ini. Saya tipe orang yang  merasa bahwa membaca naskah di layar komputer dan di kertas itu punya sesuatu yang berbeda. Ketika membaca di kertas, saya akan menemukan kembali hal-hal yang mungkin terlewat saat membacanya di layar komputer. Saya merasa lebih maksimal membaca naskah di kertas, seperti membaca buku. Mata jadi lebih awas. Oleh karena itu, saya kerap membaca kembali editan yang telah di-setting dan dikoreksi tersebut dan menemukan hal-hal yang masih terasa janggal. Saya pun mengirimkan catatan ke Bara. Saya yakin Bara masih mampu menyewa jin untuk menyelesaikan beberapa catatan itu agar hal yang masih terasa “bolong” bisa ditutupi.
 
Oh ya, selama proses naskah ini, saat ada acara di Yogyakarta, saya sempat bertemu Bara di kedai donat yang sepertinya jadi tempat favorit Bara menulis. Di sana, kami membahas beberapa hal yang masih janggal. Saat itu, Bara langsung merevisi hal tersebut-saya cek-Bara koreksi lagi-saya cek lagi sampai yakin itu sudah oke. Saat itu, saya melihat Bara mengerjakannya sendiri, tanpa ada jin di sana. Saya sempat merasa ragu kala itu apakah Bara adalah Bandung Bondowoso atau bukan. Tapi, kemudian berpikir, bisa saja, saat itu, jinnya lagi libur kali ya atau tidak suka donat.

Setelah naskah selesai dikoreksi, revisi minor, memasukkan koreksian lagi ke naskah yang telah di-setting, memasukkan ilustrasi di tempat yang pas, akhirnya saya mengirimkan naskah yang sudah fix kepada Bara. Untuk setiap buku yang akan terbit, tentu saja selalu ada usaha maksimal yang dilakukan agar pembaca merasa puas dengan buku yang mereka beli. Segala usaha revisi dan sebagainya itu merupakan sebuah langkah menuju hal itu. Berpikir bahwa penulismu adalah jelmaan Bandung Bondowoso dan punya jin juga semacam penyemangat untuk mengirimkan “banyak” catatan revisi- tanpa-merasa-bersalah. :D

Sementara proses naskah dan settingan berlangsung, proses pembuatan cover juga sudah berlangsung. Kami—saya, Gita, dan Bara—sempat berdiskusi sebelum disebar ke pooling redaksi untuk cover yang sudah dibuat beberapa alternatifnya oleh Gita. Dengan beberapa alternatif baru dan beberapa yang alternatif lama, ternyata yang terpilih adalah cover yang sudah masuk alternatif sebelumnya, dengan beberapa catatan.

Sementara itu juga, blurb, judul, dan tagline juga sedang digodok. Saya sempat meminta Bara untuk mengirimkan alternatif blurb agar dapat gambaran novel ini dari sudut pandang Bara. Saya memodifikasi beberapa blurb yang telah saya buat dengan memasukkan beberapa unsur usulan Bara. Lalu, terpilihlah judul Cinta. (yang diusulkan Mbak Windy Ariestanty, koordinator Bukune) dari beberapa usulan. Nah, saya modifikasilah blurb yang sudah ada agar “masuk” ke judul ini dan mampu merangkum isi buku. 


Pemilihan tagline juga cukup alot karena perlu ada sesuatu penghubung antara judul dan isi. Tagline sekarang ini, yaitu (baca: cinta dengan titik) merupakan sebuah cara sederhana menerjemahkan judul buku ini. Tercetuskan oleh Mbak Windy ketika kami rapat bersama di sebuah kedai kopi, sebuah penerjemahan dari judul yang ia usulkan. Dengan judul dan tagline tersebut, pembaca diharapkan mendapatkan mampu memberi kesan atau tafsiran terhadap buku ini dengan pandangan #cintadengantitik yang mereka bayangkan.   

Setelah judul, tagline, dan blurb fix, finishing cover pun dapat dilakukan. Bara pun sudah oke dengan segala hal menyangkut buku ini. Materi pun masuk percetakan. Penghitungan harga dilakukan, lalu jadwal masuk gudang pun dilakukan. Preorder dan sebagainya pun segera dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.

Sebagai editor, hal paling menyenangkan dari sebuah buku terbit adalah ketika bukti terbitnya sudah sampai di redaksi. “Eh, udah jadi, ya?” Itu pertanyaan retoris yang kerap terucap, dengan hati riang. Bau buku baru akan menggiringmu untuk merecoki pekerjaan bagian sekretaris redaksi yang sedang membuka kertas cokelat pembungkus bukti terbit buku itu. Tanganmu akan menelurusi sampulnya, memastikan finishing cover-nya sesuai, membaca kembali judul, tagline, blurb yang diperdebatkan cukup panjang ada di sana. Juga membolak-balik isinya dan menghirup bau kertas yang khas.

Dan, hal paling menyenangkan lagi dalam melihat buku baru adalah ketika membayangkan penulis sumringah melihat hasil karyanya itu. Juga tentu saja, seorang editor akan ikut berdebar membayangkan respons pembaca terhadap buku itu. Kritik dan saran pembaca tentu saja akan menjadi catatan tidak hanya bagi penulis, tetapi juga bagi editor. Respons apa pun, semua itu sangat berarti, apalagi ketika mendengar pembaca berharap menunggu buku selanjutnya dari penulis yang bukunya kau edit. Itu akan semakin membuatmu bersemangat mengedit dan mengusahakan yang lebih baik lagi.

Selamat atas terbitnya novel Cinta., Bara. Semoga semakin berkarya dan menginspirasi dalam cinta (#eh). Untuk kamu, para pembaca, selamat menikmati Cinta. dan semoga menemukan titik dalam perjalanan cinta.


P.S.
Saya sudah tidak bertanya-tanya lagi apakah Bara itu Bandung Bondowoso atau bukan. Tapi, sekarang, saya malah jadi bertanya-tanya, siapa Roro Jonggrang yang akan Bara buatkan seribu novel? ;)


With love,
Widyawati Oktavia

 ______________

#VirtualBookTour



Thursday, August 22, 2013

22| Tentang Cincin





Aha. Itu gambar beberapa cincin yang saya punya. Ada beberapa yang tidak masuk foto karena ditaruh (agak) sembarangan. Kalau yang ini saya letakkan di dalam kaleng yang sama. Sebenarnya, yang sering saya pakai setiap hari hanyalah yang bulat kecil (yang posisi tengah di bagian kanan). Yang lainnya jarang dipakai karena agak longgar di jemari saya. Cincin yang sering saya pakai pun saya kenakan di ibu jari kiri. Kalau cuci tangan dan sebagainya, pasti dilepas dulu karena khawatir lepas dan hilang tanpa diketahui. 

Sejak dahulu, saya senang pakai cincin, terutama cincin perak bakar. Saya masih ingat cincin perak yang pertama saya beli dan harganya cukup mahal untuk ukuran saya yang masih SMA. Cincin itu tak pernah lepas di jemari saya, sampai suatu hari raib entah ke mana. Lalu, silih berganti cincin saya kenakan dan banyak yang hilang dengan alasan lepas entah di mana, ketinggalan saat nyuci piring, dan sebagainya.

Pernah juga sebuah cincin saya hilang di kampus dan seorang laki-laki yang baik hati ikut menyusuri mencari cincin itu. Hehe. Lalu, ada juga cincin seorang teman yang ia janjikan akan diberikan kepada saya jika ia sudah kembali dari jalan-jalannya, tetapi kemudian cincin itu hilang. Ya, jika ada orang yang pakai cincin unik, pasti saya tak lepas melihat jemarinya dan tentu saja ingin mencobanya di jemari saya. :D

Oh ya, cincin bulat yang sering saya pakai sekarang itu dibeli waktu saya ke Yogya bareng Gita dan Wira, tahun 2008. Cukup lama juga usia cincin itu dan untungnya menjadi milik saya meski beberapa kali terselip. Gita dan Wira dengan bersemangat menemani saya menyusuri Kotagede di Yogya untuk menemukan cincin yang pas. Senang menemukannya satu karena kebanyakan lingkar cincin model seperti ini terlalu besar. Kebanyakan yang kecil itu semacam cincin yang "manis" yang biasanya lingkarnya kecil dan diakhiri dengan permata di atasnya. Saya kurang suka cincin seperti itu karena terasa seperti cincin yang terlalu serius. Hehe. 

Lalu, cincin yang ada batunya itu sebenarnya cincin ibu saya, yang diberikan untuk saya pada suatu waktu. Cincin itu terlalu besar di lingkar jari mana pun di tangan saya. Jadinya saya simpan selalu dan biar tidak hilang juga. :)

Yang lainnya sebenarnya punya cerita sendiri, tapi waktunya sudah terlalu malam untuk menceritakannya. Cincin-cincin ini saya sayangi dan semoga ia juga menyayangi saya. Kau tahu, setelah terbiasa dengan sesuatu, seperti halnya sebuah cincin di jemarimu, ketika ia tiada, kau akan merasa kehilangan. 

Dan, saya telah beberapa kali merasakan kehilangan. Kali ini, saya tak ingin lagi. Saya akan berusaha untuk menjaganya. Tapi, kau pun paham bukan, manusia hanya merencanakan, Dia yang menentukan. 

Kau pasti sudah sangat paham. Saya tak ragu.


______
[#22| Proyek #CeritaDariKamar]  

Wednesday, August 21, 2013

21| Dari Kelas Menulis








Indonesia Tebar Pesona (ITP) merupakan salah satu acara tahunan yang diadakan oleh almamater saya di Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (oh ya, setahun setelah kuliah, jurusan saya itu disebut Program Studi Indonesia). Acara ITP ini diadakan dalam rangka bulan bahasa pada Oktober. Sebuah acara yang ternyata sampai sekarang masih digalakkan oleh adik-adik kelas dan tentu saja sekarang acaranya semakin variatif. 

Dulu, acara ITP ini masih berupa diskusi buku, pementasan teater, lalu ada juga lomba dongeng, lalu berkembang lagi dengan berbagai acara dan lomba-lomba lainnya. Dulu, saat kuliah, saya kerap ikut jadi panitia di ITP ini. 

Pada ITP 2013 tempo lalu, merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk ikut menjadi salah satu pengisi acara di kelas menulis yang diadakan. Bersama dua orang adik kelas yang juga merupakan penulis, saya berbagi tip menulis dan proses kreatif menulis. Sebuah acara yang menyenangkan, bahkan ada peserta yang datang dari luar kota. Dan, saya hadir di sana bukan lagi sebagai panitia. 

Waktu benar-benar beterbangan. Memang sudah begitu lama setelah saya kali pertama masuk ke kampus dengan dinding-dinding bata tanpa plesternya begitu khas. Kampus yang selalu membawa banyak kenangan bagi saya. Hari-hari saya semasa kuliah habis di setiap sudut kampus itu. Bahkan, ketika kembali ke kampus itu, keakraban itu masih begitu nyata. 

Di antara tahun-tahun yang telah terlewat, banyak yang juga tidak berubah. Para penjaga kantin masih banyak yang saya hafal dan beberapa hafal muka dengan saya. Dan, setiap datang ke gedung kegiatan mahasiswa, gedung itu terasa tidak banyak berubah, terutama koperasi mahasiswa, tempat banyak waktu saya habiskan pula di sana. Para penjaganya masih sangat akrab dengan saya karena saya pernah jadi pengurus. Beberapa jajanan masih ada yang sama. 

Waktu berlalu. Sudah dua belas tahun sejak saya menjadi mahasiswa baru alias maba di kampus itu. Namun, kembali ke kampus itu, perasaan sebagai mahasiswa itu ternyata masih menyisa.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Ruang-ruang kelas dengan dinding bata itu, mereka tentu penuh dengan cerita, juga rahasia-rahasia yang didengarnya. Dan, tak terbayangkan betapa kaya ia akan ilmu yang setiap hari ia serap dari guru-guru yang membagi ilmu.


Dan, mungkin karena itu pula, semangat belajar selalu terasa menggelegak kala menyentuh dinding-dinding itu. Kau tahu, dari kelas menulis itu, ada sebuah harap yang terucap semakin nyata: semoga suatu hari, saya bisa belajar lagi di kampus itu. Di kampus itu, yang ruang-ruang kelas, selasar-selasarnya, kantin, pusat kegiatan mahasiswa, dan perpustakaannya ikut mendewasakan saya.

Amin.

 _____
[#21| Proyek #CeritaDariKamar]   

Tuesday, August 20, 2013

20| Mencari Televisi









Saya lupa kapan kali pertama punya televisi di kosan, apakah saat lulus kuliah dan menempati indekos baru di dekat gerbang "Selamat Datang Kota Depok" ataukah sebelumnya. Televisi yang saya punya kali pertama itu merupakan televisi tidak terpakai di rumah kakak saya di daerah Jakarta Barat sana. Waktu itu, saya lupa bawanya naiknya apa, sepertinya naik taksi bareng dengan kompor dan tabung gas. Waktu bawa tabung gas itu, saya ditakut-takuti sama tukang taksi yang bercerita tentang tetangganya yang kena ledakan gas tiga kilogram itu. Saya sempat waswas juga saat itu dan akhirnya berusaha mencari selang yang paling bagus agar merasa lebih aman. Kompor gas itu kemudian menjadi "milik bersama" di tempat indekos saya itu. 

Lalu, televisi yang saya punya itu, 15 inci, kalau tidak salah, rusak dan biarpun sudah diketok-ketok atasnya, tetap tidak menyala. Televisi itu akhirnya berakhir di tukang loak yang kerap masuk ke halaman tempat indekos saya.

Hidup tanpa televisi sebenarnya tidak masalah. Bahkan, terkadang, kalaupun ada, kerap tidak dinyalakan. Kalaupun dinyalakan, terkadang tidak ditonton. Yah, ragam acara yang kurang menarik dan lebih banyak kurangnya membuat saya bukan tv-junki ala Oppie Andaresta. Eh, masih ada yang ingat nggak liriknya? Ini saya kutipkan biar kita saling nostalgia. :)


TV Junki 
(Oppie Andarsta)
Banyak pekerjaan menumpukTapi aku parkir dulu di depan TVSeharusnya kusarapan pagiTapi tanggung ada Madonna di MTV
Kutahu kamu punya janjiTapi kamu nonton Smack Down dulu di TVKini setelah hari berlaluKamu masih nonton Luis Vigo di TV
Semua planning jadi berantakanMalas bergerakMalas berpikir, malas membacaTerhipnotis oleh TVKita kan jadi, TV Junkie
Aku nggak ingin tergantung pada TVHe.. He.. Aku nggak ingin terjebak oleh TVHe.. He.. Kita berdua kadang bertengkar cuma karna TVHe.. He.. TV Junkie
Banyak pekerjaan menumpukTapi sayang ada Srimulat main di TVSeharusnya aku pergi mandiTapi tanggung ada Limp Bizkit di channel TV



Nah, mungkin beberapa acara yang Oppie sebutkan sudah tidak ada lagi atau kurang asyik lagi, ataupun hanya beberapa yang terkadang layak tonton. Kalaupun ada, awalnya bagus, lama-lama mungkin sudah ada kepentingan rating sehingga jadi terasa banyak "bolongnya". Meski jarang nonton teve, rasanya tetap ada yang kurang kalau ia tidak ada di kamar. Terkadang, televisi memang bisa jadi teman, yang kau abaikan tetap ia berceloteh riang. :D

Setelah sekian lama nggak punya teve, akhirnya, saya mencari teve lagi. Awalnya, mau beli yang bekas aja karena hanya biar sekadar ada. Namun, harganya tidak terlalu jauh juga dan saya termasuk yang sering bermasalah kalau beli barang second. Suka ada-ada saja yang malah bikin ia jadi "lebih mahal" dari harga yang baru. 

Televisi yang ada di gambar ini saya beli setelah Gita menikah. Saya ingat karena setelah menikah, Gita beli teve di salah satu pasar swalayan. Lagi diskon, katanya. Jadilah saya berniat mencarinya juga. Lalu, suatu malam, tanpa direncanakan, saya dan Ice--panggilan Ceria, adiknya Gita yang lagi jadi roommate saya setelah Gita--siap-siap ke Margo City. Kami berniat melihat-lihat televisi yang kata Gita diskon itu. Dengan Chizumi (motor matic merah saya itu), kami berangkat ke mal yang tak beberapa jauh dari tempat indekos saya itu.

Akhirnya, kami menemukan televisi yang diskon itu, tetapi tidak ada stok. Lalu, kami melihat televisi yang warnanya unik ini, warna tembaga dan tampak klasik. Setelah tanya ini-itu kepada petugasnya, televisi ini saya beli. Harganya tidak terlalu jauh dengan yang diskon itu. Stoknya pun ada dan petugasnya bertanya apakah televisinya akan saya bawa malam ini (karena mikir saya bawa mobil) ataukah diantar lusa (karena besoknya saya tidak ada di tempat). 

Saat bilang saya naik motor, si Mas bilang kotak televisi itu tidak terlalu besar kalaupun dibawa dengan motor. Akhirnya saya memutuskan membawa televisi itu malam itu juga. Dengan motor. Televisi itu akan dipegangi oleh Ice di boncengan. Dan, saat mendapati televisi dengan kotaknya itu, ternyata... ia cukup besar. Namun, karena sudah telanjur dan saya pikir cukuplah dan dekat pula, akhirnya televisi itu tetap kami bawa. Televisi itu diantar si Mas ke parkiran motor. Saya dan Ice mengambil motor, si Mas nunggu di pintu keluar parkiran. Sampai di pintu, si Mas menaikkan televisi itu di ruang antara saya di setir dan Ice di boncengan. Sebenarnya, televisinya lebih ke arah dipangku Ice karena space-nya sedikit. 

Saat saya mulai menjalankan motor dan sampai di pinggir jalan raya, saya ingat sesuatu. Ya ampun, antena yang tadi sekalian dibeli tertinggal di troli. Saat menengok ke belakang, tampaklah si Mas yang berlari-lari mendekati kami. Haha. Dramalah pokoknya. 

Untunglah saya dan Ice sampai di indekos kami dengan selamat. Televisinya ternyata cukup berat dan membuat saya sempat tidak seimbang. Jarak yang tadi saya bilang dekat terasa sangat-sangat jauh. Kalau lebih jauh sekitar sepuluh menit lagi, saya nggak tahu nasib saya, Ice, dan televisi itu. :))) 

Oh ya, saya terkadang tidak kapok untuk mikir "ah, bisa kok," saat akan membawa barang dengan Chizumi dan saya hanya sendirian. Selain televisi itu, saya pernah membawa kasur lantai yang digulung cukup besar, juga membawa meja dan kursi dengan motor matic saya itu. Sendirian pula. :p



______


[#20| Proyek #CeritaDariKamar]  







Monday, August 19, 2013

19| Lewat Radio







Syahdan, salah satu impian anak yang indekos seperti saya adalah punya sebuah radio kaset dan bahagialah hidupnya. Bisa mendengar lagu dari kaset, bisa mendengar siaran radio, dan bisa membuat sendiri kompilasi lagu-lagu kesayangan lewat fungsi perekam yang disertakan.

Radio kaset stereo--Polytron Mini Compo--ini saya beli sekitar tahun 2002, sekitar setahun setelah saya kuliah. Waktu itu, saya sempat tinggal di asrama mahasiswa, tentu saja karena ikut-ikutan dengan Gita. Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, bukan? Kau ingat dengan sajak Toto Sudarto Bachtiar? Biar saya kutipkan kembali agar kita ingat dengan jelas salah satu sajak yang, hatta, jadi favorit dibacakan pada Hari Pahlawan.


Pahlawan Tak Dikenal
(Toto Sudarto Bachtiar)
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda

Sebenarnya, sajak ini tidak berhubungan dengan radio kaset saya, tetapi setiap menyebut "sepuluh tahun yang lalu", saya selalu ingat dengan sajak ini. Jadi, sekalian saja kita simak kembali. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, ternyata. Dan, membaca sajak ini kembali, saya pun ingin berkata: aku sangat muda (sepuluh tahun yang lalu).

Sepuluh tahun yang lalu, saya dan Gita masih gemar merekam lagu-lagu kesayangan dari radio di sebuah kaset kosong. Terkadang, karena sang penyiar terlalu cepat kembali sebelum lagu usai dengan sempurna, suara sang penyiar masuk sebagian ke kaset. Namun, karena kami merasa sulit untuk mendapatkan lagu kesayangan itu kembali, akhirnya, suara sang penyiar tetap kami simpan karena tidak berhasil juga ditiban dengan lagu di track selanjutnya.

Sepuluh tahun yang lalu, radio kaset ini menjadi idola dan hiburan utama bagi saya (dan Gita).

Radio kaset ini saya beli di pasar swalayan kenamaan yang bertajuk Goro di Depok. Dulu, supermarket itu yang terbesar di Kota Belimbing ini. Tentu saja, untuk membeli barang kategori tersier macam ini harus dibeli di sana karena banyak pilihan. Saya masih ingat, langit-langit gedung Goro itu begitu tinggi dan banyak tangga besi ditaruh di dekat rak-rak raksasa.

Membeli radio kaset ini sudah saya canangkan sekitar setahun sebelumnya. Jadi, dulu itu, saya akan punya duit banyak kalau lagi Lebaran. Hehe. Itulah untungnya punya banyak kakak yang usianya jauh daripada dirimu. Saat Lebaran, kau akan jadi anak kecil yang tentu saja akan diberi uang Lebaran oleh "banyak orang". Nah, momen Lebaran itu akan selalu saya tunggu karena berarti saya akan punya benda "tersier" impian setelahnya. Radio kaset ini adalah salah satunya.

Dengan radio kaset ini, saya juga pernah merekam isi diary saya yang berupa sajak untuk seseorang. Lalu, ada juga rekaman-rekaman tidak jelas lainnya pengisi kaset itu. Kasetnya merupakan kaset pelajaran bahasa Inggris waktu saya les pada masa SMA dulu [jadi mikir, kenapa saya malah pakai kaset itu ya? bukannya belajar dari situ. entahlah pikiran saya-yang-sangat-muda-itu]. Kaset itu tentu saja saya sembunyikan begitu sempurna, sampai-sampai saya benar-benar lupa di mana menaruhnya. Mungkin di antara koleksi kaset yang tidak pernah disentuh lagi sejak bertahun-tahun lalu. Atau juga mungkin saya buang karena malu mendengarkan suara saya sendiri. :))

Kalau sekarang, tentu saja media SoundCloud bisa melakukan hal itu dengan canggih, merekam suaramu untuk apa pun. Oh ya, saya juga sebenarnya punya beberapa file di SoundCloud, membacakan blurb Penjual Kenangan. Namun, karena tidak pede dengan suara saya yang, hmm, kurang stabil itu, akhirnya tampilannya saya bikin private. Mungkin nanti, kalau suara saya sudah stabil, saya baru berani publish buat umum. Entah kapan. Mungkin sepuluh tahun yang akan datang? :p

Dulu, waktu di asrama, kalau teman saya dan Gita (sebut saja namanya Cai) menginap, dia tidak bisa lepas dari radio kaset ini. Mulai dari mendengarkan lagu dari kaset secara berulang-ulang, sampai mendengarkan siaran radio di depan radio kaset ini sambil menyelami isapan rokoknya. Cai begitu menghayati mendengarkan lagu-lagu dan ikut bernyanyi dengan khidmat. Dan, sejak dahulu, kami selalu yakin bahwa Cai akan menjadi seorang penyiar radio karena dia nggak kalah dari para penyiar itu. Lucu, suaranya bagus, hafal banyak lagu, dan cinta banget sama radio kaset (dari pagi sampai sore, perhatian Cai begitu intens dan tak lepas radio kaset itu). Kerenlah pokoknya. Nah, sekarang, teman saya itu sudah jadi vokalis band yang namanya Bungabel. Ikut senang untuk teman satu angkatan saya di kampus itu.

Kalau saya, saya dulu suka mendengarkan kisah-kisah "curhat" orang-orang lewat radio. Malah, pada masa SMA, sempat juga pernah ngirim surat yang bentuk tampilannya dikreasikan ke radio dan dibacakan (seneng banget rasanya). Karena itu, punya radio kaset sendiri di tempat indekos merupakan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.

Dengan radio kaset ini, saya dan Gita juga berbagi lagu favorit dan sering saweran beli kaset yang kami suka. (Oh ya, kaset juga merupakan salah satu alternatif hadiah untuk teman yang ulang tahun dan lalu kamu akan pinjam dulu hadiah itu karena kamu juga suka lagu-lagu di dalamnya. Juga salah satu alternatif hadiah buat gebetan :p).

Salah satu kaset yang sempat dihadiahkan Gita saat saya ulang tahun adalah kaset Tere dan akhirnya kaset itu jadi milik kami berdua, tentunya. Ini lagu "Sendiri" yang sering saya dan Gita nyanyikan bareng dulu.

Sendiri
(Tere)

Kusangka tak pernah terjadi
Perihnya hati yang tertusuk
Pada diriku yang
Mencintai dirimu selalu
Menyayangimu sepenuh hati
Dan kini kau pergi

Reff#
Sendiri menatap bintang di langit
Tak ada teman yang menemani
Dan kau pun tak pernah peduli
Sendiri dalam gerimis dan hujan
Telanjang menggigil menantimu
Berharap kau pun menemani
Seperti dulu lagi

Meskipun kini kau tlah pergi
Meninggalkan kusendiri
Tapi masih kuharap
Masih ada yang sudi menemani
Diriku yang tak terkendali
Menanti dirimu
(http://www.youtube.com/watch?v=onnZBwnIZcY)

Radio kaset ini begitu berjasa bagi saya. Dan, sampai saat ini, radionya masih berfungsi meskipun pemutar kasetnya sudah rusak. Bagian tombolnya pun beberapa sudah rusak. Radio ini pun sempat hijrah ke Bandung, ke tempat indekos Ceria, adiknya Gita. Sekarang, Ceria sudah lulus dan sudah kerja di Jakarta juga. Radio ini pun kembali ke saya. Pada awal-awal dia balik lagi, saya sempat kangen dan mendengarkan siaran radio darinya sambil tidur-tiduran. Dan, terkadang, hanya suara desiran siaran yang sudah habis yang saya temukan kala terbangun pada tengah malam.

Sekarang, ia sudah mengisi bagian sudut kamar dan belum pernah saya nyalakan lagi. Namun, setiap melihatnya, tentu saja banyak kenangan yang ia kembali "perdengarkan".

Malam ini, saya menyalakan radionya kembali, mencari-cari siaran yang pas. Dan, lewat sebuah radio, memori lama menguar di ruang kamar ini, membisikkan rindu, tentang waktu yang berlalu, juga ingatan tentang usia; bahwa saya sudah tidak lagi sangat muda.



______

[#19| Proyek #CeritaDariKamar]  

 

Sunday, August 18, 2013

18| Sebuah Penanda Kenangan




Sebuah piala. Saat ini, dengan maraknya berbagi lomba dalam berbagai bidang, piala tampaknya cenderung jarang disertakan dalam hadiah. Tidak sepopuler masa-masa sebelumnya. Tapi, sepertinya di taman kanak-kanak atau sekolah dasar, piala masih banyak digunakan di lomba-lomba, ya? Bahkan, terkadang, sebagai peserta pun, semua siswa TK atau SD diberi piala tanda sebagai peserta. :)

Dengan berpikir secara sangkil dan mangkus dalam era digital saat ini, mungkin opsi piala untuk orang dewasa kerap dikesampingkan sehingga dananya bisa dialokasikan untuk bidang lain. Kalau jadi panitia lomba saat ini, secara praktisnya, saya ikut berpikir bahwa piala mungkin tidak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu pemenang. Lebih jauhnya lagi, pikiran itu disusupi bahwa terkadang piala hanya akan jadi pajangan yang akhirnya berdebu dan dilupakan. Piala tidak lagi menjadi simbol bagi sesuatu yang diraih. Ia hanya menjadi sebuah benda yang nantinya akan memenuhi dus atau gudang. Simbol dari piala sudah banyak penggantinya. Uang, misalnya?

Namun, apakah benar demikian ataukah itu hanyalah pikiran praktis saya (dan ikut menuduhkannya kepada orang-orang zaman digital saat ini)?

Benda dalam gambar ini merupakan sebuah piala yang saya dapat dalam lomba cerpen yang diadakan oleh sebuah badan penerbitan pers mahasiswa, di Yogyakarta. 
Di piala ini, tertulis: 

Cerpenis Terpilih BALAIRUNG 2004 
WIDYAWATI OKTAVIA
Badan Penerbitan Pers Mahasiswa BALAIRUNG, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Saya ingat kala ikut lomba ini. Saya masih kuliah kala itu dan sedang rajin-rajinnya ikut berbagai lomba cerpen. Sebelumnya, saya sempat ikut beberapa lomba cerpen dan alhamdulillah ada dua buku antologi yang memuat cerpen saya. Hal itu semakin memberi saya semangat untuk terus berkarya dan ikut berbagai lomba.

Untuk lomba yang diadakan di Yogya tersebut, saya menyelesaikan cerpen yang saya kirim itu menjelang lomba. Pemenangnya akan diundang ke Yogyakarta. Saya lupa hadiah apa lainnya. Sepertinya, saya sangat berharap bisa datang ke Yogyakarta kala itu sehingga lupa apa hadiah lain yang dijanjikan. Saya mengirimkan satu cerpen saya, berjudul “Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela” dan menunggu pengumumannya dengan dag-dig-dug. Saya lupa apakah waktu itu ada pengumuman resmi atau tidak. Tapi, lama setelah itu, saya sudah melupakan lomba itu. Yah, mungkin belum beruntung. 

Lalu, suatu hari yang hujan, entah bagaimana saya masih ingat, saya mendapat SMS dari panitia lomba bahwa cerpen saya merupakan salah satu naskah terpilih dan ikut dibukukan. Saya sangat senang kala itu meski tidak diundang ke Yogyakarta. Panitia itu bilang dia kebetulan akan ke Jakarta dan membawakan saya berupa cendera mata lomba itu. Saat itu, saya lupa kenapa kami tidak bisa bertemu secara langsung. Yang saya ingat, saya meminta panitia yang baik hati itu menitipkan cendera mata itu di koperasi mahasiswa kampus saya—kebetulan, saya menjadi pengurus kala itu. 
`
Lalu, ketika saya ke kampus, saya mendapati hadiah itu: sebuah buku kumpulan cerita para pemenang (termasuk cerpen saya—meski judulnya salah cetak jadi “Perempuan Tua di Balik Kaca Cendela” :D), sebuah piala, sebuah kaus, dan sebuah buku Plato yang cukup tebal. 

Saya sungguh senang mendapati hadiah itu, apalagi mendapati cerita saya dicetak lagi dalam sebuah buku antologi dan nama saya tertera di piala. Kaus lomba itu diminta seorang teman, buku berjudul Plato itu sempat saya baca dan sempat pula beredar ke temannya-teman dari jurusan filsafat yang pastinya cocok sekali dengan buku itu. Meski bukan my cup of tea (seperti istilah orang-orang), buku itu menjadi salah satu buku kesayangan saya. Ada kenangan bersamanya. 

Nah, piala ini pun meski terkadang saya abaikan, ia menjadi sesuatu yang melihatnya mengembalikan banyak ingatan di benak saya. Ia sudah ikut berkali-kali pindah bersama saya. Pada saat pindah ke indekos saya di dekat gerbang Selamat Datang Kota Depok, bagian atasnya yang berbentuk bulat lepas dan belum sempat saya lem kembali. Dan, saya menyimpannya entah di mana. Berkali-kali pindah dengan barang yang cukup banyak terkadang membuatmu menyimpan barang-barang terlalu tersembunyi sehingga terkadang malah jadi terlupakan. 

Piala ini, ia saya letakkan di atas kotak warna-warni di kamar saya. Sebenarnya, tempatnya kurang pas. Harusnya, ia berada di bufet atau di meja khusus pajangan. Tapi, karena tidak ada tempat khusus, dari atas lemari kayu di kamar indekos saya yang lama, ia berpindah ke atas kulkas, lalu ke lemari plastik warna-warni di kamar yang sekarang.

Saya terkadang melupakannya, tetapi sebagai penanda, ia berfungsi begitu baik. Piala ini, meski saya tidak tertulis sebagai juara 1, 2, atau 3, melihat nama saya tertera saja membuat saya tersenyum. Selain karena saya begitu menggemari hal yang berbau kenangan, di balik tera di piala itu, ada hal yang lebih besar. Ada kegembiraan yang ia simpan dalam warna biru dan plakat emasnya. Ada semangat juga yang tersimpan di sana. Juga sebuah kebanggaan yang melahirkan semangat itu, yang semakin memacumu untuk menjadi lebih baik lagi. 

Kala kau sedang lelah dan mungkin saja sempat hilang harapan untuk berkarya, misalnya, ia bisa menjadi sebuah mesin waktu bagimu, mengingatkan dirimu bagaimana kau dulu meraihnya, bagaimana dulu kau kerahkan waktu untuk “bersaing” menjadi “yang terpilih”. 

No pain, no gain. Begitu bukan yang disebut orang-orang? Ya, tentu saja, kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha meraihnya. Akan selalu ada harga untuk setiap yang kita lakukan.

Ah, tampaknya, sebuah penanda yang berbentuk fisik masih belum tergantikan oleh hal-hal yang berbau digital itu, yang terkadang bisa hilang karena kesalahan teknis dan sebagainya. Piala ini seakan mengingatkan saya. Bagi saya, sebuah momen membutuhkan penanda, yang juga bisa mewujud menjadi kenangan, agar benak kita yang pelupa memiliki mesin waktunya dan mampu menelusuri kembali masa lalu. Tulisan ini pun lahir karena melihat wujud sebuah piala yang saya simpan, sebuah penanda kenangan bagi saya. Lalu, bagaimana dengan uang yang saya sebut di awal? Uang, mungkin ia bisa membeli banyak hal, tetapi tentu ia tak bisa membeli kenangan.

Nah, bagaimana denganmu? Apakah kamu yang termasuk menyimpan sebuah penanda bagi momen-momen dalam hidupmu?
 
___

[#18| Proyek #CeritaDariKamar]  
 

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin