Penjual Kenangan

Sunday, August 04, 2013

#3| The-Yoga-Way







“Gue pengin ikut aerobik. Biar sehat.” Begitu yang kerap aku bilang kepada Gita, sahabatku, sejak mendapati kepalaku sering berkunang-kunang dan tubuhku begitu cepat lelah setelah berat tubuhku turun sekitar 10 kilogram dari masa kuliah dulu. Berkali-kali juga aku mengambil selebaran di sebuah salon khusus wanita, bertanya ini-itu kepada resepsionisnya tentang jadwal kelas aerobik di tempat mereka. Kelas yoga pun ternyata mereka buka, membuatku bersemangat, tetapi ternyata tergantung jumlah peserta dan seringnya jumlah peserta tidak mencukupi. Setelah bertahun-tahun, nyatanya, aku belum pernah sekali pun ikut kelas aerobik ataupun kelas yoga di salon wanita itu. Dan, joging pagi sepertinya hanya satu-dua kali aku lakukan selama bertahun-tahun. Alasan lelah dan tidak punya waktu selalu aku jadikan alasan untuk tidak olahraga pagi. 

Saat tahu Muthi, seorang sahabat sekaligus teman satu kantor, begitu rajin ikut sebuah kelas yoga di bilangan Sawangan, aku kembali bersemangat untuk berolahraga. Muthi yang selalu konsisten dengan jadwalnya membuatku semakin bersemangat. Aku pun membulatkan tekad dan akhirnya berhasil menaklukkan pagi. Aku harus bisa menaklukkan Sabtu pagi, hari-yang-tidurable-banget-dan bersiap dengan kostum untuk kelas yoga. 

Pada sebuah akhir pekan pada sekitar Januari silam, aku dan Muthi janjian pukul enam pagi di daerah Sawangan. Dari tempat tinggalku di daerah Srengseng Sawah, Jaksel, aku berhasil sampai tempat itu (tanpa tersasar) dengan telat hanya lima menit. Muthi pun langsung mengajakku ke atap terbuka sebuah ruko dua lantai yang merupakan sebuah salon wanita juga, tempat yoga langganan Muthi. Aku begitu senang ikut kelas hari itu—meski kesulitan mengikuti gerakan-gerakan yang ternyata benar-benar butuh keseimbangan. Sebagai newbie, aku sering kali ketinggalan gerakan yang diperintahkan sang guru yoga, seorang wanita baik hati dan bersemangat. Di usianya yang menjelang 40-an, dia masih terlihat lincah dan lebih sehat. Aura ketenangan pun memancar dari dirinya. 

Meski merasa sedikit canggung di kelas yang terdiri dari sekitar 10 orang itu, aku mencoba untuk santai. Saat orang-orang menggelar matrasnya, aku berbisik kepada Muthi yang langsung ditanggapi sang Guru yang bilang aku boleh meminjam matras yang terletak di dekat tangga. Matras warna-warni di sana cukup banyak dan aku memilih salah satunya dengan cap-cip-cup. Aku menggelar matras pinjaman yang tidak terlalu tebal itu, sementara Muthi sudah siap dengan matras bermerek yang terlihat, hmm, keren!

Menurut sang Guru, fungsi gerakan yoga akan menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh kita. Kalau kita kelebihan berat badan, tubuh akan menyesuaikan dan bisa jadi kurus. Begitu juga sebaliknya, kalau kita kurus, tubuh pun akan menyesuaikan kebutuhan untuk menaikkan berat badan. Yang terakhir adalah tujuanku. Aku ingin menambah berat beberapa kilogram lagi biar nggak terasa mau terbang kalau lagi sedikit ngebut naik motor. Hehe. 

Saat kelas yoga itu pun, sang Guru pun memberi tahu bahwa kita tidak harus memaksakan diri untuk mengikuti gerakan orang lain karena setiap tubuh mempunyai kemampuan berbeda dalam melakukan gerakan. Hal itu menjawab pertanyaanku yang terkadang jadi minder dengan gerakanku saat melihat Muthi yang begitu lentur dan seimbang saat melakukan gerakan yang semacam kayang. Wajar saja, tubuhku yang seperti sudah membatu terasa sulit untuk melakukan berbagai gerakan yang membutuhkan keseimbangan dan kelenturan itu. Namun, sang Guru begitu pengertian kepadaku sehingga aku merasa nyaman. 

Saat kelas yoga berlangsung pun, kita diharapkan tidak minum atau makan (berhubungan dengan sistem tubuh, aku lupa apa). Jadi, sebaiknya, kegiatan itu dilakukan sebelum atau sesudah kelas berlangsung. Aku terbata-bata mengikuti banyak gerakan yang menurutku cukup sulit. Bahkan, aku sempat beberapa kali terjatuh saat melakukan gerakan keseimbangan menirukan sayap pesawat dengan kaki satu (kalau nggak salah ingat). Semua gerakan itu dilakukan di atas matras sehingga fungsi matras sangat penting. Sebagian besar peserta yang hadir tentu saja selalu membawa matras milik mereka sendiri, dan kebanyakan keluaran merek ternama, yang terlihat sangat empuk. 

Aku menikmati hari itu meski olahraga sekitar tiga jam itu cukup melelahkan. Ada gerakan-gerakan yang hanya boleh dilakukan oleh yang terlatih, jadi ada kalanya aku bisa istirahat sebentar dan memperhatikan peserta yang sudah mahir. Dan, rasanya ingin segera mencapai tahap yang sama (haha, sepertinya aku selalu menggebu-gebu untuk sesuatu yang baru). Hari itu, diiringi dengan musik pelan dari ponsel sang Guru, aku seolah merasa menemukan “the-yoga-way”. :p

Pada hari itu, aku langsung membayar kelas itu untuk empat kali pertemuan—selain dapat diskon, aku juga yakin aku akan datang setiap waktu yoga, apa pun yang terjadi. Harapan kala itu. Saat pulang, melihat Muthi menyandang matras dengan case merah di punggungnya, membuatku ingin segera punya matras juga. Entah bagaimana, sebuah matras yoga ternyata bisa terlihat begitu keren hari itu.

Sampai di rumah, hari masih cukup pagi berdasarkan waktu-dari-kamarku. Pukul 10 pagi. Gita yang masih dengan baju tidur dan sedang mondar-mandir menyuapi Nala, putrinya, terheran-heran melihatku sudah kembali dengan tampang berkeringat. Aku sedikit bangga karena sudah bisa sampai rumah lagi saat matahari belum terlalu tinggi dan hari libur pada Sabtu ini tentu saja masih terasa panjang. Saat Wira—suami Gita dan sedang bergiat olahraga bersepeda—melihatku pun, dia ikut salut. Mereka sepertinya senang aku sudah menemukan jalanku pada pagi hari. Mungkin.

Minggu depannya, ternyata Muthi berhalangan hadir, aku pun memilih tidak hadir. Tapi, akhirnya, kami mengganti hari jadi Minggu. Aku pun berangkat meski hujan habis turun pagi itu. Semangatku masih menyala. Saat hari lahirku tiba pada Februari, Muthi ternyata memberi kejutan dengan menghadiahiku sebuah matras berwarna merah. Wow! Aku sangat senang dan tidak sabar untuk mencobanya di kelas yoga nanti. Saat kembali ke ruanganku dari ruangan Muthi, aku berjalan dengan langkah riang, dengan menyandang sebuah matras merah dengan case hitam di punggungku. Aku menobatkan hari itu jadi salah satu hari yang paling keren dalam hidupku. Aku punya matras yoga!

Sayangnya, dalam beberapa pekan, aku berhalangan hadir karena ada kerjaan kantor (talk show dan sebagian besar acara yang berhubungan dengan buku kerap dilakukan pada akhir pekan).
Lalu, waktu berjalan. Beberapa akhir pekan lewat begitu saja. Terkadang, ada acara kantor, terkadang acara pernikahan teman, terkadang ingin menghabiskan waktu pagi mengetik di perpustakaan. Seringnya, aku bergadang pada malam harinya, dan enggan merampas hari libur dan hari tidur sedunia pada akhir pekan.

Lalu, lewatlah kelas yoga yang penuh semangat itu. Semangat-semangat sang Guru pun lama-kelamaan memudar dari benakku. Buku praktik tentang yoga dipinjamkan Muthi pun—yang kerap kubawa di tasku—tak tuntas aku baca dan akhirnya aku tinggalkan di rumah dengan alasan tasku berat dengan laptop. Lalu, sampailah pada hari ini. Matras itu masih tergantung di dinding kamarku. Setiap melihatnya, aku cepat-cepat memalingkan muka. Ada rasa malu dan rasa bersalah yang kurasakan karena belum sekali pun memakainya. Bahkan, plastiknya belum kubuka (dengan alasan awal masih sayang).

Oh ya, sialnya, ternyata Gita—sahabat sekaligus tetanggaku itu—taruhan dengan suaminya sampai berapa kali aku bisa olahraga seperti itu terus. Dan, ternyata, mereka menang. Tapi, sehabis Lebaran ini, lihat saja, matras merah yang tergantung di dinding itu pun akan berfungsi dengan semestinya. Bukan hanya sebagai pajangan di dinding dan selalu membuatku cepat-cepat mengalihkan pandangan karena merasa bersalah kepada Muthi yang sudah dengan berbaik hati memberikan hadiah itu, dan menyelipkan banyak semangat di dalamnya. 

Habis Lebaran ini, aku akan mencoba menyempatkan diri berolahraga lagi, mengingat beberapa kali belakangan ini, saat tengah berkendara, aku tiba-tiba harus segera menepikan motorku ketika kepalaku terasa berkunang-kunang. Juga ingin menaikkan berat badanku yang tidak beranjak dari angka 40. Ganbatte! :D


p.s. dear muthi, terima kasih untuk matrasnya dan maafkan menjadikan hadiah itu sebagai pajangan. :p



[#3 Proyek #CeritaDariKamar]


 ______

*harusnya ini bisa terpublikasikan tanggal 3 agustus. sayangnya, koneksi internet buduk, jadinya masuk tanggal 4 agustus, deh. baiklah. untuk tanggal 4 akan diposting sebelum waktunya habis! :)))

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin