surat itu belum juga sempat kukirimkan
alamatmu terselip di antara langkah-langkah yang selalu meragu
maaf,
masihkah kau menunggu?
kenangan itu telah terlalu lama berputar-putar, tak beranjak ke mana-mana. adakah yang ingin menukarnya dengan harapan?
Wednesday, June 27, 2007
Monday, May 28, 2007
Pagi yang Jatuh di Jendela
Sore itu, ia datang menemui Aya dan membawa oleh-oleh. Kuntum-kuntum melati yang telah mengungu. “Melati itu telah menyentuh tanah,” katanya menjelaskan.
“Aku ingin menyelesaikan lukisan kemarin,” Ia masuk begitu saja dan mengeluarkan cat yang beragam warna, kuas, dan palet dari tasnya.
Aya menatap laki-laki itu dari pantulan kaca jendela. Laki-laki itu, entahlah, katanya ia pelukis. Namun, lukisan laki-laki itu tak pernah selesai. Atau, mungkin, ia tak pernah ingin menyelesaikannya. Kadang ia terlalu sibuk mencari warna yang sesuai.
“Apakah pagi yang jatuh di jendelamu seperti ini warnanya?”
Kemarin, laki-laki itu bertanya pada Aya. Ah, bukan hanya kemarin. Berkali-kali, sejak mula-mula.
Lalu, Aya akan memilih warna, dan mencampurnya. Pagi yang dilihat Aya kemarin bukan pagi yang muram, meragu seperti di lukisan laki-laki itu. Pagi yang tidak terlalu terburu-buru. Namun, campuran warna Aya tak pernah sesuai bagi laki-laki itu.
Sore itu, lama Aya terdiam dalam campuran warnanya sendiri.
“Sedang tak berbahagiakah?” tanya laki-laki sambil lalu, sambil mengangkat lukisan yang tak pernah ia selesaikan. Membawanya ke tepi jendela.
Kau bisa membaca hati, rupanya. Ah, ada yang tersembunyikan di sana. Terbacakah?
Aya melarutkan tanya dalam secangkir kopi. Ada dua tiga kelopak senyum yang jatuh pula ke dalam cangkir itu.
“Barangkali, hari ini, aku melukis melati yang mengunggu itu saja, Aya.”
Laki-laki itu meletakkan kembali lukisan yang belum selesai itu di sudut, didirikan di lantai.
Laki-laki itu mengambil kanvas kosong lagi. Dan ia memulai lagi dengan warna-warna. Memilihnya. Mencampurnya. Menggoreskannya. Lalu, kembali ragu dan bertanya pada Aya, ungu seperti apa yang dilihatnya pada kuntum melati itu. Esok dan esoknya, kembali mencari warna yang sesuai.
Namun, lukisan-lukisan itu tak pernah ada yang selesai.
Aya terlalu sering membuat campuran warnanya sendiri. Semakin pekat.
Ah, barangkali, jikalau tahu Aya akan memulai goresannya sendiri di kanvas yang baru, laki-laki itu akan menyelesaikan satu lukisan. Mungkin, lukisan pagi yang jatuh di jendela Aya itu.
Tapi, pagi di lukisan itu malah semakin beku, semakin jauh dari warna pagi yang jatuh di jendela Aya.
Margonda, 23/05/07
“Aku ingin menyelesaikan lukisan kemarin,” Ia masuk begitu saja dan mengeluarkan cat yang beragam warna, kuas, dan palet dari tasnya.
Aya menatap laki-laki itu dari pantulan kaca jendela. Laki-laki itu, entahlah, katanya ia pelukis. Namun, lukisan laki-laki itu tak pernah selesai. Atau, mungkin, ia tak pernah ingin menyelesaikannya. Kadang ia terlalu sibuk mencari warna yang sesuai.
“Apakah pagi yang jatuh di jendelamu seperti ini warnanya?”
Kemarin, laki-laki itu bertanya pada Aya. Ah, bukan hanya kemarin. Berkali-kali, sejak mula-mula.
Lalu, Aya akan memilih warna, dan mencampurnya. Pagi yang dilihat Aya kemarin bukan pagi yang muram, meragu seperti di lukisan laki-laki itu. Pagi yang tidak terlalu terburu-buru. Namun, campuran warna Aya tak pernah sesuai bagi laki-laki itu.
Sore itu, lama Aya terdiam dalam campuran warnanya sendiri.
“Sedang tak berbahagiakah?” tanya laki-laki sambil lalu, sambil mengangkat lukisan yang tak pernah ia selesaikan. Membawanya ke tepi jendela.
Kau bisa membaca hati, rupanya. Ah, ada yang tersembunyikan di sana. Terbacakah?
Aya melarutkan tanya dalam secangkir kopi. Ada dua tiga kelopak senyum yang jatuh pula ke dalam cangkir itu.
“Barangkali, hari ini, aku melukis melati yang mengunggu itu saja, Aya.”
Laki-laki itu meletakkan kembali lukisan yang belum selesai itu di sudut, didirikan di lantai.
Laki-laki itu mengambil kanvas kosong lagi. Dan ia memulai lagi dengan warna-warna. Memilihnya. Mencampurnya. Menggoreskannya. Lalu, kembali ragu dan bertanya pada Aya, ungu seperti apa yang dilihatnya pada kuntum melati itu. Esok dan esoknya, kembali mencari warna yang sesuai.
Namun, lukisan-lukisan itu tak pernah ada yang selesai.
Aya terlalu sering membuat campuran warnanya sendiri. Semakin pekat.
Ah, barangkali, jikalau tahu Aya akan memulai goresannya sendiri di kanvas yang baru, laki-laki itu akan menyelesaikan satu lukisan. Mungkin, lukisan pagi yang jatuh di jendela Aya itu.
Tapi, pagi di lukisan itu malah semakin beku, semakin jauh dari warna pagi yang jatuh di jendela Aya.
Margonda, 23/05/07
Thursday, May 10, 2007
Foto Lama
laki-laki itu datang, saat sore masih ingin duduk berlama-lama;
bercakap-cakap dengan matahari yang sibuk melongokkan wajah yang menyimpan semu ke barat jendela; ingin juga duduk berlama-lama, tapi juga takut yang menjemput telah berdiri di luar sana.
"seperti foto lama," kata laki-laki itu, "semakin hari semakin mengabur, lalu meninggalkan bingkai kosong."
lalu, laki-laki itu hanya diam, dan diam
percakapan sore dan matahari pun tak terdengar lagi, pun bisiknya.
"mimpimu tentang kita," laki-laki itu tak mampu berdiam terlalu lama, "seperti foto lama, benarkah?" tanyanya.
bercakap-cakap dengan matahari yang sibuk melongokkan wajah yang menyimpan semu ke barat jendela; ingin juga duduk berlama-lama, tapi juga takut yang menjemput telah berdiri di luar sana.
"seperti foto lama," kata laki-laki itu, "semakin hari semakin mengabur, lalu meninggalkan bingkai kosong."
lalu, laki-laki itu hanya diam, dan diam
percakapan sore dan matahari pun tak terdengar lagi, pun bisiknya.
"mimpimu tentang kita," laki-laki itu tak mampu berdiam terlalu lama, "seperti foto lama, benarkah?" tanyanya.
Ia Begitu Cemburu
Bulan sabit yang kemarin kehilangan langit membeli karcis kereta. “Ke Venesia,” katanya.
Di sana, ada pelukis yang mampu membuat sketsa cinta yang kau cari; cinta yang kau tunggu. Semoga loket itu belum menutup kacanya. Aku juga ingin ke Venesia.
Bulan sabit yang kemarin kehilangan langit menoleh cepat padaku.
“Aku tak akan berbagi sketsa langit denganmu!”
“Aku tak akan berbagi sketsa langit denganmu!”
Seolah-olah, itu yang dikatakannya lewat kaca jendela kereta yang selalu setia pada derak rel--dan tak pernah sekali pun jatuh cinta pada hijau pepohonan yang selalu menitipkan senyum, di setiap pertemuan yang selalu ditinggalkan waktu dengan terburu-buru.
Bulan sabit itu; ia begitu cemburu.
Ah, harusnya ia tahu, cinta yang kutunggu bukan di Venesia.
Kali ini, ia sedang bersamaku.
Aku hanya ingin menikmati derak rel kereta bersamanya.
Ke Venesia, atau ke mana pun.
#gambar pinjam di sini!
Monday, May 07, 2007
Suatu Sore yang Kemalaman
Dua potong cokelat begitu cepat kita habiskan.
Kotaknya tertinggal.
Pengamen yang sama menyanyikan dua kali lagu cinta.
dan, sampai hari ini aku belum ingat apa liriknya.
Margonda, 14/02/07
Kotaknya tertinggal.
Pengamen yang sama menyanyikan dua kali lagu cinta.
dan, sampai hari ini aku belum ingat apa liriknya.
Margonda, 14/02/07
Oh, Hidup: Dua Perempuan Bicara di Angkot
Sungguh, saya tak berniat mencuri dengar percakapan orang (lagi) di angkot. Bahkan, saya berusaha mati-matian untuk tidak mendengarnya.
Petang kali itu terlalu gerah. Saya dan Gita, sahabat saya, juga sudah terlalu lelah memutari Jakarta (Depok—Blok M—Tanah Abang—Cipete—(menuju) Pasar Minggu—Depok). Jadi, tidak ada keinginan untuk iseng mencuri dengar percakapan orang. Lagi pula, saya tidak kekurangan teman mengobrol di angkot itu. Selain Gita, juga saya bersama Melati, editor Penerbit Hikmah.
Angkot S11 yang saya naiki dari Cipete menuju Pasar Minggu ini penuh. Saya pun antara duduk dan tidak duduk. Di depan saya, di bangku empat, ada dua orang ibu-ibu. Mereka diapit Gita dan seorang laki-laki setengah baya di pojokan. Sejak awal, dua orang ibu-ibu itu sudah mengobrol. Cukup keras suara mereka, untuk ukuran ngobrol di angkot. Saya dan dua orang teman saya juga mengobrol. Jadilah kami berebut ruang bicara di angkot itu. Obrolan saya dan teman saya tidak berlanjut karena yang satu pindah ke pojokan. Lagi pula, macet membuat kami menyerah dan memutuskan untuk diam. Tidak enak juga berebut ruang dengan ibu-ibu itu.
“Iye, saya tuh jarang mah naek angkot. Enggak dibolehin. Apalagi ama enyak saya. Die mah paling takut kalo saya pegi naek angkot. Apalagi, sendirian. Tapi, saya mah kalo dilarang takut juga. Makenye kalo mau pegi-pegi saya tuh dandan duluan. Kalo dah rapi kan enyak saya gak bisa marah lagi,” kata ibu-ibu yang memakai kerudung, yang duduk di posisi kedua dari pintu.
“Iye,” si ibu di sebelahnya, yang lebih muda, menimpali.
“Pernah, saya waktu itu pegi-pegi aje. Padahal udah dilarang ama enyak. Duh, di angkot, ati jadi kagak enak. Kepikiran yang macem-macem aje. Jadinye, saya gak berani lagi pegi-pegi kalo enyak udah ngelarang.”
Saya melirik wajah ibu itu. Sudah cukup berumur, malah dapat dikatakan tua. Masa sih masih saja dilarang-larang kalau pergi-pergi? Saya jadi tidak percaya sendiri. Manja bener, sih. Maaf, ada nada memojokkan di pikiran saya.
“Enyak tu takut banget kalo saya naik angkot. Saya juga jadi gak berani pegi sendirian. Saya selalu minta temenin. Untungnya, sekarang ama lu,” kata si ibu “manja” itu lagi.
Saya memerhatikan wajah si ibu itu mencari sisa-sisa kemanjaannya di waktu muda. Tidak saya temukan. “Dih, sok manja bener nih ibu-ibu satu. Gimana anaknya?” pikir saya sirik. Hehe.
Lalu, pembicaraan beralih ke topik lain. Mereka membicarakan “seseorang” yang suka belanja barang-barang. “Seseorang” itu sering berbelanja baju, sendal, sepatu, berlebihan, nilai kedua ibu itu.
“Iye, buat apa coba ye baju ampe dua juta? Saya gak kebayang ada baju yang harganye segitu,” kata si ibu “manja”.
“Iye,” timpal si ibu yang lebih muda. Tampaknya ia tipe pengikut.
“Sendalnye aje banyak bener di lemari. Tinggi-tinggi bener. Buat ape coba, ye? Mending kalo artis mah yak.”
“Iye, buat apaan juga ye. Tapi, kalo ada minjem duit, kayaknya susah bener ye, Mpok. Ame mertuanye juga begitu. Susah bener.”
“Iye, emang begitu die orangnya. Buat beli-beli die mah gak mikir. Waktu saya ke rumahnye, di kamar mandinye sendal banyak banget. Masih bagus-bagus gitu.”
“Iye. Saya juga gak tau buat apaan. Saya mah sendal cukup atu aje. Yah, saya lupa dah kalo mau beli sendal. Sendal saya udah rusak nih, Mpok.” Ia melihat ke arah kakinya.
Sebenarnya, saya juga ingin melihat sendal rusak si ibu itu. Tetapi, apa urusan saya, sih? Ah, mulai terhanyut, nih.
“Ntar pinjem duit sepuluh ribu, ye, Mpok. Mau beli sendal jepit. Saya lupa bawa duit,” kata si ibu yang sendalnya rusak. Yah …
Lalu, mereka meninggalkan obrolan tentang “seseorang” yang suka belanja.
“Iye, Mpok saya sesek bener pas dengernya. Badan jadi lemes banget. Waktu itu saya ampir jatoh pas denger itu. ‘Apa iyaaa?’ pikir saya. Sedih bener kalo inget waktu itu, Mpok,” si ibu “sendal rusak” memulai topik baru.
“Saya bingung, nanti anak yang enem gimana nasibnya. Dia mah gak mikir,” lanjutnya.
“Iye,” sekarang si ibu “manja” yang mulai jadi pengikut.
Tampaknya, si ibu “sendal rusak” curhat tentang suaminya.
“Kan rumah yang di depan udah kita jual, yak. Duitnya juga udah dibayarin ke Pak Aji. Yah mau bagaimana lagi, ye, Mpok. Utang udah 45 juta.”
Wah, banyak sekali utang si ibu? Buat apa, ya? Saya mikirin utang si ibu itu.
“Tapi, kok si Pak Aji kayak gak punya duit aje, ye?”
“Iya, tau.”
Lalu, kedua ibu itu tertawa. Tawa yang penuh rahasia, tampaknya.
Pembicaraan tiba-tiba beralih ke Pak Aji.
“Mungkin beli mobil buat anaknye itu kali ye,” kata si ibu kerudung.
“Oh. iye, die beli mobil ye. Iye, kayaknya,” si ibu yang lebih muda menimpali dengan positif.
“Saya masih lemes, Mpok, kalo inget waktu itu,” si ibu yang lebih muda itu menyambung pembicaraan sebelumnya.
“Saya cuma bingung mikirin anak-anak aje, Mpok. Mana rumah udah dijual. Kan kita gak tau, yak. Waktu itu die minta surat tanah. Gak taunya, udah dijual aja. Kan itu rumah atas nama saya seharusnya. Trus, rumah yang di belakang, udah bukan atas nama kita lagi. Yah, dia mah pinter. Namanya, juga anak kuliahan.” Masih terdengar nada memuja dalam suara si ibu itu, benarkah? Buat laki-laki macam itu?
Ah, laki-laki macam apa yang dinikahi si ibu ini? Saya tidak habis pikir. Saya jadi penasaran dengan si ibu “sendal rusak”. Badannya agak gemuk, bermuka bulat, kulit putih, rambut dipotong model “bob” sekuping. Usianya mungkin belum 40 tahun.
“Yah, kalo dia mau nikah lagi, saya mau apa?” ia seakan-akan tidak bertanya.
Si ibu kerudung hanya diam. Saya juga. Saya pura-pura tidak mendengar dan mencoba melihat kemacetan. Saya takut membayangkan kesedihan di wajah perempuan yang sedang bicara itu. Ternyata suami si ibu ini mau nikah lagi. Hah! Ada enam orang anak yang menunggu di rumah. [Makin menjadi ketetapan hati saya menentang poligami].
“Kalo dia marah, dia juga main gebuk aja. Saya sering digebukin,” lanjut si ibu yang suaminya ingin menikah lagi. Suaranya begitu keras. Mungkin, tak tahan memendam konflik rumah tangga itu.
Saya berusaha memalingkan muka jauh-jauh. Mungkin juga seluruh penumpang, di angkot merah yang saya tumpangi ini. Ah, di angkot ini, kami—perempuan dan juga laki-laki—hanya diam dan menikmati cerita kekerasan dalam rumah tangga.
“Dari dulu die udah begitu?” tanya si ibu “manja”.
“Dulu mah enggak. Dulu, waktu baru nikah, die mah baek bener. Kita minta apa aja, dibeliin. Baek dah, pokoknya. Kita dibeliin kalung. Dibeliin segala macem. Ama duit juga enggak pelit. Saudara juga sering dikasih,” si ibu tampak berapi-api.
“Kenape jadi begitu, ye?” si ibu “manja bertanya lagi.
“Gak tau. Sejak ape ye? Sejak punya anak? Enggak, bukan. Sejak ape ye? Sejak ….
Kayaknya sejak emaknya meninggal. Iye, sejak emaknya meninggal,” kata si ibu “sendal rusak” mantap.
Tampaknya, ia tidak tahu kenapa suaminya berubah. Jawabannya itu hanya untuk menguatkan hati bahwa ada yang bertanggung jawab akan perubahan itu.
“Kalo digebukin, saya mah diam aja. Saya enggak pernah ngelawan,” si ibu “sendal rusak” curhat semakin vulgar.
Ah, si ibu, kenapa tidak melawan? tanya saya dalam hati. Jangan mentang-mentang engkau perempuan. Seharusnya, dialah yang membelamu. Ia yang telah berikrar dalam pernikahan untuk melindungimu, bukan? Buat apa laki-laki macam itu? Sebaiknya, ditinggalkan saja di persimpangan. Biar digonggong anjing. Saya hanya memaki dalam hati, tetapi kemudian pura-pura tidak mendengar lagi. Saya menghindari kontak mata dengan teman saya. Kami semua berpura-pura tidak mendengar.
“Saya udah tau gimana rasanya digebukin. Jadi, pas digebukin, saya diam aja. Yah, sakitnya juga sama aja. Saya mikir nih, oh, gini ni ya rasanya digebukin. Ya udah, pas digebukin lagi rasanya juga sama,” lanjutnya menjawab pertanyaan saya, dan mungkin pertanyaan semua orang di angkot.
“Mau kabur juga saya gak mau. Kalo saya kabur ke luar rumah ntar pasti dikejer. Trus, ntar saya tetep digebukin. Kan malu digebukin di depan orang-orang. Semua orang jadi pada liat dan pada tau.”
Lalu, sekarang, di angkot ini, saya dan orang-orang jadi tahu tentang semuanya. “Yah, anak-anak juga udah pada ngerti,” lanjutnya.
“Anak-anak pada bisa ngelawan ya,” si ibu “manja” menanggapi pelan.
“Iya, anak-anak juga enggak pada ngelawan kalo digebukin. Udah pada tahu kalo bapaknya begitu,” lanjut si ibu “konflik” hanyut dengan kondisi keluarganya yang “nrimo”.
“Jadi, anak-anak pada seneng kalo dia lagi gak di rumah,” lanjutnya.
Laki-laki macam apa yang dinikahi perempuan ini?
Si ibu-ibu temannya entah berpikir apa. Dia banyak diam. Ah, berbeda sekali jalan hidup kedua orang yang duduk berdampingan itu. Yang satu selalu diperhatikan di rumah (bahkan, tidak boleh naik angkot sendirian), yang satu lagi digebukin di rumahnya.
“Yah, saya mah mikirin anak-anak aja, Mpok,” Perempuan itu seakan-akan hanya menceritakan masalah sepele dalam keluarganya.
“Mpok, itu ada jeruk. Kita berenti di sini aja apa?” tanyanya. Tampaknya, ia telah lupa kalau ia barusan bercerita panjang.
“Ntar aja di depan,” jawab si ibu kerudung.
Angkot berhenti.
“Habis, habis, habis” kata si sopir.
Semua penumpang turun, juga kedua ibu-ibu itu.
Saya dan kedua teman saya bernapas lega.
“Gila! Ada kekerasan rumah tangga,” ucap kami, senada.
Sore sudah tidak betah dalam duduknya.
Pasar Minggu begitu sesak dengan orang-orang. Di antara reriungan suara orang-orang, suara angkot, terdengar suara orang mengaji, menunggu magrib datang.
Kedua ibu-ibu tadi sudah tidak keliatan.
Saya dan kedua teman saya membicarakan mereka.
Ya, hanya membicarakan.
Cipete—Pasar Minggu, Selasa, 1 Mei 2007,
Petang kali itu terlalu gerah. Saya dan Gita, sahabat saya, juga sudah terlalu lelah memutari Jakarta (Depok—Blok M—Tanah Abang—Cipete—(menuju) Pasar Minggu—Depok). Jadi, tidak ada keinginan untuk iseng mencuri dengar percakapan orang. Lagi pula, saya tidak kekurangan teman mengobrol di angkot itu. Selain Gita, juga saya bersama Melati, editor Penerbit Hikmah.
Angkot S11 yang saya naiki dari Cipete menuju Pasar Minggu ini penuh. Saya pun antara duduk dan tidak duduk. Di depan saya, di bangku empat, ada dua orang ibu-ibu. Mereka diapit Gita dan seorang laki-laki setengah baya di pojokan. Sejak awal, dua orang ibu-ibu itu sudah mengobrol. Cukup keras suara mereka, untuk ukuran ngobrol di angkot. Saya dan dua orang teman saya juga mengobrol. Jadilah kami berebut ruang bicara di angkot itu. Obrolan saya dan teman saya tidak berlanjut karena yang satu pindah ke pojokan. Lagi pula, macet membuat kami menyerah dan memutuskan untuk diam. Tidak enak juga berebut ruang dengan ibu-ibu itu.
“Iye, saya tuh jarang mah naek angkot. Enggak dibolehin. Apalagi ama enyak saya. Die mah paling takut kalo saya pegi naek angkot. Apalagi, sendirian. Tapi, saya mah kalo dilarang takut juga. Makenye kalo mau pegi-pegi saya tuh dandan duluan. Kalo dah rapi kan enyak saya gak bisa marah lagi,” kata ibu-ibu yang memakai kerudung, yang duduk di posisi kedua dari pintu.
“Iye,” si ibu di sebelahnya, yang lebih muda, menimpali.
“Pernah, saya waktu itu pegi-pegi aje. Padahal udah dilarang ama enyak. Duh, di angkot, ati jadi kagak enak. Kepikiran yang macem-macem aje. Jadinye, saya gak berani lagi pegi-pegi kalo enyak udah ngelarang.”
Saya melirik wajah ibu itu. Sudah cukup berumur, malah dapat dikatakan tua. Masa sih masih saja dilarang-larang kalau pergi-pergi? Saya jadi tidak percaya sendiri. Manja bener, sih. Maaf, ada nada memojokkan di pikiran saya.
“Enyak tu takut banget kalo saya naik angkot. Saya juga jadi gak berani pegi sendirian. Saya selalu minta temenin. Untungnya, sekarang ama lu,” kata si ibu “manja” itu lagi.
Saya memerhatikan wajah si ibu itu mencari sisa-sisa kemanjaannya di waktu muda. Tidak saya temukan. “Dih, sok manja bener nih ibu-ibu satu. Gimana anaknya?” pikir saya sirik. Hehe.
Lalu, pembicaraan beralih ke topik lain. Mereka membicarakan “seseorang” yang suka belanja barang-barang. “Seseorang” itu sering berbelanja baju, sendal, sepatu, berlebihan, nilai kedua ibu itu.
“Iye, buat apa coba ye baju ampe dua juta? Saya gak kebayang ada baju yang harganye segitu,” kata si ibu “manja”.
“Iye,” timpal si ibu yang lebih muda. Tampaknya ia tipe pengikut.
“Sendalnye aje banyak bener di lemari. Tinggi-tinggi bener. Buat ape coba, ye? Mending kalo artis mah yak.”
“Iye, buat apaan juga ye. Tapi, kalo ada minjem duit, kayaknya susah bener ye, Mpok. Ame mertuanye juga begitu. Susah bener.”
“Iye, emang begitu die orangnya. Buat beli-beli die mah gak mikir. Waktu saya ke rumahnye, di kamar mandinye sendal banyak banget. Masih bagus-bagus gitu.”
“Iye. Saya juga gak tau buat apaan. Saya mah sendal cukup atu aje. Yah, saya lupa dah kalo mau beli sendal. Sendal saya udah rusak nih, Mpok.” Ia melihat ke arah kakinya.
Sebenarnya, saya juga ingin melihat sendal rusak si ibu itu. Tetapi, apa urusan saya, sih? Ah, mulai terhanyut, nih.
“Ntar pinjem duit sepuluh ribu, ye, Mpok. Mau beli sendal jepit. Saya lupa bawa duit,” kata si ibu yang sendalnya rusak. Yah …
Lalu, mereka meninggalkan obrolan tentang “seseorang” yang suka belanja.
“Iye, Mpok saya sesek bener pas dengernya. Badan jadi lemes banget. Waktu itu saya ampir jatoh pas denger itu. ‘Apa iyaaa?’ pikir saya. Sedih bener kalo inget waktu itu, Mpok,” si ibu “sendal rusak” memulai topik baru.
“Saya bingung, nanti anak yang enem gimana nasibnya. Dia mah gak mikir,” lanjutnya.
“Iye,” sekarang si ibu “manja” yang mulai jadi pengikut.
Tampaknya, si ibu “sendal rusak” curhat tentang suaminya.
“Kan rumah yang di depan udah kita jual, yak. Duitnya juga udah dibayarin ke Pak Aji. Yah mau bagaimana lagi, ye, Mpok. Utang udah 45 juta.”
Wah, banyak sekali utang si ibu? Buat apa, ya? Saya mikirin utang si ibu itu.
“Tapi, kok si Pak Aji kayak gak punya duit aje, ye?”
“Iya, tau.”
Lalu, kedua ibu itu tertawa. Tawa yang penuh rahasia, tampaknya.
Pembicaraan tiba-tiba beralih ke Pak Aji.
“Mungkin beli mobil buat anaknye itu kali ye,” kata si ibu kerudung.
“Oh. iye, die beli mobil ye. Iye, kayaknya,” si ibu yang lebih muda menimpali dengan positif.
“Saya masih lemes, Mpok, kalo inget waktu itu,” si ibu yang lebih muda itu menyambung pembicaraan sebelumnya.
“Saya cuma bingung mikirin anak-anak aje, Mpok. Mana rumah udah dijual. Kan kita gak tau, yak. Waktu itu die minta surat tanah. Gak taunya, udah dijual aja. Kan itu rumah atas nama saya seharusnya. Trus, rumah yang di belakang, udah bukan atas nama kita lagi. Yah, dia mah pinter. Namanya, juga anak kuliahan.” Masih terdengar nada memuja dalam suara si ibu itu, benarkah? Buat laki-laki macam itu?
Ah, laki-laki macam apa yang dinikahi si ibu ini? Saya tidak habis pikir. Saya jadi penasaran dengan si ibu “sendal rusak”. Badannya agak gemuk, bermuka bulat, kulit putih, rambut dipotong model “bob” sekuping. Usianya mungkin belum 40 tahun.
“Yah, kalo dia mau nikah lagi, saya mau apa?” ia seakan-akan tidak bertanya.
Si ibu kerudung hanya diam. Saya juga. Saya pura-pura tidak mendengar dan mencoba melihat kemacetan. Saya takut membayangkan kesedihan di wajah perempuan yang sedang bicara itu. Ternyata suami si ibu ini mau nikah lagi. Hah! Ada enam orang anak yang menunggu di rumah. [Makin menjadi ketetapan hati saya menentang poligami].
“Kalo dia marah, dia juga main gebuk aja. Saya sering digebukin,” lanjut si ibu yang suaminya ingin menikah lagi. Suaranya begitu keras. Mungkin, tak tahan memendam konflik rumah tangga itu.
Saya berusaha memalingkan muka jauh-jauh. Mungkin juga seluruh penumpang, di angkot merah yang saya tumpangi ini. Ah, di angkot ini, kami—perempuan dan juga laki-laki—hanya diam dan menikmati cerita kekerasan dalam rumah tangga.
“Dari dulu die udah begitu?” tanya si ibu “manja”.
“Dulu mah enggak. Dulu, waktu baru nikah, die mah baek bener. Kita minta apa aja, dibeliin. Baek dah, pokoknya. Kita dibeliin kalung. Dibeliin segala macem. Ama duit juga enggak pelit. Saudara juga sering dikasih,” si ibu tampak berapi-api.
“Kenape jadi begitu, ye?” si ibu “manja bertanya lagi.
“Gak tau. Sejak ape ye? Sejak punya anak? Enggak, bukan. Sejak ape ye? Sejak ….
Kayaknya sejak emaknya meninggal. Iye, sejak emaknya meninggal,” kata si ibu “sendal rusak” mantap.
Tampaknya, ia tidak tahu kenapa suaminya berubah. Jawabannya itu hanya untuk menguatkan hati bahwa ada yang bertanggung jawab akan perubahan itu.
“Kalo digebukin, saya mah diam aja. Saya enggak pernah ngelawan,” si ibu “sendal rusak” curhat semakin vulgar.
Ah, si ibu, kenapa tidak melawan? tanya saya dalam hati. Jangan mentang-mentang engkau perempuan. Seharusnya, dialah yang membelamu. Ia yang telah berikrar dalam pernikahan untuk melindungimu, bukan? Buat apa laki-laki macam itu? Sebaiknya, ditinggalkan saja di persimpangan. Biar digonggong anjing. Saya hanya memaki dalam hati, tetapi kemudian pura-pura tidak mendengar lagi. Saya menghindari kontak mata dengan teman saya. Kami semua berpura-pura tidak mendengar.
“Saya udah tau gimana rasanya digebukin. Jadi, pas digebukin, saya diam aja. Yah, sakitnya juga sama aja. Saya mikir nih, oh, gini ni ya rasanya digebukin. Ya udah, pas digebukin lagi rasanya juga sama,” lanjutnya menjawab pertanyaan saya, dan mungkin pertanyaan semua orang di angkot.
“Mau kabur juga saya gak mau. Kalo saya kabur ke luar rumah ntar pasti dikejer. Trus, ntar saya tetep digebukin. Kan malu digebukin di depan orang-orang. Semua orang jadi pada liat dan pada tau.”
Lalu, sekarang, di angkot ini, saya dan orang-orang jadi tahu tentang semuanya. “Yah, anak-anak juga udah pada ngerti,” lanjutnya.
“Anak-anak pada bisa ngelawan ya,” si ibu “manja” menanggapi pelan.
“Iya, anak-anak juga enggak pada ngelawan kalo digebukin. Udah pada tahu kalo bapaknya begitu,” lanjut si ibu “konflik” hanyut dengan kondisi keluarganya yang “nrimo”.
“Jadi, anak-anak pada seneng kalo dia lagi gak di rumah,” lanjutnya.
Laki-laki macam apa yang dinikahi perempuan ini?
Si ibu-ibu temannya entah berpikir apa. Dia banyak diam. Ah, berbeda sekali jalan hidup kedua orang yang duduk berdampingan itu. Yang satu selalu diperhatikan di rumah (bahkan, tidak boleh naik angkot sendirian), yang satu lagi digebukin di rumahnya.
“Yah, saya mah mikirin anak-anak aja, Mpok,” Perempuan itu seakan-akan hanya menceritakan masalah sepele dalam keluarganya.
“Mpok, itu ada jeruk. Kita berenti di sini aja apa?” tanyanya. Tampaknya, ia telah lupa kalau ia barusan bercerita panjang.
“Ntar aja di depan,” jawab si ibu kerudung.
Angkot berhenti.
“Habis, habis, habis” kata si sopir.
Semua penumpang turun, juga kedua ibu-ibu itu.
Saya dan kedua teman saya bernapas lega.
“Gila! Ada kekerasan rumah tangga,” ucap kami, senada.
Sore sudah tidak betah dalam duduknya.
Pasar Minggu begitu sesak dengan orang-orang. Di antara reriungan suara orang-orang, suara angkot, terdengar suara orang mengaji, menunggu magrib datang.
Kedua ibu-ibu tadi sudah tidak keliatan.
Saya dan kedua teman saya membicarakan mereka.
Ya, hanya membicarakan.
Cipete—Pasar Minggu, Selasa, 1 Mei 2007,
Friday, May 04, 2007
Sunday, April 15, 2007
kabar dari margonda
sudah, sudahlah, nak
lihatlah ibu,
ibu sering kali dilamun ombak, nak
sudah, nak, sudahlah ....
jangan biarkan airmata itu jatuh lagi
malam ini, tiba-tiba, aku ingat lagi ucapan ibu
bu, maaf. aku terus-terusan sibuk menghitung waktu
lama tak memberi kabar
lama tak menanyakan kabar
maaf, bu
margonda, 15/4/07
lihatlah ibu,
ibu sering kali dilamun ombak, nak
sudah, nak, sudahlah ....
jangan biarkan airmata itu jatuh lagi
malam ini, tiba-tiba, aku ingat lagi ucapan ibu
bu, maaf. aku terus-terusan sibuk menghitung waktu
lama tak memberi kabar
lama tak menanyakan kabar
maaf, bu
margonda, 15/4/07
percakapan di antara pagi
Tuesday, April 03, 2007
Dalam Kereta
[1]
dalam kereta:
di belakang kita, bulan sabit kehilangan langit.
biarkan saja, katamu.
kita kembali bercerita
stasiun masih jauh
dalam kereta:
di belakang kita, bulan sabit kehilangan langit.
biarkan saja, katamu.
kita kembali bercerita
stasiun masih jauh
DI TAMAN
SITUASI:
Seekor kupu-kupu mencari mimpi di kelopak-kelopak bunga seruni.
Seorang gadis duduk di bangku kayu. Menatapi sketsa.
Sketsa: dua orang sahabat bicara dalam diam.
Saling berdusta pada masa lalu
tentang senja yang mereka namai warnanya
tentang malam yang menjelma dongeng di mimpi-mimpi mereka
tentang hujan pagi yang lamat-lamat mengamini doa mereka
tentang bintang yang (tak) pernah mati; masih menyisakan cahaya.
Sketsa: dua orang sahabat saling berdusta pada masa lalu
Ilalang yang tak pernah percaya pada waktu resah, “Aku dititipi rahasia,” katanya.
Seorang gadis menatapi sketsa. Sketsa yang tak ingin bercerita banyak di warnanya.
“Apakah ini sketsa tentang seorang gadis yang jatuh cinta?” tanyaku. Meragu. Kau pun.
Warna sketsa itu begitu sulit direka. Goresan yang samar-samar, ragu-ragu. Seakan-akan belum selesai.
Sketsa itu. Kita pernah melihatnya di sebuah toko antik milik seorang perempuan tua. Di masa lalu.
Di senja ini, tiba-tiba saja, aku dan kau telah duduk di antara gadis, kupu-kupu, dan ilalang: sketsa. Kita duduk berlama-lama. Kita masih takut membaca goresan warna di sketsa itu. Takut terlalu sederhana menceritakannya. Atau takut tak bisa menceritakan kisah yang sama? Entah.
Gadis itu masih menatapi sketsa yang sama. Kupu-kupu masih mencari mimpi di kelopak-kelopak bunga seruni. Ilalang masih tak percaya pada waktu. Dua sahabat masih berdusta pada masa lalu.
Dan, kita masih duduk berlama-lama.
Di sketsa ini?
Di senja ini?
Seekor kupu-kupu mencari mimpi di kelopak-kelopak bunga seruni.
Seorang gadis duduk di bangku kayu. Menatapi sketsa.
Sketsa: dua orang sahabat bicara dalam diam.
Saling berdusta pada masa lalu
tentang senja yang mereka namai warnanya
tentang malam yang menjelma dongeng di mimpi-mimpi mereka
tentang hujan pagi yang lamat-lamat mengamini doa mereka
tentang bintang yang (tak) pernah mati; masih menyisakan cahaya.
Sketsa: dua orang sahabat saling berdusta pada masa lalu
Ilalang yang tak pernah percaya pada waktu resah, “Aku dititipi rahasia,” katanya.
Seorang gadis menatapi sketsa. Sketsa yang tak ingin bercerita banyak di warnanya.
“Apakah ini sketsa tentang seorang gadis yang jatuh cinta?” tanyaku. Meragu. Kau pun.
Warna sketsa itu begitu sulit direka. Goresan yang samar-samar, ragu-ragu. Seakan-akan belum selesai.
Sketsa itu. Kita pernah melihatnya di sebuah toko antik milik seorang perempuan tua. Di masa lalu.
Di senja ini, tiba-tiba saja, aku dan kau telah duduk di antara gadis, kupu-kupu, dan ilalang: sketsa. Kita duduk berlama-lama. Kita masih takut membaca goresan warna di sketsa itu. Takut terlalu sederhana menceritakannya. Atau takut tak bisa menceritakan kisah yang sama? Entah.
Gadis itu masih menatapi sketsa yang sama. Kupu-kupu masih mencari mimpi di kelopak-kelopak bunga seruni. Ilalang masih tak percaya pada waktu. Dua sahabat masih berdusta pada masa lalu.
Dan, kita masih duduk berlama-lama.
Di sketsa ini?
Di senja ini?
Friday, March 23, 2007
kita pulang saja, kataku
kita pulang saja, kataku sambil menepis dingin yang tak habis-habisnya menggerutu di lengan bajuku,
menjauhlah, bisikku
kepulan asap tukang kacang rebus telah menghabiskan sisa percakapan kita
ayolah, kita pulang saja,
meskipun malam masih berdiri di sana
menunggu akhir kisah pipit kecil yang kemarin jatuh cinta pada angin utara
malam masih ingin mendengarnya, katamu
kita pulang saja, ulangku.
langkah kadang merasa asing dengan gegas, seperti kali ini.
aku takut kehilangan pagi di jendelaku
jika aku masih di sini
kita pulang saja
malam masih akan menunggu bukan?
menjauhlah, bisikku
kepulan asap tukang kacang rebus telah menghabiskan sisa percakapan kita
ayolah, kita pulang saja,
meskipun malam masih berdiri di sana
menunggu akhir kisah pipit kecil yang kemarin jatuh cinta pada angin utara
malam masih ingin mendengarnya, katamu
kita pulang saja, ulangku.
langkah kadang merasa asing dengan gegas, seperti kali ini.
aku takut kehilangan pagi di jendelaku
jika aku masih di sini
kita pulang saja
malam masih akan menunggu bukan?
Monday, March 12, 2007
12/3
"rintik keberapa yang akan sampai ke tepian venesia kali ini?"
semoga belum ia tutup kopernya
ada yang ingin menitipkan cinta ke sana
semoga belum ia tutup kopernya
ada yang ingin menitipkan cinta ke sana
Friday, February 23, 2007
sore
seperti berjalan
kita tak sempat lagi menghitung langkah
seperti jatuh cinta
kita tak sempat lagi menentukan arah
kita tak sempat lagi menghitung langkah
seperti jatuh cinta
kita tak sempat lagi menentukan arah
Virus
Dan virus itu menyerang komputer gw dengan dahsyatnya. Nyebelin. Padahal, Wira dah bela-belain ke warnet buat download-in Antivir [makasih ya, Wir. Kapan kita ngobrol lagi di perpustakaan? Ha-ha]. Setelah di-scan, virusnya malah melakukan kudeta. Sampe gak bisa login. Tapi, untungnya udah beres. Makasih buat Nopa yang udah meluangkan detak-detak waktunya buat mengembalikan file-file itu. Tengkyu ya, Nop ^_^
Huh, virus, jangan dekati aku lagi, dunk!
Huh, virus, jangan dekati aku lagi, dunk!
Peri
seperti hujan, tahun-tahun berjatuhan
usia semakin jauh
masih aku juga yang ditemani
selalu memintamu menjadi peri, maaf
usia semakin jauh
masih aku juga yang ditemani
selalu memintamu menjadi peri, maaf
Sunday, February 18, 2007
Minggu yang Hujan
Kemarin, seharusnya, langkah saya berbelok ke rental untuk menghilangkan virus di flash disk--hadiah ulang tahun dari seorang sahabat, setahun lalu--saya. Namun, karena kios kecil itu tampak sangat ramai dan tentu saja sesak, saya mengurungkan niat dan berjalan ke warnet.
Saya menyimpan beberapa data dalam flash disk itu. Setelah di-scan, antivirus di warnet itu tidak bilang apa-apa. Malah, dia bilang tak ada virus yang ketemu. Jadinya, saya percaya saja. Saya pikir, antivirus di warnet pastilah yang terbaru--mereka toh terhubung ke jaringan internet. Tak terlalu susah kan untuk meng-update-nya?
Cukup lama saya di warnet. Hujan begitu ganas akhir-akhir ini. Juga hari itu. Saya tidak berani pulang ke kosan--yang hanya berjarak sejauh langkah yang dapat dihitung. Jadilah saya terjebak di warnet itu. Hujan reda juga. Saya melangkah pulang.
Sampai di kosan, saya langsung memasukkan data yang saya simpan ke komputer saya. Tanpa pikir panjang. Dan, tiba-tiba saja, terjadi hal yang paling tidak saya suka itu. Salah satu hal yang saya takuti, mungkin. Ada virus di komputer saya. Ternyata, antivirus saya tidak bisa ngapa-ngapain. Sial!
Padahal, ada pekerjaan yang menunggu di dalam komputer itu. Saya nekat mengerjakannya. Namun, ternyata sedikit fatal. Setelah disimpan, file itu tidak bisa dibuka. T_T
"Wied, kalo bisa, jangan buka apa-apa dulu. Cari antivirusnya dulu," saran seorang teman.
Yah, jadinya, saya tidak bisa mengerjakan editan yang harus diserahkan hari Senin--mengejar tanggal yang akhir-akhir ini begitu cepat melangkah.
Duh, kenapa sih orang bikin virus?
Dan, sekarang, saya masih di warnet. Mencari antivirus yang bisa menolong saya. Semoga kita bertemu.
** Seharusnya, kemarin itu, langkah saya berbelok, ya. Sayangnya, takdir tak bilang begitu.
Saya menyimpan beberapa data dalam flash disk itu. Setelah di-scan, antivirus di warnet itu tidak bilang apa-apa. Malah, dia bilang tak ada virus yang ketemu. Jadinya, saya percaya saja. Saya pikir, antivirus di warnet pastilah yang terbaru--mereka toh terhubung ke jaringan internet. Tak terlalu susah kan untuk meng-update-nya?
Cukup lama saya di warnet. Hujan begitu ganas akhir-akhir ini. Juga hari itu. Saya tidak berani pulang ke kosan--yang hanya berjarak sejauh langkah yang dapat dihitung. Jadilah saya terjebak di warnet itu. Hujan reda juga. Saya melangkah pulang.
Sampai di kosan, saya langsung memasukkan data yang saya simpan ke komputer saya. Tanpa pikir panjang. Dan, tiba-tiba saja, terjadi hal yang paling tidak saya suka itu. Salah satu hal yang saya takuti, mungkin. Ada virus di komputer saya. Ternyata, antivirus saya tidak bisa ngapa-ngapain. Sial!
Padahal, ada pekerjaan yang menunggu di dalam komputer itu. Saya nekat mengerjakannya. Namun, ternyata sedikit fatal. Setelah disimpan, file itu tidak bisa dibuka. T_T
"Wied, kalo bisa, jangan buka apa-apa dulu. Cari antivirusnya dulu," saran seorang teman.
Yah, jadinya, saya tidak bisa mengerjakan editan yang harus diserahkan hari Senin--mengejar tanggal yang akhir-akhir ini begitu cepat melangkah.
Duh, kenapa sih orang bikin virus?
Dan, sekarang, saya masih di warnet. Mencari antivirus yang bisa menolong saya. Semoga kita bertemu.
** Seharusnya, kemarin itu, langkah saya berbelok, ya. Sayangnya, takdir tak bilang begitu.
Thursday, February 15, 2007
Februari Lagi
Tuhan,
sedang apa dia di Sana?
jika ada butiran jatuh dari matanya,
tolong sekakan dan sampaikan padanya, "senyumnyalah yang dulu menghapus jejak kesedihan pada hati kami".
Tuhan, sampaikan padanya, "selamat hari lahir!"
tak pernah dirayakan memang.
tapi, di dinding kamar ibu masih ada sisa-sisa kapur tulis, yang mengeja nama dan waktu kelahirannya.
masih tertera di sana: harinya esok, bulan ini. (dan pada saat yang sama, telah Kau tetapkan pula bahwa 19 tahun nantinya, hari yang sama, ia dan Kau akan berjalan bersama. pulang).
"bulan lahir kita sama," katanya. ia selalu bilang, setiap tahunnya. dan selalu dengan tawa. ya, kita memang diciptakan pada musim yang sama nyamannya. musim cinta, kata mereka-mereka.
Tuhan,
esok, usia akan semakin jauh meninggalkannya. akan semakin jauh.
ah, tapi, tak lagi. usia tak lagi mampu meninggalkannya ataupun mengejarnya.
"selamat hari lahir"--memang yang tak akan pernah bisa kita rayakan lagi.
tapi, akan kukirimkan bingkisan doa.
selalu.
tenanglah bersama-Nya di Sana ...
--dua tahun sudah, Dik. kau akan selalu ada, dalam setiap doa--
sedang apa dia di Sana?
jika ada butiran jatuh dari matanya,
tolong sekakan dan sampaikan padanya, "senyumnyalah yang dulu menghapus jejak kesedihan pada hati kami".
Tuhan, sampaikan padanya, "selamat hari lahir!"
tak pernah dirayakan memang.
tapi, di dinding kamar ibu masih ada sisa-sisa kapur tulis, yang mengeja nama dan waktu kelahirannya.
masih tertera di sana: harinya esok, bulan ini. (dan pada saat yang sama, telah Kau tetapkan pula bahwa 19 tahun nantinya, hari yang sama, ia dan Kau akan berjalan bersama. pulang).
"bulan lahir kita sama," katanya. ia selalu bilang, setiap tahunnya. dan selalu dengan tawa. ya, kita memang diciptakan pada musim yang sama nyamannya. musim cinta, kata mereka-mereka.
Tuhan,
esok, usia akan semakin jauh meninggalkannya. akan semakin jauh.
ah, tapi, tak lagi. usia tak lagi mampu meninggalkannya ataupun mengejarnya.
"selamat hari lahir"--memang yang tak akan pernah bisa kita rayakan lagi.
tapi, akan kukirimkan bingkisan doa.
selalu.
tenanglah bersama-Nya di Sana ...
--dua tahun sudah, Dik. kau akan selalu ada, dalam setiap doa--
Tuesday, February 13, 2007
Cerita dari Wira
Beberapa malam lalu, seorang teman, sebut saja namanya Wira, bercerita. Katanya, belum lama ini, tetangganya mengadakan selamatan. Besar-besaran, sampai-sampai ada acara “motong kambing”.
Selamatan itu untuk merayakan nasib mujur sang tetangga. Laki-laki lulusan SMA itu bekerja di kantor kelurahan, sebagai tenaga honorer. Masa kerjanya terhitung belum lama, baru satu setengah tahun. Pada hari yang cerah, laki-laki itu mendapat kabar, ia diangkat menjadi PNS—status yang dikejar-kejar banyak orang untuk menyandarkan hari tua mereka. Wajar saja si tetangga begitu bahagia. Ia—yang baru bekerja seumur jagung (untuk ukuran waktu bagian pegawai honorer)—diangkat menjadi pegawai.
Ah, mujur benar ia jika dibandingkan dengan pegawai-pegawai honorer yang sudah bekerja puluhan tahun, bahkan ada yang tetap berstatus sama. Mereka terkatung-katung. Entah faktor apa yang dijadikan pertimbangan pengangkatan sang tetangga—Wira tidak tahu juga, “Mungkin karena dia rajin atau apalah,” kata Wira.
Alhasil, sang tetangga merasa kebahagiaan itu perlu dirayakan. Jadilah acara “motong kambing” dan acara undang-undang tetangga untuk makan bersama. Hari tua sang tetangga akan terjamin. Begitu pula anak dan istrinya (jika ia menikah dan punya anak kelak). Tak terbayang sumringah wajah sang tetangga dan keluarganya itu. Seperti mendapat durian runtuh. Tak apalah habis-habisan untuk selamatan, toh mereka sudah ketemu pohon durian itu, pikir mereka (barangkali).
Saya dan teman-teman yang mendengar setuju juga jika si tetangga dimasukkan pada kategori orang yang beruntung (ya, kita bandingkan saja dengan peserta CPNS dan juga pegawai honorer, terutama guru, yang terus berharap tiap tahun. Tapi, tak kunjung jua diperhatikan). Yah, nasib orang siapa yang tahu.
“Ya, pastilah dia dan keluarganya senang banget,” kata Wira. Ya, saya bisa membayangkannya. Namun, saya sempat merasa wow! Sampai motong kambing? Yah, bolehlah, toh mereka yang punya acara.
(Menurut tuturan Wira, si tetangga cukup banyak mengundang orang. Semua tetangga diundang. Dan semua orang itu tahu bahwa ia diangkat menjadi PNS).
“Nah, setelah itu ...,” lanjut Wira.
Oh, cerita belum selesai ternyata.
Selang beberapa lama setelah acara selamatan, Pak Lurah dan bedinde-bedinde-nya datang ke rumah si tetangganya Wira. Membawa banyak sekali makanan dan juga buah-buahan. Bukan datang ke acara selamatan.
Masih menurut Wira, Pak Lurah dan rekan-rekan sudah sempat juga mencicipi gule kambing selamatan. Wong, itu keluarga seneng banget. Pastilah orang kantor juga kebagian rantangan.
Jadi, jelas mereka bukan datang ke acara selamatan. Acara selamatannya sudah lewat beberapa waktu lalu.
Kali itu, mereka datang untuk memberi kabar. Mereka juga membawa cukup banyak sesuguhan buat si tetangga.
“Jangan bilang, ya, Wir,” kata saya. Ada pikiran buruk di benak saya. Dan saya ingin cerita tidak dilanjutkan. Cukup sampai di situ.
Namun, Wira masih melanjutkan ceritanya, “Iya, jadi, Pak Lurah tuh dateng buat ngasih kabar ....”
Pak Lurah dan para bedinde datang (lengkap dengan sesuguhan). Minta maaf.
Katanya, ada kesalahan. Pengangkatan status PNS sang tetangga dibatalkan. Pak Lurah bilang, tahun ini, pengangkatan difokuskan pada yang sudah tua-tua dulu. Yang sudah bertahun-tahun berstatus honorer. Jadi, ya, si tetangga tidak jadi jadi PNS. Tetap jadi honorer.
Lha, semua orang juga sudah tahu bukan kalau banyak tenaga honorer yang terkatung-katung selama bertahun-tahun cahaya? Lalu, kenapa Pak Lurah itu ujug-ujug bilang kalau si tetangga diangkat jadi PNS?
“Ada kesalahan,” kata Pak Lurah. Mudah sekali.
Saya tidak dapat membayangkan wajah si tetangga dan keluarganya. Terbayang juga wajah kambing yang sudah dipotong. Wajah tetangga yang telah diundang.
Durian runtuh terlalu cepat. Jadilah mereka ketiban durian.
“Untungnya, mereka orang baik,” kata Wira. “Jadi, tetangga-tetangga tidak mencela. Malah ikut simpati.”
Ya, saya juga ikut bersimpati buat sang tetangga dan keluarganya. Pasti ada rencana yang lebih baik buat mereka.
Selamatan itu untuk merayakan nasib mujur sang tetangga. Laki-laki lulusan SMA itu bekerja di kantor kelurahan, sebagai tenaga honorer. Masa kerjanya terhitung belum lama, baru satu setengah tahun. Pada hari yang cerah, laki-laki itu mendapat kabar, ia diangkat menjadi PNS—status yang dikejar-kejar banyak orang untuk menyandarkan hari tua mereka. Wajar saja si tetangga begitu bahagia. Ia—yang baru bekerja seumur jagung (untuk ukuran waktu bagian pegawai honorer)—diangkat menjadi pegawai.
Ah, mujur benar ia jika dibandingkan dengan pegawai-pegawai honorer yang sudah bekerja puluhan tahun, bahkan ada yang tetap berstatus sama. Mereka terkatung-katung. Entah faktor apa yang dijadikan pertimbangan pengangkatan sang tetangga—Wira tidak tahu juga, “Mungkin karena dia rajin atau apalah,” kata Wira.
Alhasil, sang tetangga merasa kebahagiaan itu perlu dirayakan. Jadilah acara “motong kambing” dan acara undang-undang tetangga untuk makan bersama. Hari tua sang tetangga akan terjamin. Begitu pula anak dan istrinya (jika ia menikah dan punya anak kelak). Tak terbayang sumringah wajah sang tetangga dan keluarganya itu. Seperti mendapat durian runtuh. Tak apalah habis-habisan untuk selamatan, toh mereka sudah ketemu pohon durian itu, pikir mereka (barangkali).
Saya dan teman-teman yang mendengar setuju juga jika si tetangga dimasukkan pada kategori orang yang beruntung (ya, kita bandingkan saja dengan peserta CPNS dan juga pegawai honorer, terutama guru, yang terus berharap tiap tahun. Tapi, tak kunjung jua diperhatikan). Yah, nasib orang siapa yang tahu.
“Ya, pastilah dia dan keluarganya senang banget,” kata Wira. Ya, saya bisa membayangkannya. Namun, saya sempat merasa wow! Sampai motong kambing? Yah, bolehlah, toh mereka yang punya acara.
(Menurut tuturan Wira, si tetangga cukup banyak mengundang orang. Semua tetangga diundang. Dan semua orang itu tahu bahwa ia diangkat menjadi PNS).
“Nah, setelah itu ...,” lanjut Wira.
Oh, cerita belum selesai ternyata.
Selang beberapa lama setelah acara selamatan, Pak Lurah dan bedinde-bedinde-nya datang ke rumah si tetangganya Wira. Membawa banyak sekali makanan dan juga buah-buahan. Bukan datang ke acara selamatan.
Masih menurut Wira, Pak Lurah dan rekan-rekan sudah sempat juga mencicipi gule kambing selamatan. Wong, itu keluarga seneng banget. Pastilah orang kantor juga kebagian rantangan.
Jadi, jelas mereka bukan datang ke acara selamatan. Acara selamatannya sudah lewat beberapa waktu lalu.
Kali itu, mereka datang untuk memberi kabar. Mereka juga membawa cukup banyak sesuguhan buat si tetangga.
“Jangan bilang, ya, Wir,” kata saya. Ada pikiran buruk di benak saya. Dan saya ingin cerita tidak dilanjutkan. Cukup sampai di situ.
Namun, Wira masih melanjutkan ceritanya, “Iya, jadi, Pak Lurah tuh dateng buat ngasih kabar ....”
Pak Lurah dan para bedinde datang (lengkap dengan sesuguhan). Minta maaf.
Katanya, ada kesalahan. Pengangkatan status PNS sang tetangga dibatalkan. Pak Lurah bilang, tahun ini, pengangkatan difokuskan pada yang sudah tua-tua dulu. Yang sudah bertahun-tahun berstatus honorer. Jadi, ya, si tetangga tidak jadi jadi PNS. Tetap jadi honorer.
Lha, semua orang juga sudah tahu bukan kalau banyak tenaga honorer yang terkatung-katung selama bertahun-tahun cahaya? Lalu, kenapa Pak Lurah itu ujug-ujug bilang kalau si tetangga diangkat jadi PNS?
“Ada kesalahan,” kata Pak Lurah. Mudah sekali.
Saya tidak dapat membayangkan wajah si tetangga dan keluarganya. Terbayang juga wajah kambing yang sudah dipotong. Wajah tetangga yang telah diundang.
Durian runtuh terlalu cepat. Jadilah mereka ketiban durian.
“Untungnya, mereka orang baik,” kata Wira. “Jadi, tetangga-tetangga tidak mencela. Malah ikut simpati.”
Ya, saya juga ikut bersimpati buat sang tetangga dan keluarganya. Pasti ada rencana yang lebih baik buat mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)

1.jpg)