Penjual Kenangan

Tuesday, February 16, 2010

februari kita



Kemarin. Aku bukannya lupa hari itu. Februari kita sudah tiba. Tapi, ah, kesehatanku sedang tidak baik, jadi aku belum sempat menulis untukmu. Hanya sekadar batuk dan pilek, tapi cukup mengganggu, ditambah pula hujan yang selalu membuat jalan basah. Payung yang seharusnya ada di dalam tasku terlalu sering lupa kubawa. Jadi, angin hujan itu semakin menerpaku.

“Selamat hari lahir. Semoga doa-doa menghangatkanmu. Semoga kau merindukanku. Meski aku terlalu sibuk dengan hari-hariku.”

Nanti, aku akan menulis surat yang lebih panjang. Banyak yang ingin kuceritakan. Tapi, uh, maaf, aku belum sempat… . Tapi, pasti akan kutuliskan. Aku tidak mau membuat janji, takut kau menunggu-nunggu. Yang pasti, aku akan menuliskan surat kelima untukmu. Kau tahu, aku suka menuliskannya. Semoga kau juga. :)

Wednesday, January 13, 2010

seperti menggenggam takdir



seperti menggenggam takdir di tanganmu.
seperti apa rasanya?
mungkin, aku akan takut memejamkan mata, takut genggamanku terbuka, dan tiba-tiba saja ia tak lagi di sana.
aku akan membacanya hingga habis usia, dan memastikan semua baik-baik saja.
dan, mungkin aku akan terkapar kelelahan membelokkannya ke arah yang tak ada sela.

seperti menggenggam takdir di tanganmu, seperti apa rasanya?

mungkin, semua tak harus baik-baik saja—meski kau ingin semua baik-baik saja.
seperti menggenggam takdir di tanganmu.
itulah kita.
bukan karena tak yakin genggaman tak akan erat.
hanya saja, takdir, ah ia, aku pikir, aku tak kuasa menggenggamnya.


gambar di sini

Tuesday, January 05, 2010

Surat Cinta Pertama




Tepat satu Januari ini, dia lahir. Seorang perempuan. Seorang gadis kecil dengan alis mata yang hitam dan rambut yang lebat dan legam. :)

Ibu gadis kecil ini hanya terpaut usia enam bulan dari saya--saya lebih tua. Saya masih ingat melewatkan masa kecil dengan perempuan itu. Pertengkaran-pertengkaran masa kecil yang menjadi kenangan menggelikan, yang membuat saya malu untuk mengingatnya sekarang. Ah, tapi itulah anak kecil, segala hal kecil menjadi permasalahan besar. Saya masih ingat ucapan salah satu keponakan saya yang duduk di kelas satu SMP, "Bagi Nte Wid, itu mungkin masalah kecil, tapi bagi anak kecil, itu masalah besar." Dia menasihati saya rupanya, yang mulai menganggap remeh hal-hal sepele. Hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Padahal, saya pernah berada di masa itu dan merasakan itu juga.

Bersama perempuan ini juga--dan juga adiknya--saya pernah melewati sekitar tiga tahun masa kecil saya. Tiga tahun yang penuh warna di sebuah rumah di bilangan Kebon Jeruk. Saya ingat, hari pertama saya tinggal di sana, saya tersasar. Si bocah kelas empat SD itu lupa patokan turun jalanan masuk rumah No. 49 tersebut, rumah di sebelah kanan turunan. Dan, mungkin, di situlah mulainya petualangan tersasar saya, yang masih saja terjadi hingga saat ini, di angkot berwarna biru telur asin. Untungnya, saya menemukan kembali jalan pulang.

Saya masih ingat juga saat kami--dengan konyolnya--membuat persewaan majalah Bobo dan Donal dan juga "pasangan" seperti di sekolahan SD--majalah yang digulung dan diberi tali di ujungnya. Kemudian, orang disuruh "masang", entah dengan logaman seratus rupiah atau lebih, saya lupa--dan menarik tali yang ia pilih. Jika beruntung, ia akan mendapatkan majalah dengan harga yang sangat murah. Tapi, sayangnya, di antara tali itu, lebih banyak yang tidak terikat ke majalah itu. Haha. Tapi, itu cuma bertahan sehari atau dua hari, kalau tidak salah. Saat sore terdengar suara mobil masuk garasi, kami bubar. Ayah perempuan itu sudah pulang. Dan, ia pasti marah melihat kelakuan kami. Betapa paniknya kami mengangkat dus dan majalah itu, menumpuknya sembarangan. Mana mungkin itu saya lupakan. Saya sangat ketakutan hari itu.

Lalu, kami juga selalu janjian mengaji. Saya ingat, bacaan mengajinya sudah lebih jauh daripada saya. Dia lebih dulu mengaji di rumah dekat jalan raya itu. Sore-sore, kami sudah menaruh Alquran kami di meja panjang itu, berlomba-lomba biar dapat giliran lebih dulu, biar cepat pulang. Dan, entah sang guru ngaji tahu atau tidak, sebenarnya, kami tidak membaca huruf-huruf Arab itu, kami sudah menghafalnya--dan, ah, saya jadi menyesal tidak belajar mengaji dengan benar waktu itu. Dan, setelah menyetorkan satu hafalan bacaan salat atau doa sehari-hari, kami boleh pulang. Dan, sayangnya, saya hanya tiga tahun mengaji pada guru ngaji itu, seorang perempuan paruh baya. Satu lagi yang saya ingat, kami sangat senang kalau guru kami itu sedang "libur" salat. Dan, kami sangat menunggu-nunggu saat-saat itu. Karena, kami juga akan libur mengaji. Hehe.

Di rumah perempuan itu juga, kami punya seorang tetangga yang lebih tua dan kami panggil dengan "Mbak E" karena dia orang Jawa. Dan, saat itu, dia tampak keren di mata kami. Bahkan, sarannya biar saya lebih cepat menghafal Alquran pun hampir saya ikuti. Padahal, itu saran terkonyol yang pernah ada--yang pernah saya tahu (belakangan). Kata dia, biar cepet hafal, saya harus makan cabe rawit (atau merica ya?) tujuh biji (kalau tidak salah) sambil melihat bulan purnama. Niscaya, saya akan jago mengaji. Dan, sayangnya, tidak saya ikuti... Kalau ya, pasti ceritanya berbeda sekarang.

Saya ingat, kami juga mencomlangi "Mbak E" itu dengan tetangga baru di atas--rumah setelah tanjakan. Cowok yang lumayan cakep--menurut pandangan saya waktu itu. Putih-putih gitulah. Dan, seingat saya, mereka sempat jadian, meski malu-malu.

Kenangan dengan perempuan ini masih banyak lagi. Saya juga ingat kami bersepeda keliling kompleks dan saya ingat saya pernah jatuh pas di turunan, menangkap ikan cue di got (haha, ternyata saya pernah melakukannya ;P), berenang di rumah tetangga depan yang rumahnya geude banget dan saya sampai heran waktu itu, kok bisa ya mereka kaya banget. ;D Saya juga ingat pernah diminta ngajarin tari badidin di sekolah perempuan ini, waktu mereka perpisahan. Untungnya nggak jadi. Ya, ampun, saya cuma bisa satu gerakan kayaknya.

Kalau saya sudah pulang sekolah, sekolah saya cukup jauh dari rumah itu, saya sering juga mampir di sekolah perempuan ini, membeli komik Petruk Gareng. Dan, saat paling menyenangkan adalah saat Lebaran, saat beli baju baru bersama. Bersamanya dan adiknya, kami akan ke mal, yang waktu itu belum menjamur, dan boleh memilih sendiri mana yang disuka. Terkadang, kami akan memilih baju yang sama dan kembaran bertiga. :)

Dan, jika pertengkaran kecil terjadi, kami akan saling diam-diaman. Lalu, kembali menjadi teman bermain keesokan harinya. Bermain sepeda, mungkin, juga hal yang paling menyenangkan. Kami akan bermain sampai jauh, sampai taman, dan pulang dengan badan berkeringat.

Lalu, waktu begitu cepat berlalu. Saya pindah dari rumah itu saat masuk SMP. Dan, rumah di sebelah kanan turunan itu juga akhirnya dijual beberapa tahun belakangan. Dan, keluarga perempuan itu pindah ke dekat sekolah SMA saya. Dan, saya pun sibuk dengan kuliah saya, sibuk dengan kerja saya, dan sibuk dengan "Depok" saya. Dan, bahkan, kami kadang hanya bertemu sekali setahun, saat Lebaran...

Dan, sekarang, perempuan yang terpaut enam bulan dengan saya itu telah menjadi ibu dari seorang gadis kecil yang diberi nama Mutiara. Seorang bocah kecil cantik. Dan, saat menengoknya kemarin, tiba-tiba saja masa kecil itu berputar-putar di ruang kenangan saya. Ah, sudah jadi ibu rupanya anak tertua kakak laki-laki saya yang tertua itu. Sepertinya, baru kemarin kami berlomba-lomba main sepeda, datang cepet-cepetan biar mendapat giliran mengaji duluan, dan menunggu-nunggu Lebaran--tidak hanya untuk baju baru, tetapi juga untuk lembaran uang baru dari saudara-saudara yang ramai datang ke rumah No. 49 itu--karena itu rumah kakak tertua saya, yang pasti dijadikan base camp saat Lebaran.

Dan, tiba-tiba saja, putaran waktu terasa begitu cepat. Generasi keempat itu sudah datang. Keponakan saya sudah menjadi Ibu. Ibu saya sudah punya cicit. Selamat datang, gadis kecil beralis tebal. Semoga perjalanan membawamu menjadi perempuan yang bahagia, perempuan solehah. Selamat datang, Mutiara. Dan, ah, kau membuatku merasa sangat tua. Untungnya, saat ini kau belum tahu kalau kau sudah masuk itungan cucu dalam garis kekerabatan denganku. Dalam kekerabatan Minangkabau, kalau ibumu memanggilku "Ande", kau akan memanggilku..., hehe, aku belum tahu apa pastinya panggilanmu buatku. Yang pasti, akan terdengar sangat berbeda generasi. Dan, tak lama lagi, kau pun akan besar dan pastinya aku akan semakin tua. Kalau begitu, jangan cepat besar, ya. ;P

Thursday, December 24, 2009

yang berlari di antara masa lalu




kau terlalu tahu, aku orang yang mudah terharu.

"seperti membaca buku yang terbuka," tulis seorang sahabat untukku, pada awal pertemanan kami.
aku tidak bilang kau sudah mengenalku, sangat--meski berjuta tahun kau duduk bersamaku, kau tidak akan benar-benar mengenalku.
hanya saja, aku seperti lembaran yang terbuka. yang dapat kau baca kapan saja. tanpa perlu membalik-balik halaman untuk mencari makna.

kau tahu,
bahkan aku sempat ingin menjelma langit sore
yang selalu bercampur berbagai warna, entah apa. bahkan, aku tak bisa membacanya.
suatu hari, kau tahu, aku akan menjelma-nya. dan, saat itu, aku tahu. kita sudah berlari jauh dari masa lalu--jangan bilang, kita berlari di antaranya, itu tidak tepat. tidak pernah tepat.

dan, saat itu, masa lalu telah lama meninggalkan kita.
tenang saja, ini hanya masalah masa.
peta telah dibuatkan-Nya.
dan, ya, kita memang harus pandai-pandai memilih persimpangan yang tepat.


p.s. jangan ceritakan kisah sedih lagi, ya. aku tidak terlalu suka menangis, sebenarnya.

Friday, December 11, 2009

aku ingin melihatmu menangis




“aku ingin melihatmu menangis,” kataku saat itu, ingatkah kau?

“malam ini saja, maukah?”

ah, tak lazim memang permintaanku. tapi, aku lelah mengeja tawamu. dan, aku ingin mengerti, tak hanya tawa dalam duniamu.

ya, aku tau. lama kau berjalan dengan duka. dan kau semakin jauh dengan langkahmu.


tunggu aku,

aku ingin melihatmu menangis. malam ini saja.

terlalu tak biasa memang, keinginanku.

tapi, kau tahu? kadang, tangis bisa menghanyutkan segala sesak dan resahmu.

bahkan, bisa memberikan peta pada hatimu.

seperti hari setelah hujan, pernahkan kau perhatikan?

entah bagaimana, semesta jadi cerah. kabut menghilang. arah terbaca. kupikir, seperti itu jugalah tangis.

mengesankan, ya?


ah, sekarang, masihkah kau anggap permintaanku tak biasa, jika bukan disebut berlebihan?

aku (hanya) ingin melihatmu menangis, sekali saja. sudah sejak dulu kuminta.

malam ini saja, maukah?

Tuesday, December 08, 2009

semoga tawanya sampai padamu




Sudah Desember,
Ya, dan aku terlalu banyak berjanji pada bocah kecil bermata jeli itu.
Maafkan aku, Ni. Hanya sekali-sekali meraih tangannya dan mengajaknya berlari-lari.
Hanya sekali-sekali bercerita panjang padanya.
Selebihnya, hanya janji-janji.

Kau tahu, aku tidak berpikir ini sudah tiga tahun yang lalu.
Yang berarti, tiga tahun juga ia berjalan “sendiri”.
Yang berarti, tiga tahun juga ia mereka-reka mimpinya sendiri.

Ah, maafkan aku.
Aku selalu saja menjadi perempuan dengan berkarung-karung mimpi yang ingin kuceritakan kepadanya. Tapi, hanya satu dua helai cerita yang selesai.
Ah, gadis kecil bermata jeli itu, dia semakin menggembil.
Terbata-bata belajar membaca. Dan mungkin menunggu buku-buku yang—lagi-lagi—kujanjikan.

Kau tahu, dia masih mengenang jalan-jalan minggu sore kalian ke monumen dengan padang luas itu. Andai, ah, kau (pasti) tahu, memori itu terpahat dengan manis di benaknya--begitu membahagiakan pastinya jika ingatan itu tak lekang di ruang kenangannya.

Cerita bersamaku pun, ah, maafkan aku, mungkin hanya satu juga yang ada di benaknya, hanya ke kebun bintang. Hanya itu-itu saja yang ia celotehkan tentang aku. Ah, sebentar lagi. Aku takut ia bisa melangkah sendiri. Aku takut ia sudah bisa menciptakan mimpi sendiri. Dan, aku takut, ia memilih untuk membuat ceritanya sendiri. Sementara aku, aku terlalu riuh dengan langkahku.

Sudah Desember, pekan kedua. Akhir November itu telah berlalu dua pekan lalu. Tiga tahun, ternyata. Ah, ironis jika kukatakan waktu tak terasa. Padahal, mungkin, hari-hari yang sepi begitu terasa oleh bocah kecil itu, yang selalu berusaha gembira.

“Mama Cipa kan di surga, yak.” katanya, tidak bertanya, seakan bercerita. Dan, hatinya riang mengatakan itu. Semoga kau tenang di Sana, Ni—seperti harapan Cipa, harapan kami, di surga.

Ah, aku hanya kadang-kadang ingat celoteh riangnya tentang seekor kucing kecil yang berada di dekat tempat sampah, mengais-ngais sisa-sisa makanan bersama seekor lagi kucing besar.

“Eh, kucingnya kayak Cipa. Cuma ada bapaknya. Yak?” celotehnya tiba-tiba, dan lagi-lagi dengan nada riangnya ketika melihat dua ekor kucing itu. Matanya menatap meminta persetujuan, dan seakan senang hewan kecil itu bernasib sama dengannya. Setidaknya, dia tak sendiri, mungkin itu pikirnya. Entahlah.

Ah, kau pasti tahu, bocah kecil itu selalu membawa tawa di bibir mungilnya. Suaranya selalu riang.

Dan, ah, maafkan aku(lagi). Aku terlalu sering mengiriminya janji.... Aku ingin... ah, aku takut berjanji juga padamu. Tapi, bocah kecilmu, dia musim semi yang membawa cinta, yang mencipta tawa. Semoga sampai padamu di Sana....

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin