Penjual Kenangan

Wednesday, July 01, 2009

Penasaran?




Ssst... buat kamu yang mengikuti Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)Lulu, pasti menunggu pengumuman pemenang dengan penasaran, kan? hehehe...

Supaya rasa penasarannya hilang, yuk kita lihat nama-nama pemenang di bawah ini.

1. Nia Nurdiansyah (Semarang): “Me, My Midas, &Our Little Zoo”
2. Ryu Tri (Bekasi): “Saingan Sama Ayam”
3. Nia Chintiya R: (Kalimantan Timur) Proyek Kakaktua Memikat Kavi
4. Aditya Renaldi: (Bandung) “From Playboy to Girlfriend”
5. Sutrisnawati (Jakarta Utara): “Antara Aku, Udin Kura, dan Gebetan Rahasia”

10 Pemenang Favorit
1. Andhika Wandana (Bandung): “KucingCang”
2. Agustina Wulandari (Jakarta Selatan): “Ketika Kucing Sakit Hati”
3. Desfirawita (Pariaman, Sumbar): “Love’s Cat”
4. Juwita Purnama sari (Bekasi): “Nuriku, Diaryku”
5. Anis Arviani (Magelang): “Suka Manis”
6. Ningrum Setya (Jakarta Selatan): “Buffey—Hamster Pembawa Cinta”
7. Rahmat Nugroho (Depok): “Kamu Semanis Ikan Mas Kokiku”
8. Graysia W. (Riau): “Cinta Bersemi di Ruang Tunggu Dokter Hewan”
9. Riana Setyawati: “Si Cokelat, Hamster Pintar”
10. Devalina R.: “Me, Luffy, and The Love”


>> Lima (5) cerita paling menarik akan mendapatkan @Paket Buku Senilai RP150.000 + satu buah kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

>> Sepuluh (10) cerita favorit akan mendapatkan @kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu + tas keren GagasMedia.

Selamat ya dan terus berkarya!

* Urutan tidak menunjukkan peringkat
** Hadiah akan dikirim ke alamat pemenang paling lambat dua minggu dari pengumuman

gambar di sini!

Wednesday, June 17, 2009

aku dan matahari bertengkar





waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

("Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari"--Sapardi Djoko Damono)



namun, kali itu, aku dan matahari bertengkar; tak percaya ia yang ciptakan bayang-bayang.

Gunung Ciremai, 2007

Tuesday, June 16, 2009

Dear....




Dear all,
Buat para pembaca Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, makasih, ya udah beli dan baca--dan suka "ceritanya" Lulu. hehe.

Terima kasih juga buat peserta yang udah berpartisipasi dalam “SAYEMBARA KUCING MELULU & CERITA CINTA (ME)LULU; Antara Kamu, Gebetan, dan Peliharaan.” Ada banyak naskah yang masuk ke meja redaksi GagasMedia, dan mohon maaf kami terpaksa mengundurkan pengumuman pemenang.

Tapi, pemenang lomba tersebut pasti akan diumumkan, yaitu pada 29 Juni 2009. Pengumuman resminya dapat dilihat di kandang gagas.

So, Check it back, ya!

Sekali lagi, makasih, ya, buat partisipasinya. (^_^)


Buat yang merasa nggak suka kucing, jangan khawatir. Deborah A. Edwards, D.V.M., bilang, "People that don't like cats haven't met the right one yet."

So, mungkin, langkah pertamanya adalah pergi ke toko buku, beli, lalu baca Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu--promosi melulu :P. Jangan takut kalau kamu-kamu merasa "mulai" mencintai makhluk lucu ini. Then, temukan "the-right-one"! ^_^

Heart you all.

--Iwied--



gambar di sini!

Monday, June 15, 2009

November Itu--Hujan Turun Menderas





Membaca surat Ibu Prita Mulyasari—dan juga melihat berita yang wara-wiri, saya jadi ingat kejadian yang menimpa kakak saya, sekitar dua tahun yang lalu. Kakak saya masuk rumah sakit dalam keadaan tidak sadar, tetapi pihak rumah sakit menyatakan bahwa tidak ada ruang ICU yang kosong. Akhirnya, kakak saya ditempatkan di Ruang HiCare. Di ruangan ini, tidak ada alat bantu pernapasan otomatis. Bantuan pernapasan dibantu dengan alat pompa manual.

Saya begitu ingat kejadian saat kondisi kakak saya masuk fase kritis. Mungkin, saat itu belum terlalu malam, saya dan sahabat saya baru saja makan malam. Saat baru mulai makan, ponsel saya berdering, mengabarkan kakak saya kritis. Saya dan sahabat saya segera berlari-lari menyeberang jalan ke arah rumah sakit itu.
Sesampai di ruangan, semua wajah tegang. Seorang dokter muda—yang ternyata masih dokter koas—tampak berkeringat memfungsikan alat pompa. Bingung mencari detak jantung di dada kakak saya, detak yang harus dipancing dengan tangan.

Setelah masa kritis itu lewat, alat bantu pernapasan tersebut (yang dipompa) tidak boleh dilepas, harus terus dipompa. Kalau tidak, detak jantungnya berhenti. Malangnya, yang diminta memompa adalah keluarga pasien, termasuk saya, yang tergagap-gagap dengan alat itu—takut salah pegang, takut salah pompa.

Malangnya lagi, alasan suster jaganya adalah dia capek. Jadilah saya beradik kakak yang gantian. Bukannya kami tidak mau—kami mau melakukan apa saja asalkan saudara perempuan kami yang punya tiga anak itu (saat itu, anak-anak itu berusia 16 tahun, 10 tahun, dan 3 tahun) sehat kembali. Tapi, kami awam dengan alat itu dan takut memfungsikannya. Selain itu, kalau bisa sendiri, kenapa juga kami harus ke rumah sakit yang cukup besar di kawasan Jalan Raya Fatmawati itu? Kami butuh pertolongan.

Mengingat kejadian itu, begitu memilukan hati. Saat itu, saya ingin mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang sepertinya tidak “menganggap” hanya satu nyawa—tetapi, kami hanya berserah pada takdir. Mungkin, “hanya” satu nyawa bagi mereka, tetapi bagi kami, dia bukan “hanya”. Dia seorang ibu, seorang istri, seorang kakak, seorang adik, seorang anak, dan ... ah, terlalu banyak jika disebutkan satu per satu.
Dan, saat membuka-buka file lama di komputer, saya menemukan catatan panjang saya tentang kisah itu, catatan yang saya buat pada November 2007, setahun setelah kejadian itu.

November Lagi

November. Rinai-rinai hujan di bulan ini membawa kembali berbagai cerita. Juga cerita tentangmu, Ni.

Rasanya, semua masih begitu jelas terjalin di sudut teraman benakku. Semua masih ada di sana.

Malam itu, aku mendapat SMS kabarkan kau dirawat di rumah sakit di bilangan jalan raya Kebayoran Lama. Tiba-tiba saja, pikirku. Selama ini, kau hanya mengeluh sakit pinggang. Kami katakan, kau terlalu bekerja keras. Itu hanya sakit karena kecapaian. Ternyata, sakit yang tak berkesudahan. Datang. Pergi. Datang. Dan, pergi lagi. Kau sudah sempat ke dokter. Berobat jalan. Tapi, sakit itu tak hilang-hilang juga. Dan, pikiran macam-macam muncul di pikiranmu. Tapi, kau, ingat, kami semua membantah. Kita tahu itu hanya akibat terlalu banyak kerja. Kau memang pekerja keras. Tidur malam tidak pernah kau tebus dengan mengambil waktu pagi—tidak sepertiku. Aku ingat, saat menginap di rumahmu, kau tidak pernah mengusik tidurku yang terlalu berlebihan kadang. Bahkan, saat bangun, aku telah menemukan segelas teh hangat dan juga nasi uduk di meja.

Sakit pinggangmu pindah-pindah, ceritamu. Tapi, kami semua merasa, itu karena kau terlalu memikirkan rasa sakit itu. Bahkan, karena aku sibuk dengan kerjaku, aku lupa tentang sakit pinggangmu itu. SMS itu mengagetkanku. Kau dirawat di rumah sakit. Kebetulan, hari itu, aku libur kerja—izin sakit selama tiga hari. Esok paginya, aku langsung menuju rumah sakit itu. Bahkan, di depan rumah sakit, aku sempat menelepon ke ponselmu. Mengonfirmasi nomor kamar. Aku melihatmu duduk di tempat tidur. Pucat. Tapi, aku merasa lega, wajah sakit biasa. Di sana, sudah ada kakak perempuanku yang lain. Malam itu, aku disuruh jaga. Untunglah, izin sakitku masih dua hari.

Malam itu, kau tidak bisa tidur. Tengah malam kau terbangun. Batuk-batuk. Dan, bahkan, semua makan malam—yang serbasedikit kau makan—keluar lagi. Kau muntah-muntah. Suster yang aku panggil datang setelah semua makanan di perutmu habis. Kau juga mengeluhkan sakit kepala. Kau sampai memegangi kepalamu. “Sakit, sakit,” katamu. Sakit kepala hebat menyerangmu. Aku kebingungan. Hanya bisa memintamu menyebut-Nya; dan aku segera minta obat pada suster. Lalu, suster itu memberiku sebutir Panadol—Entah karena tengah malam atau mereka tidak tahu seberapa hebat sakitmu itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Yang kutahu, kau sangat butuh obat.

Badanmu juga panas. Suster menyarankan aku untuk mengompresmu. “Bisa ngompres?” tanyanya padaku. Aku seperti orang bodoh di sana. Kelimpungan dan segera mengangguk. Tengah malam itu, para suster itu memberiku sebuah wadah dan handuk kompres. Lalu, mereka berlalu. Aku kebingungan. Lho, bukankah mereka susternya? Ah, sudahlah, aku cuma ingin panasmu turun dan sakit kepalamu hilang.

Malam itu, kita hampir tidak tidur. Aku segera terjaga saat suster-suster itu mengantarkan makan pagimu. Saat diberi obat, aku ulangi kembali tentang sakit kepalamu. Aku minta tambahan obatnya. Lagi-lagi, Panadol yang diberikannya—obat itu juga ada di warung-warung rokok pinggir jalan.

Malam itu, aku masih berjaga. Gita, sahabatku, datang dan menemaniku. Batuk-batuk dan sakit kepala hebatmu datang lagi malam-malam.

Esoknya, Ni Nur—saudara perempuan kita yang nomor 10 dari 12 orang saudara kandung—dan Ibu datang dari Padang. Kami menjagamu bersama. Malam itu, kau terlalu mengkhawatirkan anak-anakmu.

“Ah, Riyan, masih aja bandel,” katamu. “Puput susah banget nangkap pelajaran.” “Untunglah, Shiva dikirim untuk pengobat hati,” lanjutmu. Ya, Shiva—Cipa—itu begitu mencuri hati semua orang, seperti berkah dari arti namanya, pengobat hati.
“Anak segede Riyan emang lagi masa-masanya ngebantah, Ni,” kataku. “Puput juga, asal rajin les, pasti juga bisa. Waktu SD, Iwied juga gak pernah belajar, Ni.” Aku hanya bisa menghibur. Ketakutan Uni akan anak-anaknya terlalu berlebihan, menurutku. Namun, begitulah ibu, selalu punya ketakutan yang berlebih untuk anaknya, seperti rasa sayang yang juga pasti selalu tak pernah kurang.

“Put, Put, bawa kue kaleng ini pulang. Bang Iyan suka,” panggilmu pada Puput, putrimu yang masih duduk di kelas lima SD itu, saat anak itu hampir mencapai pintu keluar. Ah, begitulah kasihmu, sang ibu.

Aku hanya bisa menemanimu hingga hari ke-3. Selanjutnya, aku hanya menelepon. Pekerjaan menunggu di kantorku. Seminggu kemudian, yang aku tahu, kau sudah pulang. Kau masih pucat, tapi suasana rumah sakit juga tidak akan membuatmu ceria. Hanya perlu sentuhan rumah. Uni Nur, yang kebetulan juga seorang dokter, pun mengiyakan saat kau ingin pulang ke rumah. Tiga hari berikutnya, Ni Nur kembali ke Padang. Pekerjaan menunggunya. Ibu tinggal untuk menjagamu.

Seminggu kemudian, aku—bersama Gita—baru bisa menjengukmu lagi. Aku membawa sekotak donat dan foto wisudaku. Ada juga foto kau dan Cipa, bocah tiga tahunmu itu. Senyummu dan senyum Cipa dalam foto itu seakan abadi—begitu indah sehingga aku merasa perlu untuk memperbesar dan membingkainya.

Kondisimu masih lemah dan banyak diam. Kau tidak mau makan donat yang kubawa. Tapi, saat aku membolak-balik foto wisudaku, kau bilang, “Coba Uni liat,” ucapmu pelan. Apakah yang kau lihat saat itu? Mungkin, tak percaya bahwa adik yang dulu selalu kau cucikan bajunya dan kau bilang, “Mandi sana, badanmu bau,” sudah beranjak melangkah. Ah, Uni, kau selalu ada untukku sejak dulu. Semoga kau cepat sembuh, aku hanya bisa ucapkan itu untukmu saat itu.
***

Malam itu, aku diberi kabar, kau masuk rumah sakit lagi. Saat itu, aku akan bersiap-siap naik gunung bersama teman-teman, melantik anggota baru organisasi pencinta lingkungan kampusku dulu. Aku sempat ragu. Namun, aku pikir—dengan egoku sendiri. ah, bodohnya aku!—kondisimu pastilah sama dengan waktu dulu. Wajah orang sakit biasa. Lalu, aku memutuskan untuk tetap ikut. Tiga hari ponselku tidak aktif. Dan, ternyata itu membuat panik semua orang rumah. Saat sudah turun dan dapat sinyal, aku langsung menelepon Elok—saudara perempuan kita yang ke-8. Dari suaranya, aku tidak terlalu merasa bersalah ikut naik gunung. Sudah ada ibuku dan Ni Nur di sana. Aku merasa lega.

Saat naik mobil omprengan untuk pulang, aku mendapat telepon dari Ni Nur.

“Wid, di mana? Kok HP-nya nggak bisa dihubungin? Kirain ada apa-apa sama Iwied.”

“Kemaren lagi keluar kota, ni. Gimana Ni Ros ni?” tanyaku.

“Iwied cepetan pulang. Uni Ros udah nggak sadar …. Iwied juga bikin khawatir aja,” nada suara Ni Nur marah.

Aku tersentak kaget. Belum lama, suara Elok baru saja membuatku lega. Namun, kabar yang ini.... Oh, Tuhan, sekarang, rasa bersalah itu menyergapku. Sangat. Aku segera minta maaf pada Ni Nur, sambil menyembunyikan tangisku di depan anggota baru organisasi.

Aku sudah sampai di rumah sakit besar di bilangan Jalan Raya Fatmawati itu. Aku menunggu di luar. Di dalam ruangan itu sedang ada tiga orang keluarga kita. Kami harus bergantian. Aku resah melihat orang harus memakai pakaian khusus untuk masuk. Begitu khususkah ruangan ini?

Saat memasuki ruangan itu, di sebelah kiriku, seorang pasien tampak sangat parah. Laki-laki tua dengan selang di mana-mana setiap bagian tubuhnya. Lalu, dibatasi dengan tirai kain, di sebelahnya, kau tampak terbaring. Dan, aku menangis. Benarkah itu kau, Ni? Tak kukenali lagi wajahmu. Selang-selang pun telah meraja di setiap tubuh dan wajahmu. Ibu sedang mengelus-elus kakimu. Aku? Aku hanya terpaku. Bagaimana mungkin kau bisa seperti ini? Diam disakiti selang-selang itu.

Ruang HiCare—kata mereka menyebut tempat kau dirawat. Seharusnya, kau dirawat di ruang ICU. Tapi, ruang itu penuh hingga kau tidak bisa mendapatkan perawatan yang sewajarnya. Aku tidak tahu. Kata seorang temanku, saat saudaranya dirawat, mereka juga bilang ruang ICU penuh. Entah siapa yang telah mem-booking tempat itu. Atau, entah siapa yang berani membayar tinggi untuk berada di tempat itu. Kami—yang hanya orang biasa—tidak bisa ke sana.

Aku masih percaya kau akan sembuh. Dan, aku jadi benci pada Ni Nur yang selalu menangis. Seharusnya, dia jadi pegangan keluarga kami. Jadi dokter yang selalu memberikan senyum dan meyakinkan kami akan selalu ada harapan. Tapi, Ni Nur malah selalu menyeka ujung matanya.

Namun, semua jadi berubah. Di ujung lorong rumah sakit itu, Ni Nur menceritakan segalanya. Aku hanya bisa menangis. Tapi, aku masih percaya kekuatan doa. Kau akan sembuh. Belum saatnya kau pergi, Ni. Namun, entah kenapa, kanker yang telah mengerogoti otakmu itu menggangguku dan tidak membiarkan aku dapat berdoa dengan khusyuk.

Kanker otak. Katanya, dokter baru menemukan virus itu menjalari otakmu. Begitu cepatnya. Begitu cerobohnya. Sebelumnya, hasil CT-scan dari rumah sakit internasional yang ada dekat stasiun teve swasta di Kebon Jeruk itu dinyatakan normal. Tidak ada apa-apa.

Namun, nyatanya, hasil itu dapat berubah dengan cepat—dengan waktu singkat, hasil diganosis yang—katanya—normal itu menyatakan informasi lain, dan para dokter itu baru menemukannya. Ada sesuatu yang telah menggerogoti otakmu. Menjalar dari pinggang, lalu ke otakmu. Ah, pantas saja kau katakan kepalamu begitu sakit. Dan, dengan baik hatinya, suster di rumah sakit yang sebelumnya memberikanmu Panadol, obat berlogo biru itu. Namun, aku tetap percaya kau akan sembuh. Toh, baru saja semua diagnosis itu dapat berubah-ubah, bukan? Bahkan, dalam waktu singkat pula.

Saat itu, aku dan Gita sedang makan malam di seberang rumah sakit. Nasi goreng itu masih tinggal setengah saat ponselku dihubungi. “Wid, cepetan ke sini. Ni Ros gawat.” Dan, seperti dalam film-film, aku dan sahabatku itu berlari. Meninggalkan sendok nasi goreng yang hampir masuk ke mulut.

Di ruangan itu, seluruh anggota keluarga diminta berkumpul. Segala alat kejut telah mampir ke dadamu. Bahkan, denyut jantungmu nol. Saat itu, tidak ada dokter yang muncul. Dari curi dengar telepon sang Suster, sang Dokter bilang, bukan dia yang sedang jaga, jadi dia menolak untuk datang. Dan, saat itu, Ni, napasmu sedang berkejaran dengan nyawamu. Dan, dokter itu bilang, dia tak bisa datang karena bukan giliran jaganya—ah, tidak adakah dalam “kode etik” mereka untuk hanya “sekadar” menolong sesama yang sedang membutuhkan?

Hanya seorang dokter koas yang ada. Kak Koas—begitu panggilan suster di sana kepadanya—yang bahkan tidak begitu mengerti letak alat pompa pernapasan dengan benar. Ni Nur sempat membetulkan cara dia memegang alat itu. Masa kritis—yang telah diwarnai doa dan tangis—itu memang lewat. Namun, kau terpaksa memakai alat pompa pernapasan manual. Aku dan dokter koas itu memfungsikan alat itu sampai pagi—butuh satu orang untuk meletakkan corongnya di mulutmu dan satu lagi untuk memompa pompa—napas buatan itu—untukmu. Suster yang sebelumnya memegangi alat itu merasa tangannya pegal. Tentu saja, ia meminta keluarga pasien yang menggantikan. Memang sangat manual untuk mempertahankan detak jantung dan tekanan darahmu. Ah, semua ini gara-gara ruang ICU tidak pernah kosong!

Aku dan dokter koas itu sempat bercakap—mengisi jeda yang kosong di antara malam itu—ternyata, dia baru masuk kuliah di universitas swasta pada tahun 2000—hanya beda setahun saat aku, yang masih fresh graduate ini—masuk kuliah di Fakultas Sastra. Dan, katanya, dia baru saja koas di bagian penyakit dalam. Kepadanya nyawamu dipertaruhkan dalam masa kritis tadi—anak angkatan 2000 yang baru saja koas itu. Baru saja.

Malam itu, sang dokter sempat mampir—dengan lenggang yang begitu biasa. Dia tak tahu bahwa kita baru saja melewati saat-saat yang kupikir hanya ada dalam adegan di film-film. Dia melihat-lihat sejenak, lalu malah menanyakan riwayat penyakitmu. Bukankah itu ada dalam catatan yang selalu diperbaharui setiap pagi-sore oleh dokter dan suster yang bertugas. Lalu, kenapa dia malah bertanya kepada keluarga pasien yang bahkan sulit mengingat apa yang barusan terjadi?

Esoknya, ruang ICU dinyatakan ada yang kosong. Kau dipindahkan ke ruang ICU. Sore hari. Lagi-lagi, adegan dalam film kami lakukan. Kau dibawa dengan dengan brankar yang didorong gerakan cepat—berlari, tepatnya. Alat pompa pernapasan tetap harus dipompa dalam keadaan berlari itu. Betapa sulitnya adegan ini karena kita tidak tahu kapan “Sutradara” mengatakan “Cut!” dan aku berdoa jangan sampai “Dia” mengucapkan itu. Dan, berapa berisikonya alat itu terlepas karena arah yang berbelok-belok.

Sampai juga kita ke ruang ICU. Alat bantu pernapasan otomatis ada di situ—tidak perlu empat tangan untuk memeganginya (untunglah). Tak lama, alat itu telah terpasang dengan baik. Namun, hal itu memperburuk penampilanmu. Mulutmu seperti tercabik karena alat itu. Bahkan, saat melihatmu, Puput, putri kecilmu yang rambut panjangnya selalu kau sisiri itu, langsung menangis di ruang tunggu. Pelukan ayahnya tak dapat meredakan tangis itu. Malah, hal itu ikut melarutkan tangis sang Ayah.

Wajahmu tampak begitu kesakitan dengan alat-alat itu. Namun, keajaiban itu datang. Esoknya, kondisimu pulih. Wajahmu tampak segar. Darah mengalir di pipimu. “Uni sudah baikan,” aku mengabarkan pada kakak pertama kita, yang sedang berada di rumahnya, lewat ponsel. “Alhamdulillah,” jawabnya—kemarin, kakak laki-laki kita itu baru saja datang dan sangat jelas, air mata itu menggantung di matanya. Aku pun ikut mengucap syukur. Namun, tak beberapa lama kemudian, ternyata, aku terpaksa memberi kabar lagi.

Kejadian itu begitu cepat. Aku baru saja selesai membacakan Surah Yasin saat saudara laki-laki kita yang nomor 9 menyuruh aku dan Gita menebus obat ke apotek di seberang. Lalu, seorang kakak laki-laki kita datang dan menyuruhku segera kembali. Kami berlari. Obat telah berhasil kudapat.

Aku masuk ruangan dan segera menyerahkan obat yang barusan kutebus. “Pasien gawat,” bisik-bisik para dokter yang telah berkumpul di dekatmu, Ni. Tekanan darah turun. Detak jantung melemah. Padahal, alat otomatis membantumu. Tidak ada tangan-tangan yang pegal memegangi pompa napas buatan. Dan, mereka—para dokter itu—telah berdiskusi sejak tadi. Aku tidak tahu, ternyata, mereka telah memperkirakan kepergianmu, Ni. Obat yang kubawa masih ada dalam plastiknya. Dan, jantungmu telah berhenti berdetak…. Alat-alat itu tak lagi menangkap kehadiran segala detak. Waktu pun berhenti untukmu. Benar-benar berhenti.

“Uni sudah pergi,” ucapku lewat telepon genggam pada kakak tertua kita itu. Padahal, baru saja aku kabarkan ia tentang wajah Uni yang dialiri darah. “Sabar, sabarlah ...,” kata kakak kita itu dari jauh.

Aku mencari bahu untuk dipeluk. Dan, aku menemukan Ibu.

“Sudahlah, Nak…,” kata Ibu. “Lihatlah, Amak. Amak sudah sering dilamun ombak. Tapi, Amak tetap bertahan. Sudahlah….”

Hanya itu kata-kata Ibu. Tangisnya juga pecah. Namun, dia mencoba tetap membuatku kuat. Amak memang kuat. Tiga buah hatinya telah pergi dengan cara yang meminta air mata untuk tumpah.

Belum lagi, kepergian Bapak… dan banyak lagi kepergian yang telah disaksikan Amak. Dan, sekarang, Amak tetap berdiri dengan tangan yang mendingin. Dinding menyangga tubuhnya yang merapuh. Air matanya tak tampak. Entah pada kepergian yang mana air matanya itu habis.

Di luar, tangis Puput seakan-akan menembus sampai ke ruang tempat kau tutup matamu, Ni. Dan, aku tak bisa membayangkan wajah bingung Cipa—yang saat itu sedang senang-senangnya bernyanyi “Citak-Citak Dindinding” sesuai lafal lidahnya—saat tak menemukanmu lagi di pagi hari saat dia terjaga. Dan, aku tak bisa membayangkan reaksi Riyan yang saat ini masih berada di sekolahnya.

“Pukul 14.05,” kata dokter, “saya nyatakan pasien meninggal dunia,” lanjutnya.

Ah, seadainya dapat memilih, aku tidak mau jadi tokoh dalam cerita ini.

Ini terlalu sedih untuk menjadi akhir cerita.

Dan, lanjutan cerita masih juga cerita sedih….

Tuhan, maaf jika aku juga ceritakan kisah ini dalam cerita sedih. Maafkan aku saat ini. Aku tidak bisa berdiri dari sudut yang berbeda dan melihat kisah ini dalam warna yang berbeda. Bukan hanya hitam dan abu-abu. Maafkan aku saat ini.

—tapi, aku tahu ada yang Kau sembunyikan dari kisah ini—


gambar di sini!

Thursday, May 28, 2009

mewarna



"aku kehilangan warna," katanya.

sementara, gegas orang-orang semakin jauh. dan mereka mewarna. dalam gegas sendiri.

Monday, May 04, 2009

Di Stasiun

"Temui aku di stasiun kereta pagi ini," katanya.

Pagi masih jauh. Perempuan itu telah bergegas. Dalam perjalanan itu, ia sibuk merangkai mimpinya. Mimpi yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Seseorang memintanya datang ke stasiun kereta. Seorang laki-laki. Entah siapa. Wajah dalam mimpi itu buram. Seperti halnya mimpi-mimpi lain yang pernah ia alami dalam tidur-tidurnya–sepanjang malam sebelum mimpi kali ini. Buram. Tak berwarna. Tak berujung. Bahkan, kadang tanpa awal. Dan, entah terjadi di kota mana.

Hanya mimpi, pikir perempuan itu. Awalnya. Namun, malam-malam selanjutnya ia bermimpi hal yang sama. Persis. Mimpi yang ada akhirnya. Berakhir pada saaat yang sama. Pada ucapan laki-laki itu, "Temui aku di stasiun kereta pagi ini". Ucapan yang sama. Ucapan yang begitu jelas hanya untuk sekadar mimpi.

Perempuan itu bergegas ke stasiun kereta. Pagi masih jauh. Namun, perempuan itu tidak ingin pagi mendahuluinya. Ia yang akan menunggu.

Kereta pertama pagi itu datang. Perempuan itu telah di sana. Ada yang memintanya menunggu di stasiun kereta.

Kereta menghentikan deritnya.

Perempuan itu menunggu. Wajah laki-laki dalam mimpinya itu tak jelas. Buram. Tetapi, perempuan itu akan mengenali laki-laki itu. Ia tahu. Entah karena apa. Perasaan perempuan itu begitu yakin. Ia akan tahu begitu melihat laki-laki itu. Mungkin mereka telah bersama saat kehidupan belum tercipta. Ia akan mengenali laki-laki itu. Ia tahu.

Orang-orang dari dalam kereta bersirebut turun.

Napas perempuan itu memburu.

Thursday, April 30, 2009

ketika jarak menjadi samar, tak lagi terbaca



ya,
aku masih ingin berjalan bersama-Mu
jangan lepaskan genggaman tangan-Mu, kumohon

jangan biarkan aku mengabutkan waktu, mengaburkan arah-Mu
aku masih ingin menuju-Mu. selalu.


the picture!

Wednesday, April 22, 2009

Nasib Mereka di Ragunan





orang-orang datang ke kebun binatang itu, termasuk saya, gita, dan dua orang keponakan saya.

mencari kandang beruang pun penuh perjuangan. petunjuk arah di tempat itu benar-benar menyesatkan--apalagi, bagi saya yang buta arah.

setelah putar sana sini di tempat wisata yang cukup luas itu, beruang itu pun kami temukan, menyambut kami. jauh dari kesan "lucu" yang harusnya menjadi konsep umum untuk beruang--apalagi buat beruang madu.

"kasian banget beruangnya," celetuk lirih ponakan saya yang berumur lima tahun. saya menghela napas panjang.

yah, mungkin memang itulah risiko wisata murah.
tapi.... ah, memang kasian sekali nasib mereka.

Tuesday, April 14, 2009

Suatu Malam di Margonda

Sudah lama saya tidak mencuri dengar percakapan orang. Beberapa hari sebelum ini, di kios kebab di pinggir Jalan Margonda, saya—saat itu lagi nunggu sendirian—menangkap percakapan yang menurut saya menarik. Percakapan antara mas-mas penjual kebab dan seorang pengamen (tampaknya, kedua orang itu sudah saling kenal).

Awalnya, saya pikir, dia mau ngamen di depan saya dan dua orang pembeli lainnya. Namun, dia malah menaruh gitarnya dan mengambil kursi plastik. Nggak lama, si mas-mas tukang kebab mau menukar uang ribuan pada si pengamen.

“Tuker duit, dong,” kata si tukang kebab ke si pengamen.

Si pengamen berdiri dan mengeluarkan uang ribuannya. "Tau dah, cukup apa kagak," katanya dengan logat yang terdengar pas banget dengan lidahnya.

Dia mulai menghitung uang ribuannya di samping gerobak kebab itu, yang menghadap melintang dengan jalan. "Satu, dua, tiga ...." Dia menghitung uang itu dengan tangan kanannya, dengan mulut berkomat-kamit.

Saya melirik ke tangan si pengamen yang ada di depan saya itu, penasaran berapa uang yang dia dapat dan ikut menghitung juga dalam hati.

"Genepin aja," kata si mas-mas kebab sambil memasukkan sebungkus kebab ke dalam plastik—pesanan dua orang yang di sebelah saya.

Dia berhenti menghitung, saya juga. "Yah, cuma lima belas rebu," katanya sambil menyisakan beberapa lembar di tangan kiri. Mungkin, dua atau tiga ribu.

Setelah acara tukar-menukar, dia duduk di bangku plastik di sebelah kiri saya. Dua orang yang tadinya duduk di sebelah kanan saya sudah beranjak pergi. Pesanan kebab mereka sudah selesai.

Pesanan saya, tiga buah, baru mulai dibuat. Bakal makan waktu cukup lama nih, pikir saya dan mulai gelisah karena jalanan mulai sepi.

"Iya, sih, ngamen emang lebih gede dapetnya daripada kerja di pabrik," kata si tukang kebab. "Tapi, apa lo mau kayak gitu terus?"

“Iye, sih.” Si pengamen hanya senyum-senyum sambil mengambil minuman gelas dalam boks biru minuman dekat gerobak kebab.

“Kerja jadi SPG di Detos aja sebulan cuma dapet 800 rebu. Mending kalo rumahnya deket. Nah, kalo jauh, abis diongkos doang mah,” kata si pengamen lagi.

“Lo di mana tinggalnya?” tanya si tukang kebab.

“Noh, di Kober,” sahut si pengemen yang pake anting-anting di telinga sebelah kanannya itu, menyebutkan jalan yang tidak jauh dari kosan saya. “Selama ngamen, baru motor atu hasilnya,” lanjut si pengamen itu lagi.

“Motor apaan?” tanya tukang kebab. Saya semakin memasang kuping.

“RX King, taun 2004. Berapa, yak, lima belas juta,” sahut si pengamen.

Saya melongo. Hah? Lima belas juta? Itu hasil ngamen? Saya bertanya-tanya sendiri dalam hati.

“Berapa taun, eh berapa lama, tuh bisa dapet segitu?” Meskipun dia berusaha menyembunyikannya, jelas dalam suara si tukang kebab itu juga tersirat nada takjub atau lebih tepatnya, tak percaya.

“Berapa, yak? Ada kali dua taun,” jawab si pengamen. “Lebih kayaknya.”

“Tunai?” tanya si tukang kebab. Dia seakan-akan bisa membaca pikiran saya. Saya juga masih bertanya-tanya tentang uang lima belas juta itu.

“Iyak, kagak sanggup kalo kredit,” katanya.

Saya langsung membayangkan uang lima belas juta milik pengamen itu—dengan rasa iri. Hehe. Wow! Saya, bekerja hampir tiga tahun, bisa nabung berapa, ya? Wuahh…, nabung baju-baju doang di lemari. ;p Bisa beli apa, ya? Duh, nggak ada yang nilainya sampe lima belas jutaan tuh. Hebat juga dia bisa nabung segitu. Tapi, itu hasil ngamen semua? Pikiran-pikiran curiga mulai memenuhi benak saya.

“Oh…,” gumam si tukang kebab. “Iya, sih, gue juga mikir kayak lo dulu. Tapi, setelah gue kerja di sini, gue bisa nabung,” katanya sambil sibuk mengambil sayuran di ember di belakangnya, lalu memotong-motongnya cepat. Tampaknya, dia juga tak percaya akan hasil yang didapat si pengamen, tapi dia tidak mau berpikir bahwa pekerjaan jadi pengamen mengalahkan usaha yang dibangunnya. “Gue udah bisa buka usaha juga di daerah gue, Surabaya. Usaha kayak gini juga,” jelasnya sambil memotong daging untuk kebab pesanan saya dari pemanas daging.

Si pengamen cuma mengagguk-angguk. Entahlah, menurut saya, dia tidak berminat beralih profesi.

“Percaya nggak lo kalo dua tahun usaha ini bisa bikin rumah?” tanya si tukang kebab.

“Percaya,” sahut si pengamen cepat.

Saya pun langsung mengiyakan dalam hati.

Tampaknya, ketika mengajukan pertanyaan itu, si tukang kebab ingin mematrikan dalam dirinya dan juga dalam diri si pengamen bahwa bagaimanapun, usaha lebih baik daripada ngamen.

“Iye, di Margonda, apa aja mah laku.” Si pengamen memberi alasan.

“Nggak juga,” sanggah si tukang kebab. “Tuh, ayam bakar di sebelah mau tutup, bangkrut,” lanjutnya sambil menunjuk sekilas ke kios di belakangnya. Lalu, sibuk lagi membakar pesanan saya.

Saya ikut melihat ke arah tunjuk si tukang kebab sambil berguman, “Ooh….” dalam hati.

“Eh, ajarin main gitar, dong,” kata tukang kebab, mengalihkan obrolan. “Lo jago, kan, maennya.”

Si pengamen hanya tergelak, tampak tak percaya diri. “Yah, begitu aja, mah. Yang suaranya bagus mah cuman si Aris”—kayaknya dia nyebutin Aris yang menang Indonesian Idol itu.

“Kalo gue mah sukanya cuma ama grup Netral,” kata si mas-mas kebab, tidak melanjutkan obrolan tentang si Aris. Yah, padahal, saya pengen tahu gosip tentang Aris yang meninggalkan istrinya setelah dia jadi terkenal.

“Pasha juga,” kata si pengamen. “Dia mah bagusnya waktu ada Enda doang.”
Saya kurang menyimak. Dia ngomongin grup Ungu, ya?

“Dua tahun lalu, Pasha masih di Blok M tuh dia,” sambung si pengamen. Saya kurang menyimak obrolannya. Maksudnya, Pasha Ungu dulu ngamen juga, ya? Masa, sih?

Obrolan semakin hangat, nih. Tapi, kayaknya, kebab pesanan saya juga udah hampir siap.
“Yang deket sini lagi tuh gitarisnya Bunga,” kata si pengamen.

Si tukang kebab tidak merespons, tampaknya dia kurang familier dengan nama band yang dulu—kalo nggak salah—populer dengan lagu, /Kaasih, jangan kau pergi…/ na na na na na na…/

“Itu, yang dulu, yang sebelum anaknya Iwan Fals meninggal,” lanjut si pengamen. “Galang Rambu Anarki.”

“Oh, itu, yang anak Iwan Fals,” ulang si tukang kebab menyebutkan nama salah satu penyanyi favorit saya itu. “Siapa namanya?” tanyanya. Kayaknya, dia nggak denger kalo tadi si pengamen udah nyebutin nama anak Bang Iwan itu.

“Galang Rambu Anarki,” ulang si pengamen.

“Iye, si Galang itu.” Si pengamen menegaskan. “Dah meninggal, kan, ya?” Tukang kebab itu sudah membungkus kebab pesanan saya dengan kertas roti—bungkusan pertama.

“Iya, OD,” sahut si pengamen, merasa bangga dia tahu informasi itu.
“Eh, dia meninggalnya di daerah gue tuh, di Surabaya,” kata si tukang kebab. “Beneran deket rumah gue.” Tiba-tiba saja, si tukang kebab tahu sekali tentang peristiwa itu. Saya kurang tahu juga, Galang meninggal di mana, ya?

“Noh, Iwan Fals mau nyalonin diri jadi presiden,” celetuk si pengamen. Dia tertawa tertahan. “Gimana mau ngejaga negara, ngejaga anak aja kagak bisa,” lanjutnya.
Eh, dia ngomongin penyanyi favorit saya itu, ya? Ah, itu kan, masa lalu, Mas… hehe. 

Si tukang kebab juga tidak menanggapi. Dia sibuk memasukkan kebab saya ke dalam bungkus khas-nya, kertas keras berbentuk persegi panjang agak mengerucut, berwarna kuning dengan tutup flip lipat yang ujungnya bisa diselipkan—hehe, deskripsi saya nggak bisa dibayangkan, ya? ;p

Saya berdiri, memberikan uang lima puluh ribuan pada si tukang kebab.
Si penjual kebab memberikan kantung plastik berisi tiga bungkus kebab, kemudian mengembalikan uang saya tujuh belas ribu rupiah.

Saya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan kedua orang itu. Entah apa lagi yang mereka percakapan. Mungkin tentang Pasha Ungu tadi. Hehehe. Beneran dulu dia ngamen di Blok M?

Wednesday, April 08, 2009

Carano

sumber foto: koleksi pribadi


Carano adalah syarat meminang, kata Amak sambil mengalati isi carano itu. Sirih lengkap dengan kapur, gambir, pinang, dan juga tembakau. Kata Amak, dalam rasa sirih yang pahit dan manis, ada simbol harapan dan kearifan manusia menyikapi kekurangannya. Arai pinang berwarna kuning jernih pagi melingkari sekeliling bagian dalam carano yang terbuat dari kuningan itu. Menjaga harapan dan kearifan. Dalamak, kain dengan motif warna merah, kuning, hitam, serta kilapan benang emas dan cermin-cermin kecil—yang membawa warna kebahagiaan yang sakral—menutupi carano yang telah lengkap.

Sunday, March 08, 2009

SAYEMBARA KUCING MELULU & CERITA CINTA (ME)LULU: Antara Kamu, Gebetan, dan Peliharaan



Punya cerita menarik tentang kamu, gebetan, dan hewan peliharaan?
Segera tuliskan cerita menarik yang pernah kamu alami itu!
Rebut hadiah untuk 15 cerita paling menarik dan terfavorit.

>> Lima (5) cerita paling menarik akan mendapatkan @Paket Buku Senilai RP150.000 + satu buah kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

>> Sepuluh (10) cerita favorit akan mendapatkan @kaus keren Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu + tas keren GagasMedia.




Syarat Lomba:
* Cerita orisinal (asli), bukan jiplakan.
* Boleh ditik/ditulis tangan (dengan huruf yang dapat dibaca dengan jelas).
* Jumlah halaman tidak dibatasi.
* Menyertakan struk pembelian (asli dari toko buku/tidak boleh fotokopi) novel Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, karya Widya Octavia (GagasMedia, 2009).
* Naskah ditunggu selambat-lambatnya pada 30 Mei 2009 (cap pos).
* Tuliskan biodatamu plus alamat lengkap (+ nomor telepon yang dapat dihubungi) dan masukkan ke dalam amplop tertutup, beserta CD-nya, ya.
* Tuliskan “Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu” di pojok kiri amplop.

Kirimkan ke:
Redaksi GagasMedia
Jalan H. Montong No. 57, Ciganjur, Jagakarsa
Jakarta Selatan, 12630

Pemenang akan diumumkan pada 15 Juni 2009
di http://www.gagasmedia.net/


So, ayo rebut hadiahnya!
Sstt! Mana tau, ceritamu juga bisa jadi calon novelmu sendiri. (^_^)
Tunggu apa lagi? Segera tuliskan ceritamu itu!

hari tidak lagi menyenja



“hati-hati dengan keinginanmu,” kata seorang teman. jamuan perkenalan sore itu penuh gelak tawa, seakan-akan kami sahabat lama. 
 
tapi, mungkin juga karena dia telah menjelma keinginan, mewujud cinta. ah, terbaca jelas bahagia di matanya.
“hati-hati dengan keinginanmu karena suatu saat keinginan itu akan terwujud.”
percakapan pada pertemuan pertama itu berisi lembaran-lembaran cerita lama. menyenangkan memang jika kita membuka lembaran pada kisah yang sama.
aku teringat kau,
teringat pada percakapan di bawah hujan, di antara langit yang menyenja. percakapan yang kehilangan tawa.
kata-kata seorang teman itu terus saja menggema.
dan, percakapan kita itu pun seakan-akan menguar di udara. 
 
“ya, aku akan belajar hati-hati dengan keinginanku.”

margonda raya, 7 maret 2009


Friday, February 27, 2009

Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu

mungkin, kisah kita dan LULU sama,

mungkin, harapan kita dan LULU sama

mungkin, peliharaan kita dan LULU sama

mungkin, yang PERLU kita baca sama

hehe, ini novel remaja yang saya tulis ^_^

beli, ya. hehe.





sekilas yang LULU rasa ;)

Bodoh! Kenapa aku ngaku-ngaku miara kucing persia di depan Gilang yang cute itu, sih? Tapi, mana aku nyangka kalau dia beneran mau liat “kucing persia imajiner”-ku itu. Arrrhgh… aku bingung. Seumur hidup, aku belum pernah miara kucing, apalagi kucing persia!

Trus, aku harus gimana? Aku enggak mau Gilang ilfil gara-gara tau aku boong. Tapi, aku harus beli kucing persia di mana? Mana mahal lagi, belum lagi ngerawatnya. Di kosan pula. Gimana cara mandiinnya? Bersihin eeknya? Arggghhh! Tapi, aku HARUS miara kucing persia!

Reya dan Nino nganggap aku berlebihan. Nino malah bilang aku terobesi sama Gilang. Dih, cowok tau apa tentang cewek yang lagi jatuh cinta? Tapi, aku juga enggak tau apa-apa tentang kucing persia!


(penerbit: GagasMedia)

lalu

lalu, samar
sebelum gelap

aku tak ingin di sini terlalu lama

Februari Lagi (Surat Keempat)


Maaf, surat kali ini terlambat. Semoga tetap sampai, menggenapi tiga suratku sebelumnya. Ya, tahun keempat. Tanpa terasa.

Kali ini, musim masih tidak jelas. Hujan datang tiba-tiba, setelah panas yang begitu menyengat—hingga kepala seolah-olah menyimpan panas yang melama. Ah, maaf, aku bercerita tentang cuaca, bukan karena tidak ada percakapan, hanya ingin menceritakan seperti apa bulan kelahiranmu—kelahiranku?

Oh, ya, aku belum sempat ceritakan yang ini. Sebuah foto kecilku yang kutemukan setahun lalu—ya, setahun lalu aku mengunjungi rumah masa kecil kita, yang semakin tua. Tapi, baunya masih sama. Bau masa lalu, masa kecil kita yang tak terlalu banyak, mungkin hanya ada di salah satu sudutnya. Andai kau ada di sana, aku pasti betah berlama-lama, minta kau antar sana sini, minta (menyuruh) kau belikan ini itu.

Ah, aku melantur. Aku ingin bercerita tentang foto itu. Dalam foto itu, aku mungkin berusia dua tahun, dengan rambut keriwil yang dipotong pendek, dan pipi yang—uh!—tentu saja tembam. Kau pasti belum pernah melihat foto kecilku, ya?

Foto itu kutemukan saat aku sedang menyelamatkan foto keluarga kita yang melama. Kau ingat, kan, lemari kayu yang ada di ruang tengah itu. Foto keluarga kita ada di laci kaca, di sebelah kiri. Semakin tidak terawat—seperti rumah masa kecil kita juga, yang ditinggal semua (13) tangisan yang dulu diredam tembok-temboknya. Ah, rumah itu semakin sepi—kau pasti tahu bagaimana rasanya (semoga tidak kau rasakan di sana).

Tapi, kau jangan marah, ya, kalau aku ceritakan apa yang ada di foto itu. Aku juga tidak tau yang mana yang benar. Jadi…, di belakang foto itu, dituliskan namaku dan tanggal lahirnya. Setelah bulan ini, pada angka ke-11. Masih angka kembar juga, meski bukan 22. Yup! Bukan yang selama ini selalu kutuliskan dalam formulir-formulir buat masuk sekolah itu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa salah. Kalau hari lahirmu pasti benar—hari lahirmu tercatat di tembok rumah kita, aku juga ingat itu.

Jadi, kita tidak lahir di musim yang sama ternyata. Seperti itu yang tertulis. Dan, itu baru kuketahui setelah hampir 26 tahun kemudian. Selama ini, aku mengingat kelahiranku sebulan lebih awal. Jadi, ya, begitu. Aku menabung 26 bulan, ya berarti. Hehe.

Hei, tenang saja. Aku masih percaya, kok, kita dilahirkan pada musim yang sama. Aku juga suka musim penghujan ini—yang kata orang musim cinta.

Bicara tentang cinta, mungkin sebenarnya ada yang mau kuceritakan. Tapi, ah, entahlah, terlalu rumit. Tidak apa-apa, kan, kalau tidak kuceritakan?

Apa kabarmu?—belum sempat kutanyakan. Kabarku, semakin payah. Semakin perlu lama berpikir ketika masuk pintu dorong/tarik yang tidak ada tulisan “dorong” atau “tarik”-nya. Semakin perlu diam dalam beberapa jeda untuk menentukan pintu itu didorong atau ditarik. Padahal, kalau saja aku memilih salah satu dengan cepat, toh, kalau salah, aku tidak akan dipenjara ataupun mati saat itu juga.

Itu juga terjadi di tempat kerjaku dulu—dua tahun yang lalu. Saat makan siang, aku tidak mau berjalan di depan. Aku takut harus jadi orang yang membuka pintu ruang makan itu—pintu dorong/tarik—yang tidak ada tulisan dorong/tarik-nya.

Sampai hari terakhir aku di sana, itu pun masih terjadi—yang berarti, hampir satu tahun aku melihat orang membuka pintu itu—entahlah, aku lupa, didorong atau ditarik. Entah kenapa, hal ini sering kualami.

Dan, sekarang, semakin parah. Aku butuh waktu lama untuk berdiri di depan pintu semacam itu. Dorong atau tarik. Hanya dua pilihan. Hanya dua kata yang sederhana. Dan, aku terjebak sangat lama di sana. Ah, kakakmu ini semakin payah, bukan?
Haa, harusnya ini tidak kuceritakan padamu. Sudahlah, lupakan saja.

Ah, ya, kau tahu, dalam empat tahun ini, kita sudah punya (wow!) lima orang keponakan lagi. Semakin banyak. Mereka lucu-lucu, kau pasti senang menggendong mereka. Tangis dan tawa mereka semakin memenuhi ruang-ruang. Membawa bahagia. Sayangnya, mereka tidak sempat mengenalmu....

Apa kabarmu di sana?
Malam selalu dingin di sini. Di sana? Semoga doa-doa yang membubung menjelma menjadi selimutmu, semoga dapat menghangatkanmu. Maaf jika doa terkadang diucapkan terlalu cepat. Apa mungkin karena waktu terlalu cepat berdetak juga—entahlah.

Apa kabarmu di sana?

Kami di sini rindu.


p.s.

oh, ya, novelku sudah terbit, cerita cinta remaja. ada namamu kusebut di sana. aku bisa membayangkan tawamu saat membacanya. dan pasti kau tidak akan sampai habis membacanya. minat bacamu memang payah. Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)Lulu, itu judulnya.

Saturday, January 17, 2009

yogyakarta, suatu hari





@23--27 desember 2008

"dan, doa-doa menjelma, bukan?
semoga tahun-tahun tidak lagi seperti hujan
jatuh, lalu menghilang ke muara."

di parangtritis

laut masih seperti biasa, kata mereka
bersiteru dengan tepiannya
entah siapa yang akan kalah

di parangtritis
seorang perempuan menjajakan masa lalu
bersiteru dengan hatinya
entah siapa yang akan menyerah















@parangtritis, yogyakarta, 27 desember 2008

Sunday, January 04, 2009

hujan kali ini




hujan mengaburkan langkah-langkah
mengaburkan suara-suara
membunuh bayang-bayang
tapi, mungkin tidak menghayutkan doa-doa


jika suaramu tak kudengar,
maukah kau meraih lenganku?
atau bahkan, menghadang langkahku?
mungkin, langkahku terlalu riuh menikmati hujan, menghitung rimisnya
mungkin, aku akan terlalu lama berada dalam langkah ini
bersama rintik ini
hingga tiba-tiba saja mungkin akan sudah terlalu jauh. sangat

jika suaramu tak kudengar,
maukah kau meraih lenganku?
atau bahkan, menghadang langkahku?
kau tahu, aku akan sangat menyesal tidak mendengar suaramu
aku ingin tahu apa yang kau akan katakan. aku selalu ingin tahu
kau-aku tahu, bukan hujan ini yang aku tunggu


jika suaramu tak kudengar,
maukah kau meraih lenganku?
atau bahkan, menghadang langkahku?

hujan mengaburkan langkah-langkah
mengaburkan suara-suara
membunuh bayang-bayang
tapi, tidak menghayutkan doa-doa, bukan?

curiosity killed the cat?





entahlah.

Monday, December 22, 2008

Maafkan Saya. Lagi.




akhir-akhir ini--ah, bukan, sudah jauh sejak sebelumnya--saya mengizinkan diri saya menyakitinya. bahkan, mungkin, sehelai demi sehelai, kebencian--bukan lagi kekesalan--itu telah menumpuk. buat saya. memang sewajarnya saya dapatkan. lalu, saya bersiteru dengan ketakutan itu--ya, saya memang selalu takut untuk dibenci. naif.

lalu, saya mendapati diri saya yang telah menjelma wujud kebencian itu. saya semakin ketakutan. dan, saya bilang saya tidak menyadari. padahal, kali ini, jelas-jelas saya yang "mengizinkan" diri saya menyakitinya, membuatnya terluka. sampai pada ceruk yang tak saya ketahui lagi.

ah, saya benar-benar telah mengizinkan diri saya untuk membuatnya berkaca-kaca--bukan, bukan, saya membuatnya tak mampu lagi mengeluarkan air mata. malam-malam lalu sudah sejak lama diam-diam menghapus air matanya. hingga kering, tak bersisa lagi. betapa berdosanya saya.
saya memang benar-benar telah menjelma kebencian itu.

lalu, tiba-tiba saja, saya ingat seorang junior di tempat kami dahulu tinggal, sekitar empat atau lima tahun silam. entah kenapa, kami begitu kesal (mungkin juga sangat-sangat tidak suka, membenci) dirinya, seorang laki-laki kurus tinggi. saya masih ingat wajahnya yang lonjong. kulitnya yang kuning pagi.

awalnya, mungkin kami tidak membenci dia. hanya semacam tidak suka. entah karena apa. mungkin sikapnya, tingkahnya. lalu, bertambah lagi ketidaksukaan kami. logatnya, suaranya, bahkan derap langkahnya. kami tidak suka. lama-kelamaan, kami semakin tidak suka. dan, seiring waktu, semua itu berubah jadi rasa benci. kebencian. sebenarnya, semua itu memang tidak tiba-tiba, seiring waktu.

namun, itu tanpa kami--bahkan, laki-laki kurus itu--sadari.
yang kami tau, setiap bayang dia mengintip, hati kami panas, kebencian kami terbit. dia menjadi sungguh-sungguh mengancam mata. menjadi orang yang (selalu) tidak tepat dalam ruang. di sudut mana pun.

saya ingat laki-laki itu beberapa hari ini, saat saya berdiri di tepi jalan, saat saya menyeberang, bahkan saat saya akan menutup mata untuk tidur.
lalu, saya merasa ganjil ketika saya menjadi sering ingat untuk menelepon ibu saya, menanyakan kabarnya. ah, apakah saya takut? entahlah.

ah, saya sering kali terjebak pertanda. ingin selalu membacanya--sekadar iseng, pada mulanya.

dan, saya menjadi ketakutan untuk tiba-tiba ingat laki-laki dengan garis wajah melayu itu. ingat ketika kabar itu datang tiba-tiba saat kami makan malam--saya ingat kami meninggalkan makanan kami yang masih separuh. mengejar berita ke teras kantin dengan meja-meja kayu cantik itu. menyerbu. bahkan, ikut menitikkan air mata.
malam itu, magrib baru saja lewat, laki-laki itu--yang menjelma kebencian bagi kami--dijemput-Nya. dengan kereta yang melaju dengan begitu kencangnya. membelah malam yang belum begitu kelam. kabarnya, ia Pergi sehabis menanyakan kabar orangtuanya.

ah, dia meninggalkan ulah, kata orang-orang. biar dikenang.
dan ia berhasil. dia masih bersemayam di salah satu sudut--mungkin di ceruk yang tak akan pernah jauh--kepala saya, kepala kami.

dan, saya, tiba-tiba saja, akhir-akhir ini, saya ingat dia. di jalan raya. ketika memejamkan mata.

ya, saya takut.
saya telah mengizinkan diri saya membuat seseorang terluka. dengan ceruk yang begitu dalam.

saya takut menjelma kebencian. saya takut menjelma laki-laki itu. sementara, seseorang itu masih berdiri di sana, tak mampu lagi mengeluarkan air mata, tak mampu lagi menjahit hatinya seperti semula--bahkan mungkin memang tidak akan bisa lagi. mungkin tambalan bongkar pasang telah di sana sini, saya juga yang membuatnya. dan hanya maaf yang saya mampu kirim padanya. yang sebelumnya, telah dia terima, lalu saya ambil lagi, dengan paksa (itulah yang menyebabkan tambalan sana sini itu, semakin tidak berbentuk). maaf dan maaf hanya saya tebarkan. ke udara kosong.

kali ini, saya kirimkan lagi. maaf. untuk semua. untuk semua.

ah, saya takut. saya takut dia tidak memaafkan saya--lagi. padahal, saya begitu menyayangnya--juga telah begitu melukanya. ah, saya, saya begitu naif, tidak pernah ingin dibenci, ingin selalu dia ada. sementara saya melangkah dengan langkah saya. betapa egoisnya saya, manusia.

saya takut. saya takut menjelma laki-laki yang Pulang bersama kereta senja kemalaman itu. saya takut menjelma laki-laki itu saat seseorang inginkan hatinya membeku biar tidak terasa lagi luka itu.

dia meninggalkan ulah, kata orang-orang selama beberapa hari waktu itu.
ah, saya tidak ingin percaya pada pertanda.

dan, jika perjalanan ini masih jauh, temani saya lagi. agar semua tidak tanpa arti. saya mohon.
terlalu tinggikah harap saya?


--maafkan saya. lagi. untuk semua. kemarin, hari ini, dan esok. maafkan saya. lagi.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin