Thursday, December 22, 2011

Ketika Jatuh Cinta

gambar dari sini!


Seorang laki-laki jatuh hati, membuatnya resah sepanjang detak waktu. Ah, saya tersenyum mendengar kisahnya, entah kenapa bahagia mendengar ia jatuh cinta. Mungkin, terselip harapan agar jalan yang ia tempuh bahagia. Entahlah, mungkin, karena saya terlalu sering mendapati kesedihan di matanya.

Namun, jatuh cinta--kau pasti tahu bahwa akhirnya selalu tak bisa kita tebak. Dan, terkadang, ia menuntut air matamu ikut jatuh, entah karena terlalu bahagia ataupun karena ada harapan yang tiba-tiba perlu kau selipkan kembali ke balik tempat-tempat tersembunyi di bagian terjauh hati--agar ia aman di sana, tak menyesak di hati.

Jatuh cinta, ia tak selalu kisah tentang bahagia, tetapi yang pasti selalu tersimpan harapan besar akan kebahagiaan membuncah di sana. Suatu ketika, saat kau tersenyum mengingatnya, hatimu bertanya apakah ini yang disebut cinta. Kala itu, sebelum kau temukan jawabannya, kau juga perlu persiapkan ruang untuk hatimu, ada pilihan jawaban di sana: ya dan tidak. Cinta seperti cuaca kala ini, kata orang-orang, tak bisa ditebak. :p

Ketika jatuh cinta, ada sesuatu yang perlu kita ingat: cinta akan selalu bermuara pada keikhlasan. 
Saya jadi ingat sebuah cerita. Suatu ketika, ada seorang laki-laki di sebuah kafe, sedang duduk bersama seorang perempuan. Mereka menikmati pemandangan jalan raya dari sebuah balkon, dengan dua cangkir cokelat hangat di hadapan. Perempuan itu sedang bercerita, tentang laki-laki yang pernah ia cintai, yang saat ini menyakiti hatinya. Laki-laki itu, ia mendengarkan dengan berusaha tetap tersenyum agar air mata perempuan yang di sampingnya tak jatuh.

"Maaf, ya," kata perempuan itu, menyibukkan diri menyesap minumannya. Pandangannya jauh ke depan. Kisah cinta terkadang tak terdefinisikan. "Maaf, ya, kamu ajak aku ke sini, aku malah curhat begini," lanjutnya pelan.

Laki-laki itu tersenyum, ikut menatap dengan saksama ke arah pandangan perempuan itu.

"Tidak apa-apa," kata laki-laki itu. "Saat ini, aku memang ingin menemanimu duduk di sini, dan berpikir bahwa Dia memang menempatkanku di sini untuk mendengarkanmu. Pun di depan sana, misalnya, ada hal lainnya, itu bukan tujuan--itu hanya bonus," ucapnya. Ia menyesap minumannya. Udara di sekitar mereka menghangat, menyimpankan rahasia-rahasia yang mereka ketahui bersama.

"Kau tahu," ungkap laki-laki itu, "mungkin itu yang disebut keikhlasan." 

Mereka berdua tersenyum. Laki-laki itu menyimpan cintanya untuk sang perempuan di sampingnya, yang tadi bercerita tentang laki-laki yang pernah dicintai perempuan itu, yang kini menyakitinya.

Perempuan itu, ia menyelipkan air mata di balik senyumnya, merasakan sebuah kelegaan yang bercampur kesedihan mendalam. Laki-laki yang duduk di sebelahnya, yang pernah bersisian dengannya dalam sebuah kisah cinta, ah, begitu besar hatinya--begitu saja mau mendengarkan ia bercerita, mengungkapkan perihal laki-laki lain, yang pernah ia cintai. Ia dan laki-laki yang duduk di sampingnya ini pun pernah jatuh cinta. Pernah. 

"Kau tahu," kata sang laki-laki lagi, "aku sedang mencoba mengurangi setiap takaran harapan dalam setiap racikan hatiku."

"Ya," sahut si perempuan, "aku juga akan mencoba belajar." 

Diam-diam, perempuan itu berdoa agar laki-laki yang duduk di sisinya segera menemukan cintanya kembali--karena ia tak bisa lagi meracikkannya untuk laki-laki itu. Ia sungguh minta maaf, tetapi entah kenapa, kompisisinya sudah tak bisa ia ramu dengan pas lagi--ada yang ganjil dalam rasa. Tak lagi sama. Yang tertinggal dalam rasa dalam racikan itu hanya hangat--antara dua orang yang pernah bersisian.

Mereka menikmati hening, yang meresap dalam udara yang semakin mengental dan menghangat, yang menyerap semakin banyak rahasia.

Saya teringat kisah itu. Tentang jatuh cinta. Tentang keikhlasan.

Saat kau jatuh cinta, kurangi takaran harapan dalam racikannya. Dengan begitu, kau akan selalu mendapatkan racikan yang bisa dibilang tepat--untuk segala situasi. Untuk jawaban ya ataupun tidak.

Dan, jika kau percaya--mungkin dengan sedikit keberuntungan yang kau ciptakan--kau akan sampai di muara cinta: keikhlasan. :)

Semoga dua laki-laki yang saya ceritakan di sini menemukan cinta yang membahagiakan. Sungguh, saya berdoa untuk keduanya--karena setiap orang layak untuk sebuah kebahagiaan.







p.s. sedikit tentang muara cinta adalah keikhlasan ini juga pernah saya tuliskan untuk back cover novel Hati Memilih (Bukune, 2011)


2 komentar:

1t4juwita said...

keren!! :)

Enno said...

ini pasti ada sangkut pautnya sama curcolmu suatu hari itu ya kan?

laki2 yg sama?

gini aja deh wied... motto kita harusnya 'tahun baru, pacar baru.'
setuju?

hihihi

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin