Penjual Kenangan

Thursday, October 07, 2010

me and anak tudung

hei, hei. sebenernya, saya ingin menuliskan cerita "my best friend's wedding". tapi, belum sempat. ;( kemarin baru satu paragraf. tapi, belum dilanjutkan lagi. sepertinya, saya butuh waktu semalaman, bahkan mungkin beberapa malam untuk menuliskan kisah kebersamaan kami (dalam artian benar-benar bersama, berdua ke mana-mana, dan disebut si kembar. :) dan sejak kami jadi teman sekamar sejak lulus kuliah, empat tahun lalu, kami menyebut diri kami "teman-dua-puluh-empat-jam"), selama, hmm, sekitar sembilan tahun, dan hampir sepuluh tahun... dan, butuh berparagraf-paragraf, dan beribu-ribu kata... ah, saya sangat ingin menuliskannya. tapi, belum sekarang. tapi, (pasti) akan saya tuliskan. ^_^




oh, ya, sekarang, saya lagi senang pake kerudungan dengan ciput arab/mesir. bikin anak rambut ga muncul di sana-sini. kata teman saya, enchit--yang lagi ada di singapura--di sana, dalaman ini disebut anak tudung--lucu sebutannya. :) saya juga tahu tentang anak tudung dari enchit. meski belum tahu bentuknya, kebayang anak tudung bakal nyaman dipakai, seperti yang enchit ceritakan. lalu, bersemangatlah saya untuk punya anak tudung.





awalnya, saya pengen nitip anak tudung sama temen saya itu--yang, psst, dari dulu jadi idola saya dan gita dalam cara pakai jilbab. :D. jadi, saya berharap-harap, enchit akan pulang ke Indonesia dengan membawa anak tudung. tapi, suatu hari, saya mengetahui bahwa ternyata anak tudung juga banyak dijual di sini (dan udah difilmin di kcb dan di-sinetron-in juga sama si marshanda). haha, saya ke mana aja si? ;p karena sore itu saya kesal dengan dalaman jilbab saya yang tak nyaman, langsunglah saya searching online lewat hp. dan menemukan toko online-nya. seneng banget--tapi, ternyata, di itc juga ada loh. hehe. akhirnya, lewat toko online itu, saya dan teman-teman sekantor beli barengan biar lebih murah harganya (kami beli sekodi. ;p).




hmm, senang nemu anak tudung ini. biasanya, rambut saya suka ke mana-mana kalau pake kerudungan. belum lagi kalau dalamannya salah. sore-sore, dalaman kerudungan udah ga tau ke mana. belum lagi kalau saya abis pakai helm saya yang fullface itu. kadang, pas buka helm, jilbabnya udah berantakan. haha.

dengan anak tudung, pake kerudungan jadi semakin nyaman. :)



Thursday, September 30, 2010

Monday, September 13, 2010

cipa mencari sanny ^_^

sebelum tidur



setiap lebaran, saya "mudik" ke slipi, rumah kakak perempuan saya--sekaligus rumah saya tumbuh besar. empat tahun belakangan ini, ada kebiasaan baru pada saat malam lebaran. saya akan menelepon keponakan saya, cipa, dan mengajaknya lebaran bersama di sana. dan, cipa akan datang diantar sang ayah. kakak perempuannya akan lebih memilih rumah kakak perempuan saya yang satu lagi karena di sana ada teman sebayanya, keponakan saya yang lain.




cipa lebih memilih bersama saya, juga karena ada kak ani yang kelas lima sd, tiga tahun lebih tua daripada dia. empat tahun ini, cipa dan kakaknya jarang berlebaran di rumahnya sendiri karena rumah itu terlalu sunyi kala lebaran, sejak sang ibu meninggalkan mereka, empat tahun lalu.

dua tahun pertama, cipa akan selalu terbangun malam-malam, lalu menangis minta pulang. dan, saya akan kalang kabut membujuknya untuk kembali tidur. namun, dua tahun belakangan ini, cipa sudah bisa "menginap" dan tidur dengan cukup nyenyak meski kadang masih terbangun malam-malam, sekadar minta minum atau mengingau.

lebaran kemarin, cipa sudah datang dengan tas berisi baju-bajunya. tas itu bukan lagi tas kain warna biru yang cipa banget--tas yang selalu menyertainya ketika almarhum ibunya mengajaknya jalan-jalan. tas itu suda diganti sekarang... lebih besar, dan lebih muat banyak, tentunya.

menjelang tidur, saya dan cipa mengobrol sambil tiduran...

"mau didongengin?" tanya saya.

"nggak, cipa maunya dibeliin buku cerita," sahutnya. sejak bisa baca, cipa juga selalu membaca apa pun petunjuk yang ada di jalan raya--sama seperti waktu kak ani-nya baru bisa baca dulu.

"cipa udah bisa baca yang kecil-kecil," lanjutnya, "eh, yang nggak terlalu kecil, deng." dia berkata sambil memainkan jemarinya.

setelah itu, kami melanjutkan obrolan tentang sekolah. saya mengingatkannya untuk jangan mau diajak pergi dengan orang yang tak dikenal, dan hal-hal semacam itu. karena sekolahnya dekat, cipa pergi dan pulang sekolah sendiri... dan, terkadang, mandi dan pakai baju sendiri... sementara itu, si kakak--putri--sampai kelas lima sd, bajunya selalu disediakan sang ibu. bahkan, rambutnya pun selalu disisiri... sekarang, cipa sudah bisa melakukannya sendiri. dan, dia selalu membanggakan hal itu.



"iya, temen cipa selalu dijemput mamanya kalau pulang sekolah. cipa mah bisa pulang sendiri," celotehnya dengan bangga, waktu ia masih duduk di bangku tk. ah, saya miris mendengarnya, meskipun sekolah tk-nya memang hanya selemparan batu di belakang rumah anak yang saat ini sudah berusia tujuh tahun itu.

terkadang, sedih melihatnya. dan, saya jadi berandai-andai. andai ibunya masih ada, pasti lebaran ini... pasti... pasti.... dan, banyak hal-hal bahagia yang terbayangkan. namun, semua tak mungkin terjadi... kakak perempuan saya yang jago masak itu telah pergi empat tahun lalu, meninggalkan dapur tak lagi terasa hangat... meninggalkan dinding-dinding rumah yang terasa dingin. meninggalkan anak-anak yang terkadang bilang, "andai mama masih ada...."

ah, sebenarnya, saya tak ingin menceritakan hal-hal menyedihkan itu, hanya ingin menceritakan celoteh cipa sebelum tidur.

"temen cipa di sekolah kan ada yang kayak cowok," ucapnya tiba-tiba.



"oh, ya, rambutnya pendek, ya?" sahut saya standar, apa lagi yang bisa mengidentikkan seorang perempuan dengan laki-laki versi anak sd?

"iya, iya, bener! terus apa lagi?" jawab cipa antusias sampai-sampai bangun dari tidurnya dan menghadap saya, mengira saya bisa meramal.

"oh...," saya menangkap jalan pikirannya dan ikut antusias.

"hmm... rambutnya pendek," ulang saya, mencari-cari ciri-ciri yang tepat lagi bagi anak perempuan yang mirip anak cowok.

"iya, rambutnya kayak gimana?" tanya cipa tak sabaran.

"rambutnya....," saya mengulur-ulur waktu.

"rambutnya kayak dora apa nggak?" tanya cipa lagi. saya terdiam sejenak. oh... "rambutnya kayak dora apa eng-gak?" tanya cipa memberi penekanan.

"hmm... iya, rambutnya agak-agak mirip dora gitu...," ucap saya sambil berusaha menahan tawa.

"iya, bener, rambutnya emang kayak dora, tapi agak panjang dikit belakangnya," ungkap cipa, merasa saya sudah bisa mengatakan tebakan yang benar. "terus, mukanya kayak gimana?" lanjutnya.

"mukanya..., ngg...," saya mengulur waktu lagi.

"mukanya kayak gimana? sebelah mukanya kayak gimana?" tanya cipa sambil membatasi sebelah mukanya dengan tangan, membongkar satu ciri-ciri lagi.

"hmm... mukanya... sebelahnya kayak ada apa gitu deh," ungkap saya pura-pura menebak, sambil pura-pura menerawang.

"iya, bener, sebelah mukanya kayak ada item-itemnya gitu," bongkar cipa.

hahaha. saya tak bisa berhenti menahan tawa. cipa-cipa, ngasih tebak-tebakan, kok dibongkar sendiri. dan, nggak sadar pula kalau dia sendiri malah yang ngasih clue. tepat pada sasaran.

"terus, dia gemuk apa kurus?" tebaknya lagi.

tapi, saya sudah tak bisa menahan tawa dan tak sempat mengulur waktu, "gemuk," jawab saya asal.

"salah, kurus," sahut cipa merasa menang. tapi saya, sudah nggak peduli, sibuk ketawa sampe sakit perut dan kemudian ketiduran karena kecapean.

pantaslah siang harinya kakak si ani sempat kesal karena cipa membongkar di mana letak kunci motor saya.

"nte wid, kunci motornya mana?" tanya si kakak ani dengan tampang polos.

"ada kok di tas," sahut saya, lalu sibuk kembali menyeruput sirop setelah salam-salaman. dan saya tak peduli karena yakin tadi saya menaruh kunci itu di tas.

"ante wid, kunci motornya mana?" cipa ikutan nimbrung.

"ada di tas," ulang saya.

"ada ga di tas?" tanya cipa lagi.

"ada," sahut saya lagi.

"ada ga?" desak cipa sambil senyum-senyum.



"eh," tatap saya curiga.

"kunci motornya ada ga di tas?" ulangnya lagi sambil tetap senyum-senyum.

dan, kecurigaan saya semakin tinggi. "kunci nte wid diumpetin ya?" todong saya langsung.

cipa langsung ketawa-ketawa. "nggak diumpetin... tadi bang isan nemu. jatoh pas nte wid salaman," jelasnya.




"huuu, cipa ah," sungut ikhsan yang sudah kelas satu sma kesal.

cipa, cipa. luv u, my niece.. :D





lebaran, 1431 H, 10 september 2010

Tuesday, September 07, 2010

[kita?]




aku menemukan ini di antara banyak kenangan yang dibingkai orang-orang. entah kenapa, aku suka. menurutmu, bagaimana?

Thursday, September 02, 2010

malam-malam



malam tadi, saya dan gita--sahabat saya--melakukan hal yang menurut saya paling konyol, dalam minggu ini.

rencananya, kami akan pergi ke masjid at-tiin di daerah taman mini indonesia indah. pukul setengah sepuluh, kami berangkat dari depok dengan sepeda motor. setelah isi bensin, saya jalan pelan-pelan. ternyata, jalanan masih ramai di daerah pasar rebo. lalu, dengan berbekal petunjuk arah dari tunangan sahabat saya ini, kami jalan--dengan tidak pasti. lurus lurus aja, nanti kalau sudah lewat jalan baru, belok kiri. nah, jalanan malam terasa (semakin) membingungkan. jadilah saya selalu berteriak-teriak dari balik helm fullface, mengalahkan deru angin.

saat ada pertigaan, saya khawatir. "belok kiri-nya mana, git?" teriak saya.
"masih lurus," sahut gita.

oke, kami lanjut. lalu, tak lama, karena merasa jalanan sudah semakin jauh, saya berteriak lagi, "belok kiri di mana, git?" gita menjawab sama.

lalu, ada belokan kiri lagi. petunjuk arah menunjukkan ke tmii belok kiri. jadi, saya berasumsi kami belok kiri sebentar lagi. lalu, saat ada belokan, malah ada arah petunjuk arah ke daerah lain. tmii masih lurus. duh.
lalu, ada tanda yang sangat-sangat jelas. tmmi belok kiri, terpampang di rambu lalu lintas jalan raya itu.

"di sini, git, belok kirinya?" tanya saya cepat karena sepeda motor terus melaju.

"iya, ini kayaknya, katanya jalannya agak muter gitu."

"ini bukan ya?" tanya saya lagi, tetapi tetap melajukan sepeda motor ke arah kiri itu.

jadilah kami berbelok ke sana. dan, sepi.

"git, di sini bukan ya?" tanya saya sambil tetap ngegas. "kok sepi, git?" lanjut saya mulai deg-degan karena selain sepi, jalan itu juga gelap. belokan tajam pula. "git, ini bukan ya...? git...."

"ngg... iya, kayaknya...." suara gita terdengar ragu di balik helmnya.

"git... jangan-jangan...," ah, saya mulai ketakutan. lebih takut daripada saat ditilang waktu itu.

lalu, "tiiin, tiiin, tiinn." sebuah angkot yang sedang melaju kencang berhenti mendadak. satu-dua meter di depan kami. saya segera melajukan motor mendekati. orang-orang dalam angkot itu memandangi kami dari kaca belakang mobil. duh...

"MBAK!!! INI JALAN TOL!!!" teriak seorang cewek yang duduk di kursi penumpang di samping sopir.

"eh," sahut saya tergagap. dan, sumpah, deg-degan banget.

"ntar ditangkep polisi, mbak," tambah si sopir angkot.

"iya, itu... kalau ke taman mini lewat mana, ya?" tanya saya, mungkin--lebih tepatnya--gumam saya dari balik helm.

"itu tadi lurus dulu," sahut si cewek.

"oh...," sahut saya.

"balik aja," ucap entah siapa di angkot itu. lalu, si angkot kembali melaju sangat kencang.

saat itu, saya nggak tau reaksi gita apa karena saya sangat sibuk deg-degan....

"git...," huhu, ingin nangis rasanya saya (ini lebih parah daripada waktu saya naik motor sendirian, trus nyasar, trus ujan T_T)

"git, turun dulu, git," ucap saya lirih, tak bisa berkata-kata banyak. kami berhenti tepat di tikungan. jadi, bingung mau muter gimana, takut ada mobil yang tiba-tiba melaju cepat di jalan tol itu. mana gelap.

saat berhasil putar arah dan gita sudah naik di boncengan, saya melajukan motor pelan-pelan, dan sangat minggir-minggir--takut ada mobil datang dari arah yang berlawanan dari kami.

saya dan gita tak berkata-kata banyak, hanya waswas menyusuri tikungan itu.

"serem banget, wid, kalau ada mobil," komentar gita.

"he-eh," kata saya. dan ada satu mobil lewat. untungnya, kami berada di pinggir.

perjalanan putar arah itu terasa lama. dan, sampai ke tikungan yang sangat tajam, saya membunyikan klakson buat jaga-jaga. dan, akhirnya, sampailah kami ke jalanan utama. saya sempat bingung bagaimana cara memutar. dan, untunglah jalan sepi. jadi, kami bisa potong arah jalan ke kiri dengan cepat.

dan, tak lama, terlihatlah tmii, dan masjid at-tiin tak jauh di sebelahnya. sepanjang malam, saya ga bisa berhenti tertawa mengingat kejadian itu. kejadian yang konyol (bodoh?)itu. :p

"parah ya, kita, wid," komentar gita saat kami memasuki halaman masjid.

"iya, malu-maluin ya."

"iya, untung kita pake helm," ujar gita.

hahaha. iya. untung orang-orang seangkot itu ga tau siapa dua cewek yang malem-malem, dengan bodohnya, masuk ke jalan tol pake motor. it's our secret. ok? ;)

Saturday, July 24, 2010

ketika waktunya sampai, kisahkan kembali kepadanya




hari ini, ingin kuceritakan padamu tentang seorang perempuan yang sedang tak menyukai matahari menyenja. ia menepis senja yang jatuh di bahunya, lalu memilih memalingkan muka.

dan, perempuan itu pun sedang tak menyukai aroma rumah. ia ingin berlama-lama duduk di tempat yang bukan bernama rumah. duduk saja, dengan segala macam pikiran yang terperangkap di benaknya. mungkin bukan segala macam. hanya satu macam. satu macam hal yang membuatnya takut berada sendiri dalam ruangan. takut menemukan tetes-tetes air mata mengalir di pipinya. takut menemukan dirinya berada dalam perjalanan yang tidak seharusnya.

dan, hari ini, di kafe tempatnya duduk berlama-lama, ada seorang gadis muda yang sedang merayakan hari lahirnya, mungkin usia ketujuh belas. gadis berambut panjang itu tampak masih sangat belia, dan begitu resah. teman-temannya sudah datang. tapi, ia tetap resah.

satu pikiran ala novel-novel populer mampir ke benak perempuan yang sedang tak menyukai senja. ah, sepertinya gadis itu menunggu laki-laki yang ia sukai, yang ia undang lewat sahabat si laki-laki. dan, akhirnya si laki-laki datang menjelang akhir acara, mengisyaratkan cinta. kisah sederhana masa remaja.

lalu, si perempuan yang sedang tak menyukai senja kembali resah. ponselnya berkedip-kedip, tiga panggilan tak terjawab. ia tak berniat menjawabnya. ia tak bisa memutuskan apa jawaban yang harus ia berikan. dilema--mungkin, kau menebak itu yang sedang ia alami. entahlah. akhir-akhir ini, ia sedang merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri. tak nyaman dengan langkah-langkah kakinya. dan, ia terlalu takut untuk menentukan arahnya. Tuhan, ia menyebutnya. dan, sepertinya, ia ingin meminta Dia langsung saja memilihkan yang terbaik untuknya.

ah, cerita yang tak beralur jelas, bukan? biarlah. aku cuma ingin kau-dia mengingat hari ini. ada satu waktu ketika kau sedang tak tahu arah. sedang tak menyukai senja. dan, sedang tak nyaman dengan perjalanan yang kau lewati.

tapi, suatu hari nanti, ketika perempuan yang sedang tak menyukai senja itu duduk berlama-lama lagi menunggu senja, kau ceritakanlah apa yang aku ceritakan hari ini.
semoga ia tertawa ketika mendengar kau mengisahkannya kembali. :)

#i owe the pic!#

Saturday, May 15, 2010

Wednesday, April 14, 2010

Kaleng Serbuk Pelangi




Seorang anak laki-laki bermimpi mempunyai kaleng-kaleng kecil yang berisi serbuk-serbuk dengan warna pelangi—-tiba-tiba saja. Lalu, dalam mimpi yang sama, ia melihat kaleng-kaleng itu mengambang, berjajar, dan serbuk-serbuk warna pelangi itu telah kosong—hanya tinggal sisa-sisa bahwa di sana pernah ada serbuk warna pelangi.

Esoknya, adiknya—yang ternyata gagal jantung—meninggal. Ia begitu sedih. Ia begitu ingat wajah adik kecilnya, laki-laki juga, yang lemah. Ia ingat adiknya itu selalu berdiri dengan terbungkuk-bungkuk, seakan tak sanggup menyangga berat tubuhnya. Dan, matanya, seperti menyimpan butiran hujan. Ia menjadi bertanya tentang kaleng berisi serbuk pelangi itu. Mimpi yang aneh, pikirnya.

Saya terbangun. Mimpi yang aneh, pikir saya.

Monday, March 08, 2010

suatu ketika sore tak jadi hujan--tak ada yang kita salahkan, bukan?





jangan menangis.

jalan bahagia itu bercabang.
asal kau percaya, tak harus ke utara pun, kau akan bahagia.
jalan bercabang itu, tak harus penuh dengan daun kering yang kau suka; akan membawa bahagia juga—asal kau jeli memilihnya.

dan, asal kau percaya.

jangan menangis, sayang.

Tuesday, February 16, 2010

februari kita



Kemarin. Aku bukannya lupa hari itu. Februari kita sudah tiba. Tapi, ah, kesehatanku sedang tidak baik, jadi aku belum sempat menulis untukmu. Hanya sekadar batuk dan pilek, tapi cukup mengganggu, ditambah pula hujan yang selalu membuat jalan basah. Payung yang seharusnya ada di dalam tasku terlalu sering lupa kubawa. Jadi, angin hujan itu semakin menerpaku.

“Selamat hari lahir. Semoga doa-doa menghangatkanmu. Semoga kau merindukanku. Meski aku terlalu sibuk dengan hari-hariku.”

Nanti, aku akan menulis surat yang lebih panjang. Banyak yang ingin kuceritakan. Tapi, uh, maaf, aku belum sempat… . Tapi, pasti akan kutuliskan. Aku tidak mau membuat janji, takut kau menunggu-nunggu. Yang pasti, aku akan menuliskan surat kelima untukmu. Kau tahu, aku suka menuliskannya. Semoga kau juga. :)

Wednesday, January 13, 2010

seperti menggenggam takdir



seperti menggenggam takdir di tanganmu.
seperti apa rasanya?
mungkin, aku akan takut memejamkan mata, takut genggamanku terbuka, dan tiba-tiba saja ia tak lagi di sana.
aku akan membacanya hingga habis usia, dan memastikan semua baik-baik saja.
dan, mungkin aku akan terkapar kelelahan membelokkannya ke arah yang tak ada sela.

seperti menggenggam takdir di tanganmu, seperti apa rasanya?

mungkin, semua tak harus baik-baik saja—meski kau ingin semua baik-baik saja.
seperti menggenggam takdir di tanganmu.
itulah kita.
bukan karena tak yakin genggaman tak akan erat.
hanya saja, takdir, ah ia, aku pikir, aku tak kuasa menggenggamnya.


gambar di sini

Tuesday, January 05, 2010

Surat Cinta Pertama




Tepat satu Januari ini, dia lahir. Seorang perempuan. Seorang gadis kecil dengan alis mata yang hitam dan rambut yang lebat dan legam. :)

Ibu gadis kecil ini hanya terpaut usia enam bulan dari saya--saya lebih tua. Saya masih ingat melewatkan masa kecil dengan perempuan itu. Pertengkaran-pertengkaran masa kecil yang menjadi kenangan menggelikan, yang membuat saya malu untuk mengingatnya sekarang. Ah, tapi itulah anak kecil, segala hal kecil menjadi permasalahan besar. Saya masih ingat ucapan salah satu keponakan saya yang duduk di kelas satu SMP, "Bagi Nte Wid, itu mungkin masalah kecil, tapi bagi anak kecil, itu masalah besar." Dia menasihati saya rupanya, yang mulai menganggap remeh hal-hal sepele. Hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Padahal, saya pernah berada di masa itu dan merasakan itu juga.

Bersama perempuan ini juga--dan juga adiknya--saya pernah melewati sekitar tiga tahun masa kecil saya. Tiga tahun yang penuh warna di sebuah rumah di bilangan Kebon Jeruk. Saya ingat, hari pertama saya tinggal di sana, saya tersasar. Si bocah kelas empat SD itu lupa patokan turun jalanan masuk rumah No. 49 tersebut, rumah di sebelah kanan turunan. Dan, mungkin, di situlah mulainya petualangan tersasar saya, yang masih saja terjadi hingga saat ini, di angkot berwarna biru telur asin. Untungnya, saya menemukan kembali jalan pulang.

Saya masih ingat juga saat kami--dengan konyolnya--membuat persewaan majalah Bobo dan Donal dan juga "pasangan" seperti di sekolahan SD--majalah yang digulung dan diberi tali di ujungnya. Kemudian, orang disuruh "masang", entah dengan logaman seratus rupiah atau lebih, saya lupa--dan menarik tali yang ia pilih. Jika beruntung, ia akan mendapatkan majalah dengan harga yang sangat murah. Tapi, sayangnya, di antara tali itu, lebih banyak yang tidak terikat ke majalah itu. Haha. Tapi, itu cuma bertahan sehari atau dua hari, kalau tidak salah. Saat sore terdengar suara mobil masuk garasi, kami bubar. Ayah perempuan itu sudah pulang. Dan, ia pasti marah melihat kelakuan kami. Betapa paniknya kami mengangkat dus dan majalah itu, menumpuknya sembarangan. Mana mungkin itu saya lupakan. Saya sangat ketakutan hari itu.

Lalu, kami juga selalu janjian mengaji. Saya ingat, bacaan mengajinya sudah lebih jauh daripada saya. Dia lebih dulu mengaji di rumah dekat jalan raya itu. Sore-sore, kami sudah menaruh Alquran kami di meja panjang itu, berlomba-lomba biar dapat giliran lebih dulu, biar cepat pulang. Dan, entah sang guru ngaji tahu atau tidak, sebenarnya, kami tidak membaca huruf-huruf Arab itu, kami sudah menghafalnya--dan, ah, saya jadi menyesal tidak belajar mengaji dengan benar waktu itu. Dan, setelah menyetorkan satu hafalan bacaan salat atau doa sehari-hari, kami boleh pulang. Dan, sayangnya, saya hanya tiga tahun mengaji pada guru ngaji itu, seorang perempuan paruh baya. Satu lagi yang saya ingat, kami sangat senang kalau guru kami itu sedang "libur" salat. Dan, kami sangat menunggu-nunggu saat-saat itu. Karena, kami juga akan libur mengaji. Hehe.

Di rumah perempuan itu juga, kami punya seorang tetangga yang lebih tua dan kami panggil dengan "Mbak E" karena dia orang Jawa. Dan, saat itu, dia tampak keren di mata kami. Bahkan, sarannya biar saya lebih cepat menghafal Alquran pun hampir saya ikuti. Padahal, itu saran terkonyol yang pernah ada--yang pernah saya tahu (belakangan). Kata dia, biar cepet hafal, saya harus makan cabe rawit (atau merica ya?) tujuh biji (kalau tidak salah) sambil melihat bulan purnama. Niscaya, saya akan jago mengaji. Dan, sayangnya, tidak saya ikuti... Kalau ya, pasti ceritanya berbeda sekarang.

Saya ingat, kami juga mencomlangi "Mbak E" itu dengan tetangga baru di atas--rumah setelah tanjakan. Cowok yang lumayan cakep--menurut pandangan saya waktu itu. Putih-putih gitulah. Dan, seingat saya, mereka sempat jadian, meski malu-malu.

Kenangan dengan perempuan ini masih banyak lagi. Saya juga ingat kami bersepeda keliling kompleks dan saya ingat saya pernah jatuh pas di turunan, menangkap ikan cue di got (haha, ternyata saya pernah melakukannya ;P), berenang di rumah tetangga depan yang rumahnya geude banget dan saya sampai heran waktu itu, kok bisa ya mereka kaya banget. ;D Saya juga ingat pernah diminta ngajarin tari badidin di sekolah perempuan ini, waktu mereka perpisahan. Untungnya nggak jadi. Ya, ampun, saya cuma bisa satu gerakan kayaknya.

Kalau saya sudah pulang sekolah, sekolah saya cukup jauh dari rumah itu, saya sering juga mampir di sekolah perempuan ini, membeli komik Petruk Gareng. Dan, saat paling menyenangkan adalah saat Lebaran, saat beli baju baru bersama. Bersamanya dan adiknya, kami akan ke mal, yang waktu itu belum menjamur, dan boleh memilih sendiri mana yang disuka. Terkadang, kami akan memilih baju yang sama dan kembaran bertiga. :)

Dan, jika pertengkaran kecil terjadi, kami akan saling diam-diaman. Lalu, kembali menjadi teman bermain keesokan harinya. Bermain sepeda, mungkin, juga hal yang paling menyenangkan. Kami akan bermain sampai jauh, sampai taman, dan pulang dengan badan berkeringat.

Lalu, waktu begitu cepat berlalu. Saya pindah dari rumah itu saat masuk SMP. Dan, rumah di sebelah kanan turunan itu juga akhirnya dijual beberapa tahun belakangan. Dan, keluarga perempuan itu pindah ke dekat sekolah SMA saya. Dan, saya pun sibuk dengan kuliah saya, sibuk dengan kerja saya, dan sibuk dengan "Depok" saya. Dan, bahkan, kami kadang hanya bertemu sekali setahun, saat Lebaran...

Dan, sekarang, perempuan yang terpaut enam bulan dengan saya itu telah menjadi ibu dari seorang gadis kecil yang diberi nama Mutiara. Seorang bocah kecil cantik. Dan, saat menengoknya kemarin, tiba-tiba saja masa kecil itu berputar-putar di ruang kenangan saya. Ah, sudah jadi ibu rupanya anak tertua kakak laki-laki saya yang tertua itu. Sepertinya, baru kemarin kami berlomba-lomba main sepeda, datang cepet-cepetan biar mendapat giliran mengaji duluan, dan menunggu-nunggu Lebaran--tidak hanya untuk baju baru, tetapi juga untuk lembaran uang baru dari saudara-saudara yang ramai datang ke rumah No. 49 itu--karena itu rumah kakak tertua saya, yang pasti dijadikan base camp saat Lebaran.

Dan, tiba-tiba saja, putaran waktu terasa begitu cepat. Generasi keempat itu sudah datang. Keponakan saya sudah menjadi Ibu. Ibu saya sudah punya cicit. Selamat datang, gadis kecil beralis tebal. Semoga perjalanan membawamu menjadi perempuan yang bahagia, perempuan solehah. Selamat datang, Mutiara. Dan, ah, kau membuatku merasa sangat tua. Untungnya, saat ini kau belum tahu kalau kau sudah masuk itungan cucu dalam garis kekerabatan denganku. Dalam kekerabatan Minangkabau, kalau ibumu memanggilku "Ande", kau akan memanggilku..., hehe, aku belum tahu apa pastinya panggilanmu buatku. Yang pasti, akan terdengar sangat berbeda generasi. Dan, tak lama lagi, kau pun akan besar dan pastinya aku akan semakin tua. Kalau begitu, jangan cepat besar, ya. ;P

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin